Sean berdiri membeku di ambang pintu, hatinya berdegup kencang. Ryan berdiri di sana, di samping ranjang Andika, menatap wajah ayah mereka yang pucat dan lemah.Perlahan, Ryan menoleh. Mata mereka bertemu, dan seketika itu juga waktu seakan berhenti. Dua pasang mata yang penuh luka, penuh kenangan pahit, namun tak bisa mengingkari darah yang mengalir dalam tubuh mereka.Sekian lama mereka saling membenci, menyalahkan takdir yang memisahkan mereka sejak lahir. Sean, anak dari istri sah Andika, dibesarkan berbalut luka sebuah pengkhianatan. Sementara Ryan, anak dari wanita lain, tumbuh dalam bayang-bayang merasa tak terlihat dan diabaikan.“Mengapa kalian meninggalkan Papa di saat dia terpuruk?” Sean melontarkan pertanyaan dengan suara serak karena menahan tangis.Tidak ada kemarahan, dendam pun rasanya sudah sirna. Situasi seperti ini bukan lagi waktunya mengumbar amarah. Bagi Sean, kemunculan Ryan adalah sebuah berkah, setelah pencariannya selama ini tidak menemukan hasil.Ryan membuk
Mata Nadya membulat. “Kembar?” serunya nyaris tak percaya. “Jadi waktu kamu muntah di kantor itu bukan karena asam lambung?”Lila menggeleng sambil tersenyum. “Aku merasa bodoh percaya sama diagnosa kamu.”“Kamu habis curhat tentang Pak Sean yang berubah, lalu muntah-muntah. Ya aku pikir kamu kena asam lambung karena banyak pikiran.” Nadya mencoba membela diri, tidak tidak ingin disalahkan. “Terus Pak Sean?”“Dia sangat bahagia, mau punya anak lagi, apalagi langsung dua.”“Bukan itu maksudku,” sahut Nadya, tetapi dia tampak ragu untuk mengungkapkannya. “Tapi …”“Tentang perselingkuhan?” tanya singkat Lila yang langsung mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Nadya.“Itu hanya salah paham,” sambung Lila menjawab pertanyaannya sendiri. Mata Nadya membulat. “Jadi Pak Sean nggak selingkuh?”Lila menggeleng tegas. “Tidak. Dia nggak pernah selingkuh atau punya anak dari perempuan lain.”Nadya terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata sahabatnya. “Tapi waktu itu... kau bilang Bu Seka
Ryan terhenti di ambang pintu, matanya terbelalak. Di dalam ruang perawatan, dokter dan perawat tampak bergerak cepat, wajah mereka tegang. Monitor detak jantung berdenging keras, grafiknya melonjak tak beraturan. “Tekanan darahnya turun drastis!” seru seorang perawat, suaranya penuh kepanikan. “Siapkan adrenalin! Cepat!” perintah dokter dengan nada tegas. Tangan terampilnya memompa dada sang mama, mencoba mengembalikan detak jantung yang mulai melemah. Ryan merasakan kakinya gemetar. Ia ingin masuk, mendekat, tetapi tubuhnya kaku seakan tertancap ke lantai. Di sudut ruangan, Rina memeluk Rena erat-erat. Mata mereka basah oleh air mata, wajah mereka pucat pasi. “Mama...” bisik Rena, suaranya nyaris tak terdengar, tubuh mungilnya bergetar ketakutan. Ryan mengepalkan tangan, kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa perih. Napasnya tersengal, dadanya sesak melihat orang yang paling dicintainya terbaring lemah di antara kabel-kabel dan selang infus. “Jangan menyerah! Ti
Sean menatap layar ponselnya sejenak sebelum menjawab panggilan itu. Ia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya.“Halo?” suaranya terdengar lemah, serak karena emosi yang tertahan.“Sean, kamu di mana? Sebentar lagi waktunya makan malam,” suara Lila terdengar cemas di seberang sana. “Aku khawatir. Kamu baik-baik saja?”Sean terdiam sejenak. Ia memandang papanya yang terbaring tak bergerak, napasnya teratur namun lemah. “Aku... di rumah sakit, Lil.”Lila diam sejenak, merasakan nada kesedihan yang dalam pada suara suaminya. “Bagaimana kondisi Papa?”Sean menarik napas panjang. “Stabil... Dokter bilang keadaannya masih sama. Tidak memburuk, tapi juga belum membaik.” Suaranya bergetar, meski ia berusaha keras terdengar tenang. “Aku akan segera pulang.”Lila menghela napas lega. “Baiklah... Aku tunggu di rumah.”Belum sempat Sean memutus sambungan telepon, suara lain terdengar. Ya suara Sekar yang menggelegar.“Sean?” Suara Sekar menggema, tajam dan penuh emosi. “Apa yang kamu lakukan
Sekar berdiri tegak dengan ekspresi tegas di wajahnya. “Aku tidak akan pergi melayat. Dan Lila juga tidak perlu datang.”Lila terdiam, menatap Sean dengan bingung. Ia ingin menunjukkan rasa hormat, tapi tidak berani melawan keputusan mertuanya.“Mama...” Sean mencoba berbicara dengan hati-hati. “Bagaimanapun, Risda sudah tiada. Rasanya tidak pantas jika kita tidak datang sama sekali.”Sekar menoleh, tatapannya tajam. “Perempuan itu sudah menghancurkan hidupku. Kau pikir kematiannya menghapus semua luka itu? Tidak, Sean. Dan aku tidak akan membiarkan istrimu pergi ke sana.”Lila meremas ujung bajunya, ingin bicara namun kata-kata tak mampu keluar dari mulutnya.Sean melihat ketakutan di mata Lila. Dia tahu Lila hanya ingin melakukan hal yang benar, tapi dia tidak ingin Lila harus bermasalah dengan mamanya.“Baiklah, Ma. Lila tidak akan pergi,” ucap Sean dengan suara tenang. “Biar aku saja yang datang.”Sekar mendengus, lalu berbalik meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.Sean mena
Pagi itu, Lila terbangun dengan rasa mual yang hebat. Perutnya terasa melilit, dan kepalanya berdenyut. Begitu mencoba bangun dari tempat tidur, tubuhnya limbung, nyaris terjatuh jika Sean tidak sigap memapahnya.“Kamu nggak usah ke kantor hari ini,” ujar Sean tegas sambil membantu Lila duduk kembali di tepi ranjang.“Tapi hari ini ada rapat penting...” Lila mencoba membantah, meski suaranya lemah dan wajahnya pucat.Dia menggenggam botol kecil obat anti mual yang tadi sempat diminumnya. Sayangnya, efeknya nyaris tidak terasa sama sekali. Mual itu terus menghantam tanpa ampun.Sean menggeleng. “Aku nggak peduli seberapa penting rapat itu. Kondisimu seperti ini, mana mungkin kamu bisa fokus.”“Tapi...”“Nggak ada tapi-tapian, La.” Suara Sean tegas, namun matanya memancarkan kekhawatiran. Dia menyentuh dahi Lila, memastikan suhu tubuh istrinya. “Kamu istirahat di rumah. Aku bakal ngabarin kantormu dan bilang kamu nggak bisa datang.”Lila hanya bisa menghela napas pasrah. Mual itu semaki
Ryan menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada wajah kakaknya yang terlihat lelah dan cemas. Ia tahu kondisi Lila yang sedang hamil anak kembar. Sean sudah menjelaskan semuanya. Tetapi tawaran untuk memimpin Mahendra Securitas bukanlah hal yang bisa diterima begitu saja.“Aku... aku tidak bisa langsung jawab sekarang,” ucap Ryan pelan, suaranya terdengar ragu. “Ini bukan keputusan kecil. Apalagi, aku harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk … Bu Sekar.”Wajah Sean mengeras sejenak. Ia mengerti maksud Ryan. Sekar, mamanya adalah sosok yang tidak mudah diyakinkan. Meninggalnya Risda, tidak juga menyembuhkan luka hati sang mama yang begitu dalam.“Aku mengerti,” ucap Sean sambil mengangguk pelan. “Aku tahu hubunganmu dengan mamaku tidak mudah. Tapi, aku benar-benar butuh bantuanmu, Ryan. Lila... kondisinya benar-benar lemah. Dan aku tidak ingin hal buruk terjadi kepadanya.”Ryan menggigit bibirnya, hatinya bergejolak. Dia melihat kesungguhan dan ketulusan di mata sang kakak. Nam
Sekar menggebrak meja dengan keras. Suara dentumannya menggema di ruang makan, membuat vas bunga di ujung meja bergetar.“Tidak! Mama tidak akan pernah setuju!” suaranya bergetar menahan amarah. Mata tajamnya menusuk ke arah Sean yang duduk tenang di depannya.Sean tetap diam, wajahnya tenang tanpa ekspresi. Dia sudah memperkirakan sang mama akan memberikan reaksi yang seperti ini.“Setelah semua yang terjadi pada keluarga kita ... setelah kehancuran yang merka buat! Kamu masih berani meminta anak haram itu kembali ke Mahendra Securitas?” Suara Sekar semakin tinggi, nadanya penuh kebencian.“Mama...” Sean mencoba meredakan kemarahan ibunya, tapi Sekar tidak memberi kesempatan.“Kamu gila, Sean! Apa kamu tidak ingat bagaimana kehadirannya membuatmu kehilangan sosok ayah? Bagaimana mereka hidup bahagia dengan harta mama?”Sean mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan tajam Sekar. “Keadaan sekarang sudah berubah, Ma. Sampai saat ini saya tidak bisa menerika perselingkuhan papa
Setelah memastikan Brilian tidur, Sean melangkah menuju ke kamarnya. Dia harus segera membantu Lila untuk menidurkan Bintang dan Berlian. Semakin hari, bocah kembar itu semakin aktif, bahkan hanya untuk tidur saja akan banyak drama.Lila menatap suaminya yang baru saja masuk ke kamar. Senyum hangatnya masih sama seperti dulu, tetapi ada sesuatu yang membuatnya sedikit gelisah.Sean bertambah usia, tetapi justru semakin menawan di matanya.Lila menelan ludah pelan. Sebagai istri, tentu saja ia bangga memiliki suami seperti Sean, tetapi di sisi lain… ia juga merasa was-was. Sampai sekarang masih banyak perempuan di luar sana yang mengincar suaminya, meskipun mereka tahu jika Sean sudah menikah dan memiliki tiga anak.Sementara itu, Sean berjalan mendekat. Tatapan matanya lembut saat melihat si kembar yang sudah terlelap di dalam boks.“Mereka tidur lebih cepat dari biasanya,” ucap Sean pelan terdengar nyaris seperti bisikan, takut membangunkan bayi-bayi mereka.Lila mengangguk. “Hari ini
Suasana kafe yang semula tenang mendadak ricuh ketika pintu terbuka dengan keras. Seorang perempuan paruh baya melangkah masuk dengan ekspresi penuh amarah, diikuti oleh seorang perempuan muda yang cantik, sama garangnya."Mana Cinta?! Keluar kau sekarang juga!" seru perempuan paruh baya itu, suaranya menggema di seluruh ruangan, menarik perhatian para pengunjung dan pegawai kafe.Beberapa pelanggan yang sedang menikmati kopi mereka langsung menoleh, ada yang membeku di tempat, ada yang berbisik penasaran. Sementara itu, seorang barista yang berdiri di belakang meja kasir tampak panik, ragu-ragu apakah harus menenangkan situasi atau membiarkan saja.Perempuan cantik yang berdiri di sampingnya menyusuri ruangan dengan tatapan tajam, matanya berkilat penuh amarah. Sepertinya dia tahu betul siapa yang sedang mereka cari.Salah satu pegawai kafe memberanikan diri mendekat. "Maaf, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan suara hati-hati.Perempuan paruh baya itu menoleh tajam. "Panggi
Waktu berlalu dengan tenang, membawa kebahagiaan yang seolah tak pernah habis bagi keluarga Wismoyojati. Kehidupan penuh berbagi dalam keluarga diisi oleh tawa renyah dan kehangatan. Perdebatan tentu tetap ada sebagai bumbu dalam kehidupan, tetapi mereka bisa menyelesaikan dengan bijaksana.Lila menjalani perannya sebagai ibu dengan penuh cinta, merawat Brilian, Bintang, dan Berlian dengan kesabaran dan kasih sayang yang tak terbatas. Ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, menemukan kebahagiaan dalam membantu sesama, sambil tetap menyeimbangkan perannya sebagai istri dan ibu.Setelah Sekar dan Prabu memutuskan untuk pindah ke rumah mereka sendiri, suasana di kediaman Sean dan Lila sedikit berubah. Tidak ada lagi suara teguran tegas Sekar atau candaan ringan Prabu di meja makan, tapi bukan berarti rumah itu kehilangan kehangatan.Sean yang memahami betapa besarnya tanggung jawab Lila dalam mengurus tiga anak mereka, mengambil keputusan besar. Ia mencari pengasuh anak profession
Malika berdiri tak jauh dari ayunan, matanya membulat melihat kejadian yang baru saja terjadi. Ia datang ingin bermain bersama Brilian, tapi malah menyaksikan sesuatu yang menghancurkan dunianya.Brilian, sahabat kecilnya, kakak yang dia banggakan baru saja dicium oleh Almahira.Gadis kecil yang masih duduk di TK itu merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Seperti ada beban besar menekan hatinya. Wajahnya menegang, bibirnya sedikit bergetar.Brilian masih berdiri di tempatnya, memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut, sementara Almahira sudah berlari pergi dengan riang.Malika mengepalkan tangannya kecil-kecil. Brilian sudah ternoda.Entah dari mana gadis mungil itu mendapatkan pemikiran seperti itu, tapi itulah yang muncul di kepalanya. Sejak kecil, ia selalu menganggap Brilian adalah miliknya, teman bermain yang paling seru, kakak yang selalu membelanya dan menjaganya. Tapi sekarang?Brilian sudah dicium gadis lain.Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin berteriak, ingin menangis, t
466Lila membuka matanya perlahan saat mendengar suara rengekan bayi. Seketika, nalurinya sebagai ibu membuatnya ingin segera bangkit. Namun, saat menoleh ke samping, tempat tidur Sean kosong.Dia menoleh ke arah boks bayi dan menemukan suaminya sudah lebih dulu terjaga. Sean duduk di kursi di samping boks, memangku salah satu bayi mereka sambil memberikan dot. Dengan satu tangan lainnya, dia berusaha menenangkan si kecil yang masih berada di boks, menyentuhnya dengan lembut agar tidak terus menangis.Lila menggeleng pelan. Kenapa dalam keadaan repot seperti itu Sean tidak membangunkannya?Dia mengamati suaminya yang tampak begitu telaten. Mata Sean terlihat sedikit sayu karena mengantuk, tetapi senyumnya tetap ada saat membisikkan sesuatu pada anak mereka. Lila merasa hangat melihat pemandangan itu.Dia bangkit perlahan, mendekati Sean, lalu bertanya pelan, "Kenapa tidak membangunkanku?"Sean menoleh dan tersenyum kecil. "Kau masih butuh istirahat, sayang. Aku bisa mengurus mereka."
Ryan menghela napas panjang, berdiri di samping tempat tidur rumah sakit tempat Rina berbaring. Sejak sadar, istrinya berubah total. Biasanya Rina adalah perempuan yang mandiri, kalem, dan penurut. Tapi sekarang? Manja, gampang marah, dan yang paling membuat Ryan frustasi, diam seribu bahasa setiap kali mereka hanya berdua."Rina, kau mau sesuatu?" tanya Ryan pelan, berharap mendapat jawaban.Rina hanya membuang muka, menatap ke arah jendela.Ryan mengusap wajahnya, mencoba bersabar. Sejak dokter memberi kabar tentang kehamilan Rina, perubahan sikap istrinya semakin menjadi-jadi. Setiap kali ia mencoba membicarakannya, Rina malah menutup diri.Namun, saat Sekar dan Prabu datang bersama Brilian dan Renasya, suasana langsung berubah. Seakan-akan Rina adalah orang yang berbeda."Bunda!" Renasya berlari kecil mendekati ranjang, matanya berbinar.Rina tersenyum hangat, membuka tangannya untuk menyambut putrinya. "Sayang, ke sini, Bunda kangen."Ryan memandangi pemandangan itu dengan kening
Sean melepas dasinya dengan satu tarikan kasar. Rumah besar itu terasa begitu sepi.Tidak ada suara Sekar yang biasanya sibuk memberi perintah. Tidak ada tawa Prabu yang sering menggoda Brilian. Bahkan Brilian sendiri tak terdengar, padahal biasanya selalu berlari-lari dengan ocehan tak ada habisnya.Setelah mencuci tangan, Sean melangkah menuju kamar bayi, membuka pintu perlahan.Di dalam, Lila sedang menggendong Berlian yang masih mengenakan baju tidur, sementara Bintang terbaring di boks bayi, menggeliat pelan. Wajah Lila tampak lelah, rambutnya berantakan, tetapi senyumnya tetap ada saat menenangkan putri kecil mereka.Sean bersandar di ambang pintu, matanya melembut. "Kenapa sendirian?"Lila menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Mama dan Papa mengantar Renasya ke rumah sakit. Brilian ikut, nanti pulangnya langsung ke rumah Om Prabu. Mereka akan menginap kurang lebih satu minggu di sana sampai Paksi berangkat ke London."Sean mengangguk pelan, beberapa hari yang lalu P
Di perjalanan pulang, Sekar sesekali melirik ke arah Renasya yang tertidur di pangkuannya. Wajah mungil itu tampak lelah, sesekali bergumam dalam tidurnya, mungkin memanggil ibunya. Prabu yang menyetir pun sesekali melirik ke kaca spion, memastikan keadaan mereka baik-baik saja."Kasihan anak ini, tidak ada yang asuh karena mamanya harus di" gumam Sekar pelan, mengusap rambut Renasya dengan lembut."Kita jaga dia baik-baik sampai ibunya pulang," sahut Prabu, suaranya tenang tetapi tegas.Sesampainya di rumah, Sekar langsung memanggil Bi Siti. "Bi, tolong mandikan Renasya dulu, ya. Pakaiannya ada di kamar tamu yang dulu dia pakai waktu menginap di sini."Bi Siti mengangguk. Dengan penuh kesabaran, ia membimbing Renasya yang masih setengah sadar karena mengantuk. Anak itu berjalan dengan langkah gontai, menggenggam tangan Bi Siti erat-erat.Sekar dan Prabu menghembuskan napas lega. "Semoga besok Rina sudah bisa dibawa pulang," kata Sekar pelan, lebih kepada dirinya sendiri.“Ya, tapi Re
Ryan duduk di kursi tunggu ruang UGD, masih mengenakan kaus rumahan dan celana training. Melihat keadaan istrinya yang tidak sadarkan diri, ayah satu anak itu mengambil pakaian sedapatnya dari lemari.Napas Ryan tersengal, dadanya naik turun cepat. Di pelukannya, Renasya meringkuk, masih mengenakan piyama tidurnya, kepalanya bersandar di bahu Ryan dengan wajah bingung dan takut."Ayah, Bunda kenapa?" Suara kecil putrinya bergetar.Ryan mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan anaknya meski dirinya sendiri diliputi ketakutan yang luar biasa."Bunda sakit, Nak. Kita doain Bunda, ya?" Suara Ryan terdengar serak, matanya terus terpaku pada pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat.Tadi pagi, setelah menemukan Rina tidak sadarkan diri, Ryan nyaris kehilangan akal. Ia menggendong istrinya keluar kamar, berlari ke garasi, dan tanpa berpikir panjang, memasukkan Rina ke mobil.Renasya, yang terbangun karena suara ayahnya berteriak, ikut dibawa serta dalam keadaan setengah mengantuk.P