Share

387. Dukungan dari Lila

Author: Henny Djayadi
last update Last Updated: 2025-02-25 12:01:23

Ryan menghela napas panjang. Tatapannya tertuju pada wajah kakaknya yang terlihat lelah dan cemas. Ia tahu kondisi Lila yang sedang hamil anak kembar. Sean sudah menjelaskan semuanya. Tetapi tawaran untuk memimpin Mahendra Securitas bukanlah hal yang bisa diterima begitu saja.

“Aku... aku tidak bisa langsung jawab sekarang,” ucap Ryan pelan, suaranya terdengar ragu. “Ini bukan keputusan kecil. Apalagi, aku harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk … Bu Sekar.”

Wajah Sean mengeras sejenak. Ia mengerti maksud Ryan. Sekar, mamanya adalah sosok yang tidak mudah diyakinkan. Meninggalnya Risda, tidak juga menyembuhkan luka hati sang mama yang begitu dalam.

“Aku mengerti,” ucap Sean sambil mengangguk pelan. “Aku tahu hubunganmu dengan mamaku tidak mudah. Tapi, aku benar-benar butuh bantuanmu, Ryan. Lila... kondisinya benar-benar lemah. Dan aku tidak ingin hal buruk terjadi kepadanya.”

Ryan menggigit bibirnya, hatinya bergejolak. Dia melihat kesungguhan dan ketulusan di mata sang kakak. Nam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   388. Perdebatan tak Berguna

    Sekar menggebrak meja dengan keras. Suara dentumannya menggema di ruang makan, membuat vas bunga di ujung meja bergetar.“Tidak! Mama tidak akan pernah setuju!” suaranya bergetar menahan amarah. Mata tajamnya menusuk ke arah Sean yang duduk tenang di depannya.Sean tetap diam, wajahnya tenang tanpa ekspresi. Dia sudah memperkirakan sang mama akan memberikan reaksi yang seperti ini.“Setelah semua yang terjadi pada keluarga kita ... setelah kehancuran yang merka buat! Kamu masih berani meminta anak haram itu kembali ke Mahendra Securitas?” Suara Sekar semakin tinggi, nadanya penuh kebencian.“Mama...” Sean mencoba meredakan kemarahan ibunya, tapi Sekar tidak memberi kesempatan.“Kamu gila, Sean! Apa kamu tidak ingat bagaimana kehadirannya membuatmu kehilangan sosok ayah? Bagaimana mereka hidup bahagia dengan harta mama?”Sean mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan tajam Sekar. “Keadaan sekarang sudah berubah, Ma. Sampai saat ini saya tidak bisa menerika perselingkuhan papa

    Last Updated : 2025-02-25
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   389. Masalah Baru

    Ryan menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamar. Dalam bingkai kayu sederhana, wajah Risda tersenyum lembut duduk sambil memangku Rena yang masih bayi, sementara Ryan dan Rina mengapitnya di kedua sisi.Tampak berulang kali Ryan menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya yang mesih sulit untuk mengikhlaskan kepergian sang mama. Jemari Ryan menyentuh kaca, mengusap wajah perempuan yang telah melahirkannya, seolah ingin merasakan kehangatannya lagi.Rina berdiri di ambang pintu, memperhatikan suaminya yang terlihat rapuh. Perlahan, dia melangkah mendekat dan duduk di samping Ryan tanpa berkata-kata. Dia tahu Ryan sedang berjuang keras menahan kesedihannya.Ryan menoleh, melihat Rina di sisinya. Matanya merah, penuh air mata yang tertahan. Bibirnya bergetar saat kata-kata itu akhirnya terucap, lirih dan berat. “Aku kangen Mama...”Rina tidak menjawab. Dia hanya membuka lengannya, dan tanpa ragu, Ryan bersandar di bahunya. Tubuhnya gemetar, bahunya terguncang saa

    Last Updated : 2025-02-25
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   390. Sekan akan Menemui Andika

    Ryan menggenggam tangan Rina lebih erat, mencoba meyakin hati sang istri dengan suara yang lebih tenang.“Rina, yang kulakukan dulu... semua itu demi mempertahankan Mahendra Securitas. Aku nggak mau melepaskan perusahaan itu karena aku berpikir perusahaan itu adalah milik papaku.”Rina menatap suaminya dalam-dalam, mencoba mencari kebenaran di balik kata-katanya. Tapi sorot mata Ryan goyah, tidak seteguh biasanya. Kebohongan itu terpancar, meski Ryan berusaha menyembunyikannya.Ingatan masa lalu kembali membanjiri benak Rina. Ia masih ingat jelas bagaimana Ryan menitipkan segala keperluan Lila saat mengandung Brilian.Bagaimana Ryan memastikan Lila mendapatkan nutrisi terbaik. Saat itu, Ryan menunjukkan kepedulian yang tidak biasa. Sebuah kepedulian yang nyata, bukan sekedar muslihat seperti yang baru saja dia ucapkan.Bukan hanya itu, Rina juga tahu penyebab Ryan gelap mata sampai-sampai nekat ingin melenyapkan anak yang dikandung Lila. Lelaki yang kini menjadi suaminya, waktu itu me

    Last Updated : 2025-02-26
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   391. Kala Maaf Terucap

    Selama perjalanan, Sekar memandangi jalanan yang berlalu di jendela mobil. Amarah berkecamuk dalam dadanya, menggelegak setiap kali bayangan Andika melintas di benaknya. Dia ingin menuntut jawaban, ingin menyelesaikan perhitungan yang sudah terlalu lama tertunda.Namun, di balik kemarahan itu, hatinya bergetar pelan. Ada perasaan asing yang muncul saat menyadari bahwa dia akan bertemu pria yang pernah dia cintai sepenuh hati. Sekar menggigit bibirnya, mencoba mengusir perasaan itu. Tapi kenangan lama tetap menghantui.Dengan berbekal informasi yang didapat dari Lila, Sekar menuju ke ruangan tempat Andika dirawat. Dalam benaknya, Sekar ingin segera menyelesaikan masalah dengan Andika.Setibanya di ruang yang dituju, Sekar berdiri membatu di ambang pintu. Dia menatap tubuh lemah Andika yang terbaring diam dengan berbagai selang dan alat medis yang mengelilinginya.Dada Sekar terasa sesak melihat wajah yang dulu begitu berwibawa kini tampak pucat dan tak berdaya. Sekar mengalihkan pandan

    Last Updated : 2025-02-26
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   392. Maaf dan Harapan

    Sekar berdiri di samping ranjang, menatap wajah Andika yang tirus dan pucat. Nafasnya teratur, tetapi kosong, seolah hanya bergantung pada mesin yang berdengung pelan di sudut ruangan. Dadanya terasa berat, seperti ada beban yang menekan kuat, menolak untuk melepaskan.Dia menyentuh tangan Andika sekali lagi, terasa dingin dan tak berdaya. Kilasan kenangan masa lalu berputar di benaknya, tawa hangat, janji-janji manis, dan cinta yang pernah begitu dalam. Meski pengkhianatan telah melukai hatinya, tidak bisa dipungkiri bahwa cinta itu masih ada, tersisa di relung hatinya yang terdalam.Sekar mengusap air matanya yang mengalir perlahan. “Kenapa harus berakhir seperti ini, Mas?” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara mesin yang terus berdetak. “Jika waktu bisa diputar ulang... mungkin semuanya akan berbeda.”Dia menggigit bibir, menahan perasaan yang begitu mengoyak. Dengan langkah berat, Sekar mulai berbalik, memaksakan dirinya untuk pergi. Namun, sebelum membuka pintu, dia berhent

    Last Updated : 2025-02-27
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   393. Keluarga Bahagia

    Sean dengan hati-hati memapah Lila keluar dari kamar mandi, tubuh Lila tampak lemas setelah memuntahkan isi perutnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Lila, membantunya berjalan dengan langkah pelan.Wajah Sean penuh kekhawatiran. Sampai kapan keadaan seperti ini harus terjadi pada istrinya"Sayang, sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Sean dengan nada cemas. "Aku takut anak kita nggak dapat nutrisi yang cukup kalau kamu terus-menerus muntah."Lila menghela napas, matanya sedikit sayu namun tetap berusaha tersenyum. "Ini hanya di pagi hari saja, Sean. Setelah makan siang, aku biasanya baik-baik saja. Nggak masalah." Dia menoleh, memberi Sean senyum kecil. "Aku tidak bisa meninggalkan Mahendra Securitas begitu saja. Ini tanggung jawab besar."Sean menggenggam tangan Lila, memandangnya dengan mata penuh kasih. "Aku paham, tapi kamu juga perlu jaga diri. Jangan sampai terus-terusan mengorbankan kesehatanmu, ya?"Lila mengangguk pelan, berusaha menenangkan suaminya. "Aku janji, Sea

    Last Updated : 2025-02-27
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   394. Sekar Meminta Ryan Kembali

    Setelah mengantar Brilian ke sekolah, mobil yang membawa Sekar melaju keluar kota. Perempuan paruh baya itu duduk diam di kursi belakang, pandangannya kosong menatap jalanan yang dilalui.Perasaan gundah masih menghantui hati Sekar sejak melihat kebahagiaan kecil di rumah tadi pagi. Sebagai seorang ibu dia ingin memahami perasaan anak dan menantunya, begitu juga cucunya.Pembicaraan dengan Lila akhir-akhir ini membuka pikirannya. Bagaimana menantunya itu meluluhkan hatinya hingga memaafkan Andika.Tidak bisa dipungkiri memaafkan Andika menenangkan hatinya. Begitu juga kepada Sean putranya. Dia tidak bisa memaksanya untuk membenci papanya. Sean hanya menunjukkan baktinya sebagai seorang anak.“Ma, Sean juga seorang papa, bahkan anaknya sudah mau tiga. Sebagai seorang papa tentu Sean juga ingin memberi contoh yang baik kepada anak-anaknya. Lalu apa jadinya jika anak-anak kami nantinya mengenal Sean sebagai seorang yang mengabaikan papanya?”Sekar menghembuskan napas kasar, lalu mengalih

    Last Updated : 2025-02-28
  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   395. Keputusan Kilat

    Sekar menghela napas panjang. “Aku ingin memastikan Mahendra Securitas tetap berdiri tegak. Dan kau... adalah orang yang paling tepat untuk menjaga itu.”Ryan menatap Sekar dalam-dalam, mencoba membaca maksud tersembunyi di balik mata tajam wanita itu.Tidak semudah itu Ryan percaya dengan ucapan Sekar. Selama ini perempuan paruh baya di hadapannya selalu menentangnya. Menganggap kehadirannya di dunia adalah awa. Tetapi sekarang... wanita itu memintanya untuk kembali?“Kenapa sekarang?” Ryan masih berusaha mencari penjelasan. “Apa yang membuat Bu Sekar berubah pikiran? Apa karena mama saya sudah meninggal?”Sekar mengalihkan pandangannya sejenak ke jendela, melihat taman yang terlihat damai di luar sana.“Tidak ada hubungannya dengan mamamu. Meski aku tidak bisa melupakan perbuatannya, tetapi aku sudah memaafkan mamamu. Tidak ada gunanya menyimpan kebencian, apalagi kepada orang yang sudah meninggal.”Ryan terdiam. Mengabaikan nada bicara Sekar yang ketus dan dingin, Ryan merasa lega

    Last Updated : 2025-02-28

Latest chapter

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   470. Takdir yang Sempurna

    Setelah memastikan Brilian tidur, Sean melangkah menuju ke kamarnya. Dia harus segera membantu Lila untuk menidurkan Bintang dan Berlian. Semakin hari, bocah kembar itu semakin aktif, bahkan hanya untuk tidur saja akan banyak drama.Lila menatap suaminya yang baru saja masuk ke kamar. Senyum hangatnya masih sama seperti dulu, tetapi ada sesuatu yang membuatnya sedikit gelisah.Sean bertambah usia, tetapi justru semakin menawan di matanya.Lila menelan ludah pelan. Sebagai istri, tentu saja ia bangga memiliki suami seperti Sean, tetapi di sisi lain… ia juga merasa was-was. Sampai sekarang masih banyak perempuan di luar sana yang mengincar suaminya, meskipun mereka tahu jika Sean sudah menikah dan memiliki tiga anak.Sementara itu, Sean berjalan mendekat. Tatapan matanya lembut saat melihat si kembar yang sudah terlelap di dalam boks.“Mereka tidur lebih cepat dari biasanya,” ucap Sean pelan terdengar nyaris seperti bisikan, takut membangunkan bayi-bayi mereka.Lila mengangguk. “Hari ini

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   469. Rama dan Cinta

    Suasana kafe yang semula tenang mendadak ricuh ketika pintu terbuka dengan keras. Seorang perempuan paruh baya melangkah masuk dengan ekspresi penuh amarah, diikuti oleh seorang perempuan muda yang cantik, sama garangnya."Mana Cinta?! Keluar kau sekarang juga!" seru perempuan paruh baya itu, suaranya menggema di seluruh ruangan, menarik perhatian para pengunjung dan pegawai kafe.Beberapa pelanggan yang sedang menikmati kopi mereka langsung menoleh, ada yang membeku di tempat, ada yang berbisik penasaran. Sementara itu, seorang barista yang berdiri di belakang meja kasir tampak panik, ragu-ragu apakah harus menenangkan situasi atau membiarkan saja.Perempuan cantik yang berdiri di sampingnya menyusuri ruangan dengan tatapan tajam, matanya berkilat penuh amarah. Sepertinya dia tahu betul siapa yang sedang mereka cari.Salah satu pegawai kafe memberanikan diri mendekat. "Maaf, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya dengan suara hati-hati.Perempuan paruh baya itu menoleh tajam. "Panggi

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   468. Hidup yang Lebih Berwarna

    Waktu berlalu dengan tenang, membawa kebahagiaan yang seolah tak pernah habis bagi keluarga Wismoyojati. Kehidupan penuh berbagi dalam keluarga diisi oleh tawa renyah dan kehangatan. Perdebatan tentu tetap ada sebagai bumbu dalam kehidupan, tetapi mereka bisa menyelesaikan dengan bijaksana.Lila menjalani perannya sebagai ibu dengan penuh cinta, merawat Brilian, Bintang, dan Berlian dengan kesabaran dan kasih sayang yang tak terbatas. Ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, menemukan kebahagiaan dalam membantu sesama, sambil tetap menyeimbangkan perannya sebagai istri dan ibu.Setelah Sekar dan Prabu memutuskan untuk pindah ke rumah mereka sendiri, suasana di kediaman Sean dan Lila sedikit berubah. Tidak ada lagi suara teguran tegas Sekar atau candaan ringan Prabu di meja makan, tapi bukan berarti rumah itu kehilangan kehangatan.Sean yang memahami betapa besarnya tanggung jawab Lila dalam mengurus tiga anak mereka, mengambil keputusan besar. Ia mencari pengasuh anak profession

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   467. Paket dari Delisa

    Malika berdiri tak jauh dari ayunan, matanya membulat melihat kejadian yang baru saja terjadi. Ia datang ingin bermain bersama Brilian, tapi malah menyaksikan sesuatu yang menghancurkan dunianya.Brilian, sahabat kecilnya, kakak yang dia banggakan baru saja dicium oleh Almahira.Gadis kecil yang masih duduk di TK itu merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Seperti ada beban besar menekan hatinya. Wajahnya menegang, bibirnya sedikit bergetar.Brilian masih berdiri di tempatnya, memegangi pipinya dengan ekspresi terkejut, sementara Almahira sudah berlari pergi dengan riang.Malika mengepalkan tangannya kecil-kecil. Brilian sudah ternoda.Entah dari mana gadis mungil itu mendapatkan pemikiran seperti itu, tapi itulah yang muncul di kepalanya. Sejak kecil, ia selalu menganggap Brilian adalah miliknya, teman bermain yang paling seru, kakak yang selalu membelanya dan menjaganya. Tapi sekarang?Brilian sudah dicium gadis lain.Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin berteriak, ingin menangis, t

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   466. Ditandai

    466Lila membuka matanya perlahan saat mendengar suara rengekan bayi. Seketika, nalurinya sebagai ibu membuatnya ingin segera bangkit. Namun, saat menoleh ke samping, tempat tidur Sean kosong.Dia menoleh ke arah boks bayi dan menemukan suaminya sudah lebih dulu terjaga. Sean duduk di kursi di samping boks, memangku salah satu bayi mereka sambil memberikan dot. Dengan satu tangan lainnya, dia berusaha menenangkan si kecil yang masih berada di boks, menyentuhnya dengan lembut agar tidak terus menangis.Lila menggeleng pelan. Kenapa dalam keadaan repot seperti itu Sean tidak membangunkannya?Dia mengamati suaminya yang tampak begitu telaten. Mata Sean terlihat sedikit sayu karena mengantuk, tetapi senyumnya tetap ada saat membisikkan sesuatu pada anak mereka. Lila merasa hangat melihat pemandangan itu.Dia bangkit perlahan, mendekati Sean, lalu bertanya pelan, "Kenapa tidak membangunkanku?"Sean menoleh dan tersenyum kecil. "Kau masih butuh istirahat, sayang. Aku bisa mengurus mereka."

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   465. Kemarahan Ibu Hamil

    Ryan menghela napas panjang, berdiri di samping tempat tidur rumah sakit tempat Rina berbaring. Sejak sadar, istrinya berubah total. Biasanya Rina adalah perempuan yang mandiri, kalem, dan penurut. Tapi sekarang? Manja, gampang marah, dan yang paling membuat Ryan frustasi, diam seribu bahasa setiap kali mereka hanya berdua."Rina, kau mau sesuatu?" tanya Ryan pelan, berharap mendapat jawaban.Rina hanya membuang muka, menatap ke arah jendela.Ryan mengusap wajahnya, mencoba bersabar. Sejak dokter memberi kabar tentang kehamilan Rina, perubahan sikap istrinya semakin menjadi-jadi. Setiap kali ia mencoba membicarakannya, Rina malah menutup diri.Namun, saat Sekar dan Prabu datang bersama Brilian dan Renasya, suasana langsung berubah. Seakan-akan Rina adalah orang yang berbeda."Bunda!" Renasya berlari kecil mendekati ranjang, matanya berbinar.Rina tersenyum hangat, membuka tangannya untuk menyambut putrinya. "Sayang, ke sini, Bunda kangen."Ryan memandangi pemandangan itu dengan kening

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   464. Janji tak Terucap

    Sean melepas dasinya dengan satu tarikan kasar. Rumah besar itu terasa begitu sepi.Tidak ada suara Sekar yang biasanya sibuk memberi perintah. Tidak ada tawa Prabu yang sering menggoda Brilian. Bahkan Brilian sendiri tak terdengar, padahal biasanya selalu berlari-lari dengan ocehan tak ada habisnya.Setelah mencuci tangan, Sean melangkah menuju kamar bayi, membuka pintu perlahan.Di dalam, Lila sedang menggendong Berlian yang masih mengenakan baju tidur, sementara Bintang terbaring di boks bayi, menggeliat pelan. Wajah Lila tampak lelah, rambutnya berantakan, tetapi senyumnya tetap ada saat menenangkan putri kecil mereka.Sean bersandar di ambang pintu, matanya melembut. "Kenapa sendirian?"Lila menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Mama dan Papa mengantar Renasya ke rumah sakit. Brilian ikut, nanti pulangnya langsung ke rumah Om Prabu. Mereka akan menginap kurang lebih satu minggu di sana sampai Paksi berangkat ke London."Sean mengangguk pelan, beberapa hari yang lalu P

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   463. Masa Tua yang Bahagia

    Di perjalanan pulang, Sekar sesekali melirik ke arah Renasya yang tertidur di pangkuannya. Wajah mungil itu tampak lelah, sesekali bergumam dalam tidurnya, mungkin memanggil ibunya. Prabu yang menyetir pun sesekali melirik ke kaca spion, memastikan keadaan mereka baik-baik saja."Kasihan anak ini, tidak ada yang asuh karena mamanya harus di" gumam Sekar pelan, mengusap rambut Renasya dengan lembut."Kita jaga dia baik-baik sampai ibunya pulang," sahut Prabu, suaranya tenang tetapi tegas.Sesampainya di rumah, Sekar langsung memanggil Bi Siti. "Bi, tolong mandikan Renasya dulu, ya. Pakaiannya ada di kamar tamu yang dulu dia pakai waktu menginap di sini."Bi Siti mengangguk. Dengan penuh kesabaran, ia membimbing Renasya yang masih setengah sadar karena mengantuk. Anak itu berjalan dengan langkah gontai, menggenggam tangan Bi Siti erat-erat.Sekar dan Prabu menghembuskan napas lega. "Semoga besok Rina sudah bisa dibawa pulang," kata Sekar pelan, lebih kepada dirinya sendiri.“Ya, tapi Re

  • Kembalilah Nyonya! Tuan Presdir Sangat Menyesal   462. Ada Apa dengan Rina

    Ryan duduk di kursi tunggu ruang UGD, masih mengenakan kaus rumahan dan celana training. Melihat keadaan istrinya yang tidak sadarkan diri, ayah satu anak itu mengambil pakaian sedapatnya dari lemari.Napas Ryan tersengal, dadanya naik turun cepat. Di pelukannya, Renasya meringkuk, masih mengenakan piyama tidurnya, kepalanya bersandar di bahu Ryan dengan wajah bingung dan takut."Ayah, Bunda kenapa?" Suara kecil putrinya bergetar.Ryan mengeratkan pelukannya, berusaha menenangkan anaknya meski dirinya sendiri diliputi ketakutan yang luar biasa."Bunda sakit, Nak. Kita doain Bunda, ya?" Suara Ryan terdengar serak, matanya terus terpaku pada pintu ruang gawat darurat yang tertutup rapat.Tadi pagi, setelah menemukan Rina tidak sadarkan diri, Ryan nyaris kehilangan akal. Ia menggendong istrinya keluar kamar, berlari ke garasi, dan tanpa berpikir panjang, memasukkan Rina ke mobil.Renasya, yang terbangun karena suara ayahnya berteriak, ikut dibawa serta dalam keadaan setengah mengantuk.P

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status