Share

Kehidupan Edo yang Menakjubkan
Kehidupan Edo yang Menakjubkan
Author: Galang Damares

Bab 1

Author: Galang Damares
Pada pukul sebelas malam.

Aku pergi lari malam di taman di bawah rumah kakakku.

Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik seorang pria dan seorang wanita yang datang dari rerumputan.

"Wiki, kamu sebenarnya mampu nggak? Kamu bilang kamu nggak terangsang kalau di rumah. Aku ikut ke sini bersamamu, kenapa kamu masih seperti ini?"

Saat aku mendengarnya, bukankah ini suara anggun Kak Nia?

Bukankah kakakku dan Kak Nia pergi makan malam? Kenapa muncul di taman, bahkan di rerumputan?

Biarpun belum pernah punya pacar, aku sudah menonton banyak video instruksional, jadi aku langsung mengerti bahwa mereka sedang mencari sensasi.

Nggak kuduga kakakku dan Kak Nia jago mainnya! Mereka ternyata melakukannya di taman ... ini seru sekali.

Mau tak mau aku pun mendekat dan menguping.

Kak Nia sangat cantik dan memiliki bodi yang super seksi. Mendengar rintihan Kak Nia adalah impianku.

Aku berjingkat ke rumput dan diam-diam menjulurkan kepalaku.

Kulihat Kak Nia duduk di atas kakakku. Walaupun punggungnya menghadap ke arahku, tapi lekuk punggungnya yang anggun terlihat begitu indah.

Mulutku tiba-tiba terasa kering dan perutku di bagian bawah terasa panas.

Menghadapi Kak Nia yang begitu memikat, kakakku sedikit kewalahan, "Nia, aku ... sepertinya masih belum bisa."

Kak Nia dengan marah membentak kakakku, "Kamu payah. Umurmu baru tiga puluh lima tahun. Apa gunanya kamu?"

"Biarpun nggak bisa mengeras, setidaknya kamu berikan aku sesuatu yang berguna, tapi itu pun kamu nggak bisa. Bagaimana aku bisa hamil kalau seperti ini?"

"Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan cari orang lain!"

"Kamu mungkin nggak ingin menjadi seorang ayah, tapi aku ingin menjadi seorang ibu."

Kak Nia dengan marah menarik celananya dan berjalan keluar.

Aku sangat ketakutan sehingga aku berbalik dan lari.

Tak lama setelah kembali ke kamar, kudengar Kak Nia kembali.

Kak Nia membanting pintu hingga tertutup, itu membuatku takut.

Aku diam-diam menepuk dadaku, aku sangat ketakutan. Aku tidak menyangka kalau kehidupan pernikahan kakakku dan Kak Nia begitu tidak harmonis.

Konon wanita yang berusia tiga puluhan itu ibarat serigala dan harimau. Kak Nia terlihat seperti tipe wanita yang bergairah tinggi. Bagaimana kakakku bisa memuaskannya dengan tubuh kecilnya itu?

Kalau itu aku, masih lumayan.

Bah bah bah!

Apa yang kupikirkan, Nia Gaori adalah kakak iparku, bagaimana aku bisa mengincarnya?

Biarpun Wiki Cahyadi dan aku bukan saudara kandung, hubungan kami lebih dekat dibandingkan saudara kandung.

Kalau bukan karena Wiki, aku tidak akan menjadi mahasiswa.

Oleh karena itu, aku sama sekali tidak boleh mengincar Kak Nia.

Saat aku sedang berpikir liar, samar-samar aku mendengar suara terengah-engah dari sebelah.

Aku segera menempelkan telingaku ke dinding dan mendengarkan.

Itu memang suara terengah-engah!

Kak Nia ternyata ....

Aku merasa panas dan tak tertahankan.

Aku melakukan hal buruk secara diam-diam.

Pada akhirnya, suara-suara di kedua sisi tembok saling tumpang tindih.

Kecocokan spiritual seperti ini membuat aku sedikit berkhayal.

Menurutku kalau aku berhubungan intim dengan Kak Nia maka pasti akan sangat harmonis.

Tapi, hal ini tidak mungkin dilakukan.

Ada kakakku yang menjadi penghalang antara aku dan Kak Nia.

Tidak mungkin aku berbuat sesuatu yang bersalah pada kakakku.

Aku melepas celana dalam yang kotor dan menaruhnya di kamar mandi di luar, aku akan mencucinya ketika bangun di pagi hari.

Lalu aku tertidur.

Aku tidur sampai sekitar jam sembilan keesokan harinya. Saat aku bangun, kakakku sudah berangkat kerja, hanya aku dan Kak Nia yang berada di rumah.

Kak Nia sedang membuat sarapan.

Kak Nia mengenakan piama tali ikat sutra, jadi sosok montoknya terlihat jelas di hadapanku.

Apalagi kemontokan di bagian dada dia, itu membuatku merasa haus lagi.

"Edo sudah bangun? Ayo mandi dan sarapan." Kak Nia melihatku dan berinisiatif menyambutku.

Aku baru beberapa hari tinggal di sini, aku belum terlalu mengenal Kak Nia, jadi aku merasa agak canggung.

Aku hanya berkata "oh" dengan ringan dan pergi ke kamar mandi.

Saat mandi, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Celana dalam yang aku ganti tadi malam ada di sini.

Kak Nia bangun lebih awal dariku, jadi dia pasti sudah melihat celana itu 'kan?

Aku segera melihat ke rak, tapi aku tercengang saat melihat celana dalamku hilang!

Saat aku sedang melihat sekeliling, tiba-tiba terdengar suara Kak Nia dari belakangku, "Nggak usah cari, sudah kucuci."

Aku langsung merasa malu.

Celana dalam itu penuh dengan kotoran. Apa Kak Nia tidak melihatnya saat mencuci?

Ini terlalu memalukan!

Kak Nia malah menyilangkan tangan di dada dan menatapku sambil tersenyum, seolah tidak ada yang salah, "Edo, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam?"

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan panik, sampai mati pun aku tidak bisa mengakui kalau aku mendengar Kak Nia melakukan hal seperti itu sendirian.

"Nggak, nggak ada, aku nggak mendengar apa pun."

"Benarkah? Apakah kamu nggak mendengar suara-suara aneh datang dari kamarku?"

Kak Nia sedang mengujiku.

"Aku tidur sekitar jam sepuluh tadi malam, aku benar-benar nggak mendengar apa pun."

Setelah mengatakan itu, aku lari.

Entah apa yang terjadi, tapi saat diinterogasi Kak Nia, aku merasa sangat bersalah dan mataku tak bisa menahan diri untuk tidak tertuju pada dada Kak Nia.

Ini seperti sihir.

Aku sedang duduk di meja makan sambil makan. Sebenarnya aku tidak fokus, karena Kak Nia segera menghampiriku lagi dan duduk di sebelahku.

Aku mempertanyakan apa yang ingin Kak Nia lakukan? Kami biasa duduk berhadapan saat makan, kenapa dia tiba-tiba duduk di sebelahku?

Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia tiba-tiba menyentuh lembut lenganku dengan jarinya.

Tiba-tiba aku merasa mati rasa di sekujur tubuh, seolah-olah aku tersengat listrik.

Aku juga mendesah dalam hati, ternyata begini rasanya disentuh oleh seorang wanita.

Sentuhan ini sangat luar biasa.

"Edo, sepertinya kamu takut padaku, ya?"

"Nggak, aku hanya kurang begitu mengenal Kak Nia, jadi aku sedikit berhati-hati."

"Bukankah semua orang berubah dari nggak akrab satu sama lain menjadi akrab? Justru karena kita nggak akrab maka kita perlu lebih banyak berkomunikasi, agar kita bisa lebih cepat dan lebih dekat satu sama lain secara efektif."

"Edo, tahukah kamu cara apa yang paling cepat dan efektif agar pria dan wanita bisa akrab satu sama lain?"

Entah itu hanya imajinasiku, aku hanya merasa Kak Nia sedang memberi isyarat padaku?

Aku sangat bingung sehingga aku bahkan tidak repot-repot makan.

Aku merasa antusias sekaligus gugup. Apalagi aku ingin tahu apa yang dimaksud Kak Nia?

Jadi aku memberanikan diri bertanya, "Kak Nia, apa itu?"

"Menciptakan manusia!" Kak Nia menatapku dengan mata besarnya yang cerah dan berkata langsung.

Aku langsung tersedak.

Aku berpikir dalam hati, kenapa Kak Nia berkata seperti itu padaku? Dia adalah kakak iparku, aku tidak bisa melakukan ini padanya.

Mungkinkah Kak Nia sedang mengincarku?

Kakakku tidak mampu, jadi dia menaruh harapannya padaku?

Tidak, tidak, aku tidak boleh bersalah pada kakakku.

Aku segera menarik bangku ke samping dan berkata, "Kak Nia, jangan bercanda. Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan salah paham."

"Pfft." Kak Nia langsung tertawa saat melihat tatapanku, lalu berkata, "Kalau begitu katakan sejujurnya, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam? Kalau kamu masih nggak mau mengatakan yang sebenarnya, aku akan berdiskusi mendalam denganmu."

Aku ketakutan hingga hampir buang air kecil, aku berpikir ini tidak mungkin terjadi, jadi aku panik dan berkata, "Kak Nia, aku memang mendengar suara-suara tadi malam, tapi itu secara nggak sengaja."

"Apakah itu eranganku, merdu nggak?" Aku tidak menyangka Kak Nia akan menanyakan hal ini.

Aku tersipu malu hingga jantungku hampir copot. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Saat ini, ada ketukan di pintu di luar. Seolah-olah aku sudah menemukan penyelamat, aku segera berlari dan membuka pintu.

Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang wanita jangkung dan ramping berdiri di depan pintu.

Dia sangat cantik dan memiliki sosok yang berlekuk, seperti bintang wanita.

Wanita itu menatapku, mengedipkan mata hitam besarnya dan bertanya, "Siapa kamu?"

Aku juga bertanya-tanya, "Siapa kamu?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Muh
lanjut kelihatan seru
goodnovel comment avatar
Legacy Island
ada no wa ngga
goodnovel comment avatar
yokumajid
Penasaran jadinya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 2

    "Lina, kamu sudah sampai, ayo masuk, duduk dulu." Selagi aku bertanya-tanya, Kak Nia menghampiri dan berkata kepada wanita itu dengan sangat antusias.Wanita itu masuk ke dalam rumah atas ajakan Kak Nia.Kak Nia memperkenalkan kami satu sama lain.Ternyata wanita itu adalah sahabatnya yang bernama Lina Lasma yang tinggal di sebelah."Lina, ini adik Wiki dari desa yang sama. Namanya Edo Didi. Dia baru tiba kemarin."Lina menatapku dengan heran, lalu berkata sambil tersenyum, "Aku nggak menyangka adiknya Wiki begitu muda dan tampan!""Edo baru saja lulus kuliah, bagaimana mungkin nggak muda? Selain itu, dia bukan hanya muda, dia juga sangat kuat."Entah apakah itu hanya imajinasiku, aku merasa perkataan Kak Nia ada maksud lain dan matanya menatap bagian tertentu di tubuhku.Itu membuatku merasa sangat tidak nyaman.Lina menatapku dari atas ke bawah dan bertanya, "Nia, kalau begitu tukang pijat yang kamu bicarakan itu adikmu ini 'kan?""Benar, itu Edo. Dia belajar ilmu pijat dari kakeknya

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 3

    Aku segera berdiri seperti anak kecil yang berbuat jahat, "Kak ... Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?"Lina pun merasa bersalah dan segera duduk di sofa.Wajah cantiknya semerah apel."Nia, jangan terlalu banyak berpikir. Nggak terjadi apa-apa antara aku dan Edo. Aku hanya merasa dada dan napas sesak, jadi ingin dia pijat." Lina menjelaskan dengan rasa bersalah.Kak Nia tersenyum dan berkata, "Aku nggak bilang apa-apa tentang kalian. Kenapa kamu gugup sekali?""Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang buruk di belakangku?"Lina dan aku menggelengkan kepala pada saat bersamaan.Di saat yang sama, kami merasa panik.Aku ternyata menyentuh sahabat Kak Nia. Kalau Kak Nia mengetahui hal ini, dia pasti akan mengusirku.Tapi, Lina gelisah, dia berbohong bahwa ada urusan dan pergi dengan tergesa-gesa.Kulihat Kak Nia memandangi punggung Lina yang pergi dengan tertegun.Beberapa saat kemudian, Kak Nia menatapku dan berkata, "Edo, apa pendapatmu tentang sahabatku?""Hah?" tanya Kak Nia ti

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 4

    Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya.Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari.Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat.Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan?Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya.Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu.Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat.Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku.Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk.Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?""Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia."Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah."Lalu kenapa suaramu bergetar?"Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kal

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 5

    Setelah Lina melepas celana dalamnya, dia memasukkannya ke dalam tas dan melihat ke luar jendela seolah tidak terjadi apa-apa.Tapi, wajahnya yang cantik memerah dan kakinya dijepit erat.Aku kebetulan bisa melihat penampilannya secara keseluruhan di kaca spion.Penampilannya yang pemalu dan gelisah itu terlalu menawan.Terutama di antara kedua kakinya, itu membuatku berfantasi.Kak Nia luar biasa, entah apa yang dia katakan dengan Lina hingga membuat Lina melakukan hal seperti itu."Drrt drrt." Ponsel tiba-tiba bergetar.Aku membuka WhatsApp dan menemukan bahwa itu adalah pesan dari Kak Nia.Kak Nia, "Sudah lihat?"Aku malu dan bersemangat, juga tidak tahu harus berkata apa, jadi aku mengirim ekspresi tersenyum pada Kak Nia.Pesan Kak Nia segera terkirim, "Lina sedikit pemalu sepertimu, tapi aku akan membiarkan pikiran dia terbuka perlahan, kamu harus memanfaatkan kesempatan."Aku menjawab, "Oke."Aku sangat bersemangat, Kak Nia sangat mahir dalam membantu.Sesampainya di mal, Kak Nia

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 6

    "Ahhh ...."Awalnya, saat aku melampiaskannya sendiri, perasaannya tidak begitu kuat, mungkin perlu beberapa saat sebelum aku bisa melampiaskannya.Tapi, setelah melihat Lina memata-mataiku melakukan itu, entah kenapa aku menjadi terangsang, antusias dan bersemangat.Cairan pun segera disemprotkan.Karena aku melakukan hal semacam itu tanpa menutup-nutupi, pada dasarnya tidak mengotori celana, tapi membuat kursi pengemudi kotor.Di mana pun.Aku panik.Alangkah memalukannya kalau Kak Nia mengetahui hal tersebut.Ini adalah mobil favoritnya.Saat dia dan Kak Wiki mengantarku kemarin, dia tidak memperbolehkan Kak Wiki mengemudikan mobilnya. Kak Wiki mengatakan bahwa Kak Nia membeli mobil itu sendiri. Kak Nia sudah lama mengincarnya dan sangat menyayanginya.Aku segera mengambil tisu dari sisi penumpang dan membersihkannya.Tapi, masih ada bekasnya, aku tidak tahu apakah bisa kering setelah makan?Akan memalukan kalau meninggalkan jejak.Kak Nia menyuruhku belajar, tapi aku malah melakuka

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 7

    "Baiklah, kalau begitu kamu istirahat." Kak Nia menutup panggilan teleponnya.Aku segera bertanya, "Apa yang Kak Lina katakan?"Kak Nia menghela napas dan berkata, "Lina nggak mau berkata apa pun. Dia hanya bilang dia nggak enak badan dan pulang istirahat dulu."Aku menghela napas lega dan berkata, "Untung saja."Kak Nia mengetuk keningku, "Apa yang untung saja?"Aku tidak mengerti jadi berkata, "Kak Lina nggak mengatakan apa-apa, jadi aku nggak begitu malu.""Kalau dia nggak bilang, lalu apakah yang terjadi barusan nggak terjadi?""Biar kuberi tahu, semakin dia nggak membicarakannya, hal itu akan semakin tertanam dalam pikirannya.""Bahkan setiap kali bertemu denganmu, adegan kamu melakukan hal semacam itu di dalam mobil akan muncul di pikirannya."Tiba-tiba aku merasa perkataan Kak Nia masuk akal.Ini seperti tiba-tiba aku mendengar kakakku dan Kak Nia melakukan itu.Setiap kali Kak Nia melakukan tindakan ambigu ke arahku, mau tidak mau aku teringat membayangkan Kak Nia di ranjang.A

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 8

    Ide berani itu muncul lagi di benak aku.Aku setiap saat dipancing dan digoda oleh Kak Nia, tapi aku tidak pernah melawan.Bagaimana kalau aku melawan sekali?Bukankah Kak Nia selalu menyuruhku untuk membuka diri?Bagaimana aku bisa membuka diri kalau aku tidak mencobanya?Jadi, aku menarik celanaku setengah dan tiba-tiba berkata kepada Kak Nia, "Kak Nia, aku merasa nggak nyaman sekali. Bukankah kamu bilang kalau aku merasa nggak nyaman, kamu bisa membantuku."Setelah mengatakan itu, jantungku berdetak lebih cepat dan aku sangat ketakutan.Terutama karena ini pertama kalinya aku mengucapkan kata-kata berani seperti itu kepada Kak Nia, aku merasa tidak yakin."Aku mau masak." Kulihat Kak Nia tersipu malu.Ini mengejutkan dan menyenangkan bagiku.Kak Nia tidak menolakku secara langsung, jadi itu ada peluang.Aku terus berkata dengan berani, "Nggak apa-apa, tinggal dicuci saja nanti."Sambil berkata begitu, dengan berani aku menarik lagi tangan Kak Nia.Saat aku menyentuh tangan Kak Nia,

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 9

    "Kamu nggak boleh memberitahu kakakku apa yang baru saja terjadi."Kak Nia berkata sambil membantuku mengangkat celanaku, "Tentu saja aku nggak akan memberitahu kakakmu, tapi aksimu tadi sangat bagus.""Kamu nggak hanya harus melakukan ini di depanku, tapi kamu juga harus melakukan ini di depan Lina.""Semakin cabul seorang pria, semakin dia dicintai oleh wanita.""Bahkan kalau perlu, biarpun kamu harus menggunakan trik, itu nggak masalah."Aku sedikit kecewa dan bertanya, "Kak Nia, apakah kamu melakukan semua ini hanya untuk membantuku membuka hati?""Kalau nggak apa? Kamu nggak berpikir aku ingin melakukan sesuatu denganmu 'kan?"Hatiku langsung mencelos.Aku menggeleng lemah, "Nggak."Aku tahu aku tidak seharusnya kecewa, tapi saat ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku.Secara khusus, Kak Nia membantu aku mengangkat celana dan menata pakaian aku seperti tidak terjadi apa-apa.Seolah-olah semua reaksiku seperti reaksi anak-anak.Aku sangat tidak menyukai perasaan ini.Jelas-jelas

Latest chapter

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1070

    Lina mengeluarkan satu, lalu menusuk beberapa lubang di atasnya dengan jarum.Aku tidak tahu semua ini. Aku membeli sekotak pengaman baru, lalu naik ke atas.Lina berkata, "Aku baru saja menemukan sekotak di dalam laci. Ayo kita pakai ini.""Oke."Aku langsung menghampiri Lina.Setelah selesai, aku tertidur lelap.Lina berbaring di belakangku dan membelai pipiku dengan lembut, "Edo, maafkan aku. Aku nggak tahu aku ingin punya anak atau nggak, jadi serahkan semuanya pada takdir."Lina menyukai anak-anak. Dia ingin menikah denganku dan melahirkan anak.Namun, dalam situasi ini, jika dia mengatakan bahwa dia ingin punya anak, aku pasti tidak akan setuju.Jadi, dia menggunakan cara seperti ini.Lina juga berpikir jika dia punya anak, dia akan menikah denganku.Sedangkan ayahnya, mana mungkin ayahnya membiarkan dia hamil sebelum menikah?Alasan mengapa Lina memiliki ide seperti itu karena dia selalu merasa tidak nyaman akhir-akhir ini.Dia takut tidak bisa menikah denganku dan tidak bisa hi

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1069

    "Tunggu, ada catatan di dalamnya. Aku baca dulu."Aku mengeluarkan catatan itu. Saat aku membaca catatan itu, raut wajahku menjadi sangat masam.Ternyata, barang-barang ini dikirimkan oleh Johan. Dia bukan mengirimkannya pada Lina, tetapi padaku.Johan menulis banyak kata-kata kasar di catatan itu. Dia mengatakan bahwa Lina adalah barang bekas. Kami adalah pasangan yang cocok.Dia juga menyuruh kami menunggu. Dia pasti tidak akan membiarkan kami hidup dengan damai.Aku langsung merobek catatan itu, lalu membuangnya ke tempat sampah."Johan si bajingan itu."Lina masih sedikit takut. "Johan, kenapa dia melakukan ini? Dia sudah pergi, tapi dia masih nggak melepaskanku?""Mungkin karena kehidupanku makin baik, sementara dia makin memburuk, jadi dia merasa kesal."Konspirasi Johan untuk menjebak Barto terbongkar. Jadi, dia terpaksa meninggalkan Kota. Namun, semua bisnisnya berada di Kota. Setelah dia pergi, perusahaannya tiba-tiba merosot.Bagaimana mungkin dia tidak dendam padaku?"Aku bu

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1068

    "Bagus sekali! Sekarang, akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah karyawan. Kamu juga menyelesaikan masalah di klinik."Cindy sangat gembira. Dia bahkan menyiapkan beberapa lauk pauk.Tentu saja, aku merasa dia bisa mencobanya terlebih dahulu. Mengenai apakah Cindy bisa bertahan, itu tergantung pada kemampuannya sendiri.Rincian akuntansi toko kami harus dicatat dengan sangat hati-hati. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.Cindy tidak bekerja selama beberapa tahun. Aku tidak tahu apakah dia dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja secara tiba-tiba?Namun, bagaimanapun masalah ini telah diselesaikan sekarang."Kak Cindy, kamu sibuk dulu. Aku akan pergi menemui Kak Nia."Aku pergi ke kamar untuk mengunjungi Nia.Sejak Nia kembali, dia tidak menunjukkan reaksi apa pun.Hal ini membuatku sangat cemas.Aku hanya bisa menceritakan pada Nia apa yang terjadi setiap hari dengan sabar. Aku berharapan dia dapat mengetahui apa yang aku lakukan setiap hari."Kak Nia, cepatlah bangun. Aku sudah me

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1067

    Hairu tersenyum dan berkata, "Aku nggak peduli. Selama aku bisa menghasilkan uang, nggak apa-apa. Lihatlah. Kita bahkan belum resmi buka, tapi sudah banyak orang yang datang untuk datang kemari.""Sebagian besar orang-orang ini diperkenalkan oleh Harmin. Berdasarkan hal ini saja, kamu kalah daripada Edo. Apa kamu menerimanya?"Dono melirik orang-orang yang berkerumun di dalam toko tanpa mengatakan sepatah kata pun.Hairu tersenyum, lalu menepuk pundaknya. "Nggak sulit untuk mengakui bahwa kamu nggak sebaik orang lain. Lagi pula, semua ini demi menghasilkan uang. Selama ada uang yang bisa dihasilkan, nggak apa-apa.""Selain itu, kamu nggak perlu khawatir tentang apa pun. Yang harus kamu lakukan adalah mengambil keuntungan di akhir tahun. Dari mana lagi kamu bisa menemukan hal baik seperti itu?""Biarkan mereka bekerja sebanyak yang mereka mau. Belajarlah dari aku. Bersikaplah positif."Setelah berkata, Hairu tertawa sambil berjalan pergi.Dono tidak dapat menenangkan suasana hatinya.Do

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1066

    Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya ingin mengirim pesan selamat malam pada Lina.Sejak pertama kali bertemu Lina hingga sekarang, sepertinya tidak ada kejadian romantis di antara kami. Aku belum pernah melakukan hal romantis. Kami bahkan tidak memiliki kenangan romantis.Satu-satunya kenangan yang aku miliki adalah sosok Lina yang seksi, serta penampilannya yang lembut dan berbudi luhur.Namun, jika semua ini hanya berdasarkan keinginan, bukankah aku hanya memanfaatkan Lina?Setelah mengirim pesan, aku tidur.Keesokan paginya, aku melihat balasan dari Lina, [Selamat pagi!]Melihat dua kata sederhana itu, aku merasa sangat senang.Mungkin seperti inilah rasanya jatuh cinta.Sama seperti dalam film, ini adalah perasaan cinta yang murni.Aku sedang berbaring di ranjang sambil mengirim pesan WhatsApp dengan Lina.Kiki masuk, lalu bertanya apa yang ingin aku makan.Aku menjawab terserah.Kiki duduk di samping ranjang. Aku tidak menghindar, jadi dia bisa melihat apa yang sedang aku bicarakan d

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1065

    Aku langsung duduk tegak, [Kenapa aku harus merekam gambar seperti itu?][Aku ingin membuat album yang menunjukkan otot kaki pria.]Ternyata begitu. Aku mengira dia ingin melakukan sesuatu padaku?Aku langsung merekam, lalu mengirimkannya padanya."Oke. Sekarang, aku harus mengedit videonya. Aku nggak mengobrol denganmu lagi.]Akhirnya, aku menemukan seseorang untuk mengobrol. Namun, setelah mengobrol beberapa patah kata, Sinta pergi.Sudahlah, aku lebih baik menonton video lagi.Setelah menonton beberapa saat, aku mulai mengantuk.Saat aku hampir tertidur, seseorang masuk ke kamarku dan mulai menyentuhku.Tiba-tiba, aku tersadar dan duduk. "Siapa itu?""Edo, aku." Suara itu adalah suara Kiki."Sialan, kamu mengagetkanku. Kamu berjalan tanpa bersuara. Kenapa kamu menyentuh tubuhku?"Aku menyalakan lampu di kamar tidur.Kiki terkekeh, lalu duduk di sebelahku. "Aku pikir itu Zudith. Ternyata itu kamu.""Kenapa? Kamu suka sama Zudith?""Bukan begitu. Hanya saja, Zudith pernah bilang sebel

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1064

    Kemudian, aku mendengar suara Jessy. "Pak Tio suka?""Tentu saja, Nona Jessy sangat menawan. Pria mana yang nggak suka?"Lalu, terdengar suara tawa dari dalam.Seketika, pikiranku menjadi kosong. Tubuhku bahkan membeku di sana.Beberapa saat kemudian, aku baru bereaksi.Aku segera meninggalkan tempat itu. Namun, pikiranku sangat kacau dan hatiku merasa sedih.Karena aku tidak datang, Jessy mencari pria lain?Hubungan kami hanya sebatas main-main. Kenapa aku menganggapnya serius?Namun, aku tidak tahu kenapa. Aku merasa sedikit sedih.Aku duduk di mobil sambil merokok.Namun, aku tidak bisa menenangkan suasana hatiku.Akhirnya, aku tidak punya pilihan selain kembali ke rumah kontrakanku.Beberapa waktu ini, hanya ada Zudith dan Sharlina di rumah kontrakan. Selain pergi ke klinik setiap hari, Zudith menghabiskan seluruh waktunya untuk bersama Sharlina.Setelah usaha keras Zudith selama ini, akhirnya Sharlina memiliki kesan baik terhadapnya.Saat aku kembali, mereka sedang mengobrol dan t

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1063

    Jadi, aku mengangguk dan berkata, "Oke, aku akan mendengarkanmu. Aula Damai dan Aula Juve bekerja sama untuk mengembangkan bisnis kita.""Haha, aku juga berpikir demikian. Kalau Aula Damai punya pasien ortopedi, aku akan memperkenalkannya padamu. Kalau kamu punya pasien pijat, kamu juga bisa memperkenalkannya padaku."Aku dan Harmin memiliki ide yang sama. Hal ini membuatku sangat bersemangat.Aku menggenggam tangan Harmin dengan erat dan berkata, "Pak Harmin, aku yakin kalau kita bekerja sama, kita pasti bisa terus mengembangkan bisnis kita."Yuna menggoda kami, "Kalian berdua begitu dekat. Aku jadi iri."Aku melepaskan tangan Harmin dengan malu."Pak Harmin, Bu Yuna, kalian tidurlah lebih awal. Aku nggak akan mengganggumu.""Edo, aku akan mengantarmu keluar." Yuna ingin mengatakan sesuatu kepadaku.Benar saja. Setelah aku meninggalkan rumah itu, Yuna berkata, "Edo, katakan padaku, apakah Harmin benar-benar sudah pulih?"Saat Yuna berkata, pipinya memerah bahkan telinganya pun merah.

  • Kehidupan Edo yang Menakjubkan   Bab 1062

    Bella mencibir, "Jadi, maksudmu setiap wanita yang berhubungan denganmu itu berinisiatif mendekatimu?"Aku tidak mengatakan apa-apa. Namun, bukankah itu benar?Selain Lina, aku tidak pernah berinisiatif mengejar siapa pun.Tentu saja, jika aku mengatakan ini, sepertinya aku sangat narsis.Ketampananku tidak sampai membuat semua orang terpana. Aku tidak punya hak untuk mengatakan itu.Bella tiba-tiba menatapku dengan tatapan tertarik. "Kenapa? Kamu nggak percaya diri karena apa yang aku katakan? Sejujurnya, kamu sangat tampan. Kamu memiliki sifat lugu. Perasaan ini nggak dapat ditemukan pada tuan muda.""Hal-hal yang dapat dibeli dengan uang nggak ada artinya. Sebaliknya, sifatmu yang lugu itu sangat menawan."Aku selalu merasa Bella terlihat sedikit berbeda malam ini. Aku merasa seakan dia sengaja menggodaku.Tentu saja, aku tidak berani menebak apa maksudnya. Aku takut aku akan celaka."Kenapa kamu menceritakan semua ini tanpa alasan? Aku merasa malu dengan pujianmu."Aku ingin memanf

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status