Pagi itu di kontrakan Alyn dimulai dengan suara alarm dari ponselnya yang bergetar halus di meja samping tempat tidur. Sinar matahari yang redup menembus tirai jendela, membentuk garis-garis tipis di dinding kamar yang sederhana. Alyn membuka matanya perlahan, menatap langit-langit putih dengan pandangan kosong.
Alyn meraih ponsel dan mematikan alarmnya, menghela napas panjang sebelum duduk di tepi tempat tidur. Di sisi kamar yang lain, suara Bryan, asistennya, muncul dari ponsel yang tergeletak di meja. Panggilan masuk."Sudah bangun, Nona Alyn?" suara Bryan terdengar akrab dan sedikit bercanda."Sudah," jawab Alyn sambil meregangkan tubuh. "Kamu sudah di kantor?""Belum. Tapi hampir. Kamu sendiri gimana? Hari ini ada rapat besar, kan?"Alyn berdiri, berjalan menuju jendela, dan membuka tirai sepenuhnya, membiarkan cahaya pagi memenuhi ruangan. "Iya, aku tahu. Aku akan sampai tepat waktu," katanya sambil menatap jalanan yang mulai ramai.Bryan tertawa kecilJantung Alyn berdegup kencang, dan tangannya gemetar saat dia perlahan menurunkan telepon dari telinganya. Ayahnya, Tuan Anggara, berdiri tegak dengan ekspresi tenang namun penuh wibawa, seolah kehadirannya telah mengubah seluruh suasana kantor. Alyn masih terdiam Dibelakangnya, berdiri Felix yang baru saja tiba di kantor, berbicara dengan senyum yang terlihat seperti kemenangan, entah bagi siapa."Ayah? Apa yang dia lakukan di sini?" bisik Alyn pada dirinya sendiri, merasa tubuhnya kaku.Tuan Anggara tidak melihat Alyn saat itu, tapi kehadirannya di kantor Wijaya Group mengirimkan gelombang kebingungan dan kecemasan di benak Alyn. Rencana kerja sama antara Wijaya Group dan Anggara Group yang ia rencanakan untuk dijatuhkan, kini menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.Ayahnya sudah berada di sini. Sepertinya, kontrak kerja sama sudah mendekati tahap akhir, atau bahkan sudah resmi disepakati. Alyn mencoba mengendalikan napasnya, namun kepanikan mulai menguasai.Ji
Alyn melangkah pelan menuju ruang kerja Rio setelah meeting yang berlangsung lebih lama dari biasanya. Ia menggenggam secangkir kopi hitam di tangannya, harumnya yang khas menguar, mencoba menenangkan debar di dadanya.Jari-jari Alyn sedikit gemetar, bukan hanya karena aroma kafein yang memancing sarafnya, tetapi juga karena beratnya percakapan yang akan mereka hadapi.Ia mengetuk pintu pelan. "Rio?" suaranya nyaris tenggelam dalam sunyi ruangan kantor itu.Di balik pintu, Rio masih duduk dengan wajah tegang di meja kerjanya. Dokumen-dokumen tersebar di depannya, menunjukkan betapa fokusnya ia terhadap pekerjaan, meski ada masalah yang lebih besar menggantung di antara mereka. Mendengar suara Alyn, Rio menoleh, mata tajamnya melembut sesaat sebelum kembali serius."Alyn, masuklah," jawab Rio, suaranya tenang, tapi nadanya jelas menandakan bahwa dia juga merasa tegang.Alyn masuk, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya. "Aku bawakan kopi," katanya sembari m
Ruangan terasa lebih sempit dari biasanya. Alyn masih duduk di kursi di hadapan Rio, jantungnya berdegup kencang. Kata-kata terasa mengganjal di tenggorokannya, sementara tatapan Rio terus mengunci matanya, seolah menunggu sesuatu yang tak terelakkan."Rio, sebenarnya aku..." Alyn berhenti, suara gemetar di ujung kalimat. Kata-kata yang hendak diucapkannya menggantung di udara, seolah tertahan oleh keraguan yang sudah lama ia pendam. Rio berdiri menghadapnya, tatapannya masih lekat pada Alyn, tapi kini senyumnya lebih tegas, penuh rahasia. Rio mendekat, menelungkupkan tangannya di wajah Alyn, menciptakan aura tenang yang seolah siap menghadapi segala hal. "Aku tahu, Nona Alyn Anggara," jawab Rio pelan namun tegas.Alyn membeku. Seakan waktu berhenti untuk sejenak. Matanya melebar, menatap Rio dengan campuran keterkejutan dan ketakutan."Kau... tahu?" gumamnya, nyaris tak percaya. Semua rahasia yang ia jaga dengan sangat hati-hati selama ini, ternyata sudah dike
Alyn masih memikirkan jawaban Rio ketika tiba-tiba dia merasakan sentuhan hangat di pinggangnya. Dengan gerakan yang lembut namun tegas, Rio menariknya mendekat. Jantung Alyn seketika berdegup lebih kencang, dan dalam sekejap, dia merasa seluruh dunianya berputar di sekitar pria yang kini berdiri sangat dekat dengannya.Tatapan mata Rio berubah, dari penuh strategi dan rencana menjadi sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam. Mata mereka bertemu, dan seketika suasana yang sebelumnya tegang berubah menjadi lebih intim.“Rio…” Alyn berbisik, suaranya hampir tak terdengar. Tapi dia tahu, Rio bisa merasakan semua perasaan yang dia pendam selama ini dalam satu kata itu.“Alyn...” Rio menjawab dengan nada rendah, hampir seperti bisikan. Tangan yang memeluk pinggang Alyn terasa lebih erat, namun tetap lembut, seperti Rio tidak ingin melepaskannya. "Kau tidak perlu takut lagi. Aku ada di sini. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita."Alyn merasa dadanya sesak, bukan karena ke
Setelah pulang kerja, Alyn melangkah cepat menuju rumah sakit. Harapannya hanya satu, bertemu dengan Dokter MJ dan mendapatkan jawaban yang dia cari. Namun, sesampainya di meja resepsionis, hatinya tenggelam ketika mendengar kabar buruk yang tidak pernah dia duga."Maaf, Nona. Dokter MJ sudah mengundurkan diri beberapa waktu lalu," kata resepsionis dengan nada datar, tanpa emosi.Alyn tertegun, merasa seakan dunianya berhenti sesaat. "Apa? Kapan dia pergi? Apakah dia meninggalkan informasi kontak?"Resepsionis menggeleng pelan. "Maaf, saya tidak punya informasi lebih lanjut. Mungkin Anda bisa mencarinya di tempat lain."Kata-kata itu menghantamnya seperti gelombang besar. Panik mulai menyusup ke dalam dirinya. Kenapa Dokter MJ tiba-tiba menghilang? Rasa curiga menyelimuti pikirannya. Apakah ada sesuatu yang lebih besar di balik pengunduran diri ini? Apakah dokter itu tahu sesuatu tentang keluarganya dan mungkin tentang ibunya yang hilang?Alyn melangkah cepat kel
Dengan hati yang kacau, Alyn perlahan menjauh dari pintu, langkahnya penuh ketegangan menuju pintu utama."Alyn," seseorang menepuk bahunya pelan, membuatnya terkejut dan seketika menghentikan langkahnya. Alyn menoleh, segera menghapus air mata yang tanpa sadar telah mengalir di pipinya. Di hadapannya, Bryan berdiri dengan ekspresi khawatir."Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara lembut namun penuh kekhawatiran.Alyn mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Aku... aku hanya berkunjung, tapi ada tugas mendadak dari kantor," jawabnya, berusaha terdengar tenang meski kegelisahan masih tergambar jelas di matanya. "Bryan, aku akan segera pulang. Tolong titipkan salam untuk ayah."Bryan menatapnya, ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Apa perlu kuantar?"Alyn menggeleng cepat, hampir terlalu terburu-buru. "Tidak perlu!" suaranya sedikit meninggi, menunjukkan betapa dia ingin segera pergi dari tempat itu. Bryan mengerutkan kenin
Alyn menatap Rio dengan serius, dia menghirup napas dalam-dalam, seolah menyiapkan dirinya untuk langkah besar yang akan dia ambil. "Ayo kita tunjukkan pada mereka, bahwa kita layak menjadi pewaris," katanya, suaranya kini lebih mantap dan penuh ambisi.Rio, yang duduk di sampingnya, tampak terkejut mendengar perubahan sikap Alyn yang begitu tiba-tiba. "Ada apa, Alyn?" tanyanya, pandangannya penuh kebingungan. Alyn mengepalkan tangannya, merasa amarah yang sejak tadi ia tahan mulai muncul ke permukaan. "Aku akan mencari tahu, Rio. Ada apa dan apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargaku, dengan perusahaan, dan bahkan... dengan siapa aku sebenarnya."Rio terdiam, menyadari betapa seriusnya situasi ini. "Apa yang kamu maksud? Kamu mendengar sesuatu di sana?"Alyn mengangguk, lalu menatap ke arah jendela dengan pandangan kosong, seolah sedang mengingat kembali apa yang dia dengar di rumah ayahnya."Aku tidak tahu siapa wanita yang ada bersama ayahku, tapi dia
Alyn mengusap air matanya yang tersisa, mencoba menenangkan diri. "Rio, bagaimana dengan Dokter MJ? Kamu bilang orang-orangmu akan mencarinya. Ada kabar?"Rio menggeleng pelan, ekspresinya serius. "Belum ada kabar. Orang-orangku sudah mencoba melacaknya, tapi sepertinya Dokter MJ menghilang tanpa jejak. Ini lebih rumit dari yang aku kira."Alyn merasa jantungnya kembali berdegup kencang. "Kenapa dia menghilang begitu saja? Apakah ini ada hubungannya dengan keluargaku?" Rio menatapnya dalam, seolah mencoba menenangkan. "Aku tidak tahu pasti, Alyn. Tapi aku janji, aku akan terus mencari tahu. Tapi kita harus berhati-hati."Alyn menggigit bibirnya, merasa cemas dan frustasi. Dokter MJ mungkin adalah kunci untuk mengungkap apa yang terjadi dengan ibunya. "Kita harus menemukannya, Rio. Aku punya firasat, dia tahu sesuatu yang penting."Rio mengangguk, memegang tangan Alyn dengan erat. "Aku mengerti. Kita akan temukan dia, Alyn. Tapi untuk sekarang, kamu harus tetap t
Senja perlahan menyelimuti langit dengan semburat jingga keemasan, menciptakan suasana yang tenang dan hangat di tepi pantai. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membelai rambut Alyn yang tergerai. Mereka berjalan berdampingan di sepanjang pasir putih yang halus, sementara ombak bergulung pelan di kejauhan, seolah menyanyikan lagu lembut yang hanya mereka berdua bisa dengar.Rio menghentikan langkahnya. Alyn yang menyadari bahwa Rio tak lagi berjalan di sampingnya berbalik.“Ada apa, Rio?” tanyanya, suaranya lembut namun penuh tanya.Rio menatap Alyn dalam-dalam, seolah ingin memastikan setiap detik yang mereka habiskan bersama di tempat itu akan abadi dalam ingatannya. Wajahnya tegang, namun di matanya ada kehangatan yang tak biasa.“Alyn,” katanya perlahan, suaranya terdengar lebih rendah dan dalam dari biasanya. “Ada sesuatu yang sudah lama ingin aku sampaikan.”Alyn merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Entah mengapa, tatapan Rio kali ini berbeda. Ada se
Suara gesekan pintu sel yang berat bergema di ruangan yang suram. Seorang penjaga melangkah maju, membuka pintu sel perlahan."Ericka Hartono, Anda dibebaskan," katanya dengan nada datar, seolah pembebasan ini hanyalah rutinitas lain baginya.Ericka, yang duduk termenung di sudut ruangan, mendongak dengan ekspresi terkejut. Matanya yang sebelumnya kosong kini menyala dengan campuran perasaan kebingungan, kelegaan, dan sedikit ketakutan. Setelah segala yang terjadi, dia tidak pernah membayangkan bahwa hari ini akan datang begitu cepat.Dia berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut, lalu melangkah keluar dari sel dengan ragu-ragu. Udara dingin dari luar menyambutnya, membawa serta kenyataan baru yang sulit ia terima. Saat dia berjalan keluar dari penjara, pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Siapa yang membebaskannya?Di luar, sinar matahari menyilaukan matanya, kontras dengan gelapnya sel yang selama ini menjadi tempatnya. Ericka melangkah ke dunia luar dengan langkah berat, ti
Hakim menatap kedua terdakwa, Bu Ratna dan Bryan, dengan tatapan dingin. Setelah mendengar semua kesaksian dan bukti yang diajukan selama persidangan, suasana di ruang sidang terasa tegang, seolah menunggu vonis yang tak terelakkan. "Setelah mempertimbangkan semua fakta yang disampaikan di persidangan ini," kata hakim dengan suara tegas, "pengadilan memutuskan bahwa terdakwa, Ratna Anggara, terbukti bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Ny. Anggara beberapa tahun yang lalu, serta upaya menghilangkan nyawa Alyn baru-baru ini." Suara berbisik terdengar dari para pengunjung sidang, tetapi hakim tidak terpengaruh dan melanjutkan, "Selain itu, terdakwa juga terbukti bersalah karena merencanakan serangkaian manipulasi dan tindakan kriminal lainnya untuk mempertahankan posisinya dan kekuasaan di Anggara Group." Hakim beralih pada Bryan yang kini tampak pucat. "Bryan Wijaya, Anda juga terbukti bersalah atas berbagai kejahatan, termasuk fitnah terhadap Rio Putra Wijaya, mela
Saat Jinu dipanggil ke depan sebagai saksi, suasana ruang sidang semakin tegang. Jinu, dengan sikap tenang namun tegas, berdiri di depan para hakim. Dia mengangkat sumpah dengan penuh kesadaran bahwa apa yang akan dia katakan akan menjadi kunci dalam kasus ini."Nama saya Jinu," ia memulai, "dan selama ini, saya adalah tangan kanan Bryan. Saya diutus untuk memata-matai keluarga Ericka, serta menjaga agar semuanya tetap berjalan sesuai rencana Bryan dan Bu Ratna."Desas-desus di antara hadirin mulai terdengar. Mata Felix tampak terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Keluarga Wijaya saling bertukar pandang, menyadari bahwa mereka juga telah menjadi bagian dari permainan yang lebih besar.Pengacara yang mewakili Alyn berdiri dan mulai bertanya. "Bisa Anda jelaskan lebih lanjut, apa yang Anda maksud dengan memata-matai keluarga Ericka?"Jinu menghela napas sebelum melanjutkan. "Bryan dan Bu Ratna merencanakan segalanya. Mereka memanipulasi hubungan
Keesokan harinya, sidang dilanjutkan dengan suasana yang jauh lebih tegang. Ruang sidang dipenuhi oleh orang-orang yang telah mengikuti perkembangan kasus ini, termasuk anggota keluarga Wijaya yang hadir dengan wajah serius. Felix duduk di barisan depan bersama keluarganya, matanya tajam menatap ke depan, mencoba mencerna segala sesuatu yang terjadi. Hakim mengetukkan palunya dengan tegas, meminta ketenangan di ruang sidang yang mulai riuh setelah bukti baru disampaikan. “Pengacara, apakah Anda memiliki saksi yang bisa mendukung bukti yang baru saja diajukan?” tanyanya dengan nada serius. Pengacara Alyn berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, kami memang memiliki saksi yang relevan untuk memperkuat tuduhan terhadap terdakwa. Kami ingin memanggil Dokter MJ ke hadapan persidangan." Ruang sidang hening sesaat ketika pintu terbuka dan Dokter MJ masuk. Dia berjalan menuju mimbar saksi, menundukkan kepala sebentar sebelum duduk di kursi yang disediakan. Semua mat
Ruangan sidang dipenuhi keheningan yang tegang. Para hadirin duduk di barisan bangku kayu, menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di depan, hakim duduk dengan sikap tenang, meski ketegangan terasa mengental di udara.Di sisi lain ruang, Alyn berdiri dengan tegas di meja penggugat, diapit oleh Rio dan Jinu. Di seberang, Bryan tampak duduk dengan wajah penuh ketegangan, ditemani oleh Bu Ratna yang berusaha menjaga wibawanya meski suasana terasa semakin tak terkendali.Sidang ini bukan sekadar pertempuran hukum biasa. Ini adalah puncak dari segala tipu daya, pengkhianatan, dan rahasia yang selama bertahun-tahun tersembunyi. Alyn tahu bahwa semua yang terjadi selama ini bermuara pada hari ini. Hari di mana kebenaran akan membebaskannya, atau menghancurkannya.Pengacara Alyn maju ke depan, membawa sebuah amplop putih yang disegel dengan rapi. "Yang Mulia," katanya dengan suara lantang. "Kami telah melakukan tes DNA dan hasilnya jelas. Bryan bukan anak kandu
Rio mengerutkan kening, mencoba memahami situasi yang semakin rumit. Alyn yang sejak tadi begitu bersemangat terdiam, dia mulai berpikir keras. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Lalu tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul, membuatnya terhenyak."Jangan-jangan..." Alyn berhenti, menatap Rio dan Jinu dengan mata melebar. “Bryan bukan anak kandung Bu Ratna?”Suasana seketika hening. Rio menatap Alyn, terkejut dengan dugaan itu. “Maksudmu?”“Pikirkan, Rio. Jika Bryan memang anak kandung Bu Ratna dan Tuan Anggara, seharusnya dia tahu siapa aku dari awal. Tapi kalau dia bukan anak kandung, mungkin ada alasan lain kenapa dia begitu terobsesi padaku.” Alyn mulai berbicara cepat, seakan mencoba mengejar pemikirannya sendiri. Jinu menatap Alyn dengan serius, wajahnya menunjukkan pemahaman yang baru. “Itu masuk akal,” katanya akhirnya. "Mungkin saja sejak awal, Bryan memang hanya anak pura-pura dan tahu permainan Bu Ratna. Tapi... dia malah terjebak dalam perasaannya sendiri pada Alyn.”Rio
“Aku tahu ini tidak gratis, kan?” tanya Alyn, suaranya terdengar rendah namun tegas. Dia tahu bahwa Jinu bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.Jinu tersenyum tipis, seolah sudah menunggu pertanyaan itu. "Kau tahu betul, Alyn. Aku ingin Ericka dibebaskan sebagai imbalannya."Mendengar permintaan itu, Rio langsung tersentak. "Tidak! Dia sudah mencelakai Alyn dan ibunya. Ericka tidak pantas dibiarkan begitu saja!" Rio membentak, kemarahan dan kebencian terhadap Ericka terpancar dari matanya.Namun, Jinu tetap tenang, seakan dia sudah memperkirakan reaksi Rio. "Kau salah, Rio..." ucap Jinu pelan tapi pasti. "Itu bukan Ericka... tapi ibu Bryan."Kata-kata Jinu membuat udara di antara mereka terasa berat. Rio menatap Jinu dengan tatapan bingung, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.“Apa maksudmu? Ibu Bryan?”Jinu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Ibu Bryan adalah dalang dari semua ini. Dialah yang selama ini menarik tali di balik layar, termasuk menjeb
Alyn terdiam, mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi. Rasanya seperti semakin banyak rahasia yang terungkap, namun semuanya masih kabur dan tidak jelas. Ia tahu, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi, sesuatu yang jauh di luar kendalinya."Rio, kita harus menemukan cara untuk menghentikan ini semua sebelum segalanya semakin hancur. Aku tidak bisa membiarkan semua orang yang aku cintai terjebak dalam permainan ini," ucap Alyn, nadanya dipenuhi kegelisahan.Rio menggenggam tangan Alyn erat, matanya bersinar penuh ketegasan. "Kita akan hadapi ini bersama. Aku tahu Bryan sedang merencanakan sesuatu, dan sepertinya ini lebih dari sekadar menghancurkan Felix. Dia ingin lebih dari itu."Alyn memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Bryan, yang dulunya sahabat setia keluarga, kini berubah menjadi musuh dalam selimut. Perasaannya bercampur antara ketakutan dan kekecewaan. Bagaimana bisa orang yang begitu dekat dengannya berubah menjadi ancaman terbesar dalam hidupny