“Ssssshhhh… Kamu nggak perlu memikirkan berapa uang yang sudah saya keluarkan untuk kamu. Pikirkan saja saya. Eh, maksudnya rencana pernikahan kita ke depannya. Sebentar lagi kita juga akan segera bertunangan.” Yudha menarik jemarinya, sementara Vina langsung menunduk. Yudha bisa melihat kedua pipi
“Maksud kamu apa, Vin? Mana mungkin Om dan Bibi kamu yang buat Bapak kecelakaan?” Ibunya Vina syok, tetapi jelas sekali kalau beliau masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Informasi ini mungkin terlalu mengejutkan untuk ibunya Vina hingga mau dipercayai pun sulit. Vina sendiri seb
“Sudah, Vin… Sabar…” Vina menggeleng. “Selama ini kita selalu sabar sama mereka, Bu. Sekarang Vina nggak bisa diem aja. Om Buwono ini udah keterlaluan, emang pantas dapat balasan yang setimpal!” seru Vina. Bapaknya Wulan mengepalkan telapak tangannya. “Jangan sok ya kamu! Udah miskin, nggak tau di
“Saya nggak nyangka kalau bapaknya Wulan masih berani ganggu kamu dan keluarga setelah apa yang terjadi,” ungkap Yudha seraya menghela napas panjang. Vina mengangguk. “Aku juga kaget, Om. Tadinya aku udah lumayan kasihan sama Bibi, soalnya dia sampai nangis dan mohon-mohon gitu. Sejenak, aku mikir
Ibunya Vina menghela napas panjang. Tentu ia paham perasaan Vina. Mana ada anak yang rela dan diam saja ketika tahu bapaknya dicelakai. Sudah pasti ingin membalas. Ibunya Vina hanya tidak mau kalau nanti Vina jadi semakin terbebani mentalnya karena masalah ini semakin panjang. “Ibu tenang saja. Sa
Di situ, bapaknya Wulan sudah tidak bisa berkutik. Pantas saja Pak Harjo marah besar, rupanya Yudha tidak sekadar mengaku-ngaku, tetapi memang benar-benar anak jenderal dan bukan seorang tamtama. Pak Buwono yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa spontan berlutut di depan Yudha. “J-Jangan penjarak
Usai bersepakat bahwa Yudha akan membawa keluarganya ke rumah Vina dua hari lagi dan melaksanakan tunangan secara resmi, Vina dan keluarga langsung menyiapkan bahan makanan yang diperlukan. Vina dan keluarga mungkin tidak bisa menyiapkan acara yang mewah, tetapi soal makanan, keduanya sangat perca
“Ya Allah… baik banget bos kamu, Vin.” Vina mengangguk. Ia juga kagum dengan kebaikan Irene. Dalam doa-doanya, Vina terus memohon kepada Tuhan agar Irene dan keluarganya selalu dikelilingi dengan hal baik. Pukul 9, keluarga Yudha datang. Vina berdebar ketika melihat mobil Yudha datang, lalu mereka
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s