Sementara itu, bapaknya Wulan yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan menyeringai puas karena rencananya berhasil. “Bagus, sekarang tinggal datang dan pura-pura nolong,” gumamnya pelan. Bapaknya Wulan langsung datang ke kerumunan itu, pura-pura tidak tahu apapun dan penasaran karena mobilnya tida
Pak Harjo benar-benar kesal karena masalah ini sampai merambat ke anak seorang jenderal. Pak Harjo benar-benar murka. Hari itu juga, Pak Harjo langsung membawa dua anak buahnya ke rumah keluarga Wulan. Ia ingin membuat bapaknya Wulan bertanggung jawab karena telah memperunyam masalah dan tidak bisa
Mendengar Pak Harjo yang semakin mengamuk, orang tua Wulan buru-buru menahan Pak Harjo agar tidak melangkah lebih jauh. Wulan sendiri menutup pintu ruang tengah dengan gemetaran dan wajah pucat. Tubuhnya menggigil ketakutan. Sementara di ruang tamu, suara Pak Harjo bmeledak-ledak hingga mungkin teta
Vina menunduk sedih. Lagi dan lagi, ia harus menerima kebaikan Yudha dan merepotkannya. Yudha sudah banyak membantu, tetapi Vina malah terus merepotkan. Sudah dua kali Yudha membayari biaya pengobatan bapaknya, dan sekarang pria itu mau membayari biaya operasi bapaknya yang tidak murah. “Nak Yudha,
“Ssssshhhh… Kamu nggak perlu memikirkan berapa uang yang sudah saya keluarkan untuk kamu. Pikirkan saja saya. Eh, maksudnya rencana pernikahan kita ke depannya. Sebentar lagi kita juga akan segera bertunangan.” Yudha menarik jemarinya, sementara Vina langsung menunduk. Yudha bisa melihat kedua pipi
“Maksud kamu apa, Vin? Mana mungkin Om dan Bibi kamu yang buat Bapak kecelakaan?” Ibunya Vina syok, tetapi jelas sekali kalau beliau masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Informasi ini mungkin terlalu mengejutkan untuk ibunya Vina hingga mau dipercayai pun sulit. Vina sendiri seb
“Sudah, Vin… Sabar…” Vina menggeleng. “Selama ini kita selalu sabar sama mereka, Bu. Sekarang Vina nggak bisa diem aja. Om Buwono ini udah keterlaluan, emang pantas dapat balasan yang setimpal!” seru Vina. Bapaknya Wulan mengepalkan telapak tangannya. “Jangan sok ya kamu! Udah miskin, nggak tau di
“Saya nggak nyangka kalau bapaknya Wulan masih berani ganggu kamu dan keluarga setelah apa yang terjadi,” ungkap Yudha seraya menghela napas panjang. Vina mengangguk. “Aku juga kaget, Om. Tadinya aku udah lumayan kasihan sama Bibi, soalnya dia sampai nangis dan mohon-mohon gitu. Sejenak, aku mikir
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s