Vina mangut-mangut. Mereka berdua saling diam selama beberapa saat, tetapi tiba-tiba Vina teringat kalau ia belum mengabari orang tuanya. “Om, kayaknya aku harus ke rumah sakit di mana bapak dirawat deh. Soalnya dari tadi aku nggak ngasih kabar apa-apa.” Yudha mengangguk. “Oke, saya antar kamu ke
Reyhan langsung menoleh menatap Vina. Pandangannya begitu tajam, membuat Vina sampai tidak berani balas menatap matanya. “Oh iya, kalau Nak Reyhan mau ngobrol sama Vina silakan masuk aja, Ibu ke dalam dulu mau nemenin Bapak.” Ibunya Vina pamit kemudian segera ke dalam. Saat ini, hanya ada Reyhan
Yudha menghela napas panjang. Jujur, ia jadi merasa bersalah. * Malamnya, Vina galau berat. Ia jadi tidak napsu makan dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Ia masih kepikiran dengan Reyhan, termasuk kata-kata kasarnya yang menusuk hati. Sejak tadi, Vina hanya terus berguling-guling di
Vina kelihatan bingung. Tiba-tiba saja Yudha ada di sana dan bertingkah seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih. Teman Vina yang merundungnya sejak tadi mengernyit. Sherly jelas terkejut melihat Vina tiba-tiba dirangkul oleh pria dewasa yang bahkan juga memanggilnya sayang. Belum lagi, Yudha mema
Tak lama setelahnya, Vina tersadar bahwa ia sudah terlalu over sharing. Ia malah curhat kepada Yudha yang tidak tahu apa-apa dan tidak ada kaitannya sama sekali. Vina mengusap seluruh air matanya. Kedua matanya kelihatan sembab, dan pucuk hidungnya juga memerah. “Om, maaf aku malah kelepasan cur
Yudha yang mendengar pernyataan mendadak dari Vina sontak membelalak kaget. “Tunggu sebentar, maksudnya gimana?” tanya Yudha. Vina terisak. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Entahlah, ia benar-benar lelah dengan kehidupannya. Selalu saja ada masalah baru sementara masalah yang lama belum
“Om, makasih banyak ya udah bantuin aku lagi.” Yudha mengangguk seraya menyeruput minumannya. “Mm… Om, soal yang aku bilang di telepon tadi, aku serius. Aku… aku mau nikah sama Om Yudha, tapi kalau nanti kita menikah, tolong izinin aku kerja ya Om, untuk bantu kehidupan Ibu dan Bapak.” Yudha men
Yudha bingung. Baru saja datang tiba-tiba sudah dipuji oleh Danyon di hadapan gadis cantik yang Yudha sendiri tidak kenal itu siapa. Yudha tahu kalau gadis itu jelas bukan anaknya Danyon. “Sini, Ga. Duduk dulu.” Yudha mengangguk. Ia segera duduk di kursi yang berlawanan dengan gadis itu. Sekarang
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s