“Ya ‘kan jenguk doang, Sayang? Nyapa sebentar terus udah, apa sih ribetnya?” Reyhan masih ngeyel. Vina menggertakkan giginya sendiri. Kadang-kadang, Reyhan memang bisa sangat menyebalkan kalau sudah menginginkan sesuatu. “Ya pokoknya nggak bisa sekarang. Udah ya, aku tutup dulu. Bye bye.” Vina ti
“Aku kabur, Mas Yudha,” ulang Wulan. “Kabur gimana maksudnya?” tanya Yudha. Ia bingung mengapa Wulan tiba-tiba memberi kabar seperti ini kepadanya. Terlebih, bukankah apapun urusan Wulan sekarang bukan urusan Yudha lagi? mereka sudah putus waktu itu. “Ya kabur dari rumah Mas,” kata Wulan. “Iya, k
“Please… balikan sama aku aja, Mas. Ngapain sih kamu menikah sama dia? Vina itu miskin, dekil, orang tuanya juga penyakitan, kalau kamu nikah sama Vina, nanti masa depanmu bakal susah juga, Mas. Suram.” “Lebih susah mana dengan menikah denganmu yang keluarganya tiba-tiba ditinggali utang, hm?” bala
Yudha terbangun di rumah sakit dengan kondisi kepala pening luar biasa. Ia panik, sebab terakhir kali yang diingatnya, ia sedang kebingungan bagaimana mengatasi kondisinya yang panas luar biasa akibat dijebak oleh Wulan. Orang terakhir yang bersama dengannya adalah Vina. Yudha membelalak. Benar, V
“Pa, dengerin Sagara dulu. Jadi sebenarnya, Sagara nggak ada niat mau melakukan sesuatu yang buruk ke Vina. Sagara dijebak di sana, makanya—” “Tetap kamu yang salah,” potong Kalingga. “Sudah, Ga. Nggak usah banyak alasan kamu. Salahmu sendiri kenapa nggak hati-hati sampai bisa dijebak seperti itu.
Yudha menatap Vina dengan serius. “Jadi kamu maunya apa?” tanya pria itu. Vina mengembuskan napas panjang. “Aku mau urusan kita sampai di sini. Om nggak boleh ngajak aku pura-pura jadi pacar lagi, tapi urusan pengobatan orang tuaku tetap Om yang bayar sampai keluar dari rumah sakit.” Yudha menden
Vina mangut-mangut. Mereka berdua saling diam selama beberapa saat, tetapi tiba-tiba Vina teringat kalau ia belum mengabari orang tuanya. “Om, kayaknya aku harus ke rumah sakit di mana bapak dirawat deh. Soalnya dari tadi aku nggak ngasih kabar apa-apa.” Yudha mengangguk. “Oke, saya antar kamu ke
Reyhan langsung menoleh menatap Vina. Pandangannya begitu tajam, membuat Vina sampai tidak berani balas menatap matanya. “Oh iya, kalau Nak Reyhan mau ngobrol sama Vina silakan masuk aja, Ibu ke dalam dulu mau nemenin Bapak.” Ibunya Vina pamit kemudian segera ke dalam. Saat ini, hanya ada Reyhan
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s