* Siangnya, Kalingga pulang dan ia tidak mendengar sambutan apa-apa dari Bening jadi ia langsung masuk saja ke rumah. Kalingga mengecek Sagara dan Dahayu yang ternyata masih tidur di kamar. Anak kecil biasanya agak sulit diminta tidur siang, tetapi Sagara dan Dahayu malah menurut. Lalu, Kalingga
22 Tahun Kemudian... "Maaf Mas Yudha, aku nggak bisa menolak keputusan orang tuaku. Kata Bapak, aku nggak cocok sama tentara. Mereka maunya aku nikah sama pengusaha. Apalagi golongan pangkat Mas Yudha juga cuma dari tamtama." Baru saja pulang satgas dan hendak melamar sang kekasih, Sagara Prayu
Vina kaget mendengar ucapan Yudha, apalagi Wulan. Padahal, baru saja mereka berdebat tadi mengenai Wulan yang mau menikah dengan lelaki pengusaha. Yudha juga mengungkit-ungkit janji mereka yang akan menikah setelah Yudha selesai dengan satgasnya. Namun, sekarang tiba-tiba Yudha mengatakan bahwa ia b
Baru pulang satgas dan mau melamar kekasihku, aku malah melihat tenda biru terpasang di depan rumahnya. Ternyata dia... Part 3 Mereka sampai di rumah Vina berkat pertunjuk arah dari ibunya Vina. Yudha mengikuti saja ibunya Vina menunjukkan jalurnya. Rumah keluarga Vina sangat sederhana. Halamannya
Vina menghela napas panjang. Ia tidak punya pilihan lain. Saat ini, kesehatan bapaknya sangat penting. Kalau harus menunggu biaya sendiri, rasanya malah tidak mungkin bapaknya bisa dirawat intensif di rumah sakit. Vina dan ibunya hanyalah penjual kue basah yang dititipkan ke warung-warung. Mau minta
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, Yudha akan menjemput Vina di rumahnya. Sebelumnya Vina sudah meminta izin kepada orang tuanya bahwa hari ini dia akan pergi bersama Yudha ke suatu tempat. Ibu Vina masih di rumah sakit menemani sang suami yang akhirnya mendapatkan perawatan intensif. Mereka
Yudha melihat gelagat aneh Vina. Keningnya seketika mengernyit heran. “Kenapa kamu?” tanya Yudha. Vina langsung menggeleng. Sayangnya, wajah Vina sudah pucat pasi. Seolah ia baru saja melihat sesosok hantu menyeramkan. Yudha sebenarnya heran, tetapi ia mengabaikannya. Lagipula, Vina memang suka b
Reyhan tertawa geli mendengar Vina kaget dan latah seperti itu. “Sayang, kamu itu ya kebiasaan banget kalau kaget jadi latah.” Sementara Reyhan menikmati kelatahan Vina dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu dan menggemaskan, yang bersangkutan alias Vina sendiri justru sedang ketar-ketir luar
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s