Beberapa bulan berlalu, masalah Kinan dan Damar mulai membaik seiring waktu. Setidaknya sejak beberapa minggu belakangan, Kinan sudah tidak cuek lagi. Damar memang melakukan sesuai apa yang Kinan perintahkan. Ia jarang menemui Maya, hanya di waktu-waktu yang penting saja. Maka dari itulah, Damar dan
Bening kaget. Suara Damar terdengar amat panik. “Damar? Kenapa, Mar? kok suara kamu kayak gitu?” “Mbak, aku lagi di rumah sakit sekarang. Maya mau melahirkan. Sekarang udah masuk ke ruang persalinan. Tolong kabarin Mama ya, Mbak.” Bening membelalak kaget. “Maya mau melahirkan?” “Iya, Mbak. Aku ng
Maya dirawat di rumah sakit selama beberapa hari pasca melahirkan hingga kesehatannya pulih. Ia sudah memantapkan diri untuk memberikan anaknya kepada Damar dan Kinan, lalu ia akan pergi jauh dan memulai hidup baru dengan melupakan segalanya. Ia bukannya tidak sayang dengan anak itu, kalau ia benci,
Damar menggeleng. “Aku nggak akan ceraikan kamu,” tegas Damar. Maya melotot. “Ya udah, aku aja yang gugat cerai.” “Aku nggak akan biarkan itu terjadi!” balas Damar. “Kamu ini… Bang! Udahlah, nggak usah memperpanjang masalah,” keluh Maya. Kinan kesal mendengar perdebatan Maya dan Damar, apalagi D
Ibunya Bening panik dan langsung menghubungi ambulans. Dengan dibantu oleh tetangga di battalion, Bening akhirnya diangkut dengan ambulans untuk ke rumah sakit. Sepanjang jalan, Bening terus menggenggam telapak tangan ibunya sambil mengatur napas. Keringatnya bercucuran, dan wajahnya pucat pasi saki
Perawat yang memegani ponsel Damar juga sangat baik. Ia bersedia terus menampakkan wajah Kalingga di layar ponsel itu supaya Bening bisa melaksanakan persalinannya dengan lancar. Kalingga tidak berhenti menyemangati Bening. Ia terus mengeluarkan kalimat-kalimat lembut tetapi penuh semangat. Sete
“Bagaimana, Pak? Sudah selesai melihatnya? Apa cincin nikahnya ketemu?” Damar masih syok dengan apa yang ia lihat di rekaman CCTV itu sampai ia membeku tak bisa bergerak. Kinan yang ia cintai dan percaya ternyata berani menyakiti bayi. Anaknya Maya bahkan baru saja melihat dunia, dan Kinan tega men
“Ya kamu memang salah, Mas!” sahut Kinan. Ia sudah tidak bisa menahan-nahan amarahnya lagi. “Iya, aku ngaku. Aku emang nyubit anaknya Maya. Aku hanya melakukannya sedikit, tapi anak cengeng itu udah meraung-raung tanpa henti. Emang suka drama sama kayak ibunya.” Damar kaget mendengar ucapan Kinan.
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s