"Pak, bukannya banyak kasus ya. Dia yang suaranya paling besar, ternyata pelaku sebenarnya." Dia menyunggingkan bibirnya, penuh kemenangan. Erlan langsung membalikkan suasana. Secara tidak langsung, dia menyerang gadis belia itu dengan kalimatnya barusan."Kenapa Bapak tidak tanyakan ke dia? Mungkin saja, dia lah yang sudah membuat Rania sakit?" cecar Erlan lagi. "Saya bukan seseorang yang akan melakukan hal licik hanya untuk menjatuhkan lawan. Jika, saya mau, saya akan menjatuhkannya dari depan, bukan sembunyi-sembunyi seperti pengecut."Mereka yang mendengar pun termangu. Takjub dengan Erlan. Namun, tidak dengan gadis belia yang tadi menyerang Erlan. Dia tampak sangat kesal. Mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, seolah siap untuk melayangkan pukulan pada wajah Erlan."Tenang dulu semuanya. Jangan ada keributan di sini," ucap pria setengah baya itu, berusaha untuk melerai kehebohan yang terjadi di dalam kelas.Erlan dan gadis belia itu, saling menjatuhkan tatapan tajam. Entah ada
Rania masuk ke kamar. Dia berlari menuju lemari yang berada di sudut ruangan ini. Dia buru-buru mengeluarkan koper yang disimpan di dalam lemari.Rania meletakkan koper itu di lantai, dia membuka resleting koper tersebut, kemudian dia mengeluarkan baju-baju yang ada di dalam lemari.Rania melakukannya dengan langkah terburu-buru. Tak ada lagi tangisan. Pikirannya telah dipenuhi kalimat hinaan yang dilontarkan Erlan beberapa saat lalu."Sayang." Desi termangu dari jarak lima meter. Dilihatnya sang menantu yang sedang mengemas pakaiannya. Desi berlari, mengikis jarak antara keduanya. Kedua mata tidak mampu membendung air mata yang terus memaksa untuk keluar."Apa-apaan ini, Sayang? Kamu mau kemana? Ini rumah kamu, Sayang. Rumah ini milik kamu." Dia mencoba untuk membujuk Rania agar mau mengubah keputusannya itu."Enggak, Mom. Ini bukan rumah Rania. Rania di sini cuma jadi cewek pembawa sial, seperti yang Erlan katakan."Rania menarik tumpukan pakaiannya dari dalam lemari, lalu memasukk
'RUMAH INI TELAH DISITA. RUMAH INI SUDAH MILIK TUAN ALEXANDER.'Tertulis di papan yang terpasang di depan pintu. "Mommy," ucap Rania lirih. Sepasang mata indahnya mulai berkaca-kaca. Desi meraih tangan Rania, menggenggamnya, memberi sentuhan hangat yang sangat diperlukan Rania sekarang."Kenapa ada tulisan kayak gitu, Mom? Apa maksudnya?" Rania bertanya-tanya. Dia menggenggam daun pintu, mencoba untuk membuka pintu itu. Namun, pintu itu terkunci."Bu! Buka pintunya, Bu!" Rania menggedor-gedor pintu, berteriak memanggil Ibu tirinya yang dalam beberapa hari terakhir hilang kontak dengannya."Bu, ini Rania! Buka pintunya, Bu! Rania pengen masuk, Bu!" Dia terus berusaha untuk minta dibukakan pintu, tanpa ia pedulikan papan tulis yang terpajang itu.Desi membuang napas berat. Bibirnya membisu. Hatinya menjerit sakit. "Buka pintunya, Bu! Ini rumah Ayah. Rania berhak masuk! Rumah ini milik Rania, Bu! Buka pintunya!"Rania berpikir, rumah ini terkunci dari dalam. Vera pasti ada di dalam, e
'Maafin Mommy. Sebenarnya Mommy sudah mengetahui masalah ini sejak beberapa hari yang lalu. Mommy tidak ingin memberitahumu karena Mommy taku, masalah ini akan mempengaruhi kesehatan kamu. Mommy minta maaf. Kamu mau kan maafin, Mommy.''Seperti apa pun Vera, kamu tetap putri kesayangannya, Mommy.''Ini cobaan dari, Allah. Kamu harus kuat, Sayang. Mommy akan ada terus di sisi kamu.'Perkataan Desi sangat membekas di benang Rania. Dia duduk di tepi ranjang. Menatap nanar objek di depannya. Kedua tangannya mengepal erat siap untuk meninjau sesuatu yang ada di sana. "Aaaaaaa!!!!" teriaknya sangat kencang. Bersamaan dengan itu.BRAK!!!Rania menyapu bersih barang-barang yang ada di atas meja rias. Parfum, bedak dan lainnya jatuh berserakan di lantai. Benda yang berbahan kaca, langsung pecah. Rania melihat pantulan dirinya yang kacau dari balik cermin. Garis bawah matanya merah. Napasnya memburu. "Aaaaaa!!!" Dia kembali berteriak, penuh rasa frustasi."Ayah! Inikah perempuan yang Ayah an
"Selamat pagi semuanya. Hari ini Bapak ada pengumuman penting untuk kalian," ucap Agus, berstatus Wali Kelas di sini. Dia memperhatikan semua murid-muridnya. "Pengumuman penting apa, Pak?" tanya salah satu murid, menimpali.Bukan hanya dia saja yang bertanya-tanya, tetapi murid-murid lainnya pun memiliki pertanyaan yang sama.Rania dan Eva menyimak dengan serius. Sedangkan Erlan tampak memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela. Hal seperti ini, tidak akan membuatnya penasaran. Tidak peduli, sepenting apa pengumuman itu."Pengumuman pentingnya. Dinas Pendidikan, mengadakan pertandingan Bola Voli antar sekolah tingkat kecamatan. Jadi, akan ada dua puluh sekolah di lima kecamatan yang akan bertanding, salah satunya sekolah kita. Setiap sekolah yang masuk pertandingan ini, akan mengirimkan satu tim bola voli terbaik mereka ...""Sekolah kita memiliki satu Tim terbaik. Kepala sekolah dan guru-guru lainnya telah sepakat untuk mengirimkan Tim tersebut untuk pertandingan ini.""Rania ..."
Malam itu, seperti biasa. Erlan baru saja keluar dari salah satu tempat hiburan malam favoritnya. Dia hanya datang bersama Aldo, sahabat yang paling dipercayainya. "Lan, lu yakin bakalan balapan? Lu tadi minum lebih dari enam gelas. Gue enggak yakin, lu bakalan bisa balapan," ucap Aldo cukup cemas. "Lu ngomong apaan si, Do? Enam gelas tidak akan membuat seorang Erlan mabok, hahaha."Alih-alih berterima kasih, Erlan malah tertawa cukup keras sambil menepuk bahu Aldo. "Gue, bisa melakukan lebih dari balapan. Lu enggak usah cemas berlebihan kayak gitu. Gue bakalan pastiin ke lu, balapan kali ini gue yang jadi pemenangnya," tambahnya disertai senyuman penuh kemenangan. Aldo hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ya dah, gue percaya, tapi kalau sampai kenapa-kenapa di jalan, gue enggak mau tanggung jawab," lanjut Aldo sambil mengacungkan jari telunjuknya. Mewanti-wanti Erlan supaya berhati-hati.Erlan mengacuhkan peringatan itu dan mem
"Kamu mau makan, Sayang?" tanya Desi seraya berjalan menghampiri putra satu-satunya itu.Erlan menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Desi. "Mommy, urus aja tuh, menantu kesayangan, Mommy. Erlan bisa urus diri sendiri," tuturnya dengan nada dingin.Setelah berkata demikian, Erlan langsung mengayunkan kakinya kembali, mengacuhkan perhatian Desi. Dia sempat melirik Rania sekilas. Hanya sekilas karena dirinya enggan menyia-nyiakan waktu hanya untuk memandangi istrinya. Erlan menaiki anak-anak tangga, tanpa sedetik pun dia menoleh ke belakang. Sementara Desi yang masih berdiri di posisinya, tampak bersedih. Sorot kedua matanya enggan berpaling dari Erlan. Hati kecilnya berharap, suatu saat nanti putra semata wayangnya itu, bisa berubah menjadi sosok pemuda yang mampu membawa nama baik keluarga.Rania pun menghela napas panjang, tepat saat Erlan berkata tadi. Sungguh suaminya itu benar-benar tidak memiliki hati nurani. Di saat yang lain
"RANIA! JAGA UCAPAN LU!" teriak Erlan sambil mengangkat tangan kanannya, siap untuk melayangkan pukulan. Namun, tangannya tertahan di udara. Erlan menunjukkan tatapan nanar, garis bawah matanya merah. Dia tidak menyembunyikan kemarahannya di depan Rania."Kenapa diam? Lu mau tampar gue? Sini. Tampar gue. Pukul gue. Kenapa lu berhenti, Lan?" Rania menurunkan tangan Erlan, menekan-nekan di pipinya, memudahkan suaminya untuk melakukan kekerasan.Erlan tidak melanjutkan tindakannya. Dia menarik tangannya dengan kasar, sehingga terlepas dari genggaman Rania.Erlan berdengus kesal, mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, menunjukkannya di depan Rania. Namun, dia menahan diri untuk tidak memukul maupun menampar. "Sitt!!!" umpatnya kesal, setelah itu melenggang pergi tanpa kata.Erlan tak melanjutkan emosinya, memilih pergi dari pada harus berlama-lama di dekat Rania. Isi kepalanya terlalu panas dan sewaktu-waktu bisa meledak kapan pun
"Mau pergi kemana?" tahan Rania, tepat saat suaminya hendak mengeluarkan motornya dari area parkiran.Erlan membuka kaca helmnya. "Minggir!" tegasnya. Namun, Rania tidak mendengarkan perintah tersebut. Kedua tangannya menahan body motor itu, agar tidak bisa keluar.Erlan merasa kesal."Jawab dulu pertanyaan gue. Lu mau pergi kemana?" Rania mengulangi pertanyaannya. Kurang lebih, dia sudah memahami watak dan kebiasaan suaminya. Kali ini, tidak akan dia biarkan Erlan pergi."Bukan urusan lu!" jawab Erlan dingin, sambil berusaha mendorong motornya agar keluar dari parkiran.Di sana ada motor yang terparkir, saling berjejeran rapih. Salah satunya motor Erlan."Sekarang jadi urusan gue!" Rania tidak kalah dinginnya dari sang suami.Erlan melongok, "what? Sejak kapan, lu peduli terhadap urusan gue, ah?" Akhirnya dia turun dari motor, melepaskan pelindung kepalanya."Mulai hari ini, apa yang lu lakuin, gue harus tahu semuanya!" tegas Rania sampai kepalanya mendongak. Erlan tertawa sinis sam
"Ran, tuh cowok lu udah datang," senggol Eva sambil menunjukkan lirikan mata ke arah Erlan yang baru saja memasuki kelas.Langkah tegap sambil menggendong tas hitam di bahu, menunjukkan tatapan tajam penuh ambisi, membuat mereka yang melihat Erlan, merasa seperti berada di dunia lain.Rania ikut melirik suaminya sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya dengan kasar. "Apaan si? Dia bukan cowok gue," elaknya, buru-buru membuka buku pelajaran yang tergeletak di meja.'Kenapa dia baru datang?' batin Rania, saat mengingat kembali bahwa Erlan pergi ke sekolah lebih dulu, tetapi baru sampai setengah jam setelah dirinya. Eva tertawa kecil, "ah, yang benar? Kenapa ya, gue rasa, lu sama dia punya hubungan khusus gitu?"Ucapan Eva yang cukup keras, memantik perhatian Erlan yang berdiri di sana. Secara samar-samar dia mendengar obrolan Rania dan Eva. Sorot matanya langsung menukik tajam ke arah Rania. Gadis mungil itu, sempat tertunduk, sebelum dia menghela napas panjang setelah itu."Udah ah
Malam semakin larut. Namun, Rania masih terjaga. Matanya enggan terpejam, walau sudah ia usahakan, tetap saja pikirannya masih melalang buana, memikirkan banyak hal. Sementara Erlan, sudah terlelap di atas ranjang menyapa mimpi.Rania beringsut dari tempat tidur. Seperti biasa, dia tidur di lantai, sedangkan Erlan tidur di ranjang. Begitulah adanya jika tidur di kamar ini. Berbeda jika tidur di kamar Desi, sudah pasti Rania mendapatkan tempat nyaman dan hangat.Rania menatap suaminya dalam-dalam. "Di balik wajah yang tenang ini, ada sebuah rahasia yang coba disembunyikan di setiap waktu," gumamnya. "Gue selalu gagal mengenali lu. Terkadang gue mikir, lu seperti pahlawan yang datang di waktu yang tepat buat nyelametin nyawa gue, tapi dari wujud pahlawan itu, ada sosok monster yang tidak bisa gue pahami.""Kenapa gue bilang gitu? Karena, di balik kehangatan lu, yang datang buat nyelametin gue, ada sosok pemarah yang terkadang bikin gue bingung.""Sumpah, Lan. Kalau lu benci gue, terus
"Mom, hari ini Rania tidur di kamar aku. Boleh kan?" kata Erlan, mendadak. Alhasil, Desi langsung tersedak napasnya sendiri. "Apa, Sayang?"Uhukk ...Uhukk ...Dia sampai batuk-batuk kecil. Rania segera mengambil gelas berisi air putih, buru-buru memberikannya kepada Desi."Minum dulu, Mom. Pelan-pelan." Desi mengangguk, lalu menggenggam gelas itu, meneguk air putih tersebut perlahan-lahan.Erlan tampak mengerutkan keningnya, merasa heran, tetapi tidak ada yang dilakukannya selain memperhatikan saja."Mommy udah baikan?" tanya Rania memastikan."Iya, Sayang. Terima kasih." Desi menganggukan kepalanya disertai senyuman tipis, masih menyentuh dadanya yang mendadak sesak napas akibat ucapan Erlan yang seperti anak panah itu.Setelah mematikan mertuanya baik-baik saja, barulah Rania duduk kembali."Kamu ngomong apa tadi, Sayang?" tanya Desi, kepada Erlan yang tampak diam sambil menetap ke arahnya."Aku mau, Rania tidur di kamarku lagi. Kemarin dia masih sakit. Aku enggak masalah dia tidu
Di sisi berbeda, tempat terpisah. Sudah lama tidak ada kabarnya. Bagaimana kondisi Vera sekarang? Wanita licik yang menikahi pria kaya hanya demi harta semata. Dia tentu sedang menikmati harta yang seharusnya menjadi hak anak tirinya.Vera meneguk minuman dalam gelas transparan. "Ah ... Sungguh nikmat rasa minuman ini," ucapnya setelah meneguk sampai habis minuman itu.Vera yang dulu bukanlah dirinya yang sekarang. Satu tahun yang lalu, dia harus berbagi harta dengan anak tirinya dan harus bersikap baik di depan pria berstatus suami. Bersandiwara menjadi sosok panutan bagi seorang anak. Semua itu sudah hilang sepenuhnya dari kehidupan Vera. Sekarang, dia sedang menikmati kekayaan yang membuat hatinya merasa gembira."Hay, ganteng," sapa Vera dengan nada mania, kepada seorang pemuda tampan yang baru saja melewati kursinya.Seperti ada hembusan angin laut yang bertiup sepoi-sepoi, pemuda itu langsung berbalik badan, seolah-olah dia datang sebagai takdir."Halo, tampan." Vera kembali me
"Lepasin tangan lu dari Rania!" tegas Erlan, menatap tajam lawan bicaranya tanpa berkedip."Apa hak kamu, memerintahkan saya?" Jawaban Ravi tidak kalah seriusnya. Secara tidak langsung, dia enggan melepas Rania kepada pria lain.Sementara itu, Rania menatap keduanya bergantian. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Jika memilih Erlan, bukan tidak mungkin memberi pertanyaan besar di benak Ravi? Sedangkan jika menolak Erlan, dirinya akan menjadi istri durhaka.Rania meringis, dilanda kegalauan. Dia ingin menjerit, tetapi suaranya tertahan di ujung tenggorokan.Baik Erlan maupun Ravi tidak ada yang mau mengalah. "Lepasin tangan Rania!" tegas Ravi sambil menarik Rania agar terlepas dari genggaman Erlan.Ravi merasa dirinya benar dan perlu untuk melindungi Rania sebagai tanggung jawabnya. "Apa hak lu nyuruh gue buat ngelepasin dia?" Erlan balik menantang.Ravi balik menatap tajam Erlan. "Lantas, apa hak kamu meminta Rania pergi?" Perkataannya masih batas kesopanan, tetapi bukan tidak mungk
"Siapa cewek itu, Lan? Apa gara-gara dia, sikap lu berubah?" cecar Funny, kali ini persoalannya bukan lagi soal sekolah, melainkan kehadiran orang baru dalam keluarga Erlan. Raut wajah yang Funny tunjukkan pun sedikit berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ada sorot mata kecemburuan di dalamnya. "Kita udah kenal lama, Lan. Gue kenal betul, sifat lu. Lu yang dulu bukan seperti ini.""Gue tahu, lu tinggal bareng cewek lain. Siapa dia, Lan? Jawab gue! Gue butuh jawaban dari lu."Funny tak lagi membanggakan dirinya. Kalimatnya berisi tuntutan, tentang hubungan yang dijalani Erlan di belakangnya."Lu udah mengkhinati hubungan kita."Erlan mengangkat kepalanya. "Hubungan kata lu? Memangnya di antara kita ada hubungan apa?"Dia mengikis jarak yang tak seberapa jauh itu. Sorot matanya kini semakin tajam dari sebelumnya, seolah dia menunggu-nunggu momen ini terjadi."Katakan, Fun! Memangnya ada hubungan apa di antara kita, sampai-sampai lu ngomong kayak gitu?" cecarnya terus."Lu bilang gue meng
Erlan menghentiakkan motornya di depan sebuah gedung lantai dua, sebuah mansion mewah yang menjadi markas besar Organisasi Naga Merah. Aldo keluar dari mansion. "Akhirnya datang juga. Tadi katanya lima menit, tapi ini udah lima belas menit, dari sepakatan awal," gerutunya, sebagai sambutan hangat. Erlan turun dari motor, melepaskan helm sambil mengayunkan kakinya, melewati Aldo yang berdiri menyambutnya."Sial!" umpat Aldo kesal. Padahal sudah biasa tidak dilihat oleh Erlan, tapi tetap saja terkadang ada rasa jengkel, ingin mencubit ginjal sahabatnya itu.Aldo menyusul setelahnya. Erlan sudah berada di dalam mansion. Dia membanting helmnya ke sembarang tempat. Aldo menepuk keningnya. Bisa ia tebak, suasana hati Erlan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Terlihat dari caranya membanting benda."Cepat kasih tahu, hasil penyelidikan lu!" tegas Erlan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap serius beberapa lembar foto yang tergeletak di atas mejaAldo mempercepat langkahnya. "S
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?" tanya Desi tanpa bisa menutupi kecemasan saat mendapati Rania terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Kendati demikian, Rania sudah sadar, setelah pingsan beberapa saat lalu. Desi langsung meninggalkan pekerjaannya, pergi ke rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Rania jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan saat pertandingan bola voli."Aku udah baik kok, Mom," jawab Rania sedikit menunjukkan senyuman."Kamu jangan bohong. Mommy bisa lihat, wajah kamu masih pucat gitu," omel Desi lebih lanjut. "Kamu harus istirahat. Mommy enggak mau denger kata penolakan!" tegasnya kemudian sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Mommy sudah dengar semuanya." Dia menoleh ke arah kanan, menatap Erlan yang berdiri sekitar lima meter dari ranjang tempat Rania terbaring."Erlan yang kasih kabar, kalau kamu pingsan tadi," ucap Desi lembut tanpa memalingkan pandangannya dari sang putra.Erlan melipat kedua tangannya di dada, memalingkan wajahnya, tak ingin menatap De