"Mas tetap di sini atau pulang bersamaku?" Dalam perjalanan pulang, Damar yang sejak tadi berusaha menjelaskan tidak dipedulikan apapun oleh Jenar. Dia hanya diam sambil menangis. Dia sungguh marah pada suaminya dengan diam seribu bahasa. "Kalau memang tidak percaya, aku bisa temui temanku itu biar menjelaskan apa yang mau kamu pikirkan itu." "Untuk apa, Mas? Baru semalam aku bilang padamu, dan sekarang Mas sudah bersikap seperti ini. Jika belum bisa melupakan wanita seperti dia dan ingin kembali padanya, sudah saja pergi sana. Aku tidak mau suamiku berbohong meski itu tidak sengaja. Apalagi dia tadi dengan tak tau malu bicara seakan dirinya benar. Aku sungguh ingin menjambak rambutnya saja." Jenar meluapkan kekesalannya pada Damar yang mengira istrinya akan marah besar atau mencaci-maki, nyatanya dia kesal saat tidak bisa menjambak Sheila. "Kalau di sana tadi tidak banyak orang, aku sudah buat wajahnya itu baret dengan kuku ku. Aku tidak peduli Mas mau marah padaku sekarang karen
"Akh! Kenapa kau malah menginjak kakiku!" "Kata orang jawa, kalau diinjak kakinya sama orang yang lagi hamil tanpa diminta bisa cepat nyusul. Biar kau nyusul, bisa hamil secepatnya. Benar tidak, Pak Letnan?" Damar hanya menjawab dengan senyuman, dia sedang bicara dengan suami sahabat Jenar. "Kak, bagaimana menikah dengan orang jawa seperti dia, apa dia tidak banyak mereporkanmu?" tanya Jenar. "Tidak, hanya dia menangis beberapa hari karena kata dia dimarahi terus, padahal cara bicara keluarga kita memang seperti ini." "Kan sekarang tidak lagi, sudah terbiasa. Dan beruntungnya aku mendapatkan mertua super baik. Beliau seperti sahabatku sendiri." "Apa tidak repot kalau naik pesawat? Apalagi dengan perut yang besar?" tanya Damar. "Tidak, Pak, hanya mudah lelah saja. Semuanya aman. Oh ya, maaf ya kita ke sini malah merepotkan kalian. Lain waktu main ke sana, atau nanti pas lahiran kalian pergi berdua ke sana. Mau ya?" tanyanya pada Jenar. "Bagaimana nanti. Kita usahakan bisa, kau t
"Katakan jika ragu." Damar lebih dekat hingga deru nafasnya bisa Jenar rasakan. Matanya sudah terpejam dan tak lama Jenar bisa mulai menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan. "Mas—" Rintihan lirih itu tidak membuat pria tampan yang sedang mencari kenikmatan tidak ingin menghentikan kegiatannya. Dia terus saja memberikan sentuhan sampai Jenar yang awalnya takut, dia mulai mau menerima sentuhan dari suaminya. "Akan terasa sedikit sakit, tapi setelahnya tidak. Apa kamu sungguh ingin melakukannya, sayang?" Dengan posisi menatap isterinya, dia coba bicara, takut jika apa yang akan dilakukan menjadi trauma untuk isterinya. "Aku milikmu, Mas, kapan lagi kita akan melakukannya jika tidak sekarang. Bukankah kamu akan membantuku agar tidak merasa takut?" Sorot matanya memang tidak bisa berbohong, tapi dia tidak bisa jika terus membiarkan Damar menunggu. Dia sudah menjadi isterinya yang sah sejak beberapa waktu lalu, jika sekarang dia masih takut, bukankah itu artinya Jenar bel
"Mama menganggu waktu kalian ya, maafkan Mama ya?" Rambut Jenar yang masih basah seperti tanda jika Susi tau mereka selesai melakukan kegiatan apa. Damar yang berjalan ke arah mereka hanya diam, karena rambutnya belum sepenuhnya kering karena ingin segera keluar. "Kalian makan dulu saja, setelah makan, Mama butuh bicara dengan Damar," tutur Susi. "Memangnya ada apa, Ma, aku masih belum lapar, makan nanti saja, katakan sekarang." "Gak ada apa-apa sih, cuma mau kasih hadiah untuk kalian berdua. Mama mau bertanya apa cutimu panjang?" tanya wanita paruh baya itu. "Lumayan, aku libur 5 hari, ada apa memangnya, Ma?" "Mama belikan tiket liburan untuk kalian, Mama ragu karena takut mengganggu tugas kerjamu. Kalau hanya 5 hari, buat bulan selanjutnya saja ya. Terserah kalian mau liburan ke mana," ucap Susi. "Kenapa repot-repot, Ma. Tidak perlu memberikan hadiah seperti ini, doakan saja agar kita segera mendapatkan momongan, itu sudah cukup untuk kita. Apalagi melihat Mama sehat, sudah m
Beruntung seorang duda seperti Damar mendapatkan wanita cantik dan pintar seperti Jenar, walau sikap manjanya itu berlebihan, tapi lebih baik seperti itu daripada diam, namun melukai hati.Sekeras apa Damar, tapi isterinya sekarang masih takut dan menghargai. Pikirnya, Jenar diperlakukan baik walau suaminya keras. "Tidak mau lagi malam ini?" tanya Damar yang baru berbaring di samping isterinya. Senyum mengembang ketika sorot mata mereka bertemu. "Jenar lelah, Mas, besok saja boleh tidak. Rasa kantuk ini tidak bisa ditahan lagi. Tadi pagi bangun terlalu awal, jadi ... huawh ... mengantuk sekarang." Terlihat wajah lelah Jenar, karena dia juga sejak pagi sibuk. Sibuk mengurus rumah dan melayani suami. Itu menjadi tugasnya sekarang. Itu semua mulai terbiasa untuk dirinya menjadi seorang isteri. "Kalau begitu kita tidur saja." Jenar segera bergeser lebih dekat pada suaminya dan memeluk erat. "Aku ingin membiasakan hal ini, mengobrolkan apa yang kita lakukan seharian ketika mau tidur.
Jenar sudah terlihat rapi dan cantik meski dengan gaya busana casual. Celana jaens hitam, kemeja biru stone panjang dengan lengan berumbai, mantel selutut warna cream, tas selempang hitam dan heels 7 cm senada. "Aku tidak menemukan sepatu flat ku, aku gunakan ini saja. Bukankah acaranya di ruangan, Mas?" "Iya ... kamu terlihat cantik sayang," puji Damar yang fokus dengan istrinya yang sudah siap berangkat. Damar sendiri juga mengenakan kemeja panjang warna hitam. "Tentu, kita berangkat sekarang sayang?"Dia selalu percaya diri ketika suaminya memuji kecantikannya. Itu selalu membuat suaminya menatap gemas sambil menggeleng pelan kepala karena jawaban yang keluar dari mulut isterinya. Mereka segera berangkat ke tempat acara. Satu angkatan akan datang dalam acara ini, dan Damar datang mengajak isterinya, tidak ingin masalah kemarin terulang lagi. Apalagi ada Sheila di sana. Dia sangat berhati-hati agar isterinya merasa nyaman. "Kenapa aku jadi gugup ya, Mas." "Biasakan, kamu akan
"Lantas kenapa? Kau juga menempati tempat orang. Jika mau pergilah." "Shel, kita duduk di sana," ucap Ryan. "Aku mau di sini." Dengan keras kepala, Sheila ingin tetap di tempatnya, namun Ryan tidak membiarkannya. Tidak enak saja jika nanti terjadi kegaduhan karena mulut Sheila. "Sudah ayo, jangan mulai membuat kegaduhan." Ryan menarik lengan Sheila agar mau mengikutinya. Meski menggerutu, dia tetap ikut. Setelah menjadi duda, Sheila pikir mantan suaminya itu semakin tampan saja. Tak ingin peduli, Damar dan Jenar lebih memilih bercanda di satu meja bersama mereka. Jenar senang mendapatkan teman baru dari angkatan suaminya. "Mas aku ke kamar mandi sebentar," bisik Jenar dan mendapatkan anggukan dari suaminya. Dia menitipkan tas pada sang suami. Jenar berjalan ke lorong di mana kamar mandi itu berada, tampak sepi, dia segera masuk untuk membuang air kecil di bilik paling ujung sisi pintu. Saat baru selesai dari kamar mandi dia melihat seorang anak kecil yang berdiri di depan kamar
"Apa yang kau lakukan!" Ryan segera menarik Sheila keluar hall rooms agar masalahnya tidak semakin kacau ketika Jenar membalasnya. Damar yang melihat istrinya diperlakukan kasar segera menghampiri dan melihat kondisinya. "Aku tidak apa-apa, Mas, hanya kakiku sepertinya keseleo karena dorongannya." Damar coba melepaskan heels yang Jenar pakai dan coba memijatnya pelan. "Sakit?" Jenar menggangguk pelan dengan sedikit meringis kesakitan. "Aku harus bicara dengannya nanti," ucap Damar dengan sorot mata marah. Bagaimana bisa mantan isterinya itu mencari gara-gara hingga membuat Jenar terluka. "Tidak perlu, Mas, apa tidak bisa kita pulang lebih dulu? Aku malu jika terus di sini," bisik Jenar. Bagaimana tidak jika Sheila mempermalukan dengan sikapnya. Sejak tadi dia coba menahan, tapi tetap saja mantan isteri Damar tetap mengejarnya. Seperti memang mencari gara-gara. "Baiklah kita pulang, tunggu di sini biar aku ambil tasmu." Damar mengambilkan tas istrinya dan coba bicara dengan
"Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b
"Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj
"Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang
"Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y
"Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu
"Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya
Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu
"Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d
"Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk