Orang-orang di sekitarnya tidak pernah jujur ketika ditanya tentang apa yang terjadi selama dua tahun terakhir.Karena itu Li Xiao Le mencoba mencari tahu sendiri, apa yang terjadi.Bisikan di pinggir danau terdengar sangat nyata, seakan itu adalah memori yang pernah terlupakan.Tapi ketika menengok ke arah jari-jarinya, semua terlihat kosong melompong.'Apakah aku menolak lamaran itu?'Tapi perasaan bahagia saat mendengar kata lamaran seperti menunjukkan bahwa dia setuju.'Mustahil aku menolaknya.''Tapi siapa? Siapa yang telah melamarku?'Li Xiao Le semakin sering mendatangi distrik Sushan, berharap ingatannya akan kembali.Sementara pengawal Li Xiao Le berpikir jika nona muda mereka ini sangat mencintai keindahan danau sehingga terus mendatanginya setiap hari."Bagaimana? Kemana dia pergi akhir-akhir ini?" tanya kakek Li pada pengawal Li Xiao Le."Nona Muda hanya pergi ke distrik Su
"Xiao Le, kamu tidak apa-apa?" tanya Timmy saat Li Xiao Le masih terlihat kesakitan.Li Xiao Le mendongak, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengisyaratkan dia baik-baik saja.Tapi hatinya mulai bertanya, 'Apa ini hanya kebetulan?'Sementara Timmy mulai tersenyum, Li Xiao Le merasa sakit berarti jantung mereka masih terhubung.Semakin tersenyum ketika makan malam Li Xiao Le menyuapinya lantaran tangannya terluka.Ini hanya membuat asisten dan dua pengawalnya malu sendiri ketika melihatnya.Namun, pukul sepuluh malam kepanikan mulai melanda.Badai salju belum juga reda dan jalanan belum juga dibuka. Li Xiao Le terjebak di rumah Timmy dan tidak bisa pulang.Mondar mandir kesana kemari kebingungan mencari cara agar dia bisa pulang."Xiao Le, jangan mondar mandir seperti itu. Nanti kalau jalannya sudah dibuka aku akan mengantarmu pulang." Timmy mencoba menenangkan."Bagaimana kalau jalannya t
"Kak Timmy, turunkan aku. Kamu mau membawaku ke mana?" Li Xiao Le memukul-mukul punggung Timmy yang kokoh. "Ke kamar. Kamu harus tidur," Timmy berucap santai sembari terus bejalan menaiki tangga. "Aku tidak mau tidur di kamar, aku akan tidur di ruang tamu." Li Xiao Le memekik masih terus memukul-mukul punggung Timmy "Di ruang tamu penghangatnya rusak kamu bisa kedinginan jika tidur di sana." Timmy segera merebahkan Li Xiao Le di kasur yang dibalut dengan seprei warna putih setibanya di dalam kamar. Li Xiao Le segera duduk dan mengedarkan pandangan mengamati ruangan yang terasa tidak asing baginya. Kamar yang di tata dengan sangat sederhana, namun tampak elegan, dengan sentuhan cat warna putih gading, dengan jendela kaca besar di sisi kiri tempat tidur. Sedikit terkesan mewah manakala gorden warna silver menjuntai pajang menyentuh lantai dan teramat besar. Yang sedikit aneh, dinding depan tempat tidur dibiarkan kosong begitu saja, padahal di sisi kanan kirinya ada lampu
Timmy memang sudah beranjak dari sofa ingin membungkam mulut kecil yang cerewet itu.Tapi begitu melihat Li Xiao Le ketakutan dan langsung mengubur dirinya di dalam selimut Timmy pun tak tahan untuk terkekeh.Dia kembali ke sofa dan membaringkan diri sembari memejamkan mata.Tapi pikirannya tidak juga tenang.Li Xiao Le menarik selimut sampai menutupi puncak kepalanya, sama sekali tubuhnya tidak terlihat karena terkubur di dalam selimut.Tidak ada pergerakan, atau suara yang keluar dari mulut kecilnya yang bawel.Satu menitDua menit.Tiga menit..Lima menit.Benar-benar sudah tidak ada suara yang keluar. Timmy segera membuka mata dan memiringkan wajahnya menengok ke arah Li Xiao Le.Seketika dia langsung menepuk jidat.Bagaimana bisa mempunyai ruang untuk bernapas kalau Li Xiao Le tidur dengan selimut yang begitu rapat seperti itu?Mau tidak mau Timmy kembali bangun dan menyikap selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Li Xiao Le sampai batas leher perempuan imut yang sudah terlela
Li Xiao Le berteriak dan tersentak dari tidurnya sampai terduduk. Napasnya terengah-engah, buliran peluh sebesar biji jagung segera membanjiri keningnya. Li Xiao Le menoleh ke samping, mendapati Timmy masih tertidur pulas di sofa. Astaga… ternyata hanya mimpi! Li Xiao Le meraup wajahnya frustrasi. Menarik napas banyak-banyak dan mengembuskannya perlahan, mencoba menstabilkan detak jantung yang berdegup seperti genderang mau perang. Setelah napasnya berjalan normal barulah dia menengok jam digital di nakas. Ternyata sudah pukul sebelas siang. Pantas saja jendela sudah tampak terang dan menebarkan cahaya yang menyilaukan retina. Beberapa saat Li Xiao Le terdiam dalam lamunan. Tapi tiba-tiba bulu kuduknya bergidik mengingat mimpinya yang terasa begitu nyata itu. Ia malu sendiri dan memukul-mukul kepalanya frustrasi. "Bego!" "Sinting!" "Gila!" "Bodoh!" "Memalukan!" "Bagaimana bisa kamu, mimpi bercinta dengan sahabatmu sendiri, Li Xiao Le!" "Sialan!" Li Xiao Le terus meng
Li Xiao Le menjerit kala Timmy menggetok kepalanya tanpa sengaja saat membukakan pintu."Maaf-maaf, aku tidak sengaja." Timmy langsung memeriksa jidat Li Xiao Le yang dia getok.Melihat jidat istri imutnya tidak apa-apa Timmy kembali bertanya, "Apa yang kamu lakukan di dalam? Kenapa lama sekali? Aku sangat mengkhawatirkanmu, aku pikir kamu pingsan di dalam."Li Xiao Le tidak menjawab, gadis itu masih menunduk menyembunyikan wajahnya.Matanya mengedar ke samping sedikit melirik wajah tampan Timmy yang 25 cm lebih tinggi darinya.Tingkahnya sangat aneh seperti bocah yang sudah membuat kesalahan dan mencoba menyembunyikannya.Alis tebal Timmy mengernyit, melihat tingkah aneh Li Xiao Le.Matanya mulai memindai Li Xiao Le dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat Li Xiao Le gugup, dan berpikir yang tidak-tidak.'Jangan-jangan kak Timmy bisa membaca pikiranku, atau jangan-jangan dia mulai berpikir mesum terhadapku,
Gendut, Wei Lian, dan Wang Wei, yang sedari tadi melongo menyaksikan ke-absurd-an dua majikan mereka, segera beringsut masuk ke dalam kamar Gendut.Sangat menggelikan.Timmy dan Li Xiao Le yang bermain dan menggoda, tapi malah mereka bertiga yang malu menyaksikannya."Kak Timmy, jangan menindihku. Kamu ini sangat berat, aku bisa mati karena tergencet!" pekik Li Xiao Le saat tidak bisa berkutik karena Timmy mengunci tangan dan kakinya."Rasain! Beraninya kamu ngatain aku bencong! Nih, sekalian kamu rasain bagaimana dicium bencong!"Timmy segera mencium Li Xiao Le dengan bertubi-tubi, sehingga wajah Li Xiao Le penuh dengan tanda kecupan dari bibir Timmy yang dia poles dengan lipstik warna merah.Ketika wajah Li Xiao Le penuh dengan cap bibir merah. Dan Li Xiao Le terlihat lemas, Timmy baru melepaskan Li Xiao Le.Binar wajahnya terlihat puas bisa membalas apa yang dilakukan Li Xiao Le kepadanya."Kak Timmy, beranin
Timmy dan Li Xiao Le bejalan menuruni tangga, tampak segar dan sudah berganti pakaian. Kini mereka tampak akur tidak seperti Tom and Jerry lagi, tangan Timmy merangkul pundak Li Xiao Le dengan sumringah."Hai, trio kwek-kwek, sedang apa kalian?" sapa Li Xiao Le pada ketiga jomblo yang sedang berada di pantry.Tapi anehnya, bukannya menjawab sapaan Li Xiao Le, mereka malah berjalan tubruk-tubrukan kemudian ngacir lenyap di balik pintu kamar mereka masing-masing."Kenapa dengan asisten dan juga dua pengawalmu?" tanya Li Xiao Le yang bingung dengan tingkah aneh tiga laki-laki itu.Timmy hanya mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan Li Xiao Le. Kemudian berucap, "Sudah biarkan saja mereka, ayo kita pergi!""Ke mana?""Makan, aku lapar.""Apa kamu mau memasak lagi?""Tidak, itu sangat merepotkan kita makan di luar saja.""Badainya sudah reda?""Uhum.""Jalannya sudah dibuka?""Hmm.
"Apa yang kamu tertawakan?"Timmy agak aneh dengan reaksi Li Xiao Le setelah dia mengatakan bahwa dia adalah suaminya.Tapi Li Xiao Le segera menjawab, "Dulu aku pernah mengatakan hanya orang gila yang mau sama kamu. Tapi ternyata orang gila itu adalah aku, hahaha …!"Li Xiao menganggap bahwa ucapan Timmy tidak serius, dia pikir Timmy sedang bercanda dan menggoda seperti biasanya.Orang slengean selalu bisa mengucap kata apapun tanpa beban.Tapi bagi Timmy ini sangat mengesankan, Li Xiao Le tidak sakit kepala dan justru tertawa terbahak-bahak saat tahu bahwa dia adalah suaminya. Rasa khawatirnya segera hilang.Timmy ikut senang, dan tertawa bersama Li Xiao Le sambil berjalan perlahan menggendong Li Xiao Le menapaki jalan sepi yang sedikit menanjak."Kita memang pasangan gila. Kamu tahu tidak? Baru kali ini aku berlari-berlarian seperti buronan yang dikejar polisi. Ternyata seperti ini kehidupanmu selama tinggal di rumah
Langit malam sangatlah kelam, tak ada sedikitpun cahaya bulan maupun kerlipan bintang.Mendung, mungkin sebentar lagi juga akan turun hujan.Timmy segera melepaskan jas dan menyelimutkan pada tubuh Li Xiao Le yang kedinginan."Terima kasih, Kak," ucap Li Xiao Le seraya tersenyum.Timmy mengangguk.Sebenarnya dengan dandanan yang powerfull, mereka sama sekali tidak cocok makan di tempat seperti itu.Tapi lantaran selera Li Xiao Le yang unik dan sangat merakyat, mau tidak mau Timmy juga ikut menyesuaikan, padahal sebelumnya dia belum pernah makan di tempat seperti itu.Tidak berselang lama, semua hidangan yang diinginkan Li Xiao Le sudah tersaji di atas meja.Dengan semangat tinggi Li Xiao Le segera mencomot satu persatu makanan yang sudah dia pesan."Xiao Le, kamu memesan begitu banyak makanan seperti orang yang sedang ngi…," kata-kata Timmy mulai tercekat ketika mengingat sesuatu.Bukankah ini
Di saat Li Xiao Le sedang berusaha merayu Timmy agar dibelikan jagung bakar, di rumahnya yang sangat mewah dan juga megah, Kakek Li sedang uring-uringan karena baru mengetahui jika cucu bungsunya yang badung itu telah membuat ulah."Bagaimana bisa terjadi?" tanya kakek Li dengan intonasi tinggi pada sekretarisnya yang baru saja melapor."Nona Muda mencoba melarikan diri dari Tuan Muda Zhang, Tuan.""Lalu bagaimana kondisi restorannya sekarang?""Porak-poranda seperti habis terkena angin puting beliung. Pihak restoran juga menuntut ganti rugi pada tuan muda Zhang dengan nominal yang fantastis.""Lalu bagaimana dengan keluarga Zhang, apa mereka meminta ganti rugi pada kita?""Sepertinya tidak Tuan, tuan muda Zhang langsung mengganti kerugian restoran saat itu juga. Dan sampai sekarang belum menghubungi kita."Kakek Li membuang napas kasar. "Sampai kapan gadis badung itu mempermalukanku? Sulit diatur dan bertindak semaunya sendiri. Lalu di mana dia sekarang?""Dua pengawal tuan Zhang me
"Ayo turun!" Timmy memegang jemari Li Xiao Le, setelah memakaikan sepatu Li Xiao Le dengan sabar. "Tidak mau, aku akan menunggu di mobil, kamu saja yang turun," tukas Li Xiao Le. Kilat mata yang terus tertuju pada karpet merah yang membentang jauh menuju ke dalam gedung. Sementara puluhan wartawan dan juga kameramen sudah menunggu dan siap memotret dengan gila siapa saja yang turun dari dalam mobil. Timmy memang akan menghadiri acara The best of actress and actors pada tahun ini. "Xiao Le, acaranya akan lama, apa kamu akan menunggu di mobil sampai tengah malam?" "Ya tidak apa-apa, dari pada bertemu dengan kamera sebanyak itu." "Xiao Le, itu hanya kamera, tidak perlu khawatir." "Apa kata orang jika aku datang bersamamu, bisa gempar semua akun gosip." "Abaikan saja, tidak perlu memikirkan itu." "Bagaimana jika Little Wife mu melihatku? Bisa terancam keselamatanku." Timmy langsung mengulum senyum mendengarnya. "Tidak, tidak akan terjadi apa-apa denganmu, aku bisa menjamin kese
Suara Li Xiao Le tertahan akibat membekap mulutnya sendiri menahan sesuatu yang ingin keluar dengan paksa."Nona Li, kamu sakit?" Zhang Zui menghentikan aktivitas makannya begitu melihat Li Xiao Le yang ingin muntah."Tidak, aku hanya alergi dengan omong kosong. Aku mau ke toilet dulu, permisi."Zhang Zui terkekeh ringan sambil menggelengkan kepala, menatap punggung Li Xiao Le yang menjauh.Sepertinya dia harus extra sabar untuk mendapatkan hati calon istrinya yang bebal dan kekanak-kanakan itu.Li Xiao Le sudah tidak tahan lagi, sesampainya di toilet dia segera mengeluarkan seluruh isi perut dengan menyedihkan."CEO sialan! Bisa-bisanya dia terus merayu seperti itu, membuatku mual saja," umpat Li Xiao Le sembari menyeka keringat dingin di dahinya.Setelah keadaan mulai membaik Li Xiao Le mengendap-endap menuju pintu toilet. Ingin kabur.Tapi dua bodyguard Zhang Zui terus mengikuti, membuat Li Xiao Le kesal."Shit!"Dua bodyguard Zhang Zui berdiri mematung di dekat pintu masuk toilet
Timmy masih kesal, bukan takut Li Xiao Le akan berpaling darinya. Dia yakin cinta Li Xiao Le seluas samudera dan setegar batu karang, Li Xiao Le tidak akan mudah berpaling pada laki-laki lain.Tapi Zhang Zui ini benar-benar orang tak tahu diri yang sangat menjengkelkan membuatnya mengumpat berkali-kali.Namun, rasa kesalnya sedikit pudar. Senyumnya mengembang, moodnya kembali cerah ketika ponselnya berdering dan menampilkan nama Little Wife pada layar gadget."Ada apa, sayang?" sapa Timmy dengan mesra setelah menerima panggilan Li Xiao Le."Woi, teman somplak, tidak punya akhlak! Apa yang kamu lakukan pada leherku?" Suara dari seberang terdengar kencang dan berapi-api.Timmy langsung tertawa terbahak-bahak. "Apa sayang? Aku hanya memberikan tanda cintaku saja kok, tidak lebih.""Teman gak punya akhlak! Ini gimana cara ngilanginnya? Mana seperti macan tutul begini! Aku 'kan jadi malu kalau ada yang lihat!""Hahaha… bukank
Timmy sudah sangat senang Li Xiao Le mengusir Zhang Zui. Mendadak dia menjadi sombong."Dengerin tu, PULANG!" Timmy memperjelas kata-kata Li Xiao Le, kemudian menjulurkan lidah, mengejek Zhang Zui."Kak Timmy, kamu juga pulang!""Hah?" mata Timmy langsung melebar.Kini gantian Zhang Zui yang tertawa terbahak-bahak."Xiao Le, kenapa kamu mengusirku juga?" Timmy bersungut-sungut."Pokoknya pulang! Kalian berdua pulang! Aku sudah lelah dengan pertengkaran kalian!" Li Xiao Le kembali berkata dengan tegas tidak dapat diganggu gugat.Zhang Zui langsung berdiri dan menghampiri Timmy."Wukong, ayo kita pulang. Kamu harus ke barat mencari kitab suci bersama guru Tong," kata Zhang Zui merangkul leher Timmy kemudian menyeretnya."Hei, makhluk asing, jangan memelukku seperti itu, Xiao Le bisa salah paham!" pekik Timmy sambil terus berjalan keluar karena diseret Zhang Zui.Dia sempat menoleh pada Li Xiao Le
Timmy tidak mengucapkan apa-apa. Tapi sorot matanya jelas sangat memprovokasi, hingga menyulut emosi Zhang Zui."Tidak perlu menyombongkan diri, kamu juga tidak lebih baik dariku, hanya mencium aroma lemari pendingin saja juga muntah-muntah tidak jelas, jadi siapa yang lebih memalukan sekarang?""Itu gara-gara aku alergi dengan kunjungan alien bodoh sepertimu!" sahut Timmy asal-asalan."Enak saja kamu bilang aku alien! Hei, Wukong, kalau sudah jadi biksu itu yang bener kalau ngomong. Disentil Budha Julai baru tahu rasa kamu!""Hei, makhluk asing, jangan sembarangan. Siapa bilang aku biksu? Cepat kembali ke planetmu sana, ditangkap pemburu alien baru tau rasa kamu!""Emangnya aku takut!""Ya sudah menyerahkan diri sana. Biar di bedah, dijadikan bahan penelitian para profesor botak di laboratorium forensik."Astaga… mereka sedang membicarakan apa coba?Li Xiao Le langsung tepuk jidat, puyeng, dengan percakapan tidak jelas dua orang aneh di depannya.Timmy dan Zhang Zui terus beradu mulu
Wajah Zhang Zui menunjukkan senyuman. Tidak menyangka Li Xiao Le akan berpihak padanya."Xiao Le…." Timmy menunjukkan sikap keberatan dengan keputusan Li Xiao Le."Kak Timmy, dia yang mengajakku keluar, jika aku tidak pulang bersamanya, kakek pasti akan menyalahkannya nanti.""Ya biarkan saja, kenapa kamu peduli dengannya?""Bukan karena aku peduli padanya. Aku sangat lelah sekarang, aku ingin cepat-cepat pulang dan istirahat.""Ya istirahat saja di sini, ini juga rumahmu. Bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu adalah keluargaku." Timmy benar-benar tidak rela kalau Li Xiao Le harus pulang ke rumah kakek Li sekarang."Iya, masalahnya kalau aku tidak pulang, dia juga tidak akan pulang. Kalau kalian bersama, pasti kalian akan bertengkar lagi, aku sudah lelah melihat kalian bertengkar terus seharian ini."Arah pandang Timmy beralih pada Zhang Zui, meski dia tidak senang, tapi dia mulai sedikit meminta, "Makhluk asing, apa kamu tidak bisa pulang sendirian saja? Biarkan Xiao Le tinggal di