“Mungkin faktor cuaca dan musim, Profesor.” Zetranio menyahut dengan santai, tidak ingin Haldarad cemas.“Pasti lebih dari itu.” Haldarad berucap yakin.Zetranio menaruh nampan ke meja dan memindahkan cangkir teh serta camilannya dari sana.“Minum dulu, Prof,” ujar Zetranio, duduk di seberang Haldarad.“Terima kasih.” Haldarad mengambil cangkir teh di depannya dan menyesapnya sedikit. “Dua hari lalu aku memerintahkan beberapa prajurit untuk mengecek laut timur dan barat. Hasilnya sama. Nelayan yang kutanyai pun mengatakan hal serupa.”Prajurit yang bertugas di daerah empat mata angin melaporkan hal yang sama, tentulah pasti ada sesuatu. Haldarad tidak bisa untuk tidak berpikir buruk karenanya.Zetranio mengetukkan jemari tangan kanannya di atas lutut kanan, berpikir.“Kalau sudah begini, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi,” ujar Zetranio, bangkit dari duduknya. Ia mengambil seberkas dokumen bersampul merah, menaruhnya di meja depan Haldarad.“Sudah kuduga kau sudah mengetahuinya. Ka
Diperhatikan lebih jeli, sang sosok tampak seperti orang baru. Shaw tidak memiliki ide akan siapa gerangan sosok tersebut. Sudah pasti bukan Fu karena perawakannya berbeda. Sosok ini lebih tinggi dan berisi. Dari area kening dan tangannya, terlihat bahwa ia memiliki kulit yang lebih kecokelatan dibandingkan kulit Fu, kedua matanya terlihat lebih sipit.Tidak ada tanda pengenal di sisi kiri maupun kanan tubuh sang sosok, Shaw makin bertanya-tanya dan berhati-hati. Haki yang ia rasakan menguar dari sang sosok sungguh tidak bisa ia remehkan.Sepersekian detik membisu. Hanya suara embusan angin dan hewan hutan yang terdengar, itu pun cukup jauh dari keduanya. Area hutan di sekitar menjadi sangat hening dan sunyi, pertanda bahaya mengintai.Mencoba memberanikan diri, Shaw keluar dari persembunyiannya, melompat dan mendarat di dahan pohon seberang dari sang sosok.“Kenapa kau mencoba membunuhku?” tanya Shaw begitu kakinya berpijak.Kehadiran Shaw yang tiba-tiba tak ayal membuat sang sosok te
“Tidak usah hiraukan mereka, Shaw,” kata Bailey yang duduk di depan Shaw.“Aku tahu.”Bailey menghentak tali kekang, memacu kuda lebih cepat lagi. Wilton di belakang pun mempercepat laju kudanya.Sampai di mansion, Wilton langsung pergi lagi setelah sang sosok dibawa ke balai pengobatan. Ia keluar bersama Bexter dan Ryson, berpisah di depan gerbang. Wilton pergi ke barat, ditugaskan Ascal untuk memanggil Edvard sedangkan Bexter dan Ryson ke utara untuk mengambil anak panah yang dikubur Shaw.“Sudah. Dia akan baik-baik saja.” Bailey menepuk pundak Shaw, mencoba menenangkan sahabatnya yang masih cemas dan murung.Ascal yang keluar dari ruang pengobatan berhenti beberapa meter di belakang Shaw dan Bailey. Ia diam, memperhatikan kedua bocah di hadapannya.“Aku takut, Bailey. Walau aku merasakan aura gelap darinya, tapi aku yakin dia orang baik. Dia sempat terlihat sedih tadi,” kata Shaw.Petarung di arena tidak boleh memiliki perasaan. Itu adalah prinsip yang diajarkan di semua sekolah di
“Saya baik-baik saja, Tuan Muda.” Wilton tersenyum.“Hah, ya sudah.” Bailey beralih menatap Shaw. “Kalau ada apa-apa kabari aku. Apa pun itu. Hal kecil sekalipun.”Perjalanan kisah mereka memasuki tahap serius yang kian mendebarkan tiap harinya, terlebih kali ini Shaw hendak melaksanakan tugas dari sang ayah, menghadirkan rasa tidak sabar dalam hati Bailey untuk mendengar tiap perkembangannya.Shaw mengangguk, memasang senyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.“Kalau ingat,” kata Shaw.Bailey berdecak.Terkadang Bailey iri dengan kebebasan Shaw. Ia berandai-andai terlahir bukan dari keluarga bangsawan Zanwan, bukan sebagai penerus takhta. Namun, bukan berarti ia tidak menyukai dan mensyukuri takdir hidupnya. Ia hanya ingin bisa sebebas Shaw.“Ya sudah. Aku pergi dulu,” pamit Bailey, menunggangi kuda dan pergi ke sekolah bersama Wilton.Shaw pun menunggangi kudanya, pergi ke arah berbeda.Di tengah jalan, Shaw bertemu sekumpulan anak orang kaya di distrik Aloclya
Shaw melajukan kudanya ke selatan, pulang ke rumah. Ia mengambil jalur pemukiman penduduk. Ketika melewati alun-alun distrik, untuk beberapa menit laju kudanya melambat dan pikirannya mengelana. Teringat ia pada sebuah kepala yang pernah tergantung di sana. Sekarang alun-alun itu kosong. Hanya terlihat beberapa prajurit yang berjaga di pos sebelah alun-alun, dekat dengan perumahan.“Entah hari ini, esok, lusa, atau hari seterusnya, kepala seseorang mungkin akan tergantung lagi di sana.” Pelan suara Shaw keluar kala ia bergumam.Beberapa jenak berselang, Shaw melanjutkan perjalanan.Dedaunan terlihat berserakan memenuhi halaman ketika Shaw sampai di depan rumah. Padahal tidak lama ditinggal, tetapi rumah tua itu sudah seperti rumah yang lama tidak dihuni.Shaw menalikan tali kudanya di tiang halaman samping dekat dapur. Rencana untuk langsung membuat bekal pun ia tunda dan memilih membersihkan rumah serta halaman lebih dahulu.Sekelumit rasa rindu pada Spencer dan Gracie menyeruak, hadi
Shaw tidak ingin peduli. Benaknya mengatakan ia harus segera pergi. Jadi, ia lanjut memacu kudanya. Namun, bayangan itu muncul lagi. Seakan-akan memperjelas bahwa Shaw adalah target, bayangan tersebut terus menunjukkan entitasnya, melesat dari pohon ke pohon di sekeliling Shaw. Meski begitu, Shaw tetap berusaha mengabaikan.“Kecepatannya lebih tinggi dari semua mata-mata yang pernah kutemui. Apa dia Fu? Hanya Fu yang bisa secepat ini, tapi ... mengapa Fu tidak langsung menemuiku?” Shaw bertanya-tanya dalam hati.“Tunggu ….” Lagi, Shaw membatin.Shaw merasakan keberadaan haki lain selain dari haki sang mata-mata yang melesat.“Lebih dari satu orang!”Semerbak aroma bunga lili menguar tajam dalam sekejap, tercium harum di hidung Shaw. Aneh.Merasa ganjil, Shaw pun berhenti. Lagi, ia menghirup udara memastikan aroma yang masuk ke indra penciumannya tersebut.“Apa ini benar-benar aroma bunga lili?” Benak Shaw bertanya yang lebih kepada menebak.Selain harum, aromanya segar dan manis. Namun
Kantung-kantung panasea, ransel, peralatan, bekal, serta tenda diturunkan, kemudian disembunyikan di balik semak.“Kalian berhati-hatilah,” pesan Eroth.Khosrow dan Vidar mengangguk.Kali ini Eroth memperlakukan budaknya dengan lebih baik. Ia berkaca dari masa lalu, juga dari memikirkan akibat yang bisa saja terjadi karena Mival dibeli oleh Shaw yang berteman dekat dengan Bailey sang putra mahkota. Eroth takut jika kelak ia dan keluarganya akan mendapat hukuman atau lebih parah dari itu karena menyinggung putra mahkota dan teman baiknya. Pria itu berpikir cukup panjang.Ketiganya lekas berpisah. Eroth langsung ke utara dengan kudanya sementara kedua budaknya bergerak dengan berjalan kaki. Vidar ke selatan dan Khosrow langsung ke timur mendekati kabut tempat Shaw berada.“Bocah ini punya ketahanan dan keteguhan hati yang bagus.” Mata-mata yang berdiri di sisi timur membatin, mengamati Shaw di sela serangannya.Pletak!Pletak!Bagai awan yang seketika mengguyur deras bumi dengan airnya,
Haki Aaban menjalar seperti gelombang transparan. Kecepatannya tinggi walau tidak secepat teleportasi atau penglihatan dan sejenisnya. Kendati begitu, kecepatan dari kemampuan haki jenis ini dapat meningkat dalam beberapa kasus. Selain itu, kemampuan haki Aaban tergolong langka di Zanwan.“Apa itu?” Aaban bergumam lirih.Di sana, di hutan ketiga, Aaban melihatnya. Pertarungan dan haki yang besar.Kepalan tangan Aaban menguat. Ia bergegas turun dan memanggil anak buahnya.Di hutan ketiga, Shaw, Khosrow, dan Vidar menguasai pertarungan mereka. Namun, Shaw mulai terlihat kewalahan. Di serangan berikutnya, Shaw terpental dan berguling di tanah. Ia mengerang tertahan. Goresan luka yang didapatkannya saat di dalam kabut masih terbuka dengan darah yang masih basah. Tubrukannya ke tanah menyebabkan luka-luka itu terasa lebih menyakitkan.“Shaw!” Khosrow berteriak.Ingin Khosrow mendekat, tetapi tidak dapat ia lakukan. Mata-mata yang ia hadapi masih terus menyerang membabi buta.“Akhiri bocah i
Kilau cahaya pohon dan jalan memandu Bailey ke kaki gunung sisi utara, melewati area yang Bailey datangi tempo lalu bersama Shaw dan yang lain pada malam operasi penambangan ilegal. Semak belukar lebih tinggi, lalu ketika Bailey sampai di timur, menuju belokan ke tenggara, kilau cahaya kemerahan berkelap-kelip di depan.Bailey segera menghentikan laju kudanya.“Profesor bilang warna lain selain hitam dan putih akan cenderung samar, tapi merah itu terlalu jelas,” gumam Bailey.Menggeser fokus tatapannya, Bailey menemukan lebih banyak siluet merah dengan haki yang menguar di dalam sebuah gua. Bailey mengamati sekitar lebih jeli. Terlihat oleh matanya dinding seperti kubah di atas.Bailey menyalurkan hakinya ke kuda, tetapi tetap menyamarkannya, kemudian membuat kuda berderap pelan dan santai. Sang kuda bagai berjalan di atas angin; tidak ada suara yang terdengar tiap kali kakinya memijak.Mendekati gua, Bailey turun dari kuda. Ia ikatkan tali kuda ke sebuah pohon, kemudian melanjutkan d
Aaban mengangguk, kemudian beralih tatap pada prajurit yang tadi membawakan kuda.“Buka gerbangnya.”Sang prajurit mengangguk patuh, kemudian berlari menuju pos jaga di sisi salah satu gerbang. Model pos agak tinggi dari permukaan tanah, jadi, ia mendongak dan berseru pada prajurit yang berada di pos.“Buka gerbangnyaaaa!”Prajurit di pos segera menjalankan perintah. Engsel gerbang segera berbunyi, lalu gerbang berderit, perlahan terbuka seiring Bailey menunggangi kuda.“Hati-hati, Tuan Muda!” kata Aaban.Bailey mengangguk. “Aku pergi.”Prajurit yang berseru pada prajurit di gerbang menyingkir, kembali ke sisi Aaban. Bailey menghentak tali kuda, melewati gerbang begitu gerbang terbuka lebar.“Tuan Muda sangat berani dan cerdik,” celetuk prajurit di sisi Aaban. Ia memandangi kepergian Bailey dengan binar takjub di matanya.“Dia putra pemimpin Zanwan. Keberanian dan kecerdikan akan bagus untuk menjadi bagian dari dirinya,” kata Aaban sambil memandangi Bailey yang menjauh, membelah padan
Matahari telah terbenam di ufuk barat. Malam telah bertakhta. Dinginnya udara menerpa Zanwan sedingin suasana di meja makan mansion Hunt.“Wilton, di mana Bailey?” Jillian bertanya.Piring-piring masih terisi, belum habis setengah hidangan di atasnya. Satu kursi di meja makan, kursi yang biasa diduduki Bailey, kini kosong. Wilton berdiri di belakang samping kursi tersebut.Pelayan mengatakan Bailey tidak ada di kamarnya beberapa saat lalu. Sebentar sebelum duduk ke kursinya, Jillian pun mengecek kamar Bailey, hanya menemukan ruangan kosong. Sampai Ascal tiba, Bailey belum juga muncul. Tak ayal Ascal memanggil Wilton.“Tuan Muda ….” Wilton bicara serupa suara bisikan di keramaian, nyaris tidak terdengar saking lirihnya.Jillian mengerjap. Ia melirik Wilton sambil makan. Wilton terus menunduk, bahkan tidak kunjung menyelesaikan bicaranya. Ascal berganti melontarkan tanya tanpa menoleh.“Wilton, di mana Bailey?”“Tuan Muda pergi ….” Wilton masih serupa anak kecil yang bersembunyi.“Wilto
Bailey manggut-manggut. “Aku tidak mengira kalian akan mengajukan pertanyaan semacam itu, bahkan tidak mengira kalian akan pernah menghiraukan hal semacam itu. Terima kasih, kurasa.”Senyum terukir di hati Bailey. Sebuah kabar gembira bagai menggema di dalam dirinya. Begitu pula yang dirasakan Otto dan Milo. Bailey menyambut baik, tentu itu kabar besar yang membahagiakan. Sekali lagi, perkiraan mereka salah. Sepertinya Bailey tidak mendengar pembicaraan mereka di kelas atau mungkin mendengar, tetapi tidak mempermasalahkan, dan itu membuat kegembiraan mereka kian bertambah.“Sanjungan lebih pantas untukmu,” kata Milo.Bailey merespon itu dengan senyum kecil. Otto dan Milo mengerjap, segera berpikir apakah mereka salah lihat. Namun, mereka dapati bahwa mereka tidak salah lihat. Bailey memang tersenyum. Senyum itu, Bailey tujukan kepada mereka.“Aku mulai dari pertanyaan pertama, ya,” kata Bailey, kemudian menghirup udara sejenak.Otto dan Milo mengangguk dan memasang telinga baik-baik.
“Kau mendengarnya?” Otto bertanya dengan wajah memucat. Suaranya amat pelan sampai nyaris tidak terdengar.Milo mengangguk kecil dalam gerakan patah-patah dan sarat keraguan. Ekspresi pada wajahnya tidak jauh berbeda.Kepala mereka kemudian bergerak bersamaan, berpaling tatap ke baris terdepan, lalu mereka melihat Bailey beranjak dari duduknya, pergi keluar.“Apa Tuan Muda mendengar pembicaraan kita?” Milo bertanya dalam suara lebih rendah, serupa bisik-bisik yang mungkin saja akan hanyut terbawa angin.Otto menggeleng. Bukan jawaban meyakinkan, hanya harapan bahwa itu adalah kenyataan yang terjadi.“Kalau benar, semesta mungkin tidak akan berpihak pada kita setelah ini,” kata Otto.Cemas menyerang Otto. Kalau Bailey benar mendengar pembicaraan mereka, apakah kali ini Bailey akan tersinggung? Kesal? Emosi dan apa pun yang lebih buruk?“Kurasa kita sebaiknya bergegas?” Milo melirik Otto.“Itu keputusan paling baik.” Otto berdiri.Milo memasukkan buku catatan yang baru sebentar ia baca
“Katakan saja,” ucap Bailey di sela makannya.Bailey tahu dua anak lelaki ini takkan mendatanginya kalau hanya untuk makan. Ada meja-meja kosong lain yang siap untuk ditempati, pun keduanya belum pernah begitu pada Bailey sepanjang sejarah bersekolah walau satu kelas dengan Bailey.“Kami … agak … penasaran. Apa Tuan Muda akan mendaftar untuk turnamen?” Otto Atrius yang duduk di sebelah Milo bertanya. Bibir merah cerahnya berulang kali mengatup dan terbuka setelah pertanyaan diajukan. Otaknya berpikir apakah pertanyaan itu sudah pas atau tidak.“Turnamen umum, maksudmu?” tanya Bailey.Otto mengangguk. “Kami dengar-dengar tahun ini murid yang terpilih untuk mewakili sekolah boleh mendaftar turnamen umum. Kami juga baca informasinya di mading pagi ini.”“Kalau terpilih mewakili sekolah, lalu mendaftar di turnamen umum dan ternyata lolos dalam keduanya ke final, terlebih keluar sebagai juara di peringkat satu, akan otomatis mendapat tiket emas dan bonus berlipat.” Milo turut bicara setela
“Ayah dan Ibu bawa apa? Itu terlihat banyak sekali!” Shaw mengamati tas-tas belanjaan dengan antusias. Salah satu isi yang tertangkap matanya adalah pakaian.“Oh, ini untuk putra Ibu yang paling manis!” Suara wanita menjawab.“Asyik! Pakaian, ya?” tanya Shaw.“Betul. Ada mainan juga!” Suara pria yang bicara.“Horeeee … mainan!” Shaw berseru gembira. Kebahagiaan meluap-luap pada suaranya.Di atas kaca, Shaw gemetar. Ia tidak mengira danau kaca keyakinan akan menampilkan momen seperti itu. Ia kira itu hanya akan berkisar perjalanannya, rencananya dengan Bailey, tantangan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan impian tentang Zanwan. Namun, apa yang ia dengar sepenuhnya berbeda. Sama sekali tidak ada dalam bayangannya. Tidak sedikit pun.Mata Shaw bergetar. Air makin banyak di sana, lalu tumpah kala Shaw dengar suara yang sangat familier.“Shaw, jangan melompat-lompat tinggi begitu.” Itu suara Spencer, terdengar riang dan penuh kasih.“Shaw gembira sekali sepertinya.” Gracie menyusul bicara
“Ini danaunya.”Shaw sampai di ujung hutan lain setelah dari hutan sunyi dan melewati padang rumput. Di hadapannya membentang danau jernih yang berkilau, besar dan luas yang tidak mampu Shaw ukur dengan pasti. Ia perkirakan luasnya sama atau bahkan melebihi lapangan alun-alun distrik Acilav.“Sampai di danau itu, cara paling cepat untuk melewatinya adalah membelahnya. Menyeberanginya,” kata Fu dalam pesannya sebelum berpisah. “Jangan terkecoh dengan ukurannya yang kau mungkin kira tidak seberapa luas; masih sangat mungkin untuk dilewati dengan mengitarinya. Terkadang dalam waktu dan untuk alasan yang tidak terduga, setelah melihat wujudnya, begitu kau berjalan, mencoba memutari danau untuk sampai di seberang, di sisi lain, kau akan dapati bahwa ujung danau bahkan tidak kautemukan. Semua yang kaulihat mungkin hanya akan menjadi hamparan air. Tidak ada lagi pepohonan, tidak ada lagi daratan selain tempat kau berpijak dan sekitar.”Shaw berjinjit, mencoba menjangkau seberang danau dengan
“Ada rencana untuk keluar lagi di sisa hari ini, Tuan Muda?” Wilton bertanya seturunnya ia dari kuda, memegangi tali setelah Bailey turun. Mereka baru sampai di mansion, pulang dari sekolah.“Kurasa tidak. Sepertinya aku akan habiskan waktu di meja belajar.”“Baik. Saya akan ada di pos malam ini kalau Tuan Muda butuh sesuatu.”“Ya. Aku masuk, ya. Terima kasih untuk hari ini, Wilton.”Bailey pergi, masuk ke mansion. Wilton mengiringi kepergian Bailey dengan anggukan penuh hormat. Bibirnya melengkung membentuk senyum. Usai Bailey tidak lagi terlihat, Wilton membawa kuda ke kandang.Sampai kamar, Bailey menyalakan penerangan, melepaskan ransel, dan bersih-bersih. Ia melanjutkan dengan menekuri buku-buku mata pelajaran sampai pelayan memanggil namanya dari luar pintu.Makan malam tiba, Bailey berseri-seri menemukan Jillian di meja makan. Canda tawa Jillian serupa bunga-bunga di musim semi dan keceriaan Bariela adalah penyempurna. Jillian telah kembali dengan warna cerahnya, tidak lagi ber