Zanny meliriknya sekilas, lalu melepaskan pelukannya."Jangan khawatir, aku akan memberimu imbalan. Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa pun."Mendengar berbicara seperti itu, Yanuar tampak geram."Oke, terserah! Lihat saja apa kamu bisa berpisah dariku."Setelah mengatakan hal itu, Yanuar masuk ke kamar mandi.Di sisi lain.Hans datang ke kantor Wano sesuai janjinya.Xena juga berada di sana.Terlihat setumpuk dokumen di atas meja.Mata indah Wano tampak menyipit. Dia merasa masalah ini tidak sesederhana yang dia bayangkan.Ketika Hans masuk, Wano perlahan-lahan membuka matanya.Wano berkata sambil menunjuk kursi di depannya, "Duduklah."Kemudian, dia menyerahkan sebuah dokumen ke Hans, "Ini saham milik Ayah dan Nenek, mereka berdua sepakat untuk memberikannya padamu. Dengan beberapa saham ini, kamu menjadi pemegang saham terbesar kedua di grup selain diriku, sekaligus wakil presdir baru Grup Lasegaf. Ini surat penetapannya."Hans tersenyum ketika melihat dokumen tersebut."Kam
Satu kalimat yang membuat Hans terkejut.Kalau ibu bukan mengganti Vina, itu artinya ....Apa maksudmu yang menjalin hubungan dengan ayahmu saat itu adalah ibuku?Wano menatap dengan tajam, lalu mengangguk pelan.Penjelasan ini adalah jawaban terbaik yang aku pikirkan saat ini. Wanita yang berpacaran dengan ayahku adalah tante Shelvi, yang juga merupakan Vina yang sebenarnya. Wanita yang menikah dengannya dan memiliki anak bersamanya adalah orang palsu.Demi menghancurkan keluarga Lasegaf, Zaen mencari seorang wanita yang punya kesamaan dengan Vina. Kemudian, dia melakukan operasi plastik pada wanita itu dan melatihnya untuk meniru segala tingkah laku Vina.Kemudian dia diutus ke sisi ayahku, dengan tujuan untuk menguasai Grup Lasegaf.Karena itu, ayahku nggak bisa mengingat tante Shelvi sampai sekarang, karena selama ini hanya ada satu wajah wanita yang pernah berhubungan dengannya, yaitu Vina, jadi dia nggak bisa membedakannya.Orang tua Vina, yaitu kakek-nenekku, sudah lama meningga
Mendengar kalimat itu, Yuna pun langsung mengerti apa yang terjadi.Dia pura-pura bodoh dan berkata, "Ah, apakah serius? Perlukah kita memberikan vaksin rabies? Dokter Yanuar, kenapa kamu begitu ceroboh? Bagaimana bisa Zanny digigit anjing?"Yanuar menggertakkan giginya dan berkata dengan kasar, "Akulah anjing gila itu."Yuna mengerjapkan mata besarnya, "Kenapa kamu menggigitnya? Zanny berkulit tipis dan halus, tidak tahan gigitanmu. Ayo, tunjukkan padaku, dimana dia menggigitmu?"Yanuar tidak bisa menahan tawa yang nakal, "Semua orang bilang setelah melahirkan, wanita menjadi bodoh selama tiga tahun. Sepertinya benar-benar begitu. Hal sederhana seperti ini saja tidak bisa dilihat dengan jelas. Aku suka menggigitnya, apa salahnya?""Antara kamu suka menggigit dia atau kamu suka dia, itu dua konsep yang berbeda. Kalau kamu tidak suka dia, lain kali jangan sembarangan menggigit. Kalau dia sakit, bagaimana bisa Zanny menikah?"Yanuar baru mengerti setelah mendengar ini, dia menjilat gigi
Mendengar pertanyaan yang menusuk itu, Yanuar awalnya ingin bercanda dengan menjawab, "Kenapa bisa suka dia, dia galaknya minta ampun."Ketika kata-katanya hampir keluar dari mulutnya, dia tiba-tiba merasa ada yang tidak beres.Dia dan Zanny sudah lama bersama, tapi dia tidak pernah memikirkan pertanyaan itu.Hanya menjalin hubungan ketika merasa cocok, dan mengakhiri hubungan ketika merasa tidak cocok.Tidak pernah benar-benar bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya dipikirkan.Yanuar yang selalu hidup bebas dan tanpa beban, untuk pertama kalinya dihadapkan pada pertanyaan yang sulit dijawab.Di seberang sana, Wano tersenyum, "Kamu tahu, kamu sekarang sama persis sepertiku tiga tahun lalu? Saat itu, aku merasa Yuna dan aku cocok dan nyaman bersama, tapi aku nggak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius.""Itulah sebabnya kita berdua mengalami kesalahpahaman yang besar, sampai-sampai aku mengejar istriku sampai hampir ke kematian.""Apakah kamu ingin mengikuti apa yang te
Yuna berbicara dengan suara selembut rintik hujan.Dia tahu Zanny memiliki tekad yang kuat dan sedikit sombong.Dari sudut pandang orang luar, nampaknya Zanny memiliki perasaan terhadap Yanuar.Dia pasti sudah sering tidur dengannya.Zanny bukan orang yang mudah tergoda.Yuna tidak mengerti apa yang dipikirkan Zanny.Mendengar perkataannya, Zanny tersenyum tipis, "Baiklah, jangan khawatiri aku, fokuslah mengurus anak angkatku. Dua bulan lagi dia akan lahir, aku akan membantumu menyiapkan perlengkapan persalinan."Demi keamanan, Wano tidak mencarikan pelayan untuk Yuna.Ada beberapa hal yang kurang diperhatikan oleh Yudha, sebagai seorang pria tua.Setiap kali Zanny datang, dia selalu membawa beberapa perlengkapan bayi.Dua orang sedang berada di ruang tamu. Satu orang memegang ponsel dan membacakan daftar, sedangkan orang lainnya memasukkan barang-barang ke dalam tas persalinan.Sangat kompak.Wano masuk ke dalam ruangan dan melihat pemandangan seperti ini.Dia merasa sedih.Jika bukan
Mendengar kabar ini, Wano seketika mengerutkan keningnya.Awalnya, dia ingin menggunakan barang peninggalan kakek dan neneknya, lalu melakukan Tes DNA untuk membuktikan siapa Vina yang asli.Namun, jalan keluar yang baru saja dia temukan, langsung hancur oleh berita ini.Dia mengusap alisnya seraya bertanya dengan suara yang dalam, "Apa berita ini sudah dipastikan?""Tentu saja, nenekmu waktu itu melahirkan bayi yang sudah mati. Dia takut kakekmu akan mengusirnya dari rumah kalau tahu, jadi dia mengadopsi Vina dari panti asuhan dengan bantuan tetangga. Kakekmu nggak pernah mengetahui hal ini sampai dia meninggal."Mendengar hal itu, Wano hanya menggumam "Hmm" dengan datar, "Aku akan cari cara lain untuk menyelidikinya."Yogi menghela napas dan berkata, "Kalau benar ada dua Vina, seberapa mirip mereka sampai aku bahkan nggak bisa membedakannya.""Rencana ini pasti sudah disusun sejak lama. Karena berani mengirim orang itu ke sisi Ayah, mereka pasti sudah mempersiapkan segalanya. Mulai d
Zanny tersenyum getir, "Kami nggak ada hubungan apa-apa, kok. Aku nggak akan pernah mau bersamanya seumur hidupku.""Kalau dia memang serius, apa kamu nggak mau mempertimbangkannya?""Kapan kamu pernah lihat dia serius? Dia selalu santai dan cuek. Siapa pun yang akan bersamanya pasti akan mendapat sial."Zanny meletakkan masakan di atas meja, lalu mengelap tangannya sambil berkata, "Sudahlah, jangan ngomongin dia lagi. Menyebut namanya saja bisa membuatku kehilangan selera makan. Paman Yudha sudah repot-repot memasaknya, nih."Yudha keluar dari dapur dengan membawa semangkuk sup, kemudian dia berkata sambil tersenyum, "Biarkan saja cinta mengalir dengan alami, jangan memaksanya. Ayo makan dulu saja."Seusai makan, Wano membawa Yuna ke lantai atas untuk tidur siang.Setelah Yuna tertidur, dia langsung menuju penjara dengan membawa kalung itu untuk menemui Vina.Saat melihatnya, Vina tampaknya tidak terkejut sama sekali.Vina kemudian berkata seraya tersenyum sinis, "Oh, jadi kamu mencar
Detak jantung Wano mulai kembali normal secara perlahan setelah memikirkan kemungkinan ini.Dia menatap Vina tajam dengan wajah datar, "Di mana desain itu sekarang?"Vina tersenyum tipis, "Di hatiku.""Kamu pasti sudah merusaknya, 'kan?""Memangnya bagaimana menurutmu?"Dengan tingkah agresif Vina, dia yakin bahwa apa yang terjadi sekarang sesuai dengan dugaan lawan.Melihat keangkuhan Vina, Wano menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang telah mereka persiapkan sejak awal.Setelah keluar dari penjara, dia membawa kalung itu dan mencari Shelvi.Dia kembali mendapatkan gambar yang persis dengan milik Vina.Bahkan, gaya menggambar keduanya pun sama persis.Melihat kedua gambar tersebut, membuat Wano benar-benar kebingungan.Dia yakin bahwa ada sesuatu yang pasti dia lewatkan, sebuah hal penting yang harus ditemukan untuk membuat kemajuan dalam kasus ini.Tepat pada saat itu, ponsel Wano berdering. Dia segera menjawab panggilan itu setelah melihat siapa yang menelepon.Suara Zakri terdengar
Yuna segera mundur setelah Wano menyentuhnya.Dia menatapnya dengan ekspresi datar, lalu berkata, "Pak Wano, kita ini sudah bercerai, tolong jaga sikapmu. Saat ini aku sudah mempunyai pacar."Setelah mendengar perkataan Yuna, Wano merasa lega.Dia langsung tertawa dan berkata, "Beri aku waktu 20 menit."Selesai berbicara, dia berbalik badan dan pergi.Dari perkataan Yuna, Wano tahu bahwa wanita itu sedang memberi peringatan padanya agar tidak terlalu menampakkan kemesraan di tempat umum.Jika tidak, semuanya akan terungkap dan rencana mereka akan sia-sia.Tidak disangka ternyata Yuna mengakui Jeri sebagai pacarnya. Itu artinya Yuna sudah memaafkannya.Setelah memahami maksud dari perkataan Yuna, Wano pun pergi dan berjalan masuk ke mobilnya, kemudian menekan pedal gasnya dengan bersemangat.Dia pun kembali ke kompleks apartemen elit miliknya yang berlokasi di tengah kota.Apartemen di daerah itu dibangun dengan tinggi, luas masing-masing apartemen yang disewakan bisa mencapai 400 meter
Ternyata itu karena Yuaris sudah mengetahuinya sejak awal.Anak itu bahkan terus merahasiakannya.Dia hanya seorang anak kecil yang baru berusia dua tahun.Tapi dia harus menanggung beban seberat ini.Memikirkan hal itu, hati Yuna terasa semakin sakit.Dia memeluk kepala Yuaris dan menciumi wajahnya berkali-kali.Suaranya tersendat karena menangis. Dia berkata, "Sayang, Ibu yang seharusnya meminta maaf padamu. Ibu sudah lalai dan membiarkan ayahmu menipu Ibu selama dua tahun. Selama itu Ibu nggak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ibu. Ibu benar-benar sangat sedih."Yuaris juga menangis saat melihat Yuna menangis.Tangan kecil Yuaris menepuk kepala Yuna dengan pelan dan berkata, "Ibu, jangan menangis. Aku juga jadi ingin menangis kalau melihat Ibu sedih."Saat melihat anak dan ibu itu berpelukan dengan sedih, Maggie akhirnya tidak bisa menahan perasaannya lagi.Dia berjalan mendekati Yuna dan menepuk-nepuk punggungnya, lalu berkata, "Yuna, luka Yuaris belum pulih. Setelah efek biu
Air mata yang asin dan bercampur rasa darah memenuhi mulut Yuna.Dia tidak bisa melupakan rasa sakit di hatinya saat dirinya kehilangan bayinya dua tahun lalu. Dia tidak akan pernah bisa melupakan rasa kecewa saat melihat mayat bayinya.Hampir setiap malam dia memimpikan hal yang sama selama dua tahun.Dia bermimpi anak yang sudah meninggal itu memanggilnya dengan sebutan ibu.Keesokan pagi setiap terbangun dari tidur, bantalnya selalu basah.Rasa rindu yang terus terulang setiap hari dan rasa sakitnya yang semakin bertambah itu menyebabkan depresinya kambuh.Ternyata semuanya palsu.Selama ini ternyata bayi yang dikira sudah tiada itu selalu berada di sampingnya.Yuna tidak hanya tidak memberinya ASI secara eksklusif, tapi juga merasa gagal memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.Dia dengan bodohnya juga mengira bahwa Yuaris menyukainya hanya karena keakraban mereka.Ternyata itu adalah ikatan batin antara ibu dan anak.Betapa bodohnya Yuna yang selama ini tidak menyadari ikat
Terlebih lagi, pada saat itu, dia juga melihat bahwa jenazah bayinya memang sekecil itu.Yuna terus merasa ada yang tidak beres selama dua tahun terakhir.Mengapa saat pemeriksaan kehamilan dokter mengatakan bahwa ukuran tubuh bayi Yuna normal?Mengapa bayinya ternyata berukuran kecil ketika lahir?Ternyata, bayi yang dia lihat saat itu bukanlah anaknya.Namun, dia adalah anak dengan penyakit jantung yang ada dalam perut Maggie.Selain itu, Wano sengaja membuat bayinya diasuh oleh Maggie.Untuk menghindari perhatian orang-orang jahat.Jadi, Yuaris adalah bayinya.Itu sebabnya golongan darahnya sama dengan Yuaris, yaitu Rh-negatif.Yuna tak bisa menahan air matanya lagi saat menyadari semua ini.Melihat ekspresi panik dan kebingungan Maggie, membuat air mata Yuna tak bisa berhenti mengalir.Dia menahan semua rasa sakit dan kepiluan dalam hatinya.Dia melihat Maggie dan Xena seraya berkata, "Kak Maggie, Kak Xena, terima kasih."Dengan kalimat sederhana itu, mereka semua langsung memahami
Mendengar ucapannya, raut wajah Maggie seketika berubah. Dia pun buru-buru menarik lengan Yuna seraya berkata, "Kamu nggak boleh melakukannya."Saking cemasnya, perkataannya terdengar melengking.Yuna memandangnya dengan kebingungan, "Kenapa nggak boleh? Kita ini saudara dan Yuaris itu anakmu. Aku bisa saja mendonorkan darah dalam situasi medis yang darurat begini."Mendengar perkataan Yuna, sang dokter pun berkata, "Kalau memang begitu, ini bisa jadi tindakan darurat. Dengan begitu, anak itu nggak perlu menunggu terlalu lama dan ini bisa meringankan rasa sakitnya.""Itu juga nggak boleh. Pokoknya kalau aku bilang nggak bisa, berarti nggak bisa. Dia anakku, aku nggak mau ada kesalahan terjadi padanya. Bagaimana kalau tubuhnya menolak? Yuaris masih sangat kecil."Yuna merasa bingung dan tak mengerti dengan keanehan pemikiran Maggie.Maggie biasanya bukan orang yang seperti ini.Dia juga begitu menyayangi Yuaris.Bahkan, dokter pun menyatakan kalau hal itu diperbolehkan, lantas mengapa d
Yuaris mengangguk berkali-kali.Melihat bayangan mereka yang pergi, membuat mata besarnya terus bergerak.Bagaimana caranya agar sang tante tidak mengetahui kebenarannya?Dokter Sari bersiap untuk memeriksa Yacob.Tiba-tiba saja dia bertanya, "Pengacara Yuna, apa kamu yakin ini anaknya? Bukan yang di luar sana?"Yuna sedikit kebingungan, "Kenapa? Ada yang salah?""Anak ini nggak punya bekas luka sedikit pun, jadi dia nggak pernah menjalani operasi."Hati Yuna agak berdesir ketika mendengarkan kata-kata itu, "Mungkinkah kakakku takut anak itu punya bekas luka, jadi dia melakukan operasi penghilang bekas luka?"Sari memeriksa tubuh Yacob dengan alatnya dan berkata, "Aku bisa memastikan kalau anak ini nggak punya penyakit jantung dan belum pernah melakukan operasi apa pun. Mereka berdua kembar, jangan-jangan kamu salah orang.""Nggak mungkin, mereka berdua bukan kembar identik, jadi sudah berbeda sejak kecil. Mana mungkin aku nggak mengenali mereka.""Kalau begitu, ini aneh. Anak itu sebe
Pada saat ini, ponsel Zanny berdering.Dia melihat layar ponselnya dan menerima telepon dari Yuna."Yuna.""Zanny, apa kamu sudah mendapatkan buktinya?""Sudah, aku akan segera mengirimkannya padamu.""Oke, serahkan semua urusan ini padaku."Mereka berdua mengobrol sebentar sebelum Yuna mengakhiri percakapan mereka.Yuna menatap dua bocah di depannya dan berkata, "Tante mau pergi kerja, kalian bermain saja dulu dengan pelayan dan Kakek. Sebentar lagi Nenek cantik akan tiba. Main yang tenang dan jangan lari-lari, mengerti?"Yuaris dan Yacob mengangguk berkali-kali, lalu berkata, "Kami mengerti, Tante bisa berangkat kerja dengan tenang."Yuna mengatakan sesuatu pada pelayan sebelum akhirnya pergi dengan mengendarai mobilnya.Hari ini dia akan pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraian kliennya yang merupakan seorang dokter anak.Suami klien itu berselingkuh dan diam-diam memindahkan harta bersama yang sudah mereka kumpulkan.Demi mendapatkan hak asuh anak, mereka bertengkar dengan sen
Setelah mendengar perkataan Yuna, mata Zanny memancarkan rasa sakit yang tidak terlukiskan.Selama dua tahun, dia mampu menyembunyikan penderitaannya dengan baik.Dia pikir tidak ada orang yang bisa mengetahui pikirannya.Siapa sangka ternyata Yuna bisa menebaknya dengan tepat.Dia meremas jari Yuna dengan pelan dan menggelengkan kepalanya.Hanya dengan satu gerakan, Yuna bisa mengetahui apa yang ingin dikatakan Zanny.Dia segera mengangguk dan berkata, "Jangan khawatir, aku tahu apa yang harus kulakukan."Pada saat ini, Yanuar tiba-tiba mendorong pintu dan masuk.Saat melihat Zanny yang sudah siuman, dia segera berjalan ke samping kasur.Dia menatap Zanny dengan emosi yang tidak bisa digambarkan.Dia dengan suara serak bertanya, "Zanny, bagaimana keadaanmu?"Mata Zanny yang semula berlinang air mata itu langsung terlihat dingin saat melihat Yanuar.Dia menundukkan pandangannya dan melengkungkan sedikit bibirnya.Zanny memang sedang tersenyum, tapi Yanuar merasa bahwa mantan kekasihnya
Saat bisa melihat kembali ekspresi marah Yuna, Wano tersenyum bahagia.Tangannya yang besar membelai telinga Yuna, dia dengan suara rendah berkata, "Ayo umpat aku sekali lagi!""Dasar bajingan tengik!"Yuna mengumpat Wano sekali lagi tanpa ragu.Dia tidak hanya ingin mengumpatnya, tapi juga ingin menggigitnya sekeras mungkin.Jika bukan karena Wano menggoda Yuna seperti siluman rubah, wanita itu tidak harus menunjukkan ekspresi memalukannya di depan Wano.Saat dirinya bisa kembali mendengarkan umpatan yang sudah tidak asing baginya, Wano tertawa dan memeluk wanita itu dengan erat.Wano berbaring di pundak Yuna, ada emosi tak tertahankan yang terdengar dari suaranya.Ada perasaan bersemangat sekaligus kesedihan yang didominasi oleh rasa sakit hati."Akhirnya Yunaku kembali."Yuna yang suka memukul, mengumpat dan memarahinya akhirnya kembali seperti sedia kala.Tangan besar Wano membelai kepala Yuna dengan lembut, dia sekali lagi berkata dengan suara lembut. "Untuk seterusnya, kamu seper