Nick menatapnya lekat, matanya menyiratkan pemahaman, meski Hazel bisa melihat secercah ketegangan di sana.“Aku tidak meminta kita berpura-pura, Hazel. Aku ingin kita memulai kembali dengan cara yang lebih baik.”Hazel terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu meyakinkan, tetapi ada ketakutan di dalam dirinya—ketakutan bahwa jika ia memberikan kesempatan lagi, mereka berdua akan kembali terluka.Nick menyandarkan punggungnya ke sofa, mengusap wajahnya dengan satu tangan.Hazel menunduk, jemarinya mengusap tepi cangkir tanpa sadar.“Aku tidak akan memaksamu, Hazel. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku serius.”Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Hazel percaya. Tetapi, apakah kepercayaan itu cukup?Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun sekarang, Nick.”Nick tersenyum kecil, meski Hazel bisa melihat ada ketegangan di balik senyum itu. “Itu sudah cukup untukku.”Mereka kembali terdiam. Hanya suara detak jam yang terdengar di antara mereka.Nick melirik jam
Pertanyaan itu membuat Hazel terdiam. Ia tidak terkejut, karena cepat atau lambat Nick pasti akan mengetahuinya. Ia menatap Nick, memilih kata-katanya dengan hati-hati.“Aku tahu,” akhirnya Hazel mengaku.Nick mengepalkan tangannya di atas meja. “Dan kau tidak berpikir untuk memberitahuku lebih awal?”Hazel menghela napas. “Aku tidak ingin keputusanmu dipengaruhi oleh masa lalu, Nick. Aku ingin kau mempertimbangkannya secara profesional.”Nick tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Profesional?”Hazel tetap tenang. “Ya. Aku tahu kau dan Clara punya sejarah. Tapi aku juga tahu kau cukup profesional untuk memisahkan urusan pribadi dari pekerjaan.”Nick menatap Hazel, seakan mencari sesuatu di matanya. “Dan bagaimana denganmu?”Hazel mengerjap. “Apa maksudmu?”Nick bersandar ke kursinya, menatapnya dengan intens. “Kau benar-benar tidak keberatan aku bekerja dengan mantan kekasihku? Wanita yang menjadi pelarianku setelah aku kehilanganmu?”Pertanyaan itu menusuk sesuatu di dala
Hari pertama syuting dimulai dengan atmosfer yang penuh antusiasme. Para kru berlalu-lalang, mempersiapkan set dengan teliti, sementara para pemain berdiskusi dengan sutradara. Hazel berdiri di sudut ruangan, memperhatikan Nick yang tengah berbincang dengan lawan mainnya—Clara. Tatapan Hazel tajam, bukan karena cemburu, tapi lebih kepada rasa waspada. Ia tahu sejarah antara Nick dan Clara, dan instingnya mengatakan bahwa bekerja sama dalam proyek ini bisa menjadi bumerang bagi Nick. Nick tampak profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan atau keterikatan emosional dengan Clara. Ia sesekali tersenyum, tetapi jelas bahwa ada batas yang ia jaga. Sementara itu, Clara tampak lebih santai, bahkan cenderung menggoda dengan sikapnya yang akrab. "Hazel," panggil seorang staf produksi, membuat Hazel mengalihkan perhatiannya. "Sutradara ingin memastikan jadwal Nick untuk minggu ini." Hazel mengangguk, segera mengecek ponselnya untuk memastikan tidak ada bentrokan jadwal. "Baik, aku
Syuting selesai, ketika dalam perjalanan pulang menuju apartemen Hazel…Nick melirik sekilas ke arah Hazel yang duduk di kursi penumpang. Gadis itu menatap lurus ke depan, ekspresinya sulit ditebak. Biasanya, setelah syuting selesai, mereka akan mengobrol ringan—membahas akting Nick, atau sekadar bercanda tentang kru di lokasi. Tapi malam ini, Hazel hanya diam.Nick mengetuk setir mobil dengan jemarinya, mencoba memecah keheningan."Kau baik-baik saja?"Hazel tersentak kecil, seolah baru menyadari bahwa Nick berbicara padanya."Hm?"Ia menoleh sebentar sebelum kembali menatap jalanan yang diterangi lampu kota."Ya, aku baik-baik saja."Jawaban itu terdengar terlalu cepat, terlalu datar. Nick menghela napas, melirik Hazel lagi sebelum kembali fokus pada jalan."Kau kelihatan... berbeda."Hazel tersenyum tipis, meski senyumnya tidak sampai ke mata."Hanya lelah. Syutingnya panjang hari ini."Nick tidak langsung menjawab. Ia tahu Hazel cukup profesional untuk tidak membawa masalah pribad
"Kami tidak bisa mempertahankan kamu lagi, Hazel."Kata-kata itu menghantam Hazel seperti petir di siang bolong."Apa maksud Anda?" suaranya serak, tapi ia berusaha tetap tegar.Mr. Graham menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke kursi."Zhe Entertainment tidak bisa lagi menoleransi tindakan tidak profesional yang kamu lakukan."Hazel mengerutkan kening, kebingungan."Tidak profesional?" ulangnya. "Apa memangnya yang aku lakukan?"Ruangan terasa semakin sempit. Tatapan beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu terasa menusuk, namun tidak ada satu pun yang berani menatap matanya secara langsung. Mereka hanya menunduk, seakan tidak ingin terlibat."Banyak keluhan yang masuk terkait cara kerja kamu. Beberapa artis mengaku kamu menyulitkan proses produksi, bahkan tidak memberikan dukungan yang mereka butuhkan," lanjut Mr. Graham.Hazel terbelalak."Itu tidak masuk akal! Aku bekerja lebih keras dari siapa pun di sini!""Kami sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Keputusan ini
Hazel mengepalkan tangannya di atas pahanya. Ia tahu ini bukan tentang kinerjanya. Bukan tentang kemampuannya. Ini tentang apa yang telah dilakukan Kevin dan Naila untuk menghancurkannya.“Aku bisa bekerja lebih keras. Aku bisa membuktikan—”“Bukan itu masalahnya, Hazel.”Pria itu menatapnya dengan sorot simpati, tetapi bagi Hazel, simpati itu tidak ada gunanya.“Kami hanya tidak ingin berurusan dengan seseorang yang… punya rekam jejak buruk.”Rekam jejak buruk?Hazel menggigit bibirnya. Ia tahu persis dari mana asal ‘rekam jejak’ yang dimaksud. Kevin dan Naila telah bekerja dengan sangat baik dalam menyebarkan narasi yang salah tentang dirinya.Ia menghela napas dan berdiri.“Baiklah. Terima kasih sudah meluangkan waktu.”Ia tidak menunggu jawaban sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.Di luar, Hazel berdiri di tepi jalan, memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Skyreach City sibuk seperti biasa, tetapi bagi Hazel, kota ini tiba-tiba terasa lebih sempit
Nada suaranya terdengar santai, tapi Hazel bisa menangkap sesuatu di baliknya—sindiran halus yang membuat tengkuknya meremang. Ia menguatkan dirinya, menegakkan bahu, dan membalas tatapan pria itu tanpa gentar.“Ya, sudah lama, Nicholas.”Nicholas melangkah masuk, gerakannya santai tetapi penuh kontrol. Seolah-olah ia adalah raja di tempat ini—dan mungkin memang benar. Ia duduk di kursi di seberang Hazel, menyilangkan kakinya, lalu menoleh ke arah Arthur.“Jadi, ini manajer baru yang kau pilih untukku?”Arthur mengangguk tanpa ragu.“Ya. Kami percaya Hazel adalah orang yang tepat untuk menangani kariermu.”Nicholas terkekeh pelan, nadanya terdengar meremehkan.“Lucu. Karena setahuku, dia lebih pandai menangani hubungan daripada karier.”Hazel mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi yang hampir meledak. Ia tahu Nicholas masih menyimpan dendam, tapi tidak menyangka pria itu akan langsung menyerangnya seperti ini.Arthur menatap keduanya bergantian, menyadari ketegangan yang m
Terdengar tawa kecil dari Noah.“Itu artinya kau kini memiliki tantangan baru?”Lift terbuka. Hazel melangkah masuk, menekan tombol menuju lantai dasar. Ponselnya masih menempel di telinga.“Ya, aku rasa begitu,” diiringi dengan helaan napas berat.Hazel menyandarkan punggung ke dinding lift. “Aku hanya berharap ini tidak menjadi keputusan yang kusesali nanti.”“Dengar, tidak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Yang penting, kau bisa kembali ke industri ini dan membuktikan dirimu lagi.”Dentingan lembut terdengar saat lift sampai di lantai dasar. Hazel melangkah keluar, menggenggam ponselnya erat.“Ya, aku akan membuktikannya,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.*Hari pertama Hazel sebagai manajer Nick seharusnya berjalan lancar, namun pria itu justru sengaja mempersulit pekerjaannya.“Kau tidak berubah, Hazel.”Hazel menutup mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik. Nick bersandar santai di sofa ruang tunggu, mengenakan kaus putih polos dan
Syuting selesai, ketika dalam perjalanan pulang menuju apartemen Hazel…Nick melirik sekilas ke arah Hazel yang duduk di kursi penumpang. Gadis itu menatap lurus ke depan, ekspresinya sulit ditebak. Biasanya, setelah syuting selesai, mereka akan mengobrol ringan—membahas akting Nick, atau sekadar bercanda tentang kru di lokasi. Tapi malam ini, Hazel hanya diam.Nick mengetuk setir mobil dengan jemarinya, mencoba memecah keheningan."Kau baik-baik saja?"Hazel tersentak kecil, seolah baru menyadari bahwa Nick berbicara padanya."Hm?"Ia menoleh sebentar sebelum kembali menatap jalanan yang diterangi lampu kota."Ya, aku baik-baik saja."Jawaban itu terdengar terlalu cepat, terlalu datar. Nick menghela napas, melirik Hazel lagi sebelum kembali fokus pada jalan."Kau kelihatan... berbeda."Hazel tersenyum tipis, meski senyumnya tidak sampai ke mata."Hanya lelah. Syutingnya panjang hari ini."Nick tidak langsung menjawab. Ia tahu Hazel cukup profesional untuk tidak membawa masalah pribad
Hari pertama syuting dimulai dengan atmosfer yang penuh antusiasme. Para kru berlalu-lalang, mempersiapkan set dengan teliti, sementara para pemain berdiskusi dengan sutradara. Hazel berdiri di sudut ruangan, memperhatikan Nick yang tengah berbincang dengan lawan mainnya—Clara. Tatapan Hazel tajam, bukan karena cemburu, tapi lebih kepada rasa waspada. Ia tahu sejarah antara Nick dan Clara, dan instingnya mengatakan bahwa bekerja sama dalam proyek ini bisa menjadi bumerang bagi Nick. Nick tampak profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan atau keterikatan emosional dengan Clara. Ia sesekali tersenyum, tetapi jelas bahwa ada batas yang ia jaga. Sementara itu, Clara tampak lebih santai, bahkan cenderung menggoda dengan sikapnya yang akrab. "Hazel," panggil seorang staf produksi, membuat Hazel mengalihkan perhatiannya. "Sutradara ingin memastikan jadwal Nick untuk minggu ini." Hazel mengangguk, segera mengecek ponselnya untuk memastikan tidak ada bentrokan jadwal. "Baik, aku
Pertanyaan itu membuat Hazel terdiam. Ia tidak terkejut, karena cepat atau lambat Nick pasti akan mengetahuinya. Ia menatap Nick, memilih kata-katanya dengan hati-hati.“Aku tahu,” akhirnya Hazel mengaku.Nick mengepalkan tangannya di atas meja. “Dan kau tidak berpikir untuk memberitahuku lebih awal?”Hazel menghela napas. “Aku tidak ingin keputusanmu dipengaruhi oleh masa lalu, Nick. Aku ingin kau mempertimbangkannya secara profesional.”Nick tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Profesional?”Hazel tetap tenang. “Ya. Aku tahu kau dan Clara punya sejarah. Tapi aku juga tahu kau cukup profesional untuk memisahkan urusan pribadi dari pekerjaan.”Nick menatap Hazel, seakan mencari sesuatu di matanya. “Dan bagaimana denganmu?”Hazel mengerjap. “Apa maksudmu?”Nick bersandar ke kursinya, menatapnya dengan intens. “Kau benar-benar tidak keberatan aku bekerja dengan mantan kekasihku? Wanita yang menjadi pelarianku setelah aku kehilanganmu?”Pertanyaan itu menusuk sesuatu di dala
Nick menatapnya lekat, matanya menyiratkan pemahaman, meski Hazel bisa melihat secercah ketegangan di sana.“Aku tidak meminta kita berpura-pura, Hazel. Aku ingin kita memulai kembali dengan cara yang lebih baik.”Hazel terdiam. Kata-kata itu terdengar begitu meyakinkan, tetapi ada ketakutan di dalam dirinya—ketakutan bahwa jika ia memberikan kesempatan lagi, mereka berdua akan kembali terluka.Nick menyandarkan punggungnya ke sofa, mengusap wajahnya dengan satu tangan.Hazel menunduk, jemarinya mengusap tepi cangkir tanpa sadar.“Aku tidak akan memaksamu, Hazel. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku serius.”Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Hazel percaya. Tetapi, apakah kepercayaan itu cukup?Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun sekarang, Nick.”Nick tersenyum kecil, meski Hazel bisa melihat ada ketegangan di balik senyum itu. “Itu sudah cukup untukku.”Mereka kembali terdiam. Hanya suara detak jam yang terdengar di antara mereka.Nick melirik jam
Hazel mengerjap, dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas. “Nick, kita sudah melewati banyak hal. Aku—”“Aku tahu,” potong Nick cepat. Ia menggenggam kedua tangan Hazel, seolah takut Hazel akan menjauh. “Aku akan lupakan segalanya, maksudku, kesalahanmu di masa lalu. Aku tidak akan pernah mengungkitnya sama sekali.”Hazel terdiam, jari-jarinya sedikit gemetar dalam genggaman Nick.“Kalau kau butuh waktu, aku akan menunggu,” lanjut Nick dengan suara lebih lembut. “Tapi aku ingin kau tahu… aku serius, Hazel.”Hening.Hazel menelan ludahnya, mencoba merangkai kata-kata di kepalanya. Namun sebelum ia sempat merespons, suara petir menggelegar di luar sana, disusul oleh rintik hujan yang mulai turun deras.Nick menoleh ke arah jendela sebelum kembali menatap Hazel. “Bolehkah aku masuk?”Hazel terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengangguk dan melangkah ke samping, membiarkan Nick masuk ke dalam apartemennya.Nick berjalan masuk, melirik sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju pada tr
Malam semakin larut saat mobil Nick berhenti di depan gedung apartemen Hazel. Lampu-lampu kota masih berpendar, menciptakan bayangan temaram di kaca jendela.Hazel melepas sabuk pengamannya, bersiap turun. Namun, sebelum sempat membuka pintu, Nick meraih tangannya dengan lembut. Sentuhan itu membuatnya refleks menoleh, menatap pria di sampingnya dengan penuh tanya.Nick menatapnya dalam, lalu mengangkat sesuatu dari jok belakang—piala emas yang baru saja ia menangkan. Dengan ekspresi serius, ia menyodorkannya ke arah Hazel.“Kau melupakan ini,” ucapnya pelan.Hazel mengernyit. “Nick, itu milikmu.”Nick tersenyum miring, jemarinya masih menggenggam erat trofi tersebut. “Apa yang menjadi milikku, juga milikmu, Hazel.” Suaranya terdengar dalam, nyaris seperti bisikan. “Aku ingin kau menyimpannya.”Hazel terdiam. Ada sesuatu di mata Nick—sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Perasaan hangat menjalar di dadanya, namun ia menahannya rapat-rapat.Setelah beberapa detik hening, Hazel akhirnya m
Satu per satu nominasi diumumkan, diiringi tepuk tangan dan sorakan antusias. Hazel sesekali melirik Nick, yang tampak begitu tenang. Seakan tak peduli, padahal Hazel tahu persis bahwa ini adalah momen penting baginya.Dan akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba.“Saatnya kita umumkan pemenang untuk kategori Aktor Terbaik Tahun Ini.”Seorang presenter berdiri di panggung, memegang amplop emas dengan senyum penuh antisipasi. Para tamu mulai berbisik, menebak-nebak siapa yang akan membawa pulang penghargaan prestisius tersebut.Hazel menggenggam tangannya sendiri tanpa sadar.“Dan pemenangnya adalah…”Seketika ruangan terasa sunyi, hanya suara presenter yang terdengar saat ia membuka amplop.“Nicholas Alexander!”Sontak, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Sorot lampu panggung langsung mengarah ke Nick, yang masih duduk di tempatnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Baginya, ini bukanlah kemenangan pertamanya. Sebelumnya, Nick sudah membawa pulang puluhan piala. Namun, malam ini
Hazel mencoba menahan rasa gugupnya. Sejak awal, ia sudah tahu bahwa dunia Nick dipenuhi dengan sorotan seperti ini, tapi mengalaminya sendiri tetap saja membuatnya canggung.Saat mereka akhirnya masuk ke dalam ballroom, Hazel buru-buru menarik tangannya dari genggaman Nick."Kau membuat semuanya jadi lebih sulit," bisiknya kesal.Nick terkekeh."Salahmu sendiri karena terlalu cantik malam ini."Hazel mendelik, tapi sebelum sempat membalas, seorang staf acara menghampiri mereka."Mr. Alexander, silakan menuju meja Anda. Acara akan segera dimulai."Nick mengangguk, lalu menoleh pada Hazel."Ikut aku."Hazel menghela napas. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.—Di sisi lain ruangan, seseorang menatap Hazel dengan tatapan tajam.Naila.Ia mengepalkan tangannya di atas meja, menyadari bahwa Hazel tidak hanya kembali ke industri ini, tapi juga berhasil masuk ke dalam lingkaran elite.Ia tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.Dengan senyum dingin, ia mengangkat gelas samp
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya santai, matanya bergantian melihat Hazel dan Pak Adrian.Pak Adrian menepuk bahu Nick dengan bangga."Aku hanya memuji manajermu yang luar biasa ini. Dia benar-benar berhasil menjinakkan si pemberontak."Nick menaikkan sebelah alisnya sebelum menatap Hazel dengan ekspresi menggoda."Oh? Jadi sekarang aku dijinakkan?"Hazel memutar matanya."Setidaknya kau jadi lebih mudah diajak kerja sama. Itu jauh lebih baik daripada harus berdebat setiap hari."Nick menyeringai. "Mungkin aku hanya lebih suka kalau kau yang memberikan perintah."Hazel mendesah, mengabaikan kilasan panas yang tiba-tiba merayapi wajahnya.Pak Adrian tertawa kecil."Teruskan kerja bagus kalian. Aku ingin syuting kita tetap seefisien ini sampai akhir."Setelah mengangguk, sang sutradara pun pergi, meninggalkan Hazel dan Nick berdua.Nick memasukkan tangannya ke dalam saku, menatap Hazel dengan ekspresi yang sulit diartikan."Jadi? Apa aku sudah menjadi aktor yang baik sekarang?"Haz