Tangan kanan Manggala menggenggam erat tangan kiri Aira erat, sedangkan satu tangan lainnya memegang stroller, di mana Enzo tertidur pulas. "Apa kamu siap, Ra?" tanya Manggala dengan senyum terkembang. "Rumahnya bagus sekali, Ngga," sahut Aira ragu dengan tatapan mata tak lepas dari bangunan bergaya modern minimalis dua lantai di depannya. Manggala tersenyum puas. Baginya, kebahagiaan Aira adalah segalanya. Apalagi saat melihat Aira menyukai kejutan darinya, Manggala merasa sangat lega. Fokus Aira sama sekali tak lepas dari rumah bercat putih itu. Perlahan, dia melangkahkan kaki, melewati jalan setapak yang membelah halaman berumput, lalu menaiki tangga teras. Aira membuka pintu depan yang memang sengaja tak dikunci. Saking antusiasnya, dia sampai melupakan Enzo yang masih terlelap di stroller. "Wah, Ngga! Ini kan hasil foto-fotoku saat kita bulan madu di New Zealand!" seru Aira nyaring. Matanya membulat memindai setiap bingkai foto berukuran besar yang terpajang di dinding r
Aira lebih banyak termenung setelah Stephen McMahon alias Mr. Jungle berpamitan. Bahkan saat Manggala mengajaknya berbelanja bahan makanan dan kebutuhan dapur, Aira hanya menanggapi sekenanya saat sang suami bertanya."Perabot di rumah ini sudah lengkap, Ra. Kita tinggal menempati saja. Aku juga menyewa orang untuk membersihkan rumah setiap hari. Kamu jadi tidak perlu repot-repot memikirkan pekerjaan rumah,"tutur Manggala."Terima kasih." Aira tersenyum samar, lalu meninggalkan Manggala yang kebingungan melihat sikapnya yang tak biasa."Kamu kenapa, Sayang?" tanya Manggala keheranan."Tidak apa-apa." Aira menggeleng lemah sebelum membalikkan badan menuju kamar Enzo. Dibukanya pintu kamar bercat biru itu perlahan agar tak menimbulkan suara. Aira mengintip putra semata wayangnya yang nyenyak tertidur di dalam tempat tidur anak berukuran besar. Di sekeliing tempat tidur itu sudah terpasang pelindung berbentuk pagar yang akan menjaga bayi gembulny
"Stephen melihat ada sesuatu dari diriku yang mengingatkannya pada David. Dia menyukaiku sejak pertama kami bertemu, Ra," ungkap Manggala seraya membelai lembut punggung polos Aira. Keduanya kini tengah berpelukan dalam keadaan telanjang setelah melalui percintaan panas. Tubuh dua sejoli itu hanya ditutupi oleh selimut tipis berwarna putih. "Hm." Aira mengempaskan napas panjang. “Terus?” "Dia berkata kalau David hidup dalam diriku." Manggala menjelaskan sembari terkekeh. "Tuh, kan! Dia aneh sekali," gerutu Aira. "Ayolah, Ra," bujuk Manggala. "Ayolah, Ngga. Aku nggak mau kamu terjebak dengan konglomerat gila lagi. Nanti hidupmu disetir lagi, dihancurkan lagi seperti ...." Kalimat Aira mengambang, sebab Manggala lebih dulu mencium bibirnya. "Serah terima aset sudah dilakukan. Aku sudah sah menjadi pewaris Mr. Jungle satu-satunya," potong Manggala setelah melepaskan tautan bibirnya. "A-apa!" pekik Aira. Syok dan tak menyangka jika secepat itu Stephen akan mengikat sang suami.
"Ada-ada saja kamu, Ibra." Aira tertawa renyah. "Bukannya baru dua hari lalu kamu datang ke studio?""Maunya sih, ketemu tiap hari," sahut Ibra enteng, seolah tanpa beban. Seketika Aira terdiam. Teringat olehnya perkataan Mira beberapa waktu lalu. Tantenya itu meminta Aira untuk waspada terhadap Ibra. Aira sempat tak menanggapi kekhwatiran sang tante yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun, setelah dipikir-pikir, Ibra memang terlihat berbeda. Perhatian yang diberikan lebih dari sekadar perhatian seorang adik.Dalam kegamangan itu, tiba-tiba dua tangan kekar melingkari perut rata Aira. "Siapa yang telepon?" bisik seseorang yang tak lain adalah Manggala.Sengaja pria tampan itu mendekatkan bibir di telinga Aira yang tak ditempeli ponsel. Sambil mengecup dan menggigit pelan daun telinga Aira, kembali Manggala bertanya, "Ibra, ya? Untuk apa dia telepon pagi-pagi?"Aira tak menjawab. Dia malah fokus pada panggilan yang belum berakhir. "Ibra, terima kasih perhatiannya. Nanti sore, aku a
"Aku memang kagum pada Kak Aira awalnya," ungkap Ibra lesu sambil diam-diam melirik sang kakak yang duduk menekuk lutut di sampingnya. Dua bersaudara itu memilih menepi, duduk berkalang tanah di tengah-tengah tanaman hias Imelda yang tumbuh subur di taman belakang. "Lalu? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Manggala sinis. "Aku sendiri juga tidak tahu." Ibra tertawa getir. Manggala turut tertawa. "Aku suka melihat ketegarannya. Padahal waktu itu dia hancur sehancur-hancurnya saat mendengar berita kematianmu. Kak Aira selalu menampakkan senyuman manis, berusaha menunjukkan kalau dia kuat dan baik-baik saja," ungkap Ibra panjang lebar. "Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir. Dia selalu berusaha menguatkan orang-orang di sekitarnya, walaupun sebenarnya Kak Aira lah yang paling butuh dikuatkan." Ibra menarik napas panjang setelah berhasil mengeluarkan semua yang dipendam dalam hati. "Dan di saat aku jauh, kamu berusaha mendekati Aira. Kamu ingin mengambil posisi kosong y
Manggala langsung mencegah lengan Aira yang hendak menghampiri Mira. "Jangan," bisiknya sambil menggeleng pelan. "Kenapa?" tanya Aira. "Sepertinya Tante Mira dan Alex sedang kencan," jawab Manggala lirih. "Oh!" Aira membulatkan bibir. Diamatinya dua sejoli itu dari kejauhan. Mira tampak tersipu sambil sesekali menyentuh punggung tangan Alex yang memegang gelas. "Ah, tapi aku tidak tahan untuk tidak menyapa!" Aira mengabaikan larangan Manggala. Dia malah berlari mendekat dan menyapa sang tante. "Halo! Sedang apa Tante di sini?" sapa Aira ceria. "E-eh, Aira!" Mira tak dapat menyembunyikan sikap gugupnya. Demikian pula Alex yang terlihat serba salah. "Kamu sendiri ngapain di sini?" Mira balas bertanya. "Bunda dan Papa Bayu mengajak kami makan malam bersama, Tante," ucap Aira. "Oh, ya? Enzo mana?" Mira mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Dia sedang bersama Ibra dan orang tua saya di lantai dua, Tante," sahut Manggala sopan. "Oh, begitu." Senyum kaku Mira tak lepa
“Aku menikahi wanita itu secara siri. Beberapa minggu setelah kita menikah.” Ucapan tenang sang suami bagaikan petir yang langsung menyambar tubuh Aira. “Menikah?” tanya wanita itu dengan suara gemetar. Jati sudah tak pulang dua hari. Pria itu beralasan menginap ke luar kota untuk menyelesaikan masalah bisnis. Tapi, Aira malah mendapat kabar bahwa pria itu menghabiskan waktunya dengan wanita lain di hotel. Dan begitu dikonfrontasi, Jati justru mengaku bahwa sudah menikahi wanita itu? Bagaimana bisa? “Senja dan aku sudah berpacaran sejak lama, tapi Ibu tidak setuju dan justru memaksaku menikah denganmu. Aku tak ingin mengecewakan Ibu, sehingga aku terpaksa menyetujui. Tapi, aku juga tak bisa meninggalkan Senja begitu saja,” ungkap Jati, "aku sangat mencintainya." Deg! “Brengsek kamu, Kak,” geram Aira. Tangannya terkepal dengan seluruh tubuh bergetar. “Kamu tidak ingin mengecewakan Ibu, tapi kamu hancurkan hidupku. Begitukah?” “Aku minta maaf, Ra. Aku memang salah,” ucap Jat
Manggala Naradipta, nama pria yang berhasil dirusak hatinya oleh Aira. Sosok dan penampilannya masih tetap sama sejak terakhir mereka bertemu, bahkan sekarang jauh lebih tampan. Bedanya, kini tak ada lagi sorot mata penuh cinta yang dilayangkan oleh pria itu, melainkan tatapan tajam penuh kebencian. Aira tahu bahwa Manggala sama terkejutnya dengan dia. Dapat dilihat dari pupil mata gelap pria itu yang melebar. Alis sedikit tebal dan rapi yang terangkat, serta bibir tipis kemerahan yang setengah terbuka saat melihat Aira masuk ke ruangan, lalu berdiri tepat di mejanya. "Helen, tinggalkan kami berdua," titah Manggala pada sang sekretaris. "Baik, Sir." Wanita bernama Helen itu sigap menuruti apa kata bosnya. Dia bergegas keluar dari ruang kerja Manggala, kemudian menutup pintu rapat-rapat. Keringat dingin mengucur deras dari dahi Aira, menyadari bahwa kini dirinya hanya berdua dengan Manggala. "Apa-apaan ini?" desis Manggala tak suka. "Sejak kapan kamu ganti nama menjadi Lauren Smit
Manggala langsung mencegah lengan Aira yang hendak menghampiri Mira. "Jangan," bisiknya sambil menggeleng pelan. "Kenapa?" tanya Aira. "Sepertinya Tante Mira dan Alex sedang kencan," jawab Manggala lirih. "Oh!" Aira membulatkan bibir. Diamatinya dua sejoli itu dari kejauhan. Mira tampak tersipu sambil sesekali menyentuh punggung tangan Alex yang memegang gelas. "Ah, tapi aku tidak tahan untuk tidak menyapa!" Aira mengabaikan larangan Manggala. Dia malah berlari mendekat dan menyapa sang tante. "Halo! Sedang apa Tante di sini?" sapa Aira ceria. "E-eh, Aira!" Mira tak dapat menyembunyikan sikap gugupnya. Demikian pula Alex yang terlihat serba salah. "Kamu sendiri ngapain di sini?" Mira balas bertanya. "Bunda dan Papa Bayu mengajak kami makan malam bersama, Tante," ucap Aira. "Oh, ya? Enzo mana?" Mira mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Dia sedang bersama Ibra dan orang tua saya di lantai dua, Tante," sahut Manggala sopan. "Oh, begitu." Senyum kaku Mira tak lepa
"Aku memang kagum pada Kak Aira awalnya," ungkap Ibra lesu sambil diam-diam melirik sang kakak yang duduk menekuk lutut di sampingnya. Dua bersaudara itu memilih menepi, duduk berkalang tanah di tengah-tengah tanaman hias Imelda yang tumbuh subur di taman belakang. "Lalu? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Manggala sinis. "Aku sendiri juga tidak tahu." Ibra tertawa getir. Manggala turut tertawa. "Aku suka melihat ketegarannya. Padahal waktu itu dia hancur sehancur-hancurnya saat mendengar berita kematianmu. Kak Aira selalu menampakkan senyuman manis, berusaha menunjukkan kalau dia kuat dan baik-baik saja," ungkap Ibra panjang lebar. "Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir. Dia selalu berusaha menguatkan orang-orang di sekitarnya, walaupun sebenarnya Kak Aira lah yang paling butuh dikuatkan." Ibra menarik napas panjang setelah berhasil mengeluarkan semua yang dipendam dalam hati. "Dan di saat aku jauh, kamu berusaha mendekati Aira. Kamu ingin mengambil posisi kosong y
"Ada-ada saja kamu, Ibra." Aira tertawa renyah. "Bukannya baru dua hari lalu kamu datang ke studio?""Maunya sih, ketemu tiap hari," sahut Ibra enteng, seolah tanpa beban. Seketika Aira terdiam. Teringat olehnya perkataan Mira beberapa waktu lalu. Tantenya itu meminta Aira untuk waspada terhadap Ibra. Aira sempat tak menanggapi kekhwatiran sang tante yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun, setelah dipikir-pikir, Ibra memang terlihat berbeda. Perhatian yang diberikan lebih dari sekadar perhatian seorang adik.Dalam kegamangan itu, tiba-tiba dua tangan kekar melingkari perut rata Aira. "Siapa yang telepon?" bisik seseorang yang tak lain adalah Manggala.Sengaja pria tampan itu mendekatkan bibir di telinga Aira yang tak ditempeli ponsel. Sambil mengecup dan menggigit pelan daun telinga Aira, kembali Manggala bertanya, "Ibra, ya? Untuk apa dia telepon pagi-pagi?"Aira tak menjawab. Dia malah fokus pada panggilan yang belum berakhir. "Ibra, terima kasih perhatiannya. Nanti sore, aku a
"Stephen melihat ada sesuatu dari diriku yang mengingatkannya pada David. Dia menyukaiku sejak pertama kami bertemu, Ra," ungkap Manggala seraya membelai lembut punggung polos Aira. Keduanya kini tengah berpelukan dalam keadaan telanjang setelah melalui percintaan panas. Tubuh dua sejoli itu hanya ditutupi oleh selimut tipis berwarna putih. "Hm." Aira mengempaskan napas panjang. “Terus?” "Dia berkata kalau David hidup dalam diriku." Manggala menjelaskan sembari terkekeh. "Tuh, kan! Dia aneh sekali," gerutu Aira. "Ayolah, Ra," bujuk Manggala. "Ayolah, Ngga. Aku nggak mau kamu terjebak dengan konglomerat gila lagi. Nanti hidupmu disetir lagi, dihancurkan lagi seperti ...." Kalimat Aira mengambang, sebab Manggala lebih dulu mencium bibirnya. "Serah terima aset sudah dilakukan. Aku sudah sah menjadi pewaris Mr. Jungle satu-satunya," potong Manggala setelah melepaskan tautan bibirnya. "A-apa!" pekik Aira. Syok dan tak menyangka jika secepat itu Stephen akan mengikat sang suami.
Aira lebih banyak termenung setelah Stephen McMahon alias Mr. Jungle berpamitan. Bahkan saat Manggala mengajaknya berbelanja bahan makanan dan kebutuhan dapur, Aira hanya menanggapi sekenanya saat sang suami bertanya."Perabot di rumah ini sudah lengkap, Ra. Kita tinggal menempati saja. Aku juga menyewa orang untuk membersihkan rumah setiap hari. Kamu jadi tidak perlu repot-repot memikirkan pekerjaan rumah,"tutur Manggala."Terima kasih." Aira tersenyum samar, lalu meninggalkan Manggala yang kebingungan melihat sikapnya yang tak biasa."Kamu kenapa, Sayang?" tanya Manggala keheranan."Tidak apa-apa." Aira menggeleng lemah sebelum membalikkan badan menuju kamar Enzo. Dibukanya pintu kamar bercat biru itu perlahan agar tak menimbulkan suara. Aira mengintip putra semata wayangnya yang nyenyak tertidur di dalam tempat tidur anak berukuran besar. Di sekeliing tempat tidur itu sudah terpasang pelindung berbentuk pagar yang akan menjaga bayi gembulny
Tangan kanan Manggala menggenggam erat tangan kiri Aira erat, sedangkan satu tangan lainnya memegang stroller, di mana Enzo tertidur pulas. "Apa kamu siap, Ra?" tanya Manggala dengan senyum terkembang. "Rumahnya bagus sekali, Ngga," sahut Aira ragu dengan tatapan mata tak lepas dari bangunan bergaya modern minimalis dua lantai di depannya. Manggala tersenyum puas. Baginya, kebahagiaan Aira adalah segalanya. Apalagi saat melihat Aira menyukai kejutan darinya, Manggala merasa sangat lega. Fokus Aira sama sekali tak lepas dari rumah bercat putih itu. Perlahan, dia melangkahkan kaki, melewati jalan setapak yang membelah halaman berumput, lalu menaiki tangga teras. Aira membuka pintu depan yang memang sengaja tak dikunci. Saking antusiasnya, dia sampai melupakan Enzo yang masih terlelap di stroller. "Wah, Ngga! Ini kan hasil foto-fotoku saat kita bulan madu di New Zealand!" seru Aira nyaring. Matanya membulat memindai setiap bingkai foto berukuran besar yang terpajang di dinding r
Seminggu sudah Aira dan Manggala tinggal di rumah Kartika. Selama itu pula, Sinta bersikap dingin, hanya kepada Manggala. Namun, Manggala memilih untuk tak peduli. Dia tetap berusaha mendekati Sinta. Seperti siang itu, saat Sinta tengah asyik bermain air bersama Ratri, putrinya di halaman samping. Beberapa jam sebelumnya, Wildan membuatkan kolam renang plastik berukuran sedang untuk sang putri. Ayah satu anak itu masih belum berani membawa Ratri ke kolam renang asli yang terletak di taman belakang, dekat dengan kebun bunga Kartika. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tawar Manggala. Sinta sengaja tak menanggapi. Jangankan menjawab, menoleh pun tidak. Malah Ratri, bayi yang berusia hampir dua tahun, bertepuk tangan dan berceloteh riang, seakan menyambut kedatangan Manggala. "Hei, cantik. Segar ya, habis main air," sapa Manggala begitu lembut dan ramah. "Sebaiknya kamu jemput istrimu!" ujar Sinta ketus. "Biasanya jam-jam makan siang, dia pulang!" imbuhnya. "Iya, Mbak. Tadi
Seusai sarapan, setiap anggota keluarga kembali pada aktifitasnya masing-masing. Mira langsung masuk kamar, memangku laptop. Dia melanjutkan pekerjaannya sebagai freelancer desainer grafis yang cukup dilakukan secara online. Wildan bersama keluarga kecilnya berjalan-jalan ke mall. Pria itu memanfaatkan hari liburnya dengan baik untuk anak dan istrinya. Sedangkan Kartika langsung pergi ke taman belakang, merawat bunga-bunga dan tanaman hias kesayangannya. Sementara Manggala menuntaskan rindu dengan bermain-main bersama Enzo di halaman samping. Dirinya baru tersadar jika Aira tak ada saat Enzo ribut memanggil ibunya. "Maa!" seru bayi gembul itu. "Oh, iya, ya. Ke mana mamamu, Nak? Kenapa dari tadi tak kelihatan?" gumam Manggala. "Taa ... amaa!!" celoteh Enzo nyaring. "Ah, kamu bilang apa, Nak? Papa nggak ngerti." Manggala terkekeh. "Kita cari saja, yuk!" ajaknya sambil menggendong Enzo, lalu masuk ke rumah melalui pintu samping. Manggala melangkah asal, menyusuri ruangan demi ruang
Manggala setengah berlari menyusuri jalanan kompleks sampai tiba di taman berbentuk lingkaran. Ada banyak anak kecil bermain di sana saat itu. Manggala tak sabar menyibak kerumunan, membalik satu demi satu tubuh-tubuh mungil yang tengah asyik berlarian ke sana kemari. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat sesosok bocah laki-laki menggemaskan tengah bermain pasir bersama balita perempuan. Senyum Manggala terkembang. Tak ingin membuang detik yang berharga, dia segera berlari menghampiri. "Enzo!" seru Manggala antusias. Bocah tampan itu langsung menoleh. Demikian pula balita cantik yang tak lain adalah Ratri, sang sepupu. "Manggala?" Wildan yang bertugas menjaga putri dan keponakannya itu langsung berdiri. Tak menyangka jika dirinya melihat sosok tampan Manggala berdiri di depan wajahnya dengan napas ngos-ngosan. "Ehm, kamu di sini, Ngga?" tanya Wildan basa-basi. Manggala tak bermaksud untuk tak menghiraukan Wildan. Namun kerinduan yang telah menggunung pada Enzo, membuat perh