Aku menghela napas panjang. Sepanjang jalan kenangan kita berdua. Iya, kita. Aku dan kamu. Itu artinya kita. Rasanya gondok gimana gitu, udah capek-capek bicara, eh, yang kuajak ngemeng ternyata hanyalah seekor patung. Kesel, deh, akh, akh, akh. Ikh, ikh, ikh. Yang paling seksi, seksi sekali. Kamulah makhluk hidup yang paling seksi, seksi sekali.
Udah, akh. Mending aku masuk ke dalam rumah. Gelap, Mak! Sangat gelap. Enggak ada cahaya sama sekali. Bagaimana ini? Lampu togok yang tadi dipinjamkan Pak Acung, sudah mati terhembus angin malam. Untung saja aku tidak phobia kegelapan. Dan untungnya lagi, aku walau bukan perokok aktif, selalu bawa korek hidung ke mana-mana.
Kunyalakan korek api, lalu cuzzz. Lampu togok pun menyala dengan riang gembira. Bahagia rasa hati begitu melihat cahaya yang menerangiku di dalam kehitaman tanpa noda, dosa, suci lahir dan batin. Semakin ke sini, kalimatku kian bertele-tele. Jangan kalian anggap ini kesalahan disengaja, ya? Karena sejujurnya pikiranku sedang berusaha mengusir rasa takut yang menyerang.
Bagaimana tidak? Coba kalian bayangkan, kalian berada di dalam sebuah rumah tua yang sudah tidak layak huni. Apa yang Pak Acung kata, ternyata bokis belaka. Katanya di dalam sini bersih dan rapi. Nyatanya, dipenuhi sarang laba-laba, lantai yang kotor dan lembab. Bau bangkai masih terasa menusuk hidung. Cuma ada dua kamar di dalam rumah ini. Atap rumah sebagian sudah lenyap entah ke mana. Hanya ditutupi oleh akar-akar pohon tanaman rambat merajalela.
Di salah satu kamar aku memutuskan untuk menenangkan diri. Sebisaku saja kubersihkan ruangan tersebut. Selain cahaya yang minim, aku juga tidak punya perlengkapan untuk bersih-bersih. Untungnya, selain ransel berisi pakaian, aku juga tidak lupa membawa matras gunung yang biasanya kugunakan di gunung. Namanya saja matras gunung, ya? Tentu saja digunakan di gunung. Kecuali susu beruang. Belum tentu itu diperas dari susunya beruang. Lucu sekali.
Terus mau ngapain kita lagi, nih? Duduk bengong sambil ngupil? Atau makan malam dulu? Kayaknya makan malam dulu, deh. Kebetulan aku bawa beberapa mi instan. Boleh sebut merk, 'nggak? Tentu tidak. Baiklah. Kukeluarkan Trangia. Mulailah aku kuking-kuking.
Tidak berapa lama kemudian, mi instan siap disantap.
Tamat.
Selesai makan, aku tidur rencananya. Habis boring banget, sumpah. Ngapain, sih, aku di sini? Kayak orang bodoh. Uji nyali apa harus segitunya? Datang ke kampung orang. Kampung antah berantah. Lalu tinggal di rumah tua yang tidak layak huni.
Demi apa?
Apa yang aku cari, Tuhan?
Tidak terasa mataku basah. Aku nangis, Gaes. Boleh nangis kejer, 'nggak? Boleh, dong, ya? Dan aku pun nangis meratap sambil guling-guling di lantai.
"Woy, kamu ngapain, sih? Berisik banget!"
Aku yang sedang guling-guling, sontak terkejut dan melompat bangun. Suara seorang perempuan. Kuedarkan pandangan. Ketika mataku pas di posisi pintu kamar, mataku melotot berjamaah.
"Kamuuu ...?" Tenggorokanku mendadak kering kerontang. Dadaku berdebar sangat kencang. Tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Iya, aku! Kenapa? Ada masalah kamu dengan hidupku? Cih!"
Di depanku, seorang wanita memakai gaun panjang berwarna merah darah sambil menggendong sesosok bayi berdiri dengan wajah jutek. Rambutnya panjang tergerai. Hitam. Dan wajahnya itu, lho. Cantik. Sangat cantik. Walau pucat, ya? Tapi, rasanya sangat familiar.
"Tidak ... tidak ada masalah, Kak!" jawabku terbata-bata.
"Kak, kak, kak! Sejak kapan aku jadi bapakmu?"
Aku terkikik mendengar ucapannya. Lucu juga dia ternyata. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu kalau ada orang lain di rumah ini."
"Makanya, punya mata itu dipakai. Sudah jelas-jelas aku menyambutmu di depan rumah, kamu malah bicara tidak karuan rupa."
Aku terkejut, dong, ya? Pantas saja wajahnya begitu kukenali. "Jadi Nona bukan patung?"
"Ya, enggaklah! Aku ini hantu. Kuntilanak merah. Penghuni rumah tua ini dan sekaligus aku dikenal dengan nama Rarashati. Kamu boleh memanggilku, Rara." Dia mengulurkan tangan. Kami pun berjabatan tangan dengan hangat. Kulitnya lembut sekali.
"Salam kenal, Rara." Aku berikan senyum termanisku.
Dia tersenyum. "Untuk tamu, rasanya sangat tidak sopan kalau aku menyambutmu dengan kondisi seperti ini. Sebentar, ya?" Rara mengacungkan tangannya ke udara. Lalu menjentikan jemarinya.
Cling!
Seketika ruangan di dalam kamar ini berubah.
Berubah jadi apa?
Prok prok prok!
Cling!Tidak ada perubahan apa-apa, sih. Enggak ada yang berubah. Tadinya aku mikir ruangan ini berubah jadi lebih bersih, atau kami pindah ke dimensi lain yang lebih uwow. Nyatanya, cuma gaya Nona Rara saja biar terlihat seperti si tukang sihir.Berkali-kali dia menjentikkan jemari. Kalau kalian pernah nonton film Upin Ipin ada tuh nenek-nenek yang mengacungkan tongkat sambil baca mantra pim pin pow! Seperti itulah keadaannya Kuntilanak berbaju merah ini. Aku hanya bisa menghela napas sambil memutar biji mata."Sudahlah, Non! Kayak gini pun udah worth it banget, kok. Apalagi ditemenin oleh nona yang samlohay ini." Aku tersenyum dan hendak mendekat ke arahnya."JANGAN MENDEKAT!"Tiba-tiba saja dia membentakku dengan mata melotot. Aku kaget, sumpah!"Ke ... kenapa, Nona?" jantungku berdegup tidak menentu."Kamu bau!" jawabnya sambil mengibas-ngibaskan tangan."Maaf, Non. Aku kentut barusan."
"I can't breath! Let ... meeeh ... goooh. Pleaseee ...." Rambut Rara semakin tebal saja rasanya. Hampir menutupi seluruh wajahku. Sesak sekali dada ini, Puan. Apakah yang Kuntilanak ini inginkan dariku? Apakah aku akan mati konyol begitu saja?"Susah bernapas, ya? Mau mati rasanya, kan?"Aku mendengar suara Rara, tapi tidak bisa lagi melihat wujudnya. Karena mataku ketutupan rambut yang baunya mulai begitu aneh."Apa yang Nona inginkan dari saya?" tanyaku dengan tenggorokan kering. Jantungku sudah tidak tahu lagi iramanya. Meloncat sana, meloncat sini. Sumbang dan tidak lagi bisa berdendang riang."Tidak ada. Justru kamu yang menginginkan sesuatu dariku, bukan?"Kembali kumereguk ludah. Rasanya dia tahu apa yang aku inginkan. Kemampuannya bisa membaca pikiran dan mendengarkan suara hatiku membuatnya mudah mengetahui maksud terselubungku datang ke tempat ini dan bertemu dengannya."Jangan bermimpi kamu akan mendapatkannya. Tidak sega
"Jangan pingsan, dong!" Kurasakan sentakan kuat di tanganku. Kepalaku yang tadi terasa berputar-putar nanar, mencoba untuk stabil kembali. Kulihat kepala Rara sudah berada di tempatnya dengan benar."Jangan kagetin aku lagi, please! Kamu, sih, enak. Sedang aku?" Aku merengut sambil memijit pelipisku yang terasa sakit."Cieee, manyun! Cute tau, 'nggak?" Rara mencubit pipiku gemas. "Iya, deh! Aku janji enggak bakalan nakutin kamu asal kamu juga tidak menyebut-nyebut nama Bang Arya. Kalau aku yang nyebut, enggak masalah. Tapi kalau orang lain yang nyebut, tubuhku terasa bertanggalan dari sendi-sendinya.""Hmm." Aku memutar pikiran mencoba mencerna maksud dari perkataan Rara. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. "Kenapa bisa begitu?"Dia tersenyum. Senyumnya begitu manis di wajah cantiknya. Membuatku terpesona dan alirah darahku terasa mengalir lancar."Karena dialah lelaki yang pernah mengisi hatiku, memberiku sejuta cinta dan kebaha
Aku terjaga ketika mendengar kokok ayam jantan. Mataku memicing ketika bersentuhan dengan cahaya yang menembus tadir rumah. Harum bau masakan lambat-laun memenuhi ruang hidung."Di mana ini?" Aku bertanya dengan suara antara terdengar dan tidak. Kesadaranku belum pulih sempurna. Kepalaku terasa sakit.Setelah mataku meyesuaikan diri dengan suasana dalam ruang yang merupakan sebuah kamar ini, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Cilukbaaa ...!"Aku berteriak keras ketika Rarashati mengejutkanku dengan wajah setannya."RARASHATIIII!!!"Dia segera mengembalikan muka cantiknya dan tertawa terkikik-kikik. "Kamu lucu sekali," lanjutnya sambil guling-guling di lantai."Apanya yang lucu? Kamu hampir saja membuat jantungku berhenti berdenyut." Aku mengumpat sambil turun dari dipan kayu. Terdengar suara berderit ketika tubuhku meninggalkan ranjang tersebut."Ealaah, segitu aja kamu sudah semaput. Lemah. Loyo!"Rara menga
Aku masih ngambek dan mengkal. Cekikan Rara di leherku terasa sakit. Sialan! Seenaknya saja main cekik orang. Dikira enggak sakit apa? Setan memang seenak jidatnya saja. Mentang-mentang nafsunya lebih besar dari pada hatinya. Kalau sampai aku mati gimana? Sayang, kan, ya? Cowok seganteng aku dan berkualitas gini tewas dicekik Kuntilanak?"Kamu masih ngambek?" Rara asyik menggantung di langit-langit rumah. Kadang aku heran sama ini Kunti. Dia kira dia kelelawar apa? Kali ini bau bunga udah berganti dengan bau bangkai. Bahkan dia menampakkan rupa jeleknya."Siapa yang ngambek?" Aku mendengkus dan membuang mata ke luar jendela. "Aku hanya tidak tahan dengan bau busuk dan menatap tampangmu yang menakutkan itu.""Mulai ... mulai! Main fisik lagi, main fisik lagi! Kamu memang hobi menghina orang, ya? Sok banget, deh. Jangan karena kamu tampan, gagah dan ganteng, terus kamu seenaknya saja menghina orang." Kali ini dia meliuk-liuk mirip penari ular di langit-langit kamar. Kepalanya bergerak
Aku memilih untuk menenangkan diri dengan cara duduk bersandar ke dinding. Aku masih shock.Lidahku kelu, jantung berdebar tidak tenang. Pertanda apa ini? Kenapa lelaki di luar itu begitu familiar?Tidak!Tidak mungkin itu aku!Tapi kenapa wajahnya begitu mirip? Aku seolah-olah melihat diriku sendiri di sosoknya yang terlihat sederhana, tapi mengandung kharisma yang pastinya membuat kaum hawa klepek-klepek sesak napas kalau berhadapan secara langsung dengannya."Kikikikikik!"Aku sontak terkejut mendengar kikikan di sebelah kananku. "Rara?" Ya Tuhan, nyawaku kembali penuh begitu melihat kuntilanak cantik itu muncul secara tiba-tiba di sampingku. "Ke mana saja kamu?""Hikhikhik. Kangen, ya?" Rara tertawa panjang, sosoknya merayap naik ke atas langit-langit. Hobi benar dia bergelantungan kayak beruk di sana."GR banget. Siapa juga yang kangen? Aku hanya tidak ingin kamu tinggalkan di sini." Aku membuang muka karen
"Ra?""Ya?""Ada Arya di luar.""Apaaa?"Rara kembali menghilang begitu aku menyebut nama Arya. Padahal masih ada beberapa suap lagi di atas piringnya. Kasihan. Pantas saja orang tua dulu selalu bilang jangan bicara ketika sedang makan. Ini contohnya, Rara jadi tidak menghabiskan makanannya.Tadi boker, sekarang lenyap entah ke mana. Memang setan ajaib si Rara, mah. Aku segera menuntaskan makanku setelah kudengar ada tawa di luar kamar. Sepertinya Rarashati remaja dengan Arya sedang terlibat obrolan seru. Walau suaranya tidak terlalu jelas, tapi terasa sekali kalau mereka sangat bahagia.Tidak berapa lama kudengar bunyi langkah kaki dan salam perpisahan. Sepertinya Arya sudah pulang. Aku segera berdiri dan ajaibnya semua masakan tadi lenyap entah ke mana. Yang jelas, aku terasa sangat kenyang.Benar-benar enak masakan Chef Renata.Ketika pintu kamar berderit, aku melompat keluar mel
"Assalamualaikum, Mak?" Bang Arya menggedor pintu seperti orang terdesak boker."Woles, Bang. Bisa saja emaknya Abang lagi di dapur" Aku berdiri di belakangnya dengan sedikit kesal."Duh, emakku itu memang sedikit bermasalah dengan telinganya, Bulan. Duh, nama kau tak enak sekali di lidahku. Kau jantan, tapi nama melambai. Salah makan obat bapak kau pas ngasih nama kurasa."Aku memencongkan bibir. Pret dah. Bawa-bawa bokap lagi. "Lambemu, Bang, belum pernah ditepok sandal kayaknya. Abang doang yang manggil aku Bulan. Kalau teman-temanku memanggilku Aster.""Aster?" Dia menoleh, meremehkan. Bibirnya mengambang gitu. Huh!"Iya!" Aku melipat tangan, kepala mendongak, "keren 'kan?""Keren? Cuih! Yang aku tahu itu Astor. Baru enak dikunyah. Kalau engkau? Menatap wajah kau saja membuatku ejakulasi dini." Dia kembali menggedor pintu."Woy! Santai, dong, moncongmu, Bang! Coba Abang bercermin. Wajah kita itu 12 : 12. Heran aku, t
Udara malam ini terasa semakin menusuk tulang. Apa yang disampaikan Nyai Jelita-ibunya Bang Arya-membuatku bingung. Segera kudekatkan telapak tangan ke dahi ibu tua tersebut."Emak sehat 'kan? Enggak lagi demam atau sebangsa dan setanah air?" Aku tertawa terbahak-bahak."Kamu tidak percaya dengan apa yang emak sampaikan?" Wajahnya mengelam bagai malam tanpa bintang. Aku pun jadi canggung seketika."Ya, bagaimana saya bisa percaya, sih, Mak? Serasa khayalan dan fantasi saja. Lagian, sekarang zaman sudah maju, Mak. Mana pula ada kerajaan-kerajaan. Apalagi ini di Indonesia. Haram hukumnya mendirikan kerajaan. Bisa-bisa dibom sama pemerintah itu kerajaan." Aku kembali terkekeh-kekeh. Tiba-tiba saja kurasakan muncungku diremas oleh tangan yang tidak kasat mata. Kutatap Nyai Jelita yang sekarang memandangku tajam. Dia sepertinya marah. Apakah aku sudah terlalu lancang? Dasar mulut kurang ajar."Sekarang kamu boleh tidak percaya. Baga
"Kau seperti melihat hantu saja, Nak? Ha-ha-ha"Itu ibunya Bang Arya. Bikin kaget saja. Tadi bener, lho. Hampir saja aku mengira dia itu setan. Melihat rambutnya yang tagurajai mirip Kuntilanak tua yang sudah bosan mengganggu manusia."Duh, Emak bikin saya sport jantung saja. Untung saya tidak mati berdiri." Kuelus-elus dadaku, berusaha menenangkan detak jantung yang seperti dipukul ribuan kayu. Sementara ibu tua tersebut tertawa terkikik-kikik memperlihatkan giginya yang sudah ompong. Cantik sekali."Oalah, Bujang. Begitu saja kamu sudah terkentut-kentut." Dia mengambil lampu yang parkir mesra di dinding rumah."Siapa yang terkentut, Mak? Aku, tuh, terkejut. T E R K E J U T."Ibunya Bang Arya kian terkekeh-kekeh sambil melambaikan tangan. "Jangan terlalu serius kamu, Bujang. Cepat tua kamu nanti. Kuylah, ikut Emak. Perutmu udah keroncongan kayaknya.""Kenapa Emak memanggilku Bujang?" Penasaran, dong, ya, kenapa si Ema
Aku tidak bisa tidur. Bang Arya di sampingku sudah seperti kerbau ngorok. Rasanya lucu sekali, tidur di sisi orang yang baru kau kenal dalam hitungan jam. Kupandangi wajahnya yang sedang mangap. Perfect!Bahkan tahi lalat kecil di bawah dagunya pun sama dengan yang kupunya. Mungkinkah dia ini moyangku? Atau mungkin dia yang dulu, lalu aku adalah reinkarnasinya. Mungkinkah? "Kenapa kau melotot menatapku seperti itu? Kau mau cipok aku, ya?"Astaga! Aku kaget, sumpah! Tiba-tiba saja Bang Arya sudah memegang kepalaku. Wajah kami begitu dekat, bisa kurasakan bau nafasnya yang mengeluarkan aroma cengkeh.Kenapa aroma cengkeh? Ternyata di zaman ini, setiap mereka yang selesai makan kenyang, supaya napas tidak busuk, dikunyahlah sebutir dua butir cengkeh."Lepaskan, Bang! Bikin kaget saja." Aku berusaha melepaskan pegangan tangannya di rambutku."Jawab dulu! Kau mau melecehkanku, ya? Kau homo, ya?"Ya ampun, dia benar
Aku seperti korban perkosaan yang menyendiri di sudut kamar. Badanku serasa remuk-redam setelah dihajar habis-habisan oleh Bang Arya. Entah setan apa yang merasuki tubuhnya sehingga tega menurunkan tangan jahat kepadaku yang ganteng bak dewa Yunani ini. Uhuy!"Jahat kau, Bang. Tega sekali menjatuhkan tangan besi kepadaku. Kalau ditilik dari kacamata hukum, kau telah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga. Bisa dilaporkan ke Komnasham dan dihukum seberat-beratnya." Aku merepet kayak emak-emak habis kecurian dompet.Bang Arya masih menatapku marah. "Makanya, mikir pakai otak kalau bicara. Seenaknya saja menuduh Rara-ku perempuan murahan." Dia kembali berdiri dan melangkah ke arahku."Siapa yang bilang begitu, Bang? Aku hanya mengatakan Rarashati yang membawaku ke sini. Ke alam ini! Abang paham tidak? Aku ini bukan penduduk negeri ini! Aku tersesat, aku ditinggal sendiri di sini, dan aku tidak tahu jalan pulang! Tolonglah, Bang! Percayalah de
"Assalamualaikum, Mak?" Bang Arya menggedor pintu seperti orang terdesak boker."Woles, Bang. Bisa saja emaknya Abang lagi di dapur" Aku berdiri di belakangnya dengan sedikit kesal."Duh, emakku itu memang sedikit bermasalah dengan telinganya, Bulan. Duh, nama kau tak enak sekali di lidahku. Kau jantan, tapi nama melambai. Salah makan obat bapak kau pas ngasih nama kurasa."Aku memencongkan bibir. Pret dah. Bawa-bawa bokap lagi. "Lambemu, Bang, belum pernah ditepok sandal kayaknya. Abang doang yang manggil aku Bulan. Kalau teman-temanku memanggilku Aster.""Aster?" Dia menoleh, meremehkan. Bibirnya mengambang gitu. Huh!"Iya!" Aku melipat tangan, kepala mendongak, "keren 'kan?""Keren? Cuih! Yang aku tahu itu Astor. Baru enak dikunyah. Kalau engkau? Menatap wajah kau saja membuatku ejakulasi dini." Dia kembali menggedor pintu."Woy! Santai, dong, moncongmu, Bang! Coba Abang bercermin. Wajah kita itu 12 : 12. Heran aku, t
"Ra?""Ya?""Ada Arya di luar.""Apaaa?"Rara kembali menghilang begitu aku menyebut nama Arya. Padahal masih ada beberapa suap lagi di atas piringnya. Kasihan. Pantas saja orang tua dulu selalu bilang jangan bicara ketika sedang makan. Ini contohnya, Rara jadi tidak menghabiskan makanannya.Tadi boker, sekarang lenyap entah ke mana. Memang setan ajaib si Rara, mah. Aku segera menuntaskan makanku setelah kudengar ada tawa di luar kamar. Sepertinya Rarashati remaja dengan Arya sedang terlibat obrolan seru. Walau suaranya tidak terlalu jelas, tapi terasa sekali kalau mereka sangat bahagia.Tidak berapa lama kudengar bunyi langkah kaki dan salam perpisahan. Sepertinya Arya sudah pulang. Aku segera berdiri dan ajaibnya semua masakan tadi lenyap entah ke mana. Yang jelas, aku terasa sangat kenyang.Benar-benar enak masakan Chef Renata.Ketika pintu kamar berderit, aku melompat keluar mel
Aku memilih untuk menenangkan diri dengan cara duduk bersandar ke dinding. Aku masih shock.Lidahku kelu, jantung berdebar tidak tenang. Pertanda apa ini? Kenapa lelaki di luar itu begitu familiar?Tidak!Tidak mungkin itu aku!Tapi kenapa wajahnya begitu mirip? Aku seolah-olah melihat diriku sendiri di sosoknya yang terlihat sederhana, tapi mengandung kharisma yang pastinya membuat kaum hawa klepek-klepek sesak napas kalau berhadapan secara langsung dengannya."Kikikikikik!"Aku sontak terkejut mendengar kikikan di sebelah kananku. "Rara?" Ya Tuhan, nyawaku kembali penuh begitu melihat kuntilanak cantik itu muncul secara tiba-tiba di sampingku. "Ke mana saja kamu?""Hikhikhik. Kangen, ya?" Rara tertawa panjang, sosoknya merayap naik ke atas langit-langit. Hobi benar dia bergelantungan kayak beruk di sana."GR banget. Siapa juga yang kangen? Aku hanya tidak ingin kamu tinggalkan di sini." Aku membuang muka karen
Aku masih ngambek dan mengkal. Cekikan Rara di leherku terasa sakit. Sialan! Seenaknya saja main cekik orang. Dikira enggak sakit apa? Setan memang seenak jidatnya saja. Mentang-mentang nafsunya lebih besar dari pada hatinya. Kalau sampai aku mati gimana? Sayang, kan, ya? Cowok seganteng aku dan berkualitas gini tewas dicekik Kuntilanak?"Kamu masih ngambek?" Rara asyik menggantung di langit-langit rumah. Kadang aku heran sama ini Kunti. Dia kira dia kelelawar apa? Kali ini bau bunga udah berganti dengan bau bangkai. Bahkan dia menampakkan rupa jeleknya."Siapa yang ngambek?" Aku mendengkus dan membuang mata ke luar jendela. "Aku hanya tidak tahan dengan bau busuk dan menatap tampangmu yang menakutkan itu.""Mulai ... mulai! Main fisik lagi, main fisik lagi! Kamu memang hobi menghina orang, ya? Sok banget, deh. Jangan karena kamu tampan, gagah dan ganteng, terus kamu seenaknya saja menghina orang." Kali ini dia meliuk-liuk mirip penari ular di langit-langit kamar. Kepalanya bergerak
Aku terjaga ketika mendengar kokok ayam jantan. Mataku memicing ketika bersentuhan dengan cahaya yang menembus tadir rumah. Harum bau masakan lambat-laun memenuhi ruang hidung."Di mana ini?" Aku bertanya dengan suara antara terdengar dan tidak. Kesadaranku belum pulih sempurna. Kepalaku terasa sakit.Setelah mataku meyesuaikan diri dengan suasana dalam ruang yang merupakan sebuah kamar ini, aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Cilukbaaa ...!"Aku berteriak keras ketika Rarashati mengejutkanku dengan wajah setannya."RARASHATIIII!!!"Dia segera mengembalikan muka cantiknya dan tertawa terkikik-kikik. "Kamu lucu sekali," lanjutnya sambil guling-guling di lantai."Apanya yang lucu? Kamu hampir saja membuat jantungku berhenti berdenyut." Aku mengumpat sambil turun dari dipan kayu. Terdengar suara berderit ketika tubuhku meninggalkan ranjang tersebut."Ealaah, segitu aja kamu sudah semaput. Lemah. Loyo!"Rara menga