Jam sebelas malam, Alana disibukkan dengan bersih-bersih kamar dan memindahkan barang-barang miliknya ke kamar yang ada di lantai bawah. Lebih cepat lebih baik, pikirnya. Tak hanya barang miliknya saja, tetapi barang-barang Liana, Ilana, dan Alina juga turut. Ya, Alana memutuskan agar satu kamar dengan putrinya. Ia tidak mau mereka bersinggungan dengan Melani dan Yuni. Apalagi, ia paham betul bagaimana sifat kedua orang dewasa tersebut. Hal yang tak kalah penting adalah Alana tidak mau jika anak-anak tahu jika Kevin tidur satu kamar dengan Melani.Kamar yang terbilang cukup luas, memudahkan Alana untuk menata. Hanya saja tidak ada ruangan khusus untuk menyimpan baju dan aksesoris lainnya yang cukup banyak. Tidak masalah, karena masih ada wardrobe. Alana akan meminimalisir pemakaian barangnya. "Selesai!" seru Alana dengan perasaan lega. "Makasih, ya, Bi , Pak?" Alana menatap satu per satu orang yang menurutnya berjasa malam itu. Ya, Alana tidak sendirian, ada Sumi, sopir, dan satu pe
"Tidak, Bu. Wanita ini sudah berbohong!" sanggah Alana cepat sambil merangkul Liana. "Iya, kan, Dek?!" Alana meminta pembelaan kepada Yunia. Yunia tersenyum sinis. "Apa yang dikatakan Mbak Melani benar, Bu!"Alana menggeleng cepat, lalu kembali menatap Yuni. "Aku tidak bohong, Bu!""Halaaaah ... mana ada maling ngaku! Penjara bisa penuh!" nyinyir Yunia. Yuni yang merasa kesal mencubit lengan Liana dan Ilana dengan napas memburu penuh amarah dan berhasil membuat keduanya berteriak dan menangis kesakitan. Alina yang semula anteng dalam gendongan Alana pun turut menangis. Alana yang tidak terima dan syok melihat perlakuan Yuni pun berteriak, "Bu, tolong hentikan! Mereka tidak bersalah!"Kevin yang mendengar keributan segera berlari menuruni anak tangga. "Ada apa ini?!"Yuni melepaskan cubitannya. "Anak-anakmu sudah memukul perut Melani. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada bayimu, Kevin?!"Liana dan Ilana sesenggukan sambil memeluk pinggang Alana. "Bohong! Tidak seperti itu, Mas!"
Kevin hanya menatap kepergian Alana serta ketiga putrinya dengan sendu. Ada rasa menyesal karena sempat menyalahkan Alana dan belum meminta maaf. Bodoh! Kevin merutuki dirinya sendiri. "Selamat makan!" Melani menyajikan menu sarapan untuk Kevin. Kevin menatap Melani dengan sorot tajam. "Apa maksudmu berbuat seperti tadi, Melani?!"Melani merengut, bahkan wajahnya dibuat mimik manja dan memelas. "Tadinya aku hanya becanda, Mas."Brak! Kevin menggebrak meja. "Tidak lucu!"Melani terhenyak. Badannya gemetar, ketakutan. "Apa-paan kamu, Kevin?!" Yuni yang tidak terima menantunya dibentak, balik memarahi Kevin. "Ibu juga ... kenapa mencubit Liana dan Ilana. Ibu tau? Lengannya tak hanya memar, tapi kulitnya terkelupas!"Yuni tergagap-gagap. "A-apa? Tidak mungkin! Ibu mencubitnya pelan, kok." "Tinggal diobatin aja, sih, Kak. Lebay banget!" timpal Yunia yang mampu membuat emosi Kevin kembali meluap. "Diam, Yunia!" bentaknya, "kamu juga kenapa ikut-ikutan berbohong, hah?! Yunia memutar
Dita baru saja pergi. Alana melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda sambil menyusui Alina. "Ternyata kamu di sini!"Alana tidak menoleh, karena tahu siapa yang datang. Mendengar suara sang ayah, Alina menyudahi mimiknya. Bayi itu mengulurkan tangannya seolah-olah ingin digendong sang ayah. Kevin memangku bayinya itu. Setelah Alana merapikan baju, ia melanjutkan makan. "Lain kali menyusui jangan di tempat umum! Di mobil, kan, bisa!" kata Kevin sambil mencium gemas Pipi Alina. Alana anteng mengunyah karena memang ucapan Kevin tidak harus ia ladeni. Selain meja yang dipilih ada di pojokan juga sepi, Alana juga memakai kain penutup. "Anak-anak ke mana?" tanya Kevin sambil mengedarkan pandangan. "Sekolah!""Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?"Alana hanya mengangkat kedua bahunya saja. Kevin menghela napas panjang. Alana tampaknya benar-benar marah. Kevin mendudukkan bokongnya tepat di kursi depan Alana. Matanya mengernyit saat melihat ada satu cangkir kopi. Dengan siapa Alana
Melani tiba di sebuah rumah sakit. Tak perlu mengantri lama, karena dirinya sudah membuat janji. "Gimana kabarmu?" tanya sang dokter yang kebetulan teman Melani. "Ya, beginilah!"Tanpa diperintah, Melani langsung berbaring di hospital bed. "Cepatlah!" sungut Melani. Dokter tampan itu tersenyum, lalu duduk menghadap monitor. Melani juga meminta setiap tahap pemeriksaan dilakukan pengambilan foto. Sang asisten dokter pun melakukan sesuai perintah. Tidak berselang lama, sang dokter memberikan selembar hasil USG. "Bayinya sehat dan dipastikan laki-laki."Melani bangkit setelah merapikan bajunya. "Bagus! Kapan perkiraan lahiran?""Sekarang usia kandungannya pas lima bulan. Jadi sekitar empat bulan lagi. Bisa pas sesuai HPL, bisa lebih cepet, atau mungkin lebih.""Oke! Lakukan sesuai rencana!" Melani melengos pergi meninggalkan ruangan dokter setelah mendapatkan resep obat. Setelah menunggu sekian lama di konter apotek, akhirnya Melani mendapatkan obatnya berikut vitamin. Melani berg
"Heh, bangun!" Beni mengguncang tubuh Melani. "Ya ampun, tidurnya kayak kebo banget!" gerutu Beni. Ia merasa kesal karena sudah beberapa kali membangunkan, tetapi Melani tak kunjung membuka matanya. Tak hilang akal, Beni mengambil air di gayung dan memercikkannya di wajah Melani. Melani perlahan membuka matanya. "Iiiiiih, apa'an, sih, Ben?""Heh! Dari tadi hape'mu bunyi terus, berisik!"Dengan malas Melani merogoh ponselnya dalam tas. Matanya terbelalak saat tahu ternyata panggilan itu dari Kevin. Ada dua puluh panggilan yang tak terjawab. Ting! Sebuah pesan masuk. "Mas sama Ibu di luar!" Isi pesannya. "Gawat, gawat, gawat!" Melani panik. Ia bergegas turun dari ranjang. "Kenapa gak bangunin aku dari tadi, sih!" gerutunya sambil memukul pundak Beni. Beni mendelik kesal. "Yeeee, kamu aja yang tidurnya kaya mayat! Nyaman banget tidur posisi gitu."Sambil mengenakan bajunya, Melani berkata, "Iya'lahh. Gak mungkin, kan, aku tidur kayak gini kalo di rumah?!""Awas, tuh, kelupaan!"
"Papi?" panggil Ilana dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat karena Yuni sudah memergokinya terlebih dahulu. Kevin yang tengah menyuap nasi menoleh. "Iya, Sayang, kemarilah!"Langkah kecil Ilana terkesan ragu dan takut. Untung saja Kevin peka dan memilih dirinya yang menghampiri. Kevin menggendong Ilana dan membawanya duduk. "Makannya udah?" tanya Kevin. Ilana yang ada dalam pangkuan Kevin mengangguk. "Lalu, Ila ke sini cuman cari Papi aja?"Lagi, Ilana hanya mengangguk. Terlalu takut baginya untuk bicara karena ada Yuni dan Melani di sana. "Ila mau main sama Papi?" Ilana tersenyum simpul. "Iya, Pi, Ila mau main sama Papi! Sama ...,""Sama?" Kevin balik bertanya karena Ilana tidak melanjutkan kalimatnya. Ilana melihat ke arah Yuni dan Melani sekilas, lalu mengatakan maksudnya menghampiri Kevin."Tapi, beneran, deh, Nek, ini bukan Mami yang minta. Ini maunya Ila yang mau bobok bareng Papi," cerocos Ilana sambil menatap Yuni dengan dua jari tangan yang ia angkat sebagai tanda j
Melani meninju kasur. Ia merasa kesal karena ternyata Kevin memilih mengejar Alana. "Sayang, tunggu!" Dengan cepat Kevin menuruni anak tangga. "Tunggu!" katanya lagi sambil mencekal lengan Alana. Alana menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ia berkata, "Maaf tidak bermaksud mengganggu. Aku pikir pintunya terbuka tidak ada orang. Aku hanya ingin mengambil sisa bajuku saja."Alana menarik tangannya. "Silakan lanjutkan saja!" Ia bergegas pergi. Masuk kamar, Alana segera mengunci pintu. Ia berlari ke kamar mandi. Sambil berdiri di depan cermin, akhirnya rasa sesak di dada terlampiaskan. Alana menangis. Ternyata, melihat sendiri mereka bercinta lebih menyakitkan daripada mendengar pengakuan Kevin. Alana terisak. "Tidak! Aku tidak boleh seperti ini! Air mataku terlalu mahal untuk menangisi pengkhianatan Mas Kevin!" Alana mengusap air matanya dan bergegas membasuhnya dengan air. Alana terus membasuh wajahnya sampai kiranya hidung tak terlihat merah dan matanya bengkak.Alana menarik nap
Tiga hari sudah berlalu setelah Melani melahirkan. Sekarang wanita itu sudah berada di rumah. Sedari pagi Alana dan Sumi disibukkan di dapur karena Yuni mengundang teman arisannya. Ya, bisa dibilang pesta kecil menyambut kedatangan Melani dan bayinya. Tak menampik jika ada rasa iri di hati Alana. Lebih sakit lagi ketika Yuni melarang kedua putrinya untuk bergabung. Keduanya hanya melihat Kevin dari kejauhan. Kevin yang sedari tadi menimang bayinya tentu saja membuat mereka merasa cemburu. "Silakan!" Alana menyajikan aneka minuman berwarna tepat di hadapan para tamu. "Ya ampun, Nak Alana ini hebat, loh. Kalau saya, mana mau dimadu. Apalagi sampai satu atap sama si madu," ucap salah seorang dari mereka yang kemudian terkekeh-kekeh. "Ya mau, dong, Jeng. Soalnya kalo dia cerai dari Kevin, pasti jadi gembel," timpal tamu lainnya. "Risiko gak bisa ngasih keturunan impian mertua, ya, begini ini," kata Yuni."Lumayanlah, itung-itung Sumi ada temannya," sambung Yuni. Alana hanya tersenyum
Alana menatap wajah Kevin dengan tatapan kosong, bahkan air matanya mengalir cukup deras. Ia benar-benar tidak menikmati aktivitas Kevin di atas tubuhnya karena pria itu mengambil haknya dengan kasar. Ya, tadi Kevin memeluknya dari belakang dan berhasil mengunci pergerakan Alana. Alana berontak saat Kevin hendak menciumnya. Kevin tidak mau tahu dengan kondisi hati Alana. Yang terpenting baginya, Alana masih istrinya. Ia berhak atas tubuh Alana. Kevin berdalih jika ia tidak memaksa, hal ini tidak akan pernah terjadi. Ya, benar! Rasa yang sudah mati untuk Kevin tak takkan sudi lagi bagi Alana untuk sekadar berciuman apalagi sampai memadu kasih. Air mata yang terjatuh tidak hanya menahan sakit di area intimnya, tetapi di dasar hati juga. Alana membayangkan dan merasa jijik bagaimana Kevin bercinta dengan Melani. Tak ada balasan dari Alana membuat Kevin menyudahi aktivitasnya. Biasanya ia akan berkali-kali melakukan pelepasan. Namun, kali ini Alana seperti gedebok pisang yang membuat ha
Alana sudah di rumah. Ia bergegas menidurkan Alina yang ternyata pulas, lalu ke luar lagi karena Kevin sedang menunggunya di ruang tamu. "Siapa pria tadi?""Emm ... siapa, ya?" Alana mengerutkan keningnya dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di dagu seolah-olah sedang berpikir. "Kamu punya pria idaman lain?" Alana tersenyum lebar. "Tentu saja! Mas mencari kenyamanan di luaran, sampai-sampai punya bayi. Akupun sama! Aku akan lakukan seperti yang Mas contohkan!"Rahang Kevin mengetat. "Jangan membalikkan ucapanku! Dan jangan macam-macam!""Kenapa? Aku juga berhak bahagia!""Kamu tidak bahagia bersama Mas?"Sejenak Alana melongo, lalu tertawa. "Hahahaahaha ...." Tawa yang terdengar begitu renyah, padahal terasa hambar karena karena banyak luka di sana. Alana seketika terdiam dan memasang wajah datar. "Menurut Mas?!"Tanpa memberi Kevin waktu untuk menjawab, Alana kembali berkata, "Akkhh, pria tak punya hati seperti Mas pasti akan merasa istrinya selalu bahagia! Padahal ...,""Mas ga
Alana memeluk Liana dan Ilana. Rupanya mereka menangis saat mendengar teriakan Kevin, ditambah lagi Alana yang membanting pintu. Mereka ketakutan. Alana tak hentinya meminta maaf. Dirinya menjelaskan jika terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Kevin layaknya seorang teman jika bermain. "Seperti Kak Ana dan Ila. Kadang kalian juga berantem sedikit, lalu baikan lagi, kan?"Liana dan Ilana mengangguk mengerti. Alana meminta mereka untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum makan malam tiba. Sementara Liana dan Ilana mandi, Alana menyusui Alina. Makan malam tiba. Alana meminta Sumi untuk membawakan jatahnya dan anak-anak di kamar. Alana malas jika tiba-tiba Kevin atau Yuni datang lagi dan memaksanya untuk menyusui bayi Melani. Malam ini bisa lolos, tetapi besok dan besoknya lagi? Alana dibuat pusing memikirkannya. *Di rumah sakit, ada Melani yang merasa stress karena bayinya terus menangis. Ia mencoba memberinya ASI, tetapi sang bayi belum pandai menyedot puting. "Yang s
Siang itu Alana datang ke rumah sakit dengan membawa kado bersama ketiga putrinya. Semula, tak ada niatan sama sekali untuk datang. Hanya saja, ketika Ilana melakukan panggilan vidio dengan Kevin, Yuni memintanya untuk datang. Berdasarkan arahan dari Kevin, akhirnya mereka tiba di salah satu kamar ibu dan anak. Kevin menyambut kedatangan mereka. Liana dan Ilana yang sedari tadi mengekor, kini berada di samping kiri-kanan Alana. Keduanya kompak memegang baju Alana. Tampak di dekat ranjang bayi ada Yuni yang tak hentinya memandangi penuh kagum cucunya itu. "Selamat, ya Mbak," ucap Alana sambil menyimpan kado itu di lantai. Melani tersenyum lebar. "Terima kasih!"Alana mengangguk dan terdiam. Entah apa yang harus ia katakan dan lakukan lagi. "Kenapa diem di situ?" tanya Yuni, "liatlah cucu kesayangan, Ibu! Tampan, loh!"Alana tersenyum samar. Rupanya sang mertua hanya ingin pamer atau memanas-manasi? Alana mendekat dan memandangi wajah bayi itu. Seketika hatinya berkedut kembali m
Hari-hari Alana lalui dengan perasaan campur aduk. Kadang senang, kadang sedih. Senang ketika dirinya mengerjai Melani dan sedih saat melihat kenyataan jika dirinya berada dalam situasi memprihatinkan. Ya, sekarang usia kandungan Melani sudah masuk sembilan bulan. Perhatian Yuni dan Kevin tercurah kepadanya. Liana dan Ilana pun merasa sedih karena Kevin tak lagi mengajaknya bermain. Keadaan mereka tak ubah seperti orang-orang yang numpang hidup di rumah itu. Miris. Ya, Kevin mengabarkan bahwa rumah mewah itu kembali dikembalikan kepada Melani --orang yang seharusnya menerima hadiah itu. Alina. Bayi itu kini berusia tujuh belas bulan. Sudah pintar berjalan dan mulai berbicara dengan kosakata yang mulai bisa dimengerti. Sudah hampir empat bulan ini pula Kevin jarang menyapa dan menggendongnya. Sehingga, besar kemungkinan Alina tidak akan terlalu akrab. Malam ini jam dua belas malam. Alana yang tak bisa tidur memilih membuat secangkir teh cokelat panas di dapur. Pantulan cahaya rembula
Alana sudah berada di rumah. Rasa lelah yang semula mendera, kini perlahan hilang tergantikan rasa kesal. Sejenak Alana terdiam. Ia harus mencari cara agar perceraian itu terjadi. "Ah, Ibu!" serunya, ketika menemukan sebuah ide. Ya, Alana yakin jika Yuni akan senang dan mendukungnya. Dengan demikian mertuanya itu akan mendesak Kevin untuk berpisah dengannya. Alana memastikan jika ketiga putrinya tertidur lelap, lalu ke luar kamar untuk menemui Yuni. "Bi, liat Ibu, gak?" tanya Alana yang berpapasan dengan Sumi. "Ada di kamar atas, Bu. Bantu Bu Melani pindahan kamar."Alana mengangguk. "Makasih, ya, Bi." Alana bergegas menaiki anak tangga. Tiba di sana, rupanya ada beberapa tukang yang sedang merombak kamar tersebut. Alana memastikan tidak ada Kevin di sana. "Bu? Boleh bicara sebentar?" tanya Alana saat melihat Yuni di dekat pintu. Yuni menoleh. Keningnya mengerut lalu balik bertanya, "Apa penting?""Sangat, Bu!"Alana mengajak Yuni sedikit menjauh dari kamar."Bu, tolong bujuk
Lima hari sudah berlalu. Tepat pagi itu Kevin dan Melani tiba di rumah. Ya, semula yang hanya tiga hari ternyata bertambah dua hari karena Melani merengek ingin lebih lama di Bali.Lima hari tidak masuk kantor, tentu saja membuat pekerjaan menunggu Kevin di kantor. Setelah berganti pakaian, ia bergegas pergi. "Loh, Vin, baru saja nyampe, kok, pergi lagi?" protes Yuni. Kevin yang hendak masuk ke dalam mobil pun menoleh. "Banyak dokumen penting yang harus selesai hari ini, Bu.""Ah, baiklah! Hati-hati di jalan!"Kevin mengangguk, lalu segera pergi. ***Tiba di kantor, Kevin dihadang oleh seorang resepsionis sebelum ia memasuki ruangan. "Maaf, Pak. Ada surat untuk Anda."Sambil menerimanya, Kevin bertanya. "Dari siapa?""Maaf, saya tidak tahu, Pak. Kemarin orang pos yang mengantar.""Oke, terima kasih." Kevin bergegas masuk ke ruangannya. Kevin menyimpan amplop itu di dalam laci. Ia memilih untuk mengecek dokumen terlebih dahulu. Tak terasa jarum jam menunjuk pada angka dua belas
"Alana?! Bisa jaga anak, tidak?" Yuni tiba-tiba masuk kamar.Alana yang sedang merapikan mainan terhenyak dan panik melihat Ilana menangis. Ia melangkah cepat menghampiri. "Ada apa, Bu?""Kevin sama Melani mau ke Bali, mau baby moon. Anakmu merengek mau ikut!"Alana merangkul kedua putrinya. "Maaf, Bu. Yang penting, kan, mereka gak ikut, Bu!"Yuni mendelik. Wanita yang sudah memiliki keriput di wajahnya itu malah menghardik. "Memang tidak ikut. Dengan nangisnya anakmu, di sana Kevin pasti kepikiran. Bukannya senang-senang sama Melani malah banyak ngelamun!" Yuni membuang mukanya seraya pergi. Alana menghela napas. Kedua putrinya ia peluk, lalu melerainya. "Siapa yang mau ikut sama Mami jalan-jalan?!" tanya Alana penuh semangat. "Mau!" jawab Liana cepat. Ilana yang masih menangis pun turut bicara. "Ke mana, Mi?""Terserah! Yang jelas jangan ke luar negeri. Ke kebun binatang? Ke pantai? Ke villa? Pokoknya terserah Ila dan Kak Ana, deh!"Ilana mengusap air matanya seiring dengan ta