[Oke, baiklah Bu Tyas, nanti hari Senin bisa langsung ke Bandung,, untuk interview langsung dengan saya, dan setelah resmi di terima, bisa langsung menempati tempat mess yang sudah di sediakan.] Balas Abian akhirnya.Ia meletakkan ponselnya di samping ia duduk, lalu meletakkan kepalanya di atas telapak tangannya, kemudian merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi sofa. Netranya menatap langit-langit atap. "Tyas. Sepertinya tak ada cara lain, aku akan menyampaikan langsung perasaan ini pada Pak Aditama, kalau aku mencintai putrinya. Apapun itu resikonya, termasuk risiko jika Pak Aditama tak mengijinkan atau bahkan beliau jadi membenciku karena mencintai Putrinya." Ia bermonolog.*Di sisi lain, pagi ini Tyas dibuat terkejut mendengar kabar salah satu direktur dari perusahaan kompetitor, telah ditangkap polisi karena menjadi dalang dari sebuah tindak kriminal."Papa! Papa dengar kabar pagi ini? Pak Axel Wirawan ditangkap polisi Pa!" ucap Tyas pada papanya, di meja makan. Saat ini mereka
Abian tertunduk diam. Ia malu juga kecewa melihat respon Aditama. seharusnya ia tidak mengatakan ini.Aditama melerai tawanya, melihat air muka Abian yang berubah, ia merasa bersalah, sekaligus ada rasa senang melihat pengakuan jujur dari Abian.Ia juga suka cara Abian, menyampaikan rasa itu langsung pada dirinya terlebih dahulu, sebelum mendekati langsung putrinya."Abian, maaf, bukan maksud saya mentertawakan kamu, bukan. Saya tadi hanya geli melihat ekspresi wajah kamu yang begitu lucu," ungkap Aditama masih dengan wajah menahan tawa.Abian mengangkat wajahnya, berusaha menarik senyum. Sebenarnya dia mulai tak nyaman.Aditama menegakkan tubuhnya, menjadi lebih dekat dengan Abian."Apa yang kau katakan tadi itu serius?" tanya Aditama.Abian mengangguk."Tapi jika Bapak menganggap rasa ini adalah sebuah kesalahan karena aku tak pantas bersanding dengan Tyas, maka saya akan membunuh rasa ini, saya memohon maaf." Abian kembali menunduk. Hatinya begitu gelisah."Kenapa kau berpikir seja
Pagi hari setelah semua pekerjaannya di kantor, sudah selesai, Abian memilih untuk pergi ke Jakarta. Beberapa pekerjaan bisa di handle oleh asistennya Ingin mengunjungi kantor di Jakarta. Ah tidak lebih tepatnya ingin mengunjungi kantor karena ingin bersua dengan Tyas.Ia melajukan kuda besinya melewati jalanan antar kota menuju ke kota metropolitan.Meski ia juga ada mobil, tapi ia lebih suka bepergian dengan motor sport kesayangannya.Begitu ia memarkirkan motor di parkiran, Abian sudah di sambut dengan Anwar seorang sekuriti kantor."Selama siang Pak! Wah tumben nih main kemari!" "Selamat siang Pak! Ia sedang senggang jadi pengin kemari, kangen sama suasana kantor di sini, lebih rame, di Bandung sepi," sahut Abian."Gimana di sana Pak? Betah?"Walau Abian seorang pemimpin perusahaan, tapi ia juga dekat dengan para karyawannya, ia tak segan bertegur sapa dengan mereka, jadi para bawahannya pun selalu segan padanya."Ya, betah nggak betah, harus betah!" jawab Abian dengan terkekeh.
Akan ada pelangi indah setelah hujan, awan gelap itu perlahan akan bergerak tersingkir oleh sinar mentari membuat yang gelap itu sirna.Tyas Pov.Aku menatap sejenak wajah laki-laki yang kini duduk bersebrangan denganku, hanya terhalang oleh meja kerjaku.Abian.Ia terlihat seperti bingung hendak bicara apa. Padahal sejauh yang aku kenal, Abian adalah sosok laki-laki yang tegas, berwibawa. Tapi belakangan aku melihatnya berbeda, ia lebih sering tersenyum. Ya, dan juga aku merasa senyumannya itu lebih manis daripada manisnya gula.Ah, bicara apa aku ini, saat ini aku hanya ingin berkarir, aku belum ingin memikirkan tentang laki-laki. Sudah cukup hati ini lelah karena di sakiti oleh makhluk Tuhan bernama laki-laki.Saat ini aku hanya ingin mewujudkan keinginan Papa yaitu meneruskan perjuangannya memimpin perusahaan ini."Ehm, Pak Abian, apa sudah ada kabar dari tim audit mengenai penemuan data janggal yang waktu itu ditemukan?"Abian menggeleng."Mereka meminta waktu sedikit lagi, untuk
"Aku sudah tak ingin mengenalnya lagi. Apalagi cinta. Aku sendiri bahkan sudah tak tahu apa itu cinta, hatiku sudah mati, dan sudah muak," ucapku serius.Ya, aku bahkan sudah tak percaya lagi tentang cinta. Bagiku tak ada cinta abadi, selain kecintaan kita pada sang pemilik hidup.Abian terdiam."Silahkan di lanjutkan makannya Pak.""Iya, ehm Tyas. Ehm maaf maksudku Bu Tyas, maaf boleh aku tanya lagi sesuatu?""Ya boleh. Silahkan aja Pak. Nggak usah kaku gitu Pak, panggil saya Tyas saja tak apa, toh usiaku juga masih lebih mudah dari Pak Abian," ucapku terkekeh.Abian tersenyum. "Usia boleh lebih muda, tapi tetap saja, saya harus menghormati Bu Tyas, karena Bu Tyas putrinya dari Pak Aditama."Aku tersenyum dan mulai mengaduk soto yang ada di depanku, uap panasnya mengepul di udara, aroma khas rempah dan segarnya aroma jeruk nipis menusuk hidung, membuat perutku makin meronta ingin di isi."Ya, ya, terserah Pak Aditama saja kalau gitu." Aku menjawab sekenanya, sambil mulai meniup pela
Iqbal Pov.Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan.Keadaan Ibu masih belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Hasna memilih untuk mencari kerja, dan hari ini dia bilang akan tes di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, dan untuk penempatannya nanti di Bandung.Aku bersyukur dengan dia kerja, setidaknya ada pemasukan yang masuk, karena aku sendiri belum menemukan pekerjaan yang cocok. Untuk beralih usaha dari rencananya ingin buka bengkel semuanya gagal total, bahkan uang yang ada dalam rekeningku, kini jumlahnya sudah menipis karena untuk biaya makan setiap hari, dan juga untuk biaya rumah sakit.Kandungan Amanda semakin besar, sebulan lagi dia akan melahirkan. Beruntung semua kebutuhan bayi sudah di beli. Semoga saja uang yang aku pegang sekarang, cukup untuk biaya persalinan. Bagaimanapun anak itu adalah anakku. Calon penerus keluarga. Aku tak mungkin mengabaikannya. Meski sikap Amanda seringkali membuatku jengkel, tapi aku tetap berusaha menyayanginya demi anakku."Mas bag
"Mas Iqbal!""Apa.maksud kamu ngomong seperti itu? Kamu mau pergi?!" cecarku.Amanda tercekat, wajahnya menegang, pucat."Ehm, bu–bukan itu, itu cuma temen aku, biasa, ngajak jalan-jalan aja kok!" Aku menatap lekat wajahnya."Lalu apa maksud kamu muak? Kamu muak hidup sama aku? Gitu?!" Amanda terperangah menatapku."Kamu apaan sih! Nuduh aku sembarangan gitu, aku cuma muak dengan suasana di rumah sakit ini, aku udah nggak betah pengin pulang, Mas! Plus kamu jangan mikir macam-macam dong Mas!"Aku menghela napas. Ya memang sih, siapapun itu pasti nggak akan betah lama-lama di rumah sakit, jangankan yang sakit, yang sehat yang berjaga saja nggak betah lama-lama di rumah sakit."Oh, kamu sabar ya, kata dokter 3-4 hari lagi kamu sudah boleh pulang," ucapku melembut. Aku jadi merasa bersalah sudah suudzon sama Amanda. Padahal dia baru saja bertaruh nyawa melahirkan anak kami.Aku melangkah mendekatinya. Kuusap lembut rambutnya."Maafin aku ya, aku sudah menuduh macam-macam. Kamu makan ya,
"Mas Iqbal, kenapa?" Suara seorang perempuan sontak membuatku terkejut. Aku menoleh, ternyata ada Hasna sudah berdiri diambang pintu kamar.Ah ya, sekarang kan hari Sabtu. Lama menjadi pengangguran, menjadikan aku jadi sering lupa hari."Hasna!" "Tadi aku beberapa kali ngucap salam di depan, tapi sepi. Ternyata Mas di kamar. Mas kenapa?" Hasna menatapku dan Rayyan bergantian. Mungkin ia heran melihatku sedih, dan mata memerah."Kak Manda mana? Kok sepi," tanyanya lagi karena aku tak kunjung menjawabnya."Dia pergi, dan dia meninggalkan surat itu." Aku menunjuk pada kertas yang sudah kuremas-remas membentuk bulatan yang tergeletak di lantai.Hasna langsung jongkok kemungut kertas itu dan membukanya.Hasna pun sama terkejutnya, seketika ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil menggeleng."Astaga, gil4, dia benar-benar gila4, tega meninggalkan anaknya sendiri!" ucap Hasna lagi.Tiba-tiba saja Rayyan menangis dan aku bangkit untuk menimangnya.Hasna menatap nanar bayi kecil
"Pergi dari sini aku bilang! Pergi!" Sentak Iqbal dengan suara menggelegar."Oke, oke, aku tak akan mengambil Rayyan darimu. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan. Bagaimanapun aku ini adalah ayahnya. Jadi aku bisa sewaktu-waktu kemari untuk menengoknya. Kau tak bisa melarangku, kalau itu terjadi maka aku akan membawanya pergi jauh darimu."Ucapan Juna terdengar seperti ancaman bagi Iqbal."Oke! Tapi jangan pernah kau katakan kau adalah ayahnya. Tunggu sampai saatnya tiba. Saat dia bisa mengerti semua keadaan ini."Juna mengangguk kemudian pergi.Dalam keheningan malam, Iqbal duduk sendiri di kamar Rayyan, memandangi anak itu yang tertidur pulas. Sekarang Rayyan mulai mau menginap di rumah itu dan tidur bersama Iqbal. Tentu saja itu sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Iqbal."Aku telah mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu di dunia ini," bisiknya lirih. "Sekarang dan sampai kapanpun ... tidak ada yang bisa mengubah itu." Iqbal mengelus pelan rambut lebat bocah yang tengah
Iqbal menunggu dengan penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang.Dan Hasilnya ... TIDAK COCOK. Rayyan bukan darah dagingnya.Iqbal tercengang. Dunia seakan runtuh seketika. Hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Semua yang selama ini ia kira adalah kenyataan hidupnya, ternyata hanyalah ilusi. Amanda–wanita yang ia nikahi, ternyata telah menipunya. Namun yang lebih menyakitkan lagi, Rayyan anak yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari dirinya, anak itu ternyata bukan anak kandungnya.Wajah Iqbal mendadak pucat. Ia masih seperti mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya seperti kehilangan sebagian dari hidupnya.Meski ia berpisah lama dengan Rayyan karena dia di penjara, tapi dalam hatinya selalu menyakini bahwa Rayyan adalah permata hatinya. Dan sampai kapanpun dia tak merasa sendiri sebab ia punya anak. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Iqbal menggeleng, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Masih tak bisa terima dengan apa yang dikatakan dokter, tapi
Setelah menjalani masa hukuman di penjara selama beberapa tahun, Iqbal kembali ke dunia luar dengan segunung tantangan yang menantinya. Fauzan yang telah menjamin kebebasan untuk Iqbal. Iqbal tak pernah menyangka, orang yang dulu ia tolong, kini telah sukses dan bahkan bisa menolongnya keluar dari penjara. Iqbal sangat berterimakasih pada Fauzan.Bayangan suram masa lalunya membayang-bayangi langkahnya, tapi ia mencoba menghapus semuanya, memulai lembaran baru. Fauzan menjemput Iqbal dengan mobil miliknya. Begitu sampai di halaman rumah Iqbal terkejut Hasna tengah sibuk melayani beberapa pembeli."Hasna," ucap Iqbal dengan senyum tersungging di bibirnya.Bergegas ia turun dari mobil untuk menemui ibunya. Beberapa langkah sebelum sampai di teras toko, ia melirik ke arah pintu rumahnya. Harusnya ada ibunya yang menyambut kepulangannya di sana. Mendadak hatinya gerimis, mengingat kini ibunya sudah tidak ada lagi.Dulu ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada mendukungnya. Wala
Amanda duduk duduk di tepi ranjang kecil yang suram, memandangi jendela yang menghadap ke gang sempit di sudut kota Semarang.Diluar kehidupan kota samar-samar terdengar, namun jiwa wanita itu terasa hampa. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat dengan tatapan matanya kosong. Sisa kehidupan yang dulu penuh hingar bingar kini hanya menyisakan sebuah penyesalan yang tak tertahankan."Aku muak dengan semua kelakuanmu! Kamu hadapi semua ini sendiri! Aku nggak mau tahu! Ini kan buah dari semua perbuatanmu!" sentak Yusuf sore itu sebelum memutuskan untuk pergi ke Jakarta.Yusuf yang menjadi kakak tiri Amanda, merasa sudah capek menghadapi berbagai model orang yang datang menagih hutang pada Amanda.Yusuf seolah menjadi ATM bagi Amanda, seenaknya dia meminta kakaknya untuk membayar hutang-hutangnya.Yusuf pun merasa capek. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan berusaha bersikap masa bodoh dengan Amanda. Karena semakin di turuti keinginannya, Amanda semakin menjadi. Seolah makin banyak saja orang
Salah satu perawat yang tinggal tak begitu njauh dari rumah Hasna datang tergopoh, ia langsung mengecek kondisi tubuh Bu Wina yang dingin."Maaf, Ibu Wina sudah tidak ada," ucap perempuan itu lirih."Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un." Beberapa orang tetangga yang sudah datang turut berduka.Sedangkan Hasna masih tak sadarkan diri."Panggilkan Bapakya Hasna, cepat!" seru salah satu tetangga memberi titah pada tetangga lainnya. Laki-laki yang diberi perintah itu pun bergegas lari ke rumah Bapaknya Hasna, yang tinggal tak jauh dari rumah itu bersama Bu Maryam."Astaghfirullah, ada apa, Hasna! Hasna!" Laki-laki paruh baya itu datang, ia syok melihat Wina istri pertamanya telah berpulang. Dan Hasna masih terbaring pingsan.Dalam hati kecilnya ia sangat sedih, meski semasa hidup dan tinggal bersama Wina ia kerap kali berbeda pendapat, kerap kali bertengkar, tapi perjalanan waktu yang di lalui bersama, tentu menyimpan sejuta kenangan bersama juga bersama anak-anak mereka."Yang sabar Pak! I
Pagi-pagi sekali Hasna sudah bersiap untuk pergi menemui Iqbal."Mbak Santi, tolong titip Ibu sebentar ya. Akan saya usahakan cepat pulang." Hasna meminta bantuan tetangga untuk menjaga ibunya sebentar, selama dia pergi."Iya Hasna, tenang aja. Saya akan di sini sampai kamu pulang.""Terimakasih banyak Mbak Santi.Hasna pun berangkat dengan memakai motor matic second yang dibelinya, untuk di pakai setiap kali berbelanja mengisi tokonya.Saat tiba di Lapas, seketika Hasna merasakan atmosfer yang berat. Rasa rindu, marah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Saat Iqbal muncul di ruang kunjungan, Hasna melihat perubahan besar dalam diri kakaknya. Wajahnya tirus, tubuhnya semakin kurus, rambutnya sedikit berantakan, dan ada bayangan kelam di matanya."Hasna ..." Iqbal memanggil namanya dengan suara serak, seakan-akan ia tak percaya adiknya benar-benar datang.Hasna duduk di depannya, diam sejenak. Suasana canggung terasa di antara mereka. "Aku datang karen
"Selamat sore, Mbak Hasna," sapa pria itu.Hasna sedikit terkejut. Ke apa laki-laki itu bisa tahu namanya. Dari gelagatnya dia seperti tidak berniat untuk membeli sesuatu di toko."Sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Saya teman lama Iqbal. Namaku Fauzan. Saya baru dengar tentang kejadian yang menimpa keluargamu."Hasna terdiam sejenak. Ada rasa kekhawatiran, jangan-jangan kakaknya punya hutang pada temannya ini dan sekarang dia datang untuk menagih hutang. Begitu pikir Hasna."Oh, begitu. Ada yang bisa saya bantu? Maaf Mas Iqbal tidak ada di rumah."Fauzan mengangguk pelan. "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar ibumu. Aku tahu bahwa apa yang terjadi dengan Iqbal pasti bagi kalian."Hasna memandang pria itu dengan sedikit rasa waspada. Ia memang pernah mendengar nama Fauzan dari Iqbal, tapi mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Tentu saja, setelah semua yang terjadi dengan kakaknya, ia sulit untuk langsung mempercayai siapa pun, terutama orang yang datang tiba-tiba tanpa diduga.H
POV Author. Jalan Terjal Kehidupan keluarga Iqbal."Makan dulu Bu." Hasna menyuapi ibunya–Wina dengan telaten.Nasi putih dengan tekstur sedikit lembek dan sayur Sop ayam. Biasanya ibunya akan sangat suka dengan menu satu ini. Tapi hari ini Bu Wina seperti tak ada nafsu makan."Bu, lagi ya." Bu Wina menggeleng. Hasna menghela napas."Ya sudah sekarang minum obatnya, ya." Hasna bergegas menuju ke kamar ibunya, membuka laci nakas tempat ia menyimpan obat.Setelah kejadian Bu Wina jatuh stroke, Hasna memilih resign dari kantor dan fokus di rumah mengurus ibunya.Ia membawa Wina kembali ke rumah lamanya. Sedangkan Bu Maryam dan Bapaknya pindah dari rumah itu, tinggal tak begitu jauh dari rumah Bu Wina."Ini Bu obatnya." Setelah selesai mengurusi ibunya, Hasna membawa ibunya ke depan teras rumah, udara pagi yang sejuk, juga sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan ibunya."Hasna buka warung dulu ya." Bu Wina hanya mengangguk. Sebenarnya Bu Wina masih bisa bicara walau ada sedikit terb
"Halo Sayang, aku sekarang bagi diperjalanan pulang ke Jakarta." Aku mengabari Tyas melalui sambungan telepon."Iya Mas hati-hati. Gimana tadi ketemu sama Pak Bambang?""Ketemu Sayang.""Terus?""Nanti aku ceritakan di rumah ya. Assalamualaikum."Panggilan selesai. Aku fokus mengemudi dengan karena jalan berbelok-belok dan berbatu.Aku kembali ke Jakarta dengan menggenggam luka. Kesaksian Pak Bambang, tentu memberi titik terang sekaligus memberikan luka. Betapa Martin sangat jahat. Padahal Papa sudah sangat percaya padanya.Ternyata dia tega mengkhianati kepercayaan Papa. Sungguh ini sakit sekali."Ya Allah Pa. Lihat kan Pa, orang yang selalu Papa bela mati-matian, orang selalu menjadi diri diantara hubungan kita. Ternyata dia adalah orang yang sangat busuk! Brengsek! Awas saja Kau Martino, aku pastikan kau akan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama," geramku, sambil memukul stir mobil beberapa kali.Aku berhasil keluar dari jalan desa, kini melewati jalanan yang