Share

Bab 29. Iqbal Pov

Author: Tifa Nurfa
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

Pov Iqbal.

"Aku sudah ambil keputusan, aku akan robohkan rumah itu, rata dengan tanah. Anggaplah aku kembalikan tanah milik ibu seperti sediakala."

Jantungku seakan melompat dari tempatnya begitu mendengar kalimat yang keluar dari mulut Tyas.

Bagaimana mungkin dia bisa berpikir sampai ke arah itu. Ini benar-benar gil4!

Aku paham dia sakit hati dengan apa yang sudah aku lakukan padanya, tapi apa iya harus dengan membongkar rumah itu?

Sebisa mungkin aku mencoba meredam keinginannya itu, tapi sia-sia. Tyas tipe perempuan yang keras kepala, segala keinginan atau sesuatu yang sudah menjadi keputusan dirinya, maka itu tak bisa di ganggu gugat.

Ia melenggang begitu saja meninggalkan aku yang masih terperangah menatapnya.

Ia melangkah anggun, baju yang dikenakannya juga sangat terlihat berkelas. Wajahnya pun sangat berseri, putih bersih, dari mana sebenarnya dia mendapatkan uang untuk melakukan perawatan. Ia benar-benar sangat terlihat berbeda, padahal baru sehari ia keluar dari rumah.

Ck! A
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ana Khana
cepatan update nya ya Thor ... kalo bisa tiap hari 4 bab gitu
goodnovel comment avatar
Suarti Watar
aku ikut pusing kaya iqbal........
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 30. Menemui Papa.

    "Apa?! Astaga, benar-benar keterlaluan, si Tyas!"Netra Ibu langsung terbelalak begitu aku memberitahu Kalau rumah ibu mau dirubuhkan."Kamu lawan dia dong, Bal! Ancam balik dia! Bisa-bisanya kamu diem aja rumah mau diruntuhkan!" Katanya lagi."Tapi Tyas benar Bu, membangun rumah ini memang sebagian besar uangnya dia.""Iya, tapi apa dengan cara merobohkan rumah ini? Nggak ada cara lain?!" "Ibu tahu kan bagaimana sikap kerasnya Tyas? Dia itu nekat Bu, dia akan melakukan apapun jika ada yang berani menghalangi."Aku hanya bisa pasrah. Tapi ibu lagi-lagi tak bisa terima."Kamu itu laki-laki Iqbal! Harus tegas dong! Bisa-bisanya kamu ini hanya pasrah!"Ibu terus saja mengomel meski aku sudah berkali-kali menjelaskan."Aduh nanti kita mau tinggal dimana Mas, kalau rumah ini dirubuhkan? Masak sih kita harus ngontrak, nggak mau ah!" Amanda juga tak kalah paniknya."Enggak, nanti biar ibu yang ngomong sama perempuan itu! Gil4, enak aja main rubuhkan aja, memangnya rumah suwung!" timpal ibu.

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 31. Dibongkar.

    Iqbal Pov."Apa lagi yang perlu dibicarakan? Saya sudah menghubungi pengacara handal untuk mengurus perceraian kalian. Biar cepat selesai."Kata-katanya Papa sangat lugas, tanpa basa-basi."Ehm, gini Pa, saya ... Minta maaf sebelumnya, saya tahu saya salah, saya sudah menyakiti Tyas. Tapi saya mohon beri saya kesempatan sekali lagi, untuk memperbaiki semuanya."Aku pikir tak ada salahnya untuk membujuk Papa dan Tyas agar tak jadi bercerai, dengan begitu rumah itu tak 'kan jadi di bongkar. Biarlah sementara waktu Amanda akan aku ungsikan ke tempat lain yang lebih aman."Apa maksudmu, Mas?" sergah Tyas."Ehm Sayang, Mas sadar keputusan yang kita ambil terlalu terburu-buru, Yas, Mas sadar, cuma kamu yang Mas cintai, bisakah kita kembali lagi, dan melupakan soal gugatan perceraian itu? Aku janji akan meninggalkan Amanda, dan memilih kamu, Sayang."Tyas terkesiap. Aku yakin dia pasti akan luluh, dia kan cinta mati denganku. Aku hanya perlu berakting sedikit di depannya dan Papa. Semoga ia

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 32. Kaget.

    Iqbal Pov.Ibu menangis histeris menyaksikan rumah itu dirobohkan. Para tetangga hanya bisa menghiburnya tanpa bisa berbuat apa-apa."Itu, tuh, gara-gara masalah selingkuh, jadi istrinya nekat, rumah yang tidak bersalah, jadi korbannya. Padahal rumahnya bagus, sayang banget sih sebenarnya.""Iya, sakit hati banget sih pasti jadi Tyas, di selingkuhi, sampai tinggal satu lagi, gil4 nggak tuh! Makanya nekat.""Iya, ih amit-amit!""Tapi nggak harus merobohkan rumah juga kali! Kan bisa di jual saja dan uangnya di bagi dua!""Katanya noh, si Bu Wina nggak setuju, menolak mentah-mentah, bahkan mengusir Tyas dari rumah ini. Ya wajar sih Tyas akhirnya memilih jalan membongkar rumah ini saja.""Iya enak saja, rumah di bangun saat susah bersama, pas udah bagus di tempati sama istri muda, ya siapa pun pasti nggak rela lah!"Bisik-bisik tetangga santer terdengar membuatku semakin pusing. Kepala berputar, hingga aku terduduk tak bertenaga sama sekali."Ayo Bapak-bapak, tolong bantu Pak Iqbal masuk

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 33. satu kantor

    Ketika nama itu di sebut, terdengar seseorang membuka pelan pintu ruang meeting, membuat semua mata yang ada di ruangan ini langsung tertuju padanya, termasuk aku.Aku hanya ingin memastikan kalau perempuan itu bukanlah Tyas istriku. Tak mungkin Tyas menjadi atasan di kantor ini, Memangnya siapa dia?Setelah pintu terbuka, wanita dengan tinggi semampai menyembul dari balik pintu.Senyumnya langsung merekah menatap semua yang ada di dalam ruangan.Aku terpana, bahkan sampai mengucek mataku, berharap ini hanya halusinasiku saja, melihat Tyas masuk ke ruangan ini. Ternyata aku tidak salah lihat, ini benar-benar Tyas! Aku dibuat melongo melihat penampilannya saat ini.Ia mengenakan, blazer berwarna krem dengan hijab krem, dan celana hitam, bunyi ketukan sepatunya seakan memecah keheningan. Ia berjalan dengan begitu anggun melewati kami semua yang duduk di depan meja persegi panjang saling berhadapan.Wajahnya sangat cantik, riasannya tidak menor, tapi justru membuatnya terlihat berkelas,

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 34. Tertekan.

    Iqbal Pov."Tapi Yas!"Tyas justru kembali menatap laptop seolah aku di sini tak terlihat. Mau tak mau aku pun keluar ruangan ini, dan mengikuti perintahnya dengan hati kesal.Tok! Tok! Tok!"Masuk!" ucapnya dari dalam. Aku benar-benar seperti orang konyol, hendak bertemu istri sendiri saja seribet ini."Duduk!" titahnya menatapku, kemudian menatap bangku di depannya. Tak ada senyum ramah diwajahnya. Justru terlihat sangat judes."Ini coba cek!" Ia menyodorkan padaku beberapa file. Aku pun meraihnya dan langsung membukanya."Ini, laporan yang aku buat bulan lalu, kenapa memangnya?" Aku bertanya-tanya, pasalnya aku merasa nggak ada yang aneh dengan laporan itu."Kenapa? Pak Iqbal masih tanya? Lihat itu, output yang di dapatkan jauh dari target," ucapnya."Lho bukannya selama ini memang yang kita hasilkan segitu? Kenapa kamu pertanyakan?" tanyaku heran."Harusnya anda berpikir dong, gimana caranya supaya bisa meningkat? Anda 'kan manager operasional di sini! Tugas anda menaikkan hasil s

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 35. Cerai

    Tyas Pov. "Tyas, kamu ini apa-apaan? Kau bisa menyuruh sekretarismu untuk memperbaiki ini semua. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan daripada harus mengurusi masalah tentang laporan, dan hal remeh temeh begini!" Mas Iqbal tak terima, dan ia melempar kembali beberapa berkas yang tadi kuberikan padanya. Seketika aku menatapnya tajam. Konyol memang, untuk hal sekecil itu, masak iya harus berulang kali diperbaiki. "Nggak! Aku maunya kamu yang kerjain ini, kamu sendiri yang membuat ini, tanggung jawab dong! Ambil kembali semua itu atau kau akan tanggung akibatnya membangkang pada atasan!" tegasku. Mas Iqbal pun mau tak mau meraih kembali semua berkas itu. Makanya Mas, mulai sekarang biasakan kerja yang baik, rapi, karena aku akan langsung menegur. Aku sengaja sering memberinya tugas tambahan, lalu jika hasil kerjanya tidak sesuai, maka aku akan memintanya untuk memperbaikinya. Bukankah itu sangat wajar ketika pekerjaan kita kurang baik, ya sudah sepatutnya kita memperba

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 36. Kecelakaan kecil.

    Memang benar apa yang Papa katakan, aku bisa saja memecat dia sekarang juga, tapi aku rasa tidak etis rasanya memecat seseorang tanpa alasan apapun.Bagaimana pun aku adalah pemimpin perusahaan, ke depan sepak terjangkau akan selalu jadi sorotan, di mata klien, juga di mata para karyawan lainnya."Iya Pa, nanti aku pikirkan caranya untuk bisa memecat dia dari kantor." Papa mengaguk paham."Kita bisa lihat, apa dia masih bisa tersenyum bangga tanpa pekerjaannya?" "Papa benar, dan Tyas pun ingin lihat bagaimana reaksi Bu Wina, apa dia masih bisa berbangga saat putranya tak punya apa-apa lagi."Aku teringat betapa ibu sangat bangga dengan pencapaian yang di raih Iqbal, padahal itu semua karena ada campur tanganku."Iqbal tanpa kamu, dia bukan siapa-siapa, ingat itu."Aku mengangguk paham."Sore ini Papa ingin ketemu sama Abi, ada hal yang ingin Papa bicarakan, kamu mau ikut?" tanya Papa. "Kayaknya nggak deh Pa, Tyas pengin istirahat, hari ini rasanya capek sekali." Aku menolak karena m

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 37. Hari Naas

    "Sayang kamu nggak apa-apa? Apanya yang sakit?" Tiba-tiba suara bariton seorang laki-laki, terdengar memecah keheningan. Suaranya seperti tak asing bagiku."Bapak!" Aku terpekik kaget melihat laki-laki itu datang menghampiri Bu Maryam. Seketika keduanya menoleh."Tyas!" Bu Maryam menatapku dan Bapak bergantian."Kalian saling kenal?""Dia menantuku, Sayang. Istrinya Iqbal."Bu Maryam terperangah. Ternyata Bu Maryam ini istri mudanya Bapak. Kenapa dunia ini sesempit ini."Jadi, Bu Maryam ini ....""Iya Yas, dia perempuan yang Bapak nikahi. Kamu lihat kan, bagaimana perbedaan Maryam dengan Wina? Mereka bagai langit dan bumi. Maryam adalah perempuan sabar, dan dia sangat menghormati Bapak. Bapak merasa lebih tenang di sini. Walau hadirnya sering di cap sebagai orang ketiga, tapi Bapak nggak peduli itu. Semua terjadi karena Wina tak kunjung berubah, di otak dia yang ada hanya uang, dan harta. Hingga mengabaikan kewajibannya terhadapku."Bapak berkata sambil menatap lurus ke depan. Padah

Latest chapter

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 148. Ending.

    "Pergi dari sini aku bilang! Pergi!" Sentak Iqbal dengan suara menggelegar."Oke, oke, aku tak akan mengambil Rayyan darimu. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan. Bagaimanapun aku ini adalah ayahnya. Jadi aku bisa sewaktu-waktu kemari untuk menengoknya. Kau tak bisa melarangku, kalau itu terjadi maka aku akan membawanya pergi jauh darimu."Ucapan Juna terdengar seperti ancaman bagi Iqbal."Oke! Tapi jangan pernah kau katakan kau adalah ayahnya. Tunggu sampai saatnya tiba. Saat dia bisa mengerti semua keadaan ini."Juna mengangguk kemudian pergi.Dalam keheningan malam, Iqbal duduk sendiri di kamar Rayyan, memandangi anak itu yang tertidur pulas. Sekarang Rayyan mulai mau menginap di rumah itu dan tidur bersama Iqbal. Tentu saja itu sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Iqbal."Aku telah mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu di dunia ini," bisiknya lirih. "Sekarang dan sampai kapanpun ... tidak ada yang bisa mengubah itu." Iqbal mengelus pelan rambut lebat bocah yang tengah

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 157. Kenyataan Menyakitkan.

    Iqbal menunggu dengan penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang.Dan Hasilnya ... TIDAK COCOK. Rayyan bukan darah dagingnya.Iqbal tercengang. Dunia seakan runtuh seketika. Hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Semua yang selama ini ia kira adalah kenyataan hidupnya, ternyata hanyalah ilusi. Amanda–wanita yang ia nikahi, ternyata telah menipunya. Namun yang lebih menyakitkan lagi, Rayyan anak yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari dirinya, anak itu ternyata bukan anak kandungnya.Wajah Iqbal mendadak pucat. Ia masih seperti mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya seperti kehilangan sebagian dari hidupnya.Meski ia berpisah lama dengan Rayyan karena dia di penjara, tapi dalam hatinya selalu menyakini bahwa Rayyan adalah permata hatinya. Dan sampai kapanpun dia tak merasa sendiri sebab ia punya anak. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Iqbal menggeleng, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Masih tak bisa terima dengan apa yang dikatakan dokter, tapi

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 156. Tes DNA.

    Setelah menjalani masa hukuman di penjara selama beberapa tahun, Iqbal kembali ke dunia luar dengan segunung tantangan yang menantinya. Fauzan yang telah menjamin kebebasan untuk Iqbal. Iqbal tak pernah menyangka, orang yang dulu ia tolong, kini telah sukses dan bahkan bisa menolongnya keluar dari penjara. Iqbal sangat berterimakasih pada Fauzan.Bayangan suram masa lalunya membayang-bayangi langkahnya, tapi ia mencoba menghapus semuanya, memulai lembaran baru. Fauzan menjemput Iqbal dengan mobil miliknya. Begitu sampai di halaman rumah Iqbal terkejut Hasna tengah sibuk melayani beberapa pembeli."Hasna," ucap Iqbal dengan senyum tersungging di bibirnya.Bergegas ia turun dari mobil untuk menemui ibunya. Beberapa langkah sebelum sampai di teras toko, ia melirik ke arah pintu rumahnya. Harusnya ada ibunya yang menyambut kepulangannya di sana. Mendadak hatinya gerimis, mengingat kini ibunya sudah tidak ada lagi.Dulu ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada mendukungnya. Wala

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 155. Akhir kisah sang Pelakor

    Amanda duduk duduk di tepi ranjang kecil yang suram, memandangi jendela yang menghadap ke gang sempit di sudut kota Semarang.Diluar kehidupan kota samar-samar terdengar, namun jiwa wanita itu terasa hampa. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat dengan tatapan matanya kosong. Sisa kehidupan yang dulu penuh hingar bingar kini hanya menyisakan sebuah penyesalan yang tak tertahankan."Aku muak dengan semua kelakuanmu! Kamu hadapi semua ini sendiri! Aku nggak mau tahu! Ini kan buah dari semua perbuatanmu!" sentak Yusuf sore itu sebelum memutuskan untuk pergi ke Jakarta.Yusuf yang menjadi kakak tiri Amanda, merasa sudah capek menghadapi berbagai model orang yang datang menagih hutang pada Amanda.Yusuf seolah menjadi ATM bagi Amanda, seenaknya dia meminta kakaknya untuk membayar hutang-hutangnya.Yusuf pun merasa capek. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan berusaha bersikap masa bodoh dengan Amanda. Karena semakin di turuti keinginannya, Amanda semakin menjadi. Seolah makin banyak saja orang

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 154. Iqbal Bebas

    Salah satu perawat yang tinggal tak begitu njauh dari rumah Hasna datang tergopoh, ia langsung mengecek kondisi tubuh Bu Wina yang dingin."Maaf, Ibu Wina sudah tidak ada," ucap perempuan itu lirih."Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un." Beberapa orang tetangga yang sudah datang turut berduka.Sedangkan Hasna masih tak sadarkan diri."Panggilkan Bapakya Hasna, cepat!" seru salah satu tetangga memberi titah pada tetangga lainnya. Laki-laki yang diberi perintah itu pun bergegas lari ke rumah Bapaknya Hasna, yang tinggal tak jauh dari rumah itu bersama Bu Maryam."Astaghfirullah, ada apa, Hasna! Hasna!" Laki-laki paruh baya itu datang, ia syok melihat Wina istri pertamanya telah berpulang. Dan Hasna masih terbaring pingsan.Dalam hati kecilnya ia sangat sedih, meski semasa hidup dan tinggal bersama Wina ia kerap kali berbeda pendapat, kerap kali bertengkar, tapi perjalanan waktu yang di lalui bersama, tentu menyimpan sejuta kenangan bersama juga bersama anak-anak mereka."Yang sabar Pak! I

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 153. Kepergian Bu Wina.

    Pagi-pagi sekali Hasna sudah bersiap untuk pergi menemui Iqbal."Mbak Santi, tolong titip Ibu sebentar ya. Akan saya usahakan cepat pulang." Hasna meminta bantuan tetangga untuk menjaga ibunya sebentar, selama dia pergi."Iya Hasna, tenang aja. Saya akan di sini sampai kamu pulang.""Terimakasih banyak Mbak Santi.Hasna pun berangkat dengan memakai motor matic second yang dibelinya, untuk di pakai setiap kali berbelanja mengisi tokonya.Saat tiba di Lapas, seketika Hasna merasakan atmosfer yang berat. Rasa rindu, marah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Saat Iqbal muncul di ruang kunjungan, Hasna melihat perubahan besar dalam diri kakaknya. Wajahnya tirus, tubuhnya semakin kurus, rambutnya sedikit berantakan, dan ada bayangan kelam di matanya."Hasna ..." Iqbal memanggil namanya dengan suara serak, seakan-akan ia tak percaya adiknya benar-benar datang.Hasna duduk di depannya, diam sejenak. Suasana canggung terasa di antara mereka. "Aku datang karen

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 152. Tawaran Bantuan.

    "Selamat sore, Mbak Hasna," sapa pria itu.Hasna sedikit terkejut. Ke apa laki-laki itu bisa tahu namanya. Dari gelagatnya dia seperti tidak berniat untuk membeli sesuatu di toko."Sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Saya teman lama Iqbal. Namaku Fauzan. Saya baru dengar tentang kejadian yang menimpa keluargamu."Hasna terdiam sejenak. Ada rasa kekhawatiran, jangan-jangan kakaknya punya hutang pada temannya ini dan sekarang dia datang untuk menagih hutang. Begitu pikir Hasna."Oh, begitu. Ada yang bisa saya bantu? Maaf Mas Iqbal tidak ada di rumah."Fauzan mengangguk pelan. "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar ibumu. Aku tahu bahwa apa yang terjadi dengan Iqbal pasti bagi kalian."Hasna memandang pria itu dengan sedikit rasa waspada. Ia memang pernah mendengar nama Fauzan dari Iqbal, tapi mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Tentu saja, setelah semua yang terjadi dengan kakaknya, ia sulit untuk langsung mempercayai siapa pun, terutama orang yang datang tiba-tiba tanpa diduga.H

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 151. Jalan terjal kehidupan Keluarga Iqbal.

    POV Author. Jalan Terjal Kehidupan keluarga Iqbal."Makan dulu Bu." Hasna menyuapi ibunya–Wina dengan telaten.Nasi putih dengan tekstur sedikit lembek dan sayur Sop ayam. Biasanya ibunya akan sangat suka dengan menu satu ini. Tapi hari ini Bu Wina seperti tak ada nafsu makan."Bu, lagi ya." Bu Wina menggeleng. Hasna menghela napas."Ya sudah sekarang minum obatnya, ya." Hasna bergegas menuju ke kamar ibunya, membuka laci nakas tempat ia menyimpan obat.Setelah kejadian Bu Wina jatuh stroke, Hasna memilih resign dari kantor dan fokus di rumah mengurus ibunya.Ia membawa Wina kembali ke rumah lamanya. Sedangkan Bu Maryam dan Bapaknya pindah dari rumah itu, tinggal tak begitu jauh dari rumah Bu Wina."Ini Bu obatnya." Setelah selesai mengurusi ibunya, Hasna membawa ibunya ke depan teras rumah, udara pagi yang sejuk, juga sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan ibunya."Hasna buka warung dulu ya." Bu Wina hanya mengangguk. Sebenarnya Bu Wina masih bisa bicara walau ada sedikit terb

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 150. Jebakan untuk Om Martin.

    "Halo Sayang, aku sekarang bagi diperjalanan pulang ke Jakarta." Aku mengabari Tyas melalui sambungan telepon."Iya Mas hati-hati. Gimana tadi ketemu sama Pak Bambang?""Ketemu Sayang.""Terus?""Nanti aku ceritakan di rumah ya. Assalamualaikum."Panggilan selesai. Aku fokus mengemudi dengan karena jalan berbelok-belok dan berbatu.Aku kembali ke Jakarta dengan menggenggam luka. Kesaksian Pak Bambang, tentu memberi titik terang sekaligus memberikan luka. Betapa Martin sangat jahat. Padahal Papa sudah sangat percaya padanya.Ternyata dia tega mengkhianati kepercayaan Papa. Sungguh ini sakit sekali."Ya Allah Pa. Lihat kan Pa, orang yang selalu Papa bela mati-matian, orang selalu menjadi diri diantara hubungan kita. Ternyata dia adalah orang yang sangat busuk! Brengsek! Awas saja Kau Martino, aku pastikan kau akan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama," geramku, sambil memukul stir mobil beberapa kali.Aku berhasil keluar dari jalan desa, kini melewati jalanan yang

DMCA.com Protection Status