Share

Memulai Yang Baru

Author: Rachel Bee
last update Last Updated: 2024-12-05 12:22:24

Carla masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang, sedih dan sedikit lega. Beban yang selama ini menghimpitnya serasa pergi satu persatu meninggalkan hidupnya. Ada tangis haru yang ingin ia tumpahkan walau sekuat tenaga dilawannya.

"Carla..." Vian menyapa lebih dulu saat Carla baru saja melangkah masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu membalasnya dengan senyuman manis.

"Vian? Kemana saja?"

"Kenapa? Kangen ya?" Carla mencubit pinggang Vian hingga meringis kesakitan. Pria itu hanya terkekeh sambil memegangi pinggangnya. "Aku setiap hari ke sini loh. Tapi mungkin kamu enggak lihat."

"Iya kah? Waktu aku masih pemulihan?" Vian mengangguk. Carla memilih duduk di sofa empuk ruang tengah ditemani Vian. Keduanya duduk bersebelahan. Mata Vian memicing memperhatikan Carla yang tengah memijat kakinya.

"Lelah?" Carla mengangguk. Vian perlahan menarik kaki Carla lalu menaruhnya di atas pangkuannya. Sontak Carla terkejut melihat perlakuan tiba-tiba dari sahabat masa remajanya.

"Vian, jangan begini." Ca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Istri kedua pilihan mertua    Pura-pura Tak Kenal

    "Aduh!" kaki Carla tersandung anak tangga menuju lantai dua. Tadi saat masuk ke dalam, matanya begitu takjub melihat pemandangan kafe dari ujung ke ujung."Pelan-pelan sayang." suara lembut Vian membuat hati Carla berbunga-bunga. Adam yang ikut tersenyum mendengarnya."Vian, kamu tuh..."Mereka bertiga naik ke lantai dua sambil bercanda mesra. Vian kerap kali melontarkan candaan mesra untuk Carla hingga membuat wanita cantik itu terkekeh."Om jamet!" celetuk Adam."Biarin. Jamet begini bikin mama kamu suka." Carla dan Adam terkekeh. Mereka sangat suka mendengar celetukan Vian yang lucu.Dari tangga sebelah kiri, mereka bertiga memutar ke arah jendela dekat kolam ikan yang pemandangannya sangat indah. Di lantai dua ada tiga ruangan yang bisa disewa oleh pelanggan untuk acara tertentu. Vian menggiring mereka berdua ke ruangan yang paling ujung sedikit lebih besar dari ruangan yang lainnya.Saat akan melewati ruangan pertama, jantung Carla berdegup kencang. Seakan akan ada sesuatu yang m

    Last Updated : 2024-12-06
  • Istri kedua pilihan mertua    Direstui Mantan

    "Adam!" teriak Abi dari kejauhan. Adam yang sedang duduk mengamati ikan menoleh ke arah suara itu."Papa?" Adam tak beranjak dari duduknya. Baginya, lebih penting mengamati ikan daripada menyapa ayahnya."Adam, itu ada om-om panggil kamu." Tasya menarik lengan Adam menunjuk ke arah taman yang tak jauh dari kolam ikan. Adam tetap bergeming, matanya hanya melirik seolah tak peduli."Tasya, kita ke atas lagi yuk." Adam menarik lengan Tasya mengajaknya berlari ke lantai dua kafe lewat pintu belakang. Abi berlari ingin menyusulnya namun langkah Adam ternyata lebih cepat dari yang dirinya kira.'Kenapa dia menghindari aku?'"Adam, ihh!" Tasya kesal. Ia masih ingin melihat kolam ikan tapi malah diajak kembali ke dalam kafe. "Tasya masih ingin lihat ikan!""Di rumah eyang ada." Adam mengajak bocah kecil itu duduk di sofa mungil. Adam mengusap-usap rambut Tasya yang berantakan. Tasya melengos tak suka."Tapi kan Tasya mau li

    Last Updated : 2024-12-07
  • Istri kedua pilihan mertua    Undangan Lamaran Carla

    Tiga bulan setelah perceraian, tak membuat hidup Abi menjadi lebih bahagia. Hari-harinya dihabiskan dengan bekerja dan berkumpul bersama teman-teman barunya sesama pengusaha. Tak jarang ia juga pulang larut malam. Entah membicarakan apa dengan teman-temannya itu.Suasana di kantornya juga sudah tak senyaman dulu, baginya. Setiap kali ia menginjakkan kaki ke dalam ruangan, matanya selalu tertuju pada ruangan yang dulu pernah dijadikan kamar olehnya. Terakhir kali Carla memberikan kewajibannya sebagai seorang istri terjadi di kamar itu.Namun kini semuanya terasa menyesakkan. Abi menyesali kepergian Carla dari hidupnya.Tokk tokk tokk"Masuk!""Halo bro, apa kabar?" Abi mendongakkan wajahnya. Ternyata yang datang adalah Al, sepupu Carla."Ada apa?" Abi menjawab salam Al dengan raut wajah datar. Sekitar dahinya banyak kerutan tua yang tak sesuai dengan umurnya."Aku kesini mau kasih sesuatu untuk kamu." Al mengeluarkan

    Last Updated : 2024-12-08
  • Istri kedua pilihan mertua    Iri Dengan Mantan

    "Hari ini ada acara di rumah mama. Aku mau datang dan nginap di sana," ujar Risya dengan nada ketus. Abi hanya melirik sekilas. Hari sabtu ini dirinya berencana akan pergi ke gedung hotel tempat acara lamaran antara Carla dan Vian akan dilangsungkan."Lalu? Memang ada acara apa? Kok kamu mendadak kasih tahunya? Senang lihat aku diomongin sama keluarga besar kamu?"Abi bukannya tak tahu. Semenjak perceraiannya dengan Carla, semakin banyak orang yang diam-diam tak menyukai Abi. Hanya saja saat bertemu dengannya, mereka berpura-pura tersenyum menyukainya."Kan kamu tahu sendiri, mama aku seringnya mendadak kalau bikin acara," jawab Risya beralasan."Aku ada acara. Kamu sama supir saja berangkatnya." Abi meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pakaiannya rapi, kemeja dan jasnya terlihat serasi. Membuat wajah Abi semakin tampan dan berwibawa."Pasti mau ke pestanya Carla. Ya kan?" tuding Risya. Abi mengangguk datar. "Aku enggak izi

    Last Updated : 2024-12-09
  • Istri kedua pilihan mertua    Iri Dengan Yang Lama

    BrakkRisya membuka pintu kamar dengan kasar. Suaranya hampir terdengar ke lantai bawah. Untung saja Fariska tak rewel mendengar ibunya mengamuk tak jelas. Ini semua karena Carla. Risya membenci wanita yang dulu pernah mengisi hati suaminya. Terlebih saat ini dia sudah bahagia dengan pendamping barunya. Risya semakin iri dibuatnya."Kamu kenapa sih? Pulang kondangan malah ngamuk-ngamuk." Abi datang dari balik pintu dengan raut wajah yang masam."Itu karena kamu, Mas."Abi mengerutkan dahinya. Ia tak merasa bersalah sama sekali karena sejak tadi dirinya hanya diam saja."Aku? Sejak kapan aku berulah?" Abi tak terima dituduh seperti itu. Aneh sekali pemikiran istrinya. "Aku tak merasa bersalah sedikitpun padamu.""Kamu sengaja kan ajak aku datang ke pesta lamarannya Carla supaya aku iri. Atau kamu masih suka sama dia diam-diam," tuduh Risya lagi.Abi melirik tak suka pada sikap Risya yang terkesan berlebihan. Apa yang membuatnya harus iri dengan kehidupan Carla? Bukankah dia juga mendap

    Last Updated : 2024-12-10
  • Istri kedua pilihan mertua    Mantan Madu Yang Masih Mengganggu

    Keesokan harinya, Carla datang ke kantor untuk mengambil barang-barang miliknya yang tertinggal. Sekalian ia pamit pada karyawannya yang sudah dianggap keluarga olehnya. Niatnya memang ingin pensiun dan fokus mengurus rumah tangganya bersama Vian. Walau dalam hati dirinya tak rela meninggalkan semuanya. Berjalan pelan menuju ruang kerja Al, ia tersenyum manis pada sekretarisnya yang berada di meja kerjanya "Pak Al ada?" tanya Carla dengan suara lembut. "Ada, Bu. Bu Carla makin segar. Semoga lancar sampai hari H ya, Bu," ucap sekretaris Carla yang sekarang jadi sekretaris Al. "Ah, terima kasih. Kamu nanti datang kan ke acara pernikahan saya?" "Pasti Bu Carla. Saya akan datang." Carla pamit masuk ke dalam ruangan kerja Al. Kakak sepupunya itu sedang duduk, fokus membaca berkas di mejanya. "Mas Al?" Al menoleh. Ia tersenyum menyambut adik sepupunya yang baru saja datang. "Barang-barangku sudah disiapkan?"

    Last Updated : 2024-12-11
  • Istri kedua pilihan mertua    Ada Risya Ada Kekacauan

    "Wah, kainnya cocok di kulit halus Carla. Cantik sekali," puji Leni yang sejak tadi tak berhenti tersenyum melihat hasil karyanya sempurna melekat di tubuh mungil Carla. "Ini enggak berlebihan kan tante?" tanya Carla, ia merasa tak percaya diri dengan tubuhnya yang kurus. Gaun itu terlalu cantik untuk dikenakannya. Tubuh Carla memang tinggi tapi terlihat kontras dengan lengannya yang kurus. Bentuk tubuh Carla belum kembali seperti sedia kala. Mungkin ini pengaruh dari makanan yang dipantang oleh Carla demi kesehatannya. Tak banyak yang dipantang tapi itu sedikit mengganggu untuk penambahan berat badannya. "Tidak. Ini sempurna sayang. Kulit kamu putih mulus, tante suka dengan kulit kamu yang bercahaya," puji Leni sekali lagi membuat Carla jadi tak enak hati. "Tapi kan saya kurus banget. Jadinya—" "No. Tante punya banyak solusi untuk tubuh yang terlalu kurus. Ada triknya biar terlihat proporsional. Kamu punya d

    Last Updated : 2024-12-11
  • Istri kedua pilihan mertua    Adam Rindu Ayahnya

    Suasana dalam mobil mewah itu terasa sunyi karena sejak pemiliknya masuk belum satupun yang membuka suara untuk bicara. Hanya ada suara alunan musik yang terdengar sayup-sayup di telinga keduanya. Carla irit bicara hari ini, begitu pula dengan Vian. Pria itu menunggu kesayangannya bicara agar ia tak dicap sebagai pria arogan. Tangan kiri Vian meraba, mencari tangan Carla lalu menggenggamnya erat. Dingin, untuk itu ia menghangatkannya. Carla menoleh lalu kembali menatap lurus menatap jalanan di depannya. "Kamu jangan keras sama sepupu kamu sendiri. Aku enggak enak sama tante Leni tadi." Carla bicara dengan wajah datarnya. Vian masih diam. Mungkin sedang mencari kalimat yang pantas untuk diucapkan. "Aku tidak apa-apa kok dihina seperti itu. Bukannya sudah biasa ya?" "Bagimu biasa, tapi tidak untukku. Harga dirimu adalah harga diriku juga. Kamu dihina aku juga dihina. Aku yang memilih kamu maka akulah yang akan membela jika ada yang menghinamu."

    Last Updated : 2024-12-12

Latest chapter

  • Istri kedua pilihan mertua    Epilog : Ketika Semua Bersama

    Epilog: Tak ada yang tahu bagaimana takdir berjalan. Tak ada yang tahu juga bagaimana sebuah cinta akan berakhir dengan seseorang yang dicintai atau tidak. Carla telah jatuh dan bangkit karena cinta, kini hidupnya akan kembali disatukan dengan sebuah cinta. Satu bulan setelah perceraian Abi dan Risya, kabar duka datang dari Carla yang kehilangan suami tercintanya. Setelah berjuang melawan penyakit paru-paru yang telah menggerogotinya selama lima tahun, Vian pun menyerah. Ia meninggalkan seorang anak dan istri yang masih mencintainya. Carla kira, dirinya yang akan pergi lebih dulu. Mengingat penyakitnya yang tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Ternyata tuhan masih memberikan umur panjang padanya. Setelah tiga bulan resmi menyendiri, sebuah lamaran datang kembali padanya. Kali ini, ia kembali pada cinta sejatinya yang tak mungkin bisa dilupakan. "Mama cantik sekali," puji Adam yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar rias calon ibunya. Carla memeluk anak pertamanya itu dengan erat. "Ter

  • Istri kedua pilihan mertua    Semua Selesai

    Sidang putusan pengadilan akhirnya memutuskan perceraian antara Risya dan Abi. Mereka resmi berpisah dengan dikabulkannya tuntutan yang dilayangkan oleh Abi pada Risya. Perselingkuhan itu terbukti dilakukan dengan sadar dan atas kemauan mereka berdua. Risya sempat pingsan saat pembacaan putusan, walau tak lama kemudian ia sadar lalu menangis meraung-raung memikirkan nasibnya setelah ini. Abi tersenyum pedih melihat surat keputusan cerai yang telah diterimanya. Ini adalah surat ketiga yang dimilikinya. Ia tak lagi sanggup menangis, karena ini terlalu pedih. "Pa, makam mama apakah ada yang menjaganya?" Abi menoleh pada anaknya yang tengah mengemudi di sampingnya. Tak lama kemudian, ia mengangguk. "Adam kangen sama mama Winda." "Papa juga. Andai waktu itu papa tidak terburu-buru menceraikan dia dan pergi begitu saja dari sisinya. Pasti kita akan jadi keluarga yang bahagia saat ini. Maafkan papa, Adam. Papa salah dan berdosa padamu dan juga mama Winda." Abi mengusap air mata yang menga

  • Istri kedua pilihan mertua    Pengakuan Langsung

    "Itu adalah anakku, aku adalah ayahnya." Suara itu menggema memecah keramaian drama yang baru saja ditunjukkan oleh Risya di depan hakim persidangan. Semua orang menatap heran pria yang baru saja masuk ke dalam ruang sidang. Risya yang tadi menangis tersedu-sedu kini hanya bisa diam. Isi kepalanya ikut menghilang seperti air mendidih yang menguap. "Dia adalah anak saya pak hakim," tunjuk Sandy, pria yang tadi memasuki ruang sidang. "Itu bohong, pak. Saya hanya melakukan itu dengan suami saya!" bantah Risya. Sandy menyeringai. "Apa perlu aku putar video mesra kita saat menghabiskan malam romantis dan panas berdua?" Huuu Terdengar suara gaduh dari saksi yang mendengar ancaman dari Sandy. Semua orang kini memandang jijik dua orang yang tengah berdebat di depan hakim persidangan. "K-kamu yang jebak aku!" "Kau—" Belum selesai Sandy bicara, hakim mengetuk palunya. "Sidang ditunda minggu dep

  • Istri kedua pilihan mertua    Sidang Perceraian Pertama

    Mantan ibu mertuanya duduk dengan nyaman di sofa rumah Abi setelah menunggu lebih dari dua jam kepulangannya. Abi memang sengaja pulang sedikit terlambat tadi. Ia menyempatkan mengajak kedua anaknya berjalan-jalan di pasar malam melihat pertunjukan lalu makan malam sejenak dan akhirnya pulang. Abi tak mengira, mantan ibu mertuanya akan datang dan menunggunya hingga selarut ini. Lebih mengherankan lagi, mata wanita paruh baya itu terlihat sembab dan lelah. Apa yang sebenarnya akan dia katakan hingga mengorbankan waktu istirahatnya? "Ibu ke sini diantar siapa?" tanya Abi sekedar berbasa-basi. Ibu Risya tersenyum getir. Ia menarik napas panjangnya lalu menunduk sejenak. "Tadi, ibu datang bersama menantu ibu yang kebetulan akan berangkat kerja." ibu Risya menggeser posisi duduknya, sedikit mendekat pada Abi yang terdiam di tempatnya. "Kedatangan ibu ke sini, hanya ingin mengatakan sesuatu. Semoga ini akan menjadi pertimbangan dirimu untuk membatalkan rencana perceraian besok." Abi me

  • Istri kedua pilihan mertua    Hamil Bukan Anak Suami

    Hoeekk hoekkk Risya terbangun dengan kepala pening dan perut yang mual sejak matanya terbuka. Hampir setengah jam ia berjalan mondar-mandir memasuki kamar mandi hanya untuk menuntaskan rasa mualnya. Tak ada sisa makanan yang ke luar, hanya cairan bening yang meluncur dari mulutnya. "Kamu hamil?" suara sang ibu terdengar dari balik pintu kamar mandi. Tangan wanita paruh baya itu menyilang di dadanya. "Anak siapa?" Dengan kaki gemetar, Risya membalikkan tubuhnya menghadap ibunya. Ibu Risya, terkenal keras sejak dulu. Ia memang menyayangi Risya dan sering memanjakannya. Namun jika anaknya itu melakukan kesalahan, ia tak segan untuk berbuat kejam. "Kamu tuli?" bentak ibu Risya. Suara menggelegar itu membuat Risya ketakutan. "Jawab!" "I-iya. I-ini anak mas Abi," jawab Risya gemetar. Tangannya berpegangan pada sisi wastafel agar tak jatuh. Kemarin, sesudah semua orang rumah pergi, Risya diam-diam pergi membeli alat tes kehamilan di apotek. Ia mulai merasakan hal yang tak beres dengan

  • Istri kedua pilihan mertua    Makan Siang Bersama

    Dua minggu sudah Risya dikembalikan ke rumah orang tuanya, dua minggu pula Abi merasakan kedamaian di rumahnya. Berkali-kali mantan ibu mertuanya mencoba menghubungi Abi untuk membatalkan perceraian, berkali-kali pula Abi menolaknya. Abi tak ingin luluh lagi dalam jeratan rayuan Risya seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. Pria yang sebentar lagi menyandang status duda untuk keempat kalinya itu termenung di pinggir ranjang. Di tangannya, ada selembar surat undangan dari pengadilan untuk sidang cerainya pertama kali. Besok, akan jadi penentuan baginya untuk hidupnya yang baru. Pintu kamar pun terbuka, Adam dan Fariska yang hari ini tengah libur masuk ke dalam kamar milik ayahnya. Abi tersenyum melihat keduanya. "Pa, hari ini kita ke kantor papa ya? Aku lagi enggak ada kelas, Ika lagi rapat guru-gurunya. Boleh kan?" tanya Adam yang dibalas anggukan oleh Abi. "Kalau gitu, Adam sama Ika tunggu di bawah." "Iya. Papa nanti nyusul. Kalian sarapan saja dulu." Kedua anak Abi itu segera

  • Istri kedua pilihan mertua    Kembalikan Ke Rumah Orang Tua

    Abi benar-benar telah matang dalam mengambil keputusan untuk bercerai dengan Risya, istrinya. Di dalam kepalanya, tak ada lagi kesempatan kedua untuk mempertahankan rumah tangga. Abi sudah muak dengan segala macam drama yang telah Risya buat. Walaupun dengan penolakan tak rela dari Risya, tetap saja Abi bersikeras untuk menceraikannya. Baginya, perselingkuhan adalah kehinaan dalam sebuah hubungan. "Turun!" perintah Abi yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Risya. "Jangan sampai aku bertindak kasar padamu!" tegas Abi. Pria itu membuka pintu samping lalu menarik Risya ke luar. Risya terus memberontak bahkan tak segan memukul lengan Abi dengan keras. Abi tak peduli, ia tetap menarik Risya setelah berhasil menurunkan dua koper besar milik wanita itu. "Mas, aku enggak mau pulang ke sini!" rengek Risya. Tak peduli dengan rengekan Risya, Abi tetap menyeret koper milik Risya. Mendengar kegaduhan yang ada di depan rumah, ibu mertua Abi segera berlari menemui asal suara. Karena sayup-say

  • Istri kedua pilihan mertua    Nekat Ingin Kembali

    Risya tak terima dengan keputusan yang diambil oleh Abi. Ia terus meraung-raung tak jelas di depan kamar suaminya. Suaranya baru berhenti menjelang pagi. Rupanya, ia tertidur di depan pintu kamar dengan tubuh tengkurap mencium lantai. Abi sama sekali tak terenyuh dengan pemandangan di depannya. Tanpa menoleh sama sekali, ia pergi sambil melangkahi seonggok tubuh yang tengah tertidur itu. Mendengar suara tawa yang cukup keras dari lantai bawah, Risya terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap lalu perlahan terbuka. Tubuhnya sakit, ia melenguh. Rasanya seperti tertimpa ribuan ton besi. "Pa, hari ini aku mau ajak Ika ke rumah Jihan. Boleh kan?" ujar Adam meminta izin pada ayahnya. Abi mengangguk. Kedua anaknya cukup sering menghabiskan waktu di rumah sahabatnya, tak ada alasan untuk menolaknya. "Soalnya, Fariska mau main sama dedek Ragil. Iya kan?" "Ih, kakak. Kenapa dikasih tahu ke papa?" bibir Fariska mengerucut lucu, pipinya menggembung tanda ia marah pada kakaknya. Adam

  • Istri kedua pilihan mertua    Mari Bercerai

    Adam meremat tangannya, hatinya gusar dan bingung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sejak kejadian di dalam mobil itu. Tidur malam Adam pun tak pernah tenang. Wajah biadab itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya tiap detik. Adam terus menimbang-nimbang apakah dirinya akan mengungkapkan semuanya pada sang ayah atau tidak. Setiap kali melihat wajah lelah ayahnya, Adam jadi tak tega mengungkapkan. Namun jika mengingat perlakuan buruk ibu tirinya, hatinya memanas. Ia tak rela jika ayahnya dikhianati dengan cara kejam di belakangnya. "Pa," panggil Adam dengan suara pelan. Abi menoleh dengan senyuman manisnya. Menepuk pinggiran sofa lalu melambaikan tangan mengajak Adam untuk duduk di sebelahnya. "Pa, Adam—" Abi melihat raut wajah keseriusan di mata Adam. Sudut hatinya yang peka mengatakan jika anaknya itu membutuhkan bantuan. "Ada apa, nak? Ada yang ingin kamu sampaikan?" Suara lembut ani menggoyahkan keinginan Adam untuk mengungkapkan sebuah rahasia. Pria muda itu menarik napas p

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status