Setelah menerima telepon dari Rajendra, Langit duduk di sofa apartemennya dengan dahi berkerut bingung. Ia tidak tahu kenapa Rajendra meneleponnya apalagi dengan marah-marah seperti tadi. Langit mengingat-ingat apa ada sesuatu hal baru-baru ini yang ia lakukan sehingga Rajendra tersinggung. Tapi rasanya tidak ada."Kenapa dia bisa semarah itu?" Langit bermonolog sendiri namun tetap tidak mendapat jawaban.Beberapa saat setelahnya terdengar ketukan pintu. Langit bangkit dari sofa lalu melangkah gontai menuju pintu. Setelah pintu terbuka ia menemukan Rajendra berdiri di hadapannya dengan wajah tegang dan mata menyala penuh emosi."Gue perlu bicara sama lo," ucap Rajendra sambil melangkah masuk sebelum Langit memberi izin."Ada apa, Ndra? Lo kenapa?" sikap Langit tetap tenang. Begitu kontras dengan Rajendra yang begitu terbakar emosi.Rajendra menatap tajam, bersiap meluncurkan serangan. "Lo pikir gua nggak tahu, hah?""Lo tahu apa?" Langit benar-benar kebingungan sekarang."Jangan pura-
Ryuga. Satu nama itu menjadi sasaran Rajendra berikutnya. Livia hanya dekat dengan Langit dan Ryuga. Maka karena Langit tidak mengaku, Ryuga tidak akan lagi bisa menghindar. Sayangnya Langit tidak tahu di mana alamat kantor lelaki itu. Jadi ia terpaksa mengulurkan niatnya untuk bertemu.Sementara itu di rumah Livia tetap mengerjakan tugasnya seperti biasa walau keadaannya tidak baik-baik saja. Sedikit-sedikit mual. Sedikit-sedikit muntah. Ia ingin beristirahat namun masih banyak yang harus dilakukannya.Bunyi bel yang menggema memaksa Livia bergerak dari tempatnya. Perempuan itu melangkah terpincang-pincang untuk membukakan pintu. Ia sedikit terkejut melihat tamunya.Langit. Mengingat pertengkarannya tadi pagi tentang Rajendra yang menuduh Langit sebagai ayah biologis anaknya membuat Livia merasa tegang. Tapi untung saja Rajendra sudah berangkat ke kantor."Jadi aku nggak boleh masuk nih?" gurau Langit melihat Livia hanya membiarkannya berdiri di sisi pintu.Livia terkesiap lalu ter
Livia refleks terdiam mendengar perkataan suaminya yang sama sekali tidak pernah ia duga. Sorot matanya tampak begitu terluka. Ia menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh."Maaf, Ndra, saya nggak bisa," suara Livia begitu lirih. Lalu ia elus perutnya yang terlihat masih rata. "Anak ini nggak salah apa-apa. Kenapa harus digugurkan?"Rajendra berjalan menghampiri, memangkas jarak di antara mereka. Ditatapnya Livia dengan sorot penuh emosi. "Kamu pikir aku akan membiarkan anak yang bukan darah dagingku tinggal di rumah ini denganku?" "Ndra, saya nggak pernah minta kamu bertanggung jawab atas anak ini. Pernikahan kita adalah kesalahan saya. Tapi tolong jangan ingkari darah dagingmu sendiri. Jangan suruh saya menggugurkannya. Saya bisa pergi dari sini kalau itu yang kamu mau."Perkataan Livia membuat Rajendra tersentak. Arus emosi yang tidak ia pahami tiba-tiba muncul. Ia tidak ingin Livia pergi, tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakuinya."Pergi kamu
Utary langsung menelepon Rajendra agar Rajendra semakin cepat mengusir Livia. Dengan tangan memegang pipi yang masih memerah ia menghubungi Rajendra dan memastikan suaranya terdengar pilu."Ndraaa, aku ditampar Livia," adunya penuh drama. Suaranya dibuat sedang menahan tangis.Rajendra yang saat ini berada di kantornya mengernyitkan dahi. "Kamu bilang apa, Tar? Livia menamparmu?"Utary memainkan perannya dengan sempurna. Wanita itu terisak di telepon. "Aku nggak tahu apa salahku. Awalnya aku cuma nanya tentang dia yang berubah akhir-akhir ini. Masalahnya dia kelihatan beda. Tapi dia malah emosi. Dia bilang aku nggak berhak bicara mengenai dia dan anak itu. Padahal aku nanyanya baik-baik.""Anak itu? Anak itu siapa maksudnya?" Rajendra terkesan bingung."Aku sudah tahu semuanya, Ndra. Aku tahu dia hamil. Dia bilang dia hamil anak kamu, padahal kita sama-sama tahu bahwa itu nggak akan mungkin. Aku cuma mau mengingatkan dia dan mau bantu kamu, Ndra, agar dia nggak menggunakan kehamilanny
Malam ini Livia sedang duduk di beranda samping rumah sendirian. Tangannya mengelus perut yang tertutup baju longgar berwarna coklat. Pikirannya menerawang ke mana-mana. Terutama pada perdebatan dengan Rajendra sore tadi. Kata-kata lelaki itu begitu melekat di benaknya dan menohok dengan sangat tajam di hatinya.'Aku bisa saja mengusirmu, tapi sayangnya rumah ini masih butuh pembantu. Randu juga butuh pengasuh'.Serendah itukah dia di mata suaminya sendiri?Livia menelan saliva, menahan perasaan yang terlalu menyakitkan. Tangannya turun meremas baju di bagian perutnya, berusaha meredam amarah yang bergejolak. Namun sesaat kemudian perasaannya sedikit lebih baik mengingat di dalam perutnya ada janin yang sedang tumbuh."Maafin Bunda, Sayang. Bunda terlalu lemah." Ia bergumam pelan. Perlahan air mata menetes membasahi pipinya namun tidak lama lantaran Livia buru-buru menghapusnya.Sambil terus mengelus-elus perutnya Livia menggumam sendiri. "Aku nggak akan kalah. Aku nggak akan membiark
Livia mencoba keras untuk menguatkan diri. Ditatapnya Lola dengan mata yang berusaha tenang. Namun bibirnya sulit untuk tidak gemetar.Belum Livia menjawab, terdengar langkah kaki mendekat dari ruang makan. Utary muncul dengan raut penuh percaya diri."Malam, Om, Tante, saya Utary," ia mengenalkan diri dengan nada ramah namun penuh kepalsuan. "Rajendra mengajak saya tinggal di sini. Maaf kalau suara saya tadi mengganggu."Dahi Lola berkerut dalam. Dipandanginya Utary dari ujung kepala hingga bawah kaki. "Rajendra mengajak kamu tinggal di sini? Untuk apa?"Tiba-tiba Rajendra muncul dari belakang Utary dan langsung menjelaskan. "Utary sedang ada masalah pribadi, Tante. Dan sebagai seorang teman aku hanya ingin membantu."Mendengar keterangan dari anak tirinya Lola memandang ke arah Rajendra dengan tajam. "Kamu udah gila apa gimana, Ndra? Kamu pikir pantas membawa wanita lain tinggal di rumah ini sementara istrimu ada di sini?"Rajendra akan menjawab pertanyaan tersebut namun gerakannya
"Sekarang kemasi barang-barangmu lalu silakan pergi dari rumah ini. Saya tidak peduli apa pun alasannya, rumah ini bukan tempat untukmu," usir Erwin pada Utary.Utary jelas saja terkejut tapi ia tetap bertahan dan mencoba agar terlihat tegar. "Tapi Rajendra sendiri yang minta aku tinggal di sini. Aku hanya mengikuti permintaannya, Om.""Permintaan yang membuat hancur keluarganya sendiri?" Erwin membalas dengan suara yang keras. "Rajendra bukan anak kecil yang bisa berbuat sesuka hati tanpa konsekuensi. Kalau kamu masih punya malu tidak seharusnya masuk ke rumah istri Rajendra."Lola tidak ketinggalan dari suaminya. Ia berdiri di dekat Utary. "Sejak tadi saya mencoba bersikap sopan, tapi sekarang nggak bisa lagi. Rumah ini adalah milik Livia. Kamu nggak punya hak di sini. Pergilah sebelum kamu mempermalukan diri lebih jauh."Melihat Utary dicecar, Rajendra langsung pasang badan. "Pi, Tante, Utary nggak punya tempat tinggal. Dia--""Diam kamu, Ndra!" potong Erwin sebelum Rajendra selesa
Rajendra masih membisu, tidak sanggup mengatakan apa pun. Rasa gengsi dan perasaan malu membaur menjadi satu dalam dirinya. Menyampaikan permintaan maaf pada Livia berarti mengakui semua kesalahannya secara terang-terangan. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.Livia yang sejak tadi hanya membisu akhirnya bersuara. "Nggak apa-apa, Pi. Saya nggak butuh permintaan maaf dari Rajendra."Semua mata kini terfokus pada Livia. Kata-katanya terdengar datar. Wajahnya dingin dan tanpa ekspresi.Livia melanjutkan perkataannya. "Permintaan maaf itu nggak akan mengubah apa pun. Yang saya butuhkan adalah aksi nyata. Kalau dia memang merasa bersalah tunjukkan dengan cara memperbaiki diri, bukan hanya sekadar kata-kata."Erwin menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia merasa puas atas keberanian Livia. "Dengar itu, Ndra," ucapnya sambil menatap anaknya tajam. "Livia nggak butuh basa-basi dari kamu. Perbuatanmu selama ini sudah lebih dari cukup untuk menghabiskan kepercayaannya."Raje
Rumah besar Livia dan Rajendra kini terasa sunyi. Anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tapi di setiap akhir pekan rumah mereka selalu ramai oleh tawa canda cucu dan cicit mereka. Anak-anak selalu menawarkan Rajendra dan Livia untuk tinggal bersama mereka tapi keduanya menolak. Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua saja dan menghabiskan masa tua bersama.Rajendra dan Livia saat ini sedang berada di kamar mereka. Rajendra sudah berumur 90 tahun sedangkan Livia 3 tahun di bawahnya. Keduanya berbaring di tempat tidur."Hujannya lama ya, Ndra, dari tadi nggak berhenti-henti," kata Livia sembari memandang ke luar jendela, pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan."Iya, Sayang. Sekarang kan lagi musim hujan.""Dingin ..." Rajendra merengkuh Livia, memberi lengannya untuk istrinya itu berbaring sedangkan satu tangannya lagi memeluk tubuh Livia. Meski rambut mereka sudah sepenuhnya memutih dan wajah mereka sudah keriput tapi cinta mereka begitu kuat.Livia tersenyum. "Berada di peluk
Hari-hari setelah kehamilannya terasa berat bagi Gadis. Setiap hari ia mengalami morning sickness yang menyebabkan susah makan.Randu yang biasanya pagi-pagi berangkat ke kedutaan kini harus mengurus Gadis lebih dulu sebelum pergi ke kantornya."Makan dikit ya, Abang bikinin sup hangat atau maunya roti coklat aja?" kata Randu sambil mengelus pundak Gadis yang terduduk lemas di sofa.Gadis menggelengkan kepalanya. "Adis nggak mau apa-apa, Bang. Adis nggak selera makan apa pun.""Tapi setidaknya Adis harus makan sedikit biar ada isi perutnya. Ingat, Dis, anak kita juga butuh asupan."Gadis tersenyum melihat perhatian Randu dan kepanikannya di waktu yang sama. "Ya udah, Adis mau minum teh hangat aja sama roti coklat," putusnya walau kemudian kembali berakhir dengan muntah.Malam harinya saat video call dan mengetahui keadaan Gadis, Livia langsung mengambil keputusan."Ndra, aku harus berangkat.""Ke mana?" tanya Rajendra."Ke Turki. Aku harus nemenin Gadis. Dia butuh aku saat ini. Ini ke
Gadis dan Randu memulai kehidupan mereka sebagai suami istri begitu tiba di Ankara, ibukota Turki. Kota itu terasa begitu berbeda dengan suasana di Indonesia. Udara dingin menusuk di musim gugur. Arsitektur Eropa bercampur dengan sentuhan Ottoman serta hiruk pikuk kehidupan yang begitu asing bagi Gadis.Randu sebagai diplomat muda langsung disibukkan dengan pekerjaannya di kedutaan besar Indonesia. Seringkali ia harus menghadiri rapat dengan pejabat Turki, menerima delegasi dari Indonesia, atau menghadiri acara-acara diplomatik. Sementara itu gadis masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Awalnya ia merasa canggung tinggal di negeri orang. Namun Randu selalu berusaha membuatnya nyaman. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang luas dengan pemandangan kota Ankara yang indah.Setiap pagi Randu berangkat ke kedutaan, sementara gadis mulai membangun rutinitasnya sendiri. Ia mengambil kursus bahasa Turki agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Selain itu ia juga se
Hari keberangkatan Gadis dan Randu ke Turki semakin dekat. Di rumah keluarga Rajendra suasana haru kian terasa.Livia sibuk memastikan semua keperluan Gadis sudah siap. Ia berulang kali memeriksa koper putrinya hanya demi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal."Adis, kamu yakin semuanya udah lengkap? Paspor, obat-obatan, udah?" tanya Livia dengan suara bergetar.Gadis tersenyum tipis, ia mencoba menenangkan perasaan ibunya. "Udah, Bunda. Tenang aja, Adis udah cek berkali-kali, sama kayak Bunda."Namun, Livia tetap terlihat cemas. Tangannya gemetar saat merapikan baju-baju Gadis di koper."Nda, udah. Jangan kayak gini. Nanti Adis bakal sering nelepon dan video call sama Bunda kok," kata Gadis menenangkan sang bunda.Livia mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan Gadis, namun juga tidak mungkin menahan Gadis agar tetap bersamanya karena Gadis sudah menikah.Rajendra juga mencoba untuk tegar. Ia diam saja, memerhatikan semua persiapan denga
Akad nikah Gadis dan Randu sudah selesai dilaksanakan. Acara disambung dengan resepsi pernikahan.Acara tersebut tampak meriah. Para tamu yang datang terlihat puas. Baik oleh penyelenggaraan acaranya maupun dari hidangan yang disajikan. Wedding singer yang berada di atas panggung yang berada tidak jauh dari pelaminan tidak ada hentinya menyanyikan lagu romantis, membuat atmosfer penuh cinta semakin terasa."Liv, aku mau nyanyi boleh nggak?" kata Rajendra tiba-tiba."Hah?" Mata Livia melebar mendengarnya. "Emang kamu bisa nyanyi?""Bisa dong walau suara aku pas-pasan," kekeh Rajendra.Livia ikut tertawa. "Ya udah gih, nyanyi sana biar anak-anak tahu kalau papanya ada bakat terpendam.""Kamu mau ikutan nyanyi sama aku?""Aku ngeliat dari sini aja."Rajendra berjalan ke belakang panggung, berbicara dengan seseorang lalu naik ke atas panggung. Mikrofon yang tadinya ada di tangan wedding singer berpindah ke tangan Rajendra."Bang, itu Papa mau ngapain?" tanya Gadis yang duduk di pelaminan
Begitu mendapatkan restu dari Erwin, persiapan pernikahan Gadis dan Randu segera disiapkan.Livia yang paling sibuk. Ia memastikan bahwa semua berjalan lancar dan sempurna untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Rajendra. Ia lebih disibukkan dengan urusan administratif.Gadis menginginkan pernikahan yang sederhana tapi tetap elegan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka memutuskan menyewa gedung yang memiliki nuansa taman di dalamnya dengan lampu-lampu gantung. Sementara untuk dekorasinya sendiri dihiasi nuansa putih dan hijau yang menyimbolkan kesan alami dan damai.Untuk pakaian pengantin Randu mengenakan beskap putih klasik. Sedangkan Gadis memilih gaun putih gading dengan detail bordir yang lembut. Saat pertama kali mencobanya ia termenung di depan cermin, menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah.Mengenai undangan mereka mencetak undangan simpel dengan desain minimalis. Gadis dan Randu memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat. Meskipun begitu Rajendra
"Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupakan
"Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap
Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha