"Gadis kayak benci banget sama aku sekarang. Siapa yang memengaruhi dia?" Itu hal pertama yang Javier katakan ketika Livia kembali lalu duduk di sofa ruang tamu.Livia menarik napasnya sebelum menjawab, "Nggak ada yang memengaruhi dia, Jav. Tapi dia nggak nyaman sama kamu.""Dia nggak nyaman sama aku pasti ada penyebabnya kan? Bahkan nerima biskuit dari aku dia juga udah nggak mau. Padahal ini kesukaan dia banget." Javier yang emosi membanting tiga bungkus biskuit itu ke meja sehingga sebagian isinya remuk.Livia sampai terkejut melihat ulahnya. Mana Javier yang dulu lembut dan tidak pernah marah-marah padanya? Mana Javier yang dulu sangat menghargainya?"Rajendra sama sekali nggak memengaruhi Gadis kalau itu yang ada di pikiran kamu," kata Livia seolah bisa membaca isi kepala lelaki itu. "Jadi siapa lagi kalau bukan dia?" balas Javier emosi."Coba kamu introspeksi dirimu, Jav. Kenapa tiba-tiba Gadis menjadi nggak nyaman sama kamu.""Aku nggak ngapa-ngapain," elak Javier sembari mer
Rentetan emosi Javier membuat Livia terdiam. Rasa sesak menyerbu dadanya. Ia tidak menyangka Javier akan mengungkit lagi masa lalunya.Javier melangkah mendekat, menatap tajam ke arah Livia. "Aku nggak minta kamu untuk balas budi, Liv. Aku hanya minta kamu untuk tetap bersamaku. Apa itu terlalu sulit?"Livia membalas tatapan Javier, berusaha mempertahankan ketegaran. "Aku menghargai semua yang kamu lakukan buat aku, Jav. Tapi hubungan bukan soal balas budi. Kalau aku tetap bersamamu karena berutang itu namanya beban, bukan cinta."Javier terkekeh penuh kepahitan. "Jadi sekarang aku cuma beban buat kamu?""Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin memastikan Gadis merasa aman. Aku nggak bisa mengabaikan perasaannya apalagi kalau dia sampai membuang cincin itu. Itu artinya dia menolak kehadiran kamu dalam hidup kami, Jav."Javier mengusap wajahnya. Pria itu terlihat begitu frustrasi. "Jadi aku harus bagaimana, Liv? Aku harus kehilangan kamu dan kalah begitu saja?" "Nggak ada yang menang d
Keesokan harinya di kantor Livia memberikan cincin yang dibelikan pada Javier."Jav, ini," kata Livia seraya menggeser kotak cincin yang berada di atas meja ke arah lelaki itu.Javier melirik kotak cincin itu dengan ekspresi datar. Pria itu tampak tidak tertarik."Kamu beli sendiri?" Ia bertanya pada Livia."Iya."Javier terkekeh. Ia mengambil kotak itu, membukanya, mengambil isi di dalamnya lalu memutar-mutar cincin tersebut seakan sedang menilai."Bagus," ucapnya sebelum menutup kotak tersebut dengan bunyi klik yang terdengar keras atau mungkin dikeraskan. "Tapi aku nggak akan menerimanya.""Kenapa?""Aku nggak mau cincin ini, Liv. Aku mau kamu," ucap Javier lugas."Kita sudah bahas hal ini sebelumnya, Jav.""Kalau ini tentang Gadis yang takut sama aku, dia bisa tinggal sama Rajendra. Sesekali kita mengunjungi mereka."Livia mengerjap. Tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Javier. "Jav, kamu sadar nggak barusan ngomong apa?""Aku tahu kamu nggak akan suka mendengarnya, Liv
Livia mengalihkan pandangannya. Tidak ingin terlalu lama dalam tatapan Rajendra yang penuh arti. "Aku ambilin obat dulu," ucapnya.Livia kemudian turun ke bawah dan bertanya pada ART. Sementara Gadis tetap di sisi Rajendra."Papa minum obat ya," rengek Gadis."Iya, Dis, Papa nurut kok."Livia kembali dengan segelas air dan sebutir obat. "Minum ini dulu, Ndra."Rajendra duduk, menyandarkan tubuhnya ke headboard, lalu meminum obat tersebut. Setelahnya ia kembali berbaring."Livia ...," panggilnya."Hm."Rajendra menatapnya dalam. "Aku senang kamu ada di sini."Livia tidak seketika menjawab. Ia duduk di kursi dekat tempat tidur. Menunduk dan terpaku. "Seharusnya aku nggak di sini," gumamnya pelan."Tapi kamu tetap datang."Livia terdiam. Tidak dapat menyangkal. "Itu karena Bunda sayang sama Papa," cetus Gadis tiba-tiba.Livia dan Rajendra serentak menoleh ke arah Gadis yang tersenyum lebar."Adis!" tegur Livia berusaha membantah. Tapi tangan anak itu sudah bergerak memeluk tangan Rajend
Malam itu Livia tidak bisa tidur. Pikirannya mengembara pada satu hal. Pada percakapan singkatnya dengan Rajendra tadi. Tentang keinginan lelaki itu untuk kembali.Livia tidak akan memungkiri kalau perasaannya pada Rajendra masih ada. Hanya saja ia takut untuk mencoba. Ia takut terluka lagi. Sudah begitu banyak luka yang Rajendra tancapkan dan tidak bisa Livia lupakan. Livia tidak ingin ada luka-luka baru sementara luka yang lama masih terbuka.***Paginya Livia bangun lebih awal dari biasa meskipun semalam ia kesulitan tidur.'Aku akan tunggu. Tapi jangan terlalu lama, Liv.'Ucapan Rajendra tersebut terus membayangi Livia. Saat ia tiba di rumah Rajendra untuk menjemput Gadis, orang-orang di rumah tersebut sedang sarapan pagi. Suasana begitu hangat oleh adanya tiga orang anak kecil, Gadis, Randu dan Lunetta. Lola yang banyak bicara dengan mereka. Sedangkan Erwin tidak banyak bicara. Ia masih belum bisa menerima keberadaan Randu dan Lunetta di rumahnya."Itu Bunda datang!" seru Gadis
Tiga minggu berlalu. Tanpa terasa tinggal satu minggu lagi Livia bekerja di perusahaan Javier. Livia sudah melamar ke mana-mana. Namun belum ada panggilan yang datang. Dan itu membuatnya sedikit khawatir.Bagaimana ia menjalani hari-hari ke depannya? Ia memang punya sedikit persediaan uang. Tapi itu untuk masa depan Gadis. Kekhawatiran Livia semakin besar setiap harinya. Meski ia berusaha tetap tenang di depan Gadis tapi hatinya dipenuhi oleh berbagai kecemasan. Setiap kali ponselnya berbunyi, ia berharap itu panggilan kerja. Namun ternyata bukan.Sementara itu Javier bersikap seolah-olah semua berjalan seperti biasa. Seakan Livia masih akan bekerja di sana. Sikapnya yang santai membuat Livia heran.Di sisi lain Rajendra semakin gencar mendekatinya meskipun Livia sudah menjaga jarak. Tapi ada gadis di tengah-tengah mereka."Kalau butuh bantuan bilang saja," kata Rajendra suatu sore saat mengantar Gadis pulang.Livia hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Di hari-hari terakhir Livia b
Malam itu Livia berdiri di depan kelab malam dengan perasaan campur aduk. Lampu-lampu neon berkedip-kedip. Suara musik berdentum-dentum dari arah dalam. Dan suasana penuh dengan orang-orang yang larut dalam kesenangan.Javier berdiri di sebelahnya dengan kemeja abu-abu yang digulung. Aroma parfumnya yang khas terasa begitu menguar."Sudah siap Nona Livia?" Ia bertanya dengan nada menggoda.Livia menjawab, "Ayo cepat, biar selesai."Javier tertawa kecil lalu menggandeng tangan Livia masuk.Di dalam, suasana jauh lebih berisik dan penuh sesak. Cahaya remang-remang berpadu dengan suara musik yang menghentak. Javier langsung membawa ke area VIP, tempat yang lebih tenang tapi tetap memiliki akses ke lantai dansa.Seorang pelayan datang membawa minuman. Tapi Livia segera mengangkat tangan. "Maaf, saya nggak minum alkohol."Javier hanya tersenyum dan menuangkan minuman ke dalam gelasnya dan Livia. Tenang, Liv. Aku bukan pria jahat yang akan menjebak kamu untuk ditiduri," ucapnya seolah meng
Malam itu Livia menangis sejadinya. Ia menumpahkan air matanya sampai tiada yang tersisa. Livia kecewa pada Javier yang telah mempermainkannya. Tapi Livia tidak pernah menyesal datang ke sana. Jika tidak, sampai detik ini ia tidak akan tahu bagaimana aslinya seorang Javier.Keesokan paginya Livia terbangun dengan mata bengkak. Saat ia melihat ponselnya ada panggilan tidak terjawab dari Javier. Ada juga pesan-pesan yang berisi kata maaf. Javier mengatakan bahwa itu hanya candaan semata. Tapi bagi Livia, terlepas dari itu candaan atau bukan, hatinya telah terluka.Javier juga sering datang ke rumah Livia tapi Livia tidak pernah menerimanya. Bukan hanya sekali dua kali tapi berulang kali. Sampai akhirnya Javier lelah dan tidak pernah lagi menghubungi Livia.Livia juga pindah dari rumah itu agar Javier kehilangan jejak."Kenapa kita pindah rumah, Nda?" Gadis menanyakannya.Livia menatap Gadis yang sedang duduk di atas kardus sambil memeluk boneka kesayangannya. Matanya menyiratkan kebingu
Rumah besar Livia dan Rajendra kini terasa sunyi. Anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tapi di setiap akhir pekan rumah mereka selalu ramai oleh tawa canda cucu dan cicit mereka. Anak-anak selalu menawarkan Rajendra dan Livia untuk tinggal bersama mereka tapi keduanya menolak. Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua saja dan menghabiskan masa tua bersama.Rajendra dan Livia saat ini sedang berada di kamar mereka. Rajendra sudah berumur 90 tahun sedangkan Livia 3 tahun di bawahnya. Keduanya berbaring di tempat tidur."Hujannya lama ya, Ndra, dari tadi nggak berhenti-henti," kata Livia sembari memandang ke luar jendela, pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan."Iya, Sayang. Sekarang kan lagi musim hujan.""Dingin ..." Rajendra merengkuh Livia, memberi lengannya untuk istrinya itu berbaring sedangkan satu tangannya lagi memeluk tubuh Livia. Meski rambut mereka sudah sepenuhnya memutih dan wajah mereka sudah keriput tapi cinta mereka begitu kuat.Livia tersenyum. "Berada di peluk
Hari-hari setelah kehamilannya terasa berat bagi Gadis. Setiap hari ia mengalami morning sickness yang menyebabkan susah makan.Randu yang biasanya pagi-pagi berangkat ke kedutaan kini harus mengurus Gadis lebih dulu sebelum pergi ke kantornya."Makan dikit ya, Abang bikinin sup hangat atau maunya roti coklat aja?" kata Randu sambil mengelus pundak Gadis yang terduduk lemas di sofa.Gadis menggelengkan kepalanya. "Adis nggak mau apa-apa, Bang. Adis nggak selera makan apa pun.""Tapi setidaknya Adis harus makan sedikit biar ada isi perutnya. Ingat, Dis, anak kita juga butuh asupan."Gadis tersenyum melihat perhatian Randu dan kepanikannya di waktu yang sama. "Ya udah, Adis mau minum teh hangat aja sama roti coklat," putusnya walau kemudian kembali berakhir dengan muntah.Malam harinya saat video call dan mengetahui keadaan Gadis, Livia langsung mengambil keputusan."Ndra, aku harus berangkat.""Ke mana?" tanya Rajendra."Ke Turki. Aku harus nemenin Gadis. Dia butuh aku saat ini. Ini ke
Gadis dan Randu memulai kehidupan mereka sebagai suami istri begitu tiba di Ankara, ibukota Turki. Kota itu terasa begitu berbeda dengan suasana di Indonesia. Udara dingin menusuk di musim gugur. Arsitektur Eropa bercampur dengan sentuhan Ottoman serta hiruk pikuk kehidupan yang begitu asing bagi Gadis.Randu sebagai diplomat muda langsung disibukkan dengan pekerjaannya di kedutaan besar Indonesia. Seringkali ia harus menghadiri rapat dengan pejabat Turki, menerima delegasi dari Indonesia, atau menghadiri acara-acara diplomatik. Sementara itu gadis masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Awalnya ia merasa canggung tinggal di negeri orang. Namun Randu selalu berusaha membuatnya nyaman. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang luas dengan pemandangan kota Ankara yang indah.Setiap pagi Randu berangkat ke kedutaan, sementara gadis mulai membangun rutinitasnya sendiri. Ia mengambil kursus bahasa Turki agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Selain itu ia juga se
Hari keberangkatan Gadis dan Randu ke Turki semakin dekat. Di rumah keluarga Rajendra suasana haru kian terasa.Livia sibuk memastikan semua keperluan Gadis sudah siap. Ia berulang kali memeriksa koper putrinya hanya demi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal."Adis, kamu yakin semuanya udah lengkap? Paspor, obat-obatan, udah?" tanya Livia dengan suara bergetar.Gadis tersenyum tipis, ia mencoba menenangkan perasaan ibunya. "Udah, Bunda. Tenang aja, Adis udah cek berkali-kali, sama kayak Bunda."Namun, Livia tetap terlihat cemas. Tangannya gemetar saat merapikan baju-baju Gadis di koper."Nda, udah. Jangan kayak gini. Nanti Adis bakal sering nelepon dan video call sama Bunda kok," kata Gadis menenangkan sang bunda.Livia mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan Gadis, namun juga tidak mungkin menahan Gadis agar tetap bersamanya karena Gadis sudah menikah.Rajendra juga mencoba untuk tegar. Ia diam saja, memerhatikan semua persiapan denga
Akad nikah Gadis dan Randu sudah selesai dilaksanakan. Acara disambung dengan resepsi pernikahan.Acara tersebut tampak meriah. Para tamu yang datang terlihat puas. Baik oleh penyelenggaraan acaranya maupun dari hidangan yang disajikan. Wedding singer yang berada di atas panggung yang berada tidak jauh dari pelaminan tidak ada hentinya menyanyikan lagu romantis, membuat atmosfer penuh cinta semakin terasa."Liv, aku mau nyanyi boleh nggak?" kata Rajendra tiba-tiba."Hah?" Mata Livia melebar mendengarnya. "Emang kamu bisa nyanyi?""Bisa dong walau suara aku pas-pasan," kekeh Rajendra.Livia ikut tertawa. "Ya udah gih, nyanyi sana biar anak-anak tahu kalau papanya ada bakat terpendam.""Kamu mau ikutan nyanyi sama aku?""Aku ngeliat dari sini aja."Rajendra berjalan ke belakang panggung, berbicara dengan seseorang lalu naik ke atas panggung. Mikrofon yang tadinya ada di tangan wedding singer berpindah ke tangan Rajendra."Bang, itu Papa mau ngapain?" tanya Gadis yang duduk di pelaminan
Begitu mendapatkan restu dari Erwin, persiapan pernikahan Gadis dan Randu segera disiapkan.Livia yang paling sibuk. Ia memastikan bahwa semua berjalan lancar dan sempurna untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Rajendra. Ia lebih disibukkan dengan urusan administratif.Gadis menginginkan pernikahan yang sederhana tapi tetap elegan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka memutuskan menyewa gedung yang memiliki nuansa taman di dalamnya dengan lampu-lampu gantung. Sementara untuk dekorasinya sendiri dihiasi nuansa putih dan hijau yang menyimbolkan kesan alami dan damai.Untuk pakaian pengantin Randu mengenakan beskap putih klasik. Sedangkan Gadis memilih gaun putih gading dengan detail bordir yang lembut. Saat pertama kali mencobanya ia termenung di depan cermin, menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah.Mengenai undangan mereka mencetak undangan simpel dengan desain minimalis. Gadis dan Randu memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat. Meskipun begitu Rajendra
"Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupakan
"Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap
Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha