Setelah pembicaraan malam itu, Nadia terlihat lebih pendiam. Seperti ada yang tengah ia pikirkan.
Sebelum tidur, seringkali Nadia termenung di atas kasur. Memikirkan tentang permintaan dari wanita yang telah melahirkannya. Satu sisi ingin rasanya berlari dan menemui Anti. Tapi sisi yang lain, gadis remaja itu tidak ingin berdebat dengan neneknya.
Di suatu malam, Nadia yang duduk diam menatap laci lemari yang tepat lurus dengan posisinya. Berkali-kali hasrat hati ingin membuka akan tetapi, pikirannya menolak. Akhirnya, dirinya memilih berbaring dengan harapan bisa terlelap.
Namun, keinginannya untuk memejamkan mata, tak kunjung bisa terlaksana. Hatinya tetap berontak ingin membuka laci lemari.
Dengan kasar, disingkapnya selimut yang menutup rapat tubuh. Dan segera turun dari ranjang, melangkah menuju tempat yang menarik hatinya sejak tadi.
Perlahan, tangan putih Nadia menarik gagang laci dan terulur mengambil sebuah bingkai foto yang diletakkan deng
Terdengar helaan napas dari seorang lelaki tua yang duduk di kursi. "Bu, tidak ada salahnya bila Nadia ingin bertemu Anti. Bagaimanapun dia adalah ibu kandung Nadia. Jangan kami terus menerus memberikan pemahaman buruk tentang Anti. Siapa tahu memang, dia sudah berubah. Sudahlah, Bu. Semua sudah berlalu lama. Bila Nadia ingin bertemu ibunya, biarkan saja," ujar bapak Tohir lembut. "Pak! Bapak tidak ingat, bagaimana dulu Anti berbuat hal yang memalukan keluarga kita? Apa Bapak sudah lupa, Tohir menderita, Nadia juga harus pindah sekolah karena malu? Tidak semudah itu memberikan maaf untuk dia, Pak!" "Ya tapi kan, semua sudah berlalu. Belajarlah memaafkan, Bu," "Bapak kalau mau memaafkan silakan! Tidak dengan aku juga Nadia!" Selesai berkata demikian, wanita itu bangkit dan masuk ke rumah bagian belakang. Erina hanya menatap punggung mertua perempuannya dengan hati yang kecewa. * "Mama, apa benar, Ibu sudah berubah
Nadia langsung berlari ke kamarnya begitu sampai di halaman rumah. Kecewa, malu dan sedih bercampur menjadi satu.Wajahnya ia telungkupkan di atas bantal. Tangisnya terdengar sesenggukan. Hati gadis remaja itu tumbuh kembali kebencian yang sebelumnya telah sedikit hilang.Erina yang juga baru pulang dari mengajar merasa heran. Biasanya, anak tirinya selalu bersantai di depan televisi sembari memakan cemilan sepulang sekolah.Setelah meletakkan tas di dalam kamar, istri Tohir berjalan menuju kamar yang depan pintunya berhias tirai dari kerang."Nad!" panggil Erina saat dirinya melihat Nadia tengkurap sambil tergugu.Nadia bergeming. Membuat Erina semakin melangkah mendekat, hingga kini, duduk di samping tubuh yang masih memakai seragam sekolah.Nadia bangkit. Dengan sesenggukan diceritakannya kejadian tadi saat bertemu Anti. Erina seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat Nadia."Barangkali, itu orang ya
"Nadia? Aku sangat menyayangi dia, Ras. Tapi, aku juga tidak menutut untuk dia mau mengakui aku ibunya. Aku wanita yang tidak layak disebut sebagai ibu. Biarlah, bila dengan kejadian tadi membuatnya semakin membenciku, aku ikhlas. Aku akan selalu mendoakan dalam diamku. Perasaan dia terhadap aku, itu urusan Allah.""Mbak, tapi Mbak kan tadi hanya korban mulut lelaki itu? Tidak adakah usaha untuk membuat Nadia tidak salah paham?""Sulit! Karena yang dia lihat tadi memang sangat memalukan. Sudahlah, jangan dipikirkan, Ras! Anggap saja sudah takdir aku seperti. Menjalani sisa hidup dengan penuh kesepian. Toh, ini juga akibat dari perbuatan aku sendiri di masa lalu," ujar Anti, dengan tersenyum lagi."Mbak! Jangan bilang gitu! Mbak Anti masih muda kok. Masih ada harapan untuk bisa menikah lagi. Aku yakin, masih ada jodoh buat Mbak Anti," ucap Rasti penuh semangat."Aku tidak berpikir ke sana, Ras! Siapa yang sudi menikahi aku yang sudah tidak sempurna, juga d
"Anti, lepaskan anakku! Jangan main-main sama aku!" ancam Agam terlihat emosi. Rahangnya mengeras."Aku tidak akan menyakitinya, Mas. Ijinkan aku memeluk. Aku hanya ingin memeluk saja. Sebentar, tolong ...." Lagi, Anti menghiba dengan tatapan memelas."Anti ...." Belum selesai Agam berkata, sebuah tangan halus menepuk bahunya."Biarkan, Mas! Lunakkan hatimu! Dia hanya memeluk anak kita saja. Kecuali bila mau membawanya, baru Mas boleh marah," ujar Laila sambil terus mengelus punggung Agam. Berharap Sang Suami dapat sedikit melunak hatinya."Hanya untuk lima menit!" tegas Agam gusar. Tubuhnya sedikit minggir, mencari ruang agar tidak berhadapan dengan wanita yang telah membuat kehilangan harga diri dan harapan di halaman sebuah rumah sakit.Telapak tangan Agam meremas mulutnya, mencoba menetralisir emosi yang menguasai jiwa.Bayangan Anti yang sama sekali tidak mengindahkan keberadaan dirinya dan Bilal kembali hadir setelah sekian lama lenyap
Ibu kandung Bilal berdiri di balik sebuah pohon menyaksikan kepergian anaknya.Terlihat sekali ketiganya bahagia. Menaiki kendaraan yang sudah berada di jalan dan bersiap pergi. Bilal sudah berada dalam gendongan Laila.'Seandainya aku tidak melakukan hal yang bodoh dan menjijikkan waktu itu,' jerit batin Anti.Tiba-tiba dirinya melihat Agam melempar mainan yang ia belikan ke arah tempat sampah yang berada di pinggir jalan. Sedetik kemudian, motor melaju pelan meniggalkan Anti yang merasa hatinya sangat sakit.Dengan langkah pincangnya, dirinya mendekati tempat sampah dan mengambil benda yang masih terbungkus plastik rapat. Memeluknya seakan tubuh Bilal yang tengah ia dekap. Tetes demi tetes air mata jatuh.Rasti mengusap pelan punggung Anti."Sabar, Mbak, ayo, kita cari teman-teman," ajak Rasti sambil menarik lengan Anti.Di tengah rasa sedih dan sakit hati atas penolakan Agam pada benda yang ia belikan untuk Bilal, Anti berjumpa lag
Semenjak tahu apa yang dibicarakan Erina malam itu, sikap ibu Tohir sedikit berbeda.Lebih banyak diamnya. Bahkan terkesan menghindar. Sesekali hanya menanggapi pertanyaan Erina dengan kata-kata singkat.Istri Tohir sadar bahwa, ini adalah resiko yang harus ia hadapi manakala ingin Nadia menjalin hubungan baik dengan ibu kandungnya."Apa yang dilakukan perempuan ja*ang itu terhadap Tohir dan keluarga ini sudah sangat keterlaluan, Erina! Jadi, jangan coba-coba kamu untuk mempengaruhi Nadia! Kamu bisa bicara ini itu, bahwa, bagaimanapun salah dan jeleknya seorang ibu, ia adalah sosok yang patut dihormati.Akan tetapi, satu hal yang harus kamu ketahui dan kamu ingat-ingat! Kami pernah dipermalukan dan merasa sangat sakit dengan apa yang wanita itu lakukan. Jadi, jangan mencoba menjadi pahlawan untuk dia. Karena itu artinya, kamu telah menyakiti hati kami semua!" ujar ibu Tohir saat Erina yang sudah berada di atas motornya hendak berangkat mengajar."M
Siang itu, Anti harus mengantarkan berkas ke dinas pendidikan. Ibu kandung Nadia itu memang sekarang dimutasikan ke kantor UPT setelah sebelumnya menjalani masa hukuman dengan dipindah tugas ke kecamatan.Kantor dinas berdekatan dengan polres. Sehingga, banyak polisi berlalu lalang di sekitar jalan.Karena belum sempat sarapan, di perjalanan, Anti merasa pening dan pusing. Akhirnya, memilih berhenti pada sebuah warung untuk sekadar mengisi perut.Sepiring nasi dengan lauk telur balado serta tumis kacang panjang sudah tersaji di hadapannya. Mulailah Anti menyantap menu sederhana yang ia pesan.Saat sedang menikmati hidangan, datang segerombolan oknum berseragam aparat negara.Sekilas Anti melirik. Ada teman Feri yang selalu meledeknya di sana. Bahkan mungkin, mereka adalah orang-orang yang ia temui di alun-alun. Mendadak, Anti seperti kenyang. Namun, hendak disisakan makanannya, takut menjadi mubadzir.Dengan membesarkan hati sendiri, dirinya
Beberapa bulan setelah kepergiannya, Seno kembali pulang untuk mengurus perceraian dengan Eka.Saat di dalam bus menuju daerah tempat tinggalnya, ada kesedihan yang menguar dalam dada. Sebuah pilihan yang sulit yang harus ia ambil.Aku mengambilnya dari tempat itu karena kasihan. Bukan cinta. Dia hidup sebatang kara di dunia ini, bila tidak ada aku yang menolong, entah bagaimana nasibnya. Kesalahan terbesarku dalam hidup terhadap Eka dan Sarah, tapi itu bukan karena inginku mengkhianati mereka. Keadaan yang mengharuskan aku menikahi gadis malang itu. Karena tanpa sebuah pernikahan, mustahil aku dapat hidup bersamanya setiap hari. Eka, cinta dalam hati ini tetap untukmu. Sarah, rasa sayang Bapak terhadapmu melebihi apapun. Kali ini, Bapak akan pulang demi membebaskan kalian. Bapak berharap, akan ada orang yang lebih baik dari Bapak yang akan mengayomi hidup kalian,' ucap Seno dalam hati.Pandangannya menatap tanaman padi yang seakan berjalan melewatinya. Setitik
Part 11 POV Dania (Ending) Lelah hati tatkala harus menghadapi banyak hal. Akhirnya aku menyerah pada keadaan. Aku tidak akan memaksakan takdir apapun sekarang. Selalu bertemu dengan orang-orang yang membuat hati ini sakit hati, membuatku semakin sadar kalau hanya keluarga Laura saja yang baik padaku. Melihat penghianatan Nindi dan juga sikap Cika yang masih dingin dan membenciku, membuat hati ini sudah memutuskan. Aku akan menghilang dari hidup orang-orang yang mengenalku. Untuk apa mempedulikan Cika yang sangat membenciku? Baginya, Ines adalah ibunya. Setelah Nindi keluar dari rumah, Laura menelpon malam-malam dan menangis. Ia mengatakan kalau pacarnya ternyata selingkuh dan dia seorang diri. Laura menanyakan perkembangan hubunganku dengan Cika, dan aku menjawab apa adanya. “Cika tidak akan pernah bisa menerimaku. Itu kenyataannya,” jawabku sudah pasrah dengan keadaan. “Dania, aku minta maaf, bisakah kamu kembali kesini? Hidup bersamaku dan aku menarik semua ucapanku kemarin,” p
Part 10Tiga hari tinggal bersama, dia tetap masih diam. Makananku tetap disiapkan, tetapi menunggu aku keluar untuk makan sendiri. Dia sama sekali tidak seperti dulu yang memanggilku, menyiapkan baju ganti dan segala keperluanku. Akhirnya, pagi ini kuberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.“Apa aku akan diusir seperti Nindi?” tanyaku pelan. Dia yang lagi-lagi berkutat dengan laptop--mengangkat wajah.“Pilihlah mana dari milikku yang akan kamu ambil, Cika! Sisanya, bila kamu tidak mau, maka akan kujual. Kamu bisa gunakan untuk keperluan hidupmu. Itu jika kamu mau,” jawabnya tanpa ekspresi ramah.Aku memainkan jari jemariku. Bingung hendak menjawab apa. Ponselnya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Aku masih berdiri mendengarkan dia berbicara dengan orang yang kukira ada di luar negeri.Meski sudah lama tidak pernah belajar bahasa asing lagi, tetapi aku tahu apa arti dari ucapan yang disampaikan seseorang dari seberang telepon sana. Speaker ponsel yang dihidupkan membuatku bi
Part 9“Mbak Dania, aku minta maaf, Mbak, aku akui memang salah dan aku akan meminta dia untuk keluar dari rumah Mbak Dania asalkan Mbak Dania masih mengizinkan aku untuk tetap di sini. Aku akan menjaga Cika, Mbak, aku janji,” kata Nindi sambil bersimpuh dan memegang kaki dia.“Aku sudah tidak butuh siapapun lagi, Nindi. Aku akan membiarkan orang-orang yang hanya memanfaatkanku dan juga orang-orang yang tidak menyukaiku untuk pergi dari hidupku. Aku tidak akan memaksakan takdir bahagia bersamaku, jadi, kamu tidak perlu bersimpuh meminta, karena aku sudah akan menghapusmu dari daftar orang-orang yang kukenal,” jawab dia santai.Seketika aku memandang wajah cantik itu. Ada sebuah perasaan terluka di sana. Jika dia benar-benar tidak mau lagi mengurusku, maka, siapa yang akan mengurusku lagi? Tiba-tiba saja ketakutan besar menguasai hati.Wajah itu, dia tidak mau melihat padaku. Padahal, aku berharap itu.Nindi masih bersimpuh sambil menangis.“Dimana mobilku, Nindi?” tanya dia datar.“Ee
Part 8POV CikaAku memilih masuk dan duduk di atas hamparan pasir meski terik matahari terasa sangat menyengat di kulit. Benar-benar bingung hendak minta tolong dan mengadu pada siapa, maka kuputuskan untuk menangis seorang diri.“Ya Allah, kirimkan bantuan untukku. Ya Allah, ampuni aku jika aku selama ini nakal dan banyak dosa. Ya Allah, aku janji, jika aku mendapatkan pertolongan untuk masalahku ini, aku akan kembali sholat seperti saat di pondok dulu. Jika ada orang yang menolongku, maka aku akan menjadikannya sahabat,” ucapku sambil menangis.Lama aku berada dalam posisi ini, hingga leher terasa pegal, lalu aku mengangkat kepala. Saat menoleh, ternyata ada seseorang yang duduk di sebelahku dan dia melakukan hal yang sama.Menatapku.Deg.Jantungku berpacu lebih cepat tatkala mendengar orang itu memanggil namaku. Dia sosok yang kurindu, tetapi juga kubenci.“Kenapa kamu berpanas-panasan sendirian di sini?” ucapnya sambil berteriak.Aku diam, enggan menjawab. Teringat olehku Nindi
Part 7POV DaniaAku menatap tubuh Nyonya dan Tuan yang terbujur kaku di rumah sakit dengan darah bersimbah di sekujur tubuh mereka–dengan hati yang sangat hancur.Baru sebentar kembali bekerja bersama mereka yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, tetapi harus merasakan sakitnya kehilangan. Nyonya dan Tuan tewas dalam kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon dan nyawa mereka langsung hilang di tempat itu juga.Tak tahu lagi harus berusaha tegar seperti apa. Karena mereka berdua adalah keluarga yang kumiliki saat ini dan kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku?Mayat Nyonya dan Tuan dimakamkan dua hari kemudian setelah berbagai prosesi keagamaan mereka berdua berlangsung. Kini, saat semua pelayat pergi, aku hanya berdua saja dengan anak semata wayang Nyonya yang berusia dua puluh tahun.“Aku akan melanjutkan kuliah di negara sebelah. Kamu jika masih mau di sini, maka harus mencari pekerjaan lain. Karena aku sudah tidak bisa membayarmu. Rumahku aka
Part 6POV CIKAAku menatap rumah besar itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Meski keberadaanku tidak diakui di sini, tetapi nyatanya, belasan tahun diriku hidup di sana.Walaupun tanpa kenangan indah, tetapi aku bisa melakukan apapun di rumah itu. Kini, aku harus melangkah pergi untuk yang terakhir kalinya. Hati benar-benar sadar, jika memang diri ini tiada lagi diharapkan oleh mereka. Kehadiranku di rumah itu hanya untuk mengukir kisah sedih.Hari ini aku pergi dengan naik taksi. Pulangnya, memilih berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang semuanya memiliki pagar yang tinggi. Sengaja memilih berjalan kaki, hanya sekadar ingin menikmati rasa yang sangat menyesakkan dalam dada ini. Rencananya, nanti akan pulang dengan naik bus. Di dekat gerbang perumahan ini ada sebuah halte.Langkah kaki ini berjalan lambat. Aku sadar kini aku sudah benar-benar sendiri, dan sebentar lagi, bisa saja harus tiba-tiba hidup dengan sosok yangtidak kukenal sama sekali. Aku Cika, harus ber
Part 5Sebuah ketukan di luar pintu kamar membuat Cika beranjak dari tempat tidurnya. Ia yang sudah setengah mengantuk terpaksa bangun untuk menemui orang yang sudah pasti itu Nindi. Dengan memicingkan mata, Cika menatap perempuan yang masih lajang itu yang sudah siap dengan koper besar.“Mbak Nindi mau pergi?” Seketika mata Cika yang semula setengah mengantuk terbuka sempurna.“Iya,” jawab Nindi singkat dan ragu.Napas Cika mulai narik turun. Antara takut dan kaget.“Mbak Nindi, aku sama siapa di sini?” tanya Cika mulai menampakkan ketakutannya.“Sudah saatnya kamu belajar hidup mandiri , Cika. Tidak mungkin aku akan terus bersama dengan kamu. Ibu kamu saja sudah pergi. Dan keluarga kamu saja sudah tidak memperdulikan keberadaanmu lagi. Masa aku yang bukan siapa-siapa kamu harus bertahan di sini? Aku punya impian untuk menikah, aku punya keluarga yang harus aku rawat. Jadi, aku akan pergi sekarang dan mulai saat ini, kamu hidup di sini sendiri,” jelas Cika.“Mbak Nindi, tidak bisakah
Part 4 Cika merasa sangat kesepian dengan hidup yang dijalani saat ini. Bingung karena setiap hari yang dilakukan hanyalah makan dan tidur saja. Hendak keluar untuk sekadar mencari kesenangan bersama teman-temannya pun susah dilakukan karena rumah yang ditempatinya saat ini cukup jauh dengan rumah kawan semasa ia sekolah. Bermain ponsel juga membuat kepalanya pusing. Nindi juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Jika malam minggu tiba, gadis yang sudah dewasa itu akan keluar bersama dengan sang kekasih dan pulang jika sudah dini hari saat Cika sudah terlelap dalam mimpi. Dua bulan sudah dilalui Cika hidup seorang diri di rumah besar peninggalan Dania. Di suatu pagi, Cika yang baru saja bangun menemui Nindi yang tengah sarapan pagi. Dengan langkah berat dan kepala tertunduk berjalan pelan menghampiri Nindi yang sedang sarapan. “Kenapa?” tanya Nindi saat Cika sudah sampai di hadapannya. “Pembantu yang katanya mau datang itu, apa tidak ada kabarnya?” tanya Cika ragu. Sikap ke
Part 3Langit mulai gelap. Tidak ada bintang satupun di sana. Aku mulai menoleh ke kanan dan kiri mencari sebuah tumpangan yang bisa membawaku pulang. Entah pulang kemana. Dalam keadaan bimbang, aku membuka ponsel. Ternyata Rindi menelpon banyak ke nomorku. Ia juga berkirim pesan. Aku membukanya, tetapi hanya di bagian akhir yang kubaca.[Kamu kemana saja?][Kenapa belum pulang?][Cika, balas pesanku!][Cika, kamu kemana? Cepat pulang]Aku takut, tetapi tidak mungkin aku mengatakan kalau saat ini sedang di bandara. Akhirnya, aku memilih mencari taksi dengan berjalan keluar bandara. Tidak ada tempat lagi untuk pulang selain rumah Dania dan aku berharap Rindi sedang menungguku di sana. Aku sangat takut.Seketika bernapas lega saat kulihat Rindi tengah menungguku dengan cemas. “Dari mana saja kamu?” tanyanya cemas dengan wajah marah.Kali ini aku tidak akan melawannya. Dia satu-satunya orang yang masih peduli berada di sisiku. Aku diam sambil memainkan ujung kuku.“Cika, kamu dari mana?”