Home / Romansa / Istri Kutukan Sang Presdir / Wajahmu Mengoyak Pikiranku

Share

Wajahmu Mengoyak Pikiranku

Author: Nathalie
last update Last Updated: 2022-08-18 19:06:37

Lydia tidak menyadari pak Broto memperhatikan dirinya. Pak Broto melambaikan tangannya di depan wajah aneh Lydia. Ia bingung melihat Lydia hanya terdiam dengan mata kosong hingga tak menyadari masakannya berubah warna kehitaman.

"Mbak! Kok bau hangus?!" Pak Broto seketika membuyarkan lamunan Lydia.

"Eeh, mana? Astaghfirullah, yaaah gosong udah!" Lydia segera mematikan api di kompornya menatap bingung ke dalam wajan yang kini menghitam.

"Hhm, kamu mikir apaan sih sampe gosong gitu? Mikir saya?!" tanya Wisnu tanda basa basi.

"Eeh," Lydia bingung mau menjawab apa.

"Pede banget sih pak, saya nggak bisa masak!" jawab Lydia tergagap.

"Hhm, tau gitu kan tinggal nyuruh saya beli mbak di gang depan! Banyak tuh tukang bubur ayam, nasi uduk, sate lontong, kupat tahu, lontong opor …,"

"Aaah, stop! Kamu ni agen penjualnya apa gimana, semuanya disebutin!" Wisnu memotong perkataan pak Broto.

Pak Broto langsung nyengir dan meminum kopi hitamnya. Lydia tersenyum kecut, hilang sudah rasa laparnya. Akhirnya Lydia meraih ponsel dan memesan makanan via online. Sebelum Wisnu melahapnya bulat-bulat.

Hai otak please, jangan bikin gara-gara! Jangan sampai saya miring 180°!

Wisnu duduk di depan televisi, tapi pikirannya tidak fokus pada tayangan. Wajah Lydia justru memenuhi layar televisi menggantikan gambar tayangan berita yang sedang disiarkan. Mulai dari caranya senyum, tertawa, cemberut dan berbagai ekspresi lainnya.

Bisa gila aku ini, kenapa wajah dia yang selalu muncul!

Wisnu mengeluh dalam hati, ia menggerutu dan sesekali melirik Lydia. Ia bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Kemarin semuanya masih baik baik saja tapi setelah mereka membeli cincin itu hati dan pikirannya hanya tertuju pada Lydia. Sekretaris yang bahkan tidak pernah sekalipun ia perhatikan.

Ingin sekali Wisnu menanyakan pada Lydia apakah ia juga merasakan hal yang sama, tapi harga dirinya masih cukup tinggi. Wisnu masih menolak rasa itu, lain halnya dengan tubuh dan pikirannya. Semakin ia menolak semakin tubuhnya menginginkan Lydia.

----------------

Dengan sedikit gemetar Lydia menyiapkan makanan di meja, ia tahu Wisnu mencuri pandang ke arahnya. Entah mengapa rasanya Lydia ingin sekali berlari dan memeluk Wisnu. Hal tergila yang pernah ia pikirkan dan rasakan. 

Lydia menahan sekuat tenaga rasa yang tak seharusnya ia rasakan. Wisnu adalah suami dari wanita lain, dan itu tidak boleh dilanggar. 

Ini benar-benar gila, aku menginginkan pak Wisnu? Nggak, ini mustahil! Kayak nggak ada laki-laki lain didunia ini aja, sadar Lydia … sadarlah hei otak!

Sama halnya seperti Wisnu, Lydia pun hanya bisa pasrah dan mengumpat dalam hatinya. Otaknya masih waras untuk tidak menyukai suami orang, milik orang, tapi tubuh dan pikirannya benar-benar menggila. Semakin ia menolak semakin ia menginginkan Wisnu.

----------------

"Sarapannya sudah siap, ayo pak kita makan dulu udah siang!" seru Lydia memanggil pak Wisnu dan Pak Broto.

Wisnu beranjak dari duduknya dengan malas. Bukan karena dia masih ingin bersantai tapi karena getaran aneh yang terus menyiksanya saat ia berdekatan dengan Lydia. 

Lain halnya dengan pak Broto yang dengan semangat langsung mendekat ke arah meja makan. Ia duduk dengan santai tanpa memperhatikan sikap Lydia dan Wisnu yang kikuk.

"Kamu, ngapain duduk disini?" Wisnu bertanya dengan menatap pak Broto dengan tajam.

"Makan pak, kan disuruh makan sama mbak Lydia?" jawab pak Broto tanpa merasa bersalah.

"Hmm, giliran makan aja cepet kamu! Pindah sana, saya mau bicara sama Lydia!" cetus Wisnu dengan sedikit kesal.

"Udah biarin aja kenapa sih pak! Biarin pak Broto duduk disini sama kita, ini rumah saya bukan kantor!" Lydia mencegah pak Broto berdiri.

"Tapi dia kan bawahan saya, kerja dan makan gaji dari saya Lyd! Ya Terserah saya dong mau nyuruh dia pergi apa nggak!" sahut Wisnu sengit, entah kenapa dia tidak ingin acara makannya diganggu Pak Broto.

"Tapi ini rumah saya, yang beli makan juga saya bukan bapak! Pak Broto tamu saya!" Lydia tetap tidak mau mengalah dan tetap pada pendiriannya.

"Yaa tapi kan dia …,"

"Sudah, sudah pak … mbak, stop nggak usah diperpanjang lagi! Wong mau makan kok malah berantem, nggak baik berantem depan makanan bisa mubazir dosa lho!" Pak Broto menengahi.

"Diam kamu!!" Lydia dan Wisnu kompak membentak Pak Broto.

Pak Broto langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. 

"Biarin pak Broto disini, saya nggak mau dilihat berduaan bahaya!" kata Lydia lagi seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

"Bapak sudah beristri, saya single, dan ini masih terlalu pagi juga! Apa kata orang kalo liat kita berdua sarapan disini?!" lanjut Lydia lagi.

"Lah kan cuma sarapan doang, bukan ngamar! Eeh …," Wisnu tiba-tiba saja keceplosan bicara, sesuatu yang ada dipikirannya akhirnya lolos juga lewat perkataan nakal mulutnya.

"Uhuuuk …,"

Lydia tersedak mendengar perkataan Wisnu hingga terbatuk batuk. Pak Broto segera menyodorkan segelas air untuk Lydia.

"Walah mbak, pelan-pelan to makannya!"

Lydia segera menyambar gelas dan meminumnya hingga tandas. Wisnu merasa bersalah karena Lydia tersedak, wajahnya tampak khawatir karena wajah Lydia memerah.

"Maaf ni ya pak, mbak, kalo kata orang mah dilarang berduaan karena nanti ada setan diantara yang dua itu!" ujar pak Broto yang juga memberikan segelas air pada Wisnu.

"Jadi, kamu setannya?!" Tatapan Wisnu pada pak Broto kembali tajam.

Pak Broto nyengir tanpa dosa, "Ya nggak apalah saya jadi setannya, dibayar juga kok!" sahutnya kalem.

"Cck, udah cepetan dihabisin makannya kita masih banyak acara!" Wisnu akhirnya mengalah.

Suasana canggung tampak menghiasi keduanya sementara pak Broto sesekali melirik ke arah Lydia dan Wisnu. Ia ingin memastikan jika apa yang dicurigainya salah.

Kayaknya fix duanya ada rasa deh, kemarin-kemarin nggak begini mereka? Ini aneh, jangan-jangan …,

 

Related chapters

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Antara Ilusi dan Kewarasan

    "Lyd, aku mau mandi pinjam handuk!" Wisnu tanpa basa basi langsung berdiri dan menuju ke kamar mandi Lydia."Eeh pak, jangan kesitu kran airnya belum jalan masih diperbaiki sama tukang!" cegah Lydia."Laah terus?""Pake kamar mandi saya aja di dalam!" Lydia sedikit ragu tapi apa boleh buat, ia tidak mungkin melarang Wisnu mandi."Ini handuknya, emang bapak bawa baju ganti?" tanya Lydia yang sedikit kebingungan."Broto!" Suara Wisnu memanggil sopir pribadinya dengan keras membuat Lydia menutup telinganya."Cck, pak nggak bisa apa nggak pake teriak?" gerutu Lydia."Nggak!"Pak Broto dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar Lydia dengan paper bag berisi pakaian Wisnu. "Ini pak sudah siap semua!""Eeh udah bawa baju segala?" Lydia keheranan."Pak Wisnu selalu bawa pakaian ganti di mobil mbak, buat acara darurat. Ada jas, sepatu, dasi, juga Daleman, komplit udah bagasinya!" sahut pak Broto dengan

    Last Updated : 2022-08-18
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Tokonya Hilang?

    "Pak, kita sudah sampai. Saya tunggu disini apa ikut aja pak?" tanya pak Broto."Disini aja, ngapain juga kamu ikut?!" jawab Wisnu "Ya kali aja, bapak sama mbak Lydia pingsan lagi kan bisa saya tolongin segera pak," sahut pak Broto kalem."Kali ini kita nggak bakalan pingsan lagi pak. Udah tunggu kita disini aja!" Wisnu mengatakan seraya keluar dari mobil.Ia menunggu Lydia turun lalu mereka berjalan berdampingan menyusuri kembali pedestrian yang masih lengang."Semoga pemiliknya ada di toko biar urusan kita cepat selesai," kata Wisnu dengan penuh harap.Lydia terdiam ia juga berharap yang sama tapi seperti halnya Wisnu, Lydia juga meragukan hal itu terjadi. Dengan langkah pasti mereka berjalan dan berjalan menuju lokasi toko souvenir antik itu. Detik, menit mereka lalui tapi waktu seolah berjalan lambat sekali."Pak, ini perasaan saya aja apa kita muter-muter aja disini sih?" Lydia kebingungan dengan apa yang mereka alami."Iya juga ya, perasaa

    Last Updated : 2022-08-19
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Shella

    Karyawan dengan tag name Agus di dadanya itu juga menyapa Lydia dengan senyum. Wisnu belum menjawab, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling toko.Sekali lagi Wisnu hanya bisa tersenyum masam, sejauh mata memandang yang terlihat hanya berbagai contoh model keramik, wastafel, alat-alat pelengkap rumah tangga, kebutuhan alat dapur, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pernak pernik pelengkap rumah.Wisnu menggaruk kepalanya dan bertanya pada Agus, yang masih setia berdiri menemani Lydia dan Wisnu."Mas, mau nanya ini toko berdiri dari kapan ya?""Dari tahun kemarin bapak, tepatnya di bulan November. Apa bapak baru datang kesini? Ada special offer bagi member baru, mau coba?" jawabnya ramah seraya memberikan brosur penawaran toko pada Wisnu."Eeh, tahun kemarin?" Lydia terperanjat."Apa ada toko perhiasan di dekat sini mas, ehm sejenis toko suvenir antik?" Wisnu menyambung pertanyaan Lydia.Agus mengernyit mencoba untuk mengingat. Ia kemudian meng

    Last Updated : 2022-08-25
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Shella Curiga

    "Pak Wisnu sudah berangkat Bu, dari jam lima pagi,""Hah, jam lima? Pagi bener! Kemana dia?!" Shella terkejut dengan jawaban Bi Inah."Tadi sih mau mengurus sesuatu sama mbak Lydia, penting! Jadi buru-buru,""Lydia? Sekretarisnya? Sepagi itu, aneh?!""Saya kurang paham Bu, maaf saya tinggal dulu ke dapur Bu," pamit bi Inah.Shella berpikir dan mengetuk ngetuk jemarinya diatas meja makan. Shella sedikit terganggu dengan tingkah tak biasa Wisnu."Tumben, ada apa Wisnu pergi ke rumah Lydia?"Rasa penasarannya menuntun Shella untuk mencari tahu jadwal Wisnu melalui staff yang lain. "Apa pak Wisnu ada?" tanya Shella saat terdengar suara Budi di seberang sana."Pak Wisnu belum datang ke kantor hari ini Bu," jawab Budi sedikit bingung."Belum datang? Lydia?" tanya Shella mulai curiga."Belum datang juga Bu, tadi mbak Lydia minta kami untuk mengosongkan jadwal pak Wisnu hari ini," jawab Budi lagi."Kamu tahu mereka kemana?" "Maaf Bu

    Last Updated : 2022-08-26
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Cincin yang Mengejutkan

    "Jalan pak!" Wisnu memberi perintah pada pak Broto."Siap pak, mau kemana kita?""Balik ke kantor aja,""Yakin pak? Nggak mau cari toko suvenir lagi nih?" tanya pak Broto lagi."Iya, yakin! Udah jangan bawel nyopir aja yang bener!" Wisnu menjawab seraya merapikan jasnya dengan serba salah. Matanya sesekali melirik Lydia yang juga kikuk dan mencuri pandang padanya. Desiran aneh terasa begitu kuat di dada Wisnu. Rasa yang tak bisa ia hindari, rasa yang perlahan tapi pasti membelenggunya dalam ikatan cinta tabu.Mereka tiba di kawasan perkantoran mega bussines milik keluarga Dhanuaji. Satpam dengan sigap membuka pintu mobil menyambut kedatangan sang presdir muda. Lydia menyusul setelah pak Broto membukakan pintu untuknya."Lyd, saya butuh …,""Kopi? Baik pak, saya ke sana dulu sebentar!" Lydia dengan sigap berjalan mendahului Wisnu."Sandwich too?" Lydia kembali bertanya pada Wisnu.Wisnu heran k

    Last Updated : 2022-08-27
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Pertanyaan Tuan Besar

    Wisnu menghabiskan cemilan siangnya dengan lahap. Ia tak menyadari tuan besar Dhanuaji yang sedari tadi memperhatikan dirinya."Kamu lapar? Nggak sarapan di rumah?" Tuan besar Dhanuaji bertanya, ia ingin memastikan kebenaran informasi dari orang sewaannya.Wisnu tersedak dan segera meminum kopi yang dipesannya tadi. Setelah sedikit melegakan tenggorokannya dari sumbatan makanan, Wisnu menjawab."Ehm, nggak sempat tadi ada keperluan mendadak.""Kalian nggak pernah sarapan sama-sama?" Tuan besar Dhanuaji masih memperhatikan perubahan ekspresi putra kesayangannya itu. Ia ingin memastikan Wisnu menjawabnya dengan jujur."Ehm, itu … sarapan kok, kita sering sarapan sama-sama. Cuma memang pagi tadi aja kita belum ketemu,"Wisnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa karena memang pada kenyataannya mereka tidak pernah bertegur sapa di pagi hari. Apalagi untuk sarapan bersama. Tuan besar Dhanuaji su

    Last Updated : 2022-08-28
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Lydia Resah

    Lutut Lydia lemas, pertanyaan tuan besar bak petir yang menyambarnya. Bayangan pemecatan dengan tidak hormat tiba-tiba saja terbayang di pelupuk mata. Dalam pikirannya pasti tuan besar Dhanuaji sudah berpikir macam-macam tentang dirinya dan Wisnu.Duh Gusti mimpi apa aku semalam!Lydia merutuki nasib sial yang menimpanya kini. Cincin itu benar-benar membawanya dalam situasi rumit yang tak berujung."Aku tidak mungkin salah mengenali cincin ini,""Tuan besar tahu tentang cincin ini?"Tuan besar Dhanuaji tersenyum getir dan menurunkan tangan Lydia. Ia tidak menjawab dan masuk ke dalam lift, meninggalkan Lydia yang bingung dan dipenuhi rasa penasaran. *********Tuan besar Dhanuaji duduk dengan gelisah di seat mobilnya, kelebatan bayangan masa lalu menghantuinya lagi. "Marisa, bukankah urusan kita sudah selesai?" Wajah tuanya nampak muram membayangkan Marisa wanita pemilik toko souvenir."Apa yang harus a

    Last Updated : 2022-09-01
  • Istri Kutukan Sang Presdir   Rasa yang Menggoda

    "Ada apa ini rame-rame? Pembagian sembako?" Suara Wisnu terdengar dengan nada sedikit tinggi membuat para staf tak terkecuali Lydia terkejut. "Eh, pak Wisnu! Ini tadi kak Lydia sedikit … ehm, masuk angin!" Budi yang panik mencolek Lusi untuk membantunya. Lusi dengan tergagap segera merespon."Ah, iya pak masuk angin! Kak Lydia agak nggak enak badan! Iya kan kak?" Lusi kembali mengerjapkan matanya memohon pada Lydia untuk membantu mereka.Wisnu selalu bisa tunduk pada kata-kata Lydia, jadi keduanya meminta Lydia ikut menjawab."Ehm, iya pak mereka mau nolongin saya tadi buat … ehm, ngecilin AC!" sambung Lydia sedikit ragu karena memberikan alasan yang agak tidak masuk akal.Wisnu mengernyit dan menatap stafnya bergantian, ia ingin mengeluarkan kalimat panjang dari mulutnya tapi kemudian matanya tertuju pada berkas yang masih berserakan di lantai. Ia berjongkok dan mengambil salah satu kertas terdekat, membacanya sejenak lalu,"Lh

    Last Updated : 2022-09-07

Latest chapter

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Kenyataan Pahit

    Frans mengambil kamera kecil tersembunyi lalu mengarahkan pada meja Shella.Mila datang dengan secangkir kopi dan cemilan kesukaan Frans, Apple strudel."Thanks sayang," Mata Mila menangkap kamera kecil milik Frans, "Frans?" Ia meminta dari penjelasan Frans."Sorry, didepan sana ada target penyelidikan. Kau lihat pasangan di dekat jendela sana? Itu Shella menantu tuan besar Dhanuaji." "No, kau bercanda kan? Mana mungkin, bukankah Shella itu sudah bersuami? Wisnu kan, terus siapa laki-laki bule disana?" Mila menajamkan mata untuk melihat dengan jelas pria di samping Shella."Eehm, tunggu! Aku kayaknya kenal deh sama dia?" Mila mengubah posisi duduknya."Ohya, dimana?"Mila berusaha mengingat, "Kalo nggak salah dia itu …," Mila tercekat matanya membulat sempurna tak percaya membuat Frans gemas. "Apa? Siapa dia?"Mila hanya terkekeh, ia merasa geli sendiri. "Kau tidak akan percaya kalau aku bilang siapa dia,"Frans bingung, "Coba aja, siap

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Kasus yang Penuh Kejutan

    Tidak ada kasus yang tidak bisa dipecahkan Frans. Tingkat ketelitian tinggi dan totalitas tanpa batas dalam setiap pengerjaan kasus membuat Frans berada di jajaran penyelidik swasta level atas. Frans selalu menjaga privasi para kliennya dan ia belum pernah gagal dalam menjalankan misinya. Tapi kali ini memang sedikit berbeda, kasus yang diberikan tuan besar Dhanuaji menyangkut dunia ghaib. Dunia yang tidak dia paham. Frans merasa perlu bantuan dari penyelidik lain, Adi. Tak lama menunggu, seorang lelaki muda dengan dandanan metropolis menyapa Frans. Senyum manisnya terkembang dari wajah tampan hasil blasteran Inggris Indonesia."Hhhm, ini sedikit aneh!" Kening Adi berkerut saat selesai membaca informasi dalam map coklat."Kau tahu sesuatu?" Frans bertanya, ia penasaran dengan tanggapan Adi.Adi menatap Frans sejenak, secangkir coffe latte disajikan pelayan Mila dengan sepiring crouffle keju yang menggoda selera. "Silakan mas," ujar pelayan itu dengan senyu

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Frans dan Tugas Baru

    "Frans sudah datang tuan!" Manda, sekretaris tuan besar Dhanuaji memberitahukan kedatangan lelaki tegap berjaket kulit hitam yang menunggu tenang di luar ruangan."Hhm, suruh dia masuk!" Tuan besar Dhanuaji menjawab dengan mata yang tak lepas dari map coklat diatas meja.Frans masuk keruangan dan memberi salam kepada tuan besar Dhanuaji. Ia duduk dan menyerahkan sebuah minidisc padanya."Apa ini?""Ini hasil pengintaian kami selama satu minggu terakhir tuan!"Tuan besar Dhanuaji mengetuk ngetuk jarinya ke meja ia gamang antara ingin melihat isinya atau tidak. "Apa sudah bisa dipastikan?"Frans menjawab dengan mantap, "Ya tuan! Kecurigaan tuan sudah bisa dipastikan kebenarannya!"Tuan besar Dhanuaji menghela nafas dengan berat. Kebimbangan di hatinya terasa semakin menekan dada. "Hmm, baiklah,"Tuan besar Dhanuaji memberikan kode pada Manda. Tak berapa lama sebuah video berdurasi satu jam lebih diputar. Tuan besar Dhanuaji menatap nanar setiap tay

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Ciuman Pertama

    Wisnu masih asik meneliti laporan yang diserahkan Lydia, tapi ia tidak tuli. Telinganya menangkap jelas suara laknat dari mulut Lydia. Wisnu semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Pikirannya kacau seketika. Ia merindukan sentuhan wanita untuk melepaskan ketegangan yang tanpa permisi datang saat bersentuhan dengan Lydia.Nyeri kepala melanda Wisnu, ia gamang antara ingin menuntaskan hasratnya atau menjaga image sebagai bos di depan Lydia. Pesona sang sekertaris yang kini duduk di sofa itu membiusnya. Wisnu melirik ke arah Lydia yang menggigit bibir bawahnya, terasa sensual di mata Wisnu.Ya Tuhan, kenapa kamu berpose begitu Lydia!Wisnu menahan debaran di dada yang semakin menyesakkan. Sulit baginya untuk berkonsentrasi memeriksa lembaran-lembaran kertas di depannya. Nafasnya terasa berburu dengan waktu, seperti pelari maraton yang hendak memasuki garis finish.Yah, menahan gejolak hasrat yang tanpa permisi datang memang sangat merepotkan. Membuat nyeri kepala

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Rasa yang Menggoda

    "Ada apa ini rame-rame? Pembagian sembako?" Suara Wisnu terdengar dengan nada sedikit tinggi membuat para staf tak terkecuali Lydia terkejut. "Eh, pak Wisnu! Ini tadi kak Lydia sedikit … ehm, masuk angin!" Budi yang panik mencolek Lusi untuk membantunya. Lusi dengan tergagap segera merespon."Ah, iya pak masuk angin! Kak Lydia agak nggak enak badan! Iya kan kak?" Lusi kembali mengerjapkan matanya memohon pada Lydia untuk membantu mereka.Wisnu selalu bisa tunduk pada kata-kata Lydia, jadi keduanya meminta Lydia ikut menjawab."Ehm, iya pak mereka mau nolongin saya tadi buat … ehm, ngecilin AC!" sambung Lydia sedikit ragu karena memberikan alasan yang agak tidak masuk akal.Wisnu mengernyit dan menatap stafnya bergantian, ia ingin mengeluarkan kalimat panjang dari mulutnya tapi kemudian matanya tertuju pada berkas yang masih berserakan di lantai. Ia berjongkok dan mengambil salah satu kertas terdekat, membacanya sejenak lalu,"Lh

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Lydia Resah

    Lutut Lydia lemas, pertanyaan tuan besar bak petir yang menyambarnya. Bayangan pemecatan dengan tidak hormat tiba-tiba saja terbayang di pelupuk mata. Dalam pikirannya pasti tuan besar Dhanuaji sudah berpikir macam-macam tentang dirinya dan Wisnu.Duh Gusti mimpi apa aku semalam!Lydia merutuki nasib sial yang menimpanya kini. Cincin itu benar-benar membawanya dalam situasi rumit yang tak berujung."Aku tidak mungkin salah mengenali cincin ini,""Tuan besar tahu tentang cincin ini?"Tuan besar Dhanuaji tersenyum getir dan menurunkan tangan Lydia. Ia tidak menjawab dan masuk ke dalam lift, meninggalkan Lydia yang bingung dan dipenuhi rasa penasaran. *********Tuan besar Dhanuaji duduk dengan gelisah di seat mobilnya, kelebatan bayangan masa lalu menghantuinya lagi. "Marisa, bukankah urusan kita sudah selesai?" Wajah tuanya nampak muram membayangkan Marisa wanita pemilik toko souvenir."Apa yang harus a

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Pertanyaan Tuan Besar

    Wisnu menghabiskan cemilan siangnya dengan lahap. Ia tak menyadari tuan besar Dhanuaji yang sedari tadi memperhatikan dirinya."Kamu lapar? Nggak sarapan di rumah?" Tuan besar Dhanuaji bertanya, ia ingin memastikan kebenaran informasi dari orang sewaannya.Wisnu tersedak dan segera meminum kopi yang dipesannya tadi. Setelah sedikit melegakan tenggorokannya dari sumbatan makanan, Wisnu menjawab."Ehm, nggak sempat tadi ada keperluan mendadak.""Kalian nggak pernah sarapan sama-sama?" Tuan besar Dhanuaji masih memperhatikan perubahan ekspresi putra kesayangannya itu. Ia ingin memastikan Wisnu menjawabnya dengan jujur."Ehm, itu … sarapan kok, kita sering sarapan sama-sama. Cuma memang pagi tadi aja kita belum ketemu,"Wisnu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus menjawab apa karena memang pada kenyataannya mereka tidak pernah bertegur sapa di pagi hari. Apalagi untuk sarapan bersama. Tuan besar Dhanuaji su

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Cincin yang Mengejutkan

    "Jalan pak!" Wisnu memberi perintah pada pak Broto."Siap pak, mau kemana kita?""Balik ke kantor aja,""Yakin pak? Nggak mau cari toko suvenir lagi nih?" tanya pak Broto lagi."Iya, yakin! Udah jangan bawel nyopir aja yang bener!" Wisnu menjawab seraya merapikan jasnya dengan serba salah. Matanya sesekali melirik Lydia yang juga kikuk dan mencuri pandang padanya. Desiran aneh terasa begitu kuat di dada Wisnu. Rasa yang tak bisa ia hindari, rasa yang perlahan tapi pasti membelenggunya dalam ikatan cinta tabu.Mereka tiba di kawasan perkantoran mega bussines milik keluarga Dhanuaji. Satpam dengan sigap membuka pintu mobil menyambut kedatangan sang presdir muda. Lydia menyusul setelah pak Broto membukakan pintu untuknya."Lyd, saya butuh …,""Kopi? Baik pak, saya ke sana dulu sebentar!" Lydia dengan sigap berjalan mendahului Wisnu."Sandwich too?" Lydia kembali bertanya pada Wisnu.Wisnu heran k

  • Istri Kutukan Sang Presdir   Shella Curiga

    "Pak Wisnu sudah berangkat Bu, dari jam lima pagi,""Hah, jam lima? Pagi bener! Kemana dia?!" Shella terkejut dengan jawaban Bi Inah."Tadi sih mau mengurus sesuatu sama mbak Lydia, penting! Jadi buru-buru,""Lydia? Sekretarisnya? Sepagi itu, aneh?!""Saya kurang paham Bu, maaf saya tinggal dulu ke dapur Bu," pamit bi Inah.Shella berpikir dan mengetuk ngetuk jemarinya diatas meja makan. Shella sedikit terganggu dengan tingkah tak biasa Wisnu."Tumben, ada apa Wisnu pergi ke rumah Lydia?"Rasa penasarannya menuntun Shella untuk mencari tahu jadwal Wisnu melalui staff yang lain. "Apa pak Wisnu ada?" tanya Shella saat terdengar suara Budi di seberang sana."Pak Wisnu belum datang ke kantor hari ini Bu," jawab Budi sedikit bingung."Belum datang? Lydia?" tanya Shella mulai curiga."Belum datang juga Bu, tadi mbak Lydia minta kami untuk mengosongkan jadwal pak Wisnu hari ini," jawab Budi lagi."Kamu tahu mereka kemana?" "Maaf Bu

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status