"Ada apa, Rick?" tanya Aliana. Ia melihat perubahan di wajah suaminya itu.
"Tidak ada apa-apa. Besok Jack akan kembali ke sini," jawab Elrick, tapi tidak mau melihat mata Aliana."Rick, tatap mataku. Katakan saja ada apa sebenarnya? Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku."Elrick langsung menatap Aliana, terlihat keraguan di wajahnya, suaminya itu sedang menimbang-nimbang antara ingin bercerita atau tidak, pergolakan batinnya terlihat jelas, dan Elrick tidak pandai menutupi kebohongan. Aliana sudah sangat mengenalinya sekarang."Apa kamu akan menghakimi masa laluku?" tanya Elrick sambil meraih kedua tangan Aliana."Aku sudah pernah bilang padamu, Rick. Selama kamu tidak kembali ke masa lalumu itu, dan selama masa lalumu itu tidak menyakitiku. Aku tidak akan pernah menghakiminya. Masa lalu tidak dapat diubah, itu sudah terjadi. Dan siapapun tidak pantas mendapatkan hukuman karena masa lalunya, termasuk kamu," jawab Aliana.Sambil mendesah pelan, Elrick menyandarkan punggungnya ke sofa kulit Omanya, setelah diturunkan Aliana di jalan tadi, ia memilih ke rumah Omanya, dan ia sudah menceritakan masalah baru yang sedang mereka hadapi saat ini. "Kamu sedang menghadapi konsekuensi dari jalan hidup yang kamu pilih selama ini. Akibat sikap teledor kamu! Oma sudah berkali-kali mewanti-wantimu untuk berhenti bermain-main dengan wanita, menikahlah.. Itu yang selalu Oma keluhkan padamu, yang hanya masuk ke kuping kananmu dan keluar lagi melalui kuping kirimu!" keluh Oma Altra sambil menggelengkan kepalanya. Elrick menengadahkan kepalanya sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, ia berusaha mengenyahkan bayangan masa lalunya, yang kini menjadi momok menakutkan untuknya, ia tidak mau kehilangan Leon dan Aliana, juga anak yang sekarang sedang dikandungnya. Dulu ... Elrick tidak pernah memperhatikan reputasinya sama sekali, ia bertindak sesukanya, berganti-ganti pasangan semaunya. Dan kini, ia baru merasaka
Aliana memarkir mobilnya di parkir khusus Penthouse Elrick. Rasanya konyol sekali ia malah kembali ke tempat ini, dan mengusir pergi pemiliknya.untuk waktu yang lama ia tetap berdiam di dalam mobil, pikirannya masih kacau dan ia tidak mau menemui Leon dalam keadaan seperti ini. Aliana belum siap menjawab saat Leon menanyakan Elrick nanti, karena Aliana pulang tanpa Daddynya itu."Ah, Leon ... Apa yang harus Mommy lakukan, nak? Bertahan dengan Daddymu Mommy tidak akan bisa, sementara jika tetap bersama Daddymu hati Mommy akan terus tersakiti," desah Aliana sambil menempelkan keningnya di stir mobil.Air matanya kembali mengalir, "Kenapa? Kenapa masalah selalu saja menghampiri rumah tanggaku? Segala hal yang aku takutkan pada akhirnya terjadi juga. Hatiku kembali tersakiti lagi. Aku tidak tahu mana yang lebih baik, melihat suami memperhatikan wanita lain, atau melihat anak dari wanita lain? Tidak, aku tidak akan sanggup," isaknya."Aku takut saat
Aliana tidak habis pikir, kenapa appa Alex justru membawanya ke Italia, tepatnya ke Portofino di Italian Riviera. Tempat yang berada tidak jauh dari kampung halaman Elrick, Amsterdam. Hanya dua jam perjalanan dengan menggunakan pesawat.'Elrick tidak akan mengira kalau kamu ke Eropa, tempat yang mudah dijangkau olehnya. Begundal itu pasti berpikir kau akan ke Afrika atau Asia Timur,' kata appa Alex.Portofino memang salah satu wisata termewah di dunia, yang menjadi tempat wisata favorit kalangan jetset, dan Aliana baru kali ini menginjakkan kakinya di tempat ini.Desa nelayan ini bergaya mewah, desa yang memamerkan jalan berbatunya, yang dipenuhi dengan beraneka macam pertokoan mewah, restoran mewah yang menyediakan hidangan laut hasil tangkapan dari warga lokal.Belum lagi laut birunya yang jernih, dengan Superyachts yang memenuhi tiap pelabuhannya, yang memanjakan mata Aliana di sepanjang jalan menuju resornya.Bangunan resornya sendiri
Egisya menatap penuh wajah menantunya itu, yang menurut Elrick memiliki kepribadian introvert. Kepribadian yang cenderung lebih fokus kepada perasaan dan pikiran yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Egisya sendiri memiliki beberapa teman yang memiliki kepribadian introvert juga. Mereka lebih menikmati waktu sendirian, karena otak mereka cenderung lebih banyak menggunakan lobus frontalis, bagian otak yang bertugas merencanakan, memikirkan penyelesaian masalah, serta mengingat semuanya.Rata-rata dari mereka selalu menyendiri setiap kali ada masalah, bukan karena ingin melarikan diri dari masalah itu, tapi dengan menyendiri itulah mereka dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik, dapat berpikir dengan jernih agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan, yang akan mereka sesali nantinya. Mereka lebih berorientasi dengan benak mereka sendiri, berdebat dengan benak mereka sendiri.Karena mereka berbeda dengan orang lain pada umumnya, yang bisa mencurahkan
Lima tahun lalu ... "Rick, kamu di mana?" tanya granny, dari suaranya saja Elrick sudah dapat menebak kalau granny sedang menginginkan sesuatu darinya. "Di kantor Granny, memangnya harus di mana lagi aku berada di saat jam kerja begini?" sahut Elrick sambil mengatur suaranya untuk tetap datar, saat tangan ahli Bella sedang bermain-main di juniornya. "Dua bulan sudah kamu tidak pernah ke rumah Granny lagi. Apa kamu sudah tidak sayang dengan Granny?" keluh grannynya. "Argghhh," erang Elrick sambil menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut Bella, saat tangan Bella sudah berganti dengan mulutnya. "Apa kamu sedang bersama dengan salah satu wanitamu?!" tanya granny tidak dapat menyembunyikan nada dongkol di dalam suaranya. "Aku sedang bersama dengan siapapun juga itu bukan urusanmu, Granny. Sekarang cepat katakan apa maumu?" desak Elrick dengan napas yang sudah mul
Sudah satu jam ini Elrick hanya memandangi ponselnya saja. Ia berharap Aliana menghubunginya, tapi jangankan telepon sekedar chat saja tidak.Elrick mulai menekan keyboard ponselnya, 'I miss you, My Luv,' ketiknya, tapi kembali di hapus lagi. Elrick masih takut untuk memulai menghubingi Aliana terlebih dahulu. Ia takut istrinya itu masih belum tenang, dan justru mengambil keputusan gegabah saat Elrick menghubunginya nanti. Elrick kembali merebahkan badannya di sofa panjang Penthousenya, sambil mengurut keningnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Ia kembali merasakan penyesalan itu, perasaan dimana ia berada di antara mengasihani dan membenci dirinya sendiri, atas kehidupan masa lalunya. Dan kini, ia harus mengambil resiko kehilangan anak istrinya, seandainya Aliana memutuskan untuk meninggalkannya. Apakah ia mampu kehilangan mereka, baru terpisah beberapa hari saja sudah membuatnya merindukan mereka."Ya Tuhan, rasa rindu ini begitu menyiks
Sonya dan Alex sedang duduk santai sambil menikmati malam di balkon kamar mereka.Suasana malam di desa tepi pantai yang terletak di Tigullio Golf di timur Genoa wilayah Liguria Italia Utara ini, tidak kalah indahnya dengan malam di Lake Como.Lampu-lampu dari rumah-rumah pastel yang berbaris rapi di tepi pelabuhan, membuat suasana malam semakin indah, terlihat laksana bintang-bintang yang bertaburan.Desa nelayan berbentuk bulan sabit ini selalu ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, terutama saat musim panas."Jadi kamu memang sengaja melakukan ini, Lex? Kamu sengaja membawa Aliana ke Portofino ini, untuk mempertemukannya dengan mommynya Elrick?" tanya Sonya"Ya, mereka harus mengetahui juga masalah yang ditimbulkan grannynya itu," jawab Alex sambil menyesap Limuncellonya. Salah satu minuman khas Italia, yang biasa digunakan sebagai pengganti makanan penutup, karena rasa manisnya itu. Limuncello adalah minuman terpopuler kedua di Itali
Aliana sedang menatap kastil yang berada di atas bukit, saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan segera ia begegas membukanya."Eomma," sapanya lalu mempersilahkan eomma Sonya masuk, "Apa ada yang ingin kamu bicarakan, Sayang?" tanya eomma Sonya sambil duduk di tempat tidur Aliana.Dengan wajah memerah, Aliana duduk di sebelahnya, "Maaf, Eomma. Tadi aku tidak tahu kalau Eomma dan Appa sedang ... Maafkan aku," ucapnya sambil menunduk dan memainkan jemarinya."Tidak apa-apa. Itu tidak mengendurkan niat Appamu, kalau Appamu sudah berniat melakukan sesuatu, pasti akan tetap melakukannya, mau berapa orangpun yang membuka pintu kamar kami," keluh eomma Sonya, "Memangnya diumur Eomma dan Appa saat ini, masih bisa melakukan itu?" tanya Aliana sambil menyeringai lebar."Astaga ... Tentu saja masih bisa, Sayang. Eomma belum menopause. Kalau pun sudah, kami masih tetap bisa melakukannya," jawab eomma Sonya, "Sekarang kata
Dengan perasaan tidak tenang, Leuis berjalan hilir-mudik di depan pintu kamar daddy Elrick dan mommy Aliana, ia harus menjelaskan semua yang mengganjal di dalam dirinya pada orang tua angkatnya itu. Tidak ada yang perlu ia takutkan lagi saat ini karena Leia kini telah resmi menjadi istrinya. Jadi apapun resiko yang akan ia terima nantinya ia akan menerimanya. Setelah membulatkan tekadnya, Leuis berniat mengetuk pintu kamar orangtuanya itu, tapi tangannya tertahan di udara karena pintu itu telah terbuka terlebih dahulu, "Leuis, ada yang ingin kau bicarakan?" tanya daddy Elrick dengan mommy Aliana yang berada di sisinya dengan lengan daddy Elrick yang merangkul pinggangnya, "Ya, Dad ... Apa aku bisa meminta waktu kalian sebentar?" "Ok, masuklah!" seru daddy Elrick sambil membuka lebar pintu kamarnya. Leuis membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi menutupnya lagi. Setelah sekian lama terdiam di bawah tatapan penuh tanda tanya daddy Elrick dan mommy Aliana ia pun kembal
"Ya Tuhan, sebenarnya kamu dan Leon telah melewati malam pertama kalian atau belum sih? Karena saat pertama untuk wanita pasti akan mengeluarkan darah, dan juga rasa sakit setelah melakukannya. Bahkan aku masih merasa nyeri hingga saat ini," jelas Leia."Benarkah?" Aletta berpaling menatap Leon yang tengah asik berbincang dengan Axel dan Dritan, kenapa ia tidak merasakan itu semua? Kenapa tidak ada darah di atas sprei mereka? Apa sebenarnya mereka tidak pernah melakukannya?"Apa memang seharusnya aku mengeluarkan darah?" tanya Aletta lirih."Well, memang ada beberapa wanita dengan satu dan lain alasan tidak mengeluarkan darah saat selaput darahnya sobek. Tapi semuanya pasti akan merasakan sakit saat melakukannya untuk pertama kalinya. Seluruh badanmu akan terasa remuk, seperti kamu telah bekerja kefas selama satu hari penuh," jawab Leia.Ia memberengut kesal sebelum melanjutkan,"Padahal, Leuis sudah melakukannya dengan sangat lembut. Tapi tetap saja aku merasa sakit juga. Rasanya mi
"Maaf kami telat!" seru Leon yang melangkah ke arah keluarganya yang sudah berkumpul untuk makan siang bersama sambil menggandeng Aletta. Mommy Aliana yang melihat kedatangan putranya itu tersenyum lembut menyambutnya, "Wajar, pengantin baru. Kalian pasti enggan kan meninggalkan tempat tidur kalian?" "Ah, Mommy memang pengertian sekali," kekeh Leon sambil mencium pipi kanan dan kiri mommy Aliana sebelum beralih memeluk daddy Elrick. Aletta pun turut serta mencium pipi kanan dan kiri mommy Aliana, lalu memeluk daddy Elrick dan menyapa yang lainnya sebelum duduk di samping Leia. "Nah, karena semua sudah berkumpul, kita bisa mulai makan siangnya, silahkan dinikmati!" seru daddy Elrick. Semua anak, menantu, sepupu dan juga keponakannya mulai menikmati hidangan makan siang di restoran mewah itu, yang sengaja daddy booking khusus untuk acara keluarga mereka saja. "jadi, apa kamu mau menetap di Paris atau memboyong Aletta ke sini, Leon?" tanya mommy Aliana. "Kami belum memutuskan ba
"Eitss ... Mau ke mana buru-buru sekali?" tanya Axel mencegah Leia dan Leuis yang sedang menuju lift yang akan membawa mereka ke kamar mereka. "Tentu saja melakukan malam pertama kami!" jawab Leia tanpa malu-malu lagi, tapi segera menggigit lidahnya saat melihat siapa yang berada di belakang Axel, tante Keizaa dan om Alson yang tengah mengapit putri mereka, Alexa, sementara Alarik yang beberapa bulan lebih tua dari Leia melangkah di belakang mereka, "Astaga, tamu masih banyak, kenapa tidak bersabar dulu?" keluh tante Keizaa, kulit putih bersihnya yang tanpa noda itu menurun pada putri satu-satunya, Alexa. "Biarlah, Snow ... Melarangnya sama dengan melarang Eomma, tidak akan bisa," kekeh om Alson. Ini bukan kali pertama omnya itu menyamakan Leia dengan oma Sonya. Tidak ada satupun anak oma Sonya yang mengambil sifat bar-barnya, sifatnya itu malah menurun pada cucunya, Leia. Sementara sifat dingin dan cuek opa Alex menurun pada cucunya juga, Alarik. Pria itu seperti memiliki
Sebenarnya rasa kantuk masih sangat menguasai Leia, tapi ia memaksakan diri membuka kedua matanya yang masih terasa berat saat merasakan belaian halus punggung tangan seseorang di pipinya, yang ternyata adalah punggung tangan Leuis. Leia tersenyum lembut pada suaminya itu sebelum kembali menutup kedua matanya, dan baru saja akan kembali lagi ke alam mimpinya ketika terdengar suara serak Leuis, "Sudah siang, Sayang. Mau sampai jam berapa kamu tidur?" tanyanya. "Aku lelah sekali, Leuis," desah Leia masih tidak mau membuka kedua matanya yang masih terasa berat, belum lagi rasa pegal di seluruh tubuhnya terutama di area pangkal pahanya. "Apa aku yang membuatmu lelah?" Perlahan kedua mata leia membuka, ia kembali tersenyum pada Leuis, "apa kamu sudah bangun sejak tadi?" tanyanya sebelum menguap lebar. "Ya," jawab Leuis. "Kamu saja yang sudah bangun sejak tadi masih santai di tempat tidur, jadi biarkan aku tidur dulu ya," pinta Leia. "Karena aku terlalu senang ketika pertama kalin
'Keluarkan saja, Sayang, jangan ditahan-tahan," bisik Leuis yang berusaha menahan gairahnya sendiri. Ia harus membuat Leia sampai puncaknya lebih dulu untuk melancarkan dirinya saat akan menembus milik wanita itu nantinya. Dan tidak lama kemudian Leia meneriakkan namanya saat wanita itu telah mencapai puncaknya, Leuis pun menangkup wajah Leia, "Tahan sebentar, Sayang. Aku akan masuk sekarang ... " Seketika itu juga Leia yang telah kembali menjejak bumi menjadi panik, tubuhnya seketika menegang, "A ... Aku takut!" ia mulai mendorong Leuis meski tanpa hasil. "Apa yang kamu takutkan?" tanya Leuis, gairahnya sudah berada di ujung tanduk, tapi Leia malah terus berusaha mendorongnya. "Aku takut tidak muat," jawab Leia sambil terus mendorong Leuis. "Sstt Leia, tatap mataku!" "Apa kamu percaya padaku?" tanya Leuis saat mata mereka telah terkunci. "Iya, tapi ... " "Awalnya memang akan terasa sakit, tapi rasa sakitnya tidak akan sesakit jarimu teriris pisau, Sayang." "Aku tidak pern
Leia dan Aletta terlihat sangat menawan dengan gaun pengantin yang dirancang oleh desainer ternama secara khusus untuk mereka berdua, yang nampak berkilau layaknya taburan permata di seluruh gaun berwarna putih itu. Sementara kedua pria yang kini telah resmi menjadi suami mereka berdiri di samping mereka dengan gaya posesif, seolah melindungi wanita mereka yang terlihat begitu cantik dari siapapun yang ingin merebutnya. Dan sang desainer yang turut serta menghadiri hari yang sangat istimewa itu nampak berkaca-kaca. Siapa yang tidak akan bangga jika hasil rancangannya dipakai oleh cucu dan cucu menantu keluarga Adipramana. Bahkan desainer lainnya merasa iri dengan keberuntungannya itu. Karena pernikahan itu akan ditayangkan secara live di berbagai stasiun televisi lokal, dan headline berita kini dipenuhi dengan pernikahan pewaris keluarga ternama itu. Adik dan kakak menikah secara bersamaan? Siapa yang tidak akan tertarik dengan berita semacam itu? Dan terutama Leon sang casa
Leia baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika belnya berbunyi. Ia melirik tablet yang terpasang di dinding yang menampilkan wajah Leuis di depan pintu unitnya, Leia pun menekan tombol untuk bicara, "Masuk saja, Leuis. Passwordnya masih sama dengan yang sebelumnya!" serunya. Sejurus kemudian pintu unitnya terbuka, sambil tersenyum lembut Leuis mendekatinya dan memeluknya dari belakang, "Aku merindukanmu ... " ucapannya sama lembutnya dengan tatapan matanya yang terpantul di cermin rias Leia, hingga kedua mata mereka saling mengunci, "Baru juga semalam kita ketemu." "Sejam berpisah denganmu pun aku sudah merindukanmu, Sayang." Leia membalik badannya hingga ia bisa menatap wajah Leuis, lalu melingkarkan lengannya di leher calon suaminya itu, "Kenapa kamu sekarang jadi sering ngegombal begitu sih?" tanyanya. "Ummm, mungkin karena sekarang aku telah merasakan kelegaan yang luar biasa, karena pada akhirnya aku dapat mengungkapkan semua perasaanku padamu, perasaan yang telah
"Wah, aku tidak menyangka kau bisa bersikap seromantis itu, Leuis!" seru Leon sambil menepuk pundak Leuis.Leon menarik Leia lebih merapat padanya, "Demi wanita yang sangat aku cintai ini, sudah pasti aku akan melakukan apapun meski diluar kebiasaanku.""Kalian akan tinggal di mana setelah menikah nanti?" tanya Aletta.Alih-alih menjawab Aletta, Leuis malah balik bertanya pada Leia,"Kamu mau tinggal di mana, Sayang?" "Aku akan tinggal dimanapun kamu akan tinggal, Leuis ... " jawab Leia sambil tersenyum menggoda."Jangan tersenyum seperti itu, kalau kamu tidak mau aku melahapmu di sini," bisik Leuis yang langsung mendapatkan sikutan Leia ke pinggangnya."Kenapa kau tiba-tiba bisa berubah sedrastis itu, Leuis? Awalnya kau mati-matian menolak menikahi Leia, bahkan tidak segan-segan membandingkan adikku itu dengan mantan wanitamu," cecar Leon memutuskan kongtak mata Leia dan Leuis.Sambil mendesah pelan, Leia ber