Perkataan Cecilia perlahan merasuk ke dalam jiwa Sharon. Semakin Sharon memikirkannya, semakin dia merasa bahwa apa yang Cecilia katakan itu sangat masuk akal.“Jadi kita sekarang ….”“Beli baju. Aku sudah bilang begitu sama papaku!” jawab Cecilia.“..., oke!” Sharon mengangguk dan langsung mengemudikan mobilnya menuju pusat pertokoan. ***Setelah beberapa hari dirundung oleh depresi, akhirnya Yuna bisa membebaskan dirinya dari spiral emosi negatif tersebut. Bagaimanapun juga, itu hanyalah mimpi buruk yang membuatnya teringat kembali dengan kekelaman di masa lalunya. Yuna tidak ingin hal itu membuatnya terjebak dalam perasaan negatif terus menerus. Lagi pula, dia juga harus menyelesaikan aromaterapi untuk kakeknya, serta proyek Savon de Marseille yang sudah mepet. Yuna sudah berkomitmen untuk menyelesaikan proyek itu, jadi dia harus fokus dengan tanggung jawabnya.Yang jadi masalah sekarang adalah Stella sedang cuti, jadinya Yuna kekurangan satu asisten kepercayaannya. Tentu di lab ma
“Minta tolong apa? Kamu mau aku datang buat nontonin kamu di atas panggung?”Yuna mengatakannya dengan maksud setengah bercanda, tapi dia benar-benar tidak tahu bantuan apa yang bisa dia berikan.“Kalau ada waktu, jelas aku berharap kamu bisa datang! Tapi bukan itu yang aku minta, ada hal lain.“Apa, tuh?”“Aku mau kamu bikinin parfum buat aku!”“.…” Yuna menatap Lisa dengan sorot mata yang seolah mengatakan ini pasti hanya lelucon. “Kamu bercanda, ya! Papa kamu kan lebih jago kalau soal beginian daripada aku, kenapa malah minta aku yang bikin?”“Haish, sudah aku duga kamu pasti bakal ngomong begini, tapi kenyataannya nggak yang kayak kamu bayangin. Papaku memang lebih jago, tapi dia nggak ngerti sama apa yang aku mau!” ujar Lisa dengan wajah yang terlihat begitu kesulitan.Tidak mengerti apa yang dia mau? Yuna hampir saja tertawa mendengarnya.“Aku lagi serius, kamu tadi sudah mau ketawa, ya?”Walau memiliki tubuh yang seksi, kepribadian Lisa sangat lugu dan menggemaskan, bahkan terka
Permintaan Lisa membuat Yuna tersenyum hangat. Sebenarnya dia sendiri bisa paham apa yang Lisa rasakan. Tidak peduli sedewasa apa anak perempuan, di mata ayahnya mereka selamanya akan menjadi anak kecil. Maka dari itu Will tidak akan membuatkan parfum yang aromanya memberikan kesan dewasa kepada anak perempuannya sendiri.Akan tetapi, Lisa yang merasa dirinya sudah cukup dewasa tentu saja memberontak dan mati-matian membuktikan bahwa dirinya memang sudah besar dan tidak ingin lagi menggunakan parfum untuk anak kecil. Alhasil terjadilah cekcok antara mereka berdua.“Aku ngerti. Sebenarnya aku nggak masalah bikinin parfum buat kamu, tapi … kalau untuk beberapa hari ke depan ini, aku nggak bisa.”“Eh?! Nggak bisa, ya?” ujar Lisa kecewa, “Padahal aku mau pakai pas lagi tampil nanti!”“Beberapa hari ke depan aku bakal sibuk banget, aku beneran ngga ada waktu lagi buat bikinin kamu parfum baru. Sekarang aku lagi handle dua proyek yang sama-sama urgent. Kalau kamu nggak keberatan nunggu, nan
“Shane kasih dia duit, berapa persisnya aku juga kurang tahu. Kayaknya dia juga ada ngomong sesuatu ke Helen, tapi aku juga nggak tahu apa yang mereka omongin. Pokoknya habis itu, Helen menyerah, deh. Tapi habis itu Helen ada ngomong sesuatu ke aku, cuma aku nggak ngerti apa maksudnya.”“Dia ngomong apa ke kamu?”“Dia bilang, kamu harus pikir baik-baik. Jadi ibu tiri orang lain itu nggak gampang. Jangan pikir Shane itu orang yang baik. Kira-kira itu yang dia omongin!”“Kamu … harus mikir baik-baik?”“Bukan aku, tapi kamu!”“Aku?!”“Iya, yang dia maksud itu kamu. Makanya aku juga ngerasa aneh. Kamu juga pernah ketemu sama dia sekali saja, tapi kenapa dia malah ngincar kamu. Dan dari kata-katanya itu, dia pikir kamu ibu tirinya Nathan. Masa dia kira kamu istrinya Nathan?”“..., aku mana tahu!”Kalau bukan karena Lisa yang mengungkit kembali soal Helen, Yuna sudah tidak ingat lagi siapa dia. Lagi pula, hanya Lisa dan Will saja yang masih berhubungan erat dengan Yuna setelah Yuna meninggal
Setelah berpamitan dengan Lisa, Yuna pergi ke toko kue yang paling ternama di kota untuk membeli sekotak kue kering dan dua gelas kopi hangat. Dia menaruhnya di thermal bag agar masih hangat ketika sampai di rumah.Brandon sedang sibuk dengan pekerjaannya di ruang tamu. Kedua kakinya yang panjang bersila, satu tangan sibuk membalik halaman dan satu tangannya lagi sibuk memegang gelas yang sudah kosong. Poni rambutnya terurai ke bawah dan mendarat tepat di bingkai kacamatanya ketika dia menundukkan kepala, yang membuatnya jadi terlihat lebih berkelas. Sebenarnya Brandon tidak menderita rabun jauh, tapi dia memakai kacamata silinder. Biasanya dia tidak merasa terganggu dengan kondisi matanya, dia hanya akan memakai kacamatanya ketika harus membaca dokumen pekerjaan yang menuntut ketelitian.“Eh, sudah pulang?” kata Brandon seraya melepas kacamatanya ketika mendengar suara Yuna datang.Tanpa adanya kaca yang membatasi, matanya kini terlihat jadi lebih tajam dan memberikan kesan yang berbe
“Hari ini kamu perhatian banget. Mau minta sesuatu, ya?” tanya Brandon.“Nggak! Aku sadar beberapa hari terakhir aku lagi down banget, dan kamu sampai harus repot-repot bawa kerjaan kamu begitu banyak ke rumah. Aku beliin ini buat kamu sebagai bentuk terima kasih saja!”“Oh, begitu?” sahut Brandon.Tatapan mata Brandon yang semula bertengger di wajah Yuna perlahan menurun ke bawah sampai ke lehernya, lalu ke lengannya, dan kemudian ke pergelangan tangannya yang menggantung secara alami di kedua sisi. Brandon mengulurkan jarinya perlahan menggaruk telapak tangan Yuna.“Kamu ngapain, sih?!” seru Yuna merasa geli.“Sebenarnya …. kalau kamu mau berterima kasih sama aku, kamu nggak perlu beliin makanan segala. Masih banyak cara lain.”Yuna, “….”Yuna menelan ludahnya sambil menatap wajah Brandon. Brandon memasukkan jarinya ke sela-sela telapak tangan Yuna dan menggenggamnya erat, lalu menciumnya. Meski Yuna dibuat tak bisa bergerak oleh Brandon, entah mengapa hatinya terasa begitu tenang d
Karena keduanya sudah mencapai kesepakatan bersama, Brandon pun dengan senang hati langsung mengurus semua yang diperlukan untuk acara pernikahan mereka nanti. Alhasil, pekerjaan yang sedang dia periksa tadi langsung dilupakan begitu saja.Semua orang di Suba tahu bahwa CEO Uniasia sudah punya pacar, dan beredar pula rumour bahwa dia sudah bertunangan, hanya saja foto yang waktu itu diambil oleh paparazi secara diam-diam tidak terlalu jelas karena kebetulan posisi tubuh Brandon menutupi wanita tersebut. Yang terlihat hanyalah separuh dari wajah tunangannya, jadi semua orang masih menerka siapa sebenarnya wanita yang berhasil mencuri hati Brandon.Hari itu Sharon baru saja selesai syuting dan bersiap untuk pulang, tiba-tiba asistennya datang memberikan sebuah amplop, “Ini ada kirim tadi.”Melihat apa yang tertulis di amplop tersebut, Sharon pun membalas, “Oke. Hari ini aku masih ada urusan, kamu pulang duluan saja. Nanti aku bisa pulang sendiri.”“Baik,” jawab asistennya. Dia pun merapi
Stella terduduk bersandar ke kaca sambil menatap ke bawah dengan mata dan hati yang kosong. Saat itu Frans sedang ke bawah untuk membelikan barang kebutuhan sehari-hari, makanya Stella bisa duduk di dekat kaca. Jika tidak, Frans tidak akan mengizinkannya.Selama beberapa hari ini Frans terus menemani Stella. Baik itu mengurus prosesi pemakaman, atau membeli barang, atau bahkan hanya untuk beli makan, Frans akan selalu mengikutinya tanpa banyak bicara. Stella sudah terbiasa dengan kehadirannya karena toh Frans juga bermaksud baik.Perasaan Stella benar-benar hancur karena kematian ibunya. Air matanya akan menetes setiap kali memikirkannya lagi, tapi … yang namanya kehidupan tetap harus berjalan!Untuk sementara waktu, kebakaran tersebut ditetapkan sebagai sebuah kecelakaan. Pihak pemerintah masih mengirimkan kompensasi dan subsidi kepada para korban, tapi berapa harga yang harus mereka bayar untuk mengganti kerugian mental Stella akibat kehilangan ibunya?Stella sampai membenci dirinya
“Karena kamu begitu setia padaku, aku kasih kamu satu kesempatan lagi,” kata sang Ratu mendesah ringan.“Mau aku jadi bahan percobaanmu? Nggak masalah!” kata Fred dengan alis terangkat. “Toh sekarang aku juga nggak bisa menolak, bukan?”“Apa kamu ada permintaan lain?”Bagaimanapun juga, mereka adalah tuan dan pelayan yang sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun, yang sudah melewati suka dan duka bersama. Andaikan Fred memiliki niat untuk melakukan kudeta, dia sudah berkontribusi banyak dan layak untuk mendapatkan apa yang dia minta sebelum dieksekusi.“Yang Mulia tahu aku sudah nggak membutuhkan apa-apa lagi. Aku sudah lama bercerai dengan istriku dan anakku ikut dia ke luar negeri. Aku cuma sendiri mendedikasikan hidupku untukmu, Yang Mulia Ratu. Sekarang aku sudah nggak punya permintaan apa-apa lagi. Oh ya, kalau sampai ….”Fred berhenti sejenak, kemudian dia melanjutkan, “Kalau sampai eksperimen ini berhasil, aku bisa terus hidup lebih lama di dalam badan anak itu, aku berharap
Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan tidak terkena cahaya matahari, begitu masuk langsung tercium bau busuk yang menyengat hidung. Saat pintu dibuka, dan mendengar ada suara kursi roda yang mendekat, orang yang berada di dalam langsung mendongak menatap ke depan.“Ah, Yang Mulia datang untuk menemui aku juga.”Orang itu menyunggingkan senyum yang kaku. Dia yang dulu adalah seorang duta besar terhormat kini menjadi tak lebih dari seperti tawanan perang. Kursi roda berhenti, lalu sang Ratu menatapnya, orang yang sudah meneaninya selama puluhan tahun lebih.“Fred, apa kamu menyesal?” tanyanya.“Menyesal? Apa yang perlu disesali? Aku menyesal kenapa eksperimennya nggak aku lakukan lebih awal? Atau menyesal karena terlalu banyak berpikir? Ataukah menyesal karena aku nggak menyadari lebih awal kalau kamu mencurigaiku? Yang menang memakan yang kalah, itu sudah hukumnya. Nggak ada yang perlu aku sesali.”Sang Ratu sempat terdiam sesaat mendengar kata-kata Fred.“Jadi kamu nggak pernah m
“Tapi sudah terlambat kalau terus menunggu sampai eksperimennya dimulai!” kata Shane seraya menggertakkan gigi.Dia tidak punya sisa waktu lagi untuk bertaruh. Kalau sampai ternyata eksperimennya keburu dimulai, betapa sakit hatinya Shane membayangkan tubuh Nathan yang masih kecil itu harus terbaring di atas meja operasi yang dingin dan dibedah seperti tikus percobaan. Dia tidak bisa menerima hal seperti itu terjadi. Dia tidak tega melihat anaknya yang masih kecil harus mengalami penderitaan yang sebegitu parahnya. Nathan tidak tahu apa-apa dan diculik begitu saja, terpisah dari ayahnya begitu lama. Dan sekarang, dia harus menghadapi semua ini. Bahkan … bahkan dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi.“Tapi kalau kamu ke sana sekarang, memangnya kamu bisa menolong Nathan?” Brandon bertanya.“Aku nggak peduli. Kalaupun aku harus mati, aku bakal tetap berusaha!”“Ya sudah, terserah kamu. Pergi sana!” Brandon tak lagi membujuk Shane. Dia memukul meja yang ada di depannya dan berseru kepada
Mau dipikir seperti apa pun, itu rasanya agak mustahil.“Aku juga berharap informasiku salah, tapi ….”Brandon tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi itu sudah menyiratkan intensi yang sangat jelas. Berhubung ini sudah menyangkut nasib Nathan, jika informasi yang dia dapat tidak bisa dipercaya, dia pun tidak akan memberitahukannya kepada Shane.“Jadi selama ini dia nggak mau membebaskan Nathan karena itu? Itu alasan kenapa selama ini aku nggak pernah berhasil menemukan dia. Jadi … mereka dari awal memang nggak ada niat untuk melepaskan Nathan, dan mereka menyandera dia dengan alasan membutuhkan investasi dana dariku, itu semua bohong?!”Rona wajah Shane di saat itu sudah pucat pasi. Suaranya pasti terdengar cukup datar, tetapi bisa terdengar bibirnya sedikit gemetar. Siapa pun yang menghadapi hal semacam ini pasti akan memberikan reaksi yang sama.Chermiko tidak tahu seperti apa rasanya memiliki seorang anak, tetpai dia dapat memahami perasaan Shane. Dia sendiri juga tidak keberatan di
“Ratu mau Fred jadi bahan percobaannya?” Chermiko bertanya, tetapi dia langsung membantah pertanyaan itu. “Nggak, itu mustahil! Aku dulu pernah ada di sana dan banyak tahu tentang R10. eksperimen ini nggak pernah diuji coba karena syarat dari penerimanya terlalu ketat.”Syaratnya adalah mendapatkan dua tubuh yang cocok, dan itu jelas bukan hal yang mudah untuk dicari. Sama seperti melakukan donor organ, tubuh pendonor dan penerima donor harus cocok baru bisa dilaksanakan. Hanya dengan syarat itu terpenuhi barulah tidak terjadi reaksi penolakan. Makanya, kalaupun Ratu punya niat untuk itu, dia harus mencarikan tubuh yang cocok dengan Fred.“Kamu kira nggak ada?” Brandon bertanya balik dan seketika membuat Chermiko dan Shane kaget. Chermiko dan Shane sama-sama dibuat bertanya-tanya, siapa orang yang akan menjadi wadah baru bagi jiwa Fred.“Dan orang yang bakal menampung jiwa Fred itu bukan orang asing. Fred sendiri yang cari,” kata Brandon. “Kalau dia nggak ketemu orang yang cocok, mana
“Sudah nggak ada lagi, itu saja. Dia bilang yang kita butuhkan sekarang cuma waktu. Sebenarnya nggak ada yang penting, sih. Mungkin dia takut karena masih diawasi. Takutnya ada orang yang mendengar percakapan, makanya dia nggak berani bilang banyak.”“Bukan. Informasi pa yang mau diasampaikan sudah semuanya dia kasih tahu ke kamu,” ucap Brandon.Chermiko, “Eh?”Shane, “Hah? Jadi yang Pak Juan mau sampaikan itu apa?”“Pak Juan bilang kita nggak bisa tangani, tapi ada orang lain yang bisa. Orang yang bisa itu maksudnya siapa?” tanya Brandon kepada mereka berdua. Tetapi baik Shane dan Chermiko di saat itu hanya bertukar pandang dan menggelengkan kepala.“Dan juga kenapa kita nggak bisa? Sebelumnya kita sudah tahu mereka ada di dalam kedutaan, terus kenapa tiba-tiba Pak Juan bilang ini di luar batas kemampuan kita?” tanya Brandon lagi.Kali ini Shane dan Chermiko lebih kompak lagi. Mereka berdua sama-sama menggelengkan kepala serentak tanpa perlu menatap satu sama lain.“Karena Pak Juan me
Chermiko datang dengan penuh tanda tanya dan pergi dengan penuh tanda tanya pula. Dia merasa belum mengatakan atau melakukan apa-apa selama dia bertemu dengan kakeknya tadi, dan langsung disuruh pulang begitu saja. Selama perjalanan, Chermiko berulang kali memikirkan apa yang tadi Juan katakan kepadanya, tetapi dia tidak mendapatkan jawabannya. Jadi apa maksud Juan sebenarnya?Begitu Chermiko sampai ke rumah, benar saja Brandon dan Shane sudah menunggunya. Mereka langsung datang menyambut dan bertanya, “Gimana? Mereka ngundang kamu ke sana untuk apa?”Bahkan mobil yang mengikuti Chermiko dari belakang juga sudah melakukan persiapan jaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang buruk padanya. Namun mereka bisa tenang setelah mendapat kabar kalau Chermiko sudah dalam perjalanan pulang. Namun di saaat yang sama mereka pun terheran-heran mengapa hanya Chermiko sendiri yang keluar.“Mereka mengancam kamu? Apa saja yang mereka bilang di sana?” tanya Shane. “Pasti Rainie, ‘kan? Kali ini apa lagi yan
“Kami semua panik setengah mati waktu dengar Kakek dibawa. Untung saja Kakek baik-baik saja!”“Omong kosong! Kalau kamu pani, kenapa baru sekarang kamu datang menolongku?” tanya Juan melotot.“Bukannya nggak mau nolong, tapi tempat ini nggak bisa main datang kapan pun aku mau. Lagi pula aku tahu sifat Kakek. Kalau Kakek sendiri yang mau ke sana, aku bujuk untuk pulang kayak apa juga Kakek nggak bakal mau pulang! Kakek sendiri yang mau datang ke sini untuk menolong Yuna, ‘kan?”Dengan tatapan mata setuju, Juan menatap Chermiko dan berkata padanya, “Iya, sih. Akhir-akhir ini kamu ada banyak kemajuan juga, ya. Kamu sudah bisa menganalisis keadaan dengan baik dan bisa mengerti sifatku seperti apa.”Chermiko terlihat tidak terlalu senang meski mendapat pujian dari kakeknya. Saat ini dia punya masalah yang lebih mendesak untuk dia sampaikan.“Kakek yang minta aku datang ke sini, ya?” tanyanya.“Ya, untung saja mereka kasih aku ketemu orang lain! Kalau Brandon, mereka pasti nggak akan setuju.
Chermio sudah berada di ruang tamu kedutaan dan melihat sekelilingnya. Dia curiga apakah tempat ini menyimpan suatu konspirasi, karena di antara yang lain, hanya dia sendiri yang mendapatan undangan secara tiba-tiba.Mereka bertiga kaget saat mendapat undangan tersebut. Tidak ada yang menyangka ternyata undangan itu ditujukan kepada Chermiko, dan tidak ada yang tahu apa maksud dari undangannya. Apalagi Chermiko juga yang paling asing dengan kedutaan dibanding Shane atau Brandon. Setelah melalui proses perundingan yang cukup laa, akhirnya mereka bertiga mencapai kesepakatan bersama, Chermiko harus pergi!Jika tidak pergi, bagaimana mereka bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan undangan ini juga dibuat secara resmi, jadi seharusnya tidak akan ada keanehan yang terjadi, atau surat ini tidak akan sampai ke tangan mereka. Maka itu Chermiko datang sesuai dengan waktu dan tempat undangan. Saat masuk dia juga diperiksa karena untuk masuk ke kedutaan tidak diizinkan membawa barang-barang ya