“Kesalahan besar apa? Memang apa yang terjadi?” sang Ratu bertanya penasaran.“Ah! Sudahlah, itu nggak perlu dibahas lagi.”“Kamu nggak bisa cerita?”Sang Ratu sangat penasaran karena melihat Juan hendak mengatakan sesuatu tetapi dia tahan. Jarang-jarang sang Ratu bisa bertemu dengan orang yang sebaya dan memahami keadaannya. Maka itu dia bertanya atas dasar menunjukkan perhatiannya.“Sebenarnya bukannya nggak bisa, tapi itu sudah berlalu, jadi kurasa nggak perlu diungkit lagi. Beberapa waktu lalu aku terkena virus yang lumayan parah dan hampir bikin au mati. Untung saja nyawaku ini keras, aku masih bisa bertahan dari virus itu,” kata Juan dengan santainya seolah itu hanya sebuah candaan baginya.“Virus? Virus apa?” tanya Ratu. Virus separah apa sampai membuat dokter ajaib seperti Juan pun tumbang?Juan menatap kedua mata sang Ratu dalam-dalam, dia berkata sambil menunjuk ke tempat ini persis di mana berada sekarang, “Virus itu … virus yang kalian buat … di sini …. Masa kamu nggak tahu
“Kenapa?”“Aku tanya balik, kenapa kamu mau hidup abadi? Apa kamu nggak capek?” balas Juan, dan seketika membuat sang Ratu tersentak.Capek, tentu saja capek. Setiap haru sang Ratu harus mengerjakan begitu banyak pekerjaan dan berurusan dengan orang-orang yang menyimpan motif tersembunyi. Mana mungkin sang Ratu tidak capek menghadapi itu semua. Bahkan ketika berbaring dan memejamkan mata pun, dia masih memikirkan banyak pekerjaannya yang belum selesai. Namun, justru karena itulah dia ingin terus hidup selamanya!“Ya jelas capek, tapi masih banyak yang harus aku lakukan. Kalau aku bisa memperpanjang hidupku, mungkin aku nggak perlu merasa capek lagi. Aku bisa melakukan lebih banyak hal tanpa terburu-buru.”Sang Ratu berpikir kelelahannya itu berakar pada hidupnya yang terlalu pendek. Karena hidupnya pendek, banyak urusan yang tidak sempat dia selesaikan. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan, tetapi tidak ada waktu yang cukup. Kalau sang Ratu bisa hidup sampai selamanya tanpa batas wa
“Tapi apa kamu nggak merasa menyesal atau bersalah? Jelas-jelas kamu bisa menolong lebih banyak orang, kamu bisa melakukan lebih dari itu. Siapa tahu kamu bisa membuat gebrakan baru dalam ilmu kedokteran! Kalau kamu hidup cukup lama, kamu bisa mencari tahu lebih banyak rahasia yang disembunyikan di dunia ini.”Sang Ratu ingin hidup lebih lama juga karena dia ingin melihat lebih banyak keajaiban dunia dan mengetahui lebih banyak hal yang menjadi misteri di bumi ini.Di saat itu, Juan hanya mengerang dan berkata sambil geleng-geleng kepala, “Tahu sebanyak itu untuk apa? Apa nggak kamu sendiri yang frustarsi nanti? Sudah umur segini apa masih kurang kebusukan dunia yang kamu lihat sekarang? Dengan waktu yang nggak terbatas itu, mau sampai kapan kamu terus hidup? Apa kamu kuat melihat orang-orang di sekitarmu satu per satu pergi, sementara kamu sendiri jadi tua bangka? Kalau aku sih nggak mau!”“Kamu salah. Andaikan ada sejenis obat yang bisa bikin orang lain hidup abadi juga, aku bisa kas
Ratu hanya tersenyum dan meninggalkan gudang itu. Sampai di depan pintu, dia langsung disambut oleh pengawal yang tadi mengantarnya. Dengan kedua tangannya Ratu memegang kedua pegangan kursi roda belakang hingga kursi roda berhenti, kemudian dia berkata kepada pengawal itu, “Taruh dia dan Yuna di satu kamar yang sama. Kamarnya harus yang luas dan nyaman!”“... siap!” jawabnya.Sekali lagi, sang Ratu menoleh ke belakang seraya menghela napas panjang melihat pintu gudang tertutup. ***Tak jauh sejak Shane keluar dari gedung kedutaan Yuraria, sebuah mobil perlahan berhenti persis di sampingnya. Shane berhenti dan melirik sejenak, kemudian naik ke mobil tersebut.Brandon yang ada di dalam mobil itu bertanya padanya, “Gimana?”“Sudah kukasih ke dia,” jawab Shane, datar dan tanpa ekspresi.“Dia percaya?”“Seharusnya … percaya.”“Rainie itu terlalu sombong dan curigaan. Kamu kasih ke dia langsung pun dia pasti masih curiga. Tapi makin nggak kasih, dia makin mencari cara untuk mendapatkannya,
“Hati kamu pasti tetap sakit,” ujar Brandon. Dia pun dapat memahami perasaan Shane. Andaikan di saat itu juga ada yang bilang kalau terjadi sesuatu kepada anaknya, dia juga pasti tidak akan bisa terima. Sama seperti beberapa hari lalu saat Brandon baru mengambil anaknya kembali, dia merasakan ketegangan luar biasa yang tak mungkin bisa dia jelaskan dengan kata-kata.“Kalian tenang saja. Aku nggak apa-apa. Aku cuma merasa sedikit sedih, tapi … selama aku belum lihat Nathan langsung, entah dalam keadaan hidup atau mati … aku nggak bakal menyerah,” kata Shane.“Benar!” seru Brandon. “Rainie pasti sengaja cuma mau memancing kamu. Nathan diculik bukan cuma satu dua hari saja. Dia sudah lama diculik dan nggak ada kabar apa-apa, kenapa tiba-tiba Rainie baru bilang kalau dia mati? Kenapa nggak dibunuh saja dari dulu, kenapa baru sekarang?”Analisis yang berdasarkan logika ini Brandon lontarkan bukan semata-mata untuk menghibur Shane, tetapi karena memang terdapat kejanggalan di dalamnya. Natha
Shane langsung terdiam, tetapi dalam hati dia masih ragu dan tidak bisa mengatakan dengan konkret di mana yang aneh. Mereka bertiga sama-sama berpikir, dan tiba-tiba saja mobil yang mereka naiki rem mendadak dan banting setir ke samping.Mereka bertiga seketika terhempas dan setelah duduk tenang kembali, Brandon melihat ke depan, “Ada apa?”“Pak Brandon …,” si sopir tergagap dan menunjuk ke depan.Brandon mengikuti arah jarinya ke depan dan melihat persis di depan mobil ada seorang perempuan yang membentangkan kedua tangannya. Sudah jelas, karena perempuan itu menghadang makanya mobil rem mendadak. Begitu mobil berhenti, perempuan itu segera mendekat ke pintu dan memukul bodi mobil dengan keras.Seketika melihat dengan jelas siapa identitas perempuan itu, Chermiko langsung berseru, “Kenapa ada dia?!”Rupanya perempuan itu adalah Susan, ibunya Rainie, yang tentu Chermiko kenali. Namun Chermiko masih tak habis pikir mengapa Susan bisa tiba-tiba muncul di tempat ini dan menghalangi mobil
“Nggak, itu nggak mungkin. Mana mungkin anakku sendiri nggak mau ketemu aku. Dia pasti lagi dalam bahaya, aku yakin!”“Sekarang Rainie lagi dilindungi di dalam kedutaan, dia juga sampai menjilat bule-bule yang ada di sana. Memang ada bahaya apa di sana? Kalau ada, justru dia yang membahayakan orang lain,” ujar Chermiko.“Sembarangan!” sahut Susan dengan mata memerah. “Rainie-ku anak yang paling baik, paling pintar, paling serba bisa. Kalian yang iri sama dia, makanya kalian menculik dan menyekap dia.”“.…”Chermiko kehabisan kata-kata mendengarnya. Dia menatap Brandon, dan Brandon juga mengerutkan keningnya melihat perempuan yang ada di depan mereka. Rambut Susan acak-acakan, dan pakaiannya juga kelihatan lusuh. Dia terlihat 180 derajat dengan penampilannya yang biasa terlihat elegan. Matanya yang bengkak memerah membuktikan Susan sudah berhari-hari tidak istirahat.“Dia nggak ada di tempatku,” kata Brandon.Di mata Brandon, Susan hanyalah seorang perempuan yang kasihan dan tidak thau
Melihat Susan perlahan mulai menjauh dengan langkah tertatih dan akhirnya tak terlihat lagi, Chermiko melongok dan bertanya, “Dia sudah gila, ya?”“Mungkin,” jawab Brandon. Dia juga tidak bisa mengutarakan apa yang dia rasakan dengan jelas. Dia tidak memiliki dendam atau kebencian terhadap Susan, tetapi juga bukan berarti hubungan mereka baik-baik saja. Brandon hanya menganggap dia sebagai wanita biasa yang patut dikasihani.Keluarganya Rainie jatuh sampai seperti ini juga bukan sepenuhnya salah Susan seorang. Memang dia sudah melakukan banyak kesalahan, tetapi tidak serta merta dia saja yang bersalah. Selain berusaha untuk menenangkannya sementara waktu, tidak ada lagi yang bisa Brandon lakukan untuknya.“Kalau Rainie tahu mamanya jadi seperti ini, gimana perasaannya, ya?” tanya Chermiko.“Seharusnya dia nggak akan merasakan apa-apa,” jawab Brandon seraya berbalik ke mobilnya. Dia tidak hanya sekali melihat sikap Rainie terhadap ibunya yang begitu dingin. Hubungan mereka berdua tidak
Harus diakui, setiap tutur kata yang Yuna ucapkan sangat mengena di sanubari Ratu. Memang benar meski Ratu tidak bisa lagi menunggu, toh sekarang ada waktu kosong. Tidak ada salahnya bagi Ratu untuk memberi kesempatan kepada yuna untuk mencoba. Kalau yuna gagal, tinggal lakukan sesuai dengan rencana awal.Rencana R10 ini sejak awal memang sudah mendapat berbagai macam halangan. Pertama adalah perlawanan dari anaknya sendiri, kemudian jika diumumkan pun, entah akan seperti apa kritik dan tekanan dari opini publik. Namun di luar semua itu, yang paling penting adalah bahwa Ratu sendiri juga tidak yakin dengan keputusannya sendiri.Dari luar, Ratu mungkin terlihat tegas. Namun hanya dia sendiri yang tahu kalau sebenarnya dia pun sering meragukan keputusannya. Jika Ratu tidak ragu, pada hari itu juga dia akan tetap melanjutkan eksperimennya, bukan malah menunggu seperti sekarang. Dengan diberhentikannya eksperimen R10 untuk sementara, Ratu makin bimbang.“Kamu butuh apa?” tanya Ratu. Berhub
Saat Yuna mengatakan itu, ekspresi wajah Ratu masih tidak berubah. Ratu hanya menutup kelopak matanya untuk menutupi sorotan yang terpancar dari bola matanya. Tentu saja pada awal eksperimen ini dilakukan, dia menyembunyikan faktanya dari semua orang agar tidak ada yang tahu.Eksperimen ini sejatinya adalah sesuatu yang membahayakan nyawa manusia. Ratu tahu betul akan hal tersebut, karena untuk membuat dia hidup abadi, dia harus mengorbankan nyawa orang lain. Kalau sampai ada satu orang saja yang tahu dan kemudian tersebar luas, tentu saja seluruh dunia akan mengecamnya.Namun di sisi lain, Ratu tidak mungkin dan tidak akan mau menyerah. Makanya saat melakukan penelitian, dia hanya memberikan satu resep kepada setiap grup, kemudian meminta mereka untuk menjalankan eksperimen sesuai dengan instruksi yang tertera di setiap lembaran resepnya.Tentu untuk menutupi agar orang lain tidak bisa menerka apa yang sedang mereka lakukan, Ratu memberikan banyak resep yang sebenarnya sama sekali tid
Suara anak kecil yang menggemaskan itu membuat Yuna teringat, sewaktu dia terakhir kali bertemu dengan Nathan, saat itu dia memang sedang hamil. Seketika mendengar itu, Yuna pun tersenyum seraya memegangi perutnya yang kini sudah rata, “Mereka sudah lahir.”“Adik cowok, ya?” tanya Nathan penasaran.“Ada cowok dan cewek. Anak Tante yang lahir ada dua, lho!” ujar Yuna tersenyum sembari mengangkat dua jarinya.Sorot mata Nathan seketika bercahaya. Perasaannya yang sejak awal murung dan penuh waspada langsung berubah menjadi jauh lebih ceria selayaknya anak kecil pada umumnya.“Dua adik?! Wah, Tante hebat banget!”“Hahaha, makasih, ya! Nanti Tante ajak kamu ketemu mereka kalau ada kesempatan,” ujar Yuna tersenyum, nada bicaranya pun jauh lebih lembut saat dia berbicara dengan anak kecil. Melihat Nathan membuat Yuna teringat dengan anak-anaknya sendiri, hanya saja ….“Aku juga kangen sama mereka, tapi … kayaknya aku nggak bisa ketemu mereka lagi,” ucap Nathan dengan suaranya yang kian menge
Mungkin sekarang Nathan sudah tidak lagi disembunyikan seperti pada saat Fred yang memimpin. Namun tentu saat itu banyak hal yang Fred lakukan secara diam-diam. Dia mengira dia bisa menyembunyikan semuanya dari orang lain bahkan dari sang Ratu sekalipun. Namun dia tidak tahu bahwa sebenarnya Ratu sudah mengetahuinya sejak awal.Di luar kamar tempat Nathan ditahan ditempatkan seorang penjaga. Yuna sempat dicegat saat dia mau masuk ke dalam. Yuna menduga mungkin ini adalah perintah dari Ratu. Mereka semua juga diawasi dan dapat berkomunikasi dengan intercom.Nathan sangat patuh sendirian di dalam tidak seperti kebanyakan anak seumurannya. Bahkan sewaktu melihat Yuna, dia masih bisa tersenyum dengan santun dan menyapanya.“Halo, Tante.”“Kamu masih mengenali aku?” tanya Yuna.“Iya, Tante Yuna,” jawab Nathan mengangguk.Yuna pernah menyelamatkan nyawa Nathan saat mereka berada di Prancis. Yuna juga banyak membantu Nathan dan ada suatu waktu Nathan sering main ke rumah Yuna, tetapi kemudian
Tangan yang mulanya Ratu gunakan untuk mengelus wajah Ross langsung ditarik. Raut wajahnya juga dalam sekejap berubah menjadi berkali-kali lipat lebih sinis.“Jadi dari tadi kamu ngomong panjang lebar ujung-ujungnya cuma mau aku membuang eksperimen ini.”“Aku mau kamu merelakan diri sendiri,” kata Ross sambil berusaha meraih tangan ibunya lagi, tetapi Ratu menghindarinya.“Aku cape. Kamu juga balik ke kamarmu saja untuk istirahat,” ucap sang Ratu seraya berpaling.“Ma ….”Sayangnya panggilan itu tidak membuat Ratu tergerak, bahkan untuk sekadar menoleh ke belakang pun tidak.“Ricky!”Ricky yang dari awal masih menunggu di depan pintu segera menyahut, “Ya, Yang Mulia.”“Bawa Ross balik ke kamarnya.”Saat Ricky baru mau masuk untuk mengantar pangerannya pergi, Ross langsung berdiri dan bilang, “Aku bisa jalan sendiri.”Maka Ross pun segera berbalik pergi, tetapi belum terlalu jauh dia melangkahkan kakinya, dia kembali menoleh ke belakang dan berkata, “Ma, aku tahu apa pun yang aku bilang
Seketika itu Ratu syok karena dia jarang sekali melihat anaknya bersikap seperti ini. Saking syoknya sampai dia tidak bisa berkata-kata dan hanya terdiam menatap dan mendengar apa yang dia sampaikan.“Ma, aku tahu sebenarnya kamu pasti takut. Takut tua, takut mati, takut masih banyak hal yang belum diselesaikan. Aku thau kamu juga bukannya egois. Kamu melakukan eksperimen ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi karena masih banyak hal yang mau kamu lakukan.”Di saat mendengar kata-kata Ross, tanpa sadar mata Ratu mulai basah, tetapi dia berusaha untuk menahan laju air matanya.“Aku juga tahu kamu pasti sudah capek. Orang lain melihat kamu berjaya, tapi aku tahu setiap malam kamu susah tidur, bahkan terkadang waktu aku pulang malam dan melewati kamarmu, aku bisa dengar suara langkah kaki lagi mondar-mandir. Kamu pasti capek banget karena harus menanggungnya sendirian. Sering kali aku mau membagi beban itu, tapi ….”Sampai di situ Ross terdiam dan tidak lagi meneruskan ka
“Aku nggak pernah dengar tentang itu,” sahut Ross dengan tenang.“Jelas kamu nggak pernah dengar. Itu hal yang sangat mereka rahasiakan, nggak mungkin mereka mau kamu tahu.”“Jadi Mama sendiri tahu dari mana?” Ross bertanya balik.“....” Ratu berdeham seraya berpaling, dia lalu mengatakan, “Aku punya jalur informasiku sendiri. Terserah kamu percaya atau nggak, tapi itu benar.”“Aku bukanya nggak percaya, tapi kamu yang takut aku nggak percaya. Kalau memang dirahasiakan, pastinya nggak akan mudah untuk mendapat informasi itu. Aku cuma penasaran dari mana kamu tahu itu. Tentu saja kamu bisa bilang informasi itu didapat dari jalur informanu sendiri, tapi coba pikir lagi. Kamu sudah melakukan eksperimen ini selama bertahun-tahun, tapi siapa yang tahu sebelum ini terbongkar? Atau kamu pikir kamu lebih pandai merahasiakan ini dari mereka?”“.… Ross, kamu ….”Saat Ratu baru mau berbicara, dia lagi-lagi disela oleh Ross yang bicara dengan suara pelan. “Ma, tolong jangan marah. Kamu marah karen
Bagaimanapun yang namanya anak sendiri, ketika sudah meminta maaf, amarah Ratu sudah tidak lagi berkobar.“Iya, aku tahu aku salah,” kata Ross menunduk. “Aku nggak sepantasnya ngomong begitu.”“Kamu benar-benar sadar kalau salah?” tanyanya. “Angkat kepalamu. Tatap mataku.”Lantas Ross perlahan mengangkat kepalanya sampai matanya bertatapan, tetapi tetap tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa. Selagi menatap Ross dalam-dalam, Rat tersenyum dan berkata, “Ross, kamu nggak tahu kamu salah. Tatapan mata kamu memberi tahu kalau kamu sebenarnya masih nggak rela!”Bagaimana mungkin Ratu tidak memahami anaknya sendiri. Tatapan mata Ross mengatakan dengan sangat jelas kalau dia masih tidak mengaku salah, tetapi dia hanya mengalah agar ibunya tidak marah. Hanya saja setelah mengalami masa kritis dan setelah mengobrol dengan Juan dan Fred, pemikiran dan suasana hati Ratu sudah sedikit berubah.“Ross, kamu sudah lama tinggal di negara ini, jadi pemikiran kamu sudah terpengaruh sama
Ricky sudah menunggu di luar menantikan Ratu keluar dari kamar tersebut. Dia langsung memegang kursi roda tanpa mengatakan apa-apa, dan mendorongnya dalam kesunyian. Begitu pun dengan Ratu, dia juga hanya diam saja selama mereka berjalan menuju lift.“Pangeran Ross minta bertemu,” kata Ricky.Ratu memejamkan kedua matanya guna menyembunyikan perasaan yang mungkin bisa terlihat dari sorotan mata. Dia tidak menjawab dan hanya mengeluarkan desahan panjang. Walau begitu, Ricky mengerti apa yang ingin Ratu sampaikan dan dia pun tidak lagi banyak bertanya.Seiringan dengan lift yang terus naik, tiba-tiba Ratu berkata, “Bawa dia temui aku.”“Yang Mulia?”“Bawa dia temui aku.”Selesai Ratu berbicara, kebetulan lift juga sudah sampai di lantai tujuan. Ratu mendorong kursi rodanya sendiri keluar dari lift. Ricky sempat tertegun sesaat, tetapi kemudian dia kembali menekan tombol lantai di mana Ross berada.Tak lama kemudian, Ricky mengantar Ross masuk kamar tidur Ratu. Dia mengetuk pintunya, teta