Ryan kembali menarik tubuh perempuan itu dan menatapnya dengan intens. Menyeringai tipis lalu mengecup keningnya.“Kamu cantik kalau lagi polos kayak gini,” ucapnya sembari merayap dan kini tengah berada di atas tubuh Ayuni.“Polos doang, cantiknya?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong. Setiap waktu yang kamu habiskan bersamaku, kamu selalu cantik.”Ayuni kemudian mengerucutkan bibirnya. “Gombal!”“Harus. Biar baper. Biar enak mainnya kalau terbawa perasaan. Makanya harus disuguhkan kata-kata manis dulu.” Ryan kembali mengecup leher perempuan itu dan menghidu wangi aroma tubuh perempuan itu.“Aku ingin kita seperti ini selamanya, Ayuni. Aku ingin, kita bisa menjalani hidup dengan banyak tawa yang kita buat. Aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu,” bisiknya lalu mencoba menyatukan dirinya di bawah sana.“Ouggh!” Ayuni menggeram pelan setelah benda asing berhasil menerobos mahkotanya. Tangannya meremas erat bahu Ryan seraya memejamkan matanya.“Ryan ….”Lelaki itu menelan salivanya dan
Dengan cepat perempuan itu beranjak dari tempat tidur dan mengambil kaus kebesaran di dalam lemari.“Kamu tunggu di situ aja. Kalau mau mandi juga nggak masalah. Asal jang—”Cklek!“Ayuni. Dari tadi Mama pang … il.” Rini menganga setelahnya ….Brak!Rini menutup pintu kamar tersebut dengan sangat kencang dan spontan sebab terkejut bukan main melihat Ryan yang bertelanjang dada tengah duduk menatap Ayuni yang berdiri mematung di depan lemari.Ayuni mendesah pelan lalu keluar dari kamarnya dengan langkah lemasnya. “Kamu mandi duluan aja. Aku ke Mama dulu.”Ryan mengangguk patuh. Ayuni lantas keluar dari kamarnya, menghampiri Rini yang tengah duduk bengong di sofa ruang tengah.“Mama sih! Masih pagi udah ke sini. Malu sendiri, kan!” Ayuni memarahi mamanya.Rini menghela napas kasar. “Untung Mama lho, yang lihat. Coba kalau papa kamu. Apa nggak jantungan dia.”Ayuni menyunggingkan senyum melirik sang mama. “Nggak usah bahas itu. Ngapain, ke sini?”Rini memberikan formulir permohonan cerai
Ayuni melajukan mobilnya tak tentu arah. Entah hendak ke mana ia pun tidak tahu. Yang dia tahu sekarang adalah serba salah. Mengapa bisa seperti itu, ia juga bingung sendiri.“Arrghh!” Ayuni memukul setir mobilnya karena masih kesal. “Ayuni! Elo tolol tahu, nggak?!”Ayuni mengembungkan pipinya dan mengadahkan kepalanya ke atas. Ia berhenti tepat di toko bukunya. Ia lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam tokonya.“Pagi, Mbak Ayuni,” sapa salah satu karyawannya.“Pagi. Rif. Kalau ada yang nanyain aku siapa pun itu, jangan bilang aku di sini, yaa. Mobil juga aku umpetin di basement belakang. Jadi, nggak ada yang tahu kalau aku ada di sini. Aku mau istirahat dulu di kamar.”“Oke, Mbak!”Ayuni kemudian mengulas senyumnya dan masuk ke lantai tiga. Tempat privasi Ayuni dan hanya dia yang berhak masuk ke dalam kamarnya itu.Ayuni mengambil ponselnya dan melihat beberapa rentetan pesan juga panggilan tak terjawab dari Ryan.“Emang paling bener itu menghilang dari dunia. Habis dibuat terb
Andreas menelan saliva dengan pelan kemudian tersenyum lirih. “Baiklah. Kalau itu mau kamu.”Ayuni lantas menerbitkan senyumnya. “Gitu dong. Kalau gini kan, enak.”“Tapi, aku punya satu syarat untuk kamu.”Ayuni mengerutkan keningnya. “Apa lagi, sih?”Andreas tersenyum miring seraya menatap Ayuni. “Jangan menikah dengan Ryan setelah kita berpisah. Deal?”Ayuni menatap datar wajah Andreas. “Gila apa kamu, Mas. Nggak usah atur hidup aku dong! Terserah aku lah. Kita udah masing-masing dan kamu udah nggak berh—”“Oke! Berarti kamu ingin digantung seperti ini. Oke! Kalau itu yang kamu mau juga.” Andreas menyeringai bak iblis yang baru saja memenangkan perdebatan.Ayuni menghela napas kasar. “Mas!” Ia mengeluh pelan lalu memijat keningnya.“Apa sih, yang kamu butuhkan dari dia, huh? Ada juga mereka yang butuh kamu. Hanya butuh, Ay. Bukan cinta.”“Nggak usah bikin aku makin pusing, bisa?!” pekik Ayuni yang semakin tak karuan.Andreas terkekeh melihat istrinya yang tidak bisa memilih mana yan
Pukul 19.00 ….Ayuni sudah tiba di Libra Resto. Sesuai yang diminta oleh Ryan agar datang tepat waktu. Dia sudah menepati janji itu. Namun, Ryan belum juga terlihat batang hidungnya.Ayuni kemudian menghela napas kasar dan mengambil ponselnya. “Suruh ke sini jam tujuh. Udah ke sini dia belum datang,” gerutu Ayuni kemudian.‘Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jang—”“Ckk! Balas dendam atau apa sih? Kenapa sekarang nomornya nggak bisa dihubungi!” Ayuni menyimpan kesal ponselnya ke dalam tas.Ayuni kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang ia duduki. Hingga makanan yang telah dipesan oleh Ryan sudah tiba di meja makan itu. Namun, lelaki itu tak juga tiba di sana.“Kamu di mana, Ryan? Kenapa belum juga datang? Ada operasi dadakan? Biasanya juga ngasih kabar,” gumam Ayuni sembari menatap semua makanan kesukaanya tertata rapi di sana.Ayuni kemudian menelan saliva dengan pelan seraya menatap jam yang melingkar di tangannya. Sudah mau masuk jam delapan.
Ryan terdiam dan hanya bisa menerima ucapan Ayuni tadi. Sebab ia sadar bila kesalahannya itu sangatlah besar.Ia kemudian mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Ayuni.“Aku udah bilang sama kamu nggak usah ganti kalau emang itu karena aku!”“Bukan karena itu, Ayuni. Tapi, Andreas. Dia yang udah buat kita jadi kayak gini.”Ayuni mengambil ponsel tersebut dengan mata melirik tajam ke arah lelaki itu.“Hanya karena ini, kamu nggak datang ke resto yang kamu undang sendiri aku suruh datang ke sana?”Dengan kasar perempuan itu memberikan ponsel Ryan kepada sang empunya. Sangat kesal bila ingat kala dirinya datang ke resto akan tetapi Ryan malah tidak juga datang.“Kenapa walpapernya diganti? Nggak usah diganti sampai nyusul dia, Ryan! Udah ketahuan aja baru diganti. Dulu-dulu ke mana aja?!”“Aku minta maaf, Ayuni. Salah aku memang banyak. Tapi, ketidakhadiran aku ke sana karena kupikir kamu sedang bersama Andreas. Karena kamu lagi marah, jadinya aku pikir kamu butuh pelam—““Pelampias
“Kamu apakan Gita sampai dia pendarahan, huh?!”Andreas memekik memarahi Ayuni setelah mereka tiba di rumah sakit. Gita masih ditangani oleh tim medis setelah Ayuni dibantu oleh ART di sana membawanya.Ayuni yang terus menitikan air matanya karena ketakutan akan kondisi Gita yang terbentur meja tepat di perutnya itu hanya menunduk sembari terisak.“Andreas. Ada apa ini? Apa yang terjadi pada Gita?”Kedua orang tua Gita telah sampai di rumah sakit setelah diberi tahu oleh Andreas.“Masih diperiksa dokter, Ma, Pa. Belum tahu kondisinya seperti apa.”Adi kemudian melangkah, ingin melihat kondisi sang anak di ruang rawat yang masih diperiksa oleh tim medis.“Kamu apakan anak saya, huh?” pekik Shita memarahi Ayuni yang tengah menunduk itu.“Ma. Ini hanya kecelakaan. Ayuni juga nggak sengaja dorong Gita.” Andreas mencoba menenangkan mertuanya itu.“Nggak sengaja gimana? Jelas-jelas dia itu iri pada Gita karena sedang hamil. Dia yang udah lama nikah sama kamu, nggak dikasih anak. Makanya mar
Mata Ryan memicing tajam menatap Andreas yang telah menyingkirkan tangannya dari Ayuni.“Elo udah tahu dan sadar kalau Ayuni adalah istri gue. Tapi, elo berani bawa dia kabur dia hanya berdua! Elo udah culik istri orang, Ryan! Dokter tapi otaknya dangkal. Kalau nggak mau lihat Ayuni dipenjara, sekalian elo jug ague laporkan ke polisi karena sudah menculi—““Aku tidak menculik Ayuni. Dia pergi ke Bali karena berobat. Kondisi mentalnya sedang down karena ulah kamu yang mengurungnya. Kalau kamu berani membawa Ayuni ke rumah sakit. Mertua kamu.“Kalau mertua kamu berani melaporkan Ayuni, aku juga akan melaporkan kamu karena telah melakukan tindakan kekerasan pada istri kamu sendiri. Mengurungnya seperti hewan, dilarang bertemu dengan siapa pun hanya karena ego kamu sendiri! Pilih mana? Melaporkan kamu balik, atau cabut laporan mertua kamu terhadap Ayuni?”**“Diminum dulu.” Ryan memberikan obat antidepresi yang masih harus dikonsumsi oleh Ayuni setelah berhasil membungkam mulut Andreas da
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k