Satu minggu kemudian ….Ayuni dan Shakira tengah menikmati ice cream di sebuah mall hanya berdua karena Ryan masuk jadwal shift pagi.“Gimana? Enak nggak, ice cream-nya?” tanya Ayuni kepada anak kecil itu.“Enak, Tante. Nanti beli lagi ya, yang banyak. Asal yang kasih tahu Papa. Bisa diceramahi tujuh hari tujuh malam kalau ketahuan banyak makan ice cream.”Ayuni terkekeh pelan. “Memangnya kamu sering dimarahi kalau banyak makan ice cream?”“Sering lah, Tante. Makanya nggak berani kalau makan ice cream di depan Papa.”Ayuni kemudian mengusapi pucuk kepala anak kecil itu. “Nanti, kalau lagi pengen makan ice cream kasih tahu Tante aja, yaa. Kita beli sama-sama nggak perlu sama Papa.”“Horee! Thank you, Tante. Makin sayang deh, sama Tante.”Ayuni kemudian menerbitkan senyumnya lalu membawa anak kecil itu keluar dari mall.“Kita ke toko buku
“Ayuni!” Ryan tampak khawatir melihat pipi merah lebam karena tamparan Andreas.“Andreas. Kamu nggak bosen-bosennya nyari masalah. Kamu sudah keterlaluan, Andreas. Bukan dengan cara kekerasan jika ingin melembutkan hati yang sudah hancur berkeping-keping karena ulah kamu sendiri.”Ryan tampak marah karena ulah Andreas. “Gita sudah hamil, kan? Sebaiknya kamu jaga dia baik-baik. Jangan mengganggu orang yang sudah tidak mengharapkan kam—”Bugh!Bugh!“Mas! Hentikan!” pekik Ayuni seraya menarik tangan Andreas yang terus menerus menghantam wajah Ryan.“Diam kamu, Ayuni!” pekiknya kemudian mendorong tubuh perempuan itu hingga terlempar.Brugh!“Aww!”“Ayuni!” Andreas dan Ryan berteriak kala melihat Ayuni meringis sakit sebab kepalanya terbentur meja.**“Mas. Kamu mau kan, mencari keberadaan Ayuni? Aku hanya ingin
“Pak Andreas, hentikan!”Damian menghentikan Andreas yang hendak membawa pulang Ayuni yang baru saja siuman.“Apa hak Anda melarang saya membawa istri saya sendiri? Rumah sakit ini sudah tidak aman bagi istri saya karena ada pengganggu!”Damian menghela napasnya sembari menggaruk keningnya. “Baiklah. Jika Anda mau memindahkan istri Anda ke rumah sakit lain. Tapi, Anda ingin melihat istri Anda mati karena luka di kepalanya?”Damian menaikan kedua alisnya, tengah bernegoisasi dengan Andreas agar jangan membawa Ayuni dalam kondisi seperti ini.Brugh!Ayuni mendorong dengan sekuat tenaganya tubuh Andreas yang hendak menggendongnya itu.“Aku masih ingin hidup, tolol!” pekik Ayuni sudah sangat marah. “Mending pulang! Yang ada kepalaku makin pecah lihat kamu, Mas!”“Oh! Jadi, kamu sudah mulai berani padaku, huh?” Andreas kemudian mengambil ponselnya dan memperlihatkan rekaman CCTV yang dia ambil dari ponsel Ayuni.“Brengsek!”“Kamu yang berengsek, Ayuni! Bermesraan dengan pria lain padahal s
Andreas kemudian keluar dari rumah tersebut setelah Bi Isah masuk ke dapur sembari membawa nampan.“Hhh! Aman. Andreas udah balik ke istri mudanya. Pasti itu perempuan stress merengek minta ditemenin.” Ayuni menyunggingkan bibirnya.Ya. Ayuni menukar posisi dengan Bi Isah. Ia mengenakan pakaian Bi Isah agar tidak dicurigai oleh Andreas. Namun, karena Andreas pergi, ia pun masuk ke dalam kamarnya lagi.“Loh! Katanya mau kabur, Non? Kok malah masuk lagi ke kamar? Kalau Tuan Andreas curiga bagaimana?”“Andreas pergi, Bi. Aku mau ganti baju dulu. Bi. Pinjem HP. Aku mau telepon Ryan. HP aku disadap soalnya.”Bi Isah mengangguk dengan cepat kemudian memberikan ponselnya kepada Ayuni.“Ish! Ryan, angkat dong! Ah elah, lama amat.” Ayuni menggerutu sembari mengenakan pakaiannya. Celana jeans panjang, kaus dan juga jaket ia kenakan.“Halo?”Ayuni menghela napas lega. “Lama banget sih, angkatnya.”“Ayuni?!” Ryan terdengar terkejut kala mendengar suara dari wanitanya itu.“Iya, ini aku. Pake HP B
Linda kabur ke dalam kamar Shakira setelah berhasil membuat Ayuni geram mendengar ucapan darinya.Ryan yang menatap Ayuni lantas menelan saliva berat sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak, nggak. Nggak gitu, Ayuni. Jangan percaya sama Linda. Dia memang jail orangnya.”Dengan susah payah Ryan menjelaskan kepada Ayuni yang tengah menahan kesal kepadanya.“Ayuni. Kamu mau ke mana?” Ryan menarik tangan Ayuni yang berbalik badan.“Pulang!” ucapnya ketus.“Kok pulang? Baru juga sampai. Sini, minum dulu. Jangan kayak anak kecil, oke! Naina nggak pernah begitu kok. Linda aja yang jail.” Ryan menggenggam erat tangan Ayuni agar jangan pergi.Ryan kemudian menarik tangan perempuan itu dan membawanya ke dalam ruang keluarga.“Kamu mau minum apa? Nanti aku buatkan. Jangan dulu pulang. Andreas lagi di rumah Gita, kan?”Ayuni hanya diam. Dia masih kesal pada Ryan. Baru juga tiba di rumahnya, sudah disuguhi ucapan yang membuatnya gondok bukan main.“Ayuni Sayang. Jangan ngambekan, ah!
Ryan terdiam sejenak. Hanya menatap Ayuni dengan tatapan lembutnya. Ryan kemudian menarik wajah perempuan itu dan menatapnya dengan tatapan dalam.Mengembangkan senyum manisnya kemudian memiringkan kepala dan meraup bibir itu dengan lembut.Melumat bibir itu dengan tangan meremas leher belakang Ayuni sebab tidak bisa menahan gejolak rindu yang tengah dia rasakan itu.“Whats next?” bisik Ryan tepat di telinga perempuan itu.Ryan mendorong tubuh perempuan itu hingga menabrak sandaran sofa. Membuat mata Ayuni semakin membola kala melihat Ryan yang hendak merayap di atas tubuhnya.“Ry—Ryan ….” Ayuni tergagap memanggil nama lelaki itu.“Heum? Ada apa?” tanyanya seraya meremas telapak tangan perempuan itu.“Ng—nggak ada lagi kah, tempat yang lebih aman selain di sini?” tanya Ayuni dengan polosnya.Ryan mengembuskan napasnya kemudian duduk seperti semula. Pun dengan Ayuni. Perempuan itu duduk di samping Ryan yang tengah meneguk jus jeruk.“Nggak baik, kalau ada yang lihat,” bisik Ayuni kemud
Menjelang pagi. Waktu menunjuk angka empat pagi.“Hei, bangun. Udah jam empat.” Ryan mengusapi pipi Ayuni dengan lembut. “Ayuni bangun, yuk! Udah jam empat. Nanti kesiangan bisa berabe, Sayang.”Ayuni lantas menggeliat setelah mendengar suara bising di telinganya. “Hhh?! Jam berapa ini?” tanyanya dengan suara seraknya.“Jam empat. Yuk, bangun! Aku antar kamu pulang.” Ryan berucap dengan lembut. “Nggak usah mandi di sini. Di rumah kamu aja. Irit air.”Ayuni lantas mengerucutkan bibirnya. Lalu beranjak dari tempat tidur dan mengikuti langkah Ryan yang lebih dulu keluar dari kamar tersebut.“Ini baju kamu yang tadi kamu pakai dan ini vitamin untuk kamu konsumsi. Jangan telat makan, jangan melamun.”Keduanya sudah tiba di depan rumah Ayuni.Perempuan itu kemudian mengangguk pelan. “Terima kasih ya, Ryan. Tidur aku nyenyak banget.”Ryan mengusapi pipi perempuan itu dengan lembut sembari mengulas senyumnya. “Lanjut tidur lagi. Mata kamu masih pengen merem itu.”Ayuni mengangguk. “Dah! Aku m
Glek!Ayuni menelan saliva dengan berat seraya menatap tegang Andreas yang tengah memancarkan aura bagai makhluk astral.Andreas menghampiri Ayuni dan menatapnya lagi dengan sangat dalam.“Apa lagi sih, Mas?” tanya Ayuni dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang.“Ayuni nggak akan gue culik kali, Ndres. Kita cuma mau ngobrol doang di sini. Gue juga tahu kalau elo pantau pergerakan Ayuni dari CCTV,” celetuk Vita membela sahabatnya yang tengah tertekan itu.Andreas tak peduli dengan ucapan perempuan itu. Matanya terus menatap wajah Ayuni dengan sangat dekat.“Jangan pernah menemui Ryan lagi kalau kamu masih ingin melihatnya bernapas,” bisiknya dengan suara menyeramkan.Ayuni melirik lelaki itu dengan lirikan sinis. “Masih nggak percaya juga, padahal udah kamu pantau dua puluh empat jam? Iya?! Memangnya kamu lihat, aku keluar dari ketemu sama dia? Lihat?!”Andreas terdiam. Hanya menatap datar wajah Ayuni kemudian keluar dari rumah itu karena harus berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k