Ryan kemudian mengambil ponselnya di saku untuk menghubungi Melinda—neneknya Shakira.“Iya halo, Ma. Maaf, aku tertidur dan baru bangun. Kata Shakira, Mama dan Papa tadi ke sini. Ada apa ya, Ma?” tanyanya dengan sangat sopan.“Kamu baru bangun, yaa? Mau ke sana lagi juga sudah malam. Ya sudah, besok nanti Mama ke sana. Kalau ngobrol di telepon nggak akan afdol.”“Memangnya ada hal yang penting ya, Ma? Maaf, maksudk—”“Iya, Nak. Mama sudah tahu semuanya. Kita bicarakan besok pagi saja, yaa. Jangan lupa makan, Ryan. Mama lihat kamu kok sepertinya kurusan. Jangan terlalu fokus dengan kerjaan kamu. Kesehatan kamu juga harus dijaga.”“Iya, Ma. Terima kasih atas perhatiannya,” ucap Ryan dengan pelan. Ia kemudian menutup panggilan tersebut.Wajahnya terlihat lesu setelah mendengar ucapan dari mertuanya itu.“Tante Ayuni!!” Shakira berlari menghampiri Ayuni yang sudah tiba di sana.Ayuni kemudian memeluk anak kecil itu sembari mengusapi pucuk kepalanya dengan lembut.“Belum bobok, heum? Tante
Ryan terkekeh pelan kemudian menatap Ayuni dengan sangat lekat. “Aku bukan makanan, tapi aku bisa memakan kamu,” bisiknya kemudian menggigit gemas telinga Ayuni.“Sepi nih! Nggak akan hamil kok,” bisiknya lagi hingga membuat darah Ayuni berdesir hebat.Ayuni memberikan mangkuk berisi oatmeal itu kepada Ryan. “Otak kamu kayaknya konslet, deh. Ini, makan dulu,” ucapnya dengan pelan.Ryan terkekeh kemudian mengambil mangkuk tersebut. “Duduk!” titahnya kepada Ayuni yang tengah berdiri di samping meja makan.Menurut. Perempuan itu duduk di samping Ryan yang tengah melahap oatmeal yang baru saja selesai dibuat.“Ryan. Kenapa sih, kamu suka banget jailin aku pakai kata-kata kayak gitu?” tanya Ayuni ingin tahu.Ryan menolehkan kepalanya dengan pelan kemudian mengulas senyum tipis. “Seneng aja lihat pipi merah kamu. Kelihatan lebih cantik dan imut.”“Issh! Bercanda kamu nggak lucu, Ryan.”“Mau diseriusin?” tanya Ryan menantang perempuan itu.Ayuni menghela napas kasar. “Nggak gitu juga sih. Ya
Melinda terkekeh pelan melihat ekspresi Ryan yang baru mengetahui hal yang belum ia ketahui selama ini. Ia kemudian mengusap air mata di sudut matanya dan menghela napasnya dengan pelan.“Arumi memang anak yang unik, aneh dan lucu. Bisa-bisanya dia hal random yang bukannya buat Mama marah, malah pengen ketawa.”Ryan meringis pelan sembari mengusapi leher belakangnya. “Begitu ya, Ma?”“Iya. Ya sudahlah, nanti juga kamu tahu semuanya. Mama mau arisan. Sudah telat sepuluh menit ini kayaknya. Kamu baik-baik ya, Nak. Kalau ada apa-apa kabari Mama.”“Iya, Ma. Sering-sering tengok Shakira.”“Pasti!” Melinda kemudian menepuk lengan lelaki itu dan pergi dari rumah tersebut.Ryan kemudian menghela napasnya dengan panjang dan menoleh pada ponselnya di atas meja yang sedari tadi berdering juga notifikasi pesan masuk.“Ayuni? Berani banget ini perempuan telepon saat lagi di rumah,” gumam Ryan kemudian membaca pesan yang dikirim oleh Ayuni.Ayuni: [Lagi ngapain? Pasti lagi tidur. Ya udah deh, nggak
Sementara di kediaman Melinda ….“Jangan keterlaluan kamu, Naina!”Melinda memekik memarahi anak bungsunya karena ucapan menohok yang benar-benar membuatnya kesal bukan main kepada perempuan itu.“Oh! Jadi Mama bela perempuan sinting itu? Iya?!” pekik Naina seraya menatap nyalang mamanya.Melinda menghela napas kasar. “Mama tidak pernah membela siapa pun, Naina. Mama hanya mendukung apa yang menurut Ryan baik. Kamu ini kenapa sih? Yang masih single di luaran sana banyak, Naina. Jangan pernah meminta Mama melakukan hal bodoh itu! Tidak akan pernah Mama lakukan!”“MAMA!” Naina semakin naik pitam. “Aku ini masih single. Ayuni masih punya suami. Harusnya yang Mama deketin ke Kak Ryan itu aku, bukan malah bela si jalang gila itu!”Melinda mengibaskan tangannya. “Pusing Mama dengar omongan aneh kamu itu, Naina. Ayuni akan berpisah dengan suaminya. Shakira juga nyaman bersama dengan Ayuni. Apa salahnya, coba? Di mana letak kesalahannya? Hanya karena Ayuni masih bersuami? Bahkan suaminya saja
Ayuni mengembungkan pipinya setelah tiba di apartemen milik orang tuanya itu. Tidak ada yang tahu selain kedua orang tua Ayuni yang sempat tinggal di sana. Pun dengan Andreas.“Lari-larian kayak anak kucing habis maling ikan di meja makan. Sembunyi ke sana kemari.” Ayuni mengusap wajahnya seraya menunduk. “Kenapa harus seperti ini?” lirihnya dengan pelan.Tak lama setelah dia datang, Ryan pun tiba. Ia menyimpan jas putihnya di sandaran sofa lalu menghampiri Ayuni yang tengah duduk di tepi tempat tidur.“Kamu marah?” tanya Ryan dengan suara pelannya.Ayuni mengadahkan wajahnya kemudian menggeleng dengan pelan. “Nggak. Aku nggak marah. Namanya juga lagi kerja. Masa iya, aku larang-larang. Aku … aku cuma capek aja kayak gini terus menerus, Ryan. Aku ingin bebas. Aku nggak mau dikurung kayak anak kecil lagi kayak gitu.”Ayuni menitikan air matanya. Sudah tidak bisa lagi ia tahan kesedihan yang tengah menimpanya.Ryan kemudian menarik tangan perempuan itu dan memeluknya. Menenangkan Ayuni
“Nggak. Masih bisa diobati. Jangan bicara seperti itu.” Ryan kemudian mengambil obat di dalam tas kerjanya yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi.Delivery order-nya sudah tiba. Ryan kemudian mengambilnya dan segera diberikan kepada Ayuni.“Makan dulu. Setelah itu diminum obatnya. Kamu harus istirahat. Besok pagi kita ke sana.”Ryan kemudian menyuapi perempuan itu agar lebih lahap.“Apa yang kamu rasakan?” tanya Ryan dengan pelan.Ayuni menghela napas kasar. “Pusing, mumet, pengen mati aja rasanya.”“Nggak boleh ngomong kayak gitu. Nanti juga sembuh kok.” Ryan kemudian menyunggingkan senyumnya seraya menatap Ayuni dengan lekat.Ayuni yang melihatnya lantas menaikan alisnya sebelah. “Kenapa? Kayak dapat ide cemerlang aja.”“Memang dapat. Nanti aku kasih tahu kamu setelah selesai makan.”“Bagaimana, Dok?”Ryan dan Ayuni tengah berada di rumah psikiater setelah melihat kondisi Ayuni yang rupanya selama ini menahan sakit dalam batinya. Ryan baru menyadarinya dan sangat merasa bersalah b
“Arrrggghhhh!!!!”Prang!Prang!Apa pun benda yang ada di rumah itu dibanting oleh Andreas yang tengah kalap karena kepergian Ayuni yang bahkan perempuan itu kini sudah tidak mengaktifkan ponselnya.“INGAT YA, AYUNI! KAMU SUDAH MEMBUKA PELUANG UNTUKKU MEMBUNUH RYAN!”Andreas berteriak sembari menunjuk figura wajah Ayuni.Prang!Ia melempar dengan sangat keras foto itu hingga hancur berkeping-keping. “Brengsek, kalian!”Menjambak rambutnya hingga berantakan tak terurus. Andreas semakin tak karuan. Ia lalu menenangkan dirinya dengan duduk di sofa sembari menundukan wajahnya.Ia kemudian menarik napasnya dalam-dalam dan menelan saliva dengan pelan.Tok tok tok!“Permisi, Tuan. Ada paket untuk Tuan.” Security memberikan sebuah amplop cokelat kepada Andreas.Dengan kasar, lelaki itu mengambilnya. Ia lalu mengerutkan keningnya melihat kop surat dari amplop tersebut.“Ruma
Di Bali ….Ryan mengambil USB yang diberikan oleh Ayuni kepadanya. Kini, keduanya sudah berada di sebuah vila yang telah disewa oleh Ryan selama dua bulan tinggal di sana.“Jangan dulu mendengarkan ini, Ayuni. Kondisi kamu belum sem—”“Justru karena kondisi aku masih seperti ini. Seharusnya aku harus tahu ini sekarang juga.” Ayuni menyela ucapan Ryan.Lelaki itu kemudian menghela napasnya dan mengangguk patuh. “Ya sudah. Kalau kamu ingin mendengarkan sekarang juga.”Ryan mengambil laptop miliknya di dalam koper dan menyalakan. Sebab Ayuni tidak mau tahu ia harus segera tahu semuanya.Rekaman diputar ….“Brengsek lo, Andreas. Bukan mau Ayuni karena nggak bisa memiliki anak. Kalau elo emang sayang sama dia, harusnya elo bisa menunggunya dengan sabar—”“Elo enak ngomong kayak gitu karena udah punya anak!” pekik Andreas begitu marah.
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k