“Pak Damian! Dengarkan saya dulu. Saya sudah mencegahnya dan melarang dia untuk resign. Tapi, sudah dua minggu ini dia tidak pernah datang.”Rifky mencoba menjelaskan kepada Damian karena diamuk telah membiarkan Ryan mengundurkan diri di sana.“Ya sudah! Sekarang jelaskan kenapa Dokter Ryan mengundurkan diri? Kalau tidak ada alasan yang membuatnya mengundurkan diri, dia tidak akan melakukan itu!” pekik Damian lagi.“Pak Edrick di mana? Rasanya percuma, saya bicara dengan Anda!” Damian lantas mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya di sana.“Ke ruangan saya sekarang juga!” titahnya kemudian menutup panggilan tersebut.Tak lama setelahnya, Biru dan Dokter Firman masuk ke dalam ruangan Ryan. Menghampiri Damian untuk memberi tahu alasan mengapa Ryan mengundurkan diri.“Saya tahu, alasan Dokter Ryan mengundurkan diri, Pak Damian,” kata Dokter Firman kepada Damian.Rifky menolehkan kepalanya kepada Dokter Firman. “Tahu apa, Anda? Saya tahu, Anda sahabatnya Pak Ryan.”Dokter
Satu bulan berlalu ….Ryan dan Ayuni masih terpisah jarak yang cukup jauh. Hanya bertukar kabar melalui orang tua Ayuni sebab hingga kini perempuan itu masih enggan menghubungi lelaki itu.Di sebuah pantai yang cukup indah. Australia memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Ayuni tengah duduk di pesisir pantai sembari memandang ombak yang menggulung dengan indahnya.“Kok kayak kenal,” gumam seseorang kala melihat Ayuni seorang diri di sana.“Ayuni?”Perempuan itu lantas menoleh dengan pelan. “Lho! Mas Andreas?” Ayuni menunjuk lelaki itu hingga Andreas ikut duduk di samping Ayuni.“Kamu lagi ngapain di sini? Liburan? Sendirian? Nggak sama Ryan? Atau lagi bulan madu?”Ayuni menghela napas kasar. “Nggak. Nikah aja belum.”“Kenapa?” tanyanya tak tahu.“Kamu ini gimana sih! Gara-gara kamu juga, menunda-nunda cerai. Ada masa idah yang mengharuskan aku untuk menunda pernikahan. Selama tiga bulan. Sisa sebulan lagi. Baru bisa menikah!” sengal Ayuni kesal.Andreas lantas tertawa. “Y
“Ryan. Kamu nggak lupa kan, satu minggu lagi Shakira ulang tahun?”Melinda menghubungi sang anak hendak memberi tahu perihal hari ulang tahun Shakira.“Iya, Ma. Aku nggak pernah lupa. Tapi, Shakira masih belum mau ketemu sama aku, kan?”Melinda menghela napasnya di seberang sana. “Nak. Mending kamu susul Ayuni aja ke Australia. Shakira mau adain ulang tahun kalau ada Ayuni. Kalau nggak ada, katanya dia mau mogok makan selama seminggu. Kamu mau, kehilangan anak satu-satunya kamu?”Ryan lantas memijat keningnya. “Ma. Kalau masalah tidak mau merayakan ulang tahun itu bagiku tidak masalah. Tapi, jangan sampai Shakira mogok makan.”“Kalau begitu kamu jemput Ayuni. Memangnya kamu nggak rindu, sama calon istri kamu itu?”Ryan tersenyum lirih. “Calon istri. Memangnya dia masih mau, memanggilku calon suami?”“Mau. Dia masih cinta sama kamu masa iya nggak mau manggil kamu calon suami. Berangkat sekarang, susul Ayuni. Biar minggu besok udah bisa pulang.”“Tap—tapi, Ma ….”Melinda menutup panggil
Pagi hari ….Waktu telah menunjuk angka delapan pagi. Ayuni bersama dengan kedua orang tuanya tengah sarapan bersama dan Rini belum memberi tahu soal kedatangan Ryan yang sudah tiba di sana untuk menjemput perempuan itu.“Hari ini kamu ada jadwal apa, Nak?” tanya Marcel—sang papa kepada Ayuni.“Nggak ada kayaknya. Kenapa, Pa?”“Papa mau minta tolong untuk gantikan Papa ketemu sama Pak Samuel. Masih orang Indonesia juga. Cuma kasih dokumen ini saja. Papa ada keperluan lain soalnya. Mau kan, bantu Papa?”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Kebetulan hari ini aku lagi free, Pa. Ketemu di mana?”“Di café dekat apartemen kita. Mungkin jam sembilanan dia ke sana. Kamu tunggu duluan saja.”“Oke, Pa.” Ayuni kemudian menoleh kepada Rini yang tengah menatapnya. “Ada apa, Ma? Mama mau aku antar ke salon langganan Mama itu?”Rini menggelengkan kepalanya. “Nggak kok. Kamu kapan balik ke Indonesia? Minggu depan Shakira ulang tahun lho.”Ayuni menaikan kedua alisnya. “Mama sama Papa sendiri, emangnya ng
Ryan berbalik badan dan melangkah dengan rasa yang tak karuan yang tiba-tiba saja membuatnya merasa sia-sia datang ke sana.“Kamu mau pergi lagi?” tanya Ayuni setelah lama berdiam diri.Ryan lantas menghentikan langkahnya kemudian membalikan badannya. “Aku tidak pernah pergi, Ayuni. Kamu sendiri yang memilih untuk pergi. Kedatangan aku ke sini ingin minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa.”Ayuni kemudian menghela napasnya. Ia lantas menarik tangan lelaki itu dan membawanya jauh dari sana. Pergi ke sebuah pantai yang jaraknya hanya lima ratus meter saja dari tempat tadi.“Ryan. Sekarang aku mau tanya sama kamu.” Ayuni menatap Ryan dengan lekat.“Tanya apa?” ucapnya dengan pelan.Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Kamu cemburu, lihat aku sama laki-laki tadi yang padahal kami hanya duduk di café. Di sana juga sangat ramai, bukan hanya kita berdua saja yang ada di sana. Itu pun sedang membahas kerjaan Papa.”“Oh! Nggak kok. Aku nggak cemburu. Aku hanya takut mengganggu kesibuka
“Habis kamu nyebelin! Aku tuh kangen sama kamu, Ryan. Tapi, kamunya nggak peka!” Ayuni lantas mengerucutkan bibirnya seraya membuang muka.Ryan yang melihatnya lantas terkekeh. “Setiap hari aku selalu menanyakan kabar kamu ke Mama Rini. Kamu sih, blokir nomor aku. Gimana mau kasih kabar. Kamu buka saja, blokiran aku. Pasti banyak pesan yang masuk ke HP kamu selama dua bulan ini.”Ayuni kemudian mengambil ponselnya dan membuka blokiran nomor Ryan. “Sampai lupa, kalau nomor kamu aku blokir.”Ting!Notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ryan lantas mengintipnya karena ingin tahu.“Katanya percaya. Kok kepo?” sindirnya kemudian.“Hanya ingin tahu, bukan berarti nggak percaya, Sayang.”Ayuni kemudian mengecurutkan bibirnya. “Bilang aja kepo karena takut kehilangan.”“Tanpa harus ingin tahu pun aku selalu takut kehilangan kamu.”Pipi Ayuni lantas memerah dengan ucapan manis Ryan yang akhirnya bisa ia dengar kembali setelah dua bulan libur menggombal.“Dari Mama. Katanya dia lagi packing baju.
Keduanya memilih kembali ke apartemen setelah masalah yang sudah mereka lalui bersama selama dua bulan terpisah.“Nggak mau jalan-jalan dulu? Di sini banyak tempat liburan, lho,” ucap Ayuni menawarkan kepada Ryan untuk jalan-jalan di sana.“Nggak deh. Kedatangan aku ke sini untuk menjemput kamu, bukan untuk jalan-jalan. Aku rasa liburan kamu selama dua bulan di sini sudah cukup, yaa.”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Udah sih. Tapi, aku menawarkan kamu, bukan karena aku masih ingin liburan di sini.”“Nggak deh. Nanti kalau liburan dulu, partner papa kamu chat kamu ajak ketemuan padahal modus pengen ajak kamu ngobrol.”Ayuni mengerucutkan bibirnya. “Katanya percaya. Kok masih cemburu?”“Cemburu itu tanda kita nggak percaya, Sayang. Tapi, karena perasaan cinta yang ada di hati yang membuat kita jadi cemburu.”“Oh gitu. Aku baru tahu kalau cemburu dan nggak percaya itu beda.”Ryan terkekeh dengan pelan.Sampai akhirnya mereka pun tiba di apartemen.“Kamu tinggal di samping apartemen Mama
Rini menghela napasnya dengan panjang seraya menatap Ryan dengan lekat.“Mama mau nyuruh Ryan lamar aku? Masih idah, Ma. Jangan dulu,” ucap Ayuni sok tahu.“Ish! Bukan. Mama bukan mau tanya soal itu.” Rini menatap malas pada anaknya. Ia lalu menolehkan kepalanya dengan pelan kepada Ryan.“Ryan. Sepertinya mama kamu belum memberi tahu soal papa kamu, yaa?”Ryan terdiam sejenak kemudian menggeleng pelan. “Tidak ada, Ma. Memangnya ada apa?” tanyanya pelan.“Katanya papa kamu ingin ketemu sama kamu, Ryan. Dua minggu yang lalu, dia bertanya di mana kamu tinggal, di mana kamu kerja. Dia juga ingin diakui oleh Shakira sebagai kakeknya.”Ryan lantas tersenyum miring. Raut wajahnya yang tampak kecewa itu hanya geleng-geleng kepala.“Ingin diakui?” tanya Ayuni penasaran.Rini menganggukkan kepalanya seraya menoleh pelan kepada sang anak. “Sepertinya Aldo sudah sadar dengan apa yang sudah dia lakukan kepada anak dan istrinya. Tapi, Melinda tidak mau memberi tahu di mana Ryan tinggal. Karena suda
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k