Ryan berbalik badan dan melangkah dengan rasa yang tak karuan yang tiba-tiba saja membuatnya merasa sia-sia datang ke sana.“Kamu mau pergi lagi?” tanya Ayuni setelah lama berdiam diri.Ryan lantas menghentikan langkahnya kemudian membalikan badannya. “Aku tidak pernah pergi, Ayuni. Kamu sendiri yang memilih untuk pergi. Kedatangan aku ke sini ingin minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa.”Ayuni kemudian menghela napasnya. Ia lantas menarik tangan lelaki itu dan membawanya jauh dari sana. Pergi ke sebuah pantai yang jaraknya hanya lima ratus meter saja dari tempat tadi.“Ryan. Sekarang aku mau tanya sama kamu.” Ayuni menatap Ryan dengan lekat.“Tanya apa?” ucapnya dengan pelan.Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Kamu cemburu, lihat aku sama laki-laki tadi yang padahal kami hanya duduk di café. Di sana juga sangat ramai, bukan hanya kita berdua saja yang ada di sana. Itu pun sedang membahas kerjaan Papa.”“Oh! Nggak kok. Aku nggak cemburu. Aku hanya takut mengganggu kesibuka
“Habis kamu nyebelin! Aku tuh kangen sama kamu, Ryan. Tapi, kamunya nggak peka!” Ayuni lantas mengerucutkan bibirnya seraya membuang muka.Ryan yang melihatnya lantas terkekeh. “Setiap hari aku selalu menanyakan kabar kamu ke Mama Rini. Kamu sih, blokir nomor aku. Gimana mau kasih kabar. Kamu buka saja, blokiran aku. Pasti banyak pesan yang masuk ke HP kamu selama dua bulan ini.”Ayuni kemudian mengambil ponselnya dan membuka blokiran nomor Ryan. “Sampai lupa, kalau nomor kamu aku blokir.”Ting!Notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ryan lantas mengintipnya karena ingin tahu.“Katanya percaya. Kok kepo?” sindirnya kemudian.“Hanya ingin tahu, bukan berarti nggak percaya, Sayang.”Ayuni kemudian mengecurutkan bibirnya. “Bilang aja kepo karena takut kehilangan.”“Tanpa harus ingin tahu pun aku selalu takut kehilangan kamu.”Pipi Ayuni lantas memerah dengan ucapan manis Ryan yang akhirnya bisa ia dengar kembali setelah dua bulan libur menggombal.“Dari Mama. Katanya dia lagi packing baju.
“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara yang menyeret bayang-bayang kekhawatiran, matanya menembus ruang, mencari jawaban di wajah perawat yang membawa Ayuni.Lelaki berusia tiga puluh tiga tahun itu mengerutkan keningnya, betapa terkejutnya ia ketika pandangannya jatuh pada wajah Ayuni yang berlumuran darah.“Kecelakaan, Dok. Sepertinya pasien habis minum-minum,” jawab perawat yang membawa Ayuni.“Biar saya saja,” ucapnya, nada suaranya memotong keheningan seperti pedang yang membelah kabut.Ia mengangkat tangan, menghentikan dokter lain yang hendak memeriksa keadaan Ayuni yang kini tergeletak tak sadarkan diri, seperti boneka rusak yang kehilangan daya tariknya.“Sus. Siapkan dua kantong darah O. Pasien mengalami pendarahan yang cukup fatal,” titahnya, sementara tangannya bergerak cepat tetapi lembut, mengelap darah dari wajah Ayuni.“Ada apa denganmu, Ayuni?” bisiknya dengan nada yang nyaris seperti doa, seraya menatap wajah Ayuni yang tampak begitu jauh, seolah berada di dunia y
“Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu, Ayuni!” tegas Andreas, suaranya menggema seperti dentuman palu yang mematahkan harapan terakhir.“Apa kamu bilang?! Mas!” Ayuni memegang kepalanya yang kembali berdenyut sakit, seperti ribuan paku menghujam tengkoraknya.Ryan bergegas masuk, langkahnya seperti badai yang membawa ketenangan. Ia menekan tombol di belakang bangsal, merebahkan tubuh Ayuni dengan lembut, seolah mencoba menenangkan lautan yang sedang bergolak.“Kondisi kamu masih lemah, Ayuni. Jangan dulu berteriak-teriak seperti itu,” ucap Ryan, nadanya seperti suara hujan yang menenangkan di tengah malam.Air mata Ayuni berlinang tanpa henti, mengalir seperti sungai yang membawa beban luka yang tak kunjung sembuh. Ia mengusap air matanya dengan lemah, kemudian menghela napas panjang, berat, seolah mencoba mengeluarkan semua rasa sakit dari dalam dadanya. “Tinggalkan aku sendiri di sini. Aku tidak ingin bicara dengan siapa pun, termasuk Andreas!”“Sayang. Kenapa kam
“Ke—kenapa kamu baru memberitahuku, Ayuni?” Andreas cukup lemas mendengar pernyataan dari Ayuni bahwa mereka sempat hampir memiliki anak.“Aku … aku keguguran dan tidak bisa memiliki anak dalam waktu yang panjang.” Ayuni mengusap air mata di pipinya.“Aku sudah pasrah, Mas. Sudah menerima keadaan bila nanti kita harus berpisah. Tapi, kamu sendiri yang memilih bertahan denganku. Karena ulah kamu juga karena terlalu semangat bila sedang menyentuhku.”Ayuni kemudian mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Sakit rasanya memberi tahu apa yang sebenarnya tengah dia alami. Menyimpan semua rahasia itu seorang diri karena tidak ingin melukai perasaan Andreas.“Aku pernah meminta kita untuk berpisah. Tapi, kamu berjanji akan menerima aku apa adanya. Kenyataannya tidak seperti itu. Meski pernikahan itu bukan inginmu, tapi kamu sudah mengingkarinya.”Ayuni kembali berbicara. Ia kemudian menatap Andreas dengan mata sayunya. “Aku ingin cerai, Mas. Lepaskan aku agar aku tidak menjadi beban kamu lag
Vita terdiam sejenak kemudian menghela napas kasar. “Tahu. Orang tua Ayuni juga tahu. Hanya Andreas yang nggak tahu karena saat itu memang usia kandungannya baru tiga minggu.”“Seharusnya Andreas diberitahu.”“Harusnya. Tapi, Ayuni juga harus ngasih tahu kalau dia dijaga. Lima tahun lamanya, Ryan. Udah lima tahun Ayuni dijaga karena kondisi rahimnya nggak baik kalau hamil lagi. Ayuni sempat kok, minta cerai sama Andreas.“Tapi dianya yang nggak mau dan akan menerima Ayuni apa adanya. Eeh! Ternyata semuanya bulshit. Dia nikah lagi bahkan tanpa sepengetahuan Ayuni. Kan kampret. Ayuni sempat mikir, katanya itu karma buat dia karena udah merahasiakan penyakit dia.”Ryan menghela napas dengan pelan. “Sebenarnya Ayuni masih mencintai suaminya, kan?”Vita mengendikan bahunya. “Entah. Hanya Ayuni yang tahu kalau soal itu.”Ryan tersenyum tipis kemudian pamit pergi. Pun dengan Vita yang akhirnya mengurungkan diri untuk menjenguk Ayuni sebab perempua itu rupanya sudah tidur.**Waktu sudah men
Di taman kota dekat permainan anak-anak, Ayuni duduk di kursi panjang menunggu Ryan dan juga Shakira yang ingin bertemu dengannya.Ya. Ayuni memilih bertemu dengan Shakira yang ingin bertemu dengannya. Entah memang Shakira yang ingin bertemu, atau Ryan sendiri yang ingin kembali menemui perempuan itu.“Hei! Sorry banget, baru sampai.” Ryan menghampiri Ayuni kemudian mengulas senyumnya.“Eh! Iya, nggak apa-apa.” Ayuni kemudian mengusapi pucuk kepala Shakira. “Halo, anak manis. Namanya Shakira, yaa?”Shakira mengangguk. “Halo, Tante. Tante namanya Ayuni, yaa? Cantik banget, mirip Mama.”Ayuni tersenyum malu-malu mendengar ucapan Shakira. “Shakira juga cantik. Mirip sekali sama mamanya.” Ayuni mengusapi pucuk kepala anak kecil itu.Ayuni kemudian menatap Ryan yang tengah menatapnya juga. “Eh! Kacamatanya ke mana? Kok nggak dipake?”“Hanya kalau lagi kerja saja. Kalau di luar, males pake.”Ayuni manggut-manggut. “Sini, duduk, Sayang. Kamu baru pulang sekolah, yaa?” tanyanya kepada Shakira
“Keterlaluan kamu, Ayuni! Kamu bilang akan pulang. Tapi kenapa malah ke sini sama dia?” pekik Andreas naik pitam kala melihat dengan mata kepalanya sendiri bila Ayuni memang benar tengah bersama dengan Ryan.Ayuni menghela napas pelan. “Aku, keterlaluan? Kamu sendiri, harus disebut dengan apa kalau aku makan siang aja disebut keterlaluan? Sementara kamu, menikah lagi tanpa seizing aku. Lebih dari keterlaluan, kan?”Andreas lantas menyeret tangan Ayuni, membawa perempuan itu keluar dari resto tersebut dengan langkah lebarnya.Ryan kemudian mengejarnya. Menarik tangan Ayuni yang mengaduh sakit karena genggaman tangan yang erat.“Tidak baik memperlalukan wanita seperti itu, Andreas!” ucap Ryan sembari melepaskan tangannya dari tangan Ayuni.“Kamu tidak usah ikut campur, Ryan! Hubungan kalian hanya sampai di rumah sakit saja. Kamu hanya dokter yang merawat dia! Di luar itu, kalian tidak perlu bertemu apalagi sampai makan siang bersama!” pekik Andreas begitu marah.Ryan tersenyum tipis men
“Habis kamu nyebelin! Aku tuh kangen sama kamu, Ryan. Tapi, kamunya nggak peka!” Ayuni lantas mengerucutkan bibirnya seraya membuang muka.Ryan yang melihatnya lantas terkekeh. “Setiap hari aku selalu menanyakan kabar kamu ke Mama Rini. Kamu sih, blokir nomor aku. Gimana mau kasih kabar. Kamu buka saja, blokiran aku. Pasti banyak pesan yang masuk ke HP kamu selama dua bulan ini.”Ayuni kemudian mengambil ponselnya dan membuka blokiran nomor Ryan. “Sampai lupa, kalau nomor kamu aku blokir.”Ting!Notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ryan lantas mengintipnya karena ingin tahu.“Katanya percaya. Kok kepo?” sindirnya kemudian.“Hanya ingin tahu, bukan berarti nggak percaya, Sayang.”Ayuni kemudian mengecurutkan bibirnya. “Bilang aja kepo karena takut kehilangan.”“Tanpa harus ingin tahu pun aku selalu takut kehilangan kamu.”Pipi Ayuni lantas memerah dengan ucapan manis Ryan yang akhirnya bisa ia dengar kembali setelah dua bulan libur menggombal.“Dari Mama. Katanya dia lagi packing baju.
Ryan berbalik badan dan melangkah dengan rasa yang tak karuan yang tiba-tiba saja membuatnya merasa sia-sia datang ke sana.“Kamu mau pergi lagi?” tanya Ayuni setelah lama berdiam diri.Ryan lantas menghentikan langkahnya kemudian membalikan badannya. “Aku tidak pernah pergi, Ayuni. Kamu sendiri yang memilih untuk pergi. Kedatangan aku ke sini ingin minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa.”Ayuni kemudian menghela napasnya. Ia lantas menarik tangan lelaki itu dan membawanya jauh dari sana. Pergi ke sebuah pantai yang jaraknya hanya lima ratus meter saja dari tempat tadi.“Ryan. Sekarang aku mau tanya sama kamu.” Ayuni menatap Ryan dengan lekat.“Tanya apa?” ucapnya dengan pelan.Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Kamu cemburu, lihat aku sama laki-laki tadi yang padahal kami hanya duduk di café. Di sana juga sangat ramai, bukan hanya kita berdua saja yang ada di sana. Itu pun sedang membahas kerjaan Papa.”“Oh! Nggak kok. Aku nggak cemburu. Aku hanya takut mengganggu kesibuka
Pagi hari ….Waktu telah menunjuk angka delapan pagi. Ayuni bersama dengan kedua orang tuanya tengah sarapan bersama dan Rini belum memberi tahu soal kedatangan Ryan yang sudah tiba di sana untuk menjemput perempuan itu.“Hari ini kamu ada jadwal apa, Nak?” tanya Marcel—sang papa kepada Ayuni.“Nggak ada kayaknya. Kenapa, Pa?”“Papa mau minta tolong untuk gantikan Papa ketemu sama Pak Samuel. Masih orang Indonesia juga. Cuma kasih dokumen ini saja. Papa ada keperluan lain soalnya. Mau kan, bantu Papa?”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Kebetulan hari ini aku lagi free, Pa. Ketemu di mana?”“Di café dekat apartemen kita. Mungkin jam sembilanan dia ke sana. Kamu tunggu duluan saja.”“Oke, Pa.” Ayuni kemudian menoleh kepada Rini yang tengah menatapnya. “Ada apa, Ma? Mama mau aku antar ke salon langganan Mama itu?”Rini menggelengkan kepalanya. “Nggak kok. Kamu kapan balik ke Indonesia? Minggu depan Shakira ulang tahun lho.”Ayuni menaikan kedua alisnya. “Mama sama Papa sendiri, emangnya ng
“Ryan. Kamu nggak lupa kan, satu minggu lagi Shakira ulang tahun?”Melinda menghubungi sang anak hendak memberi tahu perihal hari ulang tahun Shakira.“Iya, Ma. Aku nggak pernah lupa. Tapi, Shakira masih belum mau ketemu sama aku, kan?”Melinda menghela napasnya di seberang sana. “Nak. Mending kamu susul Ayuni aja ke Australia. Shakira mau adain ulang tahun kalau ada Ayuni. Kalau nggak ada, katanya dia mau mogok makan selama seminggu. Kamu mau, kehilangan anak satu-satunya kamu?”Ryan lantas memijat keningnya. “Ma. Kalau masalah tidak mau merayakan ulang tahun itu bagiku tidak masalah. Tapi, jangan sampai Shakira mogok makan.”“Kalau begitu kamu jemput Ayuni. Memangnya kamu nggak rindu, sama calon istri kamu itu?”Ryan tersenyum lirih. “Calon istri. Memangnya dia masih mau, memanggilku calon suami?”“Mau. Dia masih cinta sama kamu masa iya nggak mau manggil kamu calon suami. Berangkat sekarang, susul Ayuni. Biar minggu besok udah bisa pulang.”“Tap—tapi, Ma ….”Melinda menutup panggil
Satu bulan berlalu ….Ryan dan Ayuni masih terpisah jarak yang cukup jauh. Hanya bertukar kabar melalui orang tua Ayuni sebab hingga kini perempuan itu masih enggan menghubungi lelaki itu.Di sebuah pantai yang cukup indah. Australia memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Ayuni tengah duduk di pesisir pantai sembari memandang ombak yang menggulung dengan indahnya.“Kok kayak kenal,” gumam seseorang kala melihat Ayuni seorang diri di sana.“Ayuni?”Perempuan itu lantas menoleh dengan pelan. “Lho! Mas Andreas?” Ayuni menunjuk lelaki itu hingga Andreas ikut duduk di samping Ayuni.“Kamu lagi ngapain di sini? Liburan? Sendirian? Nggak sama Ryan? Atau lagi bulan madu?”Ayuni menghela napas kasar. “Nggak. Nikah aja belum.”“Kenapa?” tanyanya tak tahu.“Kamu ini gimana sih! Gara-gara kamu juga, menunda-nunda cerai. Ada masa idah yang mengharuskan aku untuk menunda pernikahan. Selama tiga bulan. Sisa sebulan lagi. Baru bisa menikah!” sengal Ayuni kesal.Andreas lantas tertawa. “Y
“Pak Damian! Dengarkan saya dulu. Saya sudah mencegahnya dan melarang dia untuk resign. Tapi, sudah dua minggu ini dia tidak pernah datang.”Rifky mencoba menjelaskan kepada Damian karena diamuk telah membiarkan Ryan mengundurkan diri di sana.“Ya sudah! Sekarang jelaskan kenapa Dokter Ryan mengundurkan diri? Kalau tidak ada alasan yang membuatnya mengundurkan diri, dia tidak akan melakukan itu!” pekik Damian lagi.“Pak Edrick di mana? Rasanya percuma, saya bicara dengan Anda!” Damian lantas mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya di sana.“Ke ruangan saya sekarang juga!” titahnya kemudian menutup panggilan tersebut.Tak lama setelahnya, Biru dan Dokter Firman masuk ke dalam ruangan Ryan. Menghampiri Damian untuk memberi tahu alasan mengapa Ryan mengundurkan diri.“Saya tahu, alasan Dokter Ryan mengundurkan diri, Pak Damian,” kata Dokter Firman kepada Damian.Rifky menolehkan kepalanya kepada Dokter Firman. “Tahu apa, Anda? Saya tahu, Anda sahabatnya Pak Ryan.”Dokter
Dua minggu berlalu ….Ayuni masih berada di Sidney, Australia. Bersama dengan orang tuanya yang masih berada di sana. Rini menyusul anaknya satu minggu setelah Shakira sudah diperbolehkan pulang.“Kondisi Shakira sudah membaik, Ma?” tanya Ayuni yang sebenarnya mengkhawatirkan anak itu.“Sudah, Ay. Dia sudah diperbolehkan pulang makanya Mama bisa ke sini menemui kamu dan papa kamu. Shakira masih mencari keberadaan kamu. Meskipun Mama sudah kasih tahu kamu selamat, tapi dia masih ingin bertemu sama kamu.”Ayuni menelan saliva dengan pelan seraya menatap foto Shakira di ponselnya. “Aku juga rindu. Udah dua minggu nggak pernah lihat dia. Yang penting sekarang dia udah sehat, Ma.”Rini mengangguk sembari mengulas senyumnya. “Iya, Nak. Shakira tinggal bersama Mama Melinda. Sampai kamu kembali, Shakira tidak mau bertemu dengan papanya. Dia sudah memutus hubungan dengan papanya. Dia bilang begitu. Ada lucunya dan juga sedihnya.”Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Gimana kabar dia, Ma?”
Shakira sudah sadarkan diri. Akan tetapi, anak kecil itu tidak mau bertemu dengan papanya lagi karena sudah membuatnya kehilangan Ayuni untuk selamanya.Ryan tidak diberi akses masuk ke dalam ruang rawat anaknya sendiri karena permintaan dari Shakira sendiri. Hati Ryan benar-benar hancur berkeping-keping karena telah dibenci dan tidak diterima kehadirannya oleh anaknya sendiri.Di kediaman Ryan ….Lelaki itu tengah mengenakan kemeja hitam dengan celana senada. Hendak pergi ke rumah sakit, menemui sang pemilik rumah sakit di mana ia bekerja.“Kamu mau ke mana?” tanya Melinda kepada sang anak yang tengah mengambil kunci mobilnya.“Mau ke rumah sakit, Ma. Mengundurkan diri dari jabatan itu dan tidak akan menjadi dokter di sana lagi,” jawabnya dengan pelan.Melinda menelan saliva dengan pelan. “Nak. Ayuni masih hidup. Dia gagal naik pesawat karena lupa bawa passpor. Rini baru saja memberi tahu Mama tadi pagi.”Ryan menoleh cepat kepada sang mama. “Mama tidak bercanda, kan?”“Tidak, Nak. M
Di bandara ….Perempuan itu tengah merenung memikirkan hal yang mengejutkan yang baru saja ia alami di hari ini. Selama ini dia selalu menutup telinga akan rumor itu. Namun, kini sudah tak perlu lagi menutupnya karena sudah melihat sendiri adegan mengejutkan itu.Suara pramugari memberi tahu keberangkatan menuju Australia sudah menggema. Ayuni kemudian beranjak dari duduknya dan menggeret koper, masuk ke bagian check in counter.“Mohon menunjukan passport-nya, Bu.”“Oh, iya tunggu sebentar.” Ayuni lupa mengeluarkan passport miliknya. Ia lantas membuka tasnya terlebih dahulu dan meminta yang lain dulu saja duluan.“Duh! Pake acara ketinggalan segala lagi,” gerutunya kemudian mengambil ponselnya karena passport miliknya tertinggal di rumah.“Halo, Vit. Elo lagi di mana? Gue mau minta tolong sama elo.” Ayuni menghubungi Vita.“Elaaah! Malam-malam gini elo mau minta tolong apaan lagi, Ayuni?”“Gue lupa bawa passport.” Ia lalu menoleh pada pesawat yang sudah terbang dan menghela napas pasr