Share

Bab 8

Penulis: Risma123
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-19 11:02:36

Candra terlihat kebingungan sendiri, apa sebenarnya yang ingin dilakukan pada Irma? Jelas-jelas dia punya Vania, istri yang nyaris sempurna dan sangat mencintainya. Bisa-bisanya dia malah cemburu melihat Irma jual diri, dan berniat ingin menafkahinya. Hal itu benar-benar membuat Candra tak habis pikir pada dirinya sendiri. 

Sesaat Candra masih diam dengan pertanyaan yang ditanyakan Irma padanya saat itu. Apakah sungguh dia ingin Irma jadi simpanannya? Rasanya Candra tidak bisa berpikir saat itu, dan memilih untuk meninggalkan Irma dengan cek yang dia berikan pada gadis itu. 

"Tunggu!" teriak Irma lagi sambil memeluk tubuh Candra dari belakang. 

Tentu saja Irma tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Kapan lagi dia bisa dapat uang banyak dari seorang pria, bahkan pria itu menjanjikan akan menafkahinya seumur hidup. Walaupun tahu Candra suami sahabatnya, Irma yang buta akan uang dan harta, memilih menutup mata dan mencari cara untuk membuat suami sahabatnya itu terikat padanya. 

"Mas Candra, kamu mau pergi begitu saja kah? Tidakkah kamu ingin melakukan sesuatu padaku?" ucap Irma yang membuat Candra melamun mendekat kata-katanya. 

Jelas Candra ingin hal lebih dari Irma, tapi bukan sekarang. Selain dia diburu waktu oleh pesawat yang sudah menunggunya, dia juga tidak mungkin melakukan hubungan intim pada wanita yang baru saja disetubuhi oleh pria lain. Ada rasa jijik, walaupun minat dan ketertarikan pada Irma jauh lebih besar dari rasa jijik Candra pada gadis itu. 

"Nanti aku hubungi lagi. Aku masih harus naik pesawat sekarang. Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kamu butuh aku. Aku pergi!" ucap Candra sambil mengusap lembut pucuk kepala Irma, lalu berjalan meninggalkan gadis itu menuju arah pesawat yang akan dinaikinya. 

Irma senang bukan main. Dia puas karena ternyata tidak sia-sia dia selalu dandan cantik dan seksi, bahkan suami sahabatnya pun bisa tertarik padanya seperti saat ini. Padahal mendengar cerita yang selalu Vania katakan tentang suaminya, Candra merupakan pria yang setia dan sangat mencintai Vania. Apalah artinya cinta dan setia kalau seorang pria sudah disuguhkan dengan tubuh seksi, dan wajah cantik wanita yang menggodanya sampai birahinya naik. Kata setia tidak akan mampu lagi bertahan lama jika godaan itu bertubi-tubi menyerang Candra nanti. 

Pokonya mulai detik ini Irma sudah memutuskan untuk berhubungan dengan Candra. Tidak perduli perasaan Vania nantinya akan bagaimana, pokonya sebisa mungkin, dia harus bisa mengikat pria kaya, dan tampan itu di sisinya. Jika perlu harus mengikat Candra sampai dia lupa pada istrinya, dan menjadikan dia istri keduanya. Dia ingin merasakan perasaan jadi istri orang kaya, mengingat hidup Vania bahagia dengan kecukupan harta yang diberikan Candra padanya dan keluarganya. 

Irma pun mulai menggunakan uang dari Candra untuk operasi tubuhnya. Dari bagian yang nampak kendor, dibuat menjadi seperti virgin lagi. Dia juga melakukan berbagai macam spa, pokonya harus lebih cantik dari Vania demi bisa merebut hati suami sahabatnya itu. 

Di sisi lain, terlihat Vania sibuk mengurus anak-anaknya. Sesekali dia berhubungan lewat telepon dengan sang suami. Rasa rindu nampak begitu jelas di wajah Vania saat dia mendengar suara sang suami di telepon. Baru beberapa hari suaminya dinas di luar kota, hatinya tak sanggup lagi menahan gejolak rindu pada sang suami. 

"Bagaimana kabarmu, sayang? Anak-anak tidak buat ulah yang buat kamu capek kan?" tanya Candra yang disambut gelengan kepala dari Vania. 

"Tidak. Mereka baik. Mereka patuh. Aku gak capek. Aku cuma kangen kamu, Mas. Kapan kamu pulang?" tanya Vania dengan wajah penuh kerinduan. 

"Sabar ya. Kalau pekerjaan di sini selesai, harusnya akhir Minggu ini aku pulang. Aku juga rindu kamu. Aku juga rindu anak-anak. Selepas aku pulang, kita jalan-jalan bersama ya. Aku akan bawa kamu dan anak-anak kemanapun kamu suka!" 

"Janji ya?" 

"Iya sayang, aku janji!" ucap Candra yang terus berbincang banyak hal dengan Vania. 

Setelah cukup lama berbincang, panggilan telepon itu pun berakhir. Vania menyimpan ponselnya di meja, dan berjalan keluar rumah karena mendengar suara bel rumah berbunyi saat itu. 

Ketika membuka pintu rumah, Vania kaget melihat Irma ada di rumahnya. Yang lebih membuat kaget, Irma terlihat sangat cantik dan berkilau saat itu. Baik wajah Irma, maupun pakaian yang dia kenakan, benar-benar membuat Vania pangling. 

Irma terlihat makin pamer dengan tubuhnya yang makin montok. Dia berjalan masuk ke rumah itu sambil tersenyum manis pada sahabatnya itu. Sementara Vania masih tertegun. Batinnya terus bertanya, darimana Irma punya uang untuk perawatan wajah, tubuhnya, juga membeli pakaian mahal yang dia kenakan. Walau terdengar usil, tapi hal itu Vania lakukan karena belum ada satu bulan yang lalu, sahabatnya itu pinjam uang karena hampir diusir dari kontrakan. Sekarang tentu Vania heran melihat sahabatnya tampil cantik seperti ini. 

"Kenapa bengong, Vania? Ayo masuk! Aku ada hal yang mau aku ceritakan padamu!" ucap Irma dengan antusias menarik tangan Vania masuk dan duduk di kursi ruang tamu. 

"Ada apa?" tanya Vania bingung. 

"Ini, aku bayar hutang bulan kemarin. Terima kasih ya, Vania. Aku benar-benar bersyukur punya sahabat baik seperti kamu. Walaupun sekarang aku baru bisa bayar hutang bulan lalu, tapi nanti kalau ada rezeki lagi, aku akan bayar semua hutang-hutang lamaku padamu," ucap Irma sambil memberikan uang satu setengah juta pada Vania. 

"Banyak uang kamu. Dapat uang darimana? Kamu dapat kerjaan baru?" 

Pertanyaan Vania tak dijawab oleh Irma. Gadis itu hanya tersenyum, mengingat uang yang diberikan untuk bayar hutang pada Vania, tak lain adalah uang yang diberikan suami Vania padanya.

"Uangnya darimana, itu gak penting. Vania, pokonya mulai saat ini, aku janji, aku gak akan susahin kamu lagi. Senang sekali berteman dengan kamu. Kamu sahabat terbaik aku. Terima kasih, terima kasih banyak," ucap Irma yang tak henti mengucapkan terima kasih pada Vania. 

Tentu saja terima kasih itu bukan hanya karena diberikan bantuan uang selama ini oleh Vania, tapi juga terima kasih karena Vania mempertemukan dia dengan suaminya yang berakhir menjadi bagian dari hidupnya. Siapa wanita bodoh yang tidak mau dinafkahi? Bahkan jika itu jadi selingkuhan, atau harus berkhianat pada teman baiknya sendiri, selama kebutuhan hidupnya terpenuhi, bagi Irma sah-sah saja. 

"Vania, kamu tidak melakukan hal-hal yang salah kan? Aku sempat dengar kata orang, katanya kamu jadi selingkuhan pemilik rumah makan, tempat kamu kerja dulu. Apakah uang ini uang kamu dari pria beristri yang menjadikan kamu selingkuhannya?" tanya Vania yang seketika membuat Irma kaget mendengarnya. 

"Kamu jangan percaya gosip! Aku mana mungkin jadi selingkuhan pria beristri!" balas Irma yang langsung bersilat, seakan takut jika belangnya ketahuan oleh Vania. 

"Oh, syukurlah kalau itu tidak benar. Irma, aku percaya padamu. Kamu teman baikku selama ini. Kamu bukan hanya teman, kamu sudah seperti saudara kandungku sendiri. Kalau ada masalah apapun, ceritakan padaku. Kalau aku bisa bantu, aku pasti akan membantumu sebisa yang aku mampu," ucap Vania sambil memeluk tubuh Irma saat itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 9

    Irma membalas pelukan Vania. Dia memperlihatkan wajah meremehkan di balik punggung Vania saat itu."Ya, bagiku, kamu juga sudah seperti saudara kandungku sendiri. Terima kasih sudah jadi teman baikku selama ini," ucap Irma sambil terus memasang wajah licik sambil memeluk tubuh sahabatnya itu.Vania selalu berusaha untuk menjadi sahabat baik yang bisa membantu Irma sebisa yang dia mampu. Tapi di sisi lain, Irma justru berusaha sekuat tenaga menghancurkan sahabatnya hanya karena rasa iri, dan dengki pada kehidupan Vania yang jauh lebih baik dari kehidupannya.Sejak saat itu, Irma sering bolak-balik ke rumah Vania. Dia sengaja datang dan pergi ke rumah itu untuk mengecek kapan Candra, suami Vania pulang dari perjalanan bisnisnya.Hingga seminggu berlalu, saat Irma sedang main di rumah Vania, mobil mewah Candra datang, dan berhenti tepat di halaman rumah mewah itu. Candra berjalan kelua

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 10

    Irma tersenyum senang. Tidak mengira impiannya bisa tidur dengan suami Vania bisa benar-benar terwujud tadi malam. Tubuh gagah dan kuat Candra benar-benar menggagahi tubuhnya. Rasanya Irma terlena dengan hebatnya pria tampan itu saat bergulat di atas ranjang tadi malam. Irma memakai pakaiannya, dan berjalan keluar dari kamar hotel itu. Dia diminta Candra untuk meminum obat pencegah kehamilan, tapi hal yang diminta Candra lakukan tak dilakukan oleh Irma karena kehamilan memang hal yang dia tunggu untuk menjerat Candra agar bisa memiliki hubungan lebih dalam, dengannya. Di sisi lain, terlihat Vania bangun tidur dalam keadaan linglung. Dia menatap di samping tempat tidur, dan mendapati suaminya sudah tidak ada di sana. Dengan cepat Vania bangun untuk mencari keberadaan suaminya. Dia pun berkeliling rumah, namun tak menemukan keberadaan suaminya itu. "Kemana perginya mas Candra pagi-pagi begini?" batin Vania bingung. Saat sedang mencari keberadaan Candra, tiba-tiba ponsel Vania berder

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 11

    Vania masih terlihat memperhatikan hal yang dilakukan suami dan sahabatnya itu. Dia pun dengan cepat menghampiri mereka seraya pasang wajah kesal dan marahnya. "Ada apa ini? Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian diam-diam bertemu di belakangku? Ada apa?" tanya Vania dengan ekspresi marahnya. Saat itu terlihat wajah Candra kaget. Dia benar-benar tidak pintar mengelak, dan mencari alasan untuk menghadapi hal semacam ini. Bagaimana dia harus beralasan di depan sang istri perihal hubungannya dengan Irma? Tentu saja dia tidak ingin Vania tahu tentang hubungan terlarang antara dia dan Irma. "Kamu kok di sini, Vania? Ngapain?" tanya Irma yang membuat Vania makin meradang mendengar kata-katanya. "Ngapain? Pertanyaan macam apa itu? Aku datang ke kantor suamiku adalah hal yang wajar karena aku istrinya. Sementara kamu, kamu sahabatku, tapi kamu datang ke kantor suamiku di belakangku. Kamu bertemu berduaan dengan suamiku, dan berbincang dekat seperti ini. Tidak bolehkah aku tahu, apa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 12

    Setelah cukup lama berbelanja bahan makanan, akhirnya Vania, Candra, dan Irma pun pulang. Terlihat Candra masih memberikan perhatian mesra pada Vania, seakan tidak ada wanita lain di mata Candra selain istrinya itu. Sementara Irma terlihat menatap benci dengan hal yang dilakukan pria itu. Padahal sebelumnya begitu menggilai tubuhnya, kini malah bersikap seperti orang asing yang benar-benar tidak saling kenal.Saat sampai rumah, Vania menatap dua anaknya sudah ada di sana dengan supir jemputan mereka. Melihat itu Vania pun langsung bergegas masuk, dan menemani dua anaknya yang memintanya mengikat rambut.Setelah Vania masuk ke kamar anak-anaknya, Irma yang melihat Candra duduk di sofa ruang tamu, langsung ikut duduk di sampingnya. Dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Candra yang ada di sisinya itu."Mumpung Vania di kamar, bagaimana kalau kita lakukan satu ronde di kamar tamu? Tidakkah k

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 13

    Vania tak berhenti menangis. Dia tidak bisa melupakan hal yang dia dengar di kamar tamu tadi. Bagaimana bisa dua orang yang sangat dia sayangi dan dia percaya selama ini, ternyata mereka berkhianat di belakang Vania?Sakit rasanya hati Vania saat itu. Bahkan dia seakan tidak ingin lagi muncul di hadapan suami dan sahabatnya itu. Alih-alih mau makan malam untuk permohonan maafnya karena salah paham pada suami dan sahabatnya, justru dia malah mendapati kebenaran dari hal yang selama ini dia ragukan.Berulang kali Vania terus berpikir dalam tangisnya. Apa sebenarnya kurangnya dia selama ini sebagai seorang istri? Kenapa teganya suaminya berkhianat, bahkan berselingkuh dengan sahabat baik istrinya sendiri.Begitu pula Vania berpikir, kenapa sahabat yang selama ini dia tolong, dan dia anggap sebagai saudara sendiri, tega merebut suaminya. Kenapa keduanya bisa bekerjasama menghancurkan hati Vania hingga dia merasa mau ma

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 14

    Irma keluar dari dapur, terlihat dia berjalan dengan gaya seksi mendekati Candra yang saat itu sedang mengobrol dengan kedua putrinya. Irma pun datang, ikut bergabung dan berbincang dengan Candra juga kedua anak Vania itu."Kalian sedang apa? Kenapa kalian terlihat seru sekali mainnya?" tanya Irma dengan senyum ramah."Tadi di sekolah, aku gambar mama, papa, aku dan Tania. Ibu guru berikan aku nilai seratus. Katanya gambarku bagus. Lihatlah, Tante Irma!" ucap Kanaya sambil memamerkan gambar yang dia buat di sekolahnya itu.Irma menatap jijik dengan gambar jelek yang dibuat Kanaya. Dia berusaha tersenyum, tapi dalam hati tak tahan untuk menggerutu tentang gambar buatan anak Vania itu."Gambar jelek begitu dipamer-pamer. Memang gambar jelek anak SD kelas satu. Merusak suasana hatiku, dan moodku saja. Awas saja! Kalau aku sudah menikah dengan Candra, dan jadi istri sahnya. Aku ak

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 15

    Vania diam dalam balutan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar tidak ingin bicara apapun dengan suaminya saat itu. Rasa kecewa memenuhi hatinya. Rasanya hancur dunianya saat itu. Pria yang sangat dia hormati, dia cintai, dia banggakan selama ini sebagai suami terbaiknya, ternyata berselingkuh dengan sahabatnya di belakangnya.Air mata Vania menetes. Bibirnya gemetar menahan sesak di dadanya. Dia tidak bisa membayangkan, suaminya tidur dengan sahabatnya sendiri di dalam satu ranjang yang sama.Berlahan mata Vania pun terpejam. Mungkin karena lelah menangis, akhirnya dia tidur juga. Sementara Candra masih terjaga. Dia benar-benar menyesali hal buruk yang dia lakukan hingga membuat rumah tangganya berantakan seperti saat ini.Kringgg...Suara ponsel Candra berdering. Panggilan itu tak lain adalah panggilan dari Irma, sahabat istrinya, sekaligus teman ranjang Candra se

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Istri Kedua Suamiku    Bab 16

    Melihat kepergian Vania dan Candra, Irma terlihat kesal. Dia pun berjalan pergi meninggalkan kafe sambil memikirkan cara untuk mendapatkan kembali hati Candra. Tidak rela rasanya jika harus melepaskan pohon uang yang masih ada dalam genggaman. Pokonya apapun yang terjadi, Irma tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Candra."Satu-satunya cara aku bisa tetap berhubungan dengan Candra, hanya dengan aku hamil. Tapi masalahnya, aku baru beberapa kali melakukan itu dengan Candra. Mustahil aku hamil! Tidak, pokonya selama bisa menjerat kembali Candra di sisiku selamanya, aku bisa melakukan hal apapun!" gumam Irma sambil tersenyum dengan rencana liciknya.Irma berjalan ke arah jalan untuk menghentikan taksi. Dia pun berjalan pergi menuju arah hotel sambil mengirimkan pesan pada seseorang di ponselnya. Hingga tanpa terasa mobil taksi pun berhenti di hotel yang Irma minta. Gadis itu pun turun dari mobil taksi dan menghampiri seorang pri

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-23

Bab terbaru

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 62

    Keesokan harinya, Vania terlihat sibuk mengurus kedua buah hatinya yang ingin pergi bermain di hari libur sekolah. Sudah lama dia tidak pernah mengajak dua anaknya bermain. Kebetulan punya uang dari Galang yang memberikan uang muka jual mobil, dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan menyenangkan hati dua putrinya. "Bi Sumi, Bi Imah, saya dan anak-anak mau pergi ke taman bermain. Hari ini tidak perlu masak makan siang. Kami akan makan di luar!" ucap Vania yang disambut anggukan kepala dari dua pembantu rumahnya. "Baik, nyonya.""Oh iya. Ini uang gaji kalian selama dua bulan. Maaf, aku baru bisa memberikannya hari ini. Kedepannya, mohon bantuannya untuk tetap menjaga rumah dan menjaga dua putriku. Terima kasih, Bi!" "Nyonya kenapa sungkan? Kami sudah anggap nyonya seperti keluarga sendiri," balas Imah sambil memegang tangan majikannya. "Iya. Nyonya banyak bantu keluarga saya dulu. Saya tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada nyonya dan nona kecil. Kedepannya, kami juga akan sel

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 61

    Setelah cukup lama menangis di pelukan Galang, Vania pun sadar kembali dari lamunannya. Dia melepaskan pelukan itu, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan bosnya itu. "Maafkan saya. Saya bertindak sembarangan. Saya tidak seharusnya menangis sampai air mata saya mengotori kemeja anda. Maaf!" ucap Vania yang disambut senyum kecil dari Galang. Pria itu tak bicara. Tapi tangan kanannya mengusap lembut pucuk kepala Vania dengan penuh kasih sayang. Rasa kasih sayang yang sama seperti saat Galang menjadi kekasih Vania sembilan tahun lalu. Tanpa dirasa, ternyata pernikahannya dengan Candra sudah hampir hancur dalam kurun waktu satu tahun oleh kehadiran Irma, yang tak lain adalah sahabat baik Vania. "Makan ice cream dan kue coklatnya! Kuatkan diri! Kalau bukan untuk aku, setidaknya kuatkan diri untuk kedua anak-anakmu yang masih kecil. Kalau kamu rapuh, bagaimana bisa menjaga mereka dengan baik. Benar bukan?" ucap Galang yang disambut senyum dan anggukkan kepala dari Vania.

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 60

    Mendengar kata-kata Candra, Vania menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Merasa sikap suaminya padanya semakin keterlaluan. Hanya dari beberapa kata provokasi dari Irma, suaminya langsung menyalahkan dia atas hal yang dilakukan kedua anaknya. Mau membela diri pun sudah tidak ada keinginan, dia lebih suka mengakhiri perbincangan tak mengenakan itu tanpa bicara apa-apa. "Ya, aku salah. Semua salahku. Kamu selingkuh dengan teman baikku, itu juga salahku. Kamu menikahi Irma, itu juga salahku. Kamu hamili Irma, itu juga salahku. Semua salahku di mataku kan, Mas? Kalau memang begitu, cepat ceraikan aku, dan jadikan Irma istrimu satu-satunya!" gumam Vania sambil berjalan pergi dengan kedua anak-anaknya. "Vania, tunggu dulu! Apa yang barusan kamu gumamkan? Vania! Kenapa setiap kali bertengkar, kamu selalu mengungkit kata cerai. Vania, kembali! Aku belum selesai bicara!" teriak Candra dengan wajah kesalnya. Vania tak perduli. Dia naik mobilnya bersama dua anaknya. Tubuhnya agak geme

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 59

    Saat Irma bergumam sendiri, tiba-tiba Candra masuk ke dalam kamar itu dan menatap tajam ke arah Irma. Dia terlihat lelah. Matanya sayup menatap ke arah wanita yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. "Irma, aku ada hal yang ingin aku bicarakan!" ucap Candra sambil duduk di samping gadis itu. "Ada apa, Mas?" tanya Irma sambil menyembunyikan buku rekening selundupannya dari Candra. "Aku lihat Vania kehilangan banyak berat badan. Sepertinya dia sedang banyak pikiran. Irma, bisakah kamu tanyakan pada Vania, apa yang dia butuhkan. Bagaimana pun dia juga istriku, dan juga wanita yang melahirkan anak-anakku. Jika dia butuh uang, atau butuh hal yang bisa aku selesaikan, tolong beritahu aku, aku akan bantu sebisaku!" ucap Candra yang hanya disambut senyum dan anggukkan kepala dari Irma. "Sampai matipun aku tidak akan melakukan apapun yang kamu minta, Mas. Semakin kamu perhatian pada Vania, semakin aku ingin menghancurkan dia dengan tanganku sendiri," batin Irma, dengan bibir yang

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 58

    Vania berbaring di tempat tidur, dan menatap wajah dua putrinya yang sudah tidur di tempat tidurnya. Semakin ingat sikap Candra terhadapnya, semakin besar keinginan Vania berpisah dengan pria itu. Tapi setiap kali pikiran itu melintas di benaknya, Vania menatap dua anaknya. Dia takut kalau keputusannya pisah dengan Candra akan mempengaruhi kedua putrinya. Vania hampir putus asa dibuatnya. Namun bertahan hidup dengan Candra dalam pernikahan yang berat sebelah pun tidak menguntungkan baginya. Sekarang bukan hanya Candra tidak pernah datang menemani dia dan anak-anaknya, tapi jatah bulanan yang biasa diberikan Candra untuk anak-anaknya pun sudah dua bulan tak diberikan. Mau bicara dan membahas tentang itu, tapi di pikiran Candra hanya ada Irma, dan keinginan istri keduanya. Tak pernah Candra perduli, seberapa sulit kehidupan Vania menghidupi dua anaknya selama ini. Tok... Tok... Tok... Vania membuka pintu kamar, dan mendapati dua pembantu rumah sedang berdiri di depan pintunya. V

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 57

    Irma masih belum puas hati mengolok-olok Vania. Dia masih menatap istri pertama suaminya itu dengan sorot mata penuh keserakahan. "Vania, kedepannya mas Candra akan sibuk mengurus aku dan bayi laki-laki kami. Aku harap, kamu bisa pengertian dan tidak mempermasalahkan ini ya? Kamu adalah teman baikku. Kamu pasti paling tahu isi hatiku lebih dari siapapun.""Heh, teman baik?" gumam Vania, mencibir kata-kata Irma. "Sudah selesai kah? Aku sungguh masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Jika memang kamu sudah puas bicara, biarkan aku pergi. Semoga kamu dan bayi kamu selamat!" ucap Vania sambil berjalan keluar dari ruang persalinan itu. Setelah berbicara dengan Vania, Irma pun melanjutkan persalinannya dengan dokter dan suster di rumah sakit. Saat mendengar suara bayi menangis dari ruang persalinan, Candra terlihat senang dan langsung bergegas menuju arah pintu untuk segera masuk melihat putra kecilnya yang baru lahir. Saat itu juga Vania merasa dibuang, dan langsung diabaikan ol

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 56

    Candra pun berpamitan pulang pada kedua anaknya, dan menghampiri Vania untuk mengucap maaf untuk kesekian kalinya karena tanpa sengaja menampar pipi Vania saat marah. Vania tak bicara, dan hanya menatap kepergian suaminya dengan wajah yang masih kecewa. "Nak, ayo kita berangkat ke sekolah!" ucap Vania sambil menuntun kedua anaknya masuk ke dalam mobil. Kanaya, dan Tania patuh, masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Mereka tahu suasana hati ibunya sedang sedih karena perbuatan ayah mereka tadi. Beberapa kali kedua anak itu mengecup pipi Vania yang sedang menyalakan mesin mobilnya. "Ma, jangan sedih! Papa jahat! Kami tidak mau papa lagi!" ucap Tania sambil mengusap pipi Vania dari kursi belakang mobil. "Papa keterlaluan! Mama tidak apa-apa kan? Ma, kami akan selalu di sisi mama. Mama jangan sedih ya!" sambung Kanaya yang disambut anggukan kepala dan senyum dari Vania."Kalian duduklah yang benar! Mama akan mengendarai mobil. Pakai juga sabuk pengaman kalian! Tidak usah dipikirkan

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 55

    Mendengar suara hening dari seberang telepon, Candra pun kembali bicara untuk membujuk Vania ke rumah sakit. "Vania, aku mohon! Datanglah ke rumah sakit untuk menjenguk Irma! Walaupun kamu benci dia, tapi tolong lakukan ini untuk bayi dalam kandungannya," ucap Candra, lirih. "Dia kesakitan. Dia berada di ruang ICU. Lalu apa gunanya aku ada di rumah sakit? Yang diperlukan Irma sekarang hanya kamu, dan dokter. Dia tidak butuh aku berada di sisinya. Kalau dia lihat aku, takutnya dia malah makin parah. Jadi, jangan memintaku menemuinya, karena dia hanya akan semakin marah kalau aku ada di sekitarnya. Sudah Mas, aku capek! Aku tutup dulu teleponnya!" ucap Vania sambil mematikan panggilan telepon itu. Vania menghela nafas panjang. Sudah banyak hal terjadi pada dirinya, masih saja tidak bisa melepaskan keterikatan dia dengan Candra juga Irma. Jelas-jelas setiap kali melihat mereka bersama, dialah orang yang paling dikecewakan dan harus menahan sakit hati berkali-kali. Namun setelah

  • Istri Kedua Suamiku    Bab 54

    Selesai semua lomba, akhirnya para guru pun membagikan hadiah untuk para pemenang. Dua putri Vania terlihat bersemangat mengambil hadiah dari hasil kerja keras mereka memenangkan dua perlombaan. "Mama, kita menang!" ucap Kanaya sambil memeluk tubuh Vania. "Om Galang, kita menang!" sambung Tania yang memeluk tubuh Galang. Mata Galang dan Vania saling beradu. Entah kenapa keduanya terlihat canggung, dan tersenyum kecil satu sama lain dengan tingkah kedua anak kecil di hadapan mereka itu. "Ma, kita bagi dua hadiahnya!" pinta Kanaya. "Om, aku juga akan membagi hadiahku denganmu," sambung Tania yang seketika membuat Galang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kalian pasti sudah lelah. Bagaimana kalau Om Galang antar kalian pulang? Kalian bisa langsung istirahat setelah sampai di rumah," tawar Galang yang langsung disambut anggukan kepala dari kedua anak Vania. "Hei, kita bawa mobil!" bisik Vania pada dua anaknya. "Ma, bukankah tadi mama bilang lelah? Mengendar

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status