Alzam tak bisa menahan diri. Begitu mendengar kabar dari umminya, ia langsung memeluk Lani erat-erat, seperti ingin memastikan keberadaan wanita itu dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Tangannya yang besar dan kokoh menggenggam wajah Lani, menatapnya penuh rasa haru. Menangkup wajah cantik di depannya dengan menciuminya."Lani... aku tak tahu harus berkata apa," ucap Alzam dengan suara bergetar. Terakhir, Ia mencium kening Lani dengan lembut, mengabaikan tatapan abi dan umminya yang masih berada di ruangan itu. "Terimakasih!"Lani tersenyum samar, matanya sedikit basah. "Mas, ..." Dia memang tidak mengira Alzam akan sebahagia itu. "Aku akan menjaga kalian, Lani. Kamu dan bayi kita ini." Alzam menunduk, perlahan mencium perut Lani yang masih rata."Alzam," tegur Thoriq dengan bersitatap dengan Salma yang juga menyunggingkan senyumnya, mengingatkan putranya bahwa mereka tidak sedang sendirian."Oh, maaf, Bi," ujar Alzam buru-buru, mundur sedikit dengan wajah yang sedikit memerah.
Tapi ketika Alzam masuk kamar, Agna langsung sadar ada yang tidak beres. Wajah suaminya terlihat jauh, seperti tidak benar-benar berada di sana. Ia tidak memandanginya seperti seorang pengantin baru yang tak sabar menyentuh pasangannya."Mas," panggil Agna, mencoba menarik perhatiannya. "Aku sudah menunggu. Ayo, duduk di sini."Alzam menoleh sekilas, lalu mengangguk lemah. Ia berjalan mendekat, duduk di pinggir tempat tidur, namun tak menyentuh Agna sama sekali. Dia malah terkesan ingin pergi dari kamar itu."Agna,.." Alzam ingin mengungkapkan sesuatu, namun dia tak bisa mengutarakannya. Bahkan dia merasa risih saat Agna melepas jubahnya dan hanya memakai baju minim dengan dada yang terexpos."Kamu kenapa, sih?" tanya Agna, suaranya mulai kesal. "Aku sudah berdandan untukmu, tapi kamu malah begini. Apa aku kurang menarik untukmu?""Bukan itu," jawab Alzam singkat, tanpa menoleh. Ia menunduk, tangannya saling meremas, seolah sedang menahan sesuatu."Lalu apa? Apa ada yang kamu sembunyi
Pagi itu, ketukan keras menggema di pintu rumah Alzam. Agna yang merasa malam pertamanya telah dirampas, berjalan dengan wajah penuh amarah menuju pintu. Ia menarik gagangnya dengan kasar, mendapati seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu dengan wajah gelap. Sementara Mbok Sarem yang tadi hendak ke dalam rumah alzam, mengurungkan niatnya ke sana dan berjalan ke rumah yang ditempati Lani kembali, lalu menggedor kamar Lani. Dia tau, semalam Alzam di sana karena dia mendapati Alzam yang bangun sebelum Subuh sudah melaksanakan tahajud di mushola kecil mereka.“Siapa Anda?” tanya Agna tajam. Menelisik pria berkulit gelap ituPria itu adalah Wagimin, ayah Lani. Tanpa basa-basi, ia melontarkan pertanyaan tajam, “Mana Alzam? Panggil dia keluar!”Agna mengerutkan kening, merasa diremehkan di rumahnya sendiri. “Siapa Anda, berani-beraninya berteriak di sini? Alzam suami saya. Dan saya tidak suka ada orang asing memanggilnya dengan tak sopan seperti ini," ucapnya dengan tatap menyelidik.
Alzam mengulurkan tangan, menggenggam tangan Lani yang dingin. Mata mereka saling bertaut, seolah berbicara dalam diam. Lani menatap Alzam, menemukan sesuatu yang tidak pernah dia pahami sepenuhnya-penyesalan, ketakutan, dan pengharapan yang tak bisa terucap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dia menahannya agar tidak jatuh."Ayo pergi, Nak." Kembali Wagimin menandaskan perkataanya. Alzam makin menggenggam tangan Lani erat. Bahkan merengkuhnya. Hanya tatapan mata mereka yang bicara dalam batyang buram.Melihat itu, Agna yang berdiri di dekat pintu tak lagi bisa menahan diri. Dengan langkah tergesa, ia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu keras-keras. Suara gemeretak itu menggema, membuat suasana di luar semakin mencekam. Semua mata kini tertuju pada Alzam dan Lani, yang masih berdiri dalam kebisuan yang menyakitkan."Pak Wagimin," Thoriq memecah keheningan dengan suara beratnya, "Mari kita bicarakan ini di rumah Lani. Lagipula sudah siang, keburu ada orang lewa
Pagi itu, langit masih biru jernih saat Alzam keluar dari rumah bersama Agna. Langkahnya terasa berat, namun wajahnya tetap dipaksakan tenang. Di sebelahnya, Agna mengenakan gaun formal dengan potongan rapi, dan senyum kecil menghiasi wajahnya. Sikapnya begitu berbeda; terlihat penuh perhatian, bahkan tangannya sempat menyentuh lengan Alzam saat mereka menuju mobil."Nanti kita mampir sarapan duluh, ya Mas?" Alzam hanya mengangguk singkat, tidak ada kata yang terucap. Ia membuka pintu mobil untuk Agna, lalu melirik ke sebelah untuk memastikan melihat Lani walau dia tau dia tak dapat melihatnya. Maafkan aku, Lani. Aku justru bersamanya pergi, sedangkana kamu hari ini juga waktunya kuliah.Sementara Lani yang mau keluar, menahan langkahnya saat melihat semua itu. Dia tidak ingin melihat tatapan tajam Agna yang penuh benci padanya. Wajah Lani terlihat pucat, dan tatapannya begitu hampa, seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti. Dia merasakan sesuatu menghantam dadanya, tapi ia hanya bis
Suasana riuh rendah terdengar di sebuah kafe yang ramai dikunjungi mahasiswa. Meja-meja penuh dengan gelas kopi setengah kosong dan laptop menyala. Alzam duduk di salah satu sudut kafe, matanya terus mengawasi seseorang yang duduk bersama temannya di meja seberang.Lani, dengan hijab krem dengan terusan berbunga kecil senada, terlihat tertawa kecil mendengar cerita Dita, sahabatnya. Dia mengenakan cardigan yang santai, namun tetap terlihat manis. Alzam memalingkan pandangan sesaat, lalu menghela napas panjang. Tangannya mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Lani.Di meja seberang, Lani mengangkat ponselnya dengan raut wajah bingung mencari keberadaan Alzam."Assalamualikum bidadariku!"Lani tak dapat menyembunyikan pias di pipinya yang putih dan mendadak jadi bersemu. Dita yang memperhatikannya hanya berdehem. Lalu emnunjukkan telunjuknya ke sebrang, hinggah Lani tau kalau Alzam memang di sana."Sudah tiga hari ini aku bersamanya," suara Alzam terdengar lirih namun penuh emosi di sebe
"Aku nggak ngerti kamu, Kep," Dandi membuka pembicaraan dengan suara berat, memecah kesunyian yang terasa menekan di antara mereka bertiga setelah kepergian Lani. "Kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan di sini?"Alzam mendengus pelan. "Dandi, aku nggak peduli lagi. Semua ini nggak ada artinya kalau aku kehilangan Lani. Tiga hari ini tak bersamanya saja, hatiku seperti ini. Rasanya aku tak sanggup."Hanum, yang berdiri di samping Dandi, memandang Alzam dengan cemas. "Kep, kita nggak bilang ini karena nggak ngerti perasaanmu. Tapi kamu harus mikir matang. Karirmu, masa depanmu...""Hanum, masa depanku itu dia," potong Alzam tajam. "Lani dan bayi kami adalah segalanya. Kalau aku harus kehilangan semuanya untuk mereka, aku rela."Dandi menghela napas panjang. Dia tahu percuma berdebat dengan Alzam yang keras kepala. "Kep, aku ngerti ini sulit. Tapi, kalau kamu mau dia baik-baik saja, kamu harus sabar. Kamu nggak bisa gegabah.""Tiga hari aku habiskan waktu sama Agna, tapi kepalaku cuma penu
Deru mesin mobil terdengar halus, namun atmosfer di dalamnya penuh ketegangan yang tidak kasatmata. Agna duduk di sebelah Alzam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Make up-nya tebal menggambarkan kesempurnaan yang selalu ia tuntut dari dirinya sendiri, tapi matanya menyiratkan kekecewaan. Alzam mengemudi dengan tatapan lurus ke depan, kedua tangannya mantap di atas setir."Enak ya, pagi-pagi sudah di rumah itu," sindir Agna tanpa menoleh.Alzam tidak menjawab. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap fokus pada jalanan yang mulai ramai.""Bahkan sepertinya kamu tak sabar menunggu Subuh." " lanjut Agna dengan nada yang lebih tajam."Kok diam? Atau jangan-jangan terlalu capek, ya setelah bermesraan?"Alzam menghela napas panjang, mencoba menahan amarah yang membuncah. "Kamu sudah tahu jawabannya, Agna. Jangan buat ini menjadi rumit." Alzam memang mengerti dari tadi dia datang lewat rumahnya, tatapan mata Agna selalu tertuju pada rambutnya yang masih basah.Agna tertawa kecil, dingin. "Rumit?
Alzam berdiri di balik pintu, tangan kanannya menggenggam erat pegangan pintu. Ia tidak langsung membukanya lebar, hanya menyisakan celah kecil untuk melihat siapa yang datang. Aneh jika tiba-tiba saja ada orang datang bertamu ke sini yang diketahui orang-orang sini ini tempat tinggalnya Lani setelah Alzam menikah. Ternyata Dandi, sahabat satu markasnya, dan seorang perempuan muda yang Alzam kenali sebagai Hanum."Assalamualikum. Aku tahu kau di sini, Zam," suara berat Dandi terdengar dari luar.Alzam menarik napas dalam-dalam sambil menjawab salam. Dia memutar kenop pintu dengan perlahan namun tidak keluar sepenuhnya. "Masuk," ucapnya pelan, sambil melirik Lani di dapur. Ia memberi isyarat kepada Dandi untuk cepat masuk agar tidak ada orang lain yang melihat. Dan langsung membawa mereka melewati ruang tamu yang terkesan sederhana.Dandi dan Hanum melangkah masuk ke dalam rumah kecil itu. Hanum menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang samar. Pemandangan yang disuguhkan membuat
Deru mesin mobil terdengar halus, namun atmosfer di dalamnya penuh ketegangan yang tidak kasatmata. Agna duduk di sebelah Alzam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Make up-nya tebal menggambarkan kesempurnaan yang selalu ia tuntut dari dirinya sendiri, tapi matanya menyiratkan kekecewaan. Alzam mengemudi dengan tatapan lurus ke depan, kedua tangannya mantap di atas setir."Enak ya, pagi-pagi sudah di rumah itu," sindir Agna tanpa menoleh.Alzam tidak menjawab. Rahangnya mengeras, tetapi ia tetap fokus pada jalanan yang mulai ramai.""Bahkan sepertinya kamu tak sabar menunggu Subuh." " lanjut Agna dengan nada yang lebih tajam."Kok diam? Atau jangan-jangan terlalu capek, ya setelah bermesraan?"Alzam menghela napas panjang, mencoba menahan amarah yang membuncah. "Kamu sudah tahu jawabannya, Agna. Jangan buat ini menjadi rumit." Alzam memang mengerti dari tadi dia datang lewat rumahnya, tatapan mata Agna selalu tertuju pada rambutnya yang masih basah.Agna tertawa kecil, dingin. "Rumit?
"Aku nggak ngerti kamu, Kep," Dandi membuka pembicaraan dengan suara berat, memecah kesunyian yang terasa menekan di antara mereka bertiga setelah kepergian Lani. "Kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan di sini?"Alzam mendengus pelan. "Dandi, aku nggak peduli lagi. Semua ini nggak ada artinya kalau aku kehilangan Lani. Tiga hari ini tak bersamanya saja, hatiku seperti ini. Rasanya aku tak sanggup."Hanum, yang berdiri di samping Dandi, memandang Alzam dengan cemas. "Kep, kita nggak bilang ini karena nggak ngerti perasaanmu. Tapi kamu harus mikir matang. Karirmu, masa depanmu...""Hanum, masa depanku itu dia," potong Alzam tajam. "Lani dan bayi kami adalah segalanya. Kalau aku harus kehilangan semuanya untuk mereka, aku rela."Dandi menghela napas panjang. Dia tahu percuma berdebat dengan Alzam yang keras kepala. "Kep, aku ngerti ini sulit. Tapi, kalau kamu mau dia baik-baik saja, kamu harus sabar. Kamu nggak bisa gegabah.""Tiga hari aku habiskan waktu sama Agna, tapi kepalaku cuma penu
Suasana riuh rendah terdengar di sebuah kafe yang ramai dikunjungi mahasiswa. Meja-meja penuh dengan gelas kopi setengah kosong dan laptop menyala. Alzam duduk di salah satu sudut kafe, matanya terus mengawasi seseorang yang duduk bersama temannya di meja seberang.Lani, dengan hijab krem dengan terusan berbunga kecil senada, terlihat tertawa kecil mendengar cerita Dita, sahabatnya. Dia mengenakan cardigan yang santai, namun tetap terlihat manis. Alzam memalingkan pandangan sesaat, lalu menghela napas panjang. Tangannya mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Lani.Di meja seberang, Lani mengangkat ponselnya dengan raut wajah bingung mencari keberadaan Alzam."Assalamualikum bidadariku!"Lani tak dapat menyembunyikan pias di pipinya yang putih dan mendadak jadi bersemu. Dita yang memperhatikannya hanya berdehem. Lalu emnunjukkan telunjuknya ke sebrang, hinggah Lani tau kalau Alzam memang di sana."Sudah tiga hari ini aku bersamanya," suara Alzam terdengar lirih namun penuh emosi di sebe
Pagi itu, langit masih biru jernih saat Alzam keluar dari rumah bersama Agna. Langkahnya terasa berat, namun wajahnya tetap dipaksakan tenang. Di sebelahnya, Agna mengenakan gaun formal dengan potongan rapi, dan senyum kecil menghiasi wajahnya. Sikapnya begitu berbeda; terlihat penuh perhatian, bahkan tangannya sempat menyentuh lengan Alzam saat mereka menuju mobil."Nanti kita mampir sarapan duluh, ya Mas?" Alzam hanya mengangguk singkat, tidak ada kata yang terucap. Ia membuka pintu mobil untuk Agna, lalu melirik ke sebelah untuk memastikan melihat Lani walau dia tau dia tak dapat melihatnya. Maafkan aku, Lani. Aku justru bersamanya pergi, sedangkana kamu hari ini juga waktunya kuliah.Sementara Lani yang mau keluar, menahan langkahnya saat melihat semua itu. Dia tidak ingin melihat tatapan tajam Agna yang penuh benci padanya. Wajah Lani terlihat pucat, dan tatapannya begitu hampa, seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti. Dia merasakan sesuatu menghantam dadanya, tapi ia hanya bis
Alzam mengulurkan tangan, menggenggam tangan Lani yang dingin. Mata mereka saling bertaut, seolah berbicara dalam diam. Lani menatap Alzam, menemukan sesuatu yang tidak pernah dia pahami sepenuhnya-penyesalan, ketakutan, dan pengharapan yang tak bisa terucap. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun dia menahannya agar tidak jatuh."Ayo pergi, Nak." Kembali Wagimin menandaskan perkataanya. Alzam makin menggenggam tangan Lani erat. Bahkan merengkuhnya. Hanya tatapan mata mereka yang bicara dalam batyang buram.Melihat itu, Agna yang berdiri di dekat pintu tak lagi bisa menahan diri. Dengan langkah tergesa, ia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu keras-keras. Suara gemeretak itu menggema, membuat suasana di luar semakin mencekam. Semua mata kini tertuju pada Alzam dan Lani, yang masih berdiri dalam kebisuan yang menyakitkan."Pak Wagimin," Thoriq memecah keheningan dengan suara beratnya, "Mari kita bicarakan ini di rumah Lani. Lagipula sudah siang, keburu ada orang lewa
Pagi itu, ketukan keras menggema di pintu rumah Alzam. Agna yang merasa malam pertamanya telah dirampas, berjalan dengan wajah penuh amarah menuju pintu. Ia menarik gagangnya dengan kasar, mendapati seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu dengan wajah gelap. Sementara Mbok Sarem yang tadi hendak ke dalam rumah alzam, mengurungkan niatnya ke sana dan berjalan ke rumah yang ditempati Lani kembali, lalu menggedor kamar Lani. Dia tau, semalam Alzam di sana karena dia mendapati Alzam yang bangun sebelum Subuh sudah melaksanakan tahajud di mushola kecil mereka.“Siapa Anda?” tanya Agna tajam. Menelisik pria berkulit gelap ituPria itu adalah Wagimin, ayah Lani. Tanpa basa-basi, ia melontarkan pertanyaan tajam, “Mana Alzam? Panggil dia keluar!”Agna mengerutkan kening, merasa diremehkan di rumahnya sendiri. “Siapa Anda, berani-beraninya berteriak di sini? Alzam suami saya. Dan saya tidak suka ada orang asing memanggilnya dengan tak sopan seperti ini," ucapnya dengan tatap menyelidik.
Tapi ketika Alzam masuk kamar, Agna langsung sadar ada yang tidak beres. Wajah suaminya terlihat jauh, seperti tidak benar-benar berada di sana. Ia tidak memandanginya seperti seorang pengantin baru yang tak sabar menyentuh pasangannya."Mas," panggil Agna, mencoba menarik perhatiannya. "Aku sudah menunggu. Ayo, duduk di sini."Alzam menoleh sekilas, lalu mengangguk lemah. Ia berjalan mendekat, duduk di pinggir tempat tidur, namun tak menyentuh Agna sama sekali. Dia malah terkesan ingin pergi dari kamar itu."Agna,.." Alzam ingin mengungkapkan sesuatu, namun dia tak bisa mengutarakannya. Bahkan dia merasa risih saat Agna melepas jubahnya dan hanya memakai baju minim dengan dada yang terexpos."Kamu kenapa, sih?" tanya Agna, suaranya mulai kesal. "Aku sudah berdandan untukmu, tapi kamu malah begini. Apa aku kurang menarik untukmu?""Bukan itu," jawab Alzam singkat, tanpa menoleh. Ia menunduk, tangannya saling meremas, seolah sedang menahan sesuatu."Lalu apa? Apa ada yang kamu sembunyi
Alzam tak bisa menahan diri. Begitu mendengar kabar dari umminya, ia langsung memeluk Lani erat-erat, seperti ingin memastikan keberadaan wanita itu dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Tangannya yang besar dan kokoh menggenggam wajah Lani, menatapnya penuh rasa haru. Menangkup wajah cantik di depannya dengan menciuminya."Lani... aku tak tahu harus berkata apa," ucap Alzam dengan suara bergetar. Terakhir, Ia mencium kening Lani dengan lembut, mengabaikan tatapan abi dan umminya yang masih berada di ruangan itu. "Terimakasih!"Lani tersenyum samar, matanya sedikit basah. "Mas, ..." Dia memang tidak mengira Alzam akan sebahagia itu. "Aku akan menjaga kalian, Lani. Kamu dan bayi kita ini." Alzam menunduk, perlahan mencium perut Lani yang masih rata."Alzam," tegur Thoriq dengan bersitatap dengan Salma yang juga menyunggingkan senyumnya, mengingatkan putranya bahwa mereka tidak sedang sendirian."Oh, maaf, Bi," ujar Alzam buru-buru, mundur sedikit dengan wajah yang sedikit memerah.