Assalamu'alaikum Selamat pagi. Tetap semangat puasanya ya. Ikan hiu keselek, GEM-nya dong Kak🌷😄
Luna tak sempat berteriak karena kaget. Begitu cepat sebuah tangan menutup mulutnya."Kurang ajar kamu ya! Untuk apa di dekat kamarku? Mau mencuri dengar? Siapa kamu?! "Emely mendorong tubuh Luna hingga tersungkur."Ma-maaf, aku hanya penasaran mengapa semua menjadi tegang," timpal Luna menahan amarahnya."Budak tak sopan! Kamu harus diajarkan etika! Tak boleh ada yang menguping di sini!""Aku akan mengingatnya, Nyonya," ujar Luna datar."Awas saja jika kamu berani mengulanginya lagi. Sekarang bersihkan kamarku! Ganti sprainya. Cepat!" perintah Emely.Luna menurut. Ia akan mencari tahu, bagaimana kalung itu ada di kamar wanita keriting ini?Luna begitu serius merapikan bantal, pakaian, dan wine yang berhamburan, tergeletak begitu saja. Emely duduk di kursi, mengawasi Luna yang sedang bek
Razzor menatap kedua bola mata Luna dan menyapu setiap sisi wajah wanita itu dengan pandangannya. Kedua netranya seperti enggan untuk berkedip. Ia seperti melihat masa lalu tapi juga melihat masa sekarang secara bersamaan. Perlahan, Razzor menegakkan tubuh Luna."Dari mana asalmu?!""Desa Bunut, Tuan," jawab Luna menurunkan kembali penutup wajahnya.Ia berharap monster di depannya itu mulai mendekati umpannya. Luna berpura-pura merapikan hijab di kepalanya, merasakan belati kecilnya masih bertengger kuat. Jiwanya sudah siap."Bagaimana bisa ada luka cakar di wajahmu?" selidik Razzor dengan suara berat.Luna cukup terkejut. Rupanya Razzor mampu membedakan luka cakaran dan luka belati. Padahal ia sempat melihat di cermin, luka itu menganga lebar. Kuku-kuku Stella benar-benar sangat tajam seperti diasah."Sa-saya diadu oleh Tuan Baron. Sa
Bayangan kekejaman suaminya saat membunuh pamannya dan Mulan, selalu menjadi penghias kelopak matanya. Sofia sangat marah tapi ia tak mampu berkutik. Ada jiwa yang harus ia selamatkan dan lindungi. Tuan Aros, kesayangannya."Terus saja kau memojokkanku. Kau yang lebih dulu membuat semuanya jadi runyam!" sentak Razzor.Sofia langsung diam. Memilih menghindari perdebatan."Ada apa kau memanggilku?" lanjut Sofia setelah sejenak tak ada suara di antara mereka."Untuk mengabarimu secara langsung bahwa belasan anak buah istana ini hancur terpanggang di dalam sebuah villa. Malam ini, aku akan mencari tahu. Menurutmu siapa pelakunya? Apa kamu melakukan kecurangan? Bisa jadi musuh judimu ingin balas dendam dan akan mulai merongrong tempat ini.""Ccchhh ... mengapa kamu menuduhku? Harusnya kamu tanya kepada dirimu sendiri. Kejahatan apa saja yang telah kamu lakukan?
Derrrrttt .... Ponsel Ratih berdering. Panggilan tanpa nomor? Ia terus mengabaikannya. Tengah malam begini, bagaimana ada orang yang menelponnya, tanpa nomor pula. Ratih kembali tidur. Deeerrt .... "Mungkin penting, Ma, angkat aja," lirih Nindi dalam kantuknya. Sejak keluar dari rumah sakit, gadis itu selalu tidur dengan ibunya. Deeerrrt .... Kembali ponsel itu bergetar dan berdering. Ratih jadi sangat kesal. Ia langsung meraih benda itu, mematikannya dengan cepat lalu kembali menutup mata. Tak lama, tiba-tiba terdengar pintu rumah itu digedor dengan sangat kencang dan keras. Ratih terperanjat. Nindi bangkit dengan wajah ketakutan sedangkan Carla melompat ke tubuh kakaknya. Ia sudah berlari dari kamarnya menuju kamar Ratih. "Aaghh ... aggghh!" gagap Carla yang sudah bisu. "Perampok kali, Ma," ujar Nindi. "Kita telpon polisi! Tunggu. Mama nyalain hp dulu," ucap Ratih mengusap matanya. Duaaar! Ketiga wanita itu terperanjat bahkan ponsel yang di tangan Ratih terja
Sofia sedang menyuap Farid. Anak laki-laki itu tak mau makan. Sedari tadi, Farid menutup mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepala."Ayo dong sayang, makanlah. Ini adalah daging sapi terbaik. Wagyu. Kamu tak tahu, ini sangat enak!"Sofia kembali menyodorkan sendok berisi nasi campur menu semur daging. Sofia mencicipi kelenturan daging itu, sudah sangat empuk."Kenapa Tuan Aros tak suka ya?" gumamnya meletakkan nasi itu."Mungkin dia butuh menu yang lebih sederhana seperti ini, Queen," ujar Luna masuk ke kamar itu dengan membawa nasi dan lauk telur dadar. Ia mendapatkannya dari dapur bawah.Cukup lelah rasanya seharian ia mengelilingi tempat itu. Namun sayang, dia belum menemukan dimana pintu keluarnya. Bahkan ia tak melihat lift yang aktif. Seolah Razzor benar-benar merancang bangunan itu tanpa pintu."Itu kan menu buat pelayan. Jangan
Di sisi lain, Yudha memarkir mobilnya di halaman kediaman ibunya. Matanya menangkap beberapa telapak kaki di rumput halaman itu. "Kenapa ada tapak kaki sebesar ini ya? Ahh mungkin tukang kebun yang pakai sepatu bot," lirih Yudha sendirian. Yudha mengetuk pintu. Nindi membukanya. "Mana Mama?" "Pergi," jawab Nindi terlihat kaku. "Tante Carla ada di rumah?" lanjut Yudha bertanya. Nindi menggeleng. "Kenapa tegang begitu? Aku mau ajakin Mama ke rumah Ratna. Dia gak mau angkat telpon dariku. Sudah disamperin, tetap gak dibukain pintu," cerocos Yudha terus melangkah ke arah kamar Ratih. "Mungkin Ratna lagi gak mau diganggu," sahut Nindi. Gadis itu pun kembali melanjutkan aktifitasnya, bermain game di ruang tengah. "Kamu kapan mau keluar lihat dunia!? Sampai kapan mau begini terus? Mungkin aku gak bisa terus-terusan biayai hidup kalian. Siapa yang tahu, aku gak akan pulang untuk selamanya," lirih Yudha. Nindi melepas ponsel dan menatap serius ke arah kakaknya. "Yah. Hari i
Istana Razzore"Aku ... aku membelinya bersama kalung ini di sebuah pasar lelang berlian," jawab Razzor berusaha tenang menunjukkan kalung yang lain daei kantungnya."Bohong!" teriak Sofia."Sungguh!" jawab Razzor.Sofia menggeleng dan masih terisak. Razzor melirik ke dalam kamarnya. Terlihat kamarnya berantakan."Kenapa kamarku seperti kapal pecah?!" selidik Razzor sedikit mendorong tubuh istrinya."Kamu harus mengeluarkan perhiasanku yang lain. Dokumenku dan semua kenanganku di sana! Keluarkan sekarang!" pekik Sofia.Razzor pura-pura tidak mengerti. Ekor matanya melihat lukisan tengkorak di dekat ranjangnya. Terlihat masih kokoh dan rapi."Kamu sedang berbicara apa? Kalau kamu menginginkan kalung seperti itu. Aku akan meminta orang membuatnya dengan model yang sama. Berikan
"A-aaku, aku ....""Tapi sepertinya kamu sedang melakukan ritual keagamaan. Aku sedikit tahu. Apa yang kamu lakukan itu seperti yang pada umumnya dilakukan umat muslim."Luna mengangguk. Untuk perkara agama, ia takkan berdusta."Jadi kamu muslim?""Iya, Queen. Saya muslimah.""Wow ... lalu bagaimana bisa kamu bisa di sini? Di sini tak ada agama.""Untuk menjemput kehidupan.""Di sini, kamu takkan dinikahi."Untuk kedua kalinya Luna mengangguk.Sofia memasukkan kedua bibirnya ke dalam mulutnya. Cukup aneh tapi ia tak mau ambil pikir."Ngomong-ngomong, bagaimana sekarang kalung itu berada di tanganmu, Queen?" pancing Luna."Ini milikku. Kalung ini hilang tujuh tahun lalu. Razzor membelinya di lelang perhiasan. Pastilah pencurinya menj
Kini villa itu sudah sepi, bahkan tempat sesepi itu tidak memiliki penjaga. Aleksei mondar-mandir tak karuan. Sedari tadi dia berusaha sibuk, merapikan hal yang remeh temeh padahal penjaga catring sudah merapikan semuanya. Sumpah demi apa pun, jantungnya dari tadi berdegup kencang seperti ditabuh keras-keras. Ia mencari apa lagi yang dia bisa kerjakan asal tidak masuk ke dalam kamar itu. Bahkan melihat ke arah pintu kamar saja dia tidak sanggup karena dia tahu, di dalam sana ada seseorang yang menjadi pujaannya seumur hidup. "Sial, aku harus apa lagi?!" Aleksei melihat jam dinding, dan terlihat sudah jam dua dini hari. Semua sudah rapi, sudah pada di tempatnya. Pria itu kembali mondar mandir. Menyesal dia menyimpan laptop dan ponselnya di kamar tempat Luna berada. "Ya, aku tahu," ucap Aleksei sendirian membuka laci dan membungkuk mencari gunting tanaman dan sabit. "Aku bersihkan taman saja," desisnya mantap. Crinnnng!!! Kedua benda itu jatuh karena pria itu terkejut luar biasa seba
"Maaf, aku mengganggu waktumu," ucap Yudha di depan Aleksei yang memperbaiki posisi kacamata hitamnya. Mereka bertemu di sebuah cafe di pinggir pantai. Ombak di sore hari terlihat lebih besar. "Tidak masalah. Maaf juga aku harus membuatmu menunggu. Aku benar-benar harus meeting tadi."Yudha tersenyum lalu menegak kopinya. Ia mengeluarkan rokok dan menyodorkannya pada Aleksei. "Rokok favoritmu," ucap Yudha menawarkan namun yang cukup membuat Aleksei terkejut, Yudha pun menyalakan putung rokok itu untuk dirinya sendiri. "Sejak kapan kau merokok?""Sejak tidak ada paru-paru lain yang kujaga," jawab Yudha santai menyesap asap. Aleksei hanya menoleh lalu membuang wajah, memilih menatap ombak yang berdebur. "Kau pasti tidak merokok lagi sekarang, karena ada paru-paru lain yang kau jaga, bukan?" lanjut Yudha. Aleksei kebingungan dan salah tingkah. Ia meraih rokok itu lalu akan membakarnya. Yudha menahan tangan pria itu. "Tidak perlu. Its oke. Aku tahu, kau tidak merokok lagi sejak operas
Aleksei merasa seperti sedang diguyur berton-ton tumpukan bunga. Harum, lembut tapi terlalu banyak. Ia tidak bisa bernapas. Pria itu melihat ke bawah, ke samping, bahkan ia harus mendongak ke atas untuk mencari udara. Tak .... Tak .... Langkah Luna mendekat, dan itu membuat Aleksei refleks mundur. Wanita itu justru tersenyum melihat ekspresi Aleksei sekaget itu. "Jangan main-main kamu, Angel. Kita sudah berumur, jangan bicara yang tidak-tidak," ucap Aleksei mengusap wajahnya. "Kenapa memangnya? Kalau kita bersama terus, tanpa ada hal yang urgent, jatuhnya fitnah, lo!""Untuk bertemu denganmu meski hanya satu menit, itu sudah ranah urgent."Luna berhenti dan justru menutup mulutnya tertawa. "Ya sudah, mari kita menikah supaya tiap menit bisa bertemu," goda Luna. "Memang pandai sekali kamu mempermainkan hati," ucap Aleksei menghembuskan kasar napasnya. "Jadi kau menolakku? Tak ingin menikahiku?""Eiih?!"Aleksei hanya melongo. Dia seperti tidak menapak lagi di bumi mendengar ucap
Dua minggu kemudian .... "Katakan padaku, kenapa Angel tidak pernah datang mengunjungiku?" tanya Aleksei ketika Daniel sedang memeriksa tensi darahnya. "Syukurlah, semuanya berjalan lancar dan kondisi Anda juga semakin baik, Tuan.""Jangan alihkan pembicaraan, katakan kemana Angel? Apa dia baik-baik saja?" "Ya, Nyonya Angel baik-baik saja. Jika transplantasi Anda berhasil, Anda akan bisa melihatnya lagi meski mungkin tidak seterang penglihatan Anda sebelumnya.""Aku lega dia baik-baik saja. Tapi kenapa dia tidak mendatangiku sejak aku operasi? Wanita itu," gerutu Aleksei mengelus perban di matanya. "Perban Anda sudah bisa dibuka. Apa Anda siap?""Tolong panggilkan aku Angel, saat mataku terbuka, aku ingin melihat dia pertama kali."Dokter Daniel terenyuh mendengar semua ucapan Aleksei. Jelas sekali dari getaran suara pria itu, Aleksei benar-benar sangat mencintai sosok Angel Gracelia. "Maaf, Tuan. Nyonya Angel belum bisa menemui Anda kemari. Tapi tidak masalah, Anda yang bisa mene
"Bagaimana keadaannya?" tanya Luna dengan wajah tegang. "Selama Anda pergi, kami sudah tiga kali menyuntikkan obat penahan rasa sakit dan antibiotik.""Suntikan cairan ini pada bahu Aleksei."Luna menyerahkan tabung itu pada dokter Daniel. Pria itu melihat benda yang di tangannya itu lamat-lamat. "Cairan apa ini? Dingin sekali sampai menembus tulang.""Penawar racun itu. Cepat suntikan sekarang, Daniel."Dokter Daniel mengangguk dan matanya menangkap keberadaan Farid yang sedang dibersihkan lukanya. Nampak luka itu jauh lebih segar, tidak bengkak lagi dan tidak hitam. Sudah seperti daging biasa. "Bagaimana itu terjadi?""Racun dan penawar itu diciptakan oleh sosok yang paling hebat. Sudah, suntikan segera dan agar kau tenang kembali bekerja."Tak menunggu lagi, dokter yang berpostur tinggi itu langsung bergegas menuju ruang perawatan Aleksei. "Siapa?! Angel, kau kah itu?" tanya Aleksei terkejut saat terdengar suara pintu terbuka. "Bukan, Tuan. Saya, Daniel. Bagaimana perasaan Anda
Helena menggeleng sembari menutup mulutnya yang sudah tertutup cadar. "Helena! Berikan sandi itu! Kasihan putraku kesakitan seperti itu. Apa pun yang kau inginkan dariku, aku akan memberikannya!"Helena terus menggeleng dan membuat Luna semakin putus asa. Gadis itu justru mundur, mundur dan berbalik arah, seperti melarikan diri. Kakinya berlari sangat kencang masuk ke dalam rumahnya. "Helena! Helena!!!" teriak Luna sekencang-kencangnya. Wanita itu sampai memukul tanah tempatnya mengesot hingga kotor pakaiannya. Berdentam tanah itu karena amukan Luna. Suara tangisan Luna menyeruak penuh ketakutan dan kemarahan. "Wanita sialan! Awas kau! Akan kumakan kau hidup-hidup!" seru Eldor sudah berdiri akan mengejar Helena tapi langkahnya tertahan melihat Farid muntah darah. Silsilia sedari tadi menahan pemuda itu agar tidak terlalu mengamuk sebab banyak juga pot bunga, dan batu di sekitar tempat itu. "Oooh demi leluhur Razoore! Aaah sial!" Eldor memukul kosong di udara. Urat-urat tangannya ti
Di dalam mobil, Karmila masih diam. Sama sekali tak bicara setelah beberapa menit berada di samping Yudha yang saat ini fokus menyetir."Luna tidak mau rujuk," ucap Yudha tiba-tiba."Oh ya? Hmm ... mungkin dia butuh lebih banyak waktu lagi," sambut Karmila salah tingkah. Sedari tadi pikirannya dipenuhi dengan banyak pertimbangan. "Entahlah. Dia bukan jenis wanita yang mudah goyah setelah mengambil keputusan," timpal Yudha mengembuskan napasnya kasar. "Jadi kau menyesal telah menceraikannya?""Ya. Aku terlalu mengikuti emosiku. Aku tidak memandang jernih setiap sisi masalah. Menyesal, aku sangat menyesal."Karmila tidak berkata apa-apa lagi. Ia pernah menyerah, lalu kembali mencoba dan sekarang hempas lagi. Suasana menjadi hening kembali. Yudha menoleh sekilas pada Karmila yang terlihat kosong. "Tadi, Farid makan buah-buahan yang kamu bawa. Dia memang suka sekali dengan anggur, sama seperti ibunya," lanjut Yudha kembali bicara mencairkan suasana. "Syukurlah. Dia memang pemuda yang b
"Nona! Nooooon!" teriak Rumayah menggedor pintu Helena. "Kenapa, Mbok?!"Helena keluar tetap menggunakan hijabnya namun kali ini, ia menggunakan cadarnya. Bekas cakaran Sofia belum bisa dihilangkan meskipun ia rutin merawatnya. "Ada ... ada banyak orang yang sedang nyari Nona! Salah satunya, pria besar yang dulu pernah ke sini!"Helena terhenyak sebentar lalu memperat simpul tali cadarnya. "Tenanglah Mbok. Yang akan terjadi, biarlah terjadi."Helena melangkah tanpa ragu. Wajahnya yang rusak adalah hal yang membuatnya tidak memiliki rasa takut lagi. Bahkan, beberapa kali ia berpikir untuk mengakhiri saja hidupnya tapi dia tahu, itu hal yang paling dibenci Allah. Setidaknya, ia tidak ingin mati bunuh diri, lebih baik dibunuh saja. Gadis itu sudah pada puncak putus asa. "Katakan pada Amang, jangan keluar, jangan ikut campur. Ini urusanku. Apa pun yang terjadi padaku, kalian jangan terlibat," ujar Helena datar. "Tapi, Non ....""Tinggallah di sini, biar aku sendiri yang menghadapi mer
Farid mendorong kursi roda yang diduduki Luna dengan sangat tergesa-gesa. "Kami sudah memindahkannya ke dalam ruangan steril, tidak bisa dimasuki kecuali tenaga medis yang berpakaian lengkap," ucap dokter Daniel sembari terus melangkah cepat. "Kau harus melakukan yang terbaik, Daniel. Aku akan membayar berapa pun jumlah yang kau butuhkan.""Jangan dipikirkan, Nyonya. Anda bisa menemuinya. Kami memberikan waktu lima menit. Sekarang, pakailah alat pelindung ini," ucap Daniel sampai di sebuah ruangan kecil. Luna memakai baju pelindung dan masker juga penutup kepala lengkap. Daniel mempersilakannya masuk dan menunjukkannya jam tangan sebagai tanda dia tidak memiliki waktu yang banyak. "Apakah mereka akan baik-baik saja?" tanya Farid mengintip dari kaca. Terlihat Luna mendekati Aleksei dengan memutar kursi rodanya dengan cepat. "Aku harap semua baik-baik saja," ujar Daniel berdebar. Untuk pertama kali dia menangani kasus sedahsyat itu. Ada bakteri jahat yang aneh dan cepat sekali berege