MasukIn a desperate quest to prove herself, Princess Amira takes on a mission to secure peace for her kingdom through a marriage with a rival kingdom but is met with failure . And her failure led her to be captured by Jonathan, the ruthless Alpha King of Berg Kingdom—her father's sworn enemy and Amira is reduced to a slave. Fueled by hatred and resentment, Amira vows to take revenge, but the Moon Goddess has other plans. Throwing them together in unlikely situations, sparks fly between Amira and Jonathan, leaving her torn between loyalty to her kingdom and their forbidden love. With lurking secrets from the past threatening to tear them apart, Amira must make an impossible choice. Will she prioritize her kingdom's future or surrender to the alpha who holds her heart captive?"
Lihat lebih banyakMalam sudah larut, pukul sepuluh malam, Chu Nan baru saja keluar dari kantornya.
Dia menatap ke atas, melihat langit yang gelap pekat dan mobil-mobil di sekitarnya. Jalanan yang terang benderang namun sepi, suasana itu semakin membuatnya merasa tertekan. Ekspresinya menunjukkan senyum yang seakan-akan tidak tulus, penuh keputusasaan dan kesedihan. Kota Huacheng, meskipun tidak sebanding dengan Kota Modu, tingkat konsumsi dan harga barang di sini hampir tidak ada bedanya. Di kota besar seperti ini, seseorang merasa begitu kecil, seperti semut yang berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup di tengah tekanan kota ini. Tak berdaya dan penuh keputusasaan. Saat kuliah dulu, dia punya harapan indah tentang dunia, dan yakin bisa menunjukkan kemampuannya di kota ini, mewujudkan impian-impian besarnya. Namun kenyataan keras di dunia kerja menghancurkan semangat itu. Aturan di universitas dan dunia nyata sangat berbeda. Begitu masuk dunia kerja, Chu Nan bukan lagi seorang pahlawan, seperti yang dia rasakan saat menjadi siswa populer yang dikejar-kejar oleh para gadis di kampus. Namun sekarang, di kota Huacheng ini, dia hanya bisa bertahan hidup dengan susah payah. Tanpa latar belakang, tanpa uang, tanpa status, bahkan jika dia sangat berbakat, untuk bangkit kembali hampir mustahil. Beberapa orang lahir sebagai anak orang kaya, sudah berada di posisi puncak yang dianggap titik akhir bagi orang biasa. Namun titik akhir mereka justru menjadi titik awal bagi orang lain. Artinya, tanpa latar belakang, kekuatan, atau status, di kota ini, seseorang bahkan tidak lebih baik dari hewan peliharaan keluarga orang kaya. Ding-ling-ling— Tiba-tiba, bunyi telepon menggema. Melihat nama bos yang tertera di layar, Chu Nan tersenyum kecut. Setelah mengangkat telepon, sepertinya bahkan air liur dari bosnya bisa terdengar. "Chu Nan, proposal yang sudah kuberikan padamu harus selesai! Segera! Besok harus sudah ada laporan untukku!" "Jika investor kali ini masih tidak puas, kamu tahu akibatnya! Kalau tidak bisa, kamu bisa keluar!" Setelah memberikan perintah, telepon langsung dimatikan. Punggung Chu Nan yang sepi dan sendirian itu seakan mencerminkan keadaan banyak orang di zaman ini, tertekan oleh pekerjaan, khawatir tentang kehidupan. Saat ini, dia merasa seperti anjing liar yang kehilangan semangat hidup, duduk lemas di halte bus menunggu datangnya bus. Wajahnya terlihat murung, atau lebih tepatnya hatinya sudah mati rasa, terbiasa dengan kenyataan ini, mungkin begitulah hidup. Tanpa latar belakang, tanpa kekuatan, memang sudah seharusnya seperti ini. Orang tuanya sudah pensiun. Dia yang harus menanggung hidup keluarga. Setiap kali orang tuanya menelpon, dia selalu berusaha menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, tidak ingin mereka khawatir. Namun, kenyataannya, dia sudah terlalu tertekan oleh kota ini. Orang tuanya pun sering menanyakan kapan dia akan punya pacar, berharap dia bisa segera menikah dan memberi mereka cucu. Tentunya, Chu Nan selalu hanya bisa menjawab dengan seadanya. Dengan gaji yang dia peroleh, untuk membeli rumah di Huacheng, bahkan hanya untuk uang muka saja, dibutuhkan sekitar tujuh ratus ribu yuan, yang berarti dia harus bekerja keras selama puluhan tahun. Meskipun keluarganya masih punya sedikit tabungan, itu juga tidak cukup. Setidaknya dia harus berjuang tujuh atau delapan tahun lagi. Kota ini memang kejam. Tujuh ratus ribu hanya cukup untuk uang muka rumah kecil di pinggiran kota. "Hidup seperti ini bukan yang kita inginkan." "Apakah aku harus menguras tabungan terakhir orang tuaku untuk hidup seperti ini?" Chu Nan tidak terima. Hidup seperti ini bukan yang dia impikan, tapi dia tak punya pilihan, karena mungkin ada orang yang nasibnya sudah ditentukan sejak lahir. Jika dia tidak bisa menyelesaikan proposal dengan baik, dia bisa kehilangan pekerjaan, dan saat itu, dia akan semakin terpuruk. Masyarakat memang kejam. Memang benar bahwa setiap usaha akan ada balasannya, namun kadang-kadang usaha itu tidak sebanding dengan hasilnya, dan itu yang paling membuat orang putus asa. DUM— Petir menggelegar, kilat menyambar langit, seolah-olah siang tiba seketika. Sekejap. Hujan deras mengguyur seperti air terjun. Di malam itu, Chu Nan melihat melalui jendela. Hujan yang turun seperti peluru besar semakin mencerminkan suasana hatinya. Orang-orang yang lewat berlarian terburu-buru, mencoba melindungi diri dengan tas kerja dan pakaian mereka. Hati mereka merasakan keputusasaan yang sama dengan Chu Nan. Kadang-kadang hidup memang terasa begitu tak berdaya. --- Setelah sampai di rumah, Chu Nan merasa lelah dan langsung terjatuh ke sofa. Seharian bekerja keras, dia ingin sekali mandi dan tidur dengan nyaman. Namun, itu jelas mustahil. Karena proposal yang harus diselesaikan, dia tidak bisa beristirahat. Jika proposal itu tidak memuaskan, maka pekerjaan ini bisa saja berakhir. Dia menghela napas, membuka laptopnya, meneguk air yang ada di meja, dan kemudian menyesali nasibnya. Namun, sebelum bisa mulai kembali mengerjakan proposalnya, sebuah suara tiba-tiba terdengar. “Ding! Sistem Check-In Dewa berhasil diaktifkan, sedang mengikat host, pengikatan berhasil!” Suara mekanis ini mengganggu pikirannya. Chu Nan terdiam sejenak, bingung melihat sekeliling ruangan, seakan mencari sumber suara. Tak lama, sebuah layar muncul di benaknya, hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri. Host: Chu Nan Tinggi: 180 CM Berat: 55 KG Tabungan: 31,500 yuan Transportasi: Tidak ada Properti Pribadi: Tidak ada Status Perkawinan: Belum menikah Keahlian Khusus: Tidak ada Barang di Gudang: Tidak ada Penilaian Komprehensif: Anda hanyalah seekor semut di kota ini, anak muda, ubahlah takdirmu dengan memulai perjalanan Check-In Dewa yang menakjubkan! Chu Nan menatap layar dengan bingung. Tampaknya ada suara yang mengingatkannya untuk melakukan check-in. Napaknya mulai terengah-engah, wajahnya menunjukkan kegembiraan. Sebagai penggemar web novel, dia sangat tahu apa itu sistem. Pikiran tentang proposal yang harus dia buat langsung terabaikan. Lidahnya terasa kering, dia menelan ludah dan akhirnya tidak bisa menahan diri untuk melakukan check-in. “Ding! Selamat, host berhasil melakukan check-in, mendapatkan satu vila di puncak gunung di Sky Garden!” “Silakan ambil vila tersebut dalam waktu tiga hari.” Sky Garden! Vila di puncak gunung! Chu Nan tertegun, terpaku di sofa, otaknya kosong sejenak. Sky Garden adalah sebuah kompleks perumahan yang penghuninya adalah orang-orang kaya, harga rumah di sana mencapai dua belas ribu yuan per meter persegi. Orang biasa bahkan mungkin seumur hidup tidak mampu membeli satu kamar mandi di sana. Namun vila di puncak gunung itu bahkan lebih mencengangkan, satu vila bisa mencapai lebih dari seratus juta yuan. Hanya dengan melakukan check-in, Chu Nan mendapatkan hadiah yang luar biasa ini! Hadiah yang datang tiba-tiba ini terasa tidak nyata. Apakah ini mimpi? “Surat-surat properti dan bukti terkait telah disimpan di gudang, host dapat mengambil dan memeriksa sendiri.” Sistem kembali memberikan pengingat yang ramah. Dengan sekali gerakan pikiran, sebuah ruang penyimpanan kecil muncul di benak Chu Nan, dan setelah mengeluarkan surat-surat properti dan bukti terkait, dia memeriksanya dan tidak bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak!“I was shocked as well when he requested to see me and then he told me a story about a young boy who had been in love with someone all his life, he watched her grow up into someone he even fell in love more and I was getting honestly invested curious where the conversation was going and then he told me that the boy was him and the girl was Masoma” Jonathan said and Amira’s eyes widened.“SO they had met several times before?” she asked and Jonathan nodded her head.“But since Masoma can’t remember, I guess she has forgotten” Jonathan replied and Amira laughed.“He’s a strong man, he’s trustworthy” she replied and Jonathan nodded.“I sent it to his father the very next day and then we talked. He's like her since he was 15 and his mother had a lot of things to say about him and the way he followed her” Jonathan continued and Amira laughed.‘So we can say that he has been waiting for her?” she asked and Jonathan nodded.“Yes. H’es quite patient you know” Jonathan replied and Amira hummed
“I was shocked as well when he requested to see me and then he told me a story about a young boy who had been in love with someone all his life, he watched her grow up into someone he even fell in love more and I was getting honestly invested curious where the conversation was going and then he told me that the boy was him and the girl was Masoma” Jonathan said and Amira’s eyes widened.“SO they had met several times before?” she asked and Jonathan nodded her head.“But since Masoma can’t remember, I guess she has forgotten” Jonathan replied and Amira laughed.“He’s a strong man, he’s trustworthy” she replied and Jonathan nodded.“I sent it to his father the very next day and then we talked. He's like her since he was 15 and his mother had a lot of things to say about him and the way he followed her” Jonathan continued and Amira laughed.‘So we can say that he has been waiting for her?” she asked and Jonathan nodded.“Yes. H’es quite patient you know” Jonathan replied and Amira hummed
Night had fallen before any of the women in the room decided it was time to go back to their houses. They slowly walked out of the room talking and laughing, their voices filling the ears of everyone around while the rest of them looked on with both respect and healthy envy.“So have you decided how you are going to host the bouquet?” Masoma asked and Amira shrugged.“Well I have no idea yet but we never can tell” she replied rubbing her chin.The Berg kingdom had a lot of traditions, traditions that Amira wanted to bring back, there was an upcoming bouquet where everyone in the kingdom would eat together, dance and laugh together. It was more of aftering bonding kind of festival and event and it was always richly enjoyed and Amira wasn’t about to stop that anything soon but planning it had been proving a little bit hard for her as she wanted to try something different.“You know we’ll always be available to help,” Serena said and Amira smiled.“Yeah, like I would forget that” she rep
Masooma frowned as she slowly dubbed the wound in front of her with care. She had spent a really long time trying to stop the incessant bleeding. The man in front of her had a frown on his face and even though he wasn’t saying anything, his face told her that he was showing great restraint and she knew because she had opted for an herb that stung the blood cells but was the fastest way to stop the bleeding and make it heal.“Can you be more careful?” he finally spoke and Masoma turned to him with a frown.“Careful?” she barked at him, “More like you are the one who needs to be careful because how do you use your sword to very conveniently slice yourself? Weren’t you looking?” she barked back at him and he stared at her speecles.s'I injured myself and you are blaming me?’ he questioned and Masoma was the one who was now speechless. She dropped the herbs in her hands and glared at him.“Who asked me to be careful?” she yelled at him, suddenly irritated.“You injure yourself and you wit
THIRD POVKareem’s hand slowly slid away from the door and he turned to see that the Queen was right, Serena was standing right behind her, based on how she was looking, she had obviously been tricked there as well.“Kareem” she whispered and ehr voice carried so much pain and hurt that it almost m
AMIRA’S POV“Is it ready?” I asked and Elora nodded her head.“Ready my queen” she replied and I smiled mischievously.“They have to settle whatever is wrong today” I said and Elora shook her head.“Hopefully it doesn’t backfire” she commented and I snorted.“More than anything what they both need
THIRD POVSerena closed her eyes as Julianna kept fanning her. She was tired, metally, physically and emotionally. There were a lot of things happening with her but the most important was Kareem’s obstinate decision not to speak to her unless he had no other choice and all of her efforts had prove
I left the Zadok kingdom with the greatest fanfare anyone could leave with. Everyone was both excited and elated to see me go, it was such a beautiful sight and by the time the carriages were rolling out from the gates of the Zadok, I had tears in my eyes and Jonathan merely held my hand tightly an












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.