Saat ini Sagara sedang di sebuah rumah tua yang berada di pinggiran kota cukup jauh dari keramaian. Saat sampai di depan pintu, ada seseorang yang langsung membukakan pintu. Dan Sagara segera masuk. Ternyata di rumah itu, semua anak buah Sagara sedang berkumpul. Mereka langsung menyambut Sagara dengan baik dan mempersilahkan Sagara duduk disebuah kursi. Dan Radit berdiri disamping Sagara. Tepat didepan Sagara sudah ada sebuah meja dimana ada setumpuk koran yang menerbitkan berita tentang dirinya dan Bagas. Sagara membaca salah satunya dan langsung meremas kuat koran itu. “Aku ingin, semua berita ini dimusnahkan. Datangi semua penerbit dan minta mereka untuk menarik berita ini. Berikan mereka uang sebagai imbalan. Jika masih menolak ancam saja. Aku tidak peduli, yang penting semua berita ini hilang.” Lugas Sagara. “Baik Tuan kami akan melakukannya. Anda tenang saja. Dalam 24 jam semua berita ini musnah.” Ucap salah satu anak buah Sagara. Sagara mengangguk, “Pastikan perkataan mu i
Aliika sudah selesai dengan ritual pagi nya. Dan ia benar-benar keramas saat ini. Entah benar atau tidak perkataan Sagara tadi, tapi Aliika merasa ia harus tetap keramas. Jika tidak, seharian ini ia akan terbayang ucapan Sagara. Dengan dress selutut yang longgar dan rambut setengah basah, Aliika keluar dari kamar. Karena ia sudah tidak menemukan keberadaan Sagara dikamar sejak tadi. Pasti Sagara sudah ke ruang makan, bersiap untuk memberi makan cacing di perutnya yang ia panggil bayi itu. “Kak Sagara…” panggil Aliika saat menemukan keberadaan Sagara di meja pantry sedang mengoleskan selai coklat ke roti. “Hai, Sayang. Duduk gih, kita sarapan.” Ajak Sagara yang masih fokus pada rotinya. “Mbak asisten rumah tangga gak masak?” tanya Aliika. “Enggak. Emang sengaja nggak aku suruh masak. Hari ini aku pengen makan roti saja. Kamu juga kan?” Aliika mengangguk mantap, “Kok kak Sagara tahu sih?” Sagara hanya tersenyum. Laki-laki itu memberikan segelas susu ibu hamil rasa coklat kepada A
Hari sudah semakin larut. Separuh acara resepsi sudah dimulai. Gemerlap lampu hias begitu cantik sebagai salah satu dekorasi disana. Aliika sangat menyukainya. Apalagi lokasi pernikahan ini adalah outdoor membuat Aliika bisa melihat bintang bertaburan memancarkan sinar indah malam ini.“Lihatin apa hem?” tanya Sagara yang sudah mengambil duduk disebelah Aliika. Sagara baru saja kembali dari mengambil minuman.“Bintangnya banyak banget Kak.” Aliika mendongak menatap lekat berbagai bintang di langit. “Cantik..” ucap Aliika lagi.“Masih cantik kamu.”Aliika menoleh dan tersenyum, “Kak Sagara makasih ya udah mau nerima aku.”Sagara menatap Aliika dengan intens. Tangannya meraih tangan Aliika dan menggenggamnya.“Aku yang makasih. Karena kamu udah mau berjuang buat aku. Sampai aku menyadari perasaan cinta aku ke kamu.” Tutur Sagara kepada Aliika. Laki-laki itu membelai pipi Aliika.Sagara lalu melepaskan tuxedonya dan memakaikannya di bahu Aliika. Angin malam berhembus cukup kencang. Sagar
Sagara dan Radit memasuki halaman rumah itu dan langsung mendapatkan tatapan heran dari kedua orang disana.“Permisi Tuan, Nona.” Sapa Sagara. Gadis itu bangkit dari duduknya.“Iya. Kalian siapa ya? Mencari siapa?” tanya gadis itu.“Saya Sagara dan ini bawahan saya Radit. Saya ingin menemui Tuan. Apa kita bisa berbicara sebentar?”Sang pria yang merasa dirinya dipanggil itu mengangguk. Kemudian mempersilahkan Sagara dan Radit masuk ke dalam rumah.Sagara dan Radit sudah masuk kerumah sederhana itu. Sang pria menyuruh gadis itu untuk masuk ke kamar agar tidak mendengar pembicaraan mereka. Pria itu takut jika yang dibicarakan hal serius dengan adanya gadis itu malah nanti mengganggu privasi.Gadis itu mengiyakan perkataan pria tadi namun tidak menuju kamar. Ia berdiri di ambang pintu ruang tamu yang terhubung dengan ruang tengah.“Jadi ada apa Tuan ini kemari?”“Sebelumnya saya mohon maaf. Saya kesini ingin membicarakan mengenai kejadian beberapa tahun silam. Kecelakaan yang menewaskan
“Aku sungguh merasa bersalah, Al. Dan rasa itu semakin besar setelah apa yang aku lakukan untuk menebus kesalahan ku ternyata gagal tidak membuahkan hasil.” Ucap Sagara. Air mata mengalir ke pelipisnya karena sedang berbaring.“Sssstt kak Sagara jangan salahin diri sendiri kayak gini. Semua itu bukan atas kemauan kak Sagara. Semuanya terjadi begitu saja. Sudah jangan disesali, semua sudah terlanjur. Toh juga kasus itu sudah beberapa tahun yang lalu dan tidak ada yang mengungkitnya.” Ucap Aliika dengan lembut sambil mengelus rambut Sagara.Sagara memiringkan tubuh dan menyembunyikan wajah di perut Aliika. Memeluk erat perut istrinya itu. Aliika pun kembali diam namun terus mengusap kepala Sagara. Ia merasa kasihan dengan Sagara. Trauma lamanya belum sembuh sempurna.Aliika mencoba untuk menenangkan Sagara dengan lelucon si calon bayi akan mengikuti perasaan Daddynya. Membuat Sagara praktis menghentikan tangisan.Sagara kemudian mengecup perut Aliika beberapa kali. Dan selanjutnya ia ma
Saat ini Aliika tengah menikmati me time di pinggiran kolam renang di rumahnya. Duduk santai di kursi pantai yang telah Aliika lapisi kain empuk untuk memberikan kenyamanan karena faktor kehamilan nya yang mulai membesar.Kacamata sudah bertengger di hidung mancung bak pinocchio itu. Payung untuk menghindari panas juga sudah Aliika bentangkan dengan bantuan dari asisten rumah tangga di rumah nya.Tak lama dari itu Aliika mendengar suara jeritan melengking khas. Aliika tahu persis siapa itu. Suara sopran yang terdengar crack. Tak lain adalah Rara sahabat Aliika.“Al!” teriak Rara.“Apa! Kolam renang Ra.” Balas Aliika ikut berteriak juga.Tak berapa lama suara hentakan dan larian terdengar lebih jelas menandakan jika Rara sudah berada di dekat tempat yang Aliika beritahukan.Rara langsung mendekat dan memeluk Aliika yang masih berbaring di kursi pantai. Aliika kemudian duduk menyamping menghadap Rara yang juga sudah duduk menyamping di kursi pantai yang lain.“Al.. aku kangen banget sam
Aliika berjalan di bandara setelah ia keluar dari mobil yang ia tumpangi dari rumah bersama Sagara. Aliika harus menempuh perjalanan menggunakan mobil menuju bandara karena pesawat pribadi Sagara lepas landas di bandara terdekat rumahnya.Mereka kini sedang berada di bandara tepat lima belas menit sebelum penerbangan, rencananya mereka akan melakukan penerbangan selama kurang lebih satu jam untuk sampai ke Sydney, Australia.Aliika sama sekali tak diperbolehkan untuk membawa barang-barang, jadi semua barang koper, handbag, dan yang lainnya sudah dibawakan oleh ajudan Sagara. Ia hanya membawa sebuah bantal leher dan sebuah bantal untuk ibu hamil.Ini memang sangat mendadak. Bahkan Aliika berpamitan dengan orangtua dan mertuanya lewat telepon saja. Meskipun mendadak Aliika tak dipusingkan dengan tiket, paspor, atau keperluan dokumen penerbangan lainnya.Karena pesawat pribadi jadi tidak perlu itu semua. Mungkin hanya paspor saja itupun jika dibutuhkan. Setelah Sagara mengatakan ingin ho
Aliika memasuki Audi R8 milik Sagara, laki-laki itu berkata ingin mengajak Aliika ke suatu tempat untuk berwisata. Tentu saja Aliika tertarik bahkan terlihat sangat senang dengan wacana tersebut.Kapanlagi mendapatkan tour di luar negeri dengan pemandu wisata tampan?Tepat pukul 8 pagi Sagara bahkan sudah melajukan mobil menyusuri jalanan kota Sydney. Semerbak angin musim dingin menyapu kulit wajah Aliika melalui jendela mobil Sagara. Membuat Aliika memejamkan mata sambil merentangkan salah satu tangannya keluar.“Aliika!” pekik Sagara membuat sang empu nama terpenjat. “Jangan mengeluarkan tanganmu dari mobil!”“Ha?” Aliika menatap cengo sembari menetralkan detak jantung yang memacu sedikit lebih cepat dari normal.“Itu berbahaya.” Hardik Sagara.“Tapi jalanan sangat sepi, Mas.”“Tetap saja, aku tidak ingin mengambil resiko apapun jika sesuatu terjadi padamu.”Semburat merah memenuhi pipi Aliika saat ini.“Mas Sagara mengkhawatirkanku, manisnya!” batin Aliika.Meskipun laki-laki itu m
“Vion! Aku punya berita bagus buat kamu.” Teriak Aeera berlari ke arah Vion yang sedang terduduk diam di pojok ruangan sambil bermain lego yang ia tumpuk seperti istana.Vion menoleh malas ke arah Aeera, “Apa?” tanya Vion singkat.“Kamu marah sama aku? Kan yang buat salah Arjuna bukan aku Vion. Lalu kenapa kamu malah marah sama aku?”Vion berdecak, “Aku sepertinya ada pr. Jadi kalau mau ngomong, langsung ngomong aja.”“Ish jangan gitu dong. Oke aku ngomong sekarang. Besok pas acara natal, Mommy aku ngajak keluargamu buat main kerumahku.” Aeera menggandeng lengan Vion. Anak itu langsung melepaskan rengkuhan tangan Aeera.“Nanti aku tanyakan dulu sama Mamah.” Ucap Vion kemudian berlalu darisana. Aeera nampak sedih dengan sikap Vion yang berubah dingin padanya. Dan ini semua karena Arjuna. Aeera kembali mendekati Vion.Anak itu sedang berkutat dengan buku tulis. Ternyata benar Vion sedang mengerjakan pr. Aeera duduk disamping Vion, meletakkan kepala di meja dan menoleh menatap Vion. Anak
Aliika masih terngiang dengan ucapan Aeera hari itu. Pasti Vion anak yang dibicarakan oleh Aeera telah kehilangan salah satu orangtuanya. Aliika berharap Vion adalah anak baik yang bisa menjadi teman untuk Aeera.“Permisi.” Ucap seorang wanita yang sudah membawa sebuah kain bahan berwarna putih dan merah. Aliika mendongak setelah tadi fokus di depan laptopnya.“Iya? Ada yang bisa saya bantu?”“Maaf apakah saya bisa meminta tolong anda untuk membuatkan baju dari bahan ini?” tanya wanita itu. Aliika tersenyum dan mengangguk lalu mengambil bahan itu untuk ia lihat.“Apakah baju untuk anda Nyonya. Jika iya saya bisa mengukurnya langsung sekarang.” Ujar Aliika.Wanita itu tersenyum canggung, “Sebenarnya untuk saya dan kedua anak saya. Untuk perayaan natal mendatang.”Aliika mengangguk, “Baiklah tapi saya perlu anak anda untuk datang kesini agar saya mudah untuk mengukurnya. Karena jika hanya di kira-kira nanti takut hasilnya tidak sesuai.” Jelas Aliika ramah.“Baiklah besok saya akan bawa
Aeera dan Arjuna sekarang sudah berumur 7 tahun dan telah memasuki kelas 1 SD. Mereka sekolah di asrama elite di daerah Jakarta. Dan pagi ini Aliika akan mengantar kedua anaknya itu ke sekolah. Bersama tubuhnya yang sudah berbadan dua dengan usia kandungan telah menginjak satu bulan.Kehamilan Aliika bukan tanpa sebab, Aeera dan Arjuna lah yang menginginkan untuk memiliki adik. Dan keinginan mereka saling bertolak belakang. Aeera yang menginginkan adik perempuan dan Arjuna yang menginginkan adik laki-laki. Dan untuk pemeriksaan terakhir dokter mendiagnosis jika anaknya laki-laki. Tapi tidak tahu nanti perkembangan selanjutnya.“Okeh siapa yang sudah siap untuk berangkat sekolah angkat tangan.” Riang Aliika bertanya kepada kedua anaknya.“Aku!” seru mereka bersama sambil mengacungkan tangan ke atas. Aliika tersenyum simpul dengan tingkah mereka yang terlihat menggemaskan itu.Aliika menggandeng kedua anaknya di sisi kanan dan kiri. Kali ini ia yang akan mengantar sendiri anaknya. Kare
Aliika membawakan air bersih dan juga kotak obat untuk Sagara. Wanita itu harus segera mengobati suaminya karena takut akan infeksi. Sagara sudah duduk di sofa ruang keluarga. Disana sudah ada seluruh keluarga besar tak terkecuali Danu, Vita, dan Radit.Sagara terlihat sangat memprihatinkan, banyak luka di sekujur tubuh dan wajah. Membuat Aliika menatapnya sedih. Dengan telaten dan hati-hati Aliika mengoleskan antiseptik ditubuh dan wajah Sagara.Sagara terlihat diam dan senyum-senyum sendiri menatap Aliika. Membuat wanita itu seketika kesal, ia lalu memukul lengan Sagara membuat suaminya itu mengaduh kesakitan.“Kok aku dipukul si? Emangnya aku salah apa, Sayang?” tanya Sagara menampakkan wajah bersedih seperti anak kecil.“Ya lagian kamu mah orang lagi luka gitu masih sempet-sempetnya tengil.” Kesal Aliika. Ia lalu kembali mengobati luka Sagara.Miranda terkekeh pelan dengan kedua manusia di hadapannya ini, “Mama bersyukur kamu sudah kembali Sagara. Mama khawatir banget sama kamu.”
Aliika membuka matanya perlahan, kepalanya terasa pusing dan sangat berat. Ia mencoba bangkit dan menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Ia mulai mengedarkan pandangan dan bertanya-tanya ada dimana dirinya saat ini.Aliika kembali mengingat kejadian tadi siang, matanya membelalak, “Lintang. Ya saat itu aku dilecehkan oleh Lintang. Lalu ia membiusku.” Gumam Aliika. Ia kembali mengedarkan pandangan dan mulai berpikir bagaimana cara untuk pergi dari sini.Ia lalu berdiri dan berjalan menuju pintu, dan saat ia menekan handle itu ternyata terkunci dari luar. Aliika semakin kesal ia kembali mengedarkan pandangan untuk mencari celah yang bisa digunakan untuk kabur.Aliika mengernyit dan tersenyum senang saat melihat sebuah jendela. Ia berlari ke arah jendela itu. Mencoba untuk membukanya. Namun sial karena jendela itu macet dan sulit untuk dibuka. Ia semakin bingung harus lewat mana lagi.Aliika terus memukul jendela itu sampai ia mendengar suara kunci membuka pintu itu. Aliika tak menyerah i
“Apa kau yakin Al, jika pelacakan nomor itu berada di rumah Danu.” Tanya Andrian.Aliika mengangguk mantap, “Aku melihat sendiri kode lokasi itu dan tepat berada dirumah Danu Kak.”Andrian bertopang dagu, berpikir tentang kebetulan ini. Bagaimana bisa lokasi itu dirumah Danu. Ataukah Danu ingin membalas dendam pada Sagara. Dan merebut kembali Aliika.Bahkan sudah sekian tahun tapi kenapa Danu masih ingin memiliki Aliika. Sebegitu cinta kah dia dengan sepupunya ini?“Tapi masalahnya Danu tidak mau mengakui jika ia menculik mas Sagara. Dan ya memang wajahnya meyakinkan jika dia tidak terlibat dengan penculikan ini.” Jelas Aliika.Andrian mengepal, rahangnya mengeras. Jika memang Danu menculik Sagara untuk memiliki Aliika dan malah membuat Aliika menjadi tersakiti. Ia tak akan segan untuk membunuh Danu.Andrian berdiri dan langsung menyambar jaket. Membuat Aliika terkejut begitu juga Lola. Aliika segera mengikuti langkah Andrian yang berjalan keluar rumah.“Kak stop stop.” Tahan Aliika,
“Kamu ngapain tadi kesana?” tanya Radit pada Vita. Mereka saat ini sudah berada di apartemen Vita. Setelah mengantar Aliika, Radit langsung membawa Vita ke apartemen. Lelaki itu nampak emosi. Vita memutar mata jengah, “Ya aku ingin menemui kak Aliika lah. Yakali bertemu sama kamu, jijik kali.” Ekspresi Radit terkejut saat mendengar ucapan Vita ia mondar mandir mencengkram rambut frustasi, “Wahh memang kurang ajar ya kamu Vit. Terus kesana cuman mau genit sama cowok lain gitu?” Radit tak habis pikir dengan gadis satu ini. Sepertinya sok cantik dan caper. “Kamu kenapa sih, marah-marah ga jelas.” Vita memicing, “Cemburu ya?” goda Vita sambil menaik turunkan alisnya. “Apa sih ga usah kepedean deh. Siapa juga yang cemburu.” Ujar Radit nampak panik. Raut wajah laki-laki itu sudah memerah dan panas. Laki-laki itu pun memilih untuk pergi dari sana. Dan melanjutkan mengulik informasi mengenai Lintang sesuai yang diperintahkan oleh Rama sebelumnya. ***** Aliika sedang berada di balkon me
Setelah menyimpulkan fakta jika itu hanya sebuah jebakan Aliika kemudian memilih untuk pamit dari sana. Begitu juga dengan Lintang ia juga memilih pamit dan menyusun kembali rencananya. Saat akan melangkah menuju pintu, Danu dengan cekatan membalik badan Lintang dan langsung menghantamnya dengan bogeman hingga Lintang beringsut ke bawah.“Danu!” teriak Aliika. Seakan tuli Danu kembali mendekati Lintang dan menarik kerahnya dan terus menghujamnya dengan tinjuan.Aliika yang panik hanya bisa terus berteriak untuk Danu berhenti namun usaha itu sia-sia, “Kau cepat pisahkan mereka Radit.” Perintah Aliika kepada Radit. Radit sebenarnya malas untuk memisahkan mereka. Biarkan saja Danu menghajar Lintang yang memang kurang ajar itu. Tapi mau bagaimana lagi ia harus patuh pada Nyonya nya.“Baik Nyonya.” Radit mendekat ke zona perkelahian itu dan langsung menarik paksa Danu. Laki-laki itu sedang dilanda emosi jadi Danu menepis kasar Radit membuat Radit sedikit kesal.“Sialan.” Umpat Radit. Radi
Sudah seminggu Aliika sendiri tanpa kehadiran sang suami. Belum ada tanda-tanda mengenai nasib Sagara. Hidup harus terus berjalan karena sekarang Aliika punya Aeera dan Arjuna. Ia harus berusaha untuk tetap tegar dalam mengurus kedua anaknya tanpa suami. Wanita itu tengah bermain di ruang keluarga bersama Aeera dan Arjuna. Tadi ia juga sempat menelepon Vita untuk datang. Namun gadis itu tidak bisa karena sedang bekerja. Alhasil Aliika tidak bisa memaksanya. Tadi juga Lola mengatakan akan datang berkunjung namun entahlah jadi atau tidaknya Aliika juga tidak bisa berharap lebih. Tok tok tok Ketukan pintu membuat fokusnya teralihkan. Aliika menebak jika itu pasti Lola, namun kenapa wanita itu tidak langsung masuk saja. Aliika pun memilih untuk berjalan membuka kan pintu. Betapa terkejutnya Aliika saat mengetahui siapa yang datang. Aliika menatap jengah laki-laki di hadapannya ini, “Aku sudah lelah dengan perlakuanmu Lintang. Jadi kumohon enyahlah, jika kau ingin membantuku untuk menc