"Berhenti sebentar, Pak!" pinta Marko pada sang sopir taksi.Pria setengah baya itu spontan menginjak remnya, membuat tubuh Marko dan Lily terdorong ke depan bersamaan."Ada apa, Kak Marko?" tanya Lily menatap Marko heran.Marko tak menjawab pertanyaan Lily. Dia langsung meloncat turun dari taksi dan berlari menuju tempat Bryan.Temannya itu tampak babak belur. Kedua tangannya yang penuh luka berusaha menutupi wajahnya dari serangan dua pria di depannya."Sialan! Beraninya sama yang lemah!" teriak Marko murka. Dia berlari hendak melepaskan tinju mautnya pada dua pria asing yang memukuli Bryan, tapi pria-pria itu langsung kabur begitu melihat Marko mendekat."Marko, jangan mengejarnya. Lebih baik kau bantu aku," pinta Bryan dengan darah mengucur deras dari salah satu lubang hidungnya. Keadaannya cukup mengenaskan dengan luka memenuhi wajah dan punggung tangannya.Sebenarnya Marko bisa saja mengejar kedua pria tadi, tapi keadaan Bryan sedang tidak memungkinkan untuk ditinggalkan begitu
"Ahh .... Marko," desah Wennie saat dia mencapai puncak kenikmatannya yang pertama.Marko kemudian melepaskan kejantanannya dari bagian intim Wennie, dan menyuruh wanita itu tidur di atasnya dengan posisi terbalik.Wennie menurut, dan melakukan sesuai yang Marko inginkan.Sekarang mereka akan mencoba gaya seks 69.Marko mulai memainkan lidahnya di bagian kewanitaan Wennie yang bersih. Sementara, Wennie mengulum kejantanan Marko.Mereka berdua sibuk memuaskan hasrat mereka masing-masing yang meluap-luap.Marko dengan lihai menggerakkan lidahnya di lubang Wennie. Dia juga menggigit kecil bagian klitorisnya sehingga Wennie menggelinjang liar.Wennie melakukan pelepasannya yang kedua, dan mengenai wajah Marko."Kau keluar banyak sekali, Kak Wennie," ucap Marko mengusap wajahnya dengan tisu."Maafkan aku, Marko," balas Wennie tersipu.Sekarang giliran Wennie membuat Marko merasakan surga dunia. Dia mengulum milik Marko yang sangat besar, dan nyaris tersedak karenanya.Dengan gerakan pelan
Sorak-sorai penonton semakin riuh. Teriakan mereka bercampur dengan dentuman musik bass yang menggema di sekeliling arena. Arena di depan Marko dibuat lebih gelap saat pertarungan akan dimulai. Semakin mendekat ke area pertarungan, Marko dapat mencium aroma darah, keringat, dan alkohol yang menyengat.Awalnya Marko mengira Argus yang ada di balik surat kemarin. Sehingga dia sudah tak sabar menerjangnya kembali. Membuatnya babak belur seperti saat mereka bertemu di balapan liar beberapa hari yang lalu.Tapi, ternyata Argus justru melawan petarung lainnya.Marko memilih duduk di salah satu kursi penonton untuk melihat pertarungan Argus dengan pria lain yang bertubuh sangat besar.Kini Argus sedang bertarung dengan pria raksasa. Meski, lawannya memiliki otot yang keras dan kuat, Argus tetap lebih lincah. Dia menyerang, lalu menghindar dengan gerakan cepat.Sekarang Marko tahu kenapa Argus bisa menjadi juara bertahan di pertarungan liar seperti ini. Teknik yang dipakai pria itu cukup bai
JJ langsung menyerang dengan tinju secepat kilat. Tapi, Marko dengan gerakan tak kalah cepat meloncat ke samping untuk menghindar.Serangan demi serangan JJ menyambar udara kosong karena Marko dengan gesit berpindah ke tempat satu ke tempat yang lain.Penonton yang awalnya menyanjung JJ mulai tercengang melihat Marko yang melesat cepat bagaikan bayangan. Tak ada satu serangan pun yang mengenai pria itu.Tapi, JJ tidak menyerah. Dengan mempercepat gerakannya dia menargetkan Marko lagi untuk dia pukul.Tinju JJ lumayan kuat hingga setiap pukulannya yang menyasar ke lantai kayu area pertarungan meninggalkan bekas cukup dalam."Bajingan! Kenapa kau menghindar terus?! Dasar pengecut!" geram JJ mulai kelelahan. Dia tak bisa mengejar Marko yang terlalu cepat.Marko merasa mendapatkan celah untuk balas menyerang JJ.Dalam sepersekian detik, Marko menegakkan tubuhnya. Matanya menatap tajam JJ, lalu dia berlari sangat cepat menuju perut besar JJ.Sebelum JJ sempat bereaksi, Marko menghantam rus
Lagi-lagi Marko harus menahan hasratnya yang menggebu-gebu atas Stella. Dia langsung pergi sebelum Stella memergokinya sedang mengintip istrinya itu. Marko tidak mau membuat Stella marah dan semakin membencinya."Kau harus bisa menahannya, Bung!" bisik Marko pada kejantanannya yang ada di balik celana sambil mengelusnya pelan. Dia lalu memilih memuaskan dirinya sendiri di kamar mandi, barulah dia berangkat bekerja.***Saat jam istirahat, dan kebetulan pesanan pelanggan sedang sepi. Marko pergi ke butik perhiasan Liffany and Co yang terkenal dan begitu digandrungi para wanita di New York. Bahkan perhiasan itu menjadi patokan untuk menggolongkan seseorang sesuai peringkat sosialnya. Apakah orang itu miskin atau kaya.Begitu memasuki butik Liffany and Co, aroma khas parfum mahal langsung menyambut penciuman Marko. Pendingin ruangan membuat udara terasa lebih sejuk dibandingkan panasnya jalan di luar tadi.Marko tak menanggalkan jaket kurir Fast Foodnya dan mulai melihat-lihat perhiasa
Tangan si pelayan bergetar menghitung uang sepuluh ribu dolar milik Marko."Bagaimana? Uangnya pas kan?!" tanya Marko membentak si pelayan."I-iya," jawab si pelayan dengan terbata-bata. Dia hendak membungkus kalung pilihan Marko. Tapi, Carla kembali bersuara."Sebentar!" kata Carla, berjalan cepat ke arah si pelayan. "Aku yakin dia tidak punya uang segitu. Dia pasti mencurinya dari orang lain!"Marko menghela napas geram. Dia hanya ingin membeli kalung ini, dan segera pulang. Tapi, ada saja yang membuat masalah dengannya.Pelayan itu tampak bimbang sejenak, lalu mengangguk mengiyakan ucapan Carla. "Nona, benar juga. Nyaris saja aku tertipu.""Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Cepat panggil polisi sana!" tukas Carla membuat si pelayan segera berlari menuju pesawat telepon untuk memanggil polisi.Marko berdeham keras. "Dengar! Aku tidak mencuri uang dari siapa pun. Ini uangku.""Lihatlah dirimu!" ucap Gaston dengan nada merendahkan. "Kau masuk ke sini dengan seragam kurir Fast Food, lalu
"Aku tidak akan sudi menjilat sepatu bututmu itu, Gembel!" balas Gaston geram. Dia tidak suka Marko menginjak-injak harga dirinya di depan Carla, kekasihnya. Jadi, dia berniat untuk memukul Marko dan membuat pria itu menyesal karena sudah membuatnya marah.Tapi, baru saja dia bergerak untuk meninju perut Marko. Marko sudah lebih dulu menyambar tangannya, dan membantingnya ke lantai cukup keras.Brakk!!Gaston meringis kesakitan karena tangan kanannya terkilir. "Sialan!"Pria itu tak menyerah. Dia berusaha bangkit berdiri, dan menjulurkan sebelah kakinya untuk menendang Marko.Tapi, lagi-lagi gerakan Marko lebih cepat darinya.Marko memberikan pukulan secepat kilat ke perut Gaston. Alhasil pria sombong itu terdorong ke belakang dan jatuh menimpa ujung etalase. Untungnya etalase kaca itu tidak pecah, hanya bagian pinggirnya saja yang retak karena terkena benturan kepala Gaston.Gaston meraba kepalanya, dan dia berteriak marah saat melihat tangannya berlumuran darah. "Sialan kau! Dasar
Carla menelan ludahnya saat melihat Marko dan Miska bergelut mesra di atas tempat tidur tanpa pakaian. Sementara dirinya masih menunggu giliran.Miska tampak terengah-engah saat Marko menghujamnya dari atas."Ahh ... Marko. Aku mau keluar." Miska mendesah nikmat sambil melirik kewanitaannya yang dimasuki batang Marko.Kini Miska tidur telentang. Sedang, Marko berada di atas tubuhnya.Marko semakin memacu gerakannya lebih cepat lagi. Sampai keduanya mencapai klimaksnya bersamaan. Marko mengeluarkan batangnya, dan menyemburkan cairan kenikmatannya di luar.Carla menggigit bibir bawahnya melihat batang Marko yang luar biasa besar. Bahkan milik pria itu lebih besar dari milik Gaston!Carla mengusap ujung sprei yang terkena cairan Marko. Dia mengendusnya, lalu menjilatnya. "Tidak baik kau membuang-buangnya seperti itu," gumam Carla merasakan bagian bawahnya sudah berdenyut-denyut.Carla sudah telanjang sedari tadi, tapi Marko sama sekali belum menyentuhnya. Dia jadi kesal dan berpikir Ma
Seminggu kemudian. Marko Hubert dan Victor akhirnya bertemu untuk pertama kalinya di turnamen UFC. Meski, bagi Marko ini tidak benar-benar pertama kalinya.Marko Hubert kini berdiri di belakang panggung arena UFC, mengenakan celana pendek pertarungan hitam dengan garis emas di sisi. Tangannya telah dibalut dengan perban putih, siap untuk menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya. Victor.Sorakan dari ribuan penonton menggema di dalam arena. Lampu sorot menerangi oktagon di tengah stadion, sementara layar raksasa menampilkan wajah Marko dan Victor berdampingan.Di sisi lain ruangan, Victor tengah melakukan pemanasan, tubuhnya penuh dengan otot keras hasil latihan bertahun-tahun. Dia adalah juara bertahan, seorang petarung dengan rekor tak terkalahkan. Mata tajamnya menatap lurus ke arah layar, lalu beralih ke Marko yang berdiri di seberang lorong.Seorang official menghampiri mereka. "Saatnya masuk."Marko menarik napas panjang, lalu melangkah ke dalam lorong panjang yang akan memba
Marko berjalan dengan langkah mantap di antara mayat-mayat yang berserakan di markas Rio Davies. Tangannya masih berlumuran darah, tapi bukan darahnya sendiri, melainkan darah para lawannya yang telah dia habisi tanpa ampun. Tubuhnya terasa ringan, tidak ada luka yang berarti, meskipun dia baru saja menghadapi pasukan pembunuh bayaran terbaik yang dimiliki Rio Davies.Di gendongannya, Stella menggeliat pelan. Matanya yang masih sedikit sayu menatap wajah Marko dengan kebingungan."Marko, kau mau membawaku ke mana?" Suara Stella lemah, tapi masih terdengar jelas di tengah keheningan yang mencekam ini.Marko tidak langsung menjawab. Dia hanya mempererat genggamannya pada tubuh Stella dan terus berjalan keluar dari bangunan yang kini dipenuhi oleh mayat.Di luar, udara malam terasa dingin, berbeda dengan panasnya pertarungan brutal yang baru saja dia lalui. Bintang-bintang bertaburan di langit, seolah mengamati setiap langkahnya dengan diam.Marko menemukan sebuah mobil yang masih dalam
Dorrr!!!Peluru itu melesat cepat menuju kepala Marko.Rio Davies tersenyum penuh kemenangan.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Clangg!!!Peluru itu mengenai kulit Marko, namun bukannya menembus, peluru itu justru terpental seolah menabrak baja yang tak terlihat.Mata Rio Davies membelalak. "Apa-apaan ini?!"Marko hanya tersenyum miring. Dia menurunkan kepalanya sedikit, menatap Rio dengan sorot mata dingin. Level legendanya membuat Marko mendapatkan kemampuan baru yang membuat dirinya tidak mempan ditembak ataupun ditusuk pisau.Rio menembak lagi.Dorr!!! Dorr!!! Dorrr!!!Satu, dua, tiga peluru ditembakkan, semuanya mengenai tubuh Marko.Namun, hasilnya sama.Peluru itu tak mampu melukai Marko."Bajingan!" Rio Davies melompat dari kursinya, menggertakkan giginya. Dia memutar badannya, memberikan kode dengan tangannya.Dari balik pintu samping, muncul delapan orang berpakaian hitam dengan wajah tanpa ekspresi.Mereka bukan anak buah biasa.Mereka adalah Shadow Unit, unit pembun
Malam ini. Angin bertiup kencang di sekitar pelabuhan tua. Markas Rio Davies berdiri megah di atas tanah luas yang menghadap langsung ke lautan hitam yang bergelombang. Bangunan beton itu lebih mirip benteng daripada gudang biasa, dengan penjagaan ketat di setiap sudutnya.Dari kejauhan, Marko bisa melihat para penjaga bersenjata mondar-mandir di sekitar gerbang. Mereka semua terlihat waspada, seolah tahu bahwa bahaya bisa datang kapan saja.Marko menarik napas dalam. Dia tahu bahwa menerobos ke dalam akan menjadi hal yang mustahil.Tapi Marko tidak perlu menerobos karena dia memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Yaitu sertifikat pulau. Marko akan memancing Rio Davies menggunakan sertifikat itu.Dengan langkah mantap, Marko berjalan ke depan gerbang, sengaja membiarkan dirinya terlihat oleh para penjaga.Butuh waktu kurang dari sepuluh detik sebelum seseorang menyadari kehadirannya."Hei! Siapa yang di sana?! Pergi sebelum kutembak kepalamu!" Salah satu penjaga mengangkat senjatanya,
"Kau ...."Marko berdiri mematung melihat pria yang kini berdiri tegap di depannya.Jantung Marko berdegup semakin kencang, tapi tubuhnya terasa membeku.Di hadapannya seorang pria yang sama sekali tidak asing menatapnya dengan sorot mata tak terbaca. Pria itu adalah tubuhnya sendiri. Marko Davies.Jika sekarang Marko Davies yang sebenarnya berada di tubuh Marko Hubert. Lalu, siapa yang ada di dalam tubuhnya itu?Marko buru-buru bergeleng. "Tidak. Tidak mungkin," gumamnya tidak ingin percaya dengan apa yang ada di hadapannya.Pria di depan Marko itu mengulas senyum. "Apanya yang tidak mungkin?"Marko menatap tajam pria itu. "Siapa kau?! Kenapa kau memakai tubuhku, Sialan?!"Si pria tertawa kecil. "Padahal aku telah lama menunggu waktu bertemu denganmu. Tapi, reaksimu ini sungguh membuatku kecewa, Marko."Marko semakin geram. "Siapa kau, Keparat?! Bagaimana bisa kau memakai tubuhku?! Dan, apa yang kau lakukan di apartemenku?! Apa kau juga yang mengirimkan pesan misterius?!"Si pria ber
"Sialan!"Marko memukul setir mobilnya dengan geram. Mobil yang membawa Jake, Daniel, dan Arnold sudah menghilang di tengah lalu lintas.Dia telah kehilangan jejak mereka.Lalu lintas di kota begitu padat, membuat pengejarannya sia-sia. Rio Davies jelas sudah merencanakan semuanya dengan rapi. Pria itu sangat licik dan memiliki segala taktik untuk melancarkan keinginannya.Marko menarik napas panjang, menenangkan pikirannya. Tidak ada gunanya mengutuk keadaan. Dia harus bergerak cepat.Mata tajamnya menyapu jalanan yang dipenuhi mobil-mobil dan lampu kota yang berkedip. Jika dia tidak bisa mengejar mereka sekarang, dia harus mencari kelemahan lain dalam rencana Rio Davies.Dan ada satu hal yang muncul dalam pikirannya. Sertifikat pulau.Marko lalu berbalik arah, dan menginjak pedal gas. Mobilnya langsung melesat cepat ke arah apartemen milik Marko Davies. Itu adalah satu-satunya tempat yang memiliki sesuatu yang diinginkan Rio Davies selama bertahun-tahun.Sebuah sertifikat pulau yang
Dinginnya malam merayap ke dalam jaket Marko saat dia berdiri di depan kantor Stella. Matanya masih menatap tajam simbol ular melingkar di dinding luar gedung. Nafasnya berat, uap hangat keluar dari bibirnya saat amarah menggelegak di dadanya.Stella diculik orang-orang yang ada di organisasi mafia yang dipimpin oleh Rio Davies, raja mafia yang merupakan kerabat dekat Marko Davies. Nama Rio Davies dulu hanya sekadar legenda di dunia kriminal. Sebuah bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik layar terutama di dunia MMA. Namun kini, bayangan itu merayap ke hidup Marko Hubert. Padahal Marko paling menghindari berurusan dengan Rio Davies.Jantung Marko berdebar kencang. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Stella telah diculik, dan dia tahu ini bukan sekadar penculikan. Ini adalah perangkap.Rio Davies dan anak buah pria itu pasti ingin menarik Marko masuk ke perangkapnya dan membuat Marko tidak bisa lagi kembali ke dunia MMA. Seperti yang dulu terjadi
Di tengah malam yang dingin, sebuah limusin hitam meluncur melewati jalanan sepi. Mobil itu melaju ke arah sebuah bangunan besar di pusat kota yang tidak memiliki plang atau tanda identitas apa pun. Dari luar, gedung itu tampak seperti kantor biasa, tetapi di dalamnya adalah pusat kendali organisasi mafia terbesar di Amerika.Di lantai paling atas, terdapat sebuah ruangan eksklusif dengan pemandangan langsung ke arah kota. Ruangan itu luas, dengan kaca besar yang mencerminkan cahaya lampu kota di kejauhan. Sebuah meja panjang dari kayu hitam berdiri megah di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit mahal.Di ujung meja, seorang pria duduk dengan tenang. Rio Davies.Sosok itu adalah Don, pemimpin tertinggi mafia di seluruh Amerika Serikat. Dia mengenakan setelan hitam yang sempurna, rambutnya rapi, dengan wajah yang dingin tanpa ekspresi. Di tangannya ada sebuah cincin emas dengan lambang keluarga Davies, simbol kekuasaannya.Di hadapannya, Vladimir Ivanov berdiri dengan penuh horm
Kemenangan Marko membuat para petinggi MMA sedikit terusik. Mereka segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas atlet bernama Marko Hubert itu.Suasana mencekam di sebuah ruangan eksklusif, tempat para petinggi MMA berkumpul.Ruangan itu luas, dengan desain klasik yang dipenuhi ornamen kayu mahal. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit, menciptakan pencahayaan redup yang menambah kesan eksklusif dan rahasia. Asap rokok melayang di udara, menciptakan atmosfer yang berat dan menekan.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang dari kayu mahoni berdiri megah, dikelilingi oleh beberapa pria berjas hitam. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah mafia yang selama ini menguasai dunia pertarungan MMA di balik layar.Mereka adalah orang-orang yang mengatur segalanya dari hasil pertandingan, petarung mana yang boleh naik, siapa yang harus jatuh, hingga taruhan ilegal yang menghasilkan miliaran.Dan malam ini, mereka semua memiliki satu masalah yang sama.Yaitu atlet dari club Bla