Jeff mengepalkan tinjunya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Apa yang baru saja terjadi? Di depan matanya, Dave Oliver memamerkan Amber seolah-olah gadis itu adalah trofi kemenangannya. Amber, yang dulu adalah miliknya, yang dulu begitu mencintainya, sekarang berada dalam genggaman pria lain. Bukan hanya itu, Dave sengaja menciumnya di depan semua orang, seolah ingin menunjukkan bahwa Amber benar-benar miliknya sekarang. "Sialan!" gumam Jeff, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia mengira Amber akan tetap merindukannya, ia mengira kalau Amber akan memohon bantuannya. Sebenarnya ia menunggu momen itu terjadi. Tapi sialnya Amber malah bertemu dengan Dave. Pamannya yang kaya raya. Ia kira gadis itu hanya menikahi Dave karena terpaksa. Tapi apa yang baru saja dilihatnya? Amber tidak berusaha menarik tangannya dari Dave. Amber tidak menolak saat pria itu menciumnya. Dan itu membuat Jeff semakin marah. “Jeff?” Suara seorang wanita di sebelahnya membuatnya tersadar.
Di sebuah hotel bintang lima di pusat kota London, seorang wanita cantik dengan rambut berwarna coklat terang berdiri di depan jendela besar kamarnya.Tubuhnya yang ramping dibalut gaun tidur dari bahan satin berwarna putih tulang. Manik mata hazel itu tertuju lurus pada pemandangan gedung pencakar langit di depannya. Di tangannya, segelas wine merah berputar perlahan, mencerminkan kilauan lampu-lampu kota yang gemerlap.Bibir merahnya melengkung dalam senyum tipis penuh arti."Jadi, Dave sudah menikah lagi?" Wanita itu bergumam pelan, suaranya terdengar seperti bisikan misterius yang menyimpan banyak rencana tersembunyi.Matanya yang tajam menatap ke luar jendela, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada satu orang yaitu Dave Oliver.Pria yang dulu menjadi miliknya. Pria yang dulu mencintainya dengan sepenuh hati. Pria yang masih terobsesi padanya, entah dia mau mengakuinya atau tidak.Bella menyeringai kecil. Ia melangkah ke meja kecil di samping ranjang, mengambil ponselnya, lalu
Amber beradai di dapur, membantu pelayan menyiapkan makan malam. "Nyonya Amber, kami bisa melakukannya sendiri," kata Alfred sopan. Sebagai kepala pelayan, ia merasa tidak enak kalau sampai sang majikan baru, turun ke dapur. "Aku hanya ingin membantu. Lagi pula, aku merasa lebih nyaman melakukan ini daripada hanya duduk diam di kamar." Amber tersenyum tipis. Alfred menatapnya sejenak sebelum tersenyum hangat. "Anda berbeda dari wanita-wanita sebelumnya yang pernah masuk dalam hidup Tuan Dave." "Maksudmu?" Amber mengernyit. "Biasanya, wanita yang dekat dengan Tuan Dave hanya peduli pada status dan hartanya saja. Mereka tidak pernah repot-repot turun ke dapur seperti ini," jawab Alfred. Amber menggigit bibirnya. Dia tahu Bella adalah salah satu dari wanita yang dimaksud Alfred. "Dan Tuan Dave sangat berbeda sejak menikah dengan Anda," lanjut Alfred. "Dia mungkin tidak bisa menunjukkan perasaannya dengan jelas, tapi saya bisa melihatnya. Anda mengubahnya, Nyonya Amb
Bela mengeluarkan sebuah cincin berlian yang dulu pernah melingkar di jarinya. Cincin pernikahan mereka. Dave menegang, matanya menatap cincin itu tajam. "Kenapa kau membawanya?" suaranya rendah, penuh ketegangan yang ditahan. Bella memiringkan kepalanya, mengamatinya dengan ekspresi manis yang penuh kebohongan. "Karena bagiku, kau masih suamiku, Dave." "Omong kosong. Kita sudah bercerai bertahun-tahun lalu, Bella. Kau bukan siapa-siapa bagiku lagi." Dave mendengkus. Bella tersenyum tipis seolah tidak terganggu dengan kata-kata tajam itu. "Kau yang menceraikanku, Dave. Tapi aku tidak pernah setuju dengan keputusan itu. Aku tidak pernah merasa pernikahan kita benar-benar berakhir." Dave mengepalkan tangannya di bawah meja. Amarah perlahan merayapi dadanya. Bagaimana bisa Bella masih berkata seperti itu setelah semua yang dia lakukan? "Jangan bodoh, Bella. Kau mengkhianatiku. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kau dan Liam di apartemen itu..." Bella mendesah, lalu m
Taksi yang ditumpangi Bella berhenti di depan rumah mewah itu. Seorang penjaga langsung menyambut kedatangannya. "Nyonya Bella." Penjaga itu mengangguk hormat. "Jangan halangi aku untuk masuk. Dave sudah mengizinkan aku untuk datang ke rumah ini. Kamu bisa mengonfirmasinya kalau tidak percaya." Bella bicara dengan gayanya yang elegan. Penjaga itu tertegun, meski sedikit ragu namun pada akhirnya dia percaya pada kata-kata Bella. Penjaga itu malah mempersilakan Bella masuk ke dalam rumah. "Nyonya Bella?" Alfred melongo saat melihat kedatangan Bella. Pria itu bergegas menghampiri Bella. "Apa kabar Alfred, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah rumah ini masih sama seperti dulu?" Bella memasuki rumah megah itu dengan langkah percaya diri. Pandangannya menyapu keadaan seluruh ruangan yang tidak mengalami banyak perubahan semenjak ia tinggalkan tiga tahun yang lalu. "Kabar saya baik Nyonya. Apa kedatangan Nyonya sudah diketahui oleh Tuan Dave?" Alfred merasa bingung dan takut s
Amber berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan mata yang mulai memanas. Kedua rahangnya mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Foto-foto Dave bersama Bella membuat hatinya panas. Rasa cemburu perlahan merayapi hatinya. Tidak rela jika Dave kembali pada cinta lamanya. "Dave, sialan! Pria mata keranjang! Bisa-bisanya dia membohongiku!" geram Amber kesal. Ia meraih amplop berisi foto-foto itu dan menghamburkannya ke lantai. Wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap di dalam dadanya. Ternyata benar, Dave memang belum bisa move on dari Bella. Ia hanya dianggap sebagai pelarian saja. Wanita bodoh yang terjebak dalam permainan pria yang bahkan tidak bisa lepas dari bayang-bayang mantan istrinya. Amber menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan isakan yang hampir keluar. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Tidak. Ia tidak boleh lemah. Dengan cepat, Amber menghapus air matanya. Ia meraih tasnya dengan tangan yang gemetar, lalu melangkah cepat keluar kamar.
Langit London malam itu tampak kelam. Gerimis turun perlahan, membasahi jalanan kota yang dipenuhi lampu-lampu berpendar. Namun, bagi Dave, hujan dan dinginnya malam bukanlah apa-apa dibandingkan dengan perasaan gelisah yang membakar dadanya. Amber menghilang. Ia dan Julian sudah mencari ke berbagai tempat. Ke apartemen teman-teman Amber, ke kafe yang biasa dia kunjungi, bahkan ke hotel-hotel yang mungkin menjadi tempat pelariannya. Namun, hasilnya nihil. Ponsel Amber tidak aktif. Setiap kali Dave mencoba menelepon, hanya suara operator yang terdengar, semakin memperparah amarah dan frustasinya. Dave mengusap wajahnya kasar. Ia berdiri di samping mobilnya, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Julian, yang berdiri di sebelahnya, ikut terlihat frustasi. "Kita sudah mencarinya ke mana-mana, Dave," ujar Julian dengan nada lelah. "Mungkin Amber hanya butuh waktu. Kalau kita terus mengejarnya sekarang, dia justru akan semakin menjauh." Dave mengepalkan tangannya. "Aku tidak
“Sial!” gumam Dave sambil mengusap wajahnya dengan frustasi. Amber masih belum ditemukan. Dan dia tidak tahu harus mencarinya kemana lagi. Dia takut Amber tidak akan kembali lagi padanya. Dave menggeleng, dia mencoba menepis bayangan buruk tentang itu. Amber tidak akan pernah bisa pergi darinya. Sebisa mungkin dia akan membuat Amber kembali. Dave melihat ke arah ponselnya, membaca kembali pesan yang ia kirim pada Bella, yang sampai sekarang masih belum dibalas oleh perempuan itu. "Di mana kau, Bella? Kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu ini," geram Dave kesal. Ia menekan nomor Julian, dan dalam hitungan detik, suara sahabatnya terdengar di seberang telepon. “Apa ada perkembangan?” tanya Julian langsung. "Semua ini karena ulah Bella." "Bella?!" "Ya, dan aku tidak tahu sekarang dia berada dimana, aarrgghh!" Julian terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Aku bisa mencari tahu di mana Bella berada sekarang. Jika dia ada hubungannya dengan Amber me
Nyonya Eliza menatap suaminya dengan cemas dari balik cangkir teh yang belum sempat ia seruput. Wajah Tuan Martin tampak berubah drastis setelah mendengar kabar yang baru saja ia sampaikan. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sangka bahwa Amber ternyata memiliki anak dari Dave. “Ulangi sekali lagi, Eliza. Anak itu… Ethan… dia anak Dave?” Tuan Martin bertanya dengan suara tertahan namun jelas menunjukkan kemarahan yang ditahannya. Nyonya Eliza mengangguk pelan. “Iya. Namanya Ethan, usianya sekitar dua tahun. Aku baru saja bertemu dengannya. Dia sangat mirip Dave saat masih kecil.” Tuan Martin berdiri dari kursinya dengan ekspresi tak percaya. Ia berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sambil menghela napas panjang. “Kenapa baru sekarang aku tahu soal ini?! Kenapa Dave tidak mengatakan apapun padaku?!” “Karena dia juga baru tahu, Pa. Dan dia sangat emosional setelah mengetahuinya. Anak itu adalah darah dagingnya. Itu alasan Dave begitu ngotot ingin memperbaiki hubungannya den
Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl
Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah
Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana
Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa
Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau
Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad
Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K
Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.