Home / Romansa / Hasrat Bukan Menantu Idaman / 18) Pelarian Absurd (4)

Share

18) Pelarian Absurd (4)

Author: NDRA IRAWAN
last update Last Updated: 2025-03-28 21:48:34

Perjalanan pulang diwarnai keheningan yang ganjil. Pak Arif lebih banyak diam, sesekali mengelus dadanya dengan ekspresi menahan sesuatu yang tidak ingin ia keluhkan. Vena menatap keluar jendela, seolah pikirannya sedang melayang jauh.

Setibanya di rumah, Jovan langsung tahu bahwa Pak Arif bukan orang berada. Rumahnya kecil, tipe perumahan lama yang tampak usang, tapi rapi.

"Silakan masuk, Mas Jovan," ajak Pak Arif.

Jovan mengangguk, lalu mengikuti mereka ke dalam. Ruangan tamunya sederhana, hanya ada sofa lama dan meja kayu yang di atasnya tertumpuk beberapa koran yang sudah menguning. Dari cara rumah ini tertata, Jovan bisa menebak bahwa Vena-lah yang merawat semuanya. Pak Arif memang hanya seorang PNS dengan pangkat dan kedudukan biasa saja.

Vena segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan minuman. Sementara itu, Pak Arif duduk di sofa dengan napas sedikit berat.

"Sudah lama sakit, Pak?" Jovan akhirnya bertanya.

Pak Arif tersenyum tipis. "Sudah bertahun-tahun, Mas. Saya punya riwayat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   19) Pelarian Absurd (5)

    Jovan mengusap wajahnya. "Pak… saya nggak tahu harus ngomong apa."Pak Arif menatapnya dengan sorot mata penuh harap. "Cukup pikirkan, Mas Jovan. Saya percaya, kalau ada pria yang bisa menjaga istri saya dengan baik... itu adalah Mas."Jovan tersenyum miring. Bukan karena geli. Tapi karena merasa semakin terperangkap dalam permainan takdir yang absurd.Jovan mengucek wajahnya sendiri. Ini... keterlaluan.Bahkan dalam skenario absurd yang pernah ia bayangkan, tak satu pun yang mendekati keanehan ini.Pak Arif melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Saya tidak meminta Mas mengambil istri saya. Saya hanya ingin dia bahagia, walau hanya sesaat."Jovan menelan ludah. Dalam hatinya, ia ingin segera bangkit dan pergi dari sini. Tapi di sisi lain, ada sesuatu dalam kata-kata Pak Arif yang membuatnya tetap duduk di tempatnya.Dan saat itulah, pintu terbuka.Vena kembali dari warung, membawa kantong plastik berisi beberapa barang. "Lho, kok Mas Jovan pucat begitu?" tanyanya heran.Jovan hanya

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   20) Pelarian Absurd (6)

    Begitu ia melangkah ke dalam, suara batuk kecil menyambutnya. Pak Arif duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pria itu menatapnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang terasa… misterius."Ah, Mas Jovan," sapanya santai. "Saya tahu kamu pasti datang lagi."Jovan berusaha tetap tenang, meskipun perutnya terasa sedikit mual mengingat percakapan absurd mereka kemarin."Pak, saya cuma mampir sebentar," katanya, sengaja memperjelas bahwa ia tidak berencana berlama-lama.Tapi Pak Arif justru tersenyum lebih lebar. "Nggak usah buru-buru, Mas. Duduk dulu. Saya lagi pengin ngobrol."Jovan menekan dorongan untuk menghela napas keras. Vena, yang tampaknya tidak menyadari ketegangan aneh di antara mereka, langsung pergi ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam ruang tamu yang terasa semakin sesak.Pak Arif mendekat sedikit. Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. "Jadi, Mas Jovan… sudah dipikirkan?"Jovan menutup mata sebentar. "Pak… saya nggak mau ngomongin itu lagi."Pak Arif hanya t

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   21) Pelarian Absurd (7)

    Malam di Diskotik.Musik berdentum keras, menggetarkan lantai dengan irama bass yang menggila. Lampu-lampu strobo berkedip dalam warna merah, biru, dan ungu, menciptakan ilusi gerakan yang lebih liar dari kenyataan. Aroma parfum mahal bercampur alkohol memenuhi udara, melebur dengan tawa-tawa hingar-bingar dan obrolan setengah berteriak dari meja-meja VIP.Jovan duduk di salah satu sofa kulit berwarna hitam, minuman di tangannya hanya sekadar properti. Ia tidak benar-benar berniat menikmatinya. Di sekelilingnya, wanita-wanita kelas atas dengan gaun ketat yang memperlihatkan bahu atau belahan dada sibuk menari, tertawa, dan sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuhnya."Jovan, sejak kapan lu jadi alim?" tanya seorang pria di sebelahnya, Reno, teman lamanya yang sudah terlalu akrab dengan dunia malam. "Dulu lu raja tempat ini, sekarang malah lebih banyak bengong."Jovan hanya menanggapi dengan senyum tipis.Seorang wanita dengan gaun merah darah mendekat, duduk tanpa diundang di pangk

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   22) Pelarian Absurd (8)

    Seminggu telah berlalu dalam kegaulan tingkat dewa.Jovan sedang nongkrong di atas motornya, tepat di depan sebuah mall yang masih ramai meski malam semakin larut. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos yang membalut tubuh atletisnya. Sepasang mata tajamnya mengamati lalu lalang orang-orang, sebagian besar adalah pasangan atau geng anak muda yang asik bercanda.Sejumput asap rokok melayang dari bibirnya sebelum ia membuang puntungnya ke aspal dan menginjaknya dengan sepatu boots hitam. Motor sport yang ditungganginya berkilat di bawah lampu jalanan, menarik beberapa lirikan dari cewek-cewek yang lewat. Beberapa bahkan sengaja berjalan lebih lambat saat melewatinya, berharap ditoleh atau sekadar mendapat senyum dari pria yang wajahnya sekeras batu tapi pesonanya susah ditolak.Tapi malam ini, Jovan tidak sedang tertarik main mata. Kepalanya masih penuh dengan kejadian absurd beberapa jam lalu. Tawaran gila dari Pak Arif masih menggantung di pikirannya."Kenapa hi

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   23) Pelarian Absurd (9)

    Jovan berdiri di depan rumah Pak Arif, jantungnya berdetak kencang. Lampu teras menyala redup, menyisakan bayangan samar di balik jendela. Sial. Gue beneran di sini.Pintu depan setengah terbuka, seperti sudah menunggunya.Dia melangkah masuk dengan ragu, melewati ruang tamu yang berbau kayu dan aroma teh hangat. Pak Arif duduk di kursinya, tersenyum tipis seakan sudah tahu Jovan bakal datang lagi.Jovan menghela napas panjang, menenangkan debaran di dadanya. Malam itu terasa begitu aneh, bukan hanya karena dia berdiri di depan rumah Pak Arif dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi karena seluruh situasi ini seperti mimpi buruk yang sulit dipahami. Suara motor yang tadi membelah jalan kini senyap, meninggalkan hanya detak jantungnya yang menggema di telinga.Pak Arif masih duduk di kursinya, tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ruangan itu terasa sempit, meski sebenarnya luas dan nyaman. Aroma teh hangat yang biasanya memberi rasa tenang kini terasa membebaninya.

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   24) Pelarian Absurd (10)

    Jovan memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel bintang lima dengan gerakan yang begitu mulus. Seorang bellboy segera menghampiri, membukakan pintu dengan penuh sopan santun. Vena turun dengan langkah ragu, matanya menelusuri kemegahan yang terpampang di hadapannya—lampu kristal raksasa bergelayut di langit-langit, lantai marmer yang berkilau seperti cermin, serta para tamu berpakaian glamor yang hilir mudik dengan penuh percaya diri.Jovan meliriknya, menangkap jelas ekspresi takjub sekaligus kikuk di wajah perempuan itu. Senyumnya terbit samar. "Jangan tegang, santai aja. Ini cuma hotel," katanya ringan, seolah tempat ini sama biasa baginya seperti warung kopi pinggir jalan.Vena menelan ludah. Baginya, ini lebih dari sekadar hotel—ini dunia lain. Dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan dimasuki olehnya, apalagi dengan seorang lelaki seperti Jovan.Pak Arif benar, lelaki ini bukan orang sembarangan. Tapi siapa sebenarnya dia?Mereka berjalan melewati lobi, dan setiap langkah terasa

    Last Updated : 2025-03-28
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   25) Pelarian Absurd (11)

    Hendi berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kasual yang tetap memancarkan kelasnya. Pria itu memang memiliki aura yang tak jauh berbeda dengannya—tinggi, tampan, dengan garis wajah tegas khas keturunan Timur Tengah. Bedanya, Hendi memiliki sifat yang lebih stabil, lebih bisa diandalkan dalam jangka panjang. Dan itulah yang Jovan inginkan untuk Vena.“Lu datang tepat waktu,” ucap Jovan dengan nada ringan, menepuk bahu Hendi sebelum mempersilakannya masuk.Vena, yang sejak tadi duduk di sofa dengan perasaan tak menentu, mendongak begitu melihat pria asing masuk. Mata indahnya membulat, penuh tanda tanya.“Ini Hendi,” kata Jovan, mengisyaratkan pada pria itu untuk mendekat. “Dia lebih bisa diandalkan dibanding aku.”Vena masih terpaku, belum sepenuhnya menangkap maksud Jovan. “Maksudnya?”Jovan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan—ada ketulusan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti perpisahan.“Aku nggak bisa ada buatmu terus, Vena.” Suaranya ter

    Last Updated : 2025-03-29
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   26) Pelarian Absurd (12)

    Dalam pelukan Hendi, Vena bagaikan dihadapkan oleh magnit bumi yang sangat besar sekali, ia menempelkan dirinya di dada Hendi pelahan-lahan direbahkannya tubuh Vena pada kasur.Emosinya telah terselubungi bara asmara, Vena pun pasrah, deburan darah dan detup jantungnya mengguncang tubuhnya yang sangat molek dan bergairah. Ditunggunya moment indah yang akan dirasakan bersama Hendi, seperti dalam gambaran benaknya.Gumaman dan desahan selama pagutan. Jelas getaran cinta yang dibawa Vena membuat Hendi semakin tergairah lagi ingin lebih melakukan langkahnya, menjelajahi badan mulus Vena. Dibukanya kancing depan blusenya yang menepel di badannya, dielusnya sembulan kenyal gunung kembar indah yang mencuat sebagian dari sarangnya warna pastel.Diangkatnya kepala Vena dan diletakkannya di pangkuannya, dirabanya halus buah dadanya; dengan mata sayu penuh nafsu, diangkatnya lagi lebih tinggi bahu dan kepala Vena dan disandarkanya pada lengan kirinya, jemari tangan kiri mengusap-usap lengan tang

    Last Updated : 2025-03-29

Latest chapter

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   37) Istri Apoteker (9)

    Cahaya matahari pagi merambat masuk melalui jendela besar di kamar Bu Sindy. Tirai putih yang tipis bergoyang perlahan diterpa angin sejuk. Aroma kopi yang baru diseduh menyelinap ke dalam ruangan, bercampur dengan wangi mawar dari lilin aromaterapi yang masih menyala di sudut ruangan.Jovan membuka mata perlahan, menyesap udara pagi yang begitu tenang. Di sampingnya, Bu Sindy masih terlelap, wajahnya tampak damai. Gaun tidurnya sedikit kusut, menandakan malam yang cukup intens. Jovan tersenyum kecil, mengingat semua yang terjadi semalam.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki. Mungkin Pak Surya yang sudah bangun lebih dulu. Tak lama, terdengar suara ketukan di pintu."Sayang, ayo bangun. Sarapan sudah siap," suara lembut Bu Sindy menggema.Jovan bangkit, merapikan rambutnya sejenak sebelum berjalan keluar. Di ruang makan, Pak Surya sudah duduk dengan santai, mengenakan pakaian kasual dengan koran di tangannya."Pagi, Jovan. Tidur nyenyak?" tanyanya dengan nada ringan.Jovan meng

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   33) Istri Apoteker (4)

    Bu Sindy terpaku, tubuhnya menegang sesaat, sebelum perlahan-lahan, seiring dengan gerakan bibir Jovan yang semakin dalam, dia mulai larut dalam ciuman itu.Jovan mencium dengan penuh kendali—tidak tergesa, tidak serakah, tetapi begitu dalam dan menyesakkan. Bibirnya bergerak dengan ritme yang sempurna, memberi, lalu menuntut, membimbing Bu Sindy untuk ikut tenggelam bersamanya.Dan saat Jovan sedikit menggigit lembut bibir bawahnya sebelum kembali memperdalam ciuman, Bu Sindy melepaskan keluhan lirih yang hampir tak terdengar. Jemarinya mencengkeram lengan Jovan, seakan takut terjatuh.Jovan tersenyum di antara ciuman mereka."Tenang saja, Bu… saya akan membuat Ibu mengingat ini selamanya," gumamnya sebelum kembali mencuri napas dan membawanya lebih dalam lagi—lebih dalam dari yang pernah Bu Sindy bayangkan.Jovan menarik Bu Sindy lebih erat, bibirnya masih panas menyusuri setiap inci kelembutan wanita itu. Tangan-tangan mereka bergerak tanpa ragu, merobek jarak yang tersisa, membuat

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   46) Perubahan Besar (3)

    Pak Winata masih tertidur dengan lelapnya. Bu Intan masih belum merasa lengkap bila tidak merasakan rudal Dave yang mempunyai ukuran luar biasa tersebut, tapi dia juga sedikit khawatir bila ia teruskan permainannya di kamar tidurnya ini akan membuat suaminya bangun karena mendengar rintihan-rintihan dan erangan-erangannya.Bu Intan kemudian mengajak Dave untuk keluar dari kamar tidurnya. Mereka beranjak dari kamar tidur tersebut dengan setengah telanjang, tidak lupa untuk membawa pakaian mereka yang sudah terlepas.Di ruangan keluarga kembali Bu Intan mencumbu Dave dengan penuh nafsu, Bu Intan mulai mendorong Dave untuk duduk di sofa, ia pun kemudian bersujud di hadapan Dave.Dengan penuh nafsu rudal Dave yang setengah bangun mulai dikulum dan dijilatinya, Dave mulai mendesah-desah keenakan merasakan kuluman dan jilatan mulut dan lidah Bu Intan di rudalnya.Perlahan-lahan Bu Intan mulai merasakan rudal Dave bangkit dan mulai mengeras, mulut Bu Intan yang mungil tidak cukup untuk mengu

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   45) Perubahan Besar (2)

    Percakapan terus mengalir, diselingi gelak tawa ringan dan sesekali kilatan mata Dave yang mencuri pandang ke arahnya. Botol demi botol dibuka, hingga waktu terasa berlalu begitu saja. Bu Intan memperhatikan wajah suaminya yang mulai memerah. Gerakannya semakin lambat, omongannya mulai melantur.Sementara itu, Dave tampak tetap tenang. Mungkin karena ia terbiasa dengan minuman seperti ini.Jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Pak Winata semakin kehilangan kendali. Matanya sudah setengah terpejam, tangannya terkadang bergerak tanpa arah, dan bicaranya semakin tidak jelas.Bu Intan tersenyum kecil, teringat betapa lemahnya suaminya jika sudah berada dalam kondisi seperti ini. Sebuah ide melintas di benaknya—ia tahu betul bagaimana malam ini bisa berakhir.Senyumnya makin lebar.Dave, yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya bertanya. “Apa yang membuat Anda tersenyum, Bu Intan?”Bu Intan hanya menoleh sekilas, lalu kembali tersenyum tanpa menjawab.Seperti yang s

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   44) Perubahan Besar (1)

    Bu Intan merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hari-harinya sejak pertemuan itu. Kenangan akan Rizal terus membayangi pikirannya, menciptakan getaran aneh di hatinya yang sudah lama tak ia rasakan. Ia sering termenung, mengingat kembali bagaimana Rizal memperlakukannya—santai, nakal, tetapi tetap penuh perhatian.Setiap kali ia mendengar suara motor lewat di depan rumahnya, dadanya berdebar, berharap itu Rizal. Setiap kali notifikasi ponselnya berbunyi, hatinya melompat, hanya untuk kecewa saat mendapati pesan itu bukan darinya.Di sela-sela kesibukannya, ia berkali-kali ingin mengangkat ponselnya, mengetik pesan singkat atau bahkan sekadar menanyakan kabar Rizal. Namun, gengsi menahannya. Bagaimana mungkin ia, seorang istri pejabat yang seharusnya anggun dan berwibawa, justru dirundung rindu pada seorang pemuda kampung sok bergaya kota?Seharusnya dia memang dengan Jovan, bukan Rizal.Bu Intan menatap layar ponselnya dengan kesal. Beberapa kali ia mencoba menghubungi mantan menantuny

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   43) Mantan Mertua Bos (5)

    Setelah mengantar pulang Bu Intan, Rizal menyalakan motornya dan melaju pelan di jalanan yang mulai lengang. Udara malam masih menyisakan kehangatan pertemuan mereka, namun Rizal tahu, dunia tidak berhenti hanya di satu momen saja.Dia tidak langsung pulang ke rumah kebun. Ada kegelisahan yang masih berputar di kepalanya, sesuatu yang belum tuntas. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia membelokkan motornya ke sebuah warung kopi langganannya.Begitu sampai, Rizal langsung disambut oleh beberapa temannya. Salah satunya, Herman, menepuk bahunya dengan tawa kecil."Tumben malam-malam nongol. Baru dari mana, Lu?"Rizal hanya nyengir, melempar helmnya ke atas meja dan menarik kursi."Biasa, muter-muter nyari angin," jawabnya santai, padahal pikirannya masih terbayang sosok Bu Intan.Herman menyipitkan mata curiga. "Muter-muter nyari angin atau nyari lobang nganggur?" godanya.Rizal hanya terkekeh, memilih menyesap kopinya tanpa menjawab. Dia menikmati suasana warung itu—lampu remang-reman

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   42) Mantan Mertua Bos (4)

    Bibir mereka masih bertaut, lembut namun semakin dalam. Tangan Bu Intan mulai nakal menelusuri selangkangan Rizal, awalnya hanya sentuhan ringan, tapi kini seakan ada tarikan tak kasat mata yang membuat tangannya menggenggam benda keras, besar dan panjang di balik chinos. Dia enggan melepaskan.Rizal merasakan bagaimana tubuh Bu Intan perlahan melemas dalam dekapannya, memberi isyarat tanpa kata bahwa wanita itu telah tenggelam dalam gelombang perasaan yang tak lagi bisa ditahan. Kedua semakin kuat meremasi kedua payudara Bu Intan, ciuman mereka semakin liar.Bu Intan sedikit menghela napas di antara kecupan mereka, merasakan debaran dadanya yang berpacu begitu cepat. Ia bukan lagi seorang wanita muda, namun sentuhan Rizal seakan membangkitkan sisi dirinya yang selama ini terkubur oleh kamuplase dan ambisi tuntutan hidup.Rizal menurunkan ciumannya ke sepanjang garis rahang Bu Intan, meninggalkan jejak kehangatan di kulitnya yang halus. Wanita itu memejamkan mata, membiarkan dirinya l

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   41) Mantan Mertua Bos (3)

    “Selamat datang di dunia malam yang beda, Bu,” kata Rizal pelan.Bu Intan tertawa kecil. Ia tidak tahu apakah ini keputusan yang tepat atau tidak. Tapi yang jelas, mugkin malam ini akan jadi sesuatu yang tidak akan ia lupakan.Angin malam berhembus lembut, membelai wajah Bu Intan yang tersenyum tanpa sadar. Rizal mengendarai motor sport milik Jovan dengan santai, sesekali melirik ke samping, menikmati ekspresi wanita yang kini duduk di belakangnya.Sejenak, Bu Intan lupa bahwa pria yang bersamanya ini seusia anak bungsunya. Lupa bahwa seharusnya ia bukan berada di sini, tapi mungkin di rumah, menikmati teh hangat dan membaca berita tentang dunia bisnis dan politik.Tapi nyatanya, di sini, di atas motor bersama Rizal seorang pemuda kampung yang penuh pesona aura kota, Bu Intan merasa bebas."Ini yang namanya keliling kota ala anak muda, Bu," Rizal menoleh sedikit, suaranya bercampur angin malam. "Bukan cuma di dalam mobil mewah, nggak seru."Bu Intan terkekeh. "Kamu pikir aku masih ana

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   40) Mantan Mertua Bos (2)

    Di lantai tiga, suasana jauh lebih tenang. Beberapa bilik VIP dengan lampu redup memberikan kesan eksklusif. Rizal membuka salah satu pintu dan memberi isyarat agar Bu Intan masuk lebih dulu.“Silakan, Bu.”Bu Intan melangkah masuk dengan tetap menjaga jarak. Begitu Rizal menutup pintu, ia bersedekap dan menatap pria muda itu dengan tajam.“Sekarang, ayo bicara.”Rizal menyesap napas, lalu tersenyum tipis. Ia duduk dengan santai di sofa, menyilangkan kaki, seolah mengendalikan situasi.“Nah, sekarang kita bisa ngobrol lebih enak. Jadi, Bu Intan... Apa yang sebenarnya ingin Ibu ketahui?”Jari-jarinya mengetuk perlahan permukaan meja, menciptakan ritme kecil yang hanya ia sendiri yang paham.Bu Intan di seberangnya menatap dengan ekspresi menunggu. Ia tidak terbiasa membuang waktu untuk basa-basi, tapi Rizal? Dia menikmati setiap detik permainan ini.Ia menyeruput kopinya perlahan, lalu akhirnya membuka suara, nadanya dibuat rendah dan misterius. “Bos Jovan itu… beda dari kebanyakan ora

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status