Share

Bab 2

Author: Brigita Shinta
"Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos.

"Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.

Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"

Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar.

"Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"

Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.

Namun, hanya aku yang tahu betapa licik dan kejamnya dia. Saat aku mencoba gaun pengantin beberapa hari lalu, Michelle merengek pada Bradley dan memaksa ikut denganku.

Aku tidak terlalu peduli. Namun, setiap kali aku memilih satu gaun, dia selalu bersikeras menginginkannya juga. Hingga untuk kelima kalinya dia mencoba merebut pilihanku, kesabaranku habis.

"Michelle, kamu ini sebenarnya mau apa?" tanyaku dengan nada yang tak bisa lagi menyembunyikan kejengkelan. Dia hanya menyeringai, menatapku lurus dengan sorot mata penuh niat buruk.

Kami saling berhadapan dalam diam cukup lama, hingga akhirnya dia melepas gaun yang diperebutkan dan berkata, "Beatrice, kamu pikir aku akan membiarkanmu menikahi Bradley begitu saja?"

Sebelum aku bisa memahami maksud ucapannya, tiba-tiba dia menjatuhkan cermin besar di sampingnya ke tubuhnya sendiri.

"Ahhh!"

Suara kaca pecah memenuhi ruangan. Pecahan cermin berserakan di lantai, sementara Michelle berteriak dengan tangannya yang berdarah. Seorang pegawai butik yang mendengar suara itu segera berlari menghampiri kami. Namun, dia langsung jatuh terduduk begitu melihat darah yang mengalir dari tangan Michelle.

"Darah! Banyak sekali darah!"

Aku mencoba mendekatinya dan ingin membantunya bangkit. Namun, sebelum aku bisa menyentuhnya, dia justru menangis dan berteriak padaku.

"Kak Beatrice, aku sudah mengalah dan memberikan gaun yang kupilih untukmu, tapi kenapa kamu masih mendorongku?"

Seketika, sebuah dorongan kuat menghantam tubuhku dan membuatku terjatuh ke lantai. Kepalaku terasa pusing. Saat kesadaranku kembali, yang pertama kali kulihat adalah tatapan dingin Bradley yang menusuk.

"Kak Bradley, sakit sekali! Tolong aku!" Michelle menangis dengan suaranya yang bergetar ketakutan.

"Jangan takut, aku segera bawa kamu ke rumah sakit! Kamu pasti akan baik-baik saja!"

Dengan penuh kepanikan, Bradley mengangkat tubuhnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Dalam kekacauan, dia tanpa sengaja menginjak tanganku.

Aku menjerit kesakitan. Namun, dia bahkan tidak melirikku sedikit pun. Saat itu, aku akhirnya mengerti. Perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai sangatlah jelas. Dan aku harus mengakui ... selama ini aku hanya menipu diriku sendiri.

Karena Michelle mengalami keguguran dan lengannya patah, Bradley memilih melukai lenganku dengan pisau, mengurungku di ruang bawah tanah, dan menyiksaku. Dia tidak peduli dengan kebenaran.

Yang dia pedulikan hanyalah Michelle terluka, dan karena itu, dia harus membalaskan dendamnya. Di matanya, aku bukan siapa-siapa.

"Lalu ... bagaimana dengan pernikahannya? Aku ... aku nggak mau orang lain mentertawakanmu!" Michelle menatap Bradley dengan mata berkaca-kaca dan suaranya terisak.

"Pak Bradley, atau mungkin aku harus ...." Asisten Bradley mencoba berbicara dengan hati-hati, tetapi kalimatnya terputus oleh dering ponsel yang nyaring.

Asisten Bradley menjawab panggilan itu dengan ekspresi dingin. "Apa?!"

Wajah asistennya langsung berubah pucat. Setelah menutup telepon, dia ragu-ragu sebelum akhirnya berkata dengan suara gemetar, "Pak Bradley, Bu Beatrice sudah ditemukan. Tapi ...."

"Tapi apa? Cepat bilang! Jangan bertele-tele! Apa Beatrice benar-benar mati?" Bradley menatapnya dengan tidak sabar.

Asistennya menelan ludah, lalu akhirnya mengatakan dengan suara bergetar, "Bu Beatrice ... memang sudah mati. Orang-orang yang kami kirim menemukan tubuhnya."

Sesaat, ekspresi Bradley tampak ragu. Namun, keraguan itu segera hilang. Sebaliknya, dia malah tertawa dengan tidak acuh.

"Dia bahkan nggak bisa cari alasan yang lebih masuk akal! Michelle sendiri melihatnya jalan-jalan sama pria lain, sekarang kalian bilang dia sudah mati? Kalian pikir aku ini orang bodoh?"

"Bukan begitu, Pak Bradley! Bu Beatrice benar-benar sudah mati!"

Asistennya berusaha meyakinkannya dengan panik. Namun, tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi.

Karena Bradley telah menggenggam tangan Michelle dan membawanya masuk ke dalam aula pernikahan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 3

    Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle."Kamu! Kamu sudah berkali-kali menj

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 4

    Semua orang refleks menutup hidung dan mulut mereka, tapi tetap saja, ada yang tidak bisa menahan rasa mual."Kenapa bau ini menyengat sekali? Seperti ada sesuatu yang mati di sini!" Michelle mengeluh dengan nada jijik.Bradley hanya mengerutkan keningnya, tetapi tetap melangkah masuk.Ruang bawah tanah masih gelap gulita, tapi aku tidak lagi merasa takut. Apa yang perlu ditakuti dari kegelapan? Manusia jauh lebih menakutkan.Seberkas cahaya dari pintu yang terbuka menerangi lantai. Mereka berjalan mendekat dengan perlahan hingga akhirnya asisten menyalakan lampu di ruangan itu.Cahaya yang tiba-tiba menyala membuat Bradley menyipitkan mata. Sementara itu, Michelle langsung menjerit ketakutan. "Ahh!"Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah tertentu dan matanya membelalak penuh kepanikan. Namun, aku tahu itu hanya sandiwara. Sebab di sudut bibirnya, tersungging senyuman yang tak bisa disembunyikan.Bradley mengikuti arah jarinya, dan begitu dia melihatnya, tubuhnya menegang.Mana mungki

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 5

    Bradley mencengkeram tanganku semakin erat, lalu tiba-tiba melepaskannya. Tubuhku langsung kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai, dan terengah-engah menarik napas."Bradley, aku benar-benar nggak melakukan ini! Itu bukan aku!"Aku menarik sudut bajunya dengan hati-hati, tapi dia malah menepis tanganku dengan kasar. "Beatrice, aku akan menikah denganmu, tapi jangan harap lebih dari itu!"Setelah berkata demikian, dia membanting pintu dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai yang dingin sepanjang malam.Hari itu, kebetulan adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan makanan, menyalakan lilin, membeli kue. Dengan penuh harapan, aku menunggu Bradley pulang agar kami bisa merayakan ulang tahun yang hangat bersama.Namun, kata-katanya menghancurkan semua harapanku, menyisakan hanya kebodohan dan harapan sepihakku sendiri. Aku pikir cinta kami sudah cukup kuat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kepercayaan di antara kami begitu rapuh di hadapan Michelle.Namun, jika dipikir

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 6

    Brak!Tongkat itu menghantam kepalaku dengan keras, membuat kesadaranku langsung menghilang dalam sekejap. Saat aku kembali sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih di atas kepalaku. Aku berusaha bangkit, tetapi Marven yang ada di samping segera menahanku."Jangan bergerak! Luka di kepalamu bisa terbuka lagi!"Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sudah berada di rumah sakit.Namun, saat mengingat Bradley, aku langsung mencengkeram lengan Marven dengan panik dan bertanya, "Bradley ... gimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?"Marven menghela napas Panjang dan menepuk tanganku dengan penuh keprihatinan. "Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik! Tapi kenapa kau masih saja mengkhawatirkannya sampai sekarang?"Namun, aku tetap tidak tenang. Aku harus memastikan sendiri keadaannya.Akhirnya, Marven membawaku ke depan sebuah ruang perawatan. Namun, begitu aku mengintip ke dalam, dadaku seolah-olah diremas hingga membuatku kesulitan bernapas.Dari celah pintu, aku

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 7

    Tatapan Marven langsung berubah tajam. Dia meraih kerah Bradley dengan kasar dan menuntut, "Apa yang kamu lakukan sama Beatrice? Di mana dia? Katakan!"Namun, Bradley tampak seperti orang yang baru saja terjebak dalam mimpi buruk. Dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali. Marven yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bradley."Beatrice hampir mati dipukul demi menyelamatkanmu! Tapi kamu bahkan nggak menanyakannya sekali pun! Kamu benar-benar bukan manusia!"Setelah berkata demikian, satu pukulan lagi mendarat di wajah Bradley. Karena pukulan itu, Bradley terhuyung dan jatuh ke lantai sambil menatap Marven dengan tatapan tidak percaya."Orang yang menyelamatkanku adalah Beatrice? Bukankah seharusnya Michelle? Mana mungkin Beatrice? Nggak mungkin!""Dasar berengsek! Kesalahan terbesar Beatrice dalam hidupnya adalah bertemu bajingan sepertimu!"Marven naik ke atas tubuh Bradley dan menghantamkan tinjunya berkali-kali untuk melampiaskan semua kemarahannya.Na

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 8

    Aku juga tidak mengerti bagaimana hubungan kami bisa berakhir seperti ini. Saat aku masih kecil, aku dan ibuku pindah ke sebuah kamar bawah tanah untuk bertahan hidup.Itu adalah masa-masa yang paling sulit. Aku bahkan tidak bisa bersekolah dan hanya bisa diam-diam memanjat pohon di luar pagar sekolah untuk mengintip pelajaran di dalam kelas.Suatu hari, aku tidak sengaja terjatuh dari pohon. Aku duduk di bawah sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, seorang anak laki-laki seusiaku datang menghampiri dan menyodorkan permen susu dalam bungkus plastik bening."Jangan menangis, ya? Aku kasih kau permen!"Aku terisak sambil menatapnya sekilas dan akhirnya tergoda oleh permen yang terlihat sangat enak itu. Tangisku perlahan mereda. Aku pun dengan senang hati memakan permen itu. Dia menemaniku duduk lama di sana, bercerita tentang hal-hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.Kemudian, dia menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.Saat itu, aku tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang kuing

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 1

    "Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jangan, terjadi sesuatu sama Bu Beatrice?"Namun, mendengar hal itu, Bradley langsung menghempaskan gelas anggur di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Apa yang bisa terjadi padanya? Dia sengaja mempermalukanku! Ini semua karena dia marah sama aku karena aku menghukum dia demi Michelle!"Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari pintu yang perlahan mendekat. "Kak Bradley, barusan aku sepertinya melihat Kak Beatrice! Aku bahkan sempat mengambil fotonya!"Michelle mengeluarkan ponselnya dengan semangat dan memperlihatkan layar di depan Bradley. Di dalam foto itu, sosokku terlihat jelas bersama sahabat masa kecilku, M

Latest chapter

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 8

    Aku juga tidak mengerti bagaimana hubungan kami bisa berakhir seperti ini. Saat aku masih kecil, aku dan ibuku pindah ke sebuah kamar bawah tanah untuk bertahan hidup.Itu adalah masa-masa yang paling sulit. Aku bahkan tidak bisa bersekolah dan hanya bisa diam-diam memanjat pohon di luar pagar sekolah untuk mengintip pelajaran di dalam kelas.Suatu hari, aku tidak sengaja terjatuh dari pohon. Aku duduk di bawah sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, seorang anak laki-laki seusiaku datang menghampiri dan menyodorkan permen susu dalam bungkus plastik bening."Jangan menangis, ya? Aku kasih kau permen!"Aku terisak sambil menatapnya sekilas dan akhirnya tergoda oleh permen yang terlihat sangat enak itu. Tangisku perlahan mereda. Aku pun dengan senang hati memakan permen itu. Dia menemaniku duduk lama di sana, bercerita tentang hal-hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.Kemudian, dia menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.Saat itu, aku tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang kuing

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 7

    Tatapan Marven langsung berubah tajam. Dia meraih kerah Bradley dengan kasar dan menuntut, "Apa yang kamu lakukan sama Beatrice? Di mana dia? Katakan!"Namun, Bradley tampak seperti orang yang baru saja terjebak dalam mimpi buruk. Dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali. Marven yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bradley."Beatrice hampir mati dipukul demi menyelamatkanmu! Tapi kamu bahkan nggak menanyakannya sekali pun! Kamu benar-benar bukan manusia!"Setelah berkata demikian, satu pukulan lagi mendarat di wajah Bradley. Karena pukulan itu, Bradley terhuyung dan jatuh ke lantai sambil menatap Marven dengan tatapan tidak percaya."Orang yang menyelamatkanku adalah Beatrice? Bukankah seharusnya Michelle? Mana mungkin Beatrice? Nggak mungkin!""Dasar berengsek! Kesalahan terbesar Beatrice dalam hidupnya adalah bertemu bajingan sepertimu!"Marven naik ke atas tubuh Bradley dan menghantamkan tinjunya berkali-kali untuk melampiaskan semua kemarahannya.Na

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 6

    Brak!Tongkat itu menghantam kepalaku dengan keras, membuat kesadaranku langsung menghilang dalam sekejap. Saat aku kembali sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih di atas kepalaku. Aku berusaha bangkit, tetapi Marven yang ada di samping segera menahanku."Jangan bergerak! Luka di kepalamu bisa terbuka lagi!"Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sudah berada di rumah sakit.Namun, saat mengingat Bradley, aku langsung mencengkeram lengan Marven dengan panik dan bertanya, "Bradley ... gimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?"Marven menghela napas Panjang dan menepuk tanganku dengan penuh keprihatinan. "Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik! Tapi kenapa kau masih saja mengkhawatirkannya sampai sekarang?"Namun, aku tetap tidak tenang. Aku harus memastikan sendiri keadaannya.Akhirnya, Marven membawaku ke depan sebuah ruang perawatan. Namun, begitu aku mengintip ke dalam, dadaku seolah-olah diremas hingga membuatku kesulitan bernapas.Dari celah pintu, aku

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 5

    Bradley mencengkeram tanganku semakin erat, lalu tiba-tiba melepaskannya. Tubuhku langsung kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai, dan terengah-engah menarik napas."Bradley, aku benar-benar nggak melakukan ini! Itu bukan aku!"Aku menarik sudut bajunya dengan hati-hati, tapi dia malah menepis tanganku dengan kasar. "Beatrice, aku akan menikah denganmu, tapi jangan harap lebih dari itu!"Setelah berkata demikian, dia membanting pintu dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai yang dingin sepanjang malam.Hari itu, kebetulan adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan makanan, menyalakan lilin, membeli kue. Dengan penuh harapan, aku menunggu Bradley pulang agar kami bisa merayakan ulang tahun yang hangat bersama.Namun, kata-katanya menghancurkan semua harapanku, menyisakan hanya kebodohan dan harapan sepihakku sendiri. Aku pikir cinta kami sudah cukup kuat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kepercayaan di antara kami begitu rapuh di hadapan Michelle.Namun, jika dipikir

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 4

    Semua orang refleks menutup hidung dan mulut mereka, tapi tetap saja, ada yang tidak bisa menahan rasa mual."Kenapa bau ini menyengat sekali? Seperti ada sesuatu yang mati di sini!" Michelle mengeluh dengan nada jijik.Bradley hanya mengerutkan keningnya, tetapi tetap melangkah masuk.Ruang bawah tanah masih gelap gulita, tapi aku tidak lagi merasa takut. Apa yang perlu ditakuti dari kegelapan? Manusia jauh lebih menakutkan.Seberkas cahaya dari pintu yang terbuka menerangi lantai. Mereka berjalan mendekat dengan perlahan hingga akhirnya asisten menyalakan lampu di ruangan itu.Cahaya yang tiba-tiba menyala membuat Bradley menyipitkan mata. Sementara itu, Michelle langsung menjerit ketakutan. "Ahh!"Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah tertentu dan matanya membelalak penuh kepanikan. Namun, aku tahu itu hanya sandiwara. Sebab di sudut bibirnya, tersungging senyuman yang tak bisa disembunyikan.Bradley mengikuti arah jarinya, dan begitu dia melihatnya, tubuhnya menegang.Mana mungki

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 3

    Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle."Kamu! Kamu sudah berkali-kali menj

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 2

    "Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos."Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar."Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.Namun, hanya aku yan

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 1

    "Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jangan, terjadi sesuatu sama Bu Beatrice?"Namun, mendengar hal itu, Bradley langsung menghempaskan gelas anggur di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Apa yang bisa terjadi padanya? Dia sengaja mempermalukanku! Ini semua karena dia marah sama aku karena aku menghukum dia demi Michelle!"Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari pintu yang perlahan mendekat. "Kak Bradley, barusan aku sepertinya melihat Kak Beatrice! Aku bahkan sempat mengambil fotonya!"Michelle mengeluarkan ponselnya dengan semangat dan memperlihatkan layar di depan Bradley. Di dalam foto itu, sosokku terlihat jelas bersama sahabat masa kecilku, M

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status