Share

Bab 3

Author: Brigita Shinta
Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.

Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"

Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.

Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"

Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle.

"Kamu! Kamu sudah berkali-kali menjebak Beatrice! Pasti kali ini juga kamu melakukan sesuatu padanya, makanya dia nggak bisa datang! Katakan! Apa yang kamu lakukan pada putriku?!"

Mata ibuku memerah, suaranya penuh dengan kepanikan saat dia menuntut jawaban.

Para tamu mulai saling berbisik. "Apa? Dia bukan tunangan Pak Bradley? Kalau begitu, untuk apa dia datang ke sini?"

"Jangan bilang dia ini perusak rumah tangga? Pelakor bukan?"

....

Mendengar semua ucapan itu, mata Michelle pun berkaca-kaca.

Dengan berhati-hati, dia menarik lengan Bradley dan berkata dengan nada manja, "Kak Bradley, ini semua salahku .... aku membuatmu dipermalukan di depan semua orang ...."

Sikap Michelle yang manja ini sepertinya sangat berpengaruh terhadap Bradley. Dia tersenyum pada wanita itu seolah sedang menenangkannya.

Lalu, dengan tatapan dingin, dia memandang ibuku dan berkata, "Putrimu sudah melakukan hal menjijikkan begini, kamu masih berani menyebut namanya di depanku?"

Ibuku terpaku di tempat karena tatapan penuh kebencian itu.

Bradley menggandeng Michelle melewati ibuku dan berjalan ke arah pembawa acara. Di depan semua tamu, dia mengambil mikrofon dan mengumumkan dengan suara dingin.

"Pengantin asli dari pernikahan ini, Beatrice, telah berselingkuh sebelum menikah. Dia nggak berani datang dan telah mengundurkan diri dari pertunangan! Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menikahi Nona Michelle!"

Begitu kata-kata itu keluar dari mulut Bradley, suasana di ruangan langsung berubah. Para tamu yang awalnya bingung kini mulai berbalik menyerangku.

"Astaga! Ternyata Beatrice wanita murahan begitu! Jijik sekali!"

"Pantas saja dia kabur! Memalukan!"

Di antara semua suara hinaan itu, hanya ibuku yang masih berusaha membelaku. "Bukan begitu! Beatrice bukan orang seperti itu! Dia selalu mencintai Bradley! Justru Bradley yang mengkhianatinya!"

Dia mencoba menjelaskan dengan suara putus asa. Namun, tidak ada yang percaya. Sebaliknya, cemoohan semakin keras.

Tiba-tiba, ibuku menekan dadanya dengan ekspresi kesakitan. Tubuhnya goyah sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Melihat kejadian itu, aku merasa dunia seolah berhenti.

Aku berlari ke arahnya dan ingin memeluknya. Namun ... aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.

"Ibu! Ibu, bangun! Ini aku, Beatrice!" Aku berteriak histeris dan air mataku jatuh tanpa henti. "Tolong! Seseorang tolong dia! Cepat panggil dokter!" Aku menangis tersedu-sedu untuk memohon bantuan.

Namun, tidak ada satu pun yang datang menolong.

Aku mengalihkan pandanganku ke Bradley, berharap dia akan melakukan sesuatu. Namun, dia bahkan tidak menoleh ke arah kami. Yang kulihat hanyalah punggungnya yang semakin menjauh dan masih memeluk Michelle dalam dekapannya.

Aku kembali berlutut di samping ibuku. Tanganku gemetar saat menyentuh wajahnya yang kini pucat pasi.

"Ibu, aku salah! Seharusnya aku mendengarkanmu .... Aku nggak seharusnya keras kepala dan tetap ingin menikah sama dia! Aku yang telah menyakitimu!"

"Tolong bangun! Lihat aku sekali saja!"

Namun, dia tidak akan pernah membuka matanya lagi. Aku hanya bisa menatap wajahnya yang tak lagi bernyawa, sementara semua orang di ruangan itu tetap tertawa, minum, dan menikmati perayaan mereka ....

Aku tidak bisa memahami ... bagaimana manusia bisa sedingin ini?

Akhirnya, seorang pelayan hotel membawa orang-orang untuk mengangkat tubuh ibuku dan membawanya pergi. Aku ingin mengikutinya. Aku ingin berada di sisinya. Namun, entah mengapa, aku tidak bisa bergerak dari tempatku.

Apakah ini hukuman dari langit karena aku telah menyia-nyiakan hidupku untuk seorang pria yang tidak pantas? Apakah karena itu ... bahkan setelah mati, aku masih harus terjebak di sisi Bradley?

Namun, bukankah hukumannya sudah cukup? Kenapa ibuku juga harus ikut menanggungnya?

Saat aku hampir tenggelam dalam keputusasaan, Bradley kembali ke kamar pengantin. Kamar yang seharusnya menjadi tempat kami memulai hidup baru. Semuanya di sini adalah hasil dari kerja kerasku.

Setiap sudut ruangan, setiap dekorasi, semua kuatur sendiri demi pernikahan ini.

Namun kini, semuanya seakan berubah menjadi lelucon kejam yang menertawakan betapa bodohnya aku.

Dengan wajah malu-malu, Michelle berjinjit dan mencium bibir Bradley. Bradley hanya tersenyum kecil dan mengusap pipinya dengan lembut. Mereka tenggelam dalam gairah, bersiap untuk naik ke lantai atas.

Namun tiba-tiba, suara keras memecah momen itu.

"Pak Bradley, Anda sebaiknya melihat sendiri bagaimana menangani jasad Bu Beatrice!"

Bradley terdiam sejenak. Namun kemudian, ekspresinya kembali berubah menjadi tidak sabar. "Apa lagi sekarang? Aku mau lihat sendiri apakah dia benar-benar mati atau cuma berpura-pura!"

Dengan enggan, dia mengikuti asistennya menuju ruang bawah tanah. Begitu pintu besi yang berat terbuka, bau busuk yang menyengat langsung menyebar memenuhi seluruh ruangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 4

    Semua orang refleks menutup hidung dan mulut mereka, tapi tetap saja, ada yang tidak bisa menahan rasa mual."Kenapa bau ini menyengat sekali? Seperti ada sesuatu yang mati di sini!" Michelle mengeluh dengan nada jijik.Bradley hanya mengerutkan keningnya, tetapi tetap melangkah masuk.Ruang bawah tanah masih gelap gulita, tapi aku tidak lagi merasa takut. Apa yang perlu ditakuti dari kegelapan? Manusia jauh lebih menakutkan.Seberkas cahaya dari pintu yang terbuka menerangi lantai. Mereka berjalan mendekat dengan perlahan hingga akhirnya asisten menyalakan lampu di ruangan itu.Cahaya yang tiba-tiba menyala membuat Bradley menyipitkan mata. Sementara itu, Michelle langsung menjerit ketakutan. "Ahh!"Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah tertentu dan matanya membelalak penuh kepanikan. Namun, aku tahu itu hanya sandiwara. Sebab di sudut bibirnya, tersungging senyuman yang tak bisa disembunyikan.Bradley mengikuti arah jarinya, dan begitu dia melihatnya, tubuhnya menegang.Mana mungki

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 5

    Bradley mencengkeram tanganku semakin erat, lalu tiba-tiba melepaskannya. Tubuhku langsung kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai, dan terengah-engah menarik napas."Bradley, aku benar-benar nggak melakukan ini! Itu bukan aku!"Aku menarik sudut bajunya dengan hati-hati, tapi dia malah menepis tanganku dengan kasar. "Beatrice, aku akan menikah denganmu, tapi jangan harap lebih dari itu!"Setelah berkata demikian, dia membanting pintu dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai yang dingin sepanjang malam.Hari itu, kebetulan adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan makanan, menyalakan lilin, membeli kue. Dengan penuh harapan, aku menunggu Bradley pulang agar kami bisa merayakan ulang tahun yang hangat bersama.Namun, kata-katanya menghancurkan semua harapanku, menyisakan hanya kebodohan dan harapan sepihakku sendiri. Aku pikir cinta kami sudah cukup kuat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kepercayaan di antara kami begitu rapuh di hadapan Michelle.Namun, jika dipikir

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 6

    Brak!Tongkat itu menghantam kepalaku dengan keras, membuat kesadaranku langsung menghilang dalam sekejap. Saat aku kembali sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih di atas kepalaku. Aku berusaha bangkit, tetapi Marven yang ada di samping segera menahanku."Jangan bergerak! Luka di kepalamu bisa terbuka lagi!"Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sudah berada di rumah sakit.Namun, saat mengingat Bradley, aku langsung mencengkeram lengan Marven dengan panik dan bertanya, "Bradley ... gimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?"Marven menghela napas Panjang dan menepuk tanganku dengan penuh keprihatinan. "Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik! Tapi kenapa kau masih saja mengkhawatirkannya sampai sekarang?"Namun, aku tetap tidak tenang. Aku harus memastikan sendiri keadaannya.Akhirnya, Marven membawaku ke depan sebuah ruang perawatan. Namun, begitu aku mengintip ke dalam, dadaku seolah-olah diremas hingga membuatku kesulitan bernapas.Dari celah pintu, aku

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 7

    Tatapan Marven langsung berubah tajam. Dia meraih kerah Bradley dengan kasar dan menuntut, "Apa yang kamu lakukan sama Beatrice? Di mana dia? Katakan!"Namun, Bradley tampak seperti orang yang baru saja terjebak dalam mimpi buruk. Dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali. Marven yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bradley."Beatrice hampir mati dipukul demi menyelamatkanmu! Tapi kamu bahkan nggak menanyakannya sekali pun! Kamu benar-benar bukan manusia!"Setelah berkata demikian, satu pukulan lagi mendarat di wajah Bradley. Karena pukulan itu, Bradley terhuyung dan jatuh ke lantai sambil menatap Marven dengan tatapan tidak percaya."Orang yang menyelamatkanku adalah Beatrice? Bukankah seharusnya Michelle? Mana mungkin Beatrice? Nggak mungkin!""Dasar berengsek! Kesalahan terbesar Beatrice dalam hidupnya adalah bertemu bajingan sepertimu!"Marven naik ke atas tubuh Bradley dan menghantamkan tinjunya berkali-kali untuk melampiaskan semua kemarahannya.Na

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 8

    Aku juga tidak mengerti bagaimana hubungan kami bisa berakhir seperti ini. Saat aku masih kecil, aku dan ibuku pindah ke sebuah kamar bawah tanah untuk bertahan hidup.Itu adalah masa-masa yang paling sulit. Aku bahkan tidak bisa bersekolah dan hanya bisa diam-diam memanjat pohon di luar pagar sekolah untuk mengintip pelajaran di dalam kelas.Suatu hari, aku tidak sengaja terjatuh dari pohon. Aku duduk di bawah sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, seorang anak laki-laki seusiaku datang menghampiri dan menyodorkan permen susu dalam bungkus plastik bening."Jangan menangis, ya? Aku kasih kau permen!"Aku terisak sambil menatapnya sekilas dan akhirnya tergoda oleh permen yang terlihat sangat enak itu. Tangisku perlahan mereda. Aku pun dengan senang hati memakan permen itu. Dia menemaniku duduk lama di sana, bercerita tentang hal-hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.Kemudian, dia menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.Saat itu, aku tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang kuing

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 1

    "Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jangan, terjadi sesuatu sama Bu Beatrice?"Namun, mendengar hal itu, Bradley langsung menghempaskan gelas anggur di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Apa yang bisa terjadi padanya? Dia sengaja mempermalukanku! Ini semua karena dia marah sama aku karena aku menghukum dia demi Michelle!"Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari pintu yang perlahan mendekat. "Kak Bradley, barusan aku sepertinya melihat Kak Beatrice! Aku bahkan sempat mengambil fotonya!"Michelle mengeluarkan ponselnya dengan semangat dan memperlihatkan layar di depan Bradley. Di dalam foto itu, sosokku terlihat jelas bersama sahabat masa kecilku, M

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 2

    "Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos."Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar."Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.Namun, hanya aku yan

Latest chapter

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 8

    Aku juga tidak mengerti bagaimana hubungan kami bisa berakhir seperti ini. Saat aku masih kecil, aku dan ibuku pindah ke sebuah kamar bawah tanah untuk bertahan hidup.Itu adalah masa-masa yang paling sulit. Aku bahkan tidak bisa bersekolah dan hanya bisa diam-diam memanjat pohon di luar pagar sekolah untuk mengintip pelajaran di dalam kelas.Suatu hari, aku tidak sengaja terjatuh dari pohon. Aku duduk di bawah sambil menangis tersedu-sedu. Lalu, seorang anak laki-laki seusiaku datang menghampiri dan menyodorkan permen susu dalam bungkus plastik bening."Jangan menangis, ya? Aku kasih kau permen!"Aku terisak sambil menatapnya sekilas dan akhirnya tergoda oleh permen yang terlihat sangat enak itu. Tangisku perlahan mereda. Aku pun dengan senang hati memakan permen itu. Dia menemaniku duduk lama di sana, bercerita tentang hal-hal yang belum pernah kudengar sebelumnya.Kemudian, dia menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.Saat itu, aku tidak tahu namanya. Satu-satunya hal yang kuing

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 7

    Tatapan Marven langsung berubah tajam. Dia meraih kerah Bradley dengan kasar dan menuntut, "Apa yang kamu lakukan sama Beatrice? Di mana dia? Katakan!"Namun, Bradley tampak seperti orang yang baru saja terjebak dalam mimpi buruk. Dia tetap diam dan tidak bergerak sama sekali. Marven yang sudah tersulut emosi langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bradley."Beatrice hampir mati dipukul demi menyelamatkanmu! Tapi kamu bahkan nggak menanyakannya sekali pun! Kamu benar-benar bukan manusia!"Setelah berkata demikian, satu pukulan lagi mendarat di wajah Bradley. Karena pukulan itu, Bradley terhuyung dan jatuh ke lantai sambil menatap Marven dengan tatapan tidak percaya."Orang yang menyelamatkanku adalah Beatrice? Bukankah seharusnya Michelle? Mana mungkin Beatrice? Nggak mungkin!""Dasar berengsek! Kesalahan terbesar Beatrice dalam hidupnya adalah bertemu bajingan sepertimu!"Marven naik ke atas tubuh Bradley dan menghantamkan tinjunya berkali-kali untuk melampiaskan semua kemarahannya.Na

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 6

    Brak!Tongkat itu menghantam kepalaku dengan keras, membuat kesadaranku langsung menghilang dalam sekejap. Saat aku kembali sadar, yang pertama kulihat adalah langit-langit putih di atas kepalaku. Aku berusaha bangkit, tetapi Marven yang ada di samping segera menahanku."Jangan bergerak! Luka di kepalamu bisa terbuka lagi!"Aku menoleh ke sekeliling dan menyadari bahwa aku sudah berada di rumah sakit.Namun, saat mengingat Bradley, aku langsung mencengkeram lengan Marven dengan panik dan bertanya, "Bradley ... gimana keadaannya? Dia baik-baik saja, 'kan?"Marven menghela napas Panjang dan menepuk tanganku dengan penuh keprihatinan. "Dia baik-baik saja, bahkan sangat baik! Tapi kenapa kau masih saja mengkhawatirkannya sampai sekarang?"Namun, aku tetap tidak tenang. Aku harus memastikan sendiri keadaannya.Akhirnya, Marven membawaku ke depan sebuah ruang perawatan. Namun, begitu aku mengintip ke dalam, dadaku seolah-olah diremas hingga membuatku kesulitan bernapas.Dari celah pintu, aku

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 5

    Bradley mencengkeram tanganku semakin erat, lalu tiba-tiba melepaskannya. Tubuhku langsung kehilangan tenaga, jatuh terduduk di lantai, dan terengah-engah menarik napas."Bradley, aku benar-benar nggak melakukan ini! Itu bukan aku!"Aku menarik sudut bajunya dengan hati-hati, tapi dia malah menepis tanganku dengan kasar. "Beatrice, aku akan menikah denganmu, tapi jangan harap lebih dari itu!"Setelah berkata demikian, dia membanting pintu dan pergi, meninggalkanku sendirian di lantai yang dingin sepanjang malam.Hari itu, kebetulan adalah hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan makanan, menyalakan lilin, membeli kue. Dengan penuh harapan, aku menunggu Bradley pulang agar kami bisa merayakan ulang tahun yang hangat bersama.Namun, kata-katanya menghancurkan semua harapanku, menyisakan hanya kebodohan dan harapan sepihakku sendiri. Aku pikir cinta kami sudah cukup kuat. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa kepercayaan di antara kami begitu rapuh di hadapan Michelle.Namun, jika dipikir

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 4

    Semua orang refleks menutup hidung dan mulut mereka, tapi tetap saja, ada yang tidak bisa menahan rasa mual."Kenapa bau ini menyengat sekali? Seperti ada sesuatu yang mati di sini!" Michelle mengeluh dengan nada jijik.Bradley hanya mengerutkan keningnya, tetapi tetap melangkah masuk.Ruang bawah tanah masih gelap gulita, tapi aku tidak lagi merasa takut. Apa yang perlu ditakuti dari kegelapan? Manusia jauh lebih menakutkan.Seberkas cahaya dari pintu yang terbuka menerangi lantai. Mereka berjalan mendekat dengan perlahan hingga akhirnya asisten menyalakan lampu di ruangan itu.Cahaya yang tiba-tiba menyala membuat Bradley menyipitkan mata. Sementara itu, Michelle langsung menjerit ketakutan. "Ahh!"Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah tertentu dan matanya membelalak penuh kepanikan. Namun, aku tahu itu hanya sandiwara. Sebab di sudut bibirnya, tersungging senyuman yang tak bisa disembunyikan.Bradley mengikuti arah jarinya, dan begitu dia melihatnya, tubuhnya menegang.Mana mungki

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 3

    Di bawah sorotan lampu yang berkilauan, Michelle menggandeng lengan Bradley, tampak seperti pasangan sempurna yang begitu serasi dan membuat iri. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa pengantin wanita bukanlah aku. Tidak ada yang peduli ke mana perginya aku.Semua tamu tampaknya telah menerima begitu saja bahwa Michelle adalah wanita yang akan dinikahi oleh Bradley. Namun, tidak lama kemudian, ibuku menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Di tengah keributan dan gumaman tamu undangan, dia bergegas maju dan dengan suara lantang menuntut penjelasan dari Bradley. "Di mana Beatrice?! Kenapa kamu bawa wanita ini?"Semua mata di ruangan segera tertuju padanya.Dengan ekspresi pura-pura polos, dia menggenggam tangan ibuku dan berkata, "Tante, ini bukan salah Kak Bradley .... Kak Beatrice sendiri yang nggak mau datang ke pernikahan ini. Jangan salahkan dia!"Namun, ibuku tidak percaya dengan kata-kata manisnya. Dengan kasar, dia menepis tangan Michelle."Kamu! Kamu sudah berkali-kali menj

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 2

    "Kak Bradley, sekarang gimana? Di luar sudah banyak tamu yang datang!" Michelle mengedipkan matanya yang besar dan polos, seolah-olah dia adalah malaikat yang polos."Ini semua salahku! Kak Beatrice pasti marah sama aku, makanya dia menolak datang! Maaf, Kak Bradley!" Begitu melihat air mata mulai menggenang di mata Michelle, Bradley langsung meredam amarahnya.Dengan lembut, dia menarik Michelle ke dalam pelukannya dan mengusap rambut panjangnya yang hitam. "Mana mungkin ini salahmu? Ini semua karena Beatrice nggak datang ke pernikahan, malah memilih berduaan sama pria lain! Semua ini kesalahannya!"Michelle terisak di pelukannya, seolah-olah dia telah menerima penderitaan yang begitu besar."Sudahlah, jangan nangis! Aku tahu kamu sedih karena aku. Tapi wanita jahat seperti Beatrice nggak pantas jadi istriku!"Bradley mengumpatiku dengan segala kata-kata paling kejam yang bisa dia temukan. Sedangkan Michelle, dia selalu menjadi sosok yang paling suci dan sempurna.Namun, hanya aku yan

  • Hari Penikahanku, Adalah Hari Kematianku   Bab 1

    "Mana Beatrice? Dia sudah mati di sana? Nggak bisa gerak lagi?"Saat kesadaranku perlahan kembali, hal pertama yang kudengar adalah suara Bradley yang marah dan putus asa.Asistennya yang tampak ragu-ragu, mencoba menjawab, "Pak Bradley, kami sudah cari ke mana-mana, tapi nggak lihat dia. Jangan-jangan, terjadi sesuatu sama Bu Beatrice?"Namun, mendengar hal itu, Bradley langsung menghempaskan gelas anggur di atas meja hingga pecah berkeping-keping di lantai. "Apa yang bisa terjadi padanya? Dia sengaja mempermalukanku! Ini semua karena dia marah sama aku karena aku menghukum dia demi Michelle!"Dadanya naik turun, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. Tiba-tiba, terdengar suara lembut dari pintu yang perlahan mendekat. "Kak Bradley, barusan aku sepertinya melihat Kak Beatrice! Aku bahkan sempat mengambil fotonya!"Michelle mengeluarkan ponselnya dengan semangat dan memperlihatkan layar di depan Bradley. Di dalam foto itu, sosokku terlihat jelas bersama sahabat masa kecilku, M

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status