Elma melangkah memasuki lobi kantornya dengan kepala tegak, sementara Revan berjalan setia di belakangnya. Namun, suasana terasa berbeda pagi itu. Beberapa pasang mata karyawan di sekitar mereka tampak memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu. Ada yang berbisik-bisik pelan sambil mencuri pandang ke arah mereka. Revan bisa merasakan tatapan-tatapan itu dan menjadi sedikit tidak nyaman. Dia melirik ke arah Elma, yang terlihat tetap tenang dan berusaha tidak menghiraukan situasi tersebut. Namun, tatapan dan bisikan itu tidak dapat disangkal begitu saja. "Sepertinya kita sedang jadi bahan pembicaraan," bisik Revan perlahan ketika mereka hampir mencapai lift. Elma melirik sekilas ke arahnya, lalu mengangguk kecil. "Aku juga merasakannya. Tapi kita tak punya waktu untuk memikirkan mereka. Ayo, cepat ke ruanganku." Setibanya di lantai atas, Elma mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Begitu mereka masuk dan pintu tertutup, Elma menghela napaspanjang sambil duduk di kursinya. "Revan
Di ruangan kerjanya, Aditya tidak bisa menahan amarah yang sudah memuncak. Ia membanting dokumen-dokumen, menghempaskan gelas kopi ke lantai hingga pecah, dan bahkan membalikkan kursi kerjanya dengan kasar. Napasnya memburu, matanya merah penuh kemarahan. "Apa yang Elma lihat dari dia?!" teriaknya sambil menghantam meja dengan tinjunya. Arumi, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, hanya bisa terpaku melihat ledakan emosi itu. Ia tahu Aditya sedang kehilangan kendali, dan meskipun kesal melihatnya begitu tergila-gila pada Elma, ia tetap mendekat dengan hati-hati. "Aditya," ucap Arumi dengan suara lembut namun tegas. "Sudahlah, jangan menyiksa dirimu seperti ini. Elma tidak pantas untukmu. Jangan sampai kamu berbuat bodoh karena dia." Arumi mencoba memeluk tubuh Aditya dari belakang. Aditya menoleh tajam ke arah Arumi. "Kau tidak mengerti! Aku tidak bisa rela kalau diamemilih pria itu! Apa yang Revan punya, hah? Dia cuma seorang sopir yang sekarang jadi asisten pribadi. Aku jauh
Revan kembali ke apartemen dengan perasaan campur aduk. Pertemuan dengan Dinda tadi membuat pikirannya kalut. Ia merasa bersalah karena telah menduakan cinta Dinda, namun di sisi lain ia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya yang perlahan tumbuh subur untuk Elma. Semua terasa begitu rumit.BRAK!Saat membuka pintu apartemennya, Revan dikejutkan dengan kehadiran Elma yang duduk santai di sofa ruang tamu. Ia tampak anggun meskipun hanya mengenakan pakaian kasual."Revan, akhirnya kamu pulang," kata Elma dengan senyum tipis."Kenapa lama sekali. Aku hampir mengira kamu tidak akan pulang malam ini, aku lupa kalau kita punya pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini."Revan tertegun melihat Elma di depannya. Ia lupa kalau ini adalah apartemennya dan ia bisa ke sini kapanpun ia mau.Revan menatap Elma dengan sedikit kebingungan."Kerjaan? Bukannya semua sudah beres sebelum aku kuliah tadi?"Elma menggeleng pelan sambil menunjuk dokumen yang tergeletak di meja."Ada revisi mendadak dari
Sesampainya di rumah, Elma langsung menuju kamar, berharap bisa menghindari Aditya. Namun, lelaki itu menyusulnya dengan cepat."Elma, kita perlu bicara," ujar Aditya dengan nada dingin begitu memasuki kamar.Elma berbalik, menatapnya dengan ekspresi penuh amarah. "Aku tidak ingin bicara apa pun denganmu, Aditya. Keluar dari kamarku sekarang juga!"Namun Aditya bergeming, dia malah berjalan mendekati Elma dan tersenyum tipis. Terlihat sangat menyebalkan di mata Elma."Kamu pikir kamu bisa kabur dariku begitu saja? Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Elma. Kamu akan tetap jadi istriku, selamanya."Elma menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya."Aku tidak tahan lagi, Aditya. Aku ingin kita bercerai. Hubungan ini sudah hancur sejak lama. Berhentilah memaksakan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.""Bercerai? Kamu yakin mau cerai denganku? Kamu mau menikahi laki-laki keparat itu? Punya apa dia Elma, dia hanya lelaki miskin dan masih ingusan, dia pasti hanya ingin mema
"Apa kita bisa menghabiskan waktu bersama malam ini?" Elma mendongak dan menatap Revan malu-malu.Revan terpaku sejenak. Ia tahu Elma sudah sedikit mabuk dan mungkin dia berkata seperti itu dalam keadaan tidak sadar."Maksud kamu?" Revan mengernyit."Oh, ayolah Revan jangan pura-pura tidak mengerti. Aku ingin kita melakukan yang dulu sempat tertunda." Elma menautkan jemari tangannya dengan gelisah dan malu.Revan tersenyum tipis mendengarnya. Di matanya Elma terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Sungguh beruntung ia bisa dekat dengan wanita seperti Elma."Dengan senang hati." Revan tersenyum penuh arti. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir sensual Elma yang terlihat menggoda.Aroma alkohol langsung menguar. Namun itu tidak mempengaruhi Revan.Drrrtt...Ponsel Revan tiba-tiba berbunyi. Terlihat kontak ibunya di layar. Revan segera melepaskan tautan bibir mereka.Sorry Elma, ibuku menelpon, aku harus mengangkatnya dulu." Revan meminta izin."Angkat saja nggak apa-apa." Elma mempers
"Kamu yakin?" Revan bertanya untuk memastikan.Elma mengangguk dengan pipi yang merona merah.Mungkin ia sudah gila dengan melakukan hal ini tapi ada sebuah dorongan kuat yang membuatnya senekad ini."Elma aku takut kamu akan menyesalinya." Revan masih terlihat ragu.Elma tidak menjawab, dia langsung membalasnya dengan satu kecupan di bibir Revan.Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Revan pun mema gut bibir Elma dengan rakus. Tak peduli pada rasa perih di sudut bibirnya.Elma pasrah saat lelaki tampan itu mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar.Dengan sangat hati-hati Revan merebahkan tubuh Elma ke atas tempat tidur. Dipandanginya wajah cantik itu dengan tatapan penuh kekaguman."Kamu sangat cantik El," ucap Revan sembari mengusap pipi Elma dengan lembut.Elma hanya tersenyum dan menarik kerah baju Revan hingga bibir mereka pun saling menyapa kembali.Satu persatu kancing kemeja Revan, Elma buka. Hingga pada akhirnya perut kotak-kotak Revan terpampang jelas dan bisa disentuh oleh
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui tirai jendela apartemen Revan, membangunkan Elma yang masih terbaring di tempat tidur.Perlahan, ia membuka matanya. Elma merasakan seluruh tubuhnya remuk dan seakan tak bertenaga.Apalagi di daerah intinya yang terasa sangat berbeda.Namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis tatkala teringat kejadian tadi malam. Dimana dirinya dan Revan telah menghabiskan malam indah bersama."Revan..." Elma menyebut nama pria yang tadi malam telah membuatnya takluk dan menge rang penuh kenikmatan selama satu jam lebih.Ternyata surga dunia itu memang nyata nik matnya.Pantas saja orang-orang sibuk mengejarnya bahkan sampai banyak pria yang tidak cukup dengan hanya satu wanita.Aroma masakan dari dapur perlahan memenuhi hidungnya, membuat perutnya berbunyi pelan.Elma menyibak selimutnya setelah memakai gaun tidur yang teronggok di samping tempat tidurnya.Namun, saat mencoba bangun, rasa sakit di area intinya membuat Elma kehilangan keseimbangan hingga tubuhny
Elma baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya."Wangi sekali Sayang." Revan yang sudah menunggu dari tadi langsung menghampiri wanita cantik itu. Ia memeluk tubuh Elma yang masih menggunakan bathrobe warna putih.Wangi sabun yang segar langsung menguar memenuhi rongga hidung Revan. Lelaki tampan itu langsung menci um bibir ranum Elma dengan rakus.Elma pun tidak menolak ia malah mengalihkan tangannya pada leher Revan."Apa kamu ingin aku melakukannya lagi?" tanya Revan dengan tatapan nakal."Kamu masih bertanya? Kamu kira untuk apa aku mengajakmu ke sini?" Elma menatap mata dan bibir Revan secara bergantian seolah tak sabar ingin merasakan sentuhan Revan kembali.Pria tampan itu tersenyum dan segera mengangkat tubuh Elma untuk dibaringkan di tempat tidur.Kedua tatapan mereka bertemu. Revan menatap wajah cantik itu penuh cinta."Cantik sekali," ucap Revan dengan lembut sembari mengusap lembut pipi wanita cantik itu."Kamu juga sangat tampan Revan." Elma t
"Kalian semua bodoh! Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja?!" Aditya menggebrak mejanya dengan keras. Beberapa anak buah Aditya tersentak kaget tapi apa mau dikata, wanita bernama Clara itu memang tidak bisa mereka temukan di manapun. Entahlah dimana wanita itu bersembunyi. Yang jelas seperti ada seseorang yang kuat yang melindunginya. "Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha tapi semuanya benar-benar gelap. Bahkan informasi tentang wanita itupun sudah dihapus. Kami benar-benar kesulitan untuk menemukannya." Salah satu anak buah Aditya menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi. "Brengsek kalian semua!" Aditya meradang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Pergi kalian semua dari sini!" Aditya menguasir semua anak buahnya dari ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" gumam Aditya dengan nada frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis dengan keras. Segala upaya yang ia lakukan untuk menemukan perempuan itu tidak membawa
Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa
lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda
Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.
Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk
"Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak
Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me
Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal
Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber