Beberapa orang yang memegang gelar yang sama seperti dirinya juga beberapa duke yang hadir mengangguk membenarkan hal tersebut. Ghilmar langsung memegang dagunya. "Lanjutkan, Emmeric." "Baik, Raja." Emmeric segara membaca laporan yang ia pegang tadi. "Ada beberapa spekulasi tentang siapa pelakunya. Kelompok penculik yang berasal dari Ordioth, kelompok kriminal dari Kekaisaran, atau kelompok kriminal dari dalam Brimmid sendiri. Tetapi setelah beberapa penyelidikan lebih lanjut, hal itu mengarah ke arah yang lain." "Hal yang lain?" "Ya, penyelidikan mengarah kepada sebuah aliran kepercayaan. Saya tidak mendapatkan informasi mengenai nama mereka, tetapi aliran kepercayaan tersebut melakukan aktivitasnya secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah." "Apakah teokrasi juga ikut campur?" Emmeric menggelengkan kepalanya. "Mereka berdiri di Brimmid. Tapi kapan dan siapa yang membuatnya tidak ada informasi mengenai hal itu." "Bagaimana mungkin al
Di luasnya wilayah pinggiran ibukota, terdapat kuburan yang cukup besar. Di tengahnya terdapat gereja yang sudah ditinggalkan dan tidak dipakai. Keadaannya sudah tidak sebagus saat masih di rawat, tetapi bangunan tersebut masih berdiri kokoh. Waktu saat ini menunjukkan tengah malam. Terlihat seseorang sedang berjalan di antara para penduduk yang tubuhnya terkubur dalam jauh di tanah. Meski tidak ada cahaya di kuburan itu, orang yang berjalan mengikuti jalan setapak tersebut tampak tidak khawatir akan adanya undead yang datang dan terus berjalan dengan tenang ke arah gereja yang tidak jauh dari jaraknya. Dia memakai kalung salib dengan bulan sabit yang menggantung diantaranya. Dia terus tersenyum hingga dirinya berada di depan pintu gereja yang terbuat dari kayu dan membukanya. Terdapat bunyi pintu yang melengking menandakan umur dari pintu tersebut. Di dalam gereja tua tersebut, cahaya bulan menerangi seisi ruangan utama gereja dari jendela-jendela
Pinggiran Kota Arrnasche merupakan kota dimana penduduknya memiliki ekonomi yang relatif cukup dan tidak miskin. Kondisi di kota Arrnasche tidak terbilang sangat aman dan bebas dari yang namanya tindakan kriminal. Tetapi pinggiran Arrnasche merupakan salah satu tempat yang nyaman dan direkomendasikan untuk ditempati. Anak-anak dapat bebas bermain dan para wanita dapat pulang dengan aman di malam hari. Di pinggiran kota Arrnasche, terdapat sebuah gereja katedral yang besar. Arsitekturnya terbilang cukup rumit, menara gereja yang tinggi, dinding kaca besar, kubah bergaris dan ditopang oleh sayap. Melambangkan kemegahan juga teologis dari arsitektur gereja. Tidak semegah gereja utama di pusat kota memang, tetapi gereja tersebut mampu untuk menampung ribuan jemaat untuk beribadah. Interior gereja dibuat dengan masuknya cahaya matahari secara estetis dengan struktur diafan. Yang terindah dari gereja tersebut memiliki konsep cahaya dari pemakaian kaca be
Malam ini, Rujid bersama para pengikutnya berkumpul di dalam gereja. Bukan untuk beribadat, mereka berkumpul untuk rencana tertentu. Rujid yang memakai Vestimentum dan pengikutnya yang memakai jubah berwarna merah meneriakkan puji-pujian yang ditunjukkan bukan untuk tuhan mereka, melainkan untuk sesuatu yang lain. Tepat pada tengah malam, para pengikut sekte yang dibuat oleh Rujid keluar dari gereja. Keadaan pinggiran kota Arrnasche sedang sepi. Para penjaga yang berpatroli mengalihkan penjagaan mereka ke atas tembok serta gerbang-gerbang masuknya kota. Seperti seorang yang andal, para pengikut Rujid keluar dari gereja dengan aura seminim mungkin. Mereka tidak diperkuat oleh sihir ataupun benda sihir yang mampu menghilangkan mereka. Kemampuan tersebut sudah dilatih oleh para anggota sekte sudah dari lama. Para pengikut sekte Rujid berjalan di daerah sekitar kota serta gang-gang sempit. Terkadang keberadaan mereka terdeteksi oleh para prajurit
Asap hitam mengepul ke udara dari dalam kota. Asap tersebut ditimbulkan oleh para pengikut sekte Rujid yang beraksi di dalam. Mereka menyerang rumah penduduk dan menyerang para warga yang sedang terlelap tidur. Malam dengan bulan purnama yang indah dan sudah cerah, menjadi lebih terang akibat cahaya yang dihasilkan dari tembok api. Bentuknya tipis sehingga banyak orang yang tidak mengira itu terbuat dari api. Kebanyakan dari mereka hangus begitu saja saat melewatinya. Jendral Martias yang menjabat sebagai kesatria kerajaan langsung bangun dari tidurnya dan segera menuju ke tempat lokasi setelah menerima informasi dari bawahannya. Martias memacu kuda dengan beberapa anggota di belakangnya dengan memakai baju zirah lengkap. Memotong angin malam, kelompok kesatria kerajaan dengan wajah cemas hanya bisa berharap keadaan tidak semakin memburuk. "Kapten! Datang kabar terbaru." Sambil memacu kudanya, salah satu bawahan Martias memberi informasi yang baru
Patung domba itu tidak diukir dengan terlalu detail sehingga hanya terlihat pahatan kasar dari seorang pengrajin pemula jika dilihatnya. Meskipun hanya terlihat seperti pahatan pemula, benda yang dipegang Rujid merupakan salah satu item sihir yang ia beli bersamaan dengan bola putih miliknya. Patung tersebut dapat mengambil mana yang sudah mati dan juga aura ketakutan di sekitarnya. Area yang dicakup item tersebut cukup luas meskipun bentuknya tidak sebesar bola putih di atas batu makam miliknya. Rujid mencium batu tersebut dan meletakkannya persis di depan bola miliknya. "The Lost Sheep. Aku serahkan padamu."Saat diletakkan, benda tersebut secara bersamaan dengan bola di belakangnya mengeluarkan cahaya dengan dua warna yang berbeda. Item bernama The Lost Sheep itu mengeluarkan warna hitam pekat, sedangkan bola di belakangnya mengeluarkan warna putih terang. Tetapi dua benda tersebut bekerja sama dengan baik. Aura dan mana berwarna hitam yang
Beberapa jam sebelumnya... "Jadi ini yang orang bilang sebagai ibukota?" Berdiri di sana, di depan gerbang tembok besar ibukota Arrnasche, satu orang laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dengan jubah yang menutupi setengah badannya saja. Pakaiannya terlihat mahal dan seperti seorang petinggi militer. "Ya, Arrnasche disebut sebagai ibu kota yang besar dengan pertahanan yang kuat."Di sebelahnya terdapat perempuan yang memakai baju serba putih. Pakaiannya mirip seperti seorang priest. Perempuan itu mengenakan jaket dan jubah yang menutupi kepalanya sehingga sangat sulit untuk melihat wajahnya secara langsung. Mereka berdua adalah petualang berperingkat silver yang datang dari kota Rumberg. "Seberapa kuat?" "Sepertinya tidak melebihi Ordioth dan juga Havellz." "Percuma saja kalau begitu." Selagi melihat tembok yang tinggi, mereka melangkah ke arah para penjaga yang ada di depan mereka sembari membic
Florithe dengan segera bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan ruangan dan Aria mengikuti di belakangnya. Mereka berdua keluar dari penginapan dan menggunakan sihir Fly untuk pergi ke barat pinggiran kota Arrnasche. Setelah beberapa detik mereka terbang, dari atas mereka dapat melihat banyak makhluk putih dengan perlengkapan yang berbeda-beda."Melihat dari atas sini rasanya sangat berbeda." ucap Aria sambil lanjut terbang mengikuti Florithe.Mereka semua berhamburan seperti gelombang tsunami yang menghantam bangunan di sekitarnya dan memakan manusia dengan jumlah mereka. Itu adalah gelombang tinggi undead. Makhluk tengkorak tanpa daging dan kulit berhamburan dengan cepat dan menyerang kota. Penduduk yang kebingungan untuk melihat cahaya merah di luar menjadi korban para undead tersebut. Di tengah-tengah gelombang undead itu, Aria dan Florithe melihat seseorang berjalan bersama dengan para undead tanpa terluka. Layaknya seorang presiden, ker