Keadaan Lian Xie semakin memburuk oleh racun yang dia terima akibat tusukan kuku hitam Manguntur. Dia mulai kesulitan mengatur napas dan juga aliran darahnya. Wajahnya semakin pucat dan bibirnya mulai menghitam."Sepertinya kau terlalu lemah menahan racun dariku. Aku pikir seorang Dewa bisa bertahan beberapa saat agar aku bisa menikmati permainan. Tapi sayang, kau sebentar lagi mati...Ckckck..." ucap Manguntur masih sambil terbang mengelilingi Lian Xie sambil cengengesan membuat wanita itu merasa sangat kesal."Aku tahu mungkin aku akan segera mati...Tapi, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu sebelum itu terjadi..." ucap Lian Xie lalu dia pun mengembangkan telapak tangan kanannya dan aura biru dingin muncul di atas telapak tangan tersebut. Manguntur terkejut saat dia merasakan hawa dingin yang luar biasa menjerat tubuhnya. "Sejak kapan kau menyusun formasi!?" seru sosok tersebut sambil melotot marah. Lian Xie tersenyum sinis."Sejak kau banyak membual..." sahutnya lirih lalu tanganny
Gelombang kekuatan yang terpancar dari tubuh Manguntur membuat Bara terdorong ke belakang secara perlahan meski dia sudah bertahan menggunakan Perisai cahaya dan Golok Iblis yang dia tancapkan ke tanah."Gawat! Dia bukan makhluk biasa! Bagaimana bisa di Kerajaan Naga Air ini ada makhluk sekuat ini!?" seru Bara."Dia adalah Sirip Kehancuran...Kekuatannya memang sangat mengerikan. Kau harus berhati-hati dengan racun yang ada pada tangannya..." kata Lian Xie dengan suara lirih. Namun wajahnya yang semula pucat kini sudah nampak membaik setelah dia menelan pil hijau dari Bara."Sirip Kehancuran!? Lalu apa hubungannya dengan Kerajan ini!?" tanya Bara sambil terus bertahan karena gelombang kekuatan dari tubuh Manguntur semakin menggila."Jogo Segoro berniat untuk menguasai Kerajaan ini dan membunuh semuanya...Kau harus menangkapnya...Jika tidak, kerajaan Naga Air dalam bahaya..." kata Lian Xie lalu dia menceritakan apa yang dia dengar dari Manguntur beberapa saat yang lalu secara singkat. M
Sosok Manguntur yang telah terluka parah akibat hantaman bola api neraka milik Iblis Sasaka akhirnya bersujud di depan sang Iblis sambil meringis kesakitan. Meski dia hanya tubuh roh, tetap saja dia akan merasakan sakit karena saat ini tubuhnya dalam bentuk yang padat. Mengubah roh yang tak terlihat menjadi padat adalah hal yang sulit sehingga membutuhkan kekuatan yang tidak sedikit."Coba kau ingat sejak awal. Kau tidak akan mengalami hal seperti ini," kata Iblis Sasaka sambil menyeringai. Manguntur hanya bisa diam dan bersujud menyembunyikan matanya dari tatapan mata Iblis tersebut."Maafkan aku Tuan Sasaka...Aku sama sekali tak menduga kalau anda akan muncul di tempat ini. Kalau boleh aku tahu, siapa anak muda yang menjadi wadahmu saat ini..." kata Manguntur dengan suara lirih karena dia masih merasakan kesakitan dan panas yang menyengat. Kulitnya hangus terbakar hingga membuat aroma gosong yang tidak nyaman di hidung Lian Xie."Wadahku ini bukan sembarang wadah. Dia adalah seorang
Tanda Budak adalah tanda yang diciptakan menggunakan kekuatan jiwa dan mantra penyegel. Saat seseorang yang sudah mendapat tanda budak menunjukkan sifat jahat kepada sang 'tuan', maka mantra Penyegel itu akan menyala dan membuat budak tersebut harus merasakan penderitaan yang luar biasa. Mirip dengan segel darah yang Bara terapkan pada tubuh Raja Arpa yang saat ini menjadi wadah Iblis Guo Jiu.Tanda Budak yang Iblis Sasaka tanamkan pada tubuh Manguntur jauh lebih kuat dibanding segel darah milik Bara Sena. Itu sebabnya Manguntur harus merasakan kesakitan yang luar biasa saat Tanda Budak tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Saking sakitnya, sampai teriakan Manguntur yang semula tinggi tidak ada suaranya sama sekali. Tubuhnya tegang dan kaku dengan kepala yang mendongak ke atas dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar. Iblis Sasaka tersenyum puas lalu dia pun melepaskan jari telunjuknya dari kening Manguntur. "Selesai sudah. Hm...Ternyata tanda budak yang pernah aku tanamkan padanya
Setelah berusaha cukup lama, akhirnya Bara menemukan celah di tubuh Manguntur. Yakni di bagian bawah Sirip yang ada di samping wajahnya. Celah kecil tersebut merupakan tempat masuknya Belati Kuno. Bara segera mengarahkan rantai ungu miliknya untuk masuk ke dalam sana.Setelah rantai ungu masuk ke dalam tubuh Manguntur, terkejutlah pemuda itu melihat dua Belati yang menyala tepat di dekat jantung berukuran besar. Belati itu terus berputar mengelilingi jantung tersebut dan mengeluarkan aura kebiruan."Akhirnya segel itu aku temukan! Sekarang waktunya untuk melepaskan Manguntur dari segel ini..." batin Bara lalu dia mengarahkan rantai ungu miliknya menuju ke salah satu Belati yang tengah berputar. Dengan cepat rantai tersebut langsung menyambar salah satu Belati dan menariknya keluar dari area jantung tersebut. Saat itulah, terjadi letupan kecil disana yang membuat Bara terkejut. Dengan cepat dia gunakan rantai ungu miliknya untuk menyambar satu Belati lagi kemudian membawanya keluar da
Bara menoleh ke arah Manguntur yang terbang di atas tanah dengan sayap besarnya hingga membuat semua yang di bawahnya beterbangan. Termasuk dedaunan kering dan tulang belulang yang ada disana."Hei! Bisa tenang tidak? Kau membuat kekasihku ketakutan!" hardik Bara kesal karena dia pun merasa risih dengan angin yang menerpa wajahnya. Dedaunan dan beberapa tulang belulang bahkan hampir menimpa kepalanya.Manguntur menjadi berkeringat dingin karena hampir membuat kesalahan di hari pertamanya menjadi pengikut Dewa Cahaya tersebut."Ma-maafkan aku Tuan Muda...Aku hampir lupa diri karena sudah sekian lamanya aku tidak bebas mengepakkan sayap seperti ini...!" kata Manguntur setelah mendarat dengan tenang di atas tanah. Bara menghela napas lalu dia mengarahkan telapak tangan kanannya kearah makhluk tersebut."Kalau begitu, kau masuk dulu ke dalam dunia milikku. Terbang lah sesuka hatimu disana. Tapi ingat, jangan mengacaukan orang-orang yang ada di dalam Dunia sana. Atau kau akan menjadi makan
Manguntur mendarat di dekat altar dimana terlihat seorang gadis kecil yang tengah duduk bersila di atas lingkaran altar. Gadis kecil yang tak lain adalah Meili Tian Zi itu membuka kedua matanya yang tadi terpejam. Nampak sinar biru aneh keluar dari bola mata gadis kecil berusia sekitar 7 tahun tersebut. Padahal usia aslinya baru satu tahun. Karena dia hidup di dalam Pagoda dewa, dia tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya."Guru Kahiyang, jadi dia yang membuat keributan di atas langit sana?" tanya gadis kecil itu. Kahiyang Dewi mengelus kepala Meili sambil mengangguk. Lalu dia menoleh kearah Manguntur yang ada di belakangnya."Kau seharusnya minta maaf padanya karena sudah mengganggu semedinya," kata Kahiyang Dewi dengan nada dingin."Aku...? Minta maaf pada anak kecil ini?" tanya Manguntur sambil menatap Meili Tian Zi. Gadis itu membalas dengan tatapan sengit. Kahiyang Dewi tersenyum sinis."Jika aku menjadi dirimu, aku akan langsung melakukannya...Sebelum dia marah," kata wanita itu
Ki Jogo Segoro meraung kesakitan setelah Belati Kuno itu menembus tubuhnya. Gandi menggelengkan kepalanya melihat Bara yang begitu gegabah menusuk pria tersebut."Bara, aku tahu kau sangat marah karena hal ini. Tapi biarkan Kerajaanku yang menyelesaikan ini mengingat dia akan memberontak dan membunuh semua Naga di Kerajaan ini. Jika kau membunuhnya, kami tidak bisa tahu alasan dia ingin melakukan itu," kata Gandi.Bara tersenyum sinis. Dia menyalurkan kekuatannya ke dalam tubuh Ki Jogo Segoro agar pria itu tetap sadar dan bertahan dari rasa sakit yang dideritanya. Meski selamat dari kematian, Ki Jogo Segoro justru merasa dirinya berada di depan Neraka tanpa batas dan memilih untuk mati saat itu juga."Aku tahu itu, makanya aku tidak menusuk di bagian fitalnya. Anggap saja tadi adalah hukuman untuknya yang masih berani menatap kekasihku! Jika itu terulang lagi, tak peduli dia anak buahmu, aku akan tetap membunuhnya." kata Bara."Tenanglah, aku akan mengurus bagianku dulu. Karena ini me
Gandi menatap ke atas dengan wajah yang berbinar karena dia telah berhasil mematahkan tangga ilusi yang sebelumnya sangat menyiksa dirinya. "Ternyata apa yang aku lihat di luar dinding kaca itu memang seharusnya seperti ini. Tangga itu hanya memiliki 10 anak tangga saja, bukan ribuan seperti yang sebelumnya aku lihat. Itu semua hanyalah ilusi..." batin Gandi. Dia menoleh ke kanan dan kekiri. Tak ada roh-roh yang bersliweran di sebelah kanan dan kiri seperti yang dia lihat sebelumnya. Bahkan anak tangga yang ada di bawah kakinya juga bersih dari darah."Aneh sekali...Jika benar tadi adalah ilusi, kenapa hal itu benar-benar bisa membuat tubuhku terluka didunia nyata? apakah ilusi yang Empu Jagat pasang di tangga ini memiliki kemampuan unik? Itu artinya, jika aku mati di dalam Tangga Ilusi tadi, aku didunia nyata pun juga ikut mati..." gumam pemuda itu sambil bergidik ngeri membayangkan hal buruk yang akan terjadi padanya jika sampai dia gagal menemukan jalan keluar untuk lepas dari tan
Langkah kaki Gandi terhenti di tangga ke delapan setelah dia hampir kehabisan kekuatannya. Dia juga sudah tak berdaya karena kehabisan darah yang terus mengalir dari luka-lukanya yang disebabkan oleh banyaknya serangan dari arah kanan dan kiri. Ternyata roh-roh yang bersliweran itu juga tidak diam saja setelah Gandi melangkahkan kakinya ke lantai lima ke atas. Mereka menyerang silih berganti menggunakan sebilah pedang panjang di tangannya. Meski tak sampai dalam, luka yang di sebabkan oleh roh tersebut cukup menyakitkan bagi sang Raja Naga Air.Dengan penuh perjuangan, Gandi harus bertahan dari semua cobaan itu hingga akhirnya dia melangkahkan kakinya di anak tangga yang ke delapan. Napasnya terasa mau putus. Darah sudah bercecera diatas anak tangga mengalir ke bawah sana. Pemuda itu bertahan dari sesuatu yang menekan dirinya sambil mengernyit menahan sakit. Gandi pun menatap ke atas sana.Di mata pemuda itu, perjalanan menuju ke puncak masih sangatlah jauh. Sementara, dirinya saat ma
Gandi Wiratama mendarat di depan anak tangga yang terhalang oleh sesuatu yang tak terlihat. Yang jelas, di mata Gandi, tak ada apa pun di atas anak tangga tersebut. Padahal dia merasa yakin, di atas sana adalah tempat dimana Empu Jagat Martapura berada.Dari dalam sesuatu yang seperti kaca itu muncul Dara bersama Banyu Biru yang berhenti tepat di hadapan Gandi. Keduanya sama-sama tersenyum ramah kearah Raja Naga Air. Dara melambaikan tangannya membuat Gandi tersenyum senang. Dia merasa, wanita itu sudah banyak membantunya sejak dia memasuki Istana Abadi."Kau sudah berhasil mengalahkan kedua penjaga Empu Jagat. Bahkan kau mampu memaksa Jogo Geni mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kau memang layak disebut sebagai Dewa Naga yang hebat." kata Banyu Biru memuji. Gandi tersenyum."Kau terlalu memuji. Aku yakin, itu tidak ada apa-apanya di depan matamu. Karena jika kau yang menjadi lawanku, mungkin tidak akan berhasil melewati ujain itu. Sekarang, katakan saja, apa ujian ketiga yang harus
Gandi yang sudah tak bisa lagi menahan rasa kesal nya berniat untuk memutuskan leher Rairakana Saka yang tak berdaya dalam cengkraman tangannya. Makhluk yang merupakan Naga Mata Api itu terlihat lemah sekali dan tak bisa melakukan perlawanan apa pun setelah Gandi mencekik lehernya. Darah mengucur dari mulut dan luka di wajahnya yang hancur."Sekarang apa yang bisa kau lakukan?" tanya Gandi sambil menatap Saka dengan mata yang menyala-nyala. Naga Mata Api itu tak berkata apa pun. Keadaannya sangat lemah sehingga bergerak pun tidak bisa. Apalagi Gandi sudah menghajar nya hingga wajahnya hancur berantakan. Ketika Raja Naga Air itu hendak meremukkan leher Saka, tiba-tiba terdengar suara dari atas singgasana yang jauh di depan sana."Gandi, cukup! Kau telah lolos ujian kedua dariku! Biarkan dia tetap hidup!" berkata Banyu Biru dari kejauhan yang terdengar jelas di telinga Gandi Wiratama. Mendengar hal itu, Gandi pun melemparkan Saka ke arah pilar dengan keras. Namun tiba-tiba muncul sesuat
Sanskara segera menyentuh tubuh Gandi Wiratama yang tergeletak di atas lantai. Seketika itu juga, tubuh ganda milik Gandi itu pun terserap masuk ke dalam alam jiwa milik Raja Naga Air. Begitu masuk ke dalam, Sanskara dibuat terkejut melihat Gandi yang tengah berjuang menahan kobaran Api dari tiga mata raksasa yang melayang di atas lautan."Jurus Mata Api Pembakar Jiwa itu sangat mengerikan! Aku harus memikirkan cara untuk menghentikannya!" seru Gandi yang tengah bertahan agar alam jiwanya tak terbakar. Sementara, Ki Ageng Samudra Biru nampak duduk santai di atas batu besar sambil menatap apa yang Gandi lakukan seolah tak terjadi apa-apa disana. Padahal keadaan sedang kacau balau oleh semburan api dari tiga mata raksasa.Sanskara segera melesat dan berdiri di samping Gandi. Karena kesadaran Ilahi yang dia miliki, dia bisa membantu Gandi di dalam alam jiwa milik pemuda itu. Sanskara pun mengerahkan kekuatan air untuk menahan gempuran api milik Saka."Kau datang juga akhirnya.,," ucap Ga
Dari dalam formasi lingkaran mantra itu muncul satu sosok bertubuh sama besarnya dengan Gandi Wiratama. Aura merah pekat keluar saat kaki dari sosok seorang pria berambut panjang yang hanya mengenakan celana panjang warna hitam tanpa mengenakan alas kaki.Pria itu memejamkan mata saat keluar dari dalam lingkaran. Begitu seluruh tubuhnya keluar, kedua matanya terbuka dan menatap kearah Gandi. Tak hanya itu, ternyata pada bagian keningnya juga ada satu mata yang lebih besar dari kedua mata yang lain. Ketiganya sama-sama memiliki pupil merah menyala. Dara menoleh ke arah kakaknya, Banyu Samudra."Itu adalah Naga Mata Api...Tetesan darah yang di dapatkan Empu Jagat ribuan tahun yang lalu dari Neraka setelah tawar menawar dengan Dewa Yama. Satu tetes darah bisa menciptakan tubuh jiwa sehebat ini, hanya saja, Jogo Geni akan kehilangan banyak kekuatan jiwa setelah membangkitkan Naga Mata Api ini," kata Banyu Samudra memberikan penjelasan sebelum Dara bertanya."Kenapa aku tak mengetahui hal
Banyu Biru dan Dara Purbavati sama-sama takjub dengan apa yang mereka lihat di bawah sana. "Kemampuan suamimu bagus juga Dara. Dia bahkan Bisa menciptakan tubuh ganda dengan kesadaran Ilahi sama seperti kita. Bahkan kita hanyalah roh sedangkan yang dia ciptakan adalah tubuh padat dengan jiwanya sendiri. Pemuda bernama Gandi ini, lebih hebat dibanding leluhurnya. Hanya saja, dia masih berada di Ranah Alam Dewa Tingkat lima...Itu masih terlalu jauh untuk bisa mencapai Ranah yang dimiliki olehnya. Jika Gandi sudah mencapai Ranah itu, aku yakin, tak ada satu makhluk hidup pun yang berani menyinggung dirinya." kata Banyu Biru."Jadi kakang juga merasakan kalau kakang Gandi ini berbeda?" tanya Dara.Banyu Biru mengangguk sambil tersenyum tipis."Tubuh ganda itu sulit untuk diciptakan apalagi ditambah kesadaran ilahi yang bahkan tak bisa dilakukan oleh Empu Jagat Martapura di masa lalu." kata Banyu Biru."Mungkin kehebatan orang berbeda-beda. Meski Empu Jagat tak bisa menciptakan tubuh gand
Graaaaaa!!!Jogo Ireng berteriak keras hingga membuat lantai istana bergetar. Gandi dan tubuh ganda miliknya yang bernama Sanskara sama-sama terkejut melihat penjaga Empu Jagat yang sebelumnya sudah dikalahkan oleh Sanskara itu bangkit berdiri kembali."Bagaimana bisa...?" gumam Gandi."Sepertinya dia memiliki kemampuan khusus yang bisa membangkitkan kekuatannya setelah dia mati atau terluka parah. Kalau begitu, aku akan menjadi lawannya lagi sementara kau atasi Jogo Geni." kata Sanskara membagi tugas. Gandi cukup kaget tubuh ganda miliknya memiliki pemikirannya sendiri dan lebih cepat dalam mengambil keputusan dibanding dirinya yang sedikit lebih banyak berpikir."Tak usah terkejut. Kenapa aku bisa seperti ini karena kemampuan terbaikmu sudah kau tanamkan di dalam jiwaku. Jadi, aku sedikit berbeda darimu karena saat kau menciptakan diriku, kau sudah memberikan sebagian besar kemampuan mengatur siasat milikmu kepadaku. Itu sebabnya aku lebih cepat dalam mengambil keputusan." kata Sans
Gelombang api itu tertahan oleh kubah air yang diciptakan oleh Gandi Wiratama. Keadaan di dalam kubah tersebut menjadi tidak terlihat karena Api yang bergejolak. Gandi dan tubuh ganda miliknya sama-sama terhenti di sana menatap apa yang terjadi di dalam kubah air tersebut."Kekuatan Jogo Geni meningkat sangat cepat! Jurus apa yang tengah dia kerahkan?" batin Gandi sambil bersikap waspada."Sepertinya pria besar bernama Jogo Geni itu sedang menggunakan Jurus rahasia. Jika sampai dia berhasil menggunakan Jurus itu dengan sempurna, kita akan kesulitan." kata tubuh ganda yang ada di belakang Gandi membuat Raja Naga Air itu terkejut."Kau tahu apa yang aku katakan di dalam hati?" tanya Gandi. Tubuh Ganda itu terseyum tipis."Tentu saja aku tahu. Meski kita berbeda tubuh, tapi pada dasarnya kita adalah orang yang sama dengan satu jiwa. Hanya saja, aku memiliki kesadaran ilahi," kata tubuh ganda tersebut. Gandi nampak mengerutkan kening pertanda dia tak tahu sama sekali mengenai kesadaran Il