Louis menyetir mobilnya dengan perasaan yang masih kesal malam itu. Bukan kesal pada siapa pun, hanya kesal pada dirinya sendiri. Ia sengaja meminta Refi untuk tidak bertanya lagi tentang Hanna karena Louis tidak mau tahu lagi. Bahkan, Louis lembur sampai malam juga agar ia tidak perlu berinteraksi dengan Hanna di rumah. "Terus bertemu dengannya bisa membuatku gila! Aku juga tidak akan mencari tahu tentang dia lagi! Memangnya dia siapa?" "Tapi untunglah akhirnya Indira pulang! Walaupun aku masih marah padanya, tapi lebih baik ada dia daripada aku harus berdua dengan wanita itu!" keluh Louis yang melajukan mobilnya makin cepat. Namun, rencana Louis untuk tidak berinteraksi dengan Hanna pun berantakan saat ia melihat Hanna di depan gerbang rumahnya. Tidak sendiri, melainkan bersama seorang pria yang entah mengapa begitu Louis ingat, pria di rumah sakit waktu itu. Mendadak Louis dirambati amarah yang tidak jelas di dadanya. Moodnya seharian sudah begitu buruk dan pemandangan yang ia
Hanna mematung setelah Louis meninggalkannya begitu saja di depan gerbang. Louis melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah dan tidak peduli lagi padanya yang masih berdiri di sana. Jantung Hanna memacu kencang. Ucapan Louis barusan sama sekali tidak ia sangka. Sungguh, Hanna sadar statusnya sebagai istri, ia bukan wanita single lagi dan ia juga tidak bermaksud merayu pria mana pun. Hanya saja, ucapan Louis barusan membuat Hanna merasa ... entah bagaimana harus mengatakannya. Tapi Hanna merasa dimiliki .... Tatapan Hanna goyah sejenak. "Ya Tuhan, pikiranmu mulai tidak jelas, Hanna! Kalau pun dia melarangmu untuk merayu pria lain, itu karena dia tidak terima diselingkuhi. Ya, suami mana yang terima diselingkuhi?" "Tapi aku tidak pernah berpikir untuk selingkuh. Aku ... ck, baiklah, tidak usah dipikirkan lagi. Lebih baik aku masuk karena Bu Indira sudah menungguku." Hanna pun merapikan dirinya dan segera berlari kecil masuk ke rumah. Terlihat Indira sudah duduk di sana dan Louis
Hanna mematung di tempatnya, jantungnya berdebar begitu kencang hingga hampir melompat keluar dari dadanya. Kulitnya masih basah dan dingin setelah mandi, tapi sungguh, semuanya tertutupi oleh panas yang mendadak memenuhi ruangan begitu Louis masuk dengan ekspresi penuh amarah. Bukan hanya kehadiran pria itu yang menegangkan, tapi ucapannya barusan membuat bulu kuduk Hanna meremang. "Anda … bicara apa?" Suaranya bergetar. "Anda pasti mabuk, Pak." Alih-alih mundur atau menjauh, Louis justru semakin mendekat, langkahnya mantap, tatapannya tajam menusuk, seolah menelanjangi Hanna hingga ke lubuk hatinya yang terdalam. "Apa aku terlihat seperti orang mabuk, hah?" Suaranya rendah, tapi sangat mengancam. "Aku bilang ayo kita lakukan sekarang. Aku akan membuatmu hamil, Hanna!" Hanna tersentak, napasnya tercekat, tapi ia bahkan tidak sempat memproses ketakutannya karena sedetik kemudian, Louis sudah ada di hadapannya. Kedua tangan pria itu menangkup wajahnya, jari-jarinya mencengkeram d
Hanna tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat, ia menjaga jarak sejauh mungkin dari Louis, hingga mungkin kalau ia bergerak sedikit saja, ia bisa jatuh dari ranjang. Namun, tanpa sadar, tubuhnya beringsut mencari kehangatan yang seakan menariknya perlahan.Mungkin karena ranjang yang begitu luas. Mungkin karena malam terasa begitu dingin.Atau mungkin … karena di alam bawah sadar mereka, ada sesuatu yang perlahan menyeret mereka lebih dekat. Dan saat Hanna mendapatkan kehangatannya, tidurnya yang tadinya gelisah pun mulai nyenyak. Pagi pun menjelang dengan cepat dan Hanna masih mengeratkan pelukannya ke tubuh Gio. Ya, Hanna masih mengira tubuh yang dipeluknya adalah tubuh Gio karena memang hanya adiknya yang tidur dengannya setiap malam. Namun, Gio-nya terasa berbeda hari ini. Gio-nya mendadak besar dan kekar. Secara naluriah, Hanna menggerakkan tangannya membelai dada Gio, dan mendadak Hanna sadar bahwa itu bukan Gio. Sontak Hanna membuka matanya nyalang. "Ya Tuhan
"Jadi semalam kau tidur dengan suamiku?" Begitu Hanna tiba di kantor, Indira langsung memanggilnya dan membahas hal yang sama sampai Hanna tertekan sendiri. Padahal dulu setiap kali Indira memberinya pekerjaan, memintanya lembur atau menemani ke luar kota, Hanna sangat bersemangat karena Indira selalu memberikan bonus yang besar. Namun, sekarang rasanya sangat berbeda. "Tidak, Bu. Lagi-lagi Pak Louis tidak bisa melakukannya denganku," jawab Hanna tanpa basa-basi. Indira menatapnya lama tanpa ekspresi, seolah meneliti setiap inci wajah Hanna untuk memastikan kebohongan. Namun, tanpa berkomentar lebih lanjut, ia membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu mendorongnya ke hadapan Hanna."Itu alat tespek, periksa dirimu ketika mendekati jadwal haid. Sekalipun kau gagal terus, jangan lupa kalian pernah melakukannya satu kali waktu itu kan? Aku butuh keturunan segera, Hanna!" Hanna menatap kotak di hadapannya sedikit lebih lama, sebelum ia mengangguk dan menga
"Apa, Pak?" Hanna mengerjapkan mata tidak percaya mendengar ucapan Louis. "Temani ... ke mana?" "Aku ada acara keluarga dan aku tidak mau sendirian. Jadi temani aku ke sana, aku ...." Louis menggantung ucapannya dan mendadak merutuki dirinya yang sudah gila. Untuk apa mengajak Hanna, seolah wanita itu begitu penting, padahal Hanna bukan siapa-siapa, apalagi mengajaknya ke acara keluarga. Apa kata Sena nanti kalau tahu Louis mengajak asisten Indira?Ya, lagipula bukankah Sena menyukai Hanna, bahkan berpikir untuk menjodohkan Samuel dengan Hanna? Tidak mungkin Louis mengijinkan Sena bertemu Hanna lagi. Louis berdecak kesal. "Ck, lupakan saja!" "Iya, Pak?" ulang Hanna yang makin tidak mengerti dengan sikap Louis. Namun, Louis malah melotot kesal. "Kubilang lupakan saja! Kau bukan siapa-siapa, untuk apa aku membawamu ke acara keluarga? Sekarang keluar dari ruanganku dan cari Refi saja!" "Kalau ada apa-apa juga jangan mencariku! Aku sudah muak melihatmu di rumah dan aku tidak mau
"Bu Indira menyuruhmu sesuatu?" tanya Refi penasaran setelah Hanna menutup teleponnya. "Iya, aku disuruh mengambil jam tangan di kantor lalu mengantarnya ke rumah Pak Louis." "Eh, kau mau pergi sekarang?" "Iya, Bu Indira menyuruhku sekarang. Kau tahu kan bagaimana dia kalau marah? Dan aku tidak mau membuatnya marah." "Ah, baiklah, tapi apa motormu yang diambil kakakmu itu sudah kembali?" "Motor? Belum, tapi biarkan saja! Tidak perlu membahasnya!" Refi mengembuskan napas panjangnya. "Aku tahu kakak seperti apa dia! Tapi kau naik apa ke kantormu?" "Aku naik angkutan umum saja ke kantor lalu aku mengambil mobil kantor." "Angkutan umum? Ini sudah malam! Bagaimanapun kau sudah menjadi istri kedua Pak Louis, dia bisa membunuhku kalau tahu aku membiarkan istrinya naik angkutan umum malam-malam begini!" Hanna membelalak mendengarnya. "Ssstt, pelankan suaramu, Refi!" "Ah, haha, tenang saja, tidak akan ada yang mendengarnya. Ayo kuantar saja!" Refi memaksa dan ia pun akhirnya mengant
Hanna menyetir mobil kantor menuju ke sebuah rumah mewah seperti alamat yang diberikan oleh Indira. Untuk sesaat, Hanna menatap rumah besar di depannya, sama mewahnya dengan rumah Indira. "Orang kaya memang beda. Hanya dengan melihat rumahnya saja sudah membuatku merasa kecil." Seorang security langsung menyapa Hanna dan mempersilakan Hanna masuk karena memang sedang ada acara di rumah itu. Terlihat mobil-mobil mewah berjejer di depan rumah sampai membuat Hanna makin menciut. Walaupun sebagai asisten Indira, Hanna sudah terbiasa berinteraksi dengan orang kaya, tapi entah mengapa, jantungnya berdebar kencang saat ini. Sampai akhirnya seorang pelayan mengantarnya ke ruang keluarga, tempat semua orang sedang berkumpul di sana. "Selamat malam semua! Maaf aku menganggu waktunya!" sapa Hanna sopan. Jantungnya masih berdebar kencang menatap begitu banyak orang di sana yang semuanya rupawan, sama seperti Louis. Tatapan Hanna pun dengan cepat bertemu dengan tatapan Louis dan Hanna bisa
Hanna masih begitu tegang dengan scene ini, tapi ia tahu apa yang harus ia lakukan. Buru-buru Hanna menarik tangannya dari Louis duluan. "Ah, maaf, Pak!" seru Hanna. "Jalan saja tidak benar, Hanna! Atau kau sengaja tersandung, hmm?" desis Louis yang akhirnya melepas tangan Hanna dengan kasar. Hanna kembali menahan napasnya singkat sambil menatap Louis dengan tajam, sementara Martin malah begitu lembut bicara dengan Hanna. "Kau tidak apa, Hanna?" "Ah, iya, aku tidak apa, Dokter. Terima kasih!" Hanna tersenyum singkat.Louis yang melihatnya kembali kesal. Bisa-bisanya Hanna tersenyum pada Martin, tapi tidak padanya. Hanna mengucapkan terima kasih pada Martin, tapi tidak padanya. Louis mengembuskan napas kesalnya dan memalingkan wajahnya. Sambil memasukkan satu tangan di kantong celananya, Louis melangkah ke arah Indira dan langsung memeluk pinggang istrinya itu dengan mesra. "Ayo kita masuk dulu saja!" ajak Louis. Tanpa menoleh ke arah Hanna lagi, Louis dan Indira pun masuk ke r
"S-selamat malam, Pak, Bu!" Hanna menyapa dengan begitu canggung dan suasana pun hening sejenak. Jantung Hanna memacu begitu kencang karena ia tidak menyangka akan bertemu dengan bosnya itu. Begitu juga dengan Louis dan Indira yang masih membelalak begitu lebar. Namun, sebelum ada yang menyahut lagi, Martin sudah berbicara duluan. "Jadi kalian juga sudah saling mengenal ya, aku tidak tahu kalau bosmu ini adalah suaminya Bu Indira, Hanna." "Sebenarnya itu ...." "Aku yang bosnya. Hanna ini adalah asistenku," sela Indira. Martin terdiam sejenak melirik Louis. "Ah, maafkan aku. Kupikir suamimu adalah bosnya Hanna karena aku beberapa kali bertemu dengannya bersama Hanna." Indira mengernyit mendengar kata beberapa kali bertemu, tapi Louis tidak membiarkan istrinya itu berpikiran macam-macam dan ia langsung menyahut duluan. "Kami suami istri dan Hanna bekerja bersama kami, jadi kami adalah bosnya Hanna, apa bedanya? Tapi aku terkejut sekali melihatmu bersama Hanna, apa kalian ... be
Setelah berjam-jam menunggu dengan perasaan cemas, akhirnya Hanna diijinkan menemui Gio yang sudah mulai sadar di ruang ICU menjelang malam itu. "Ayo, Hanna. Kita ke sana," ajak Martin yang juga setia di rumah sakit sampai malam.Martin punya kesibukan lain dan jam praktik, tapi ia tetap menemani saat Gio sadar. Hanna pun langsung masuk ke ruangan Gio dan ia melihat tubuh kecil Gio yang terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Selang oksigen masih menutupi wajah mungilnya, tapi yang paling penting adalah Gio hidup. Gio selamat."Gio ...." Suara Hanna bergetar saat ia mendekat dan menggenggam tangan adiknya dengan hati-hati. "Kakak menunggu sejak tadi, Sayang." Martin berdiri di sampingnya dan menepuk bahu Hanna pelan. "Gio dalam keadaan stabil sekarang. Semuanya baik, walaupun ini masih dalam proses pemantauan ketat."Hanna mengangguk cepat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Terima kasih, Dokter! Terima kasih!" Martin ikut mengangguk d
"Kau yakin tidak apa meninggalkan bosmu seperti itu, Hanna?" Martin dan Hanna sudah duduk berdua di kantin rumah sakit. Awalnya Martin sungkan mengajak Hanna makan hanya di "kantin," tapi ia masih punya tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan lama-lama. Hanna, yang sejak awal tidak ingin meninggalkan rumah sakit, merasa cukup lega bisa makan dengan tenang di kantin rumah sakit yang sederhana ini. Setidaknya, ia tidak merasa terlalu terikat dengan suasana formal."Ah, tidak apa, Dokter," jawab Hanna, mencoba terdengar santai. "Seperti yang kubilang tadi, dia ... hanya mampir. Dia juga buru-buru.""Begitu ya?" Martin menyimpulkan sambil mengunyah. "Tapi dia bos yang sangat baik, Hanna. Masih sempat mampir di tengah kesibukannya. Kau beruntung punya bos seperti itu."Hanna memaksakan senyuman, tapi hatinya terasa berat. Martin terus saja memberikan pujian, yang sepertinya tak ada habisnya."Dia peduli pada karyawannya," lanjut Martin tanpa menyadari ketegangan yang mulai dirasakan
"Ke mana kita ini? Sepertinya salah jalan!" "Haha, ini menuju ruang operasi!" "Ya ampun, benar-benar salah jalan." Linda dan temannya baru saja akan menjenguk orang di rumah sakit saat mereka salah jalan dan malah melangkah ke arah ruang operasi. Mereka pun berniat berbalik arah saat Linda melihat seseorang yang familiar di depan ruang tunggu operasi. "Eh, itu seperti menantuku, siapa yang bersamanya itu?" seru Linda yang posisinya tidak terlalu jauh dari Louis. Linda bisa melihat Louis yang sedang menghampiri seorang wanita dan memberikan sesuatu untuk wanita itu. "Siapa? Louis Sagala suami Indira itu?" tanya temannya. Linda berdecak. "Ck, anakku hanya satu, menantuku ya jelas hanya satu juga!" "Ah, kau tidak menghitung istri Joseph ya." "Cih, dia bukan anakku! Tapi ayo kita sapa dia dulu!" Baru saja Linda melangkah mendekati Louis dan berniat menyapanya, tapi sedetik kemudian, ia menghentikan langkahnya saat ia mengenali wanita yang bersama Louis. "Ya Tuhan, itu kan Han
Louis masih terdiam menatap Hanna. Sekalipun ia kesal pada penolakan Hanna, nyatanya kemarahan wanita itu tidak membuatnya mundur."Kau benar-benar keras kepala, Hanna! Dengar ya! Aku di sini bukan untuk bertengkar denganmu, aku membawakanmu makanan, jadi lebih baik kau makan dengan patuh saja!" "Ini bukan di kantor, mengapa aku harus menuruti Anda? Aku tidak mau makan!" "Sial, Hanna! Bisakah kau tidak membantahku? Kau belum makan sejak tadi, kau mau adikmu sembuh tapi kau yang sakit, hah? Apa susahnya menerima makanan dariku?" Tatapan Hanna goyah menatap Louis, ia tidak mengerti apa yang sedang Louis lakukan sekarang, marah tapi juga seolah peduli padanya. "Bisakah Anda tidak usah berpura-pura peduli padaku, Pak? Aku ini hanya pembohong dan wanita murahan, aku makan atau tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Anda!" Louis kehabisan kata-kata. Ada apa dengan wanita itu yang mendadak mengaum seperti singa dan terus mengungkit kesalahan Louis? Namun, Louis juga tidak akan merenda
"Hanna, bagaimana?" Suara Susan yang berlari di koridor membuat Hanna menoleh. Hanna langsung tersenyum melihat sahabatnya di sana. "Susan!" Susan buru-buru ke rumah sakit begitu jam istirahat tiba agar ia bisa menjenguk Gio yang dioperasi, tapi ternyata operasinya belum selesai. "Bagaimana di dalam?" tanya Susan yang sudah duduk di samping Hanna. "Aku belum tahu, operasinya belum selesai padahal ini sudah tiga jam berlalu. Aku sampai tidak bisa bernapas lega." "Oh, sabar, Hanna! Semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu." "Terima kasih, Susan." "Tapi apa kau sudah makan? Ayo kita makan bersama!" Hanna menggeleng. "Aku tidak bisa makan. Perutku mual dan aku sama sekali tidak lapar. Aku terlalu tegang, Susan." Susan mendesah. "Ya ampun, aku paham, Hanna. Tapi kau harus makan sedikit, kau bisa lemas kalau seperti ini!" "Nanti saja! Aku mau menunggu dokter keluar." Susan terdiam sejenak sebelum bertanya, "Berapa lama seharusnya operasinya berlangsung?" "Empat sampai enam j
Hanna menggenggam tangan Gio erat saat para perawat mendorong ranjang rumah sakit ke arah ruang operasi pagi itu. Hanna melangkah di sampingnya. Tubuh kecil itu terbaring dengan wajah tegang. Hanna sendiri juga tegang, tapi sebisa mungkin, Hanna menenangkan adiknya itu. "Kak Hanna ...." Suara Gio lirih dan bergetar. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Uncle Dokter yang akan menjaga Gio di dalam." "Kak Hanna boleh ikut masuk saja? Temani Gio ...." "Tidak bisa, Sayang." Mata Hanna memanas. "Kakak tidak boleh masuk ke ruang operasi, tapi semuanya akan baik-baik saja ya." Air mata Hanna sudah mau jatuh, tapi Hanna menahannya. Mengantar adiknya yang masih kecil ke ruang operasi sangat mematahkan hatinya. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di dalam ruang operasi nanti, apalagi yang dioperasi adalah jantung Gio. Tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk Gio bisa bertahan. Selama di rumah sakit sendiri, kondisi Gio naik turun, dan Hanna percaya ini yang terbaik.Hanna pun sud
"Eh, mana Hanna?" Samuel dan Louis akhirnya keluar dari ruang kerja menjelang siang itu dan Samuel pun langsung mencari Hanna di meja Refi. Baru saja Refi akan menjawabnya, tapi Louis sudah menyelanya duluan. "Untuk apa kau mencarinya, Samuel? Itu tidak penting!" geram Louis. "Tidak ada, hanya ingin menyapanya saja. Tapi apa kau sadar kalau kau sangat aneh, Kak? Sejak kemarin kau aneh, sekarang pun kau aneh. Memangnya ada apa dengan Hanna sampai kau terlihat sangat membencinya?" Louis mengembuskan napas panjangnya. "Siapa yang membencinya? Jangan berpikir yang tidak-tidak!" "Haha, benarkah? Mama sangat menyukainya, Kak." "Ck, Mama baru bertemu dengannya satu kali, Mama belum mengenalnya. Kita tidak boleh melihat orang dari penampilannya saja!" "Apa maksudnya?" "Tidak ada! Tapi ayolah, kita makan siang bersama!" ajak Louis yang langsung membawa Samuel bersamanya. Refi yang mendengarnya sampai merasa tidak enak hati."Apa Hanna pernah memberitahu Bos alasannya menerima tawara