Share

75. Rayuan Maut

Author: Tari suhendri
last update Last Updated: 2024-08-02 14:29:07

"Bagaimana kalau,,,"

"Apa?" tanya James sok jaim.

"Sudahlah, sepertinya lebih baik mengabaikan ku daripada menuruti kemauanku bukan?" aku berlalu, hendak keluar kamar.

Sengaja ku langkahkan kaki perlahan untuk menunggu James menahan ku. Sampai...

"Apa maksudmu Alice? Apa kau hendak mempermainkanku?"

Senyum puas tersungging di bibirku, seperti emak-emak yang berhasil menawar barang dengan separuh harga. Tanpa berbalik, aku berpura-pura tak peduli.

"Bukan mempermainkan-mu sayangku, aku hanya sedang negosiasi. Jika ingin mendapatkan hidup yang layak, bukankah aku harus ikut berjuang?"

"Jangan bertele-tele, kau membuatku frustasi!"

"Sudahlah James. Jika kau bahkan tidak mau melibatkanku dalam mengambil tindakan untuk apa kau mau aku menikmati hidup bahagia?"

" Sudah ku katakan itu sangat berbahaya Alice! Apa kau tidak tau aku hampir gila karena Oliv terluka?"

Percakapan ini, tidak seperti yang aku bayangkan. Bukan negosiasi seperti yang aku harapkan. James malah marah karena ini.

"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Gairah Paman Sahabatku   76. Fakta

    Semua orang telah berkumpul disebuah ruang bawah tanah rumah Oscar. Biasanya, tempat itu digunakan untuk berjaga-jaga jika terjadi bencana angin topan. Meskipun aku sendiri tidak tau apakah wilayah ini termasuk yang sering terjadi. Sarah telah menyediakan waffle juga kopi. Lalu dia pergi ke luar ruangan, mungkin dia merasa bukan ranahnya untuk dapat ikut berdiskusi.Aku menggigiti waffleku yang tinggal separuh. Menunggu kedatangan James yang tak kunjung muncul. Aku bertanya-tanya apakah dia ketiduran disuatu tempat?"Kau harus tetap berpikiran netral setelah mengetahui fakta-faktanya, Alice. Itu akan mempengaruhi pandanganmu dalam mengambil keputusan," ujar Oliv dengan penuh penekanan. "Netral?" keningku berkerut, dengan jantung berdebar menunggu James datang. "Kau gugup?" rupanya James sudah ada dibelakangku. Padahal aku tidak melihatnya masuk. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya. Lalu sekilas melihat dinding yang baru saja tertutup. Aku yakin itu sebuah pintu rahasia.

    Last Updated : 2024-08-06
  • Gairah Paman Sahabatku   77. Hening sebelum Badai

    "Kau senang?" tanya James dengan cengiran khasnya. Aku suka melihat itu. "Sangat!" kataku seraya terus melakukan aktifitas favoritku. "Kau memang aneh Alice, disaat banyak aktifitas menyenangkan diluar sana, kau lebih memilih bersamaku disini," erang James dengan nafas tertahan. Aku masih terus memeganginya, menahannya agar tidak banyak bergerak. Dengan tatapan curiga aku memelototinya. "Selama aku tidak bersamamu, siapa yang melakukan ini untukmu?" tanyaku garang. "Aku melakukannya sendiri Alice," Jawabnya sambil memutar bola matanya jengah. "Dengan apa?" "Tentu saja dengan alat khusus, kau pikir aku tahan membiarkannya begitu saja?" Keluh James sedikit mengerang lagi. "Ouch Alice, pelan-pelan sayang," "Apa itu sakit?" aku menatap tepat didepan mukanya yang memerah. Dia menggeleng. "Hanya geli sedikit, kau semakin pandai melakukannya," Pujinya bangga. Aku mengerling nakal, "tentu saja dengan banyak latihan" "Kau melakukannya dengan siapa?" "Diriku se

    Last Updated : 2024-08-07
  • Gairah Paman Sahabatku   78. Lucy O'connell

    James menggendongku ketika melewati jalan setapak yang dikelilingi sorgum. Aku bahkan belum melihat Gandum. "Jauh sekali, James," keluhku santai."Bagus sekali, aku yang menggendong, malah kau yang mengeluh," cecarnya tak suka. Aku hanya tergelak lalu melingkarkan tangan dilehernya."Alice, jangan terlalu erat. Aku bisa mati sebelum sampai," "Baguslah, dengan begitu aku bisa bebas," celetukku asal. "Bebas kau bilang?" "Hmmm,,, bebas dari belenggu cinta yang terus membayangiku. Hahahaha" "Lucu sekali Alice," kata James sambil menurunkanku.Kami sudah sampai di ladang Gandum yang siap panen. Dan benar saja, seseorang membuatku terkejut saat kepalanya menyembul diantara gandum yang bergoyang heboh. "Nak, cari siapa?" kata seorang wanita paruh baya. "Lucy, kami mencarinya," James yang menjawab dengan tidak nyaman. "Oh, sebentar aku panggilkan," Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menekan tombol lambat-lambat."Hallo? Lucy? Ya ada yang mencarimu. Titik koordinat ku tentu saja

    Last Updated : 2024-08-15
  • Gairah Paman Sahabatku   79. Calon Ipar Maut

    "kau senang?" tanya James yang sedang mengeringkan rambutku menggunakan handuk. "Sangat senang, tapi...""Apa? Ada yang lupa untuk kau lakukan dikamar mandi tadi?" Nada bicaranya berharap. "Tidak ada," James terlihat kecewa tapi melanjutkan menyisir rambutku. "Bolehkah aku tau nama orang tuamu?" tanyaku sedikit ragu. Reaksi James biasa saja. "Maksudku, aku akan menjalankan misi berbahaya. Tentu saja aku harus tau siapa yang akan ku hadapi"."Aku tidak pernah menyembunyikannya darimu", jawabnya santai."Lalu?""Kau tidak pernah bertanya," Aku berpikir sejenak, dia benar juga. "Jadi katakan saja siapa namanya," ***Liburanku di Alaska hanya berlangsung selama seminggu, setelah itu kami kembali ke Boston. Rencana dimulai sejak aku masuk kuliah lagi. Scott, tetap masuk kuliah bersama Betty. Tapi kali ini Betty bersikap seolah neneknya tidak pernah menyanderaku. Dia terlihat lebih ceria dan menyapa siapa saja yang dilewatinya. Sungguh perubahan cukup besar dari seorang Betty. Aku j

    Last Updated : 2024-09-07
  • Gairah Paman Sahabatku   80. Rencana lain

    Aku membuat satu garis panjang menggunakan kapur ajaib yang kubawa dari kampung. Meskipun aku tidak tau apakah serangga disini akan mempan dengan itu. Tapi yang aku harapkan bukan kecoa atau semut yang mati. Melainkan menjaga Agar Scott tidak bisa menguping acara kami. Itupun tidak membuatnya kesal. Scott malah tampak sangat bersyukur dengan menyalakan tv yang menayangkan siaran balap motogp yang membosankan. Hanya area itu dan dapur yang dapat dia masuki. Selebihnya adalah teritoriku. Betty memilih piyama satin merah cerry yang menjadi hadiah dari Frans saat aku baru pindah. Belum ku sentuh sama sekali karena warnanya begitu menyala. Aku pernah mencoba piyama itu dan merasa harus menguncir dua rambutku dan menggunakan lipstik merah tua. Sejak itu kusimpan didalam lemari paling bawah dan tak tersentuh. Entah bagaimana Betty dapat menemukan itu. Setelah membuat roti lapis daging asap dobel keju. Juga cokelat panas, beberapa drama korea, dan banyak camilan. Akhirnya pesta piyama di

    Last Updated : 2024-09-07
  • Gairah Paman Sahabatku   81. Operasi bulan 1

    Acara pesta piyama berpindah keruang tengah. Aku dan Betty membuat sandwich tambahan. Sementara Scott berbelanja beberapa camilan lagi ke supermarket dekat rumah. James datang sekitar satu jam kemudian. Membawa bungkusan besar yang harumnya membuatku lupa sandwich yang kami buat barusan. Dia memeluk lalu menciumku lama sekali, hanya bagian pucuk kepala. "Boleh aku pinjam tanganmu sebentar?" tanyanya dengan wajah menggoda,Aku mendongak menatapnya, "untuk apa?""Mengganti pakaian?" cengirannya hampir membuatku lupa rencana. "Kau memang nakal, tapi ayo akan kubantu," kataku menyetujui. Betty pura-pura buta dan tuli. Menggigiti sandwichnya dengan khidmat sambil menonton. Untung saja Scott sudah pulang saat aku mendorong James masuk ke kamar. "Nah, mana piyamanya?" tanyaku tak sabar."Apa kau tidak tertarik membuka pakaianku saja lebih dulu? Aku tidak suka buru-buru," "Ayolah James, kau tau kesepakatan kita dan jangan menyiksa diri sendiri," James mengerucutkan bibirnya, "hanya k

    Last Updated : 2024-09-11
  • Gairah Paman Sahabatku   82. Operasi bulan 2

    Aku terjatuh dengan suara gedebuk keras. Saat membuka mata, rupanya aku terjatuh diatas matras yang sudah bulukan. Membuat hidungku gatal. Cepat-cepat beranjak dari sana, disusul suara dua gedebuk lainnya. Jelas Scott terjun sambil memeluk Betty. "Nah, ayo ikuti aku. Jangan sampai tersandung," ujar Scott setelah menyalakan senter kepala dan memimpin didepan. Betty menggandengku dan kami berjalan cepat karena banyak hewan berbisa yang lewat. "Kasihan sekali Luna harus dikurung ditempat ini," gumam Betty pada diri sendiri. Scott mendengus, "kalian lihat saja nanti," Rasanya lama dan jauh sekali. Mungkin karena kami berjalan di lorong tikus yang sempit, pengap dan gelap. Aku berpikir kejam sekali James sampai harus mengurung Luna ditempat seperti ini. Hingga kami menemukan cahaya diujung jalan yang bercabang. Suaranya bising sekali, diiringi musik dan gumaman rendah orang-orang. Aku berlari kecil menuju pintu besi, ada sedikit lubang untuk mengintip kesisi lain. Aku menganga tak

    Last Updated : 2024-09-14
  • Gairah Paman Sahabatku   83. Konyol

    Scott mengemudi dengan kecepatan tinggi. Membuatku paham alasan dia memilih mobil sport. Tapi itu juga membuatku semakin merasa gugup. Hari hampir pagi saat kami sudah masuk jalanan Boston, Massachusetts. "Semoga saja dia belum bangun," gumamku berdoa. " Aku yakin belum," kata Scott meyakinkan. "Jangan terlalu yakin," "Lihat saja," Scott menyalakan layar tv kecil di dashboard Disana terlihat James sedang tertidur telentang dengan mulut terbuka. Aku yakin dia sedang mengorok. "Bagus kalau begitu, tapi apa wanita di lorong itu tidak akan memberitahu James?" " James tidak mau berbicara langsung dengan orang-orang yang ada disana, apalagi wanita," "Kenapa?" "Aku rasa kau lebih tau alasannya," "Aku tidak tau," jawabku menahan senang dihati. "Terserah"Betty tertidur, dia kelihatan lelah sekali. Jadi aku tidak membangunkannya saat kami sampai dirumah. Scott yang

    Last Updated : 2024-10-18

Latest chapter

  • Gairah Paman Sahabatku   105

    "ayo!" Baron ditarik paksa oleh James. Mereka sudah sampai di sebuah gedung yang mirip rumah sakit. Baron mencari-cari nama rumah sakit itu tapi mereka sudah berada di halamannya. "Mau kemana kita?" tanya Baron ketakutan. Yang ada dipikirannya adalah..."Suntik mati!" Jawab James tanpa menoleh. Garis wajahnya begitu tegas dan kejam, membuat Baron semakin trauma. "Kumohon, jangan suntik mati" rengek Baron memelas, "aku akan lakukan apapun tapi jangan suntik mati aku" "Kau rupanya takut mati juga? Apa kau takut tidak dapat kesempatan mencoba obat barumu?" "Apa?""Obat baru yang kau beli dari seorang dokter kandungan" "Darimana kau tau itu?"James menghentikan langkah dan menatap tajam Baron, "tentu saja aku tau semua perbuatan mu, bahkan semua daftar psk juga gigolo yang kau sewa!" Baron bungkam, dia tidak dapat mengelak apapun lagi. Sudah pasti James bisa mendapatkan informasi apapun dari manapun. Selama ini, Baron merasa bahwa dia adalah seorang mafia yang disegani di bawah ko

  • Gairah Paman Sahabatku   104. PoV James

    Hari -hari James menjadi lebih sulit setelah dia pulang ke Boston. Terus mengecek email dan meminta semua orang untuk melapor setiap satu jam sekali. Gedeon yang paling aktif. James sempat tersedak saat sedang meneguk tehnya. Cara Gedeon cukup cerdik. Dia menggunakan media sosial untuk mengunggah setiap aktifitasnya di Farm Girl sebagai pegawai baru. Alice menyadarinya tentu saja, tapi dia terus tersenyum saat diajak ber selfie oleh Gedeon. Terkadang Alice menunjukkan sarapannya, atau melambai saat dia sedang berjalan melewati Farm Girl di petang harinya. Itu mengobati rindu James meski hanya sedikit. Sebagian besar pekerjaannya sudah di alihkan pada semua tangan kanan dan sekretasinya, namun kehadirannya di kantor sangat dibutuhkan. Pengaruh James yang cukup besar tidak hanya untuk perusahaannya saja, namun beberapa saham yang dimilikinya di beberapa negara bagian lainnya. Seperti satu hari itu, James berangkat menggunakan

  • Gairah Paman Sahabatku   103. POV James

    "Dia pergi kekawasan Notting Hill kak," Scott melaporkan situasi terkini Aldrick Beufort pada James yang sedang berjaga-jaga di dekat sebuah gedung. James terus merasa gelisah sejak kepergian Alice bersama Thomas. Dia melihat bagaimana pandainya Thomas mengatur emosi, mimik wajah juga ucapannya. Orang seperti itu sangat berbahaya jika kita tidak bertindak hati-hati. Jadi, alih-alih membiarkan Alice melakukan petualangan nya sendiri, James malah mengatur rencana untuk kekasihnya. "Cari tau apa yang dia lakukan disana, dik," titah James tegas, dia tidak mau membuang kesempatan apapun untuk Alice. "Baik," Scott mematikan sambungan .James lalu pindah ke sebuah kafe diseberang gedung itu. Mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan. Mendapati Alice keluar bersama Thomas dan beberapa gadis yang tampak akrab dengannya. "Apa dia mendapat teman baru?" pikir James menaikkan satu alisnya. Dia sangat tau bagaimana Alice. Dia me

  • Gairah Paman Sahabatku   102

    "ehemmmm" Aldrick langsung mengalihkan pandangan pada gadis mungil dibelakangnya. Matanya sinis juga mencela. Tapi bibirnya terkatup rapat. Alice bersikap santai, dia tersenyum lebar lalu duduk disebuah kursi dekat jendela. Angin menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang. Ingin sekali Aldrick merapikan rambut itu. "Eh kok sudah bisa senyum? Sudah sembuh?" Celetuk Aldrick membuat Alice nyengir."Belum, tapi karena musiknya sudah mati, jadi gigiku tidak terlalu berdenyut seperti tadi," "Oh maafkan keegoisanku madam," Aldrick meminta maaf sambil membungkuk dengan sikap hormat. "Hahahah! Aku merasa jadi lebih tua," "Oh maaf, nona. Aku lupa kau belum menikah atau apakah sudah?" sindiran penuh rasa penasaran. "Tentu saja belum," Alice tersenyum manis sekali, sampai rasanya Aldrick akan membutuhkan suntik insulin. "Baiklah, aku akan mengambilkan minum untukmu" diberikannya obat pereda nyeri itu,

  • Gairah Paman Sahabatku   101. Rumah pink jadi menggoda

    Semua hal di dalam dunia menjadi indah jika kita mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Namun Aldrick hanya memiliki sebagian sebagian besar yang diinginkan kebanyakan orang. Uang bukan sesuatu yang benar-benar menggiurkan jika kau memiliki seisi Bank. Tapi Aldrick bersyukur dia memiliki Nut. Meskipun sebelum ini Aldrick tidak pernah bertanya siapa ibunya, tapi dia juga tidak menampik akan rasa penasaran terhadap sosok ibunya. Meski begitu, selera Aldrick tentang perempuan juga tidak main-main. Mungkin karena itu dipengaruhi oleh pengasuh nya sejak bayi, yaitu Bibi Sally. "Kau tau! tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Semua ibu itu memiliki cinta yang paling besar untuk anak-anak mereka. Anak adalah hidupnya, dan dia rela menukar hidupnya untuk kebahagiaan anaknya," Dulu, Aldrick tidak mengerti ucapan yang selalu di ulang-ulang oleh Bibi Sally. Namun belakangan, Aldrick sudah mengetahui maknanya. Hingga ia memutuskan untuk

  • Gairah Paman Sahabatku   100. Chepstow Villas

    Nut terheran-heran. Sejak tadi Aldrick terus memandang ke jendela dan tersenyum seperti orang gila. Bahkan dia tidak memberi tahu Nut, siapa yang dia kunjungi di Brick Lane tadi. Namun Nut tidak ingin mengganggu apapun yang membuat tuannya tampak bahagia. Dia bersimpati pada gadis yang membuat Aldrick tampak berbeda. Binar matanya yang kelam menunjukkan cahaya meski sedikit. Mobil berhenti didepan rumah yang berdempetan rapi. Setiap rumah di cat dengan warna-warna cerah , menambah keindahan kawasan di Notting Hill itu.Aldrick membeli rumah di Chepstow Villas ini sejak tahun lalu, saat perjumpaannya dengan Alice. Dia memiliki harapan yang cerah begitu mengunjungi kawasan yang selalu ramai wisatawan itu. Rumah dengan warna cat biru pastel. Disebelah rumah berwarna pink. Dia mengira rumah itu kosong dan akan manis sekali jika yang menempatinya itu seorang gadis. Selain lingkungannya yang bagus, Chepstow dekat dengan Westbourne Grove, y

  • Gairah Paman Sahabatku   99. kunjungan ke Brick Lane

    " Menurutmu, apa yang membuat Thomas datang kemari?" tanya Aldrick pada Nut"Aku fikir, kita harus membiarkannya masuk untuk dapat tahu tujuannya tuan," Nut menyarankan."Benar juga, tapi bukankah sangat beresiko untuk kita?" Aldrick merasa cemas, jari-jarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk sofa Nut mengangguk setuju, "tapi anda sudah punya bukti-bukti siapa korban sesungguhnya tuan. Anda bisa saja mati jika aku tidak ada disana saat itu," Aldrick mau tak mau harus mengambil resiko jika ingin namanya kembali bersih. Meskipun dia sendiri tidak keberatan sama sekali jika namanya tercoreng. Itu hanya masalah seorang gadis, bajingan manapun pernah mengalami hal yang lebih parah. Mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Bella saat kunjungannya ke amerika, Aldrick menemukan Bella belia yang manis dan lugu. Saat itu, Bella masih menjadi salah seorang mahasiswi di Washington University, Seattle. Dia memang memiliki perawakan yang nyaris sempurna. Bella memiliki potensi yang bagus se

  • Gairah Paman Sahabatku   98. Seleksi

    "eehhh tuan?" Nut melirik Aldrick yang terlihat gugup. Tangannya menggenggam tangan Nut sangat erat. "Ada apa Nut?" tanya Aldrick kesal, "Apakah tuan gugup?" Nut masih memandangi tangan bosnya itu. Aldrick menyadari posisi itu dan langsung melepasnya. Seraya merapikan jasnya yang sudah licin, Aldrick berjalan menuruni tangga dengan sikap pongah seperti biasa. Nut mendengar Clint sedang bergosip mengenai sikap bos mereka akhir-akhir ini. Dia hanya dapat melempar pandangan mematikan pada mereka. "Bagus sekali Clint, kau bisa mengurusi pacarmu selama bos sedang sibuk hari ini," Nut berkata dengan sinis. Membuat senyum konyol Clint menghilang dari wajahnya yang bulat. Nut merasa puas dapat membungkam mulut Clint yang mirip perempuan. Bagaimana pun, Nut sangat menghormati Aldrick dan akan membelanya mati -matian. "Selamat datang Tuan Beufort!" Seru salah seorang pria berjas abu-abu dengan dasi hitam putih, perutnya tampak memberontak dalam Jas yang kesempitan itu. Al

  • Gairah Paman Sahabatku   97. Pov Aldrick Beufort

    "tuan, pesawat sudah siap" ujar seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam. Dia memasang wajah datar seperti biasa. "Oke, Nut?" Aldrick melirik ajudannya yang berambut ungu. "Segera tuan," jawab Nut langsung bergerak mundur. Mereka masuk kedalam pesawat jet pribadi milik Aldrick yang berinterior mewah dengan segala fasilitasnya. Dua wanita muda jangkung, mengenakan dress seksi langsung berdiri begitu melihat kedatangan Aldrick. Mereka menyambutnya dengan senyuman merekah, dihiasi bibir ungu tua , yang satunya merah cerah. Selera fashion mereka juga tampak aneh. Aldrick hanya melenggang duduk di sofa empuk, mengabaikan dua wanita aneh yang sedari tadi minta perhatiannya. "Aku heran, apa tidak ada wanita lain dengan selera yang lebih berkelas?" gerutunya dalam hati. Tapi Aldrick tidak suka mengoceh. Dia yakin, para pegawainya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Lagi pula, dua wanita itu tidaklah jelek. Dengan perawakan montok depan belakang, kulit putih mulus, rambut tergerai

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status