Akhirnyaaa, ketemu Dom lagi!
‘Dominic?!’ Tubuh Rena membeku. Dia tidak mampu memercayai penglihatannya sendiri. Wajah yang beberapa waktu belakangan terus menghantui malamnya itu mendadak muncul tepat di depan mata! Seketika, seluruh ingatan dari mimpi-mimpi yang sempat hinggap sesaat dalam tidur menerpa Rena, membuat wajah gadis itu merona merah! “Adikara,” panggil Maheswara membuat Rena mengernyitkan dahinya. ‘Adikara?’ ulang gadis itu lagi dengan wajah bingung. Rena memerhatikan Maheswara tersenyum lebar kepada Dominic yang membungkuk hormat kepadanya, mengikuti adat Nusantara dengan begitu alami, seakan itu adalah adat yang Dominic ketahui selama ini. Berbeda dengan Dominic yang biasa akan langsung melemparkan senyum dan melontarkan kalimat menyebalkan untuk memancing amarah Rena, pria tersebut terfokus pada Maheswara. “Siapa ini, Pangeran?” tanya Anindita dengan pandangan genit ketika menatap Dominic. Matanya mengerjap beberapa kali, sangat kentara berusaha menarik perhatian pria tersebut. “Dia terliha
“Pelayan tidak becus!? Apa kamu mencari mati?!” Makian itu meluncur keluar dari bibir Anindita selagi dia menunjuk-nunjuk ke arah hidung Rena. Mata Anindita terlihat memerah dan wajahnya memancarkan amarah yang menggebu. “Melukai keluarga kerajaan, apa kamu tidak tahu apa hukumannya?!” Selagi mengucapkan hal itu, Anindita meringis. Bulir-bulir keringat muncul di keningnya karena sepertinya kulitnya sedikit terbakar. Entah kenapa, teh yang tumpah itu masih sangat panas! Astaga, kalau tahu sepanas ini, Anindita akan menggunakan cara lain untuk membuat gadis pelayan genit itu dihukum! Sementara itu, Rena yang mampu membaca wajah kesakitan Anindita di balik ekspresi marahnya tertawa dalam hati. Bertindak didasari emosi dan tanpa pemikiran matang, sepupunya ini ternyata … memang sebodoh itu. ‘Hah ….’ Rena menghela napas dalam hati, bersyukur bahwa sang sepupu tidak penuh dengan tipu muslihat dan kelicikan seperti anggota keluarga kerajaan yang lain. Demikian, dia tidak perlu pusing
“Kalau tidak … aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.”Saat perkataan itu terlontar dari bibir Adikara, semua orang tertegun, terutama Maheswara.Pangeran adipati itu memerhatikan saudara angkatnya dalam diam, mempelajari dengan saksama setiap perubahan ekspresi guna memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.Adikara adalah orang seperti apa, Maheswara tahu dengan jelas. Pria itu dingin, misterius, dan tidak suka berdekatan dengan orang asing.Lalu, kenapa sepertinya Adikara menaruh perhatian lebih terhadap gadis pelayan angkuh itu?!‘Apa Adikara mengenalinya?’ batin Maheswara seraya menatap sosok Rena. ‘Atau hanya … karena tertarik padanya?’Patut Maheswara akui, gadis itu memang cantik dan anggun. Sikap dan pembawaannya jauh melebihi keanggunan pelayan istana, malah lebih seperti seorang putri.Tidak, bahkan putri kerajaan seperti Anindita saja tidak bisa dibandingkan!Dia anggun dan lembut seperti Saraswati, tapi berani dan penuh kuasa seperti Yara.‘Siapa sebenarnya gadis ini
“Dominic ….”Kala nama itu terlontar, ekspresi Adikara sedikit berubah. Ada kebingungan dan keterkejutan yang terpasang di wajahnya.“Kamu bilang apa?”Sadar mulutnya hilang kendali, Rena terbelalak. Dia langsung menutup mulut dengan satu tangan dan memandang Adikara dengan tatapan waspada.“M-maaf, Tuan Adikara. Aku melamun dan—”Belum sempat Rena menyelesaikan ucapannya, Adikara menggenggam tangan Rena yang menutupi mulutnya. Dengan wajah serius pria itu bertanya, “Tidak, nama tadi … kamu—”“Apa yang terjadi di sini?”Ketika pertanyaan itu terlontar, semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka.Di puncak tangga, muncul sosok Surya yang baru saja tiba dan terlihat mengarah ke balai utama.Entah apa ini perasaan Rena saja, tapi dia menyadari pandangan Surya mendarat pada dirinya dan juga Adikara.“Paman Surya!” seru Anindita yang wajahnya langsung berubah cerah. Gadis itu menghampiri sang paman dan berkata dengan nada manja, “Para pengawal ini tidak mengizinkanku masuk!”Surya m
“Bertengkar dan saling menegur layaknya anak-anak di taman bermain, sungguh memalukan! Apa kalian sadar status kalian sebagai keluarga kerajaan!?”Kemarahan Yara membuat seisi ruangan menjadi hening.Rena yang berada di tempatnya menghela napas dalam hati. Keluarga kerajaan berakhir seperti ini, sebenarnya karena apa? Dan salah siapa?Apa sesuai kata Yara, semua karena dirinya yang tidak berhasil menjadi ibu yang baik? Atau … setiap dari mereka yang tumbuh besar di kerajaan memang terlahir dengan ambisi masing-masing?“Katakan apa yang terjadi!” titah Yara selagi menatap ke arah Anindita saat dirinya sudah sedikit lebih tenang.Di saat ini, Rena melihat sebuah jari yang ditudingkan ke arahnya. Itu adalah jari Anindita.“Pelayan itu dalangnya, Nenek!” seru Anindita, membuat semua orang memalingkan wajah mereka dan berakhir menatap Rena.Detik pandangan semua orang mendarat pada Rena, sejumlah dari mereka memasang wajah terkejut. Ada pula yang memicingkan mata, seakan perlu melihat lebi
“Apa?! Apa kamu bermaksud mengatakan aku sengaja menyenggolnya?!” Adikara menatap Anindita dengan datar selagi memiringkan kepalanya. “Apa aku berkata Tuan Putri sengaja menyenggolnya?” Dia pun tersenyum tipis, membuat semua orang terpukau dengan pertanyaan lanjutan pria itu. “Atau mungkin … Tuan Putri memang sengaja?” “K-kamu—!?” Anindita tergagap, tapi tak mampu berkata apa-apa. Dia langsung menghadap sang nenek. “Nenek! Itu tidak benar!” Anindita merengek. “Bahkan Pangeran Maheswara dan Saraswati yang berada dekat denganku tidak melihat apa pun, bagaimana mungkin pria ini bisa melihatnya!?” Mendengar rengekan Anindita, Yara tidak mengatakan apa pun, begitu pula dengan semua orang lain. Semua pejabat yang tadi sibuk mendukung Anindita sekarang bungkam. Mereka tahu masalah tidak lagi sesederhana sebelumnya karena Adikara, anak angkat sang adipati agung, telah angkat bicara. Di saat ini, sang adipati agung berdiri dari kursinya dan memberi hormat kepada Yara. “Yang Mulia, bolehk
“Ya, Yarena adalah putri kandung dari Wulan,” ucap Yara. “Dan dia … juga penerus sah Kerajaan Nusantara!”Saat kalimat itu bergema di balai utama Kerajaan Nusantara, semua orang tak elak membeku di tempat.Tidak ada yang mampu mengatakan apa pun. Lidah mereka terasa kelu.Putri kandung Wulan? Penerus sah Kerajaan Nusantara?Semua orang mengalihkan pandangan kepada sosok Adhisti yang membeku di tempatnya dengan mata melotot.Kalau memang itu kebenarannya, bahwa gadis bernama Yarena itu adalah penerus sah Kerajaan Nusantara, maka bukankah itu berarti semua usaha Adhisti selama ini untuk mengumpulkan dukungan … sia-sia?!Berbeda dengan permasalahan besar yang mendera pikiran para pejabat dan kedua orang tuanya, Anindita memiliki permasalahan lain yang harus dia pikirkan!‘Dia … putri dari Bibi Wulan?!’Berdiri di tempatnya dengan wajah pucat, kepala Anindita perlahan berputar, mengarahkan pandangannya kepada sosok ramping yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Wajah sosok itu ter
“Mungkin … kamu malah ingin menyingkirkannya?”Kala pertanyaan itu melambung, keheningan menyelimuti ruangan tersebut. Semua orang tidak mampu percaya telinga mereka.Apakah Surya baru saja menuduh saudarinya itu secara terbuka?!Ini sudah gila!Tekanan yang tercipta akibat percakapan Adhisti dan Surya membuat napas semua orang sesak!“Kakak Ipar, jangan sembarangan bicara,” ucap seseorang yang tidak lain adalah Adinasya.Wajah pria itu terlihat tenang, tapi pancaran matanya diselimuti kegelapan mendalam. Sepertinya, pria itu menyadari bahwa situasi semakin lama semakin memburuk, bukan untuk orang lain, melainkan istrinya sendiri.Dan, kalau Adhisti tertimpa bencana, begitu pula semua anggota keluarganya!Adinasya berdiri tegap sembari menatap Surya dengan tajam. “Ucapan Kakak Ipar seakan menuduh istriku bersedia menghalalkan segala cara hanya untuk suatu hal yang mati seperti takhta dan kekuasaan,” balasnya. “Orang lain bisa salah paham dan menduga bahwa istriku berniat untuk melakuk
Tidak lama setelah Evelyn beserta suami dan ibunya turun dari panggung, iringan merdu piano pun terdengar. Pintu ruang pesta terbuka, membuat setiap pasang mata beralih ke arah sosok berbalut gaun pengantin berwarna putih mutiara yang berjalan memasuki ruang pesta didampingi seorang wanita dengan gaun hijau indah. Itu adalah Rena yang didampingi oleh sang nenek, Yara. Memerhatikan calon istrinya menghampiri, Dominic merasa seakan jantungnya ingin melompat keluar dari dada. Langkah Rena dalam gaun indah itu sangatlah ringan, hampir seperti melayang bak dewi yang turun dari khayangan. Bulu mata lentiknya yang bergetar mengikuti langkahnya membuat penampilan wanita itu memesona Dominic. Saat wanita rupawan itu sudah berada di hadapannya, Dominic hanya bisa membeku seperti orang bodoh, tenggelam dalam pancaran indah sepasang manik hijau yang menghipnotis itu. Dengan tangan yang telah disodorkan oleh Yara kepada Dominic, Rena yang melihat pria itu mematung konyol tersenyum geli. “Tidak
“Tidak kusangka akan tiba hari di mana Tuan Dominic Grey akan berakhir menikah,” ucap Selena, sekretaris Dominic, yang menangis haru melihat sang atasan mengenakan jas putih pernikahan, terlihat begitu cerah dibandingkan hari-hari biasanya.Di sebelah Selena, Julian menepuk-nepuk pundak wanita tersebut. “Aku paham perasaanmu.” Dia sendiri sempat merasakan hal serupa ketika Adam Dean menikah dengan Evelyn Grey.Sembari menggandeng lengan Julian, Elena memasang senyuman geli. Dengan wajah bangga, dia berkata, “Hehe, kalian kurang peka. Sedari awal, aku sama sekali tidak terkejut Adam akan berakhir dengan Evelyn dan Dominic akan berakhir dengan Rena.”Sementara para pemuda-pemudi Capitol mengomentari pernikahan Rena, di satu area khusus yang dijaga banyak pengawal berpakaian tradisional, terlihat Saraswati dan Anindita hadir bersama dengan ibu mereka, Adhisti. Ketiganya terlihat tengah berbincang ramah dengan Diandra dan Henry yang dengan mahir menjamu mereka.Tampak sosok Adhisti juga s
BUK! Suara tubuh yang terbanting ke tempat tidur empuk bisa terdengar. Hal tersebut diikuti dengan kecupan basah dan lenguhan yang saling beradu. Dalam ruang tidur di pesawat pribadi itu, Dominic tampak sedang mengungkung sosok Rena. Tangan pria tersebut menelusup masuk ke dalam pakaian gadis di hadapan, meremas sedikit dan menyebabkan sebuah lenguhan rendah untuk kabur dari bibir Rena. “Hah ….” Napas yang terengah terdengar kala ciuman mereka terpisah. “Dom …,” panggil Rena. Ujung mata gadis itu tampak sedikit merah dan basah, terlihat begitu menggoda. “Jangan sekarang ….” Mereka sekarang di mana? Di dalam pesawat dengan puluhan bawahan yang menunggu di depan ruang pribadi. Kalaupun sudah berpindah ke kamar tidur, tapi Rena tidak bisa menjamin segala hal yang terjadi dalam ruangan tersebut tidak akan didengar oleh orang-orang di luar! Sebagai seseorang yang telah berkutat dengan dunia malam, tidur dengan seorang pria jelas adalah sesuatu yang tidak begitu asing untuknya. Akan te
Adhisti tersenyum, lalu menepuk pelan punggung Rena. “Aku tidak berkata kamu akan menikah sekarang, bukan?” Dia melirik Dominic yang hanya terdiam di tempatnya selagi menatap intens ke arah Rena. “Akan tetapi, aku yakin seseorang tidak bisa lagi menunggu lama.”Satria, yang mendorong kursi roda Adhisti—Rena yakin sepertinya keduanya telah berbaikan setelah mengetahui kebenaran di balik kematian Wulan—tertawa rendah dan menimpali, “Jikalau memang kalian akan merayakannya, jangan lupa untuk mengundang kami.”Mendengar hal itu, Bhadrika langsung bersiaga dan berujar, “Tuan Putri, di hari itu, tolong infokan paling tidak satu bulan sebelum. Banyak persiapan yang perlu regu pengawal siapkan untuk memastikan keluarga kerajaan bisa pergi ke luar kerajaan.” Dia sudah memikirkan seribu satu cara untuk menjaga acara pernikahan tersebut.Rena hanya bisa tertawa mendengar ucapan semua orang. Senyuman di bibirnya merekah lebar lantaran senang semuanya berakhir baik.Pandangan Rena mendarat pada An
Menepiskan pandangan para pengunjung hotel pada dirinya, Dominic masuk ke dalam lift khusus untuk kemudian menuju penthouse miliknya.Sebelum pintu tertutup, manajer hotel tersebut berucap, “Jikalau ada yang diperlukan, silakan menghubungi saya, Tuan Grey. Saya permisi.”Dominic melangkah masuk ke dalam kamar, lalu meletakkan Rena dengan hati-hati di sana. Lelah sepertinya merasuk tubuh gadis tersebut, bahkan setelah semua kericuhan untuk tiba di kamar tersebut, Rena sama sekali tidak terganggu.Tidak ingin mengusik Rena, Dominic pun keluar dari ruangan. Dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.“Kami sudah tiba,” ucap Dominic.“Rena … sudah menemui Eli Black?” tanya suara melantun dari ujung telepon yang lain.“Sudah.”“Apa … dia baik-baik saja?” tanya suara itu lagi.Dominic melirik ke arah Rena dari celah pintu yang tidak sepenuhnya tertutup. “Dia bertahan, Yang Mulia.”Mendengar balasan Dominic, Yara tersenyum sendu. “Bagus … itu bagus.”Dominic menjatuhkan pandangan, lal
Ketegangan di antara kedua pria asing itu membuat sejumlah pengunjung kafe dan juga pejalan kaki memerhatikan mereka. Hal tersebut membuat Rena langsung mengenakan kembali kaca mata hitamnya dan menarik ujung hoodie putih Dominic.“Kita pergi saja. Jangan menarik perhatian,” ucap Rena dengan suara rendah, takut ada yang mendengar atau mengenali dirinya.Bagaimanapun, mereka masih berada di Kerajaan Nusantara, tempat di mana dirinya sempat dikenal sebagai pewaris takhta.Mendengar permintaan Rena, Dominic pun menurut dan menghempaskan tangan Eli. Dia melingkarkan tangan di pinggang Rena dan menarik gadis itu pergi menjauh dari Eli Black.Sebelum sepenuhnya pergi, Eli sedikit berseru, “Yarena! Apa kamu akan pergi begitu saja?!”Sungguh, Eli berharap Rena akan memberikan ‘akhir’ yang dia inginkan, bukan mengabaikannya seperti ini. Atas segala dosa yang dia lakukan, Eli ingin Rena mengakhirinya dan memberikan balasan yang setimpal.Di saat mendengar pertanyaan Eli, Rena menghentikan langk
*Beberapa waktu lalu* PIP! PIP! PIP! Bunyi mesin yang mengusik telinga bisa terdengar, beriringan dengan terbukanya mata gadis tersebut. Pandangan gadis itu mendarat pada langit-langit yang putih, lalu perlahan maniknya bergeser ke kanan, pada sosok yang tertidur dalam posisi terduduk dan tangan terlipat di depan dada. “Do … minic?” Panggilan itu membuat kening sang pria sedikit berkerut, diikuti dengan matanya yang perlahan terbuka. Saat manik hitam segelap malam milik pria itu mendarat pada netra hijau sang gadis, mata pria tersebut membesar dan dia pun langsung menghampiri pinggir tempat tidur. “Rena!” seru sang pria dengan wajah lega. “Kamu sudah sadar!” Seusai mengatakan hal tersebut, Dominic pun menekan tombol merah di tembok dekat tempat tidur, lalu meraih telepon yang terhubung dengan meja jaga rumah sakit. Gegas dia memanggil perawat untuk memeriksa keadaan Rena yang akhirnya siuman setelah satu minggu tidak sadarkan diri. “Kondisi Nyonya Wijaya telah stabil, tapi per
Di seisi Kerajaan Nusantara, berita mengenai rencana pembunuhan Putri Mahkota Yarena oleh Adinasya tersebar luas. Besarnya kericuhan akibat kejadian tersebut membuat pihak istana tidak mampu menyembunyikannya, terlebih ketika satu berita kematian membuat semua orang berakhir berkabung.“Tidak kusangka bahwa Putri Mahkota akan meninggal ….”“Belum sempat dirinya mengabdi untuk kerajaan secara penuh, tapi langit sudah terlebih dahulu mengambilnya.”“Memang mantan adipati pria yang berbisa! Teganya dia mengorbankan nyawa keluarga kerajaan hanya karena dirinya berambisi terhadap takhta!? Dan lagi, orang yang dia bunuh adalah putri wanita yang dahulu dia cintai!”Komentar-komentar pedas terlontar, mengungkap rasa kecewa yang begitu mendalam terhadap Adinasya dan juga kesedihan terhadap kematian putri mahkota Kerajaan Nusantara, Yarena Sangramawijaya.Belum ada satu minggu putri mahkota itu diangkat, tapi musibah sudah menimpanya dan menyebabkan dirinya kehilangan nyawa.Namun, yang lebih m
Sang dokter terkejut, lalu melirik Yara. Walau nyawanya terancam oleh Dominic, tapi sebagai bagian dari kerajaan, dia lebih tahu kekuasaan tertinggi berada di tangan sang ratu. Wajah pemimpin Kerajaan Nusantara itu tampak tak berdaya. Karena tahu omongan Dominic bukan main-main, dia pun hanya bisa menganggukkan kepala, memberi izin kepada sang dokter untuk lanjut bertindak. Di tengah pekerjaan sang dokter, Dominic mendadak berujar kepada Yara yang berakhir juga menunggu di dalam ruangan, “Kalau sesuatu terjadi padanya … aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Mendengar ucapan itu, Yara mendengus selagi menatap sosok Rena yang tidak sadarkan diri. “Tidak perlu dirimu … bahkan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri ….” Setelah pertolongan pertama oleh sang dokter dan kondisi Rena semakin stabil, gadis itu pun dipindahkan ke rumah sakit utama Kerajaan Nusantara. Berbeda dari penjagaan yang biasa diberikan untuk keluarga kerajaan, kali ini yang berjaga di depan ruangan Rena bukan hanya p